Media Informasi dan Komunikasi Perkumpulan Sawit SW/Tandan Sawit/TANDAN SAWIT... · PDF...

Click here to load reader

  • date post

    14-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    230
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of Media Informasi dan Komunikasi Perkumpulan Sawit SW/Tandan Sawit/TANDAN SAWIT... · PDF...

Media Informasi dan Komunikasi Perkumpulan Sawit Watch

Tandan Sawit Vol. 2 Tahun 8, 2008

Perkumpulan Sawit Watch adalah Perkumpulan Aktivis Organisasi Non-Pemerintah dan Individu yang prihatin dengan semakin meluasnya dampak negatif dari pembangunan perkebunan kelapa sawit skala besar di Indonesia. Perkumpulan Sawit Watch dideklarasikan pada tanggal 25 Juli 1998.

Kegiatan utama Perkumpulan Sawit Watch adalah Monitoring, Investigasi, Riset dan Memantau Kebijakan atau Program dari Lembaga Nasional maupun Internasional pada sektor perkebunan kelapa sawit, Kampanye dan Pendidikan Publik, Fasilitasi dan Desiminasi Informasi.

DeWan ReDakSiPenanggung Jawab : Rudy R LumuruPemimpin Redaksi : A. suramboRedaktur Pelaksana : Jefry G. SaragihTata Letak : OeyanzDistributor : Sukardi, Aroel

Redaksi menerima artikel, essai dan berita. Kami dapat mengedit tulisan tanpa harus mengubah substansinya.

Tulisan dapat dikirim melalui pos, fax dan e-mail. Forum diskusi elektronik mengenali perkebunan besar kelapa sawit bisa anda ikuti di http://groups.yahoo.com/infosawit.

alamat RedaksiJl. Sempur Kaler No. 28 Bogor 16129 Indonesia

Telp : 0251 - 352 171, Fax : 0251 - 352 047e-mail : [email protected], [email protected]

website : www.sawitwatch.or.id

TanDan SaWiT

VOL. 2, Tahun 8, 2008

Daftar isi

- Salam dari Kami 2

- Daftar Isi 2

- Laporan Utama : RSPO itu hanyalah Satu Ruang saja, Bukan Berbagai Ruang 3

- Menuju Rekonstruksi Kebijakan ... 6

- Suara Dari Kampung :

- Revitalisasi Perkebunan... 12

- PERAN SERTA MASYARAKAT... 14

- Mempertahankan SDA... 16

- INVESTASI : Benarkah... 17

- DILEMA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT 18

Makin hari makin banyak masalah yang terkuak terkait perkebunan kelapa sawit skala besar, entah lingkungan, sosial, budaya dan politis. Demikian suram kah masa depan negeri ini yang membiarkan rakyatnya menderita? Isu perkebunan sawit hanya satu sisi saja, masih banyak sisi-sisi lain yang sudah demikian terlihat dengan jelas, para penentu kebijakan seakan tutup mata, tutup kuping dan tutup mulut melihat hal ini, terkait hal itu kami dari redaksi Tandan Sawit sekali lagi menyampaikan beberapa permasalahan di perkebunan sawit.

Semoga informasi yang kami sampaikan dapat bermanfaat dan menjadi pembelajaran bagi para pembaca Tandan Sawit yang telah setia menanti tiap terbitan kami.

Wassalam,

Redaksi

Salam dari Kami

Media Informasi dan Komunikasi Perkumpulan Sawit Watch

L A P O R A N U TA M A

Pendahuluanawan sekampung saya menelpon dan mengabarkan bahwa pamannya sakit sehingga mengharuskan agar dibawa ke rumah sakit. Kawan saya tersebut memaksa saya agar pamannya dibawa saja ke rumah sakit di Jakarta. Saya menolaknya dan

menyarankan agar diperiksa dulu di puskesmas kampung karena puskesmas Kampung saya termasuk lengkap. Siapa tahu cukup di Puskesmas saja, paman kawan saya tersebut dapat disembuhkan. Kawan saya ngeyel, pokoknya di rumah sakit Jakarta semua dapat disembuhkan. Rumah sakit Jakarta bagi kawan saya sudah menjadi tujuan, saya yang menolak ide tersebut disangkanya menghalang-halangi kesembuhan pamannya.

Sebenarnya kalau kita pikir jernih, apa yang salah dengan saya, saya berkeinginan agar sakit paman kawan saya tersebut diketahui terlebih dahulu, kalaupun tidak, pastinya puskesmas akan merujuk kemana harus dibawa. Tentunya, rumah sakit banyak sekali tingkatannya untuk menyembuhkannya. Kondisi sakit paman kawan saya akan mengarahkan kemana sebaiknya dibawa, begitu pula kondisi keuangan keluarga di kampung juga membatasi kemana sebaiknya sakitnya paman kawan saya tersebut disembuhkan. Saya memandang bahwa rumah sakit hanyalah salah satu fasilitas (alat) untuk menyembuhkan paman kawan saya tersebut, bukan seperti kawan saya yang memandang rumah sakit di Jakarta sebagai tujuan. Ada ketidakbijakan disini.

Demikian pula lah kejadian konflik di Perkebunan Kelapa Sawit, tidak semua harus diselesaikan di satu ruang saja, ruang hanyalah alat bukan tujuan, banyak ruang untuk menyelesaikan konflik tersebut. Bentuk konflik tersebut dan organisasi yang memperjuangkan penyelesaian konflik tersebut lah diantara beberapa pertimbangan dalam menyelesaikan konflik tersebut. Tulisan ini mencoba mengetengahkan berbagai hal berkenaan dengan konflik-

konflik di perkebunan kelapa sawit dan kaitannya dengan ruang rountable sustainable palm oil (RSPO).

Konflik-konflik di Perkebunan Kelapa SawitKonflik-konflik di perkebunan kelapa sawit sebagian besar adalah konflik lahan. Sampai dengan tahun 2007, Perkumpulan Sawit Watch mencatat 514 kasus yang terjadi di 14 propinsi, yang melibatkan 141 Perusahaan perkebunan kelapa sawit dari 23 group. Konflik ini bermuasal kepada bertumbukannya satu klaim hak dalam satu obyek. Bila dilihat lebih mendalam konflik ini adalah tidak selesainya persoalan tenurial.

Tenure atau tenurial berasal dari bahasa latin tenere yang berarti memegang, memelihara, dan memiliki. Menurut Wiradi (1984), tenurial biasa digunakan pada kajian-kajian yang membahas masalah yang mendasar dari aspek penguasaan suatu sumberdaya, yakni mengenai status hukumnya. Jadi membicarakan persoalan sumberdaya hutan adalah membicarakan soal status hukum atas penguasaan tanah dan segala tanam tumbuh diatasnya. Ridel (1987) menyatakan tenure system is a bundle of rights, yakni tenurial adalah serangkaian atau sekumpulan hak tentunya serangkaian atau sekumpulan hak untuk memanfaatkan tanah dan sumber daya alam lainnya yang terdapat dalam suatu masyarakat, tentunya pula memunculkan sejumlah batasan-batasan tertentu dalam proses pemanfaatannya.

Disetiap sistem tenurial, setidaknya memunculkan tiga komponen, pertama, subjek hak, artinya pada siapa hak tertentu dilekatkan, bisa berupa individu, rumah tangga, kelompok, suatu komunitas, kelembagaan sosial-ekonomi bahkan lembaga politik setingkat negara. Kedua, objek hak, yang dapat berupa persil tanah, sesuatu diatas tanah berupa

RSPO itu hanyalahSatu Ruang saja,

Bukan Berbagai Ruang

K

Tandan Sawit Vol. 2 Tahun 8, 2008

tanam tumbuh ataupun lainnya, sesuatu yang ada didalam tanah berupa barang tambang dan lain-lainnya, kandungan barang-barang atau mahluk hidup dalam suatu kawasan perairan tertentu, ataupun suatu kawasan tertentu misal wilayah udara tertentu. Yang pasti objek yang dilekati hak tersebut harus bisa dibedakan dengan objek lainnya. Ketiga, jenis hak, setiap hak selalu dapat dijelaskan batasan dari hak tersebut, yang membedakannya dengan hak lainnya. Jenis hak ini merentang dari dari hak milik, hak sewa, sampai hak pakai atau kelola saja ataupun hak lainnya. Hal ini tergantung bagaimana subjek hak atau masyarakat menentukannya. Setiap jenis hak ini biasanya dilekati pula dengan hubungan khusus dengan kewajiban tertentu oleh pihak lain dan keberlakuannya dalam suatu kurun masa tertentu.

Konflik tenurial di perkebunan kelapa sawit berwujud pada klaim hak atas tanah atau sumber daya alam lainnya yang bertumbukan pada lokasi yang sama, dari alas hak yang berbeda, dari institusi yang berbeda, komunitas memiliki klaim tenurial berdasarkan aturan dan atau hukum adat setempat yang mereka sepakati bersama sedangkan pengusaha kebun sawit berdasarkan penetapan hak yang diberikan oleh pemerintah berupa hak guna usaha (HGU) beralaskan sejumlah peraturan dan perundangan dari hukum formal yang berlaku.RSPO hanyalah salah satu ruang sajaBila kita elaborasi persoalan konflik lahan antara rakyat dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Terdapat beberapa catatan penting temuan Perkumpulan Sawit Watch dimana hal ini juga dapat diperdebatkan, pertama, terdapat sedikitnya tiga model dalam menyelesaikan konflik-konflik lahan di perkebunan kelapa sawit yakni non-litigasi, litigasi, dan campuran. Penyederhanaannya, litigasi adalah penyelesaian lewat jalur pengadilan, non-litigasi adalah menyelesaikan konflik-konflik lahan di luar jalur pengadilan. Salah satu jalur non-litigasi adalah negosiasi dalam berbagai ruang misalkan lewat Komnasham dengan mediasinya, BPN, dan lain sebagainya. Jalur campuran adalah campuran bermain di pengadilan juga bermain di luar pengadilan. Kedua, Perkumpulan Sawit Watch dalam kontribusi ikut menyelesaikan konflik-konflik di perkebunan kelapa sawit melihat bahwa jalur litigasi adalah jalan terakhir ketika jalur non-litigasi sudah buntu, tetapi terkadang masyarakat dipaksa oleh pihak perusahaan agar masuk dalam jalur litigasi.

Selain ruang-ruang nasional, persoalan konflik lahan di perkebunan kelapa sawit dapat dinegosiasikan untuk mendapatkan penyelesaian di ruang internasional lewat jalur pengakuan pasar (konsumen), salah satunya lewat roundtable sustainable palm oil (RSPO). RSPO adalah sebuah asosiasi yang dibentuk oleh organisasi-organisasi yang menjalankan berbagai kegiatan didalam dan seluruh rantai penyedia (supply chain) untuk kelapa sawit mempromosikan pertumbuhan dan penggunaan kelapa sawit berkelanjutan melalui kerjasama dalam rantai penyedia (supply chain) dan membuka dialog dengan parapihak yang terlibat didalamnya. RSPO bertujuan membawa anggota-anggota masyarakat yang berkerja dalam kelapa sawit bersama mendiskusikan dan

berkerjasama menuju tujuan bersama ini. RSPO secara resmi dibentuk tanggal 8 April 2004, terdaftar didalam Swiss Civil Code Pasal 60, di Zurich, Swiss.

RSPO terdiri dari anggota biasa dalam tujuh kategori misalnya, perkebunan kelapa sawit, pengolah dan/atau pedagang, pembuat barang-barang konsumen, pengecer, bank/investor, NGO lingkungan dan konservasi, NGO sosial dan pembangunan, dan Anggota Mitra. Keanggotaan mitra adalah terbuka bagi organisasi dan individu yang tidak telibat aktif dalam ketujuh kategori tersebut dan telah menyatakan