NOMOR KEP - 152/BC/2003 TENTANG YANG MENDAPAT … · BIDANG EKSPOR UNTUK BARANG EKSPOR YANG...

of 36 /36
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR KEP - 152/BC/2003 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TATALAKSANA KEPABEANAN DI BIDANG EKSPOR UNTUK BARANG EKSPOR YANG MENDAPAT KEMUDAHAN IMPOR TUJUAN EKSPOR DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, Menimbang : a. bahwa peningkatan kelancaran arus barang dan arus dokumen dalam rangka ekspor merupakan tuntutan yang utama bagi peningkatan kegiatan perekonomian ; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dengan tetap memperhatikan hak-hak dan kepentingan Negara dalam rangka ekspor serta untuk mendukung pelaksanaan elektronisasi data kepabeanan di bidang ekspor yang berlaku secara internasional, perlu menetapkan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Ekspor Untuk Barang Ekspor Yang Mendapat Kemudahan Impor Tujuan Ekspor. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun Nomor 3612); 2. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613); 3. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 18, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3687); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1982 tentang Pelaksanaan Ekspor- Impor dan Lalu Lintas Devisa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3210) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1985 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3291);

Transcript of NOMOR KEP - 152/BC/2003 TENTANG YANG MENDAPAT … · BIDANG EKSPOR UNTUK BARANG EKSPOR YANG...

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR KEP - 152/BC/2003

TENTANG

PETUNJUK PELAKSANAAN TATALAKSANA KEPABEANAN DI

BIDANG EKSPOR UNTUK BARANG EKSPOR YANG MENDAPAT KEMUDAHAN IMPOR TUJUAN EKSPOR

DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI,

Menimbang :

a. bahwa peningkatan kelancaran arus barang dan arus dokumen dalam rangka ekspor merupakan tuntutan yang utama bagi peningkatan kegiatan perekonomian ;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dengan tetap memperhatikan hak-hak dan kepentingan Negara dalam rangka ekspor serta untuk mendukung pelaksanaan elektronisasi data kepabeanan di bidang ekspor yang berlaku secara internasional, perlu menetapkan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Ekspor Untuk Barang Ekspor Yang Mendapat Kemudahan Impor Tujuan Ekspor.

Mengingat :

1. Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun Nomor 3612);

2. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613);

3. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 18, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3687);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1982 tentang Pelaksanaan Ekspor-Impor dan Lalu Lintas Devisa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3210) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1985 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3291);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1996 tentang Pengenaan Sanksi Administrasi Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3627);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1996 tentang Pengenaan Sanksi Administrasi di Bidang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3629);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3694);

8. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 101/KMK.05/1997 tentang Pemberitahuan Pabean sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 190/KMK.05/2000;

9. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 102/KMK.05/1997 tentang Daftar Kode untuk Pengisian Pemberitahuan Pabean;

10. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 241/KMK.01/1998 tentang Penetapan Besarnya Tarif dan Tatacara Pembayaran serta Penyetoran Pajak Ekspor atas beberapa Komoditi Tertentu sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 567/KMK.017/1999;

11. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 335/KMK.017/1999 tentang Tatacara Pembayaran serta Penyetoran Pajak Ekspor Kelapa Sawit, Minyak Sawit, Minyak Kelapa dan Produk Turunannya;

12. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 66/KMK.017/2001 tentang Penetapan Besarnya Tarip Pajak Ekspor Kelapa Sawit, CPO, dan Produk Turunannya;

13. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KMK.01/2001 tentang Organisasi Tata Kerja Departemen Keuangan;

14. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 444/KMK.01/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai;

15. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 557/KMK.04/2002 tentang Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Ekspor;

16. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 129/KMK.04/2003 tentang Pembebasan Dan/ Atau Pengembalian Bea Masuk Dan/Atau Cukai Serta Pajak Pertambahan Nilai Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah Tidak Dipungut Atas Impor Barang Dan/Atau Bahan Untuk Diolah, Dirakit Atau Dipasang Pada Barang Lain Dengan Tujuan Untuk Diekspor Dan Pengawasannya;

17. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 141/BC/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Pembebasan Dan/Atau Pengembalian

Bea Masuk Dan/Atau Cukai Serta Pajak Pertambahan Nilai Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah Tidak Dipungut Atas Impor Barang Dan/Atau Bahan Untuk Diolah, Dirakit Atau Dipasang Pada Barang Lain Dengan Tujuan Untuk Diekspor Dan Pengawasannya;

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TATA LAKSANA KEPABEANAN DIBIDANG EKSPOR UNTUK BARANG EKSPOR YANG MENDAPAT KEMUDAHAN IMPOR TUJUAN EKSPOR

BAB I KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Keputusan Direktur Jenderal ini yang dimaksud dengan :

1. Kantor Wilayah adalah Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang mengawasi Kantor Pabean.

2. Kantor Pabean adalah Kantor Pelayanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tempat dipenuhinya kewajiban pabean.

3. Kantor Pemuatan adalah Kantor Pabean tempat pemuatan barang ekspor yang dapat juga berfungsi sebagai tempat pendaftaran, pemeriksaan dan penerbitan LHP.

4. Kantor Pemeriksaan adalah Kantor Pabean yang melaksanakan pemeriksaan fisik barang yang terdekat dengan gudang eksportir atau tempat penimbunan barang yang akan diekspor.

5. Kawasan Pabean adalah kawasan dengan batas-batas tertentu di pelabuhan laut, bandar udara, atau tempat lain yang ditetapkan untuk lalu lintas barang yang sepenuhnya berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

6. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 7. Pegawai adalah pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 8. Pejabat adalah pegawai yang diberi wewenang untuk melakukan tugas

tertentu berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal ini. 9. Pemeriksa adalah Pegawai yang melakukan pemeriksaan fisik barang.

10. Petugas Pengawasan Stuffing adalah pegawai yang mengawasi pemasukan barang yang sudah diperiksa ke dalam peti kemas.

11. Petugas Dinas Luar adalah pegawai yang melakukan pengawasan pemasukan barang ekspor di pintu masuk Kawasan Pabean.

12. Eksportir adalah orang perseorangan atau badan hukum yang telah mendapat Nomor Induk Perusahaan (NIPER) atau Perusahaan penerima barang yang mengekspor barang ekspor gabungan.

13. Perusahaan pengirim barang adalah perusahaan di dalam negeri yang mengirim barang hasil produksinya ke perusahaan penerima barang untuk digabung menjadi barang ekspor gabungan.

14. Perusahaan penerima barang adalah perusahaan di dalam negeri yang mendapat atau tidak mendapat kemudahan impor tujuan ekspor yang menerima barang hasil produksi perusahaan pengirim barang untuk digabung menjadi barang ekspor gabungan.

15. Perjanjian jual beli adalah perjanjian antara penjual di Indonesia dengan pembeli di luar negeri atau perwakilannya di dalam negeri yang menyatakan bahwa pihak penjual setuju untuk menyerahkan barang sebagaimana dinyatakan dalam dokumen kepada pembeli di luar negeri dengan kesepakatan tertentu, antara lain pembayaran hanya dilakukan oleh pembeli di luar negeri.

16. Barang ekspor yang mendapat Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) adalah barang ekspor yang seluruh atau sebagian berasal dari barang impor yang mendapat pembebasan dan/atau pengembalian Bea Masuk dan/atau Cukai serta Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut atas impor barang dan/atau bahan untuk diolah, dirakit atau dipasang pada barang lain dengan tujuan untuk diekspor;

17. Barang Ekspor adalah barang ekspor yang mendapat KITE yang dikeluarkan dari daerah pabean untuk dibawa atau dikirim ke luar negeri.

18. Barang ekspor gabungan adalah barang yang mendapat KITE yang digabung dengan barang lain yang mendapat atau tidak mendapat KITE sehingga menjadi satu atau tidak menjadi satu.

19. Spesifikasi Teknis Barang adalah data teknis dari suatu barang ekspor antara lain: tipe/model, ukuran, nomor artikel, merek barang.

20. Menjadi satu adalah kondisi antara barang yang satu dengan barang yang lain merupakan satu kesatuan yang utuh sehingga tidak terlihat lagi sifat hakiki dari masing-masing barang dan menjadi barang yang baru, misalnya sendok logam yang dilapisi emas.

21. Tidak menjadi satu adalah kondisi antara barang yang satu dengan barang yang lain merupakan satu kesatuan yang utuh tetapi masih dapat dibedakan masing-masing barang, misalnya pupuk yang dikemas dalam karung.

22. Penyerahan sementara adalah pengiriman barang hasil produksi dari pengusaha yang mendapat KITE ke pengusaha lain untuk digabung menjadi sebagaimana dimaksud dalam angka 20 atau angka 21, sampai pemuatan barang untuk tujuan ekspor.

23. Pemberitahun Ekspor Barang (PEB) adalah pemberitahuan pabean yang digunakan untuk memberitahukan ekspor barang yang dibuat sesuai BC 3.0.

24. Pemberitahuan Kesiapan Barang (PKB) adalah pemberitahuan oleh eksportir kepada Kantor Pemuatan tentang kesiapan barang ekspor untuk dilakukan pemeriksaan fisik barang.

25. Surat Serah Terima Barang (SSTB) adalah bukti telah diserahkan dan diterimanya suatu barang antara perusahaan di dalam negeri yang ditandatangani oleh kedua belah pihak untuk tujuan ekspor.

26. Barang ekspor yang terkena Pungutan Ekspor (PE) adalah barang ekspor berdasarkan ketentuan yang berlaku dikenakan PE.

27. Pemberitahuan Pemeriksaan Barang (PPB) adalah pemberitahuan kepada eksportir dari Kantor Pabean bahwa akan dilakukan pemeriksaan fisik barang ekspor.

28. Persetujuan Ekspor adalah lembar persetujuan yang diberikan oleh Pegawai untuk melindungi pengangkutan barang ekspor dari gudang eksportir atau tempat penyimpanan yang ditunjuk oleh eksportir ke Kawasan Pabean di pelabuhan pemuatan dan pemuatannya ke atas sarana pengangkut.

29. Tanda Pengenal Pemeriksaan Bea dan Cukai (TPPBC) adalah tanda pengaman berupa paraf dan tanggal yang dibubuhkan atau tanda pengaman lainnya yang dilekatkan oleh Pemeriksa pada kemasan barang ekspor dalam hal dilakukan pemeriksaan fisik barang.

30. Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) adalah laporan hasil pemeriksaan pabean barang ekspor yang diterbitkan oleh Kantor tempat PEB didaftarkan.

31. Segel Ekspor adalah tanda pengaman yang dilekatkan atau ditempatkan oleh Petugas Pengawasan Stuffing pada peti kemas atau kemasan barang.

32. Nota Hasil Intelijen (NHI) adalah hasil analisis informasi terdapat indikasi yang kuat akan terjadi pelanggaran atau telah terjadi pelanggaran ketentuan kepabeanan di bidang ekspor yang dijadikan sebagai dasar pemeriksaan fisik barang ekspor.

33. Tempat konsolidasi barang ekspor adalah tempat pengumpulan (konsolidasi) barang ekspor sebelum barang ekspor dimasukkan ke kawasan pabean yang dapat berlokasi di tempat konsolidator, perusahaan dalam satu group, atau perusahaan yang melakukan sendiri konsolidasi barang ekspornya.

34. Konsolidator barang ekspor adalah badan usaha yang telah terdaftar untuk melaksanakan pengumpulan (konsolidasi) barang ekspor yang

diberitahukan dalam dua atau lebih PEB dengan menggunakan peti kemas LCL yang dilakukan sebelum barang-barang ekspor tersebut dimasukkan ke Kawasan Pabean untuk dimuat ke atas sarana pengangkut.

35. Penyerahan Pemberitahuan melalui media elektronik adalah penyerahan pemberitahuan pabean dengan menggunakan media disket atau melalui pertukaran data elektronik secara langsung berdasarkan standar United Nation/ Electronic Data Interchange for Administration, Commerce, and Transport (UN/EDIFACT).

36. UN/EDIFACT adalah standar penulisan dokumen electronic yang disusun oleh suatu kelompok kerja dibawah naungan PBB dan direkomendasikan penggunaannya untuk berbagai bidang bisnis meliputi administrasi, perdagangan dan pengangkutan di seluruh dunia.

37. Pertukaran Data Elektronik (PDE) adalah alir informasi bisnis secara elektronik antar aplikasi, antar organisasi secara langsung yang terintegrasi dengan menggunakan standar UN/EDIFACT melalui jaringan komputer yang dikelola provider.

38. Customs declaration (Cusdec) adalah pemberitahuan pabean yang berisi data PEB dan PKBE serta dokumen pelengkap pabean dengan standar UN/EDIFACT yang dikirim oleh eksportir/ kuasanya, konsolidator atau PJT ke Kantor Pabean.

39. Customs respons (Cusres) adalah respon dengan standar UN/EDIFACT yang dikirim oleh Kantor atas Cusdec yang telah diterima sebelumnya.

40. Credit Advice adalah pemberitahuan penerimaan pembayaran PE dengan standar UN/EDIFACT yang diterima oleh Kantor Pemuatan dari bank devisa penerima PE.

41. Pembatalan ekspor adalah membatalkan atau tidak jadi mengeluarkan barang dari Daerah Pabean.

BAB II PEMBERITAHUAN PABEAN

Bagian Pertama

Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)

Pasal 2 (1) Barang ekspor yang akan diekspor wajib diberitahukan oleh

eksportir/kuasanya dengan menggunakan PEB yang diserahkan melaluimedia elektronik.

(2) PEB sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) juga berfungsi sebagaipermintaan pemeriksaan fisik barang.

(3) Eksportir/kuasanya wajib mengisi PEB dengan lengkap dan benar danbertanggung jawab atas kebenaran hal-hal yang diberitahukan dalam PEB.

(4) PEB untuk barang ekspor yang terkena PE, pembayaran PE-nya dapatdilakukan melalui Bank Devisa atau Kantor Pabean tempat pendaftaranPEB berdasarkan kurs yang berlaku pada saat pembayaran PE serta tarifdan harga patokan ekspor yang berlaku pada saat pendaftaran PEB.

Bagian Kedua Pendaftaran PEB

Pasal 3

(1) PEB didaftarkan oleh eksportir/kuasanya ke Kantor Pemuatan. (2) Pada Kantor Pemuatan yang telah menggunakan sistem PDE, pendaftaran

PEB wajib dilakukan dengan menggunakan sistem PDE. (3) Pada Kantor Pemuatan yang tidak menggunakan sistem PDE, pendaftaran

PEB dilakukan dengan menggunakan disket. (4) Dalam hal PEB menggunakan media disket, pendaftaran PEB dilaksanakan

di Kantor Pemuatan atau Kantor Pabean lainnya yang ditunjuk untuk melayani PEB KITE.

(5) PEB didaftarkan oleh eksportir/kuasanya paling lama 1 (satu) hari sebelumtanggal permintaan pemeriksaan fisik barang yang diberitahukan dalamPKB sesuai contoh BCF. 3.10. dalam Lampiran VIII Keputusan DirekturJenderal ini.

(6) Barang ekspor yang diekspor melalui PT. Pos Indonesia didaftarkan keKantor Pabean di Kantor Pos Lalu Bea tempat pengiriman barang eksporyang bersangkutan.

BAB III PEMERIKSAAN PABEAN

Bagian Pertama

Penelitian Dokumen

Pasal 4 (1) Terhadap PEB dilakukan penelitian dokumen, meliputi :

a. kelengkapan dan kebenaran pengisian data PEB;b. kebenaran perhitungan dan pelunasan PE dalam hal barang ekspor

terkena PE;c. kelengkapan dokumen pelengkap pabean yang diwajibkan; dand. kelengkapan dokumen pelengkap pabean lainnya yang diwajibkan dalamrangka pemenuhan ketentuan kepabeanan di bidang ekspor.

(2) Dokumen pelengkap pabean sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c, berupa invoice dan packing list.

(3) Dokumen pelengkap pabean lainnya yang diwajibkan sebagaimanadimaksud dalam ayat (1) huruf d, antara lain : Surat Tanda Bukti Setor(STBS), Surat Pengakuan sebagai Eksportir Terdaftar, Surat PersetujuanEkspor dari Depperindag, Sertifikat Mutu, Surat Pernyataan Mutu, SuratIzin Ekspor (SIE), Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH) danatau Izin Khusus lainnya dari instansi terkait.

Pasal 5 (1) Dalam hal hasil penelitian dokumen kedapatan pengisian PEB

lengkap dan benar, PEB diberikan nomor dan tanggal pendaftaran. (2) Apabila hasil penelitian dokumen kedapatan pengisian PEB

lengkap dan benar, tetapi diperlukan dokumen pelengkap pabeanlainnya yang diwajibkan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat(3) : a) dalam hal sistim PDE, PEB diberikan nomor dan

tanggal dengan ketentuan eksportir wajib menyerahkan dokumen pelengkap pabean lainnya yang dipersyaratkan kepada Pejabat baik sebelum atau pada saat pemasukan barang ke Kawasan Pabean;

b) dalam hal menggunakan disket PEB diberikan nomor dan tanggal setelah eksportir/kuasanya melengkapi persyaratan yang diwajibkan

(3) Dalam hal hasil penelitian dokumen kedapatan pengisian PEB tidaklengkap dan atau tidak benar, PEB dikembalikan kepadaeksportir/kuasanya dengan disertai Nota Pemberitahuan Penolakan(NPP) sesuai Contoh BCF 3.04 dalam Lampiran VIII KeputusanDirektur Jenderal ini.

(4) Setelah PEB diberi nomor dan tanggal pendaftaran, diterbitkan : a. Persetujuan Ekspor yang telah ditandatangani

Pejabat atau berisi data nama dan NIP Pejabatdalam hal tidak dilakukan pemeriksaan fisikbarang;

b. PPB dalam hal barang ekspor tidak dilakukanpemeriksaan fisik barang tetapi wajib menyerahkan

dokumen pelengkap pabean lainnya yangdipersyaratkan.

c. PPB dalam hal barang ekspor bersangkutan harusdilakukan pemeriksaan fisik barang

(5) Persetujuan Ekspor sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) huruf asesuai Contoh BCF 3.01 dalam Lampiran VIII Keputusan DirekturJenderal ini, dan dibuat rangkap 3 (tiga) yang peruntukannyasebagai berikut :a. lembar kesatu untuk eksportir;b. lembar kedua untuk pengusaha Tempat Penimbunan Sementara(TPS); c. lembar ketiga untuk pengangkut.

(6) PPB sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) huruf b dan c sesuaiContoh BCF 3.02 dalam Lampiran VIII Keputusan DirekturJenderal ini.

(7) Tata kerja pendaftaran PEB dan penelitian dokumen diatur dalamLampiran I Keputusan Direktur Jenderal ini.

Bagian kedua Pemeriksaan Fisik Barang

Pasal 6

(1) Terhadap barang ekspor wajib dilakukan pemeriksaan fisik barang oleh

Kantor Pemuatan atau Kantor Pemeriksaan. (2) Pemeriksaan fisik barang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat

dilaksanakan di gudang eksportir atau tempat lain yang ditunjuk oleheksportir.

(3) Pemeriksaan fisik barang dapat dilakukan di dalam kawasan pabean setelah mendapat persetujuan dari Kepala Kantor Pemuatan.

(4) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) hanya dapat diberikanoleh Kepala Kantor sepanjang pengusaha TPS menyediakan tempatpemeriksaan fisik barang ekspor di Kawasan Pabean.

(5) Persetujuan Ekspor terhadap barang ekspor yang diperiksa fisik barangditerbitkan oleh Kantor Pemuatan atau Kantor Pemeriksaan.

Pasal 7 (1) Pemeriksaan fisik barang dilakukan berdasarkan PEB, dokumen pelengkap

pabean dan PPB. (2) Pemeriksaan fisik barang meliputi : a. jenis barang; b. jumlah barang; c. spesifikasi teknis barang; d. nomor, merek, jenis dan jumlah kemasan.

Pasal 8 (1) Tingkat pemeriksaan fisik barang sebanyak-banyaknya 10%,

sekurang-kurangnya 2 (dua) kemasan. (2) Pemeriksaan fisik barang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

dapat dilakukan secara bertahap sesuai jumlah barang ekspor yangtersedia untuk diperiksa dan eksportir/kuasanya wajibmemberitahukan kepada Pemeriksa sebelum pemeriksaan dilakukan.

(3) Dalam hal pemeriksaan fisik barang dilakukan secara bertahapsebagaimana dimaksud dalam ayat (2), Pemeriksa mencantumkanhasil pemeriksaan fisik barang dalam PEB setelah jumlah barang ekspor telah sesuai dengan yang diberitahukan dalam PEB.

(4) Terhadap barang ekspor tertentu dapat dilakukan pemeriksaanlaboratorium.

(5) Dalam hal dilakukan pemeriksaan laboratorium sebagaimanadimaksud dalam ayat (4), Pemeriksa mencantumkan hasil pemeriksaan fisik barang dalam PEB tanpa menunggu hasilpemeriksan laboratorium, kecuali: a. pemeriksaan laboratorium dapat diselesaikan

dalam waktu segera yang tidak mengganggu kelancaran pelaksanaan ekspor;

b. pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk menentukan barang ekspor bersangkutan termasuk barang yang dilarang atau dibatasi ekspornya.

(6) Persetujuan Ekspor terhadap barang ekspor yang telah diperiksafisik barang, ditandatangani Pemeriksa.

(7) Pada kemasan barang ekspor yang diperiksa, Pemeriksa wajibmembubuhkan TPPBC.

(8) Tatakerja pemeriksaan pabean barang ekspor diatur dalamLampiran II Keputusan Direktur Jenderal ini.

Pasal 9

(1) Terhadap barang ekspor yang diperiksa fisik barang wajib dilakukan

pengawasan stuffing oleh Petugas Pengawasan Stuffing setelahpemeriksaan fisik barang selesai.

(2) Pengawasan stuffing dilakukan dengan cara :a. meneliti kemasan barang dan TPPBC;b. menghitung kemasan yang di-stuffing.

(3) Terhadap peti kemas yang telah selesai diawasi stuffing-nya dilakukan penyegelan.

(4) Petugas Pengawasan Stuffing mencantumkan nomor peti kemas, jenis dannomor segel, dan tanggal penyegelan serta menandatangani Persetujuan Ekspor.

Pasal 10 (1) Terhadap eksportir tertentu dapat dikecualikan dari ketentuan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1). (2) Pengecualian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku

dalam hal:a. fasilitas yang diminta adalah pengembalian Bea Masuk dan atauCukai; b. barang yang diekspor adalah bahan baku asal impor yangdiekspor kembali tanpa diolah terlebih dahulu karena tidak sesuaidengan pesanan.

(3) Eksportir sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan olehDirektur Verifikasi dan Audit berdasarkan analisis manajemenrisiko, dengan memperhatikan reputasi eksportir yaitu : a. tidak pernah melanggar ketentuan kepabeanan dan

cukai yang dikenai sanksi administrasi dalam kurun waktu 1 (satu) tahun terakhir; dan

b. tidak mempunyai tunggakan hutang Bea Masuk,Cukai, pajak, pungutan ekspor dan pungutannegara lainnya; dan

c. sudah menyelenggarakan pembukuan sehinggadapat dibuat laporan sesuai Standar Akuntansi Keuangan Indonesia.

Pasal 11 (1) Terhadap barang ekspor yang telah mendapat Persetujuan Ekspor yang

terkena NHI harus dilakukan pemeriksaan fisik barang atau pemeriksaanfisik barang ulang.

(2) Pemeriksan fisik barang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapatdilakukan di luar Kawasan Pabean atau di dalam Kawasan Pabean dalamhal barang ekspor tersebut sudah dimasukkan ke Kawasan Pabean.

(3) Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan di Kawasan Pabean, Pejabat wajib memberitahukan kepadaeksportir/kuasanya paling lama 4 jam sebelum pemeriksaan dimulai.

(4) Dalam hal hasil pemeriksaan fisik barang sebagaimana dimaksud dalamayat (1) kedapatan kesalahan dalam PEB mengenai jumlah dan atau jenis barang, eksportir dikenai sanksi administrasi berdasarkan pasal 82 ayat (6)Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995.

BAB IV KONSOLIDASI BARANG EKSPOR

Pasal 12

(1) Konsolidasi barang ekspor dari beberapa eksportir dilakukan oleh

konsolidator yang telah mendapat persetujuan sebagai konsolidator barang ekspor dari Kantor Pabean yang mengawasi.

(2) Konsolidator dapat berstatus sebagai PPJK atau bukan sebagai PPJK. (3) Konsolidator wajib memberitahukan barang ekspor yang dikonsolidasikan

dalam Pemberitahuan Konsolidasi Barang Ekspor (PKBE) sesuai contoh BCF 3.03 dalam Lampiran VIII Keputusan Direktur Jenderal ini

(4) Eksportir atau eksportir dalam satu kelompok perusahaan dapat melakukan sendiri konsolidasi barang ekspornya dengan ketentuan:a. Eksportir yang melakukan sendiri konsolidasi barang ekspornya wajib memberitahukan pelaksanaan konsolidasi tersebut dalam PKBE;b. Eksportir wajib memberitahukan perusahaan-perusahaan yang merupakan kelompok perusahaannya pada Kantor Pabean yang mengawasi.

Pasal 13 (1) Stuffing barang ekspor konsolidasi wajib diawasi dalam hal:

a. barang ekspor digabung dengan barang lain yang tidak mendapat KITE ;b. barang ekspor yang dilakukan pemeriksaan fisik barang, digabung atautidak dengan barang lain yang tidak dilakukan pemeriksaan fisik barang;c. barang ekspor yang berasal dari TPB, digabung atau tidak dengan barang

yang bukan berasal dari TPB. (2) Dalam hal barang ekspor konsolidasi wajib dilakukan pengawasan stuffing

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), konsolidator atau eksportirmengajukan permohonan pengawasan stuffing kepada Pejabat KantorPabean paling lama 24 (dua puluh empat) jam sebelum stuffing dilakukan

(3) Barang ekspor yang akan di-stuffing harus sudah dilengkapi dengan PEByang telah mendapat Nomor Pendaftaran dan Persetujuan Ekspor.

Pasal 14 (1) Konsolidator diwajibkan :

a. menyelenggarakan pembukuan sesuai Standar Akuntansi KeuanganIndonesia dan bersedia diaudit oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai;b. menyediakan transportasi dan ruang kerja untuk Pemeriksa dan PetugasDinas Luar;c. mempunyai pegawai yang bersertifikat ahli kepabeanan yang diterbitkanBadan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK);d. mempunyai peralatan kerja yang memadai seperti: komputer, pesawattelepon/ fax, timbangan barang, fork lift;e. meminta persetujuan Kepala Kantor Pabean bila akan mengadakanperubahan tata letak bangunan/ruangan; danf. memberitahukan 2 (dua) bulan sebelumnya ke Kantor Pabean yangmengawasi bila akan menutup usahanya.

(2) Tatakerja konsolidasi barang ekspor diatur sebagaimana dimaksud dalamLampiran III Keputusan Direktur Jenderal ini.

BAB V PEMASUKAN BARANG EKSPOR KE KAWASAN PABEAN

Pasal 15

(1) Pemasukan barang ekspor ke Kawasan Pabean dilakukan dengan

menggunakan: a. Persetujuan Ekspor yang telah ditandatangani Pejabat.b. PEB dan PPB dalam hal barang ekspor tidak dilakukan pemeriksaan fisik barang tetapi wajib menyerahkan dokumen pelengkap pabean lainnya yang dipersyaratkan. c. PEB dan PPB dalam hal eksportir telah mendapat persetujuan dari Kepala Kantor Pemuatan untuk dilakukan pemeriksaan fisik barang di Kawasan Pabean.

(2) Dalam hal PEB didaftarkan di Kantor Pabean tempat dilakukan

pemeriksaan fisik barang, pemasukan barang ekspor ke Kawasan Pabean di Kantor Pemuatan menggunakan Persetujuan Ekspor dan copy PEB.

(3) Persetujuan Ekspor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) berlaku sebagai dokumen pemasukan barang ekspor ke Kawasan Pabean setelah ditandatangani oleh :a. Pejabat dalam hal barang ekspor bersangkutan tidak dilakukan pemeriksaan fisik barang;b. Pemeriksa dan Petugas Pengawasan Stuffing dalam hal barang ekspor bersangkutan dilakukan pemeriksaan fisik barang.

(4) Pengusaha TPS memberitahukan realisasi pemasukan dan penimbunan barang ekspor kepada Kantor Pemuatan.

(5) Tatakerja pemasukan barang ekspor ke Kawasan Pabean sebagaimana diatur dalam Lampiran IV Keputusan Direktur Jenderal ini.

BAB VI PEMUATAN DAN PENGANGKUTAN BARANG EKSPOR

Bagian Pertama

Pemuatan Barang Ekspor

Pasal 16 (1) Pemuatan barang ekspor ke atas sarana pengangkut setelah

mendapat Persetujuan Ekspor, dan dilaksanakan sebagai berikut: a. terhadap barang ekspor tanpa pemeriksaan fisik

barang dimuat ke sarana pengangkut denganmenggunakan Persetujuan Ekspor yang telahditandatangani oleh Pejabat dan Petugas DinasLuar yang mengawasi pemasukan barang ekspor keKawasan Pabean;

b. terhadap barang ekspor yang wajib dilakukanpemeriksaan fisik barang, dimuat ke saranapengangkut dengan menggunakan PersetujuanEkspor yang telah ditandatangani oleh Pemeriksa,Petugas Pengawasan Stuffing dan Petugas DinasLuar yang mengawasi pemasukan barang ekspor keKawasan Pabean.

(2) Persetujuan Ekspor lembar ketiga disampaikan eksportir kepadaPengangkut sebagai pemberitahuan bahwa pemuatan barang eksporke atas sarana pengangkut telah mendapat persetujuan PejabatKantor Pemuatan.

Bagian Kedua Pengangkutan Barang Ekspor

Pasal 17

(1) Pengangkut yang sarana pengangkutnya meninggalkan Kawasan Pabean

wajib memberitahukan barang ekspor yang diangkutnya termasuk yang diangkut lanjut atau diangkut terus dengan menggunakan outward manifest kepada Pejabat yang menangani manifes di Kantor Pemuatan paling lama 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak keberangkatan sarana pengangkut.

(2) Barang ekspor yang diangkut lanjut dan/atau diangkut terus ke luar daerah pabean wajib diberitahukan oleh pengangkutnya kepada Pejabat yang menangani manifes di Kantor Pabean tempat transit dengan menggunakan Daftar Pemberitahuan Barang Ekspor (DPBE).

(3) Pengangkutan barang ekspor dari satu tempat ke tempat lain dalam Daerah Pabean melalui suatu tempat di luar Daerah Pabean wajib diberitahukan oleh pengangkut dengan menggunakan Pemberitahuan Pengangkutan Barang Asal Daerah Pabean Dari Satu Tempat Ke Tempat Lain Melalui Luar Daerah Pebean (BC 1.3) kepada Pejabat yang menangani manifes sebelum sarana pengangkut meninggalkan tempat pemuatan.

(4) Pejabat di Kantor Pemuatan yang menerima outward manifest melakukan rekonsiliasi antara data PEB dengan outward manifest yang diterimanya dari pengangkut dan menyampaikan data PEB yang tidak terekonsiliasi kepada Kepala Kantor dan Pejabat yang menangani penyelidikan.

(5) Dalam hal PEB didaftarkan di Kantor Pabean tempat dilakukan pemeriksaan, Pejabat di Kantor Pemuatan mengirimkan data atau copy outward manifest barang ekspor bersangkutan ke Kantor Pabean tempat pendaftaran PEB untuk direkonsiliasi dengan PEB.

(6) Pengangkut yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dikenai sanksi administrasi berupa denda berdasarkan pasal 11 ayat (3) Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995.

BAB VII PENGGABUNGAN BARANG EKSPOR

Pasal 18

(1) Perusahaan yang mendapat KITE dapat melakukan ekspor barang hasil

produksinya dengan cara digabung dengan barang lain, baik yang mendapat KITE atau tidak, atas permintaan pembeli di luar negeri dengan dibuktikan adanya perjanjian jual beli dengan perusahaan di dalam negeri.

(2) Perusahaan yang mendapat KITE yang akan mengirimkan barang hasil produksinya untuk digabung menjadi barang ekspor gabungan, wajib memberitahukan dan mendaftarkan barang yang akan diserahkannya kepada perusahaan penerima barang ke Kantor Pabean yang terdekat dengan lokasi pengiriman barang dengan menggunakan SSTB sesuai contoh BCF.3.09 dalam lampiran Keputusan Direktur Jenderal ini.

(3) SSTB dibuat dalam rangkap 4 (empat) yang peruntukannya sebagai berikut:a. lembar kesatu untuk perusahaan penerima barang;b. lembar kedua untuk perusahaan pengirim barang;c. lembar ketiga untuk Kantor Pabean tempat pendaftaran SSTB;d. lembar keempat untuk Kantor Pabean tempat penerimaan barang.

(4) Tatakerja pengiriman barang yang akan digabung dengan barang lain untuk tujuan ekspor diatur sesuai ketentuan dalam Lampiran V Keputusan Direktur Jenderal ini.

Pasal 19 (1) Ekspor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) dapat

dilakukan dalam kondisi penggabungan barang hasil produksiperusahaan sebagai berikut :a. antara perusahaan yang mendapat KITE dengan yang tidakmendapat KITE dan barangnya tidak menjadi satu;b. antara perusahaan yang mendapat KITE dengan yang tidakmendapat KITE dan barangnya menjadi satu;c. antara perusahaan yang mendapat KITE dengan yang mendapatKITE dan barangnya tidak menjadi satu;d. antara perusahaan yang mendapat KITE dengan yang mendapatKITE dan barangnya menjadi satu.

(2) Barang ekspor gabungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberitahukan dalam satu PEB sebagai barang ekspor denganketentuan dalam PEB harus diisi data mengenai : a. perusahaan yang mendapat KITE yang produknya

digunakan memproduksi barang ekspor gabungan yang meliputi nama dan alamat perusahaan, NPWPdan NIPER;

b. barang yang berasal dari masing-masing perusahaan pengirim barang yang mendapat KITEyang digunakan dalam memproduksi barang

ekspor gabungan yang meliputi jumlah dan jenis satuan barang, nomor HS, nilai FOB, nomor dantanggal SSTB.

(3) Berdasarkan PEB sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) KantorPemuatan menerbitkan LHP untuk masing-masing perusahaan yang mendapat KITE yang produknya digunakan untuk mengekspor barang ekspor gabungan.

BAB VIII EKSPOR BAHAN BAKU ASAL IMPOR

Pasal 20

(1) Eksportir dapat mengekspor bahan baku yang telah diimpornya

yang menggunakan pembebasan Bea Masuk serta PajakPertambanan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidakdipungut, tanpa melalui proses pengolahan dalam hal barangtersebut tidak sesuai dengan pesanan.

(2) Ekspor barang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakandengan menggunakan PEB yang mendapat KITE dan diterbitkanLHP.

(3) Persetujuan untuk melaksanakan ekspor barang sebagaimanadimaksud dalam ayat (1) diberikan oleh Kepala Kantor Pemuatansetelah eksportir mengajukan permohonan yang memuat alasandilakukannya ekspor dan disertai keterangan mengenai:a. nama, alamat penerima/pembeli, dan negara tujuan;b. nomor dan tanggal Pemberitahuan Impor Barang (PIB);c. jumlah dan jenis barang serta nomor pos tarif barang yangdiekspor.

(4) Permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) harus dilampiridengan dokumen impor berupa copy PIB yang ditanda-sahkan oleh Pejabat, invoice, packing list, dan Surat Tanda Terima Jaminan(STTJ) serta bukti-bukti lain antara lain surat pembatalan order daripembeli barang jadi di luar negeri, sales contract.

(5) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diberikan dalamhal : a. pelaksanaan ekspor tidak melampaui jangka waktu

12 (dua belas) bulan terhitung sejak tanggalpengimporan;

b. barang tersebut diekspor kembali ke perusahaandan negara pemasok pada waktu pengimporan

barang tersebut sebagaimana yang tercantumdalam PIB.

(6) Dalam hal nama, alamat penerima/pembeli dalam PEB tidak samadengan nama, alamat, dan negara pemasok dalam PIB pada waktupengimporan barang bersangkutan, atau jangka waktu pelaksanaanekspor melampaui jangka waktu 12 (dua belas) bulan, PEBdikembalikan kepada eksportir/ kuasanya dengan disertai NPP.

(7) Terhadap barang ekspor bersangkutan wajib dilakukanpemeriksaan fisik barang.

(8) Pemeriksaan fisik barang dilakukan berdasarkan PEB, dokumenpelengkap pabean, PPB, PIB dan dokumen pelengkap pabean PIBbersangkutan.

(9) Dalam hal pada saat pemeriksaan fisik barang kedapatan barangyang diekspor berbeda dengan barang yang diberitahukan padaPEB, Pemeriksa membuat Nota Pembetulan (NP) sesuai ContohBCF 3.07. dalam Lampiran VIII Keputusan Direktur Jenderal ini.

(10) Barang ekspor sebagaimana dimaksud dalam ayat (9) tidak dapatdiberlakukan sebagai barang yang mendapat KITE dan tidakditerbitkan LHP atas barang ekspor bersangkutan.

BAB IX PEMBATALAN DAN PEMBETULAN/PERUBAHAN DATA PEB

Bagian Pertama Pembatalan PEB

Pasal 21

(1) Dalam hal terjadi pembatalan ekspor, eksportir wajib mengajukan

permohonan pembatalan PEB ke Kantor Pabean tempat PEB didaftarkanpaling lama 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak keberangkatan saranapengangkut yang tercantum dalam PEB.

(2) Eksportir yang tidak melaporkan pembatalan ekspornya atau melaporkansetelah melewati jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)dikenai sanksi administrasi berupa denda berdasarkan pasal 10 ayat (5)Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995.

(3) Dalam hal barang ekspor yang dibatalkan ekspornya telah dimasukkan keKawasan Pabean, permohonan pembatalan PEB harus dilampiriPersetujuan Ekspor yang telah ditandatangani Petugas Dinas Luar di pintumasuk Kawasan Pabean.

(4) Pengeluaran barang ekspor sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dari

Kawasan Pabean menggunakan Surat Persetujuan Keluar Barang Ekspor(SPKBE) sesuai contoh BCF. 3.06. dalam Lampiran VIII KeputusanDirektur Jenderal ini.

(5) Dalam hal barang ekspor terdiri satu kontainer atau satu kemasan dan telah dimasukan ke Kawasan Pabean, terjadi kerusakan pada peti kemas ataukemasan barang sehingga perlu dilakukan penggantian peti kemas ataukemasan barang:a. PEB-nya dibatalkan dan harus diberitahukan kepada Pejabat di Kantor Pemuatan; b. terhadap barang ekspor yang bersangkutan harus dilakukan pemeriksaanfisik barang terlebih dahulu sebelum barang Ekspor dikeluarkan dariKawasan Pabean.

Bagian Kedua Pembetulan/Perubahan data PEB

Pasal 22

Dalam hal pendaftaran PEB dilakukan dengan menggunakan sistem PDE dan disket, pembetulan/ perubahan data PEB yang telah mendapat nomor dan tanggal pendaftaran, wajib diberitahukan oleh eksportir ke Kantor Pemuatan atau Kantor Pabean tempat PEB didaftarkan dengan menggunakan PEB Perubahan.

Pasal 23 (1) Dalam hal barang ekspor yang tidak dilakukan pemeriksaan fisik

barang, pembetulan/ perubahan data PEB mengenai jenis, jumlahbarang dan atau perubahan spesifikasi teknis barang dilaksanakansebagai berikut : a. eksportir mengajukan PEB perubahan; b. pembetulan/perubahan mengenai jenis, jumlah

barang dan atau spesifikasi teknis barang menjadilebih kecil dari PEB, harus diberitahukan oleheksportir sebelum barang ekspor dimuat ke saranapengangkut;

c. pembetulan/perubahan mengenai jenis, jumlahbarang dan atau spesifikasi teknis barang menjadilebih besar dari PEB, harus diberitahukan oleheksportir sebelum barang ekspor dimasukkan ke

Kawasan Pabean.

(2) Terhadap barang ekspor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)huruf c dapat dilakukan pemeriksaan fisik barang.

Pasal 24 Dalam hal barang ekspor dilakukan pemeriksaan fisik barang, pembetulan/perubahan data PEB mengenai jenis, jumlah barang, dan atau perubahan spesifikasi teknis barang dilaksanakan sebagai berikut :

a. eksportir harus mengajukan PEB perubahan sebelum pemeriksaan fisik barang dan menyerahkan PEB perubahan tersebut kepada Pemeriksa yang melakukan pemeriksaan fisik barang;

b. dalam hal eksportir melakukan pembetulan/perubahan data PEB setelah pemeriksaan fisik barang selesai dan PEB telah berisi hasil pemeriksaan fisik barang, eksportir wajib mengajukan PEB perubahan sebelum barang dimasukkan ke Kawasan Pabean;

c. berdasarkan pemberitahuan pembetulan/perubahan sebagaimana dimaksud pada huruf b, Kantor Pemeriksaan melakukan pemeriksaan fisik barang ulang dan hasil pemeriksaan ulang tersebut harus dicantumkan dalam PEB Perubahan.

Pasal 25 (1) Pembetulan/perubahan data PEB mengenai nilai FOB harus

diberitahukan kepada Pejabat di Kantor Pemuatan sebelum barangekspor dimuat ke sarana pengangkut.

(2) Pembetulan/perubahan data PEB mengenai cara pengangkutan danatau pelabuhan muat harus diberitahukan kepada Pejabat di KantorPemuatan sebelum barang ekspor dimasukkan ke Kawasan Pabean.

(3) Dalam hal barang ekspor sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)telah dimasukkan ke Kawasan Pabean, pemindahan barang ekspordari Kawasan Pabean pelabuhan muat semula ke Kawasan Pabeanpelabuhan muat yang seharusnya, dilaksanakan sebagai berikut : a. eksportir mengajukan permohonan pemindahan

barang ekspor kepada Pejabat di Kantor Pemuatansemula dengan dilampiri PEB Perubahan;

b. pemindahan barang ekspor sebagaimana dimaksuddalam ayat (2) dapat dilakukan dengan pengawalanpegawai Kantor Pemuatan semula atau dengan

penyegelan; c. pengeluaran barang ekspor dari Kawasan Pabean

menggunakan SPKBE; d. pemasukan ke Kawasan Pabean pelabuhan muat

yang seharusnya, menggunakan PersetujuanEkspor semula.

Pasal 26 (1) Pembetulan/perubahan data PEB disebabkan :

a) penggantian nama sarana pengangkut, nomorvoyage/flight, tanggal keberangkatan sarana pengangkut,

b) tidak keseluruhan barang ekspor terangkut (shortshipment) harus diberitahukan kepada Pejabat diKantor Pemuatan paling lama 3 (tiga) hari kerjaterhitung sejak keberangkatan sarana pengangkut semula.

(2) Pembetulan/perubahan data PEB yang disebabkan karena nyata-nyata kesalahan administratif harus diajukan paling lama satu bulanterhitung sejak tanggal pendaftaran PEB.

Pasal 27 (1) Pembetulan/perubahan data PEB berupa perubahan peti kemas

barang ekspor sepanjang jumlah dan jenis barang tidak mengalamiperubahan, dilaksanakan sebagai berikut : a. dalam hal barang ekspor tidak dilakukan

pemeriksaan fisik barang, eksportir harus mengajukan PEB Perubahan kepada Pejabat diKantor Pabean tempat PEB didaftarkan sebelumbarang ekspor dimasukkan ke Kawasan Pabean;

b. dalam hal barang ekspor dilakukan pemeriksaanfisik barang, perubahan peti kemas harusdiberitahukan oleh eksportir kepada pemeriksasebelum pemeriksaan fisik barang dan mengajukanPEB Perubahan paling lama 3 (tiga) hari kerjaterhitung sejak keberangkatan sarana pengangkut.

(2) Pejabat atau Pemeriksa wajib menyerahkan Persetujuan Ekspor atas

penambahan jumlah peti kemas sebagaimana dimaksud dalam ayat(1).

(3) Dalam hal barang ekspor lebih dari satu kontainer telah dimasukkanke Kawasan Pabean terjadi kerusakan pada sebagian peti kemasatau kemasan barang sehingga perlu dilakukan penggantian peti kemas atau kemasan barang: a. PEB-nya dibetulkan/diubah dan harus

diberitahukan kepada Pejabat di Kantor Pemuatan;b. Terhadap barang ekspor yang peti kemas atau

kemasan barangnya yang akan diganti harus dilakukan pemeriksaan fisik barang terlebih dahulusebelum barang ekspor dikeluarkan dari KawasanPabean.

(4) Pengeluaran barang ekspor sebagaimana dimaksud dalam ayat (3)dilakukan dengan menggunakan SPKBE, dengan ketentuan : a. pengeluaran barang ekspor dari Kawasan Pabean

ke gudang/tempat yang ditunjuk eksportir di luarKawasan Pabean tanpa pengawalan pegawai;

b. Pemeriksa wajib menyerahkan Persetujuan Eksporatas perubahan peti kemas atau kemasan barangsebagaimana dimaksud dalam ayat (3);

c. penggantian peti kemas atau kemasan danpelaksanaan stuffing kembali ke dalam peti kemasdiawasi oleh Petugas Pengawasan Stuffing dandisegel kembali;

d. Petugas Pengawasan stuffing mencatat dalamPersetujuan Ekspor, nomor peti kemas, nomorsegel yang ditempatkan pada peti kemas ataukemasan barang;

e. pengangkutan dari gudang/tempat yang ditunjukeksportir ke Kawasan Pabean menggunakanPersetujuan Ekspor yang baru;

(5) Tatakerja pembetulan/perubahan dan pembatalan PEB diatur sesuaiketentuan dalam Lampiran VI Keputusan Direktur Jenderal ini.

BAB XI PENYERAHAN, PEMBETULAN DAN PEMBATALAN LHP

Bagian Pertama Penyerahan LHP

Pasal 28

(1) Atas barang ekspor yang mendapat KITE, diterbitkan LHP oleh Pejabat di

Kantor Pabean tempat PEB didaftarkan. (2) Laporan hasil pemeriksaan pabean dalam LHP, meliputi :

a. jenis barang; b. jumlah barang; c. spesifikasi teknis barang; d. nomor, merek, jenis dan jumlah kemasan; e. pemenuhan ketentuan kepabeanan di bidang ekspor; f. klasifikasi barang berdasarkan HS; g. total nilai FOB.

(3) LHP diserahkan oleh Pejabat di Kantor Pabean tempat PEB didaftarkan kepada eksportir/ kuasanya paling lama 1 (satu) hari kerja setelah eksportir menyerahkan bukti realisasi ekspor berupa: a. PEB; b. PEB Perubahan; c. Persetujuan Ekspor yang telah ditandatangani oleh Petugas Dinas Luar di pintu masuk Kawasan Pabean; d. bukti pemuatan barang ekspor atau copy BL/AWB.

(4) Eksportir wajib menyerahkan dokumen bukti realisasi ekspor sebagaimanadimaksud dalam ayat (3) kepada Pejabat di Kantor Pabean tempat PEBdidaftarkan untuk penerbitan LHP dalam waktu paling lama 2 (dua) bulanterhitung sejak tanggal pendaftaran PEB.

(5) Dalam hal menggunakan sistem PDE, LHP dapat diterbitkan tanpapenyerahan dokumen sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dalam halberdasarkan hasil rekonsiliasi antara PEB dengan outward manifest kedapatan bahwa barang ekspor bersangkutan telah direalisasi ekspornya.

(6) LHP dibuat rangkap 2 (dua) yang peruntukannya sebagai berikut : a. lembar kesatu untuk eksportir; b. lembar kedua untuk Kantor Pemuatan.

(7) LHP sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sesuai Contoh BCF 3.08Lampiran VIII Keputusan Direktur Jenderal ini.

(8) Tatacara penyerahan LHP diatur sesuai ketentuan dalam Lampiran VIIKeputusan Direktur Jenderal ini.

Bagian Kedua Pembetulan LHP

Pasal 29

(1) Terhadap LHP yang telah diterbitkan dapat dilakukan pembetulan oleh

Pejabat di Kantor Pabean tempat PEB didaftarkan yang menerbitkan LHPbersangkutan.

(2) Pembetulan LHP dapat dilakukan dalam hal terdapat pembetulan/perubahan data PEB atau karena kesalahan administratif setelah LHP diterbitkan.

BAB XII PENGIRIMAN DATA PEB DAN LHP

Pasal 30

(1) Data PEB dan LHP dikirim oleh Kantor Pabean tempat PEB didaftarkan

kepada :a. Kantor Wilayah baik dalam hal fasilitas yang diminta eksportir berupapembebasan maupun gabungan pembebasan dan pengembalian;b. Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai.

(2) Pengambilan data PEB oleh Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistiksecara elektronik diatur lebih lanjut oleh Direktorat Informasi Kepabeanandan Cukai.

(3) Tatakerja pengiriman data PEB dan LHP diatur lebih lanjut oleh DirekturInformasi Kepabeanan dan Cukai.

BAB XIII JAM KERJA PELAYANAN

Pasal 31

(1) Kantor Pabean memberikan pelayanan selama 24 (dua puluh empat) jam

setiap hari terhadap kegiatan :a. penerimaan pengajuan PEB oleh eksportir/kuasanya;b. pemeriksaan fisik barang sesuai permintaan eksportir;c. penyerahan LHP;d. pemasukan barang ekspor yang telah mendapat Persetujuan Ekspor keKawasan Pabean;e. pelayanan pabean lainnya dibidang ekspor.

(2) Kepala Kantor Pabean wajib mengatur penempatan petugas yang melayani

kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

BAB XIV LAIN-LAIN

Pasal 32

Dalam hal komputer di Kantor Pabean yang menggunakan sistem PDE tidak dapat dioperasikan, pendaftaran PEB dilakukan dengan menggunakan disket.

Pasal 33 Pengajuan PEB melalui sistem PDE dilayani berdasarkan kesepakatan antara eksportir/ kuasanya dengan Kepala Kantor Wilayah yang dituangkan dalam Nota Perjanjian Penggunaan Sistem PDE.

Pasal 34 (1) Dalam hal pengajuan PEB melalui sistem PDE, tanda tangan Pejabat

Kantor Pabean tempat PEB didaftarkan pada Persetujuan Ekspor dan LHP,dan stempel dinas pada kolom H PEB, diganti dengan hasil cetak nama danNIP Pejabat pada dokumen tersebut

(2) Hasil cetak Persetujuan Ekspor, LHP dan PEB sebagaimana dimaksuddalam ayat (1) diberlakukan sebagai dokumen yang sah.

Pasal 35 Eksportir wajib menyimpan data PEB dalam media elektronik dan/atau hasil cetak PEB yang telah mendapat nomor dan tanggal pendaftaran dan lembar asli dokumen pelengkap pabean sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 selama jangka waktu 10 (sepuluh) tahun pada tempat usahanya di Indonesia.

Pasal 36 (1) Dalam hal diperlukan, Kepala Kantor Wilayah dapat menetapkan petunjuk

teknis pelaksanaan lebih lanjut sepanjang tidak bertentangan denganKeputusan Direktur Jenderal ini.

(2) Petunjuk teknis pelaksanaan yang mengatur tentang ekspor barang yang

mendapat KITE yang telah ada dan bertentangan dengan KeputusanDirektur Jenderal ini dinyatakan tidak berlaku.

BAB XV PENUTUP

Pasal 37

Pada saat Keputusan Direktur Jenderal ini mulai berlaku, Keputusan Direktur Jenderal Nomor KEP-45/BC/2001 dan Nomor KEP-47/BC/2001 dinyatakan dicabut dan tidak berlaku.

Pasal 38 Keputusan Direktur Jenderal ini mulai berlaku efektif pada tanggal 1 Oktober 2003 Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Keputusan Direktur Jenderal ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia Ditetapkan di Jakarta, pada tanggal 28 Juli 2003 DIREKTUR JENDERAL, ttd. EDDY ABDURRACHMAN NIP 060044459