MAKALAH B3 DAN LIMBAH B3 (RENY YULIANTI 1109045013 TL'11).docx.doc

of 43 /43
MAKALAH PENGELOLAAN B3 DAN LIMBAH B3 “PENGGUNAAN UJI TOKSISITAS DALAM PENENTUAN DAN EVALUASI LIMBAH B3” Disusun Oleh: NAMA NIM RENY YULIANTI 1109045013 PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK

Embed Size (px)

Transcript of MAKALAH B3 DAN LIMBAH B3 (RENY YULIANTI 1109045013 TL'11).docx.doc

MAKALAH PENGELOLAAN B3 DAN LIMBAH B3PENGGUNAAN UJI TOKSISITAS DALAM PENENTUAN DAN EVALUASI LIMBAH B3

Disusun Oleh:

NAMA NIM

RENY YULIANTI 1109045013

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

2013KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan Makala Pengelolaan B3 dan Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) tentang uji LD 50, LC 50 dan TCLP dengan Judul yang diambil adalah Penggunaan Uji Toksisitas dalam Penentuan dan Evaluasi Limbah B3 .

Makalah ini bertujuan untuk menganalisis apa saja penggunaan uji toksisitas dalam menentukan limbah B3 serta mengevaluasinya dalam tahapan selanjutnya.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga penulis mengharap saran dan kritikan yang membangun guna memperbaiki makalah ini agar dimasa yang akan datang lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya.Samarinda, 6 Oktober 2013

PenulisDAFTAR ISI

KATA PENGANTARi

DAFTAR ISIii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA2.1 Definisi Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

2.2 Identifikasi Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

2.3 Uji Toksisitas

2.4 Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

BAB III METODOLOGI PENULISAN

3.1 Ruang Lingkup Kajian

3.2 Teknik Pengumpulan Data

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN4.1 Tahap Identifikasi Limbah B3

4.2 Studi Kasus Tentang Penggunaan Uji Toksisitas Limbah Cair

4.3 Studi Kasus Uji Toksisitas Slag Baja Untuk Teknologi Jalan

4.3.1 Uji Lethal Dose Fifty (LD-50)

4.3.2 Uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP)

BAB V PENUTUP5.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang

Dewasa ini segala kegiatan pasti akan menghasilkan suatu buangan berupa limbah, dan angka pertambahan jumlah limbah pasti akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Limbah-limbah tersebut berasal dari berbagai sektor misalnya dari pabrik (industri), rumah tangga, perusahaan, kantor-kantor, sekolah dan sebagainya yang berupa cair, padat bahkan berupa zat gas dan semuanya itu berbahaya bagi kehidupan kita. Tetapi ada limbah yang lebih berbahaya lagi yang disebut dengan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun).

Limbah tersebut akan dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan maupun kesehatan manusia bila tidak dikelola dengan benar. Keberadaan limbah B3 sebagian besar memang berasal dari sektor industri yang di satu pihak akan menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kesejahteraan hidup rakyat, dan di lain pihak industri itu juga banyak menghasilkan limbah. Diantara limbah yang dihasilkan oleh kegiatan industri tersebut dapat berupa limbah bahan berbahaya dan beracun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Limbah B3. Sebelum limbah tersebut dikatakan sebagai limbah B3 diperlukan sebuah identifikasi, dalam identifikasi limbah B3 diperlukan uji karakteristik dan uji toksikologi atas limbah tersebut. Dalam menentukan limbah tersebut termasuk limbah B3, uji yang dilakukan dilengkapi dengan adanya uji TCLP (Toxicity Characteristic Leaching Procedure) yang merupakan uji pelindian dan digunakan selain sebagai penentuan salah satu sifat berbahaya (beracun) suatu limbah.Limbah B3 bukan merupakan masalah kecil dan sepele, karena apabila limbah Bahan Berbahaya dan Beracun(B3) tersebut dibiarkan ataupun dianggap sepele penanganannya, atau bahkan melakukan penanganan yang salah dalam menanganani limbah B3 tersebut, maka dampak dari Limbah Bahan Berbahaya dan beracun tersebut akan semakin meluas, bahkan dampaknya pun akan sangat dirasakan bagi lingkungan sekitar kita, dan tentu saja dampak tersebut akan menjurus pada kehidupan makhluk hidup baik dampak yang akan dirasakan dalam jangka pendek ataupun dampak yang akan dirasakan dalam jangka panjang dimasa yang akan datang.

Namun seiring dengan berjalannya waktu limbah B3 tidak hanya diolah dengan teknologi tertentu yang akhirnya kemudian dibuang ketempat pembuangan akhir, sekarang ini ada bentuk pengelolaan limbah B3 yang berkelanjutan yakni Teknologi perlakuan terhadap limbah untuk menghasilkan produk lain yang bermanfaat atau yang dikenal dengan waste to product. Sehingga uji karakteristik dan uji toksisitas tidak hanya digunakan untuk menentukan apakah limbah tersebut termasuk limbah B3 tetapi juga digunakan untuk tujuan yang lain, yaitu uji evaluasi dari hasil pengelolaan limbah B3 dengan metode tertentu, maka ketika limbah tersebut dibuang kealam dampaknya bisa diminimalisir serta limbah B3 tersebut dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang lain.Oleh karena itu, berdasarkan uraian diatas akan dibahas tentang uji toksisitas terhadap beberapa masalah (studi kasus) yang merupakan sebuah evaluasi sehingga diperoleh perbedaan antara sifat dan karakteristik limbah B3 tersebut sebelum dan sesudah adanya pengelolaan atau penanganan, selain itu juga terdapat evaluasi untuk peninjauan dampak terhadap bioindikator, dan uji toksisitas terhadap suatu produk inovasi yang memanfaatkan bahan dari limbah B3. Uji toksisitas yang diangkat dalam makalah ini adalah uji toksisitas limbah cair laundry sebelum dan sesudah diolah dengan tawas dan karbon aktif terhadap bioindikator (Uji LC-50) dan uji toksisitas slag baja untuk teknologi jalan yang ramah lingkungan (Uji LD-50 dan uji TCLP).1.2 Rumusan MasalahDari latar belakang masalah diatas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Mengetahui alur identifikasi dalam menentukan limbah B3.2. Mengetahui mengetahui kualitas limbah cair laundry dan toksisitas limbah cair laundry terhadap Lethal Concentration 50% (LC50) bioindikator.3. Mengetahui hasil evaluasi uji toksisitas (Uji LD 50 dan Uji TCLP) dalam pemanfaatan limbah slag untuk bidang konstruksi jalan.BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, limbah merupakan sisa suatu usaha dan/ atau kegiatan. Sedangkan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang karena sifat atau konsentrasinya, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan merusakkan lingkungan hidup, sehingga dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. Apabila limbah mengandung salah satu pencemar yang terdapat Peraturan Pemerintah, dengan konsentrasi sama atau lebih besar maka limbah tersebut merupakan limbah B3. Bila nilai konsentrasi zat pencemar labih kecil dari nilai ambang batas maka dilakukan uji toksikologi.

Limbah beracun adalah limbah yang mengandung pencemar yang bersifat racun bagi manusia atau lingkungan yang dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk kedalam tubuh melalui pernafasan, kulit atau mulut. Penentuan sifat racun untuk mengidentifikasi limbah ini dapat menggunakan baku mutu konsentrasi Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) pencemar organik dan anorganik dalam limbah sebagaimana yang tercantum dalam PP No.85 tahun 1999.

Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dibuang langsung kedalam lingkungan dapat menimbulkan bahaya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia serta makhluk hidup lainnya. Mengingat resiko tersebut, perlu diupayakan agar setiap kegiatan industri dapat meminimalkan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dihasilkan dan mencegah masuknya limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dari luar Wilayah Indonesia. Pemerintah Indonesia dalam pengawasan perpindahan lintas batas limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) telah meratifikasi Konvensi Basel pada tanggal 12 Juli 1993 dengan Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1993.

Gambar 1. Alur terbentuknya B32.2 Identifikasi Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

Tujuan identifikasi B3

Mengklasifikasi/mengidentifikasi apakah limbah tersebut termasuk limbah B3 atau bukan;

Mengetahui sifat dan karakteristik limbah sehingga dapat mengetahui metode pengelolaannya;

Menganalisis potensi bahayannya terhadap lingkungan, dan mahkluk hidup lain

Langkah-langkah identifikasi limbah B3

Mencocokan limbah dengan daftar jenis limbah B3 sebagaimana Lampiran I (Tabel 1, 2 & 3) PP No. 85 tahun 1999;

Apabila tidak cocok dengan daftar jenis limbah B3 sebagaimana Lampiran I, diperiksa apakah limbah tersebut memiliki karakteristik : mudah terbakar, mudah meledak, bersifat reaktif, bersifat korosif, infeksius, beracun.

Apabila kedua tahapan tersebut diatas telah di lakukan dan tidak memenuhi ketentuan Limbah B3 dilakukan uji toksikologi.Untuk mengidentifikasi limbah sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) diperlukan uji karakteristik dan uji toksikologis atas limbah tersebut. Pengujian ini meliputi karakterisasi limbah atas sifat-sifat mudah meledak dan atau mudah terbakar dan atau bersifat reaktif, dan atau beracun dan atau menyebabkan infeksi, dan atau berisfat korosif.

Uji toksikologi digunakan untuk mengetahui nilai akut dan atau kronik limbah. Penentuan sifat akut limbah dilakukan dengan uji hayati untuk mengetahui hubungan dosis respon antara limbah dengan kematian hewan uji untuk menetapkan nilai Lethal Dose Fifty (LD-50) adalah dosis limbah yang menghasilkan 50% respons kematian pada populasi hewan uji. Sedangkan sifat kronis limbah B3 ditentukan dengan cara mengevaluasi sifat zat pencemar yang terdapat di dalam limbah dengan menggunakan metodelogi tertentu (PP No 85 tahun 1999).

Penentuan yang lebih spesifik terhadap kandungan bahan organik dan anorganik yang diklasifikasikan sebagai komponen aktif B3, ditentukan dengan metoda Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP). Identifikasi limbah B3 berdasarkan karakteristiknya dapat dibagi seperti dijelaskan sebagi berikut:

1. Mudah meledak

2. Mudah terbakar

3. Limbah reaktif

4. Limbah beracun

5. Korosif

6. Limbah infeksi

7. Uji toksikologi

Gambar 2. Skema Identifikasi Limbah B3

Berdasarkan sumbernya, limbah B3 dapat diklasifikasikan menjadi:

Primary sludge, yaitu limbah yang berasal dari tangki sedimentasi pada pemisahan awal dan banyak mengandung biomassa senyawa organik yang stabil dan mudah menguap

Chemical sludge, yaitu limbah yang dihasilkan dari proses koagulasi dan flokulasi

Excess activated sludge, yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dengn lumpur aktif sehingga banyak mengandung padatan organik berupa lumpur dari hasil proses tersebut

Digested sludge, yaitu limbah yang berasal dari pengolahan biologi dengan digested aerobic maupun anaerobic di mana padatan/lumpur yang dihasilkan cukup stabil dan banyak mengandung padatan organik.

Limbah B3 dikarakterisasikan berdasarkan beberapa parameter yaitu total solids residue (TSR), kandungan fixed residue (FR), kandungan volatile solids (VR), kadar air (sludge moisture content), volume padatan, serta karakter atau sifat B3 (toksisitas, sifat korosif, sifat mudah terbakar, sifat mudah meledak, beracun, serta sifat kimia dan kandungan senyawa kimia).

Contoh limbah B3 ialah logam berat seperti Al, Cr, Cd, Cu, Fe, Pb, Mn, Hg, dan Zn serta zat kimia seperti pestisida, sianida, sulfida, fenol dan sebagainya. Cd dihasilkan dari lumpur dan limbah industri kimia tertentu sedangkan Hg dihasilkan dari industri klor-alkali, industri cat, kegiatan pertambangan, industri kertas, serta pembakaran bahan bakar fosil. Pb dihasilkan dari peleburan timah hitam dan accu. Logam-logam berat pada umumnya bersifat racun sekalipun dalam konsentrasi rendah.2.2.1 Karakterisasi B3 Menurut PP 74/2001Penjelasan PP 74/2001 menguraikan secara singkat klasifikasi B3 sebagai berikut:

a. Explosive (mudah meledak) b. Oxidizing (pengoksidasi) c. Flammable (mudah menyala) Extremely flammable Highly flammable Flammabled. Toxic (beracun)e. Harmful (berbahaya) f. Corrosive (korosif)

g. Irritant (bersifat iritasih. Dangerous to the Environment (berbahaya bagi lingkungan)2.3 Uji Toksisitas

Uji toksisitas merupakan uji hayati yang berguna untuk menentukan tingkat toksisitas dari suatu zat atau bahan pencemar dan digunakan juga untuk pemantauan rutin suatu limbah. Suatu senyawa kimia dikatakan bersifat racun akut jika senyawa tersebut dapat menimbulkan efek racun dalam jangka waktu singkat. Suatu senyawa kimia disebut bersifat racun kronis jika senyawa tersebut dapat menimbulkan efek racun dalam jangka waktu panjang (karena kontak yang berulang-ulang walaupun dalam jumlah yang sedikit) (Pradipta 2007).

Ada tiga cara utama bagi senyawa kimia untuk dapat memasuki tubuh, yaitu melalui paru-paru (pernafasan), mulut, dan kulit. Melalui ketiga rute tersebut, senyawa yang bersifat racun dapat masuk ke aliran darah, dan kemudian terbawa ke jaringan tubuh lainnya. Yang menjadi perhatian utama dalam toksisitas adalah kuantitas/dosis senyawa tersebut. Sebagian besar senyawa yang berada dalam bentuk murninya memiliki sifat racun (toksik). Sebagai contohnya adalah senyawa oksigen yang berada pada tekanan parsial 2 atm adalah bersifat toksik. Konsentrasi oksigen yang terlalu tinggi dapat merusak sel (Pradipta 2007).

Uji toksisitas akut sangat penting untuk mengukur dan mengevaluasi karakteristik toksik dari suatu bahan kimia. Uji ini dapat menyediakan informasi tentang bahaya kesehatan manusia yang berasal dari bahan kimia yang terpapar dalam tubuh pada waktu pendek melalui jalur oral. Data uji akut juga dapat menjadi dasar klasifikasi dan pelabelan suatu bahan kimia (Anonim, 1998).

Toksisitas akut didefinisikan sebagai kejadian keracunan akibat pamaparan bahan toksik dalam waktu singkat, yang biasanya dihitung menggunakan nilai LC50 atau LD50. Nilai ini didapatkan melalui proses statistik dan berfungsi mengukur angka relatif toksisitas akut bahan kimia (Anonim, 1998). Toksisitas akut dari bahan kimia lingkungan dapat ditetapkan secara eksperimen menggunakan spesies tertentu seperti mamalia, bangsa unggas, ikan, hewan invertebrata, tumbuhan vaskuler dan alga (Hodgson dan Levi, 1997). Uji toksisitas akut dapat menggunakan beberapa hewan mamalia, namun yang dianjurkan untuk uji LD50 diantaranya tikus, mencit dan kelinci (Anonim, 1998).2.3.1 Uji LC-50LC-50 (Median Lethal Concentration) yaitu konsentrasi yang menyebabkan kematian sebanyak 50% dari organisme uji yang dapat diestimasi dengan grafik dan perhitungan, pada suatu waktu pengamatan tertentu, misalnya LC-50 48 jam, LC-50 96 jam (Dhahiyat dan Djuangsih 1997 diacu dalam Rossiana 2006) sampai waktu hidup hewan uji.

Berdasarkan kepada lamanya, metode penambahan larutan uji dan maksud serta tujuannya maka uji toksisitas diklasifikasikan sebagai berikut (Rosianna 2006) :

Klasifikasi menurut waktu, yaitu uji hayati jangka pendek (short term bioassay), jangka menengah (intermediate bioassay) dan uji hayati jangka panjang (long term bioassay).

Klasifikasi menurut metode penambahan larutan atau cara aliran larutan, yaitu uji hayati statik (static bioassay), pergantian larutan (renewal biossay), mengalir (flow trough bioassay). Klasifikasi menurut maksud dan tujuan penelitian adalah pemantauan kualitas air limbah, uji bahan atau satu jenis senyawa kimia, penentuan toksisitas serta daya tahan dan pertumbuhan organisme uji.

Untuk mengetahui nilai LC-50 digunakan uji statik. Ada dua tahapan dalam penelitian (Rossiana 2006), yaitu:

1. Uji Pendahuluan: Untuk menentukan batas kritis konsentrasi yaitu konsentrasi yang dapat menyebabkan kematian terbesar mendekati 50% dan kematian terkecil mendekati 50%.

2. Uji Lanjutan: Setelah diketahui batas kritis, selanjutnya ditentukan konsentrasi akut berdasarkan seri logaritma konsentrasi yang dimodifikasi oleh Rochini dkk (1982) diacu dalam Rossiana (2006). Adapun kriteria toksisitas suatu perairan adalah sebagai berikut:Tabel 1. Kriteria tingkatan nilai toksisitas akut LC-50 48 jam pada lingkungan perairan

Tingkat RacunNilai (LC-50) (ppm)

Racun Tinggi< 1

Racun Sedang>1 dan 100

Sumber: Wagner dkk (1993) dalam Rossiana (2006)

2.3.2 LD 50LD singkatan dari "Lethal Dose". LD-50 adalah jumlah material, diberikan sekaligus, yang menyebabkan kematian 50% (satu setengah) dari kelompok hewan uji. LD50 adalah salah satu cara untuk mengukur potensi jangka pendek keracunan (toksisitas akut) dari suatu material. Toksikologi dapat menggunakan berbagai jenis hewan, tetapi paling sering pengujian dilakukan dengan tikus dan tikus. Hal ini biasanya dinyatakan sebagai jumlah bahan kimia dikelola (misalnya, miligram) per 100 gram (untuk hewan yang lebih kecil) atau per kilogram (untuk ujian mata pelajaran lebih besar) dari berat tubuh hewan uji. LD50 dapat ditemukan untuk setiap rute entri atau administrasi tetapi kulit (dioleskan pada kulit) dan oral (diberikan melalui mulut) metode administrasi adalah yang paling umum. LD50 merupakan tolak ukur kuantitatif yang sering digunakan untuk menyatakan kisaran dosis letal. Ada beberapa pendapat yang menyatakan tidak setuju, bahwa LD50 masih dapat digunakan untuk uji toksisitas akut. Namun ada juga beberapa kalangan yang masih setuju, dengan pertimbangan:

a. Jika lakukan dengan baik, uji toksisitas akut tidak hanya mengukur LD50, tetapi juga memeberikan informasi tentang waktu kematian, penyebab kematian, gejala gejala sebelum kematian, organ yang terkena efek, dan kemampuan pemulihan dari efek nonlethal.

b. Hasil dari penelitian dapat digunakan untuk pertimbangan pemilihan design penelitian subakut.

c. Tes LD50 tidak membutuhkan banyak waktu.

d. Hasil tes ini dapat langsung digunakan sebagai perkiraan risiko suatu senyawa terhadap konsumen atau pasien.

Pada dasarnya, nilai tes LD50 yang harus dilaporkan selain jumlah hewan yang mati, juga harus disebutkan durasi pengamatan. Bila pengamatan dilakukan dalam 24 jam setelah perlakuan, maka hasilnya tertulis LD50 24 jam. Namun seiring perkembangan, hal ini sudah tidak diperhatikan lagi, karena pada umumnya tes LD50 dilakukan dalam 24 jam pertama sehingga penulisan hasil tes LD50 saja sudah cukup untuk mewakili tes LD50 yang diamati dalam 24 jam. Bila dibutuhkan, tes ini dapat dilakukan lebih dari 14 hari. Contohnya, pada senyawa tricresyl phosphat, akan memberikan pengaruh secara neurogik pada hari 10 14, sehingga bila diamati pada 24 jam pertama tidak akan menemukan hasil yang berarti. Dan jika begitu tentu saja penulisan hasil harus deisertai dengan durasi pengamatan.

Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi nilai LD50 antara lain spesies, strain, jenis kelamin, umur, berat badan, gender, kesehatan nutrisi, dan isi perut hewan coba. Teknis pemberian juga mempengaruhi hasil, antara lain waktu pemberian, suhu lingkungan, kelembaban, sirkulasi udara. Tidak luput kesalahan manusia juga dapat mempengaruhi hasil ini. Sehingga sebelum melakukan penelitian, ada baiknya kita memeperhatikan faktor faktor yang mempengaruhi hasil ini.

Secara umum, semakin kecil nilai LD50, semakin toksik senyawa tersebut. Begitu pula sebaliknya, semakin besar nilai LD50, semakin rendah toksisitasnya. Hasil yang diperoleh (dalam mg/kgBB) dapat digolongkan menurut potensi ketoksikan akut senyawa uji menjadi beberapa kelas, seperti yang terlihat pada tabel berikut :

Tabel 2. Tingkat racun menurut PP 74/2001

Hasil dari uji LD50 dari bahan kimia biasanya bervariasi untuk setiap spesies hewan dan laboratorium penguji, sehingga nilai LD50 tersebut biasanya hanya merupakan perkiraan (Tabel 2).

Tabel 3. Perkiraan dosis LD50 bahan kimia pada hewan percobaan

BahanHewan percobaanPemberianLD50 (mg/Kg)

Ethil alkoholmencitoral10.000

NaClmenciti.p4.000

FeSO4Tikusoral1.500

Morfin sulfatTikusoral900

DDTTikusoral100

PicrotoksinTikuss.c.5

Strychnin sulfatTikusi.p.2

NicotinTikusi.v.1

d-tubocuravinTikusi.v.0,5

Hemicholinium-3Tikusi.v.0,2

TetrodotoksinTikusi.v.0,10

DioksinMarmoti.v.0.001

Toksin BotulinumTikusi.v.0.00001

Oral= lewat mulut; i.p=intra peritoneal; s.c.=sub cutan; i.v.=intra vena

Sumber: Loomis (1978)2.3.3 Uji TCLP (Toxicity Characteristic Leaching Procedure)Toxicity Characteristic Leaching Procedure atau TCLP adalah salah satu evaluasi toksisitas limbah untuk bahan-bahan yang dianggap berbahaya dan beracun dengan penekanan pada nilai leachate. Leachate adalah cairan yang keluar dari suatu cairan yang terkontaminasi oleh zat-zat pencemar yang ditimbulkan dari suatu limbah yang mengalami proses pembusukan. Menurut EPA leachate adalah suatu cairan yang mencakup semua komponen di dalam cairan tersebut sehingga cairan tersebut tersaring dari limbah berbahaya. Leachate telah dihasilkan sejak manusia pertama kali melakukan penggalian timbunan sampah untuk menyelesaikan persampahan. Tentu saja pada tahapan ini jumlah leachate yang dihasilkan sangat kecil dan bercampur dalam suatu tanah liat. Risiko yang didapat jika tidak adanya suatu drainase baik dan pengolahan limbah cair dapat menyebabkan suatu dampak yaitu penyakit bagi manusia akibat timbulnya leachate tersebut.Leachete merupakan parameter yang sangat menentukan kualitas terhadap hasil solidifikasi yang berkaitan dengan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu untuk menentukan kualitas lindi adalah dengan Toxicity Characteristic Leaching Prosedur (TCLP).

Analisa ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keamanan bagi kesehatan dan lingkungan mengingat bahan tambahan yang digunakan adalah limbah sisa berupa limbah TA 5, alumina dan sand blasting yang mengandung unsur-unsur logam berat. Untuk itu dilakukan uji leached (TCLP) terhadap produk batu bata. Pada umumnya uji ini ditunjukan terutama untuk melihat potensi toksisitas leaching dari logam berat.

.

Tujuan pengujian TCLP adalah untuk mengetahui tingkat imobilisasi logam berat pada limbah Hasil pengujian TCLP baik sebelum disolidifikasi (tabel 4.2) maupun sesudah disolidifikasi (tabel 4.5) memberikan hasil yang baik karena hasil pengujian menunjukkan bahwa logam berat dapat diimobilisasi kecuali pada logam berat seng (Zn) pada karakteristik limbah sandblasting melebihi standar yang ditetapkan PP No 85 tahun 1999 yaitu melebihi 50 mg/l

Uji TCLP adalah uji yang dikembangkan oleh US-EPA, yang merupakan simulasi terburuk kondisi landfill, yang menyebabkan terjadinya pencemaran pada air tanah, yang airnya digunakan secara rutin. Simulasi transportasi ini, menghasilkan batas aman yang memperhitungkan probabilitas terjadinya toksisitas kronik non-kanker maupun kanker. Namun dalam versi Indonesia, bila ambang batas TCLP tidak terlampaui, penghasil penghasil limbah masih tetap diharuskan melakukan uji toksisitas akut maupun kronis.

Gambar 3. Ambang batas uji TCLP

2.4 Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)Jenis-jenis proses pengolahan limbah secara fisik dan kimia antara lain :1. Proses pengolahan secara kimia : Reduksi-Oksidasi Elektrolisasi Netralisasi Presipitasi / Pengendapan Solidifikasi / Stabilisasi Absorpsi Penukaran ion, dan Pirolisa 2. Proses pengolahan limbah secara fisik : Pembersihan gas : Elektrostatik presipitator, Penyaringan partikel, Wet scrubbing, dan Adsorpsi dengan karnbon aktif Pemisahan cairan dengan padatan : Sentrifugasi, Klarifikasi, Koagulasi, Filtrasi, Flokulasi, Floatasi, Sedimentasi, dan Thickening Penyisihan komponen-komponen yang spesifik : Adsorpsi, Kristalisasi, Dialisa, Electrodialisa, e, Leaching, Reverse osmosis, Solvent extraction, dan StrippingPemilihan teknologi alternatif proses pengolahan limbah B3 dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Alternatif Proses Pengolahan Limbah B3Teknologi PengolahanTerdapat banyak metode pengolahan limbah B3 di industri, tiga metode yang paling populer di antaranya ialahchemical conditioning,solidification/Stabilization, danincineration. Salah satu teknologi pengolahan limbah B3 ialah chemical conditioning. Tujuan utama dari chemical conditioning ialah: Menstabilkan senyawa-senyawa organik yang terkandung di dalam lumpur

Mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air dalam lumpur

Mendestruksi organisme pathogen

Memanfaatkan hasil samping proses chemical conditioning yang masih memiliki nilai ekonomi seperti gas methane yang dihasilkan pada proses digestion Mengkondisikan agar lumpur yang dilepas ke lingkungan dalam keadaan aman dan dapat diterima lingkungan

BAB IIIMETODOLOGI PENULISAN

3.1 Ruang Lingkup Kajian

Ruang lingkup kajian ini yaitu tentang penggunaan uji toksisitas dalam penentuan dan evaluasi limbah B3. Seperti yang kita tahu bahwa penentuan suatu bahan tergolong mengandung limbah B3 dilakukan beberapa tahap. Pada kajian ini digunakan tahapan uji toksisitas dengan LC-50 dan LD-50 yaitu jumlah konsentrasi dan material, diberikan sekaligus, yang menyebabkan kematian 50% (satu setengah) dari kelompok hewan uji. Selain itu dilakukan uji TCLP untuk menentukan sifat karakteristik limbah (Berdasarkan PP No.85 tahun 1999). Untuk kajian lingkup kegiatan ialah pengkajian tentang penggunaan uji toksisitas limbah cair laundry sebelum dan sesudah diolah dengan tawas dan karbon aktif terhadap bioindikator (Uji LC-50) dan uji toksisitas slag baja untuk teknologi jalan yang ramah lingkungan (Uji LD-50 dan Uji TCLP). Setelah itu dianalisis berdasarkan data yang ada apakah suatu bahan tersebut tergolong B3 atau tidak, kemudian mengevaluasi kondisi (kandungan) dari limbah tersebut apakah terjadi penurunan kandungan bahan berbahaya dan beracunnya untuk dibuang ke lingkungan dan untuk dimanfaatkan kembali menjadi produk yang berbeda.3.2 Teknik Pengumpulan Data

Dalam Pengkajian masalah ini digunakan bahan Pustaka (Studi Literatur) yang berupa data sekunder sebagai sumber utamanya. Dengan demikian maka teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan, yang diperoleh melalui penelusuran manual maupun elektronik berupa jurnal, buku maupun internet yang terkait dengan uji toksisitas suatu limbah/bahan, yang kemudian disortir dan diklasifikasikan dan disusun secara komperhensif.BAB IVHASIL DAN PEMBAHASAN4.1 Tahap Identifikasi Limbah B3

Untuk mengidentifikasi limbah sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) diperlukan uji karakteristik dan uji toksikologis atas limbah tersebut. Pengujian ini meliputi karakterisasi limbah atas sifat-sifat mudah meledak dan atau mudah terbakar dan atau bersifat reaktif, dan atau beracun dan atau menyebabkan infeksi, dan atau berisfat korosif.

Sedangkan uji toksikologi digunakan untuk mengetahui nilai akut dan atau kronik limbah. Penentuan sifat akut limbah dilakukan dengan uji hayati untuk mengetahui hubungan dosis respon antara limbah dengan kematian hewan uji untuk menetapkan nilai Lethal Dose Fifty (LD-50) adalah dosis limbah yang menghasilkan 50% respons kematian pada populasi hewan uji. Sedangkan sifat kronis limbah B3 ditentukan dengan cara mengevaluasi sifat zat pencemar yang terdapat di dalam limbah dengan menggunakan metodelogi tertentu (PP No 85 tahun 1999).

Penentuan yang lebih spesifik terhadap kandungan bahan organik dan anorganik yang diklasifikasikan sebagai komponen aktif B3, ditentukan dengan metoda Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP).4.2 Studi Kasus Tentang Penggunaan Uji Toksisitas Limbah Cair Laundry Sebelum dan Sesudah Diolah Dengan Tawas dan Karbon Aktif Terhadap Bioindikator (Uji LC-50)Limbah cair laundry mengandung deterjen yang dapat menyebabkan pencemaran ai dan bersifat toksik bagi bioindikator (Cyprinus carpio L). Deterjen mengandung zat surface active (surfaktan), yaitu anionik, kationik, dan nonionik. Surfaktan yang digunakan dalam deterjen adalah jenis anionik dalam bentuk sulfat dan sulfonat. Surfaktan sulfonat yang dipergunakan adalah Alkyl Benzene Sulfonate (ABS) dan Linier Alkyl Sulfonate (LAS). Lingkungan perairan yang tercemar limbah deterjen kategori keras ini dalam konsentrasi tinggi dapat membahayakan kehidupan biota air dan manusia yang mengkonsumsi biota tersebut.Metode penelitian

Hasil analisis limbah cair laundry sebelum dan sesudah diolah menggunakan tawas dan karbon aktif disajikan pada Tabel dibawah ini.Tabel Hasil analisis limbah air laundry sebelum dan sesudah pengolahan

Berdasarkan analisis limbah cair laundry sebelum dan sesudah pengolahan, parameter yang melampaui baku mutu untuk kegiatan industri laundry menurut Peraturan Gubernur DIY No.7 Tahun 2010 sebelum pengolahan meliputi: BOD, COD, TSS, dan deterjen serta fosfat berdasarkan baku mutu untuk kegiatan lainnya. Sedangkan pH, temperatur, konduktivitas, TDS, dan deterjen masih di bawah baku mutu. Kadar pencemaran setiap parameter sebelum dan sesudah pengolahan menggunakan tawas dan karbon aktif mengalami perbaikan. Temperatur dan pH mengalami perbaikan terlihat dengan sesudah pengolahan mendekati standar baku mutu yang ditetapkan.

Berdasarkan Tabel 4 dan Gambar 2, kelompok sebelum pengolahan dengan tawas dan karbon aktif LC5096 jam = 0,1 % jadi terletak pada interval konsentrasi limbah cair laundry 010 %. Pada kelompok sesudah pengolahan (Tabel 4 dan Gambar 3) diperoleh bahwa LC5096 jam = 49,91% dan terletak pada interval konsentrasi 4050 %. Hubungan korelasi antara konsentrasi limbah cair laundry dan jumlah mortalitas bioindikator pada uji pendahuluan ini dapat diketahui berdasarkan nilai koefisien korelasi yang diberi simbol r dengan kisaran nilai antara -1 sampai 1. Berdasarkan besarnya nilai koefisien korelasi dapat diartikan bahwa ada hubungan korelasi positif antara konsentrasi limbah cair laundry dan jumlah mortalitas bioindikator, artinya semakin tinggi konsentrasi limbah cair laundry maka akan semakin banyak bioindikator yang mati.

Pada Tabel 5, terlihat mortalitas rata-rata bioindikator yang hidup di limbah cair laundry sebelum pengolahan dengan tawas dan karbon aktif dan sesudah penambahan tawas dan karbon aktif.

Berdasarkan jumlah rata-rata mortalitas bioindikator pada Tabel 5, nampak bahwa semakin tinggi konsentrasi limbah cair laundry dan lamanya persentuhan antara bioindikator dan limbah cair laundry, akan semakin banyak jumlah bioindikator yang mati. Hal ini berlaku pada limbah cair laundry sebelum dilakukan pengolahan (limbah cair laundry konsentrasi 010 %) maupun sesudah pengolahan (limbah cair laundry konsentrasi 4050 %). Nilai LC50 0-72 jam lebih besar dari nilai LC50-96 jam (Tabel 6), baik pada uji toksisitas limbah cair laundry sebelum pengolahan maupun sesudah pengolahan dengan tawas dan karbon aktif terhadap bioindikator. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama waktu persentuhan limbah cair laundry dengan Cyprinus carpio L, maka jumlah rata-rata kematiannya akan meningkat pada konsentrasi limbah cair laundry yang lebih rendah. Hal ini di karenakan daya tahan Cyprinus carpio L semakin lama semakin menurun.

Kualitas limbah cair laundry setelah diolah dengan tawas dan karbon aktif mengalami perbaikan dan memenuhi standar baku mutu lingkungan. Efisiensi penurunan: pH (5,52%), konduktivitas (58,90%), BOD (82,00%), COD (81,39%), TSS (92,25%), TDS (55,56%), deterjen (57,72%), fosfat (92,28%). Berdasarkan data LC50 096 maupun batas aman limbah cair laundry dapat membuktikan bahwa pengolahan menggunakan tawas dan karbon aktif dapat menurunkan daya toksisitas limbah cair laundry. Hubungan korelasi antara konsentrasi limbah cair laundry dan jumlah mortalitas Cyprinus carpio L pada uji sesungguhnya berdasarkan nilai koefisiensi korelasi (r) sebelum dan sesudah pengolahan pada pengamatan 0 96 jam menunjukkan bahwa ada hubungan korelasi positif, artinya semakin tinggi konsentrasi dan lama waktu kontak maka semakin banyak bioindikator yang mati.

4.3 Studi Kasus Uji Toksisitas Slag Baja Untuk Teknologi Jalan yang Ramah Lingkungan

Gambar 5. Limbah Slag BajaTeknologi perlakuan terhadap limbah untuk menghasilkan produk lain yang bermanfaat atau yang dikenal dengan waste to product merupakan alternatip yang banyak dipilih oleh industri penghasil limbah.Teknologi pengolahan limbah lumpur atau sludge melalui metode solidifikasi atau stabilisasi telah berkembang sejak pertengahan tahun 1980-an, dan beberapa negara industri telah menerapkan pada system pengolahan limbah padat, lumpur, contohnya untuk pengolahan abu terbang, oily sludge.Slag yang digunakan untuk percobaan adalah produk samping dari industri baja yang terbentuk dari kombinasi bijih besi dengan flux batu kapur. Slag berbentuk granular dengan ukuran bervariasi dari kasar sampai halus. Di Indonesia 150 ton slag dihasilkan setiap harinya oleh industri baja PT Krakatau Steel, Cilegon, Banten.

Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan dengan tegas bahwa limbah slag baja masih termasuk dalam limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Penentuan termasuk dalam limbah B3 atau non B3 sebenarnya masih tergantung masing-masing negara. USA dan negara lainnya seperti Jepang mengatakan bahwa limbah slag baja termasuk dalam limbah khusus dan bukan limbah B3. Karena slag digolongkan sebagai limbah B3 maka dalam pemanfaatannya harus mengikuti UU Lingkungan Hidup No. 32 tahun 2009, bahan slag telah dinyatakan bebas B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), menurut The Federal Register Vol. 45 no. 98 tahun 1980, telah dilakukan pengujian terhadap bahan slag dengan metode EPA standard, yang menyatakan slag tidak berbahaya dengan hasil sebagai berikut : tidak mudah terbakar, mempunyai pH 7,9 (tidak korosif), tidak bersifat reaktif dan bersifat racun yaitu mengandung sianida atau sulfide, cairan pencuci slag (lechate) adalah 100 kali dibawah standar air minum (persyaratan racun adalah 10 kali dibawah persyaratan air minum).Kalangan Industri baja mengharapkan agar limbah slag bisa dimanfaatkan untuk proyek infrastruktur, ketimbang dibiarkan terbuang di gudang penyimpanan. Limbah slag harus digudangkan karena masuk dalam kategori limbah B3 atau berbahaya sesuai dengan peraturan yang berlaku, khususnya Peraturan Pemerintah No 85/1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan beracun (B3). Slag adalah limbah besi dan baja yang berbentuk bongkahan-bongkahan kecil yang secara fisik menyerupai agregat kasar yang diperoleh dari hasil samping pembuatan baja dengan tanur tinggi. 4.3.1 Uji Lethal Dose Fifty (LD-50) Uji toksisitas LD-50 digunakan untuk mengetahuji toksisitas,ui nilai toksisitas akut dari suatu material. Selain dilakukan pada slag, juga dilakukan pada produk perkerasan jalan dengan aspal yang direkomendasikan (AC wearing).

Analisis uji TCLP slag

Uji toksisitas dilakukan untuk limbah processed slag. Uji ini dilakukan untuk mengetahui nilai akut dari slag tersebut. Tabel 6 menunjukkan hasil uji toksisitas LD-50 untuk limbah slag.Tabel 6. Data Angka Kematian selama Percobaan pada Mencit Jantan dan Betina untuk Processed Slag

Tabel 6. menunjukkan bahwa hasil observasi selama 0 96 jam menunjukan bahwa angka kematian tidak ditemukan dalam setiap pemberian dosis processed slag (5; 50; 500; dan 15.000 mg/kg BW), baik pada mencit jantan maupun pada mencit betina. Berdasarkan hasil uji toksisitas LD-50 tersebut, dapat disimpulkan bahwa baik processed slag bersifat non-akut.

Analisis uji LD-50 dengan agregat campuran aspal (AC wearing)Tabel 7. Data angka kematian selama percobaan pada mencit jantan dan betina untuk produk AC wearing dan processed slag

Tabel 7 memperlihatkan bahwa produk perkerasan jalan (AC wearing dari processed slag yang dicampur dengan aspal tidak menunjukan toksik akut. Hasil observasi selama 0-96 jam menunjukkan bahwa angka kematian tidak ditemukan dalam setiap pemberian dosis ( 5; 50; 500; 5000; dan 15,000 mg/Kg BW), baik pada mencit jantan maupun pada mencit betina, sehingga berdasarkan hasil uji toksisitas LD-50 tersebut, dapat disimpulkan bahwa produk perkerasan bersifat non-akut. Penambahan aspal pada slag untuk dijadikan sebagai AC wearing tidak meningkatkan toksisitas slag tersebut. 4.3.2 Uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) Analisis uji TCLP slag

Pemeriksaan TCLP dilakukan untuk melihat keterlindian dari sampel slag baja. Hasil pemeriksaan dapat dilihat pada Tabel 5. Bila dibandingkan parameter logam uki TCLP antara processed slag dengan unprocessed slag, konsentrasi logam pada ekstrak TCLP processed slag lebih besar dibandingkan unprocessed slag, kecuali untuk logam Ba, B, Cr, Pb, dan Se. Namun demikian berdasarkan hasil analisa TCLP dapat dilihat bahwa semua parameter logam masih berada di bawah baku mutu.Tabel 8. Hasil Analisis TCLP Slag

Analisis Uji TCLP campuran slag dengan agregat campuran aspal (AC wearing)Analisis TCLP dilakukan untuk melihat pengaruh proses pengikatan slag dengan aspal terhadap keterlindian logam beratnya. Pengikatan slag dengan aspal diharapkan bahwa logam berat yang terlindikan dapat dicegah seminimal mungkin. Pada uji ini, produk perkerasan (AC wearing) diagitasi selama 18 jam dengan pH air pelindi 4,85. Uji TCLP dilakukan pada processed slag dan unprocessed slag yang telah dicampur dengan aspal. Parameter yang diukur adalah Ba, Cr, Cu, Pb, Ag, Zn, dan B berdasarkan hasil uji logam berat pada saat awal penelitian yang memiliki konsentrasi yang cukup tinggi. Hasil Uji TCLP dapat dilihat pada Tabel 9.Tabel 9. Analisis Pengujian TCLP

Umumnya konsentrasi logam berat pada ekstrak TCLP produk perkerasan menggunakan processed slag lebih besar dari pada produk unprocessed slag, kecualai untuk logam Cr dan Ag. Dapat dilihat juga bahwa konsentrasi logam berat kedua produk perkerasan tersebut jauh di bawah baku mutu TCLP menurut PP 18/1999 jo PP 85/1999. Pelindian ini dilakukan dengan cara mensirkulasikan air dengan pH asam (pH = 4,85), yang merupakan simulasi air hujan, terhadap benda uji. Dari hasil pelindian tersebut kemudian diukur parameter logam berat yang terkandung dalam air lindi.Tabel 10. Hasil Pelindian selama 48 jam

Hasil Kajian pemanfaatan slag sebagai agregat campuran aspal yaitu, hasil pelindian untuk rentang waktu 48 jam dapat dilihat pada tabel 10. Secara keseluruhan, hasil pengukuran konsentrasi logam dalam uji TCLP tidak melebihi baku mutu TCLP. Maka jika dibandingkan dengan baku mutu TCLP, konsentrasi logam yang terdapat pada lindi untuk semua tahap pelindian jauh lebih kecil dibandingkan dengan baku mutu TCLP. Melihat dari kandungan logam maksimum dari slag baja, maka limbah slag baja, pengelolaan tempat penimbunannya di landfill kategori II (Secure Landfill Single Liner). Hasil Uji TCLP slag baja, untuk semua kandungan logam berat masih di bawah baku mutu standar Lingkungan Hidup Peraturan Pemerintah nomor 85 tahun 1999,. Uji TCLP ini memberikan gambaran kemungkinan terburuk terjadinya perlindian limbah yang dibuang pada lahan terbuka, (PP 85/1999). Faktorfaktor yang menentukan sifat penyemenan dalam slag adalah komposisi kimia, konsentrasi alkali dan reaksi terhadap sistem, kandungan kaca pada slag, kehalusan dan temperatur yang ditimbulkan selama proses hidrasi berlangsung.Keuntungan penggunaan limbah padat (slag) dalam campuran beton adalah sebagai berikut:

Mempertinggi kekuatan tekan beton karena kecenderungan melambatnya kenaikan kekuatan tekan

Menaikkan ratio antara kelenturan dan kuat tekan beton

Mengurangi variasi kekuatan tekan beton

Mempertinggi ketahanan terhadap sulfat dalam air laut

Mengurangi serangan alkali-silika

Mengurangi panas hidrasi dan menurunkan suhu

Memperbaiki penyelesaian akhir dan memberi warna cerah pada beton

Mempertinggi keawetan karena pengaruh perubahan volume

Mengurangi porositas dan serangan klorida

Hasil Kajian pemanfaatan slag sebagai agregat campuran aspal untuk kelayakan teknis dan dampak lingkungan dari hasil uji TCLP secara keseluruhan, hasil pengukuran konsentrasi logam dalam Uji TCLP tidak melebihi baku mutu TCLP. Sehingga dikategorikan tidak berbahaya, sehingga layak dari aspek lingkungan dan direkomendasikan pemanfaatan bahan limbah slag baja ini untuk bidang konstruksi jalan.

BAB VPENUTUP5.1 Kesimpulan

a. Untuk mengidentifikasi limbah sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) diperlukan uji karakteristik dan uji toksikologis atas limbah tersebut. Dimana uji toksisitas dapat berupa uji LC-50, Uji LD-50, dan Uji TCLP.b. Kualitas limbah cair laundry setelah diolah dengan tawas dan karbon aktif mengalami perbaikan dan memenuhi standar baku mutu lingkungan. Efisiensi penurunan: pH (5,52%), konduktivitas (58,90%), BOD (82,00%), COD (81,39%), TSS (92,25%), TDS (55,56%), deterjen (57,72%), fosfat (92,28%). Berdasarkan data LC50 096 maupun batas aman limbah cair laundry dapat membuktikan bahwa pengolahan menggunakan tawas dan karbon aktif dapat menurunkan daya toksisitas limbah cair laundry. Hubungan korelasi antara konsentrasi limbah cair laundry dan jumlah mortalitas Cyprinus carpio L pada pengamatan 096 jam menunjukkan bahwa ada hubungan korelasi positif, artinya semakin tinggi konsentrasi dan lama waktu kontak maka semakin banyak bioindikator yang mati.c. Secara umum dari hasil Uji LD-50 dapat disimpulkan bahwa produk perkerasan bersifat non-akut. Penambahan aspal pada slag untuk dijadikan sebagai AC wearing tidak meningkatkan toksisitas slag tersebut. Hasil Kajian pemanfaatan slag sebagai agregat campuran aspal untuk kelayakan teknis dan dampak lingkungan dari hasil uji TCLP secara keseluruhan tidak berbahaya, hasil pengukuran konsentrasi logam dalam Uji TCLP tidak melebihi baku mutu TCLP. Sehingga dikategorikan tidak berbahaya, sehingga layak dari aspek lingkungan dan direkomendasikan pemanfaatan Bahan limbah slag baja ini untuk bidang konstruksi jalan.DAFTAR PUSTAKADamanhuri, Enri. 2010. Diktat Pengelolaan B3. Bandung. FTSL ITB

Gunawan, G. Dharma, Pantja O Dkk. 2011. Pemanfaatan Slag Baja Untuk Teknologi Jalan yang Ramah Lingkungan. PUSLITBANG Jalan dan Jembatan.

Pratiwi, Yuli Dkk. 2012. Uji Toksisitas Limbah Cair Laundry Sebelum dan Sesudah Diolah dengan Tawas dan Karbon Aktif Terhadap Bioindikator (Cyprinuscarpio L). Jurnal Teknik Lingkungan Fakultas Sains Terapan AKPRIND Yogyakarta. Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi (SNAST) Periode III.Anonim. 2012. http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2012/12/31/pengolahan-limbah-b3-bahan-berbahaya-dan-beracun-521057.html. Diakses Tanggal 5 Oktober 2013.

Juju. 2012. http://jujubandung.wordpress.com/2012/04/03/385/. Diakses Tanggal 5 Oktober 2013.

Nisa. 2011. http://3diyanisa3.blogspot.com/2011/05/lethal-concentration-50-lc50.html. Diakses Tanggal 5 Oktober 2013.