Laporan Tpp Blok 9

download Laporan Tpp Blok 9

of 65

  • date post

    23-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    17
  • download

    1

Embed Size (px)

description

tpp

Transcript of Laporan Tpp Blok 9

BAB I

PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang

Sistem pembelajaran di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang adalah kurikulum berbasis kompetensi dimana kurikulum berbasis kompetensi ini mengharuskan mahasiswa harus aktif dalam belajar, dimana mahasiswa diharuskan lebih tanggap dan cekatan dalam belajar ataupun mencari sumber pembelajaran yang lain selain yang diajarkan dosen itu sendiri. Mengacu pada sistem pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang terdapat kegiatan Tugas Pengenalan Profesi (TPP) dimana kegiatan ini bertujuan agar setiap mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang bisa lebih terampil sehingga nanti pada saat dia berprofesi sebagai dokter, mahasiswa itu sendiri bisa lebih cekatan dan terbiasa sehingga lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang bisa meluluskan dokter yang kompeten karena mereka sudah dibiasakan terampil dalam kegiatan pengenalan profesi itu sendiri.Pada pelaksanaan Tugas Pengenalan Profesi Blok IX Neuro-Muskulo-Skeletal, kelompok TPP 9 mendapatkan tugas untuk melakukan evaluasi kasus Congenital Talipes Equino Varus (CTEV).Congenital Talipes Equinovarus atau lebih sering dikenal dengan nama club foot merupakan suatu penyakit congenital pada bayi baru lahir, dimana penyakit ini sebenarnya mudah diobati bila didiagnosis dalam usia yang sangat dini, namun sering kali pasien datang pada saat sudah beranjak dewasa, dimana pengobatan menjadi lebih sukar dilakukan. (Campbell, 1995)Penyakit CTEV ini merupakan suatu penyakit yang berhubungan dengan suatu deformitas yang bisa menyebabkan terjadinya kelainan pada kemampuan kaki untuk melakukan fleksi baik pada bagian pergelangan kaki, inversi pada tungkai, adduksi pada kaki depan, maupun rotasi pada bagian tibia. (Campbell, 1995)Talipes berasal dari kata talus (ankle) dan pes (foot), menunjukkan suatu kelainan pada kaki (foot) yang menyebabkan penderitanya berjalan pada ankle-nya. Sedang Equinovarus berasal dari kata equino (berbentuk seperti ekor kuda) + varus (bengkok ke arah dalam/medial). Beberapa dari deformitas kaki termasuk deformitas ankle disebut dengan talipes yang berasal dari kata talus (yang artinya ankle) dan pes (yang berarti kaki). Deformitas kaki dan ankle tergantung dari posisi kelainan ankle dan kaki. Deformitas talipes diantaranya : Talipes Varus : inversi atau membengkok ke dalam. Talipes Valgus : eversi atau membengkok ke luar. Talipes Equinus : plantar fleksi dimana jari-jari lebih rendah daripada tumit. Talipes Calcaneus : dorsofleksi dimana jari-jari lebih tinggi daripada tumit.

Kasus ini mengarah pada salah satu tujuan dari blok ini yaitu mahasiswa diharapkan mampu memahami konsep penyakit yang berkaitan dengan Neuro-Muskulo-Skeletal. Berdasarkan tujuan dari blok tersebut, maka kami dari kelompok 9 bermaksud untuk melakukan kegiatan Tugas Pengenalan Profesi (TPP) dengan judul yaitu Evaluasi kasus Congenital Talipes Equino Varus (CTEV).1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apa etiologi congenital talipes equino varus ?2. Bagaimana manifestasi klinis congenital talipes equino varus ?3. Bagaimana upaya penatalaksanaan terhadap congenital talipes equino varus ?4. Apa komplikasi yang dialami pasien setelah mengalami congenital talipes equino varus ?5. Bagaimana prognosis congenital talipes equino varus ?1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan UmumMelaksanakan Tugas Pengenalan Profesi Blok IX Neuro-Muskulo-Skeletal dan mengevaluasi kasus congenital talipes equino varus.1.3.2 Tujuan Khusus1. Untuk mengetahui etiologi congenital talipes equino varus 2. Untuk mengetahui manifestasi klinis congenital talipes equino varus 3. Untuk mengetahui upaya penatalaksanaan terhadap congenital talipes equino varus 4. Untuk mengetahui komplikasi yang dialami pasien setelah mengalami congenital talipes equino varus 5. Untuk mengetahui prognosis congenital talipes equino varus 1.4 Manfaat

Adapun manfaat yang didapatkan dari pelaksanaan Tugas Pengenalan Profesi kali ini adalah:

1. Mahasiswa mampu mengetahui etiologi congenital talipes equino varus 2. Mahasiswa mampu mengetahui manifestasi klinis congenital talipes equino varus 3. Mahasiswa mampu mengetahui upaya penatalaksanaan terhadap congenital talipes equino varus 4. Mahasiswa mampu mengetahui komplikasi yang dialami pasien setelah mengalami congenital talipes equino varus 5. Mahasiswa mampu mengetahui prognosis congenital talipes equino varus6. Mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung dari orang yang pernah menderita congenital talipes equino varus.BAB II

TINJAUAN PUSTAKA2.1 CTEVCTEV adalah salah satu anomali orthopaedic kongenital yang paling sering terjadi seperti dideskripsikan oleh Hippocrates pada tahun 400 SM, dengan gambaran klinis tumit yang bergeser kebagian dalam dan kebawah,forefoot juga berputar kedalam. Frekuensi clubfoot dari populasi umum adalah 1:700 sampai 1:1000 kelahiran hidup dimana anak laki-laki dua kali lebih sering daripada perempuan. Berdasarkan data, 35% terjadi pada kembar monozigot dan hanya 3% pada kembar dizigot. Ini menunjukkan adanya peranan faktor genetika. Insidensi pada laki-laki 65% kasus, sedangkan pada perempuan 30-40% kasus. (Shepherd, 1974)

Tanpa terapi, pasien denganclubfootakan berjalan dengan bagian luar kakinya, yang mungkin menimbulkan nyeri dan atau disabilitas. Meskipun begitu, hal ini masih menjadi tantangan bagi keterampilan para ahli bedah orthopaedic anak akibat adanya kecenderungan kelainan ini menjadi relaps, tanpa memperdulikan apakah kelainan tersebut diterapi secara operatif maupun konservatif. Salah satu alasan terjadinya relaps antara lain adalah kegagalan ahli bedah dalam mengenali kelainan patoanatomi yang mendasarinya.clubfootseringkali secara otomatis diangggap sebagai deformitas equinovarus, namun ternyata terdapat pemutasi dan kombinasi lainnya, sepertiCalcaneovalgus, Equinovalgusdan Calcaneovarusyang mungkin saja terjadi. (Shepherd, 1974)2.2 KlasifikasiPada dasarnya CTEV diklasifikasikan dalam 2 kelompok:

a. Tipe ekstrinsik/fleksibel

Tipe yang kadang-kadang disebut juga tipe konvensional ini merupakan tipe yang mudah ditangani dan memberi respon terhadap terapi konservatif. Kaki dalam posisi equinoverus akan tetapi fleksibel dan mudah di koreksi dengan tekanan manuil. Tipe ini merupakan tipe postural yang dihubungkan dengan postur intrauterin. Kelaian pada tulang tidak menyeluruh, tidak terdapat pemendekan jaringan lunak yang berat. Tampak tumit yang normal dan terdapat lipatan kulit pada sisi luar pergelangan kaki.b. Tipe intrinsik/rigid

Terjadi pada insiden kurang lebih 40% deformitas. Merupakan kasus resisten, kurang memberi respon terhadap terapi konservatif dan kambuh lagi dengan cepat. Jenis ini ditandai dengan betis yang kurus, tumit kecil dan tinggi, kaki lebih kaku dan deformitas yang hanya dapat dikoreksi sebagian atau sedikit dengan deformitas yang hanya dapat dikoreksi sebagian atau sedikit dengan tekanan manual dan tulang abnormal tampak waktu dilahirkan. Tampak lipatan kulit di sisi medial kaki.2.3 Etiologi

Terdapat beberapa teori yang telah diajukan sebagai penyebab deformitas ini, termasuk faktor genetic, defek sel germinativum primer, anomali vascular, faktor jaringan lunak, faktor intrauterine dan faktor miogenik. Telah diketahui bahwa kebanyakan anak dengan CTEV memiliki atrofi otot betis, yang tidak hilang setelah terapi, karenanya mungkin terdapat hubungan antara patologi otot dan deformitas ini. Beberapa teori yang dikemukakan mengenai penyebab clubfoot. Mechanical factor in utero Ini adalah teori tertua dan pertama diusulkan oleh Hippocrates. Dia percaya bahwa kaki diposisikan dalam posisi equinovarus karena kompresi keadaan eksternal rahim . Namun, Parker 1824 dan Browne pada tahun 1939 percaya bahwa penurunan cairan ketuban, seperti dalam oligohidramnion, mencegah gerakan janin dan membuat janin rentan terhadap tekanan ekstrinsik. (Ponseti, 2000)

a. Neuromuscular defect

Beberapa peneliti masih mempertahankan pendapat bahwa kaki equinovarus selalu merupakan hasil dari defek dari neuromuskuler. Di sisi lain, Telah banyak ditemukan bukti bukti bahwa tidak ada kelainan pada bagian histology dan electromyographic pada pasien dengan kelainan ini.(Ponseti, 2000)

b. Primary Germ Plasma Defect

Irani dan Sherman telah melakukan operasi terhadap 11 orang pasien dengan kelainan kaki CTEV dan 14 kaki normal. Teori embrionik ini membahas antara lain defek primer yang terjadi pada sel germinativum yang dibuahi (dikutip dari Irani dan Sherman) yang mengimplikasikan defek terjadi antara masa konsepsi dan minggu ke-12 kehamilan. Dimana pada pasien dengan kelaian club foot mereka menemukan kalau bagian leher dari talus selalu lebih pendek begitu pula juga dengan bagian anterior yang berputar kearah medial dan plantar. Dimana Berdasarkan penelitian ini mereka berhipotesis kelainan CTEV ini bisa disebabkan karena kelaianan pada bagian primary germ plasma defek. (Bor, 2006)

c. Arrested fetal development1) Intrauterine Enviroment

Pada tahun 1863, Heuter dan Von Volkman pertama mengusulkan bahwa fetal development early dalam kehidupan embrio adalah penyebab clubfoot bawaan. Teori ini kemudian dekembangkan oleh Bohm pada tahun 1929. Namun, para penentang teori ini adalah Mau dan Bessel-Hagen. (Noonan, 2003)

2) Enviromental influences

Pengaruh berbahaya dari agen teratogenik terbukti berbahaya bagi perkembangan janin baik dimana hal ini biasa disebabkan karena pengaruh rubella dan thalidomide pada kehamilan. Banyak penulis percaya bahwa ada berbagai faktor lingkungan bertanggung jawab atas penampilan club foot , seperti salah satu contohnya adalah gangguan dari proses temporary growth arrest. (Docker, 2007)

d. Herediter

Clubfoot cenderung merupakan penya