Kinetika Kimia Proses Industri Kimia 2

of 28/28
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terjadinnya reaksi kimia disebabkan karena adannya tumbukan atau tabrakan antar molekul – molekul pereaksi dengan arah yang tepat dan memiliki energy yang cukup untuk mengatasi energy aktivasi molekul pereaksi. Molekul pereaksi yang menerima tumbukan akan berubah menjadi molekul teraktivasi (Komplek transisi) dan segera berubah menjadi produk (hasil reaksi). Senyawa pada keadaan kompleks teraktivasi ini bersifat tidak stabil. Untuk mencapai keadaan kompleks teraktifasi,diperlukan energy yang disebut energy aktivasi. Energy aktivasi adalah energi potensial yang harus dilampaui sebelum terjadi reaksi kimia. Kompleks teraktivasi merupakan tahap persimpangan ketika kenaikan mulus energi potensial pada saat reaksi (reaktan) saling mendekati menjadi penurunan mulus ketika molekul hasil reaksi (produk) memilsah. Ini meunjukkan bahwa tidak semua pasangan yang bereaksi menghasilkan reaksi. Hanya pasangan yang memiliki energy kinetic cukup dapat melonggarkan ikatannya dan menata ulang atom- atomnya sewaktu mencapai keadaan transisi yang memisahkan 1
  • date post

    24-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    68
  • download

    3

Embed Size (px)

description

sintesa proses amoniak,

Transcript of Kinetika Kimia Proses Industri Kimia 2

BAB IPENDAHULUAN

1.1Latar BelakangTerjadinnya reaksi kimia disebabkan karena adannya tumbukan atau tabrakan antar molekul molekul pereaksi dengan arah yang tepat dan memiliki energy yang cukup untuk mengatasi energy aktivasi molekul pereaksi. Molekul pereaksi yang menerima tumbukan akan berubah menjadi molekul teraktivasi (Komplek transisi) dan segera berubah menjadi produk (hasil reaksi). Senyawa pada keadaan kompleks teraktivasi ini bersifat tidak stabil. Untuk mencapai keadaan kompleks teraktifasi,diperlukan energy yang disebut energy aktivasi. Energy aktivasi adalah energi potensial yang harus dilampaui sebelum terjadi reaksi kimia.Kompleks teraktivasi merupakan tahap persimpangan ketika kenaikan mulus energi potensial pada saat reaksi (reaktan) saling mendekati menjadi penurunan mulus ketika molekul hasil reaksi (produk) memilsah. Ini meunjukkan bahwa tidak semua pasangan yang bereaksi menghasilkan reaksi. Hanya pasangan yang memiliki energy kinetic cukup dapat melonggarkan ikatannya dan menata ulang atom-atomnya sewaktu mencapai keadaan transisi yang memisahkan preaksi dari hasil reaksi. Jika halangan ini terlalu tinggi,hampir semua pasangan molekul reaksi yang bertumbukan berpisah satu sama lain tanpa reaksi.

1.2 TujuanTujuan dari makalah yang dibuat adalah :1. Mengetahui defenisi dari Kinetika Kimia2. Mengetahui contoh reaksi kimia3. Mengetahui proses reaksi kimia

1.3 Rumusan Masalah1. Apa yang dimaksud dengan Kinetika Kimia2. Contoh reaksi kimia3. Proses reaksi kimia

BAB IILANDASAN TEORIKinetika kimia adalah studi tentang kecepatan (speed) atau laju (rate) reaksi kimia. Salah satu tujuan utama mempelajari kinetika kimia adalah untuk mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi kimia.2.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi kimiaFaktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan reaksi kimia dibagi atas empat kelompok :a) Sifat kimia molekul pereaksi dan hasil reaksi (produk). Bila semua faktor lain sama maka susunan kimia molekul atau ion akan mempengaruhi kecepatan reaksi kimia.b) Konsentrasi zat-zat yang bereaksi. Bila dua buah molekul beraksi satu dengan yang lain, maka kedua molekul tersebut harus bertemu atau bertumbukan. Kebolehjadian antar molekul untuk bertumbukan di dalam sistem homogen (satu jenis fasa, biasanya gas atau larutan) makin besar jika konsentrasi makin besar. Di dalam sistem reaksi heterogen, dimana pereaksi berada pada fasa terpisah, kecepatan reaksi tergantung pada luas kontak antar fasa. Karena luas permukaan makin besar bila ukuran partikel makin kecil, maka penurunan ukuran partikel akan menaikkan kecepatan reaksi.c) Pengaruh temperatur. Hampir semua jenis reaksi kimia berlangsung lebih cepat bila temperaturnya dinaikkan.d) Pengaruh zat lain yang disebut katalis. Kecepatan beberapa reaksi kimia, termasuk hampir semua reaksi biokimia, dipengaruhi oleh zat yang disebut katalis. Secara keseluruhan selama reaksi, katalis tidak mengalami perubahan atau pengurangan.Bagi ahli kimia salah satu manfaat paling penting yang dapat diperoleh dalam mempelajari kecepatan reaksi kimia adalah pengetahuan tentang bagaimana proses lengkap perubahan kimia itu dapat terjadi. Ternyata, umumnya reaksi kimia tidak berlangsung hanya satu tahap tetapi merupakan kumpulan dari serangkaian tahap-tahap reaksi sederhana. Rangkaian reaksi ini disebut mekanisme reaksi. Jadi, mempelajari kecepatan reaksi dapat memberi petunjuk tentang mekanisme reaksi yang terjadi. Dengan demikian kita memperoleh wawasan alasan-alasan sangat mendasar (fundamental) kenapa zat-zat kimia bereaksi.2.2 Kecepatan Reaksi dan Pengukuran,Kecepetan reaksi kimia ditentukan dengan mengukur kecepatan perubahan konsentrasi pereaksi atau produk. Hal ini paling mudah dilakukan dengan menentukan konsentrasi setiap interval waktu tertentu. Contoh reaksi paling sederhana adalah reaksi yang melibatkan hanya satu jenis pereaksi dan membentuk produk tunggal.Pada reaksi kompleks, tidak sesederhana AB, maka kecepatan pembentukan produk dan pengurangan pereaksi tidak selalu sama tetapi tergantung pada koefisian reaksi. Contohnya reaksiN2 + 3H2 2NH3maka koefisien reaksi menjelaskan bahwa untuk setiap molekul N2 bereaksi dengan 3 molekul H2. Ini berarti bahwa hidrogen berkurang tiga kali lebih cepat dibandingkan dengan nitrogen. Koefisien NH3 adalah 2, maka kecepatan pembentukan NH3 adalah 2 kali lebih besar dari kecepatan pengurangan N2.

2.3 Penentuan kecepatan reaksiEstimasi kecepatan reaksi yang akurat pada setiap saat dapat diperoleh dari kemiringan grafik konsentrasi terhadap waktu.Untuk reaksi kompleks seperti reaksi pembentukan NH2 dari N2 dan H2 maka dapat ditulis, Pada penentuan kecepatan reaksi kimia, maka monitoring konsentrasi dan teknik pengukuran yang digunakan tergantung pada sifat pereaksi atau hasil reaksi. Contohnya:a) Reaksi gas: penentuan perubahan konsentrasi dilakukan dengan pengukuran perubahan tekanan.b) Pereaksi dan produk zat berwarna: penentuan perubahan konsentrasi dilakukan dengan pengukuran intensitas warna.Contoh reaksi perubahan warna:Br2(aq) + HCOOH(aq) 2Br- (aq) + 2H+ (aq) + CO2(g)Molekul brom adalah berwarna coklat. Setelah reaksi berlangsung, warna secara perlahan hilang. Fenomena ini dapat diamati dengan mata atau dimonitor secara kuantitatif dengan spektrofotometer sinar tampak. Kecepatan reaksi melalui perubahan warna larutan Cu2+ dan pembentukan gas Cl2 masing-masing dapat dinyatakan dengan:1. Hukum Laju Tidak semua reaksi barjalan dengan kecepatan yang sama. Reaksi ionik biasanya terjadi seketika. Reaksi lain seperti pencernaan makanan terjadi sangat lambat. Perbedaan kecepatan ini terutama disebabkan perbedaan sifat kimia zat pereaksi. Untuk setiap reaksi kimia, selain sifat kimia pereaksi, salah satu faktor penting pengendali reaksi kimia adalah konsentrasi pereaksi. Umumnya, bila reaksi telah berlangsung lama maka kecepatannya berangsur-angsur turun. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa kecepatan reaksi tergantung pada konsentrasi zat-zat yang bereaksi. Kecepatan reaksi kimia hampir selalu berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi dengan pangkat tertentu. Untuk reaksi,A Bdapat ditulis: dengan pangkat n disebut orde reaksi. Bila n=l disebut reaksi orde l. Contoh reaksi orde 1 adalah dekomposisi siklopropana. Bila n=0 disebut reaksi orde nol. Pada reaksi orde nol,Kecepatan reaksi adalah konstan dan tidak tergantung pada konsentrasi pereaksi. Salah satu contoh reaksi orde nol adalah dekomposisi amonia pada permukaan logam Pt atau tungsten. Kecepatan dekomposisi amonia selalu sama berapapun konsentrasi NH3. Contoh lain adalah reaksi eliminasi etil alkohol (alkohol) oleh tubuh. Berapapun konsentrasi alkohol di dalam aliran darah, kecepatan pengeluarannya dari dalam tubuh adalah konstan. Jadi kecepatannya tidak tergantung pada konsentrasi alkohol.Satu fakta penting lain yang perlu diketahui adalah bahwa koefisien reaksi tidak ada hubungannya dengan orde reaksi. Harga n hanya dapat ditentukan dari percobaan. Hal ini berbeda dengan kesetimbangan kimia, dimana koefisien reaksi ada hubungannya dengan pangkat konsentrasi pada ungkapan konstanta kesetimbangan.Untuk reaksi lebih kompleks,A + B produkmaka biasanya kecepatan tergantung pada konsentrasi A dan B. Bila konsentrasi A dan B diperbesar maka kecepatan reaksi meningkat, dan sebanding dengan perkalian konsentrasi A dan B masing-masing dipangkat dengan bilangan tertentu, misalnya n dan m. Jadi, Pada reaksi ini, n dan m adalah orde reaksi terhadap A dan B. Jumlah n dan m disebut orde reaksi total. Harga n dan m boleh semua bilangan pecahan, negatip dan nol. Reaksi,NO2(g) + CO(g) CO2(g) + NO(g)pada temperatur dibawah 225 C maka,Jadi kecepatan tidak tergantung pada konsentrasi CO tetapi hanya pada NO2 pangkat dua. Jadi reaksi adalah orde 2 terhadap NO2 dan orde nol terhadap CO. Perhatikan bahwa karena koefisien reaksi dengan pangkat NO2 tidak ada hubungan karena koefisien reaksi adalah 1 sedangkan orde reaksi adalah 2. Hubungan proporsionalitas (kesebandingan) dapat diubah menjadi kesamaan dengan menggunakan konstanta proporsional, misalnya k. Pada kinetika kimia, k disebut konstanta kecepatan reaksi. Contohnya, hukum laju reaksi ICl dan H2,2ICl(g) + H2(g) I2(g) + 2HCl(g)Pada 230C persamaan hukum lajunya adalah harga k=0,163 Lmol-1det-l, dan ini berlaku hanya pada suhu 230C. Bila temperaturnya berbeda maka harga k juga berbeda.2. Penentuan hukum lajuSalah satu cara adalah dengan melakukan serangkaian percobaan dengan konsentrasi awal pereaksi berubah secara teratur. Contohnya reaksi, diperbesar 2 kali maka kecepatan juga berubah 2 kali. Jika reaksi adalah orde 2, maka bila konsentrasi diperbesar dua kali diperoleh bahwa kecepatan reaksi berubah 4 kali.

3. Konsentrasi dan waktu: waktu paruhHukum laju menyatakan hubungan antara kecepatan reaksi dengan konsentrasi pereaksi. Selain hubungan ini, juga dapat diperoleh hubungan lain yaitu antara konsentrasi dengan waktu. Contohnya, untuk reaksi orde 1, A produk, Dengan: [A]o adalah konsentrasi mula-mula (pada t=0) [A]t adalah konsentrasi pada waktu t setelah reaksi berlangsung. Bila reaksi orde 2, Hal yang sama dapat dilakukan untuk reaksi dengan orde lebih tinggi dan reaksi kompleks. Satu besaran penting lain, khususnya untuk reaksi orde 1, adalah waktu-paruh, tl/2, yang didefinisikan dengan waktu yang diperlukan agar pereaksi berkurang setengah dari konsentrasi sebelumnya. Jadi pada t=tl/2,ternyata untuk reaksi orde 1, tl/2 hanya tergantung pada k. Jadi harga t1/2 adalah konstan selama reaksi berlangsung. Untuk reaksi orde 2, waktu paruh reaksi orde 2 tergantung pada konsentrasi awal. Karena setiap satu waktu paruh konsentrasi [A]t=1/2[A]o, maka pada waktu paruh pada t=t2 adalah dua kali lebih besar dari waktu paruh pada t=t1, yaitu: hubungan waktu paruh dengan k dan [A]o untuk reaksi dengan orde lebih tinggi dapat juga diturunkan.

BAB IIIPEMBAHASAN

Kinetika Kimia merupakan pengkajian laju dan mekanisme reaksi kimia. Besi lebih cepat berkarat dalam udara lembab dari pada dalam udara kering, makanan lebih cepat membusuk bila tidak didinginkan, kulit (bule) lebih cepat menjadi gelap dalam musim panas dari pada dalam musim dingin. Ini merupakan 3 contoh yang lajim dari perubahan kimia yang kompleks dari laju yang beraneka menurut kondisi reaksi. Yang lebih mendasar dari pada sekedar laju suatu reaksi adalah bagaimana perubahan kimia itu berlangsung.

N2 + 3H2 2NH3Amoniak diproduksi dengan mereaksikan gas Hydrogen (H2) dan Nitrogen (N2) dengan rasio H2/N2= 3 : 1 . Disamping dua komponen tersebut campuran juga berisi inlet dan gas-gas yang dibatasi kandungannya, seperti Argon (Ar) dan Methan (CH4).A. Tahapan Proses Sintesis AmmoniaSecara garis proses sintesis ammonia dibagi menjadi 4 Unit dengan urutan sebagai berikut :1.Feed Treating danDesulfurisasi2.Reforming Section3.Gas Purification4.Synthesa Loop dan Amoniak Refrigerant

Pembahasan dari proses di atas :1) Feed Treating dan DesulfurisasiNatural Gas sebagai bahan baku utama dalam pembuatan Amoniak haruslah di treatment terlebih dahulu untuk menghilangkan kotoran-kotoran dan senyawa kimiawi yang dapat mengganggu jalannya proses melalui beberapa tahapan berikut :1.1 Desulfurization Sponge IronSejumlah H2S dalam feed gas diserap di Desulfurization Sponge Iron dengan sponge iron sebagai media penyerap.Reaksi :Fe2O3.6H2O+H2SFe2S3 6 H2O+3H2O

1.2 CO2Removal Pretreatment SectionFeed Gas dari Sponge Iron dialirkan ke unit CO2Removal Pretreatment Section.Untuk memisahkan CO2dengan menggunakan larutan Benfield sebagai penyerap. Unit ini terdiri atas CO2absorber tower, stripper tower dan benfield system.

1.3 Co-Mo /ZnO Desulfurizer1) Seksi ini bertujuan untuk memisahkan sulfur organik yang terkandung dalam feed gas dengan cara mengubahnya terlebih dahulu mejadi Hydrogen Sulfida dan mereaksikannya dengan ZnO.Reaksi :RSH+H2H2S+RHH2S+ZnOZnS+H2O

2) Reforming Section2.1 Primary ReformerSeksi ini bertujuan untuk mengubah feed gas menjadi gas sintesa secara ekonomis melalui dapur reformer dengan tube-tube berisi katalis nikel sebagaimedia kontak feed gas dan steampada temperature (824oC)dan tekanan (45 46 kg/cm2) tertentu . Adapun kondisi operasi acuan adalahperbandingansteamtocarbon ratio 3,2 : 1.Reaksi :CH4+H2OCO+3 H2- QCO+H2OCO2+H2+ QSecara overall reaksi yang terjadi adalah reaksi endothermic sehingga membutuhkan burner dan gas alam sebagai fuel.

2.2Secondary ReformerGas yang keluar dari primary reformer masih mengandung kadar CH4yang cukup tinggi, yaitu 12 13 %, sehingga akan diubah menjadi H2pada unit ini dengan perantaraan katalis nikel pada temperature 1002,5oC.Reaksi :CH4+H2O3 H2+COKandungan CH4yang keluar dari Secondary reformer ini diharapkan sebesar 0.34 % mol dry basis.Karena diperlukan N2untuk reaksi pembentukan Amoniak maka melalui media compressordimasukkan udara pada unit ini.

Reaksi ;2H2+O22H2OCO+O22CO2

3) Gas Purification3.1.High Temperature Shift Converter (HTS)Setelah mengalami reaksi pembentukan H2di Primary dan Secondary Reformer maka gas proses didinginkan hingga temperature 371oCuntuk merubah CO menjadi CO2dengan reaksi sebagai berikut :CO+H2OCO2+H2+heatKadar CO yang keluar dari unit ini adalah 3,5 % mol dry basis dengan temperature gas outlet 432oC 437oC.

3.2 LowTemperature Shift Converter (LTS)Karena tidak semua CO dapat dikonversikan menjadi CO2di HTS, maka reaksi tersebut disempurnakan di LTS setelah sebelumnya gas proses didinginkan hingga temperature 210oC. Diharapkan kadar CO dalam gas proses adalah sebesar 0,3 % mol dry basis.

3.3CO2RemovalKarena CO2dapat mengakibatkan degradasi di Amoniak Converter dan merupakan racun maka senyawa ini harus dipisahkan dari gas synthesa melalui unit CO2removal yang terdiri atas unit absorber, striper serta benfield system sebagai media penyerap. System penyerapan di dalam CO2absorber ini berlangsung secara counter current, yaitu gas synthesa dari bagian bawah absorber dan larutan benfield dari bagian atasnya. Gas synthesa yang telah dipisahkan CO2-nya akan keluar dari puncak absorber, sedangkan larutan benfield yang kaya CO2akan diregenerasi di unit CO2stripper dan dikembalikan ke CO2absorber. Sedangkan CO2yang dipisahkan digunakan sebagai bahan baku di pabrik urea.Adapun reaksi penyerapan yang terjadi :K2CO3+H2O+ CO22KHCO3

3.4MethanasiGas synthesa yang keluar dari puncak absorber masih mengandung CO2dan CO relative kecil, yakni sekitar 0,3 % mol dry basis yang selanjutnya akan diubah menjadi methane di methanator pada temperature sekitar 316oC.Reaksi :CO+3H2CH4+H2O+heatCO2+4H2CH4+2H2O+heat

4) Synthesa Loop dan Amoniak Refrigerant4.1. Synthesis LoopGas synthesa yang akan masuk ke daerah ini harus memenuhi persyaratan perbandingan H2/N2= 2,5 3 : 1. gas synthesa pertama-tama akan dinaikkan tekanannya menjadi sekitar 177.5 kg/cm2oleh syn gas compressor dan dipisahkan kandungan airnya melalui sejumlah K.O. Drum dan diumpankan ke Amoniak Converter dengan katalis promoted iron.Reaksi :3H2+N22NH3+heatKandungan Amoniak yang keluar dari Amoniak Converter adalah sebesar 12,05-17,2 % mol.4.2Amoniak RefrigerantAmoniak cair yang dipisahkan dari gas synthesamasih mengandung sejumlah tertentu gas-gas terlarut. Gas-gas inert ini akan dipisahkan di seksi Amoniak Refrigerant yang berfungsi untuk:a. Mem-flash amoniak cair berulang-ulang dengan cara menurunkan tekanan di setiap tingkat flash drum untuk melepaskan gas-gas terlarut.b. Sebagai bagian yang integral dari refrigeration, chiller mengambil panas dari gas synthesa untuk mendapatkan pemisahan produksi amoniak dari Loop Synthesa dengan memanfaatkan tekanan dan temperature yang berbeda di setiap tingkat refrigeration.5) Produk AmoniakProduk Amoniak yang dihasilkan terdiri atas dua, yakni :a. Warm Ammonia Product (30oC) yang digunakan sebagai bahan baku untuk pabrik urea.b. Cold Ammonia Product (-33oC) yang disimpan dalam Ammonia Storage Tank.A. Uraian Singkat ProsesPemilihan alur sintesis amonia didasarkan pada komponen umpan terutama komponen pengotor yang ada, konversi produk yang dihasilkan dengan bantuan katalis, dan karakteristik katalis yang digunakan. Komponen umpan berpengaruh pada jumlah unit pemurnian umpan yang diperlukan, berkaitan dengan karakteristik katalis yang digunakan. Komponen pengotor ini tidak diharapkan dalam sintesis amonia karena menjadi racun katalis yang akan menurunkan aktivitas katalis. Sedangkan konversi reaksi menentukan perlu tidaknya aliran recycle untuk meningkatkan laju pembentukan produk.Umpan gas sintesis dikompresi sebelum memasuki proses selanjutnya. Kenaikan tekanan tersebut bertujuan untuk menyesuaikan umpan dengan kondisi operasi sintesis amonia. Pengotor yang terdapat dalam gas sintesis adalah CO, CO2, dan H2O. Sebelum memasuki ammonia converter, pengotor CO2 dihilangkan pada CO2 purifier pada suhu 47oC 80oC dengan tekanan 3 - 4 atm. Kemudian H2O dan CO dikeringkan dengan dryer. Blok diagram sintesis amonia, dapat dilihat pada gambar berikut :

NitrogenMixerAir NH3 ConverterSyn gasCH4, H2N2 CO, CO2Feed TreatingReformerPurificationCompressorSteam DrumUap AirRefrigeratorAirSeparator

Gambar: Diagram Alir 1. Pembuatan Amonia dari gas sintesisUmpan gas sintesis yang telah murni dari pengotor dialirkan ke dalam synthesis gas compressor. Kadar nitrogen yang rendah dari umpan akan ditambahkan melalui nitrogen mixing, nitrogen didapat dari pemisahan udara. Dalam converter akan terjadi reaksi sintesis amonia pada suhu 250oC 300oC dengan tekanan 3-5 MPa. Konversi yang diharapkan dengan penggunaan katalis yang dipilih adalah 20% per pass pada titik kesetimbangan. Keluaran converter amonia yang berupa campuran amonia dengan gas sintesis yang belum terkonversi diumpankan ke dalam kondensor. Di dalam converter amonia terjadi reaksi pembentukan amonia dengan reaksi:

katalis3H2 + N2 2NH3Dalam condensor, produk amonia akan dicairkan sehingga terpisah dari gas sintesis yang belum terkonversi. Gas sintesis yang belum terkonversi diumpankan dalam gas separator untuk memisahkan komponen gas yang ada. CH4 dan Ar di alirkan ke fuel gas. Sedangkan nitrogen dan hydrogen direcycle menuju synthesis gas compressor untuk diumpankan kembali ke ammonia converter. Laju alir produk NH3 yang dihasilkan adalah 6 ton/jam. 2. Pemakaian KatalisKatalis yang digunakan dalam reaksi pembuatan amonia ini adalah katalis (Ruthenium, ZnO,CoMo, Nikel) dan absorbent (MDEA, Benfield).Katalis yang digunakan berbasis Ruthenium (Ru) dengan support Magnesium Oksida (MgO) yang diteliti oleh Muhler, dkk (2004). Katalis berbasis Ruthenium (Ru) dipilih karena mampu mengkonversi hingga produk 20 % per pass pada suhu 250-300oC dan tekanan 3-5 MPa (Larrichev, 2007). Sedangkan dengan katalis Fe, kondisi operasi pada suhu 380-520oC dan tekanan 120-220 bar (Forni dan Pernicone, 2006). Sehingga energi terpakai jauh lebih hemat. MgO dipilih sebagai support katalis karena lebih stabil dibandingkan support karbon konvensional yang mudah terhidrogenasi (Muhler, 2004). Aktivitas Katalis Ru 5-20 kali lebih besar dari katalis besi (Appl, 1999, hal 62 dan Muhler, 2004). Katalis dibuat dengan mengkontakkan Ru melalui impregnasi support dengan Ru3(CO)12 dalam tetrahydtofurane, atau melalui chemical vapour deposition (CVD) Ru3(CO)12. Promotor yang baik (alkali logam, alkali logam bumi, lantanida, dan kombinasinya) kemudian ditambahkan. Katalis diaktivasi dengan perlakuan hidrogen. Recovery katalis dilakukan dengan mencuci spent katalis untuk mendapatkan kembali promoter. Katalis sisa cucian dipanaskan 70oC dalam pelarut asam nitrit 1 M berlebih. Support MgO berubah menjadi larutan magnesium nitrat, dipisahkan dari sisa logam Ru dengan sentrifugasi atau penyaringan. 3. Kinetika Reaksi

Konstanta kecepatan reaksi pembuatan amonia dapat dinyatakan dalam persamaan :

k: konstanta kecepatan reaksiA: pre exponential factor (1/jam)Ea: energi aktivasi (kkal/kmol)R: tetapan gas (kkal/kmol.K)T: suhu operasi (K)Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa semakin tinggi suhu, maka kecepatan reaksi pembentukan amonia akan semakin besar. Akan tetapi, reaksi pembentukan amonia merupakan reaksi yang bersifat sangat eksotermis sehingga akan melepaskan panas yang sangat besar. Panas reaksi akan dilepaskan oleh permukaan katalis dan menyebabkan suhu naik dengan cepat, sehingga efektifitas dan umur katalis akan terus berkurang. Untuk itu, maka diperlukan adanya kontrol temperatur yang baik melalui pendinginan. (Kirk Otmer, 1978).

BAB IVPENUTUP4.1 Kesimpulan4.1.1 Kinetika kimia adalah suatu ilmu yang membahas tentang laju (kecepatan) dan mekanisme reaksi.4.1.2 Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan reaksi kimia.1. Sifat kimia molekul pereaksi dan hasil reaksi (produk).2. Konsentrasi zat-zat yang bereaksi.3. Pengaruh temperature.4. Pengaruh zat lain yang disebut katalis.

DAFTAR PUSTAKADiana, 2013. Proses Pembuatan Amoniak.http://caesarvery.blogspot. com. Proses Pembuatan Amoniak.(Diakses pada tanggal 30 april 2014)Joe, 2012. Pembuatan Amoniak.http://joetrizilo.wordpress.com proses pembuatan urea proses pabrik amoniak.(Diakses pada tanggal April 2014)Keenan, Kleinfelter, Pudjaatmaka A. Handyana Ph. D (1986), Kimia Untuk Universitas Jakarta : Erlangga.MW Kellog Overseas, (1976), 1100 mtpd Ammonia Plant Operating Instruction Manual

20