Jurnal Awal Granulasi Basah

download Jurnal Awal Granulasi Basah

of 21

  • date post

    25-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    2.088
  • download

    31

Embed Size (px)

Transcript of Jurnal Awal Granulasi Basah

PRAKTIKUM FORMULASI TEKNOLOGI SEDIAAN NON STERIL JURNAL AWAL FORMULASI SEDIAAN GRANULASI BASAH

Oleh : KELOMPOK III

I Putu Bagus Maha Paradipa Anggy Anggraeni Wahyudhie Ni Putu Dian Priyatna Sari I Gusti Agung Suastika I Wayan Dwisada Purnamayadi I.G.A Mira Semara Wati Ni Putu Parwatininghati I Gede Dwija Bawa Temaja

(0808505001) (0808505002) (0808505007) (0808505008) (0808505009) (0808505016) (0808505017) (0808505031)

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2010

BAB I TINJAUAN FARMAKOLOGI BAHAN OBAT

Sediaan tablet dapat dibuat melalui tiga macam metode, yaitu granulasi basah, granulasi kering dan kempa langsung. Pemilihan metode pembuatan sediaan tablet ini biasanya disesuaikan dengan karakteristik zat aktif yang akan dibuat tablet, apakah zat tersebut tahan terhadap panas atau lembab, kestabilannya serta besar kecilnya dosis (Anonim, 2010). Granulasi basah merupakan suatu proses pencampuran partikel zat aktif dan eksipien menjadi pertikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam jumlah yang tepat sehingga terjadi massa lembab yang dapat digranulasi. Metode ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan terhadap lembab dan panas. Umumnya untuk zat aktif yang sulit dicetak langsung karena sifat aliran dan kompresibilitasnya tidak baik. Prinsip dari metode granulasi basah adalah membasahi massa tablet dengan larutan pengikat tertentu sampai mendapat tingkat kebasahan tertentu pula, kemudian massa basah tersebut digranulasi (Anonim, 2010). Metode ini membentuk granul dengan cara mengikat serbuk dengan suatu perekat sebagai pengganti pengompakan, dimana teknik ini membutuhkan larutan, suspensi atau bubur yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan ke campuran serbuk dan cairan dimasukkan terpisah. Cairan yang ditambahkan memiliki peranan yang cukup penting dimana jembatan cair yang terbentuk di antara partikel dan kekuatan ikatannya akan meningkat bila jumlah cairan yang ditambahkan meningkat, gaya tegangan permukaan dan tekanan kapiler paling penting pada awal pembentukan granul bila cairan sudah ditambahkan (Anonim, 2010). Pencampuran dilanjutkan sampai tercapai dispersi yang merata dan semua bahan pengikat sudah bekerja, jika sudah diperoleh massa basah atau lembab maka massa dilewatkan pada ayakan dan diberi tekanan dengan alat penggiling dengan tujuan agar terbentuk granul sehingga luas permukaan meningkat dan proses pengeringan menjadi lebih cepat. Setelah pengeringan, granul diayak kembali dimana ukuran ayakan tergantung pada alat penghancur yang digunakan dan ukuran tablet yang akan dibuat (Anonim, 2010). Keuntungan metode granulasi basah antara lain : a. Memperoleh aliran yang baik. b. Meningkatkan kompresibilitas. c. Mengontrol pelepasan.

d. Mencegah pemisahan komponen campuran selama proses. e. Distribusi keseragaman kandungan. f. Meningkatkan kecepatan disolusi.

Kekurangan metode granulasi basah antara lain : a. Banyak tahap dalam proses produksi yang harus divalidasi . b. Biaya cukup tinggi. c. Zat aktif yang sensitif terhadap lembab dan panas tidak dapat dikerjakan dengan cara ini. d. Untuk zat termolabil dilakukan dengan pelarut non air. (Anonim, 2010) 1.1 Indikasi Paracetamol merupakan derivat dari asetanilida yang merupakan metabolit dari fenasetin yang dahulu banyak digunakan sebagai analgetikum, tapi pada tahun 1978 ditarik dari peredaran karena efek sampingnya berupa nefrotoksisitas dan karsinogen. Khasiat dari paracetamol ini adalah sebagai analgesik dan antipiretik, tetapi tidak untuk antiradang. Dewasa ini paracetamol dianggap sebagai zat anti nyeri yang paling aman juga untuk swamedikasi (pengobatan sendiri) (Tjay dan Rahardja., 2008). Parasetamol merupakan derivat para aminofenol yang memiliki aktivitas analgesik dan antipiretik, serta anti-inflamasi lemah. Parasetamol dapat diberikan per oral dan per rektal untuk mengatasi keluhan nyeri ringan hingga sedang, serta demam (Reynolds, 1989).

1.2 Farmakokinetik Parasetamol siap diabsorpsi dari saluran gastrointestinal dengan konsentrasi puncak plasma mencapai sekitar 10-60 menit dengan dosis per oral. Parasetamol didistribusikan ke hampir semua jaringan tubuh. Melewati plasenta dan mengalir melalui air susu. Ikatan protein plasma dapat diabaikan pada konsentrasi terapeutik normal, namun dapat meningkat dengan peningkatan konsentrasi. Waktu paruh eliminasi dari parasetamol bervariasi antara 1 hingga 3 jam (Sweetman, 2002). Parasetamol dimetabolisme dalam hati dan diekskresi melalui urin sebagai glukoronide dan sulfat konjugasi. Kurang dari 5% diekskresi sebagai parasetamol. Eliminasi terjadi kira-kira 1-4 jam (Reynolds, 1989).

Suatu metabolit terhidroksilasi (N-acetyl-p-benzoquinoneimine), selalu diproduksi dengan jumlah yang sedikit oleh isoenzim sitokrom P450 (terutama CYP2E1 dan CYP3A4) didalam hati dan ginjal. Metabolit ini selalu terdetoksifikasi dengan konjugasi dengan glutasion, tetapi dapat terjadi akumulasi diikuti dengan overdosis parasetamol dan menyebabkan kerusakan jaringan (Sweetman, 2002).

1.3 Mekanisme Parasetamol merupakan analgetik-antiperetik yang bekerja seperti aspirin yaitu menghambat sintesa prostaglandin tetapi tidak mempunyai efek anti inflamasi. Obat ini memblok impuls nyeri; memproduksi antipiresis dari hambatan pusat pengaturan panas hipotalamus (Lacy, 2004). Parasetamol memiliki daya analgetik ringan karena kerjanya menghambat sintesis prostaglandin pada sistem saraf perifer dan memblok impuls nyeri. Sedangkan daya antipiretik diperoleh karena kerjanya memberikan rangsangan terhadap pusat pengatur kalor di hipotalamus, yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor yang disertai keluarnya banyak keringat (Tjay dan Rahardja, 2007).

1.4 Efek Samping Efek samping jarang terjadi lewat dosis sedang seperti mual, muntah, nyeri perut, menggigil. Intoksikasi akut seperti pening, lemah, mual, muntah, nyeri perut, keringat berlebihan, palpilasi, stimulasi SSP (gelisah, delirium, psikosis, toksik, dan konvulsi) diikuti dengan depresi SSP, hipotermia, syok, dan koma. Dosis lebih berkepanjangan dapat mengakibatkan neutropenia, leukopenia, trombositopenia, pensilopenia, agranulositosis, (tak lazim), methemoglobinemia (sianosis pada kulit, mukosa, kuku jari, dispenia, sakit kepala, vertigo, lemah nyeri angina, gagal sirkulasi), sulfenoglobionemia, gangguan saluran cerna, perubahan psikologis, reaksi hipersensitivitas, udem laring, lesi mukosa, eritemia atau ruam, udem angioneurotik dan demam (Anonim, 2005). Reaksi hipersensitivitas meliputi gejala urtikaria, disponoea, dan hipotensi, hal ini dapat terjadi setelah penggunaan parasetamol baik pada dewasa maupun anak -anak. Juga dilaporkan terdapat angioedema (Sweetman, 2002).

1.5 Kontra Indikasi Hipersensitifitas terhadap parasetamol dan komponen lain dalam formulasi. Penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat. Penderita dengan gangguan fungsi ginjal. Penderita diabetes melitus. Penderita G6PD. Penderita dengan riwayat hipersensitivitas pada parasetamol. (Lacy, 2004) 1.6 Peringatan dan Perhatian Limit dosis < 4 g/hari dapat menyebabkan toksisitas hati pada kasus overdosis akut, pada beberapa pasien dewasa dapat menyebabakan kerusakan hati pada dosis harian kronis. Digunakan dengan perhatian pada pasien dengan penyakit hati karena alkoholik dan pasien dengan defisiensi G6PD yang tidak diketahui (Lacy, 2004). Peringatan : Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita gangguan fungsi ginjal. Bila setelah 5 hari nyeri tidak menghilang, atau demam tidak menurun setelah 2 hari, segera hubungi unit pelayanan kesehatan. Penggunaan obat ini pada penderita yang mengkonsumsi alkohol dapat meningkatkan resiko kerusakan hati. (Tjay dan Rahardja., 2008)

1.7 Interaksi Obat 1. Dengan aspirin, meningkatkan konsentrasi aspirin dalam darah. 2. Dengan chloramphenicol meningkatkan half life dari chloramphenicol. 3. Barbiturat, karbamazepin, hydantoins, isoniazid, rifampin, sulfinpyrazone dapat meningkatkan potensi hepatotoksik dan menurunkan efek analgesik dari parasetamol. 4. Kolesteramin dan propantelin dapat menurunkan absorpsi parasetamol. 5. Metoklopramid dapat meningkatkan absorpsi dari parasetamol. 6. Etanol dapat meningkatkan resiko induksi hepatotoksik dari parasetamol. 7. Dengan antikonvulsan phenobarbiton memperkuat efek hepatotoksik parasetamol. (Lacy, 2004) 1.8 Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya (Anonim, 1995).

B B T B

B c

i l

Nama Umum : Paracetamol (Anonim, 1995). Nama IUPAC : N-asetil-4-aminofenol (Reynol s, 2007). Struktur kimia :

(Moffat et l, 2005) B rat mol kul : 151,16 g/mol (Anonim, 1995). Titik L ur : 1690 sampai 1720 (Anonim, 1979).

Pemerian : abl r atau serbuk hablur putih, ti ak berbau, rasa pahit (Anonim, 1979). Kelarutan : Paracetamol agak sukar larut dalam air, dan dalam gliserol; larut dalam aseton; mudah larut dalam propilenglikol dan dalam etanol (95%) P ( Anonim, 1979). Larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1 N (Anonim, 1995). Parasetamol agak sukar larut dalam air (1 : 70), larut dalam air mendidih (1 : 20), mudah larut dalam alkohol (1 : 7 atau 1: 10), larut dalam aseton (1 : 13), agak sukar larut dalam gliserol (1: 40), mudah larut dalam propilen glikol (1: 9), sangat sukar larut dalam kloroform, praktis tidak larut dalam eter, larut dalam larutan alkali hidroksida (Reynolds, 1989). Khasiat Analgetikum dan antipiretikum (Anonim, 1995). Kandungan Acetaminophen mengandung tidak kurang dari 98,0 % dan tidak lebih dari 101,0% C89 NO2,

dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan (Anonim, 1995).

Stabilitas Terhadap cahaya: Tidak stabil terhadap sinar UV. Terhadap suhu: peningkatan suhu dapat mempercepat degradasi obat. Hidrolisis dapat terjadi pada keadaan asam ataupun basa. Hidrolisis minimum terjadi pada rentang pH antara 5-7. (Anonim, 1