KINETIKA REAKSI KIMIA

of 34/34
LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA I PERCOBAAN IV KINETIKA REAKSI KIMIA OLEH NAMA : DIAH ASTARI S. NIM : O1A1 14 135 KELOMPOK :V KELAS :D ASISTEN : SADARUDDIN, S. Farm. JURUSAN FARMASI FAKULTAS FARMASI
  • date post

    10-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    74
  • download

    1

Embed Size (px)

description

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA I Percobaan IV

Transcript of KINETIKA REAKSI KIMIA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA IPERCOBAAN IVKINETIKA REAKSI KIMIA

OLEHNAMA:DIAH ASTARI S.NIM :O1A1 14 135KELOMPOK:VKELAS:DASISTEN:SADARUDDIN, S. Farm.

JURUSAN FARMASIFAKULTAS FARMASIUNIVERSITAS HALUOLEOKENDARI2015KINETIKA REAKSI KIMIAA. TUJUANTujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari kinetika suatu reaksi kimia, dan menentukan waktu kadaluwarsa obat.

B. LANDASAN TEORIKinetika reaksi adalah suatu cabang ilmu kimia yang mempelajari mekanisme reaksi, yaitu bagaimana reaksi itu berlangsung dan kecepatan terjadinya reaksi. Kecepatan merupakan pengurangan setiap satuan jumlah berlangsungnya reaksi dan itu tergantung pada jenis reaksi. Kinetika suatu reaksi dapat ditentukan dengan cara mengikuti perubahan selama terjadinya reaksi. Dengan menganalisa campuran reaksi dalam selang waktu tertentu, maka konsentrasi pereaksi dan hasil reaksi dapat dihitung. Selanjutnya dari data-data yang diperoleh tersebut kinetika reaksi dapat ditentukan (Winata, H.S., dan Agung, T. R., 2010). Suatu reaksi kimia berlangsung karena atom-atom bersenyawa membentuk molekul-molekul dengan cara pembenakan elektron oktet dalam masing-masing atom. Laju berlangsungnya proses kimia dan energi-energi yang bertalian dengan proses ini secara mekanisme reaksi kimia dipelajari dalam kinetika (Edahwati, L., 2009).Reaksi kimia adalah proses berubahnya pereaksi menjadi hasil reaksi. Proses reaksi ini ada yang berlangsung sangat cepat, cepat dan ada yang berlangsung lambat maupun sangat lambat. Pembahasan tentang kecepatan atau laju reaksi disebut kinetika kimia. Salah satu penentu laju reaksi adalah sifat pereaksinya, ada yang yang reaktif dan ada yang kurang reaktif. Sedangkan menurut ordenya, ada reaksi berorde satu, dua, tiga atau pecahan. Laju reaksi adalah perubahan suatu zat menjadi zat lain. Pengurangan zat pereaksi pada setiap waktu akan menyebabkan penambahan zat hasil reaksi pada waktu yang bersamaan (Purwani, M. V., dan Suyanti, 2011).Proses laju merupakan hal dasar yang perlu diperhatikan bagi setiap orang yang berkaitan dengan bidang kefarmasian, mulai dari pengusaha obat sampai ke pasien. Suspensi merupakan satu bentuk dari kinetika orde nol, yang konsentrasinya dalam larutan bergantung pada kelarutan obat. Sewaktu obat dalam larutan terurai, lebih banyak obat yang dilepaskan dari partikel suspensinya, maka konsentrasinya tetap konstan. Konsentrasi ini tentu merupakan kelarutan obat dalam kesetimbangan suatu partikel pelarut pada temperatur tertentu. Hal yang penting adalah jumlah obat dalam larutan tetap konstan walaupun terurai setiap waktu. Orde reaksi dapat ditentukan dengan beberapa metode yaitu metode subtitusi, metode grafik, dan metode waktu paruh. Sementara pada metode waktu paruh, dalam reaksi orde nol, waktu paruh sebanding dengan konsentrasi awal a, waktu paruh orde pertama tidak bergantung pada a, waktu paruh untuk orde kedua, dimana a=b sebanding dengan 1/a dari dalam orde ketiga, dimana a = b = c, sebandingng dengan1/a2. Waktu paruh merupakan waktu yang diperlukan untuk meluruh atau hilangnya zat menjadi separuhnya (Marten dkk, 1993).Para pembuat obat harus tahu waktu paruh obat. Panas, asam-asam, alkali-alkali, oksigen cahaya dan faktor-faktor lain dapat menyebabkan rusaknya obat. Mekanisme degradasi dapat disebabkan oleh pecahnya suatu ikatan, pergantian spesies atau perpindahan atom-atom dan ion-ion jika dua molekul bertabrakan dalam tabung reaksi. Kadaluarsa obat adalah berakhirnya batas aktif dari obat yang memungkinkan obat menjadi kurang aktif atau menjadi toksik (beracun). Kadaluarsa obat juga diartikan sebagai batas waktu dimana produsen obat menyatakan bahwa suatu produk dijamin stabil dan mengandung kadar zat sesuai dengan yang tercantum dalam kemasannya pada penyimpanan sesuai dengan anjuran. Tanggal kadaluarsa menyatakan waktu dimana kandungan suatu obat telah mencapai 90% dari kadar yang tertera pada etiket jika disimpan pada tempat dan suhu yang sesuai. Berarti sekitar 10% dari kandungan obat telah mengalami penguraian (Syamsuni, 2007).

A. ALAT DAN BAHAN1. AlatAlat-alat yang digunakan dalam percobaan kali ini, yaitu : Batang pengaduk Elektromantel Gegep Gelas kimia Kuvet Lumpang dan alu Labu takar Pipet tetes Rak tabung Sendok tanduk Spektrofotometer Stopwacth Timbangan analitik Tabung reaksi

2. BahanBahan-bahan yang digunakan dalam percobaan kali ini, yaitu : Alkohol Aquades Larutan blangko FeCl3 Parasetamol (Sanmol)

D. PROSEDUR KERJA1. Pembuatan sanmol

Parasetamol

- Ditimbang 0,05 gram - Dilarutkan dalam 3,75 ml alkohol - Diencerkan dengan aquades hingga 250 mlLarutan parasetamol

2. Sampel

Larutan parasetamol Dipipet 10 ml Dimasukkan masing-masing ke dalam 10 tabung reaksi Dipanaskan pada suhu 50oC secara berturut-turut selama 5, 10, 15, 20, dan 25 menit Ditambahkan 2 ml FeCl3 Dibaca serapannya menggunakan Spektrofotomete rpada 525 nm Diulangi perlakuan diatas pada suhu 70oC

Pemanasan 50oCPemanasan 70oC Tabung I = 0,074 Tabung I = 0,009Tabung II= 0,024 Tabung II = 0,012 Tabung III= 0,016 Tabung III = 0,04 Tabung IV = 0,02Tabung IV = 0,062 Tabung V= 0,026 Tabung V = 0,114

E. HASIL PENGAMATAN1. Data PengamatanPersamaan regresi linear kurva standara. Pemanasan 500CSampelPanjang GelombangWaktu (menit)Serapan

Tabung I525 nm50,074

Tabung II525 nm100,024

Tabung III525 nm150,016

Tabung IV525 nm200,02

Tabung V525 nm250,026

b. Pemanasan 700CSampelPanjang GelombangWaktu (menit)Serapan

Tabung I525 nm50,009

Tabung II525 nm100,012

Tabung III525 nm150,04

Tabung IV525 nm200,062

Tabung V525 nm250,114

2. PerhitunganSubstitusi harga resapan sebagai Y pada persamaan Y = 0,9x + 0,005 sehingga nilai x dapat diketahui.a. Pemanasan 500CSampelWaktu (menit)SerapanX

Tabung I50,074- 0,0439

Tabung II100,024- 0,0143

Tabung III150,016- 0,0098

Tabung IV200,02- 0,0118

Tabung V250,026- 0,0133

b. Pemanasan 700CSampelWaktu (menit)SerapanX

Tabung I50,009- 0,0055

Tabung II100,012- 0,0075

Tabung III150,04- 0,0235

Tabung IV200,062- 0,0364

Tabung V250,114- 0,0671

Dihitung Co dan Co-C dengan mengingat molekul ekuivalensinya.a. Mencari nilai CoDik. Berat molekul paraetamol (C8H9O2) = 151,16 gram/molMol C8H9O2= = = 0,00033 molM C9H8O4= = = 0,00033 mol/Lb. Mencari nilai CC = Co X = konsentrasi mula-mula dikurang jumlah terurai pada waktu t1) Pemanasan 500CSampelWaktu (menit)Co (mol/L)XC

Tabung I50,00033-0,04390,04423

Tabung II100,00033-0,01430,01436

Tabung III150,00033-0,00980,01013

Tabung IV200,00033-0,01180,01213

Tabung V250,00033-0,01530,01563

2) Pemanasan 700CSampelwaktu (menit)Co (mol/L)XC

Tabung I50,00033-0,00550.00583

Tabung II100,00033-0,00750,00783

Tabung III150,00033-0,02350,2383

Tabung IV200,00033-0,03640,3673

Tabung V250,00033-0,06710,06743

c. Mencari nilai Co-C1) Pemanasan 500CSampelWaktu (menit)Co (mol/L)CCo-C

Tabung I50,000330,04423-0,0434

Tabung II100,000330,01463-0,0143

Tabung III150,000330,01013-0,0098

Tabung IV200,000330,01213-0,0118

Tabung V250,000330,01563-0,0153

2) Pemanasan 700CSampelWaktu (menit)Co (mol/L)CCo-C

Tabung I50,000330,00583-0,0055

Tabung II100,000330,00783-0,0075

Tabung III150,000330,2383-0,23797

Tabung IV200,000330,3673-0,36679

Tabung V250,000330,06743-0,0671

Substitusi hasil perhitungan pada persamaan orde I atau II, ditentukan peruraian asetosal mengikuti orde I/IIIOrde IK = 1) Pemanasan 500CSampelWaktu (menit)Co (mol/L)CK

Tabung I50,000330,044230,00885

Tabung II100,000330,014630,00146

Tabung III150,000330,010230,00068

Tabung IV200,000330,012130,00061

Tabung V250,000330,015630,0063

2) Pemanasan 700CSampelWaktu (menit)Co (mol/L)CK

Tabung I50,000330,005830,00117

Tabung II100,000330,007830,00078

Tabung III150,000330,23830,01589

Tabung IV200,000330,36730,01837

Tabung V250,000330,067430,0027

Mencari waktu paruh1) Pemanasan 500CKrata-rata= = 0,0179t 50 % = = 35,69832 menitt 90 % = = 5,86592 menit

2) Pemanasan 700 CKrata-rata = = 0,03891t 50 % = = 1,64225t 90 %= = 2,6895 menit

3. Grafik

F. PEMBAHASANPercobaan yang telah dilakukan ini memiliki tujuan untuk mempelajari suatu reaksi kimia dan menentukan waktu kadaluwarsa obat. Kadaluwarsa obat merupakan berakhirnya batas aktif dari obat yang memungkinkan obat menjadi kurang aktif atau menjadi toksik (beracun). Untuk mengetahui waktu kadaluwarsa obat dapat dilihat dari kecepatan degradasi obat atau terurainya obat.Pada percobaan percobaan ini digunakan sampel larutan sanmol (parasetamol). Pertama 5 ml larutan sampel ini dimasukkan masing-masing dalam sepuluh tabung reaksi. Kemudian larutan sampel dalam tabung reaksi tersebut dipanaskan. Proses pemanasan ini memiliki tujuan agar zat-zat yang terlarut dalam sampel dapat terurai dengan maksimal. Seperti yang telah diketahui bahwa panas (temperatur) memiliki peran penting dalam membantu terurainya suatu zat. Semakin besar suhu (temperatur) yang diberikan terhadap sampel tersebut maka proses penguraiannya pun berjalan semakin cepat. Proses pemanasan dilakukan dengan cara memanaskan air dalam gelas kimia 500 ml yang dipanaskan menggunakan hot plate. Tabung reaksi di bagi menjadi 2 bagian yang masing-masing terdapat 5 tabung, dimasukkan ke dalam gelas kimia ketika suhu air telah mencapai 50 C dan 70 C. Ketika suhu telah tercapai, panasnya harus dikontrol agar suhu tetap konstan. Setelah 5 menit pemanasan, salah satu tabung dikeluarkan dan dimasukkan kedalam air dingin. Di menit ke 10, 15, 20, dan 25, masing dikeluarkan satu tabung reaksi yang kemudian dimasukkan dalam air dingin. Perbedaan waktu dikeluarkannya tabung reaksi ke gelas kimia yang berisi es batu bertujuan agar dapat diketahui pengaruh waktu terhadap laju reaksi yang terjadi. Beberapa menit kemudian, masing-masing tabung ditetesi dengan larutan FeCl3. Pemberian larutan FeCl3 dimaksudkan agar larutan sampel dapat berwarna sehingga memudahkan dalam proses perhitungan nilai serapannya. Karena spektrofotometri hanya dapat menghitung serapan suatu larutan jika larutan itu berwarna.Tabung reaksi yang dimasukkan kae dalam air dingin merupakan proses pendinginan. Proses pendinginan ini memiliki tujuan yaitu untuk mengontrol proses penguraian zat-zat terlarut yang telah terjadi agar tidak berlangsung secara terus-menerus. Dengan dilakukannya proses pendinginan penguraian suatu zat dapat berhenti karena rendahnya suhu (temperatur) yang diberikan.Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil konstanta laju reaksi dari masing-masing tabung berturut-turut adalah semakin lama pemanasan yang dilakukan, maka konstanta laju teaksinya semakin besar. Konstanta laju reaksi merupakan perbandingan antara laju reaksi dengan konsentrasi reaktan. Nilai ini akan semakin besar jika reaksi berlangsung cepat, walaupun dengan konsentrasi reaktan dalam jumlah kecil.Nilai serapan dari masing-masing larutan yang diperoleh dari percobaan ini berturut-turut semakin naik atau semakin tinggi. Dari data ini akan diperoleh data hubungan antara konsentrasi zat dengan waktu yang digunakan. Berdasarkan literatur yang ada, semakin besar konsentrasi zat maka waktu yang digunakan untuk bereaksi semakin sedikit. Akan tetapi pada percobaan ini terjadi kesalahan sehingga pada tabung ke lima memiliki absorbansi yang melenceng dari yang lainnya sehingga mempengaruhi konsentrasinya. Hal ini dapat terjadi karena proses pemanasan dan pendinginan yang salah sehingga mempengaruhi penguraian zat dan konsentrasinya.

G. KESIMPULANBerdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa kinetika reaksi kimia merupakan ilmu tentang kecepatan atau laju reaksi suatu senyawa kimia yang salah satunya dipengaruhi oleh suhu, dimana laju reaksi akan meningkat pada suhu yang tinggi, begitupun sebaliknya laju reaksi akan lambat pada suhu rendah. Waktu kadaluarsa suatu sediaan obat dapat diketahui dengan melakukan pengujian terhadap obat salah satunya yaitu kinetika reaksi kimia.

DAFTAR PUSTAKAEdahwati, L., 2009, Kinetika Reaksipembentukan Naoh Dari Calcium Hidroxide Dan Soda Ash, Teknik Kimia Vol. 2 (1), Halaman 110-111.

Marten, 1993, Farmasi Fisik Edisi 3 Jilid 2, Universitas Indonesia, Press, Jakarta

Purwani M.V., Suyanti, 2011, Kinetika Pelarutan Itrium Hidroksida Dalam HCl, J. Iptek Nuklir Ganendra. Vol. 14 (1), Hal 28 38.

Syamsuni, 2007, Ilmu Resep, EGC, Jakarta.

Winata H. S. dan Agung T.R., 2010, Pengolahan Air Limbah Industri Tahu Dengan Menggunakan Teknologi Plasma, Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan, Vol.2 (2), Halaman 20-21.