INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii...

of 72 /72
INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAI DALAM MELESTARIKAN MUSIK KERONCONG DI BANDUNG Skripsi diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Sendratasik (Pendidikan Seni Musik S1) oleh Wildan Qurrata A’yun 2501414176 JURUSAN PENDIDIKAN SENI DRAMA, TARI DAN MUSIK FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2019

Transcript of INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii...

Page 1: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

HALAMAN JUDU L

INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAI

DALAM MELESTARIKAN MUSIK KERONCONG

DI BANDUNG

Skripsi

diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Pendidikan Sendratasik (Pendidikan Seni Musik S1)

oleh

Wildan Qurrata A’yun

2501414176

JURUSAN PENDIDIKAN SENI DRAMA, TARI DAN MUSIK

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2019

Page 2: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

ii

Page 3: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

iii

Page 4: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

iv

Dekan Fakultas Bahasa dan Seni,

Prof. Dr. Muhammad Ja

zuli, M.Hum NIP 196107041988031003

Page 5: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

v

MOTO DAN PERSEMBAHAN

MOTO

Hidup ini seperti sepeda. Agar tetap seimbang, kau harus terus bergerak (Albert

Einstein).

PERSEMBAHAN

Dengan rasa syukur kepada Allah SWT atas

segala karunia-Nya, skripsi ini kupersembahkan

kepada:

1. Kedua orang tuaku tercinta Muhtadin dan

Nurjanah yang selalu membimbing,

memotivasi dan mendoakan sampai saat ini.

2. Keempat kakak kandungku, Kamal, Rina,

Taufiq dan Fajrah yang selalu memberikan

semangat dan motivasi.

3. Seluruh teman dan sahabat yang selalu

memberikan semangat dan motivasi.

4. Almamater tercinta Jurusan Sendratasik

Universitas Negeri Semarang.

Page 6: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

vi

PRAKATA

Segala puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat

dan karunia-Nya yang telah memberikan nikmat dan hikmat sehingga penelitian

ini dapat diselesaikan dengan baik.

Skripsi dengan judul “Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai dalam

Melestarikan Musik Keroncong di Bandung”, disusun sebagai salah satu syarat

untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Sendratasik, Prodi Seni Musik,

Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.

Selesainya skripsi ini tentu saja tidak lepas dari dukungan dan dorongan dari

berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum, Rektor Universitas Negeri Semarang,

yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk belajar di

Universitas Negeri Semarang;

2. Prof. Dr. Muhammad Jazuli, M.Hum, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni,

Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kemudahan ijin

penelitian kepada penulis;

3. Dr. Udi Utomo, M. Si. Ketua Jurusan Seni Drama, Tari dan Musik, Fakultas

Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang yang memberikan kesempatan

kepada penulis untuk menyusun skripsi;

4. Abdul Rachman, S.Pd. M.Pd. yang telah membimbing dan memberikan

petunjuk serta saran dalam penulisan skripsi ini dengan penuh kesabaran dan

ketulusan;

Page 7: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

vii

5. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Seni Drama, Tari dan Musik, Fakultas Bahasa

dan Seni Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan bekal ilmu

pengetahuan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini;

6. Ade Dian atau Sir’iyai dan seluruh personil Sir’iyai yang telah memberikan

ijin untuk penelitian kepada penulis dan membantu jalannya pengumpulan

data skripsi;

7. Grisness Culture yang telah memberikan pengalaman bermusik dan menemani

dalam penelitian di Bandung;

8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah

membantu penyelesaian skripsi.

Penulis berharap semoga kebaikan bapak, ibu dan saudara sekalian yang

turut berpartisipasi dalam penulisan skripsi ini mendapat imbalan pahala dari

Allah SWT. Semoga skripsi ini bermanfaat.

Semarang, Mei 2019

Peneliti

Page 8: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

viii

ABSTRAK

A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

dalam Melestarikan Musik Keroncong di Bandung. Skripsi, Pendidikan Seni

Musik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang. Pembimbing

Abdul Rachman, S.Pd. M.Pd.

Kata Kunci: Inovasi, Ska, Keroncong, Pelestarian

Sir’iyai merupakan salah satu band ska yang berasal dari Bandung. Mereka

adalah musisi Indonesia yang peduli terhadap musik keroncong. Musik keroncong

di Bandung kurang diminati oleh para pemuda sehingga Sir’iyai berupaya untuk

mengusung musik keroncong dengan kemasan baru agar musik keroncong dapat

dinikmati oleh semua kalangan. Permasalahan dari penelitian ini adalah

bagaimana inovasi musik ska keroncong oleh Sir’iyai dalam melestarikan musik

keroncong di Bandung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui,

mendeskripsikan dan menganalisis inovasi musik ska keroncong oleh Sir’iyai

dalam melestarikan musik keroncong di Bandung.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik

pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi serta teknik

pemeriksaan keabsahan data diperiksa dengan metode triangulasi data. Teknik

analisis data dalam penelitian ini menggunkan reduksi data, penyajian data, dan

penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sir’iyai melakukan sebuah inovasi

dari segi alat musik yang digunakan, bentuk, melodi, harmoni serta pembawaan.

Karya-karya Sir’iyai kemudian disebarluaskan melalui media sosial, sosialisasi

dan pentas. Inovasi musik ska keroncong adalah wujud dari visi Sir’iyai yaitu

“tradisi X tradisi” yang artinya adalah dua tradisi yang berbeda dan digabungkan

menjadi satu yaitu musik ska yang merupakan tradisi Jamaica dan musik

keroncong yang merupakan tradisi Indonesia. Hasil dari akulturasi kedua tradisi

musik tersebut menghasilkan musik yang baru yaitu “ska keroncong” atau

“Jamaican sound keroncong”. Dengan inovasi musik tersebut terbukti banyak

para pemuda yang menggemari Sir’iyai.

Saran dari peneliti adalah Sir’iyai lebih mengenalkan karyanya dan lebih

mengenalkan musik keroncong dengan cara membuat acara pentas yang

melibatkan musisi keroncong, membawakan lagu keroncong, dan membuat video

klip yang memperlihatkan alat musik keroncong sehingga akan lebih banyak lagi

masyarakat yang tau mengenai inovasi musik tersebut dan juga mengenal musik

keroncong.

Page 9: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

ix

DAFTAR ISI

PENGESAHAN ..................................................................................................... iv

MOTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................................ v

PRAKATA ............................................................................................................. vi

ABSTRAK ........................................................................................................... viii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ix

DAFTAR BAGAN ............................................................................................... xii

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xv

BAB

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 7

1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................................... 7

1.4 Manfaat Penelitian ......................................................................................... 7

1.4.1 Manfaat Teoritis ............................................................................................ 7

1.4.2 Manfaat Praktis ............................................................................................. 7

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka ............................................................................................ 9

2.2 Landasan Teori ............................................................................................ 19

2.2.1 Inovasi .......................................................................................................... 19

2.2.2 Musik ............................................................................................................ 24

2.2.2.1 Irama .................................................................................................... 25

2.2.2.2 Melodi ................................................................................................... 26

2.2.2.3 Harmoni ................................................................................................ 26

2.2.2.4 Ekspresi ................................................................................................ 27

2.2.3 Musik Ska ..................................................................................................... 29

2.2.4 Musik Keroncong ......................................................................................... 30

Page 10: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

x

2.2.4.1 Bentuk ................................................................................................... 31

2.2.4.2 Harmoni ................................................................................................ 33

2.2.4.3 Ritme ................................................................................................... 35

2.2.4.4 Alat Musik Pengiring Keroncong ......................................................... 36

2.2.4.5 Pembawaan ........................................................................................... 38

2.2.5 Musik Ska Keroncong .................................................................................. 41

2.2.6 Pelestarian ................................................................................................... 42

2.2.7 Upaya Pelestarian ........................................................................................ 43

2.3. Kerangka Berpikir ....................................................................................... 48

III. METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian .................................................................................. 50

3.2 Lokasi dan Sasaran Penelitian ..................................................................... 50

3.3 Sumber Data ................................................................................................ 51

3.4 Teknik Pengumpulan Data .......................................................................... 51

3.4.1 Teknik Observasi ......................................................................................... 51

3.4.2 Teknik Wawancara ...................................................................................... 52

3.4.3 Teknik Dokumentasi..................................................................................... 53

3.4.4 Metode Perekaman ...................................................................................... 54

3.5 Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data ......................................................... 54

3.6 Teknik Analisis Data ................................................................................... 56

3.6.1 Reduksi Data ................................................................................................ 56

3.6.2 Penyajian Data............................................................................................. 57

3.6.3 Penarikan Kesimpulan/ Verifikasi ............................................................... 57

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ............................................................ 58

4.1.1 Letak Geografis Kota Bandung ................................................................... 58

4.1.2 Kesenian khas Jawa Barat .......................................................................... 59

4.1.3 Taman Wisata Rukun Kopi dan Cafe 1.50 Cofee ........................................ 63

4.2 Sejarah dan Perkembangan Musik Keroncong di Bandung ........................ 65

4.3 Sejarah dan Perkembangan Musik Ska di Bandung .................................... 67

4.4 Profil Grup Band Sir’iyai............................................................................. 69

Page 11: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

xi

4.4.1 Sejarah Terbentuknya Sir’iyai ..................................................................... 69

4.4.2 Visi dan Misi Sir’iyai ................................................................................... 71

4.4.3 Keanggotaan Sir’iyai ................................................................................... 72

4.5 Inovasi Musik Sir’iyai ................................................................................. 84

4.5.1 Alat Musik yang digunakan oleh Sir’iyai .................................................... 86

4.5.2 Lagu Industri Kopi ....................................................................................... 92

4.5.3 Bentuk .......................................................................................................... 94

4.5.4 Melodi .......................................................................................................... 95

4.5.5 Harmoni ....................................................................................................... 95

4.5.6 Pembawaan.................................................................................................. 98

4.5.6.1 Vokal .................................................................................................... 98

1.3.1.1 Cuk ................................................................................................... 100

1.3.1.2 Cak ................................................................................................... 101

1.3.1.3 Cello ................................................................................................... 102

1.3.1.4 Flute ................................................................................................... 103

4.5.6.6 Brass Section ...................................................................................... 104

4.5.6.7 Gitar ................................................................................................... 106

4.5.6.8 Bass ................................................................................................... 107

4.5.6.9 Drum ................................................................................................... 108

4.5.7 Formasi atau Tatanan Panggung Sir’iyai ................................................. 109

4.6 Inovasi Musik sebagai Pelestarian Musik Keroncong ............................... 110

4.7 Penyebarluasan .......................................................................................... 113

4.7.1 Pendokumentasian ..................................................................................... 113

4.7.2 Sosialisasi .................................................................................................. 120

4.7.3 Pentas atau Perform .................................................................................. 122

4.8 Fans dan Fans Club Sir’iyai ...................................................................... 124

V. PENUTUP

5.1 Simpulan .................................................................................................... 129

5.2 Saran .......................................................................................................... 131

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 132

LAMPIRAN ........................................................................................................ 137

Page 12: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

xii

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Kerangka Berpikir ................................................................................ 49

Bagan 3.1 Analisis Data Kualitatif Model Interaktif ............................................ 57

Page 13: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Skema Dasar Pola Ritme Alat Musik Keroncong ............................. 35

Gambar 2.2 Improvisasi Pola Ritme Alat Musik Keroncong ............................... 35

Gambar 4.1 Peta Kota Bandung ............................................................................ 59

Gambar 4.2 Taman Wisata Rukun Kopi dan Cafee 1.50 Cofee............................ 64

Gambar 4.3 Logo Sir’iyai ..................................................................................... 71

Gambar 4.4 Ade Dian atau Sir’iyai ....................................................................... 73

Gambar 4.5 Moh Ersyad atau Midun .................................................................... 74

Gambar 4.6 M. Syaifulloh Alghifarry atau Pongek .............................................. 75

Gambar 4.7 Ari Akbar N. ...................................................................................... 76

Gambar 4.8 Farhan Nanda Ryansyah.................................................................... 77

Gambar 4.9 Angga Giyana Putra .......................................................................... 78

Gambar 4.10 Agim Gimanjar atau Gimproy......................................................... 79

Gambar 4.11 Sani Rabbani K.A. ........................................................................... 80

Gambar 4.12 Derry Maulana Kusumah atau Angling .......................................... 81

Gambar 4.13 Iqbal Mushana Fahmyan ................................................................. 82

Gambar 4.14 Ridwan Nurdiansyah atau Buyung .................................................. 83

Gambar 4.15 Qolbun Salim Yusup atau Bubun .................................................... 84

Gambar 4.16 Cuk .................................................................................................. 87

Gambar 4.17 Cak .................................................................................................. 88

Gambar 4.18 Cello ................................................................................................ 89

Gambar 4.19 Flute ................................................................................................ 90

Gambar 4.20 Brass Section ................................................................................... 91

Gambar 4.21 Bentuk Skema Lagu Industri Kopi .................................................. 93

Gambar 4.22 Penggalan Notasi Vokal Lagu Industri Kopi .................................. 98

Gambar 4.23 Penggalan Notasi Cuk Lagu Industri Kopi ................................... 100

Gambar 4.24 Penggalan Notasi Cuk Lagu Industri Kopi ................................... 100

Gambar 4.25 Penggalan Notasi Cak Lagu Industri Kopi .................................... 101

Gambar 4.26 Penggalan Notasi Cak Lagu Industri Kopi .................................... 101

Page 14: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

xiv

Gambar 4.27 Penggalan Notasi Cello Lagu Industri Kopi ................................. 102

Gambar 4.28 Penggalan Notasi Cello Lagu Industri Kopi ................................. 102

Gambar 4.29 Penggalan Notasi Flute Lagu Industri Kopi .................................. 103

Gambar 4.30 Penggalan Notasi Flute Lagu Industri Kopi .................................. 104

Gambar 4.31 Penggalan Notasi Brass Section Lagu Industri Kopi .................... 105

Gambar 4.32 Penggalan Notasi Gitar Lagu Industri Kopi .................................. 106

Gambar 4.33 Penggalan Notasi Bass Lagu Industri Kopi .................................. 107

Gambar 4.34 Penggalan Notasi Drum Lagu Industri Kopi ................................ 108

Gambar 4.35 Penggalan Notasi Drum Lagu Industri Kopi ................................. 108

Gambar 4.36 Tatanan Panggung atau Formasi Sir’iyai ...................................... 109

Gambar 4.37 Tatanan Panggung atau Formasi Sir’iyai ...................................... 109

Gambar 4.38 Akun Facebook Sir’iyai Music ..................................................... 113

Gambar 4.39 Akun Instagram Sir’iyai Music ..................................................... 114

Gambar 4.40 Akun Instagram Sir’iyai................................................................ 114

Gambar 4.41 Akun Youtube Sir’iyai ................................................................... 115

Gambar 4.42 Penyebarluasan Kaset Tape Melalui Instagram ............................ 116

Gambar 4.43 Album Escape from Cowboy di Spotify ........................................ 117

Gambar 4.44 Video Klip Lagu Industri Kopi ..................................................... 118

Gambar 4.45 Video Lirik Lagu Industri Kopi .................................................... 119

Gambar 4.46 Perform Sir’iyai di Gymnasium UPI ............................................ 121

Gambar 4.47 Perform Sir’iyai di Taman Wisata Rukun Kopi, Bandung ........... 122

Gambar 4.48 Perform Sir’iyai di Radio Show .................................................... 123

Gambar 4.49 Logo Crispy Crew Bandung Raya ................................................ 125

Gambar 4.50 Crispy Crew .................................................................................. 126

Gambar 4.51 Fans Sir’iyai .................................................................................. 126

Page 15: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Keterangan Penetapan Dosen Pembimbing Skripsi .............. 138

Lampiran 2. Surat Permohonan Izin Penelitian .................................................. 139

Lampiran 3. Surat Balasan Penelitian dari Sir’iyai ............................................. 140

Lampiran 4. Instrumen Penelitian ....................................................................... 141

Lampiran 5. Transkrip Wawancara ..................................................................... 150

Lampiran 6. Dokumentasi Penelitian .................................................................. 178

Lampiran 7. Biodata Peneiti ................................................................................ 182

Page 16: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Musik merupakan suata hal yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan

manusia. Musik adalah seni suara yang dapat dinikmati oleh pendengarnya.

Menurut Jamalus (1988, h.1), musik merupakan bentuk suatu hasil karya seni

bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi musik yang mengungkapkan pikiran dan

perasaan penciptanya melalui unsur-unsur musik yaitu irama melodi, harmoni,

bentuk dan struktur lagu dan ekspresi sebagai satu kesatuan.

Bagi pencipta musik, musik menjadi suatu luapan emosi jiwa, luapan

perasaan maupun pikiran oleh pencipta musik tersebut. Sedangkan seorang

penikmat musik mereka mendengarkan musik agar merasa lebih nyaman, rileks,

atau sebagai penyemangat dalam beraktivitas. Seperti halnya yang terjadi pada

berbagai jenis tarian, pembentukan watak manusia, pengisi waktu yang

bermanfaat, bahkan menjadi alat untuk mencapai kemajuan dan kebahagiaan

rohani pada manusia (Sanjaya, 2013, h.185). Fungsi musik pun sangat beragam

yaitu sebagai hiburan, upacara, mars, hymne, luapan hati seseorang dan terapi.

Jenis musik saat ini sangatlah banyak. Seiring perkembangan zaman, jenis

musik terus bermunculan. Di Indonesia pun sangat banyak genre musik yang ada.

Baik musik dari dalam negeri maupun luar negeri. Dari dalam negeri contohnya

karawitan, angklung, keroncong, campursari dan masih banyak lagi. Dari luar

negeri contohnya pop, jazz, ska, dan masih banyak lagi. Semua jenis musik

Page 17: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

2

tersebut memiliki warna dan ciri khas maing- masing, baik dari segi bentuk

lagunya, alat musik yang dimainkan maupun pembawaan musik tersebut. Dari

beragam ciri khas musik tersebut maka setiap individu dapat memilih musik mana

yang ingin didengarkan atau disukai. Setiap individu mempunyai selera musik

yang berbeda-beda. Mereka akan menyesuaikan dengan perasaan mereka ketika

mendengarkan musik.

Keroncong adalah jenis musik asli Indonesia yang tumbuh dan berkembang

dengan baik di Indonesia (Rachman & Utomo, 2019). Musik keroncong adalah

musik yang ada sejak abad ke-16. Awalnya musik keroncong ini dibawa oleh

bangsa portugis yang datang ke Indonesia. Pada saat itu ketika bangsa Portugis

membuka hubungan perdagangan dengan Indonesia yaitu perdagangan rempah-

rempah. Awalnya musik keroncong hanya sebagai hiburan bagi para budak

Portugis yang ada di Indonesia (Ganap, 2006).

Keroncong merupakan genre musik yang sangat melekat di kalangan

masyarakat Indonesia, dan keroncong menjadi salah satu musik tradisi yang

berkembang di Indonesia. Pada perkembangannya, musik keroncong sampai saat

ini terus dilestarikan, namun sebagian penikmatnya adalah para orang tua dan

kurang dinikmati oleh kalangan muda jaman sekarang. Menurut Henry & Wijaya

(2017), keberadaan musik keroncong semakin terancam di Indonesia. Ini

dikarenakan kurangnya peminat terhadap musik keroncong tersebut, khususnya

para generasi muda bangsa.

Musik keroncong dianggap musik yang ketinggalan zaman dan musiknya

orang tua. Perkembangan musik keroncong tidak sebaik musik barat seperti pop,

Page 18: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

3

rock maupun dangdut. Musik keroncong sering dianggap sebagai musik yang

dikonsumsi untuk kalangan orang tua saja (Rachman, 2013). Seperti yang

diungkapkan Sari (2015) yang menyatakan bahwa musik keroncong ditanggapi

beragam oleh masyarakat, ada yang menyukai dan ada juga yang kurang

menyukai. Hal ini dikarenakan pemahaman musik keroncong yang berbeda-beda

menurut zaman. Padahal musik keroncong adalah musik asli Indonesia yang wajib

dilestarikan. Grup keroncong pun sangatlah sedikit. Tidak sebanyak pop dan

genre musik lainnya. kurangnya edukasi dan grup keroncong di Indonesia

membuat keberadaan musik keroncong kurang diminati oleh masyarakat.

Khususnya para remaja dan anak- anak, mereka lebih tau lagu- lagu pop atau

genre lain. hal ini sangat memprihatinkan. Kurangnya perhatian dan antusias para

remaja terhadap musik keroncong menyebabkan tidak adanya regenerasi terhadap

musik ini. Beberapa faktor yang turut mempengaruhi mundurnya perkembangan

musik keroncong antara lain minimnya peran media, kecenderungan

perkembangan industri musik, dan hambatan dalam pengembangan kreativitas

(Darini, 2012).

Dengan fenomena tersebut, ada kumpulan anak muda yang merasa prihatin

dengan pekembangan musik keroncong saat ini. Oleh karena itu, mereka berupaya

melestarikan musik keroncong dengan kemasan baru yang dapat dinikmati oleh

semua kalangan. Menurut Henry (2017), salah satu cara agar musik keroncong

tetap bertahan yaitu dengan menggabungkan musik keroncong dengan jenis musik

lainnya. Hal tersebut dilakukan agar menarik minat pendengar maupun minat

pemain musik. Menurut Widyanta (2017), memainkan lagu keroncong dengan

Page 19: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

4

repertoar- repertoar lagu yang hidup pada era modern ini akan menarik minat dari

para generasi muda terhadap musik keroncong.

Sir’iyai merupakan band yang berasal dari Bandung. Mereka adalah band

yang sudah cukup terkenal di Bandung khususnya di kalangan pemuda dibuktikan

dengan banyaknya fans dan fansclub dari Sir’iyai. Sir’iyai mengembangkan musik

Ska, Rocksteady yang digabungkan dengan keroncong menjadi “Jamaican sound

keroncong” untuk memberikan warna baru khususnya Jamaican sound dan

keroncong di Indonesia. Mereka adalah musisi Indonesia yang pertama kali

bergenre jamaicansound keroncong. Soemaryatmi (2012, h.27) menyatakan

bahwa perubahan suatu masyarakat merupakan keadaan yang pasti terjadi, sebagai

konsekuensi perkembangan socio cultural. Perubahan adakalanya menambah,

mengurangi, dan dapat pula untuk menyesuaikan dengan kebutuhan jamannya.

Bisa dikatakan Sir’iyai melakukan sebuah transformasi. Transformasi

memiliki arti perubahan bentuk dan secara lengkap merupakan perubahan fisik

maupun nonfisik (bentuk, rupa, sifat, fungsi, dan lain- lain). Transformasi

dimaksudkan baik perubahan yang masih menunjukkan benda asalnya maupun

perubahan yang sudah tidak memperlihatkan kesamaan dengan benda asalnya

(Parmadi, Kumbara, Wirawan, & Sugiartha, 2018, h.68).

Sir’iyai ingin memperkenalkan dan melestarikan musik tradisi khususnya

keroncong menjadi lebih masyarakat dengan metode “tradisi X tradisi” yaitu

penggabungan dua genre yang berbeda yaitu ska dan Keroncong. Mereka

membawakan musik mereka dengan cara yang unik. Musik ska yang dipadukan

dengan keroncong. Melihat musik ska di Bandung antusiasnya sangatlah bagus,

Page 20: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

5

terutama bagi kalangan anak-anak dan remaja, maka mereka membuat sebuah

inovasi yang luar biasa dengan memasukkan unsur musik keroncong ke dalam

musik ska.

Penelitian terdahulu mengenai musik keroncong sudah pernah dilakukan oleh

beberapa peneliti, seperti artikel yang ditulis Abdul Rachman dan Udi Utomo

dengan judul “Sing Penting Keroncong”: Sebuah Inovasi Pertunjukkan Musik

Keroncong di Semarang. Artikel ini membahas tentang perkembangan musik

keroncong di Semarang yang baik dengan adanya pertunjukkan musik keroncong

secara live yang secara rutin diselenggarakan setiap seminggu sekali oleh

beberapa komunitas keroncong salah satunya adalah “Sing Penting Keroncong”

yang diselenggarakan oleh komunitas “De Waunk”. Inovasi yang dilakukan dalam

pertunjukkan “Sing Penting Keroncong” adalah dalam pementasannya

menggunakan tata panggung yang representative serta didukung dengan dekorasi,

tata cahaya, sound system yang spektakuler. Acara ini disiarkan live oleh RRI

Semarang dan live streaming via youtube. Bentuk pertunjukkan yang ditampilkan

bukan hanya keroncong pakem tetapi ada keroncong Jazz (Cong Jazz), Keroncong

Rock (Cong Rock), dan Keroncong Orkestra (Congkestra). Lagu- lagu yang

ditampilkan pun beragam. Ada lagu keroncong asli, lagu pop, dangdut, jazz, dan

juga rock. Penulis mengatakan bahwa inovasi tersebut adalah untuk

mengembangkan dan mempertahankan musik keroncong khususnya di Semarang

(Rachman & Utomo, 2018).

Penelitian lain mengenai musik keroncong adalah penelitian yang ditulis oleh

Yon Hendry dengan judul “Musik Keroncong Campur Sari dalam Pluralitas

Page 21: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

6

Budaya Masyarakat Sawahlunto”. Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa

musik keroncong campursari yang hidup di dalam masyarakat Sawahlunto sangat

berbeda dengan yang hidup di Jawa. Alat musik yang digunakan mengakomodasi

alat musik dari berbagai etnis yang hampir mewakili semua etnis masyarakat yang

hidup di Sawahlunto dan bahkan diberi penambahan dengan alat musik barat.

Munculnya Orkes Keroncong Campursari sebagai genre musik baru ini

merupakan kolaborasi yang dahsyat yang dilakukan oleh masyarakat seni di

Sawahlunto (Hendry, 2011).

Penelitian lain mengenai musik keroncong adalah penelitian yang ditulis oleh

Natan Henry dan Mahendra Wijaya dengan judul “Diskursus Pelestarian Seni

Budaya Keroncong”. Dalam penelitian menunjukkan bahwa komunitas seni

keroncong Swastika berhasil dalam melestarikan seni budaya keroncong. Salah

satu cara melestarikannya adalah dengan melestarikan seni budaya keroncong

kepada para anak muda, khususnya anggota junior komunitas seni keroncong

Swastika. Proses pelestarian menggunakan teori dari Pierre Bourdieu yaitu model

budaya, teori dari Jurger Hubermas, yaitu tindakan komunikasi dan juga

perubahan sosial. Dari hasil temuan, modal cultural yang dimiliki oleh para

anggota senior komunitas Swastika di sini diwariskan kepada para anggota junior

komunitas Swastika (Henry & Wijaya, 2017).

Penelitian-penelitian tersebut relevan dengan penelitian yang akan dilakukan

oleh penulis karena membahas mengenai pelestarian musik keroncong. Terkait

dengan uraian latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk menjadikan Sir’iyai

sebagai obyek penelitian. Peneliti ingin mengetahui lebih dalam tentang

Page 22: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

7

bagaimana inovasi musik dari Sir’iyai dalam melestarikan musik keroncong di

Bandung. Adapun judul yang diangkat peneliti adalah “Inovasi Musik Ska

Keroncong oleh Sir’iyai dalam Melestarikan Musik Keroncong di Bandung”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang akan diungkap dalam

penelitian ini adalah, bagaimanakah inovasi musik ska keroncong oleh Sir’iyai

dalam melestarikan musik keroncong di Bandung?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah

untuk mengetahui, mendeskripsikan dan menganalisis inovasi musik ska

keroncong oleh Sir’iyai dalam melestarikan musik keroncong di Bandung.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian mengenai “Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai dalam

Melestarikan Musik Keroncong di Bandung” diharapkan terdapat dua manfaat

yaitu, sebagai berikut:

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan dan referensi untuk penelitian

selanjutnya.

1.4.2 Manfaat Praktis

1) Bagi Universitas Negeri Semarang, hasil penelitian ini diharapkan dapat

menambah koleksi bacaan sebagai sumber acuan dalam menambah wawasan

pengetahuan mengenai musik keroncong dan musik ska.

Page 23: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

8

2) Bagi Mahasiswa, hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan

informasi dan pengetahuan mengenai musik keroncong dan musik ska serta

referensi untuk penelitian selanjutnya.

3) Bagi masyarakat, hasil penelitian ini diharapkan dapat menarik minat

masyarakat maupun musisi dalam melakukan inovasi musik untuk

melestarikan musik Indonesia.

4) Bagi Sir’iyai, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan untuk

lebih meningkatkan karya- karyanya dan tetap melestarikan musik keroncong.

5) Bagi peneliti, penelitian ini digunakan untuk memenuhi syarat dalam rangka

menyelesaikan studi di Universitas Negeri Semarang program studi

Pendidikan Seni Musik S1 dan menambah pengetahuan dan pengalaman

peneliti dalam melakukan penelitian serta penulisan skripsi.

Page 24: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka merupakan kajian peneliti yang akan mengungkapkan

beberapa hasil temuan penelitian sebelumnya, yang memiliki kaitan erat dengan

penelitian yang akan dilakukan. Melalui literatur ini diharapkan dapat membantu

penulis untuk meneliti sisi lain yang belum pernah diteliti oleh penulis lain.

Berikut adalah deskripsi berbagai tulisan tersebut.

Diana Yusuf dan Septiana Alrianingrum dengan judul “Kiprah Soendari

Soekotjo dalam Kancah Musik Keroncong di Indonesia Tahun 1977-2014”,

memiliki kesimpulan bahwa usaha pelestarian musik keroncong sudah dilakukan

Sundari Soekotjo sejak usia 12 tahun dan masih terbilang muda. Sundari Soekotjo

terus mengembangkan kemampuan bermain musik keroncong melalui berbagai

cara seperti bergabung dengan HAMKRI dan dengan konsentrasi penuh

menyanyikan lagu-lagu keroncong tanpa menerima tawaran genre musik lain.

Awalnya Sundari Soekotjo membawakan musik keroncong sangat menjaga

pakem dan aturan di dalamnya, Sundari Soekotjo berpikir jika mengadakan acara

harus dengan 7 iringan alat musik keroncong dan para pengiring harus memakai

kebaya. Pada tahun 2008-an Intan Soekotjo putri Sundari Soekotjo, memberi

masukan agar Sundari Soekotjo tidak terlalu idealis dalam membawakan musik

keroncong, idealis boleh tetapi harus mengikuti zaman yang sudah modern.

Page 25: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

10

Pada tahun 2014 Sundari Soekotjo membentuk sebuah organisasi Yakin (Yayasan

Musik Keroncong Indonesia). Dengan organisasi ini, Sundari Soekotjo mengajak

musisi genre yang lain agar ikut serta dalam melestarikan musik keroncong.

Melalui cara ini Sundari Soekotjo berharap agar bisa memadukan musik

keroncong dengan musik lain seperti pop, rock dan jazz sehingga menjadi musik

keroncong modern (Yusuf & Alrianingrum, 2016).

Penelitian ini relevan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis

yaitu sama-sama membahas mengenai musik kerocong yang dilestarikan.

Perbedaannya adalah penulis akan membahas mengenai inovasi musik ska yang

dipadukan keroncong dalam melestarikan musik keroncong.

I Wayan Mudana dalam jurnal yang berjudul “Inovasi Bentuk Lukisan

Wayang Kamasan Sebagai Seni Kemasan Pasar”. Penelitian ini membahas

tentang bagaimanakah bentuk inovasi lukisan wayang kamasan menjadi seni

kamasan pasar dan bagaimana implikasi inovasi lukisan wayang Kamasan

menjadi seni Kamasan pasar di Klungkung Bali. Hasil penelitian menunjukkan

sebagai berikut. Pertama, Lukisan Wayang Kamasan sudah mengalami inovasi

menjadi produk-produk baru untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Faktor-

faktor pendorong terjadinya inovasi yaitu (1) motivasi ekonomi, (2) identitas diri,

(3) kreativitas melukis (4) Globalisasi, dan (5) pariwisata. Kedua, bentuk inovasi

Lukisan Wayang Kamasan berupa produk souvenir, yaitu berupa barang dagangan

untuk didistribusikan ke pasar. Ketiga, implikasi dari inovasi Lukisan Wayang

Kamasan bersifat positif dan negatif. Sifat positif Lukisan Wayang Kamasan

dapat meningkatkan kesejahteraan, meluasnya distribusi dan konsumsi sosial,

Page 26: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

11

munculnya pelukis perempuan dan berkembangnya industri kreatif. Sifat

negatifnya Lukisan Wayang Kamasan yang bersifat simbolik diprofanisasi

menjadi produk masa sehingga terjadi desakralisasi yang berimplikasi

melunturnya nilai- nilai tradisi lokal dan berkembangnya industri kreatif di

Klungkung Bali (Mudana, 2016).

Penelitian I Wayan Mudana relevan dengan penelitian yang akan dilakukan

oleh penulis yaitu sama- sama membahas mengenai inovasi. Perbedaan penelitian

I wayan Mudana dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis yaitu, jika

penelitian I Wayan Mudana membahas tentang Inovasi bentuk lukisan wayang

kamasan sebagai seni kemasan pasar, penelitian yang akan dilakukan oleh penulis

membahas tentang inovasi musik ska keroncong dalam melestarikan musik

keroncong.

Muhammad Nur Setiadi dalam skripsinya yang berjudul “Bentuk Musik Ska

dan Strategi Pemasaran Karya Band Grisness Culture Melalui Media Youtube di

Semarang. Penelitian ini membahas tentang bagaimanakah bentuk musik ska dari

lagu Grisness Culture dan bagaimanakah strategi pemasaran Grisness Culture

dalam memasarkan karyanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu karya

band Grisness Culture adalah (1) bentuk musik dan lagu dari “Kembang Pujaan”

karya band Grisness Culture mempunyai 3 bagian yaitu A, B dan C, melodi yang

dihasilkan dari lagu kembang pujaan sering menggunakan lompatan dan loncatan

nada yang dilengkapi dengan repetisi, adanya melodi berupa repetisi ini membuat

melodi yang dihasilkan mudah dimengerti (easy listening). (2) Strategi pemasaran

yang digunakan oleh grup Grisness Culture adalah strategi internet marketing

Page 27: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

12

dimana penggunaan internet dalam usaha pemasarannya berupa media Youtube

salah satu situs internet yang digunakan sebagai media promosi dan mengenalkan

karya grup Grisness Culture kepada masyarakat luas (Nur Setiadi, 2018).

Penelitian Muhammad Nur Setiadi relevan dengan penelitian yang akan

dilakukan oleh penulis yaitu sama- sama membahas mengenai musik ska.

Perbedaan penelitian Muhammad Nur Setiadi dengan penelitian yang akan

dilakukan oleh penulis yaitu, jika penelitian Muhammad Nur Setiadi membahas

tentang bentuk musik ska dan strategi pemasarannya, penelitian yang akan

dilakukan oleh penulis membahas tentang inovasi musik ska keroncong dalam

melestarikan musik keroncong.

Dimas Zulfikar dalam skripsinya yang berjudul “Pelestarian Musik

Keroncong oleh Komunitas Keroncong 3G di Kecamatan Comal Kabupaten

Pemalang”. Penelitian ini membahas tentang bagaimana upaya pelestarian musik

keroncong dari komunitas keroncong 3G. penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui, mendeskripsikan, dan menganalisa tentang upaya pelestarian musik

keroncong yang dilakukan oleh komunitas keroncong 3G. hasil penelitian yaitu

upaya pelestarian musik keroncong yang dilakukan komunitas keroncong 3G

adalah sebagai berikut. Pertama yaitu pada jalur pendidikan, dengan

mengupayakan musik keroncong saat ekstrakurikuler. Namun upaya tersebut

belum berjalan maksimal karena mengalami banyak hambatan. Kedua adalah

sosialisasi, sosialisasi ini dilakukan dengan cara memperkenalkan musik

keroncong kepada masyarakat luas, seperti pelaksanaan acara keroncong dan

pelaksanaan acara halal bihalal lintas komunitas se Kabupaten Pemalang. Ketiga,

Page 28: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

13

melakukan beberapa inovasi musik keroncong. Inovasi ini dilakukan dengan cara

memodifikasi dan menambahkan alat musik lain di dalam musik keroncong.

Keempat, pendokumentasian untuk kepentingan arsip, evaluasi maupun promosi.

Kelima, proses kegiatan latihan yang dilakukan setiap dua minggu sekali pada

minggu pertama dan ketiga. Keenam, komunitas keroncong 3G melakukan

kegiatan pentas untuk memperkenalkan musik keroncong (Zulfikar, 2018).

Penelitian Dimas Zulfikar relevan dengan penelitian yang akan dilakukan

oleh penulis yaitu sama-sama membahas mengenai pelestarian musik keroncong.

Perbedaan penelitian Dimas Zulfikar dengan penelitian yang akan dilakukan oleh

penulis yaitu, jika penelitian Dimas Zulfikar membahas tentang pelestarian musik

keroncong oleh komunitas keroncong 3G, penelitian yang akan dilakukan oleh

penulis membahas tentang inovasi musik ska keroncong dalam melestarikan

musik keroncong.

Abdul Rachman dalam jurnal yang berjdul “Bentuk dan Analisis Musik

Keroncong Tanah Airku Karya Kelly Puspito”. Abdul Rachman menyimpulkan

bahwa musik keroncong merupakan musik asli Indonesia karena tumbuh dan

berkembang di Indonesia, namun perkembangannya tidak sebaik jenis musik barat

seperti pop, rock ataupun musik dangdut. Musik keroncong sering dianggap

sebagai musik yang dikonsumsi oleh kalangan orang tua saja karena memang

peminat musik keroncong sebagian besar adalah orang tua. Seorang komponis

keroncong asal Semarang yaitu Kelly Puspito tergugah untuk mengembangkan

musik keroncong karena melihat musik keroncong sudah mulai ditinggalkan oleh

para remaja. Kelly Puspito melakukan inovasi terhadap musik keroncong asli

Page 29: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

14

dengan cara mengembangkan harmonisasi atau progresi akor dengan

menambahkan akor-akor yang sudah baku, melodi yang bervariasi bergerak

melangkah dan melompat, rentangan nada yang luas, ritmis bervariasi yaitu

bernilai seperempatan, seperdelapanan, hingga seperenambelasan, serta interval

nada yang cukup tajam baik naik maupun turun. Hal itu sesuai dengan

karakteristik remaja yaitu selalu ingin berinovasi, menyukai tantangan dan ingin

mencoba hal- hal yang baru (Rachman, 2013).

Penelitian Abdul Rachman relevan dengan penelitian yang akan dilakukan

oleh penulis yaitu sama- sama membahas mengenai musik keroncong. Perbedaan

penelitian Abdul Rachman dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis

yaitu, jika penelitian Abdul Rachman membahas tentang bentuk dan analisis

musik keroncong Tanah Airku karya Kelly Puspito, penelitian yang akan

dilakukan oleh penulis membahas tentang inovasi musik ska keroncong dalam

melestarikan musik keroncong.

Wibi Ardi Alvianto dan Wagiman Joseph dalam jurnal yang berjudul

“Eksistensi Grup Musik Keroncong Gema Irama di Desa Gedongmulya

Kecamatan Lasem”. Penelitian ini menyimpulkan bahwa jenis musik keroncong

yang dibawakan oleh grup pensiunan pegawai negeri tersebut mendapat sambutan

positif dari warga Desa Gedongmulya, yang nampak dari antusiasme warga

sekitar lokasi grup tersebut berlatih musik keroncong, setiap kali latihan diadakan.

Para warga setempat tidak hanya ikut menyaksikan jalannya latihan, bahkan

beberapa dari mereka ikut berpartisipasi dengan menyumbangkan lagu yang

diiringi oleh grup pensiunan pegawai negeri tersebut. Setelah 8 tahun berselang,

Page 30: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

15

grup keroncong pensiunan pegawai negeri tersebut mengalami kemunduran yang

disebabkan oleh faktor usia dari sebagian anggotanya yang telah memasuki usia

lanjut. Maka demi menjaga antusiasme warga Desa Gedongmulya terhadap

apresiasi mereka di dalam bermusik keroncong, maka sebagian kecil dari pada

anggota grup pensiunan pegawai negeri tersebut yang masih tersisa, membentuk

grup keroncong bernama: grup keroncong Gema Irama, yang digawangi oleh

Bapak Danang dan Bapak Ali Arifin, sebagai inisiator. Pada perkembangannya,

bergabunglah beberapa personil inti lainnya, yang menjadikan grup keroncong

baru tersebut menjadi lengkap. Seiring dengan semakin intensifnya latihan demi

latihan yang diadakan oleh grup keroncong Gema Irama, yang mana

menghasilkan kualitas bermusik keroncong yang semakin baik, maka undangan

demi undangan pun berdatangan untuk mengisi berbagai event penting di berbagai

lokasi yang cakupannya tidak hanya di Desa Gedongmulyo saja, tetapi juga

sampai ke tingkat Kabupaten Rembang (Alvianto & Joseph, 2012).

Penelitian Wibi Ardi Alvianto dan Wagiman Joseph relevan dengan

penelitian yang akan dilakukan oleh penulis yaitu sama-sama membahas

mengenai musik keroncong. Perbedaan penelitian Wibi Ardi Alvianto dan

Wagiman Joseph dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis yaitu, jika

penelitian Wibi Ardi Alvianto dan Wagiman Joseph membahas tentang Eksistensi

Grup Musik Keroncong Gema Irama, penelitian yang akan dilakukan oleh penulis

membahas tentang inovasi musik ska keroncong dalam melestarikan musik

keroncong.

Page 31: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

16

Wisnu Mintargo dalam artikelnya yang berjudul “Akulturasi Budaya dalam

Musik Keroncong di Indonesia”. Penelitian ini menyimpulkan bawa bangsa

Indonesia memiliki kekayaan seni musik bersistem pentatonik (Timur) dan

bersistem diatonik (Barat). Keduanya menjadi dasar utama bagi kehidupan

perkembangan seni musik di Indonesia. Musik keroncong dapat dijadikan sebagai

identitas musik bangsa Indonesia, karena memiliki kekhasan tersendiri yang tidak

dipunyai oleh jenis musik bangsa lain. Dapat disimpulkan apabila menyaksikan

seni pertunjukan orkes keroncong dalam bentuk orkes simponi, ini menunjukan

bahwa bentuk ini adalah model akulturasi yang pernah dikembangkan NIROM

Belanda dan Jos Cleber dalam orkes Cosmopolitan. Bentuk dan cara konvensional

yang dikembangkan pada orkes keroncong jenis ini seluruh anggota pemain

menggunakan notasi balok dengan sistem pengetahuan musik Barat. Hal ini

berlaku pada Orkes Studio R.R.I, pimpinan Achmad, dan Didiek S.S.S, decade

tahun 1990-1997 dalam acara musik keroncong siaran TVRI Pusat Jakarta

(Mintargo, 2017).

Penelitian Wisnu Mintargo relevan dengan penelitian yang akan dilakukan

oleh penulis yaitu sama-sama membahas mengenai akulturasi budaya musik

keroncong. Perbedaan penelitian Wisnu Mintargo dengan penelitian yang akan

dilakukan oleh penulis yaitu, jika penelitian Wisnu Mintargo membahas tentang

Akulturasi Budaya dalam Musik Keroncong di Indonesia, penelitian yang akan

dilakukan oleh penulis membahas tentang inovasi musik ska keroncong dalam

melestarikan musik keroncong.

Page 32: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

17

R. Agoes Sri Widjajadi dalam artikelnya yang berjudul “Menelusuri Sarana

Penyebaran Musik Keroncong”. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberadaan

dan keberlangsungan musik keroncong di Indonesia hingga kini masih tampak

jelas sebagai suatu genre musikal yang menjadikan tipikal musik Indonesia.

Menyimak pada tahun 1920-an musik keroncong sudah mendapat tempat di hati

masyarakat, selain itu lagu-lagu keroncong pun sudah menyebar luas dan digemari

masyarakat luas, kendatipun pada waktu itu perbendaharaan lagu-lagu keroncong

masih kurang. Dengan demikian persoalan tersebut tak lepas dari suatu proses

penyebaran-penyebaran dengan melalui berbagai sarana yang ada. Musik

keroncong yang semakin terjaga keberadaannya, berkembang pada berbagai aspek

musikal, serta meluas daya jangkaunya. Oleh karena itu ada beberapa peran sarana

penyebaran yang ditelusuri, yaitu pola penyebaran melalui: (1) lomba musik

keroncong; (2) media cetak; (3) media rekam; (4) radio dan televisi; (5) layar

lebar; (6) pementasan; (7) pertumbuhan kelompok orkes keroncong (Widjajadi,

2005).

Penelitian R. Agoes Sri Widjajadi relevan dengan penelitian yang akan

dilakukan oleh penulis yaitu sama-sama membahas mengenai musik keroncong.

Perbedaan penelitian R. Agoes Sri Widjajadi dengan penelitian yang akan

dilakukan oleh penulis yaitu, jika penelitian R. Agoes Sri Widjajadi membahas

tentang Sarana Penyebaran Musik Keroncong, penelitian yang akan dilakukan

oleh penulis membahas tentang inovasi musik ska keroncong dalam melestarikan

musik keroncong.

Page 33: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

18

Wahyu Sigit Sasongko dalam artikel yang berjudul “Kreativitas Musik pada

Grup Kentongan Adiyasa di Kabupaten Banyumas”. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa kreativitas yang dilakukan oleh grup kentongan Adiyasa

terletak pada melodi awal lagu, bridge perpindahan materi lagu satu ke lagu

berikutnya, dan bagian penutup. Sementara variasi pola ritmis terdapat pada setiap

alat musik pada grup kentongan Adiyasa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah

proses kreativitas grup kentongan Adiyasa sudah berjalan dengan baik. Kreativitas

musik dari grup kentongan Adiyasa ditunjukkan dari unsur musik melodi dan pola

ritmisnya (Sasongko & Rachman, 2017).

Abdul Rachman dalam jurnal artikel yang berjudul “ Bentuk Aransemen

Musik Keroncong Asli Karya Kelly Puspito dan Relevansinya bagi Remaja dalam

Mengembangkan Musik Keroncong Asli”. Dalam penelitian ini Abdul Rachman

menyimpulkan bahwa Kelly Puspito telah melakukan pengembangan terhadap

musik keroncong asli. Hal tersebut dapat dilihat dari melodi, sistem nada, interval,

harmonisasi atau progresi akornya, dan motif asimetris. Lagu keroncong asli

karya Kelly Puspito sangat relevan bagi remaja, hal itu terbukti dengan begitu

antusiasnya remaja untuk mempelajari musik keroncong asli karya Kelly Puspito.

Lagu keroncong asli karya Kelly Puspito juga banyak digunakan sebagai lagu

wajib lomba menyanyi keroncong di tingkat apapun, baik di tingkat pelajar SMP,

SMA, maupun tingkat Mahasiswa. Lagu keroncong asli karya Kelly Puspito juga

sangat disukai oleh kelompok-kelompok musik keroncong remaja di Semarang

dengan sering membawakan lagu-lagu keroncong asli karya Kelly Puspito dalam

setiap pementasannya (Rachman & Lestari, 2012).

Page 34: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

19

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Inovasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), inovasi adalah pemasukan

atau pengenalan hal-hal baru, pembaharuan, penemuan baru yang berbeda dari

yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya. Inovasi dapat juga diartikan

sebagai pembaharuan terhadap berbagai sumber daya sehingga sumber daya

tersebut mempunyai manfaat yang lebih bagi manusia. Proses inovasi sangat

dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan karena kedua hal

tersebut dapat memudahkan dalam memproduksi sesuatu yang baru dan berbeda.

Ferryanto (2009, h.95) menjelaskan bahwa inovasi merupakan darah bagi

suatu institusi untuk bisa hidup berkelanjutan serta menguntungkan. Inovasi

berupa penemuan baru secara sistematis yang berawal dari empati, kemampuan

untuk melihat dunia melalui mata orang lain, dan pemanfaatan secara optimal

kemajuan teknologi yang ada.

Sistem inovasi dipahami sebagai kesatuan terintegrasi elemen- elemen yang

membangun sebuah ranah kreativitas, susunan, tatanan dan interelasi di antara

semuanya, untuk memproduksi ide kreatif dan produk inovatif (Piliang &

Darmawan, 2014, h.290). Sebagai aktivitas kreatif, seni tidak hanya ungkapan

individu, tetapi panggung sosial tempat dibangunnya pengalaman estetik bersama

(Munaf, Piliang, & Purnomo, 2016). Menurut Hadiyati (2011, h.11) inovasi

adalah sesuatu yang berkenaan dengan barang, jasa atau ide yang dirasakan baru

oleh seseorang, meskipun ide tersebut telah lama ada tetapi ini dapat dikatakan

suatu inovasi bagi orang yang baru melihat atau merasakannya.

Page 35: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

20

“…..Innovation is an idea, practice or object that is considered new by

the individual one adoption unit. Innovation is an activity that covers the

whole process of creating and offering good services or goods that are

new, better or cheaper than those previously available. By referring to

the above meanings, an innovation cannot develop under the status

quo.…”

Menurut Rogers (2003, h.12) inovasi adalah sebuah ide, praktek atau objek

yang dianggap baru oeleh individu satu unit adopsi lainnya. Inovasi adalah

kegiatan yang meliputi seluruh proses menciptakan dan menawarkan jasa atau

barang baik yang sifatnya baru, lebih baik atau lebih murah dibandingkan dengan

yang tersedia sebelumnya. Dengan merujuk pada pengertian-pengertian di atas,

maka sebuah inovasi tidak akan bisa berkembang dalam kondisi status quo.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa inovasi mempunyai atribut:

1) Relative Advantage atau keuntungan Relatif

Sebuah inovasi harus mempunyai keunggulan dan nilai lebih dibandingkan

dengan inovasi sebelumnya. Selalu ada sebuah nilai kebaruan yang melekat dalam

inovasi yang menjadi ciri yang membedakannya dengan yang lain.

2) Compatibility atau kesesuaian

Inovasi juga sebaiknya mempunyai sifat kompatibel atau kesesuaian dengan

inovasi yang digantinya. Hal ini dimaksudkan agar inovasi yang lama tidak serta

merta dibuang begitu saja, selain karena alasan faktor biaya yang tidak sedikit,

namun juga inovasi yang lama menjadi bagian dari proses transisi ke inovasi

terbaru. Selain itu juga dapat memudahkan proses adaptasi dan proses

pembelajaran terhadap inovasi itu secara lebih cepat.

Page 36: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

21

3) Complexity atau kerumitan

Dengan sifatnya yang baru, maka inovasi mempunyai tingkat kerumitan yang

boleh jadi lebih tinggi dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Namun

demikian, karena sebuah inovasi menawarkan cara yang lebih baru dan lebih baik,

maka tingkat kerumitan ini pada umumnya tidak menjadi masalah penting.

4) Riability atau kemungkinan dicoba

Inovasi hanya bisa diterima apabila telah teruji dan terbukti mempunyai

keuntungan atau nilai lebih dibandingkan dengan inovasi yang lama. Sehingga

sebuah produk inovasi harus melewati fase “uji publik”, dimana setiap orang atau

pihak mempunyai kesempatan untuk menguji kualitas dari sebuah inovasi.

5) Oservability atau kemudahan diamati

Sebuah inovasi harus juga dapat diamati, dari segi mana ia bekerja dan

menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

Dengan atribut seperti itu, maka inovasi merupakan cara baru menggantikan

cara lama dalam mengerjakan atau memproduksi sesuatu. Menurut Stephen

Robbins (1994), inovasi adalah suatu gagasan baru yang diterapkan untuk

memprakarsai atau memperbaiki suatu produk atau proses dan jasa. Inovasi adalah

pengembangan dan implementasi gagasan-gagasan baru oleh orang dimana dalam

jangka waktu tertentu melakukan transaksi-transaksi dengan orang lain dalam

suatu tatanan organisasi (Andrew & Ven, 2017). Pendapat lain dikemukakan

Urabe dkk. (2008), menyatakan bahwa Inovasi merupakan kegiatan satu kali

pukul (one time phenomenon), melainkan suatu proses yang panjang dan

Page 37: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

22

kumulatif yang meliputi banyak proses pengambilan keputusan oleh organisasi

dari mulai penemuan gagasan sampai implementasinya di pasar.

Michael West dan Farr (1990) yang dikutip king dan Anderson (2002, h.2)

mencirikan inovasi sebagai berikut: (1) Inovasi adalah suatu produk, proses atau

prosedur yang nyata di dalam organisasi; (2) Inovasi haruslah baru bagi latar

sosial tertentu di mana inovasi itu diperkenalkan; (3) Inovasi haruslah bersifat

intensional ketimbang aksidental; (4) Inovasi bukan suatu perubahan rutin; (5)

Inovasi harus bertujuan untuk menghasilkan manfaat bagi organisasi, individu

atau masyarakat yang lebih luas; (6) Inovasi haruslah memiliki efek terhadap

publik.

Menurut Hesselbein & Johnston penerjemah Michael Elwin Setiadi (2002),

ada tiga cara untuk menciptakan proses inovasi. Yang pertama adalah memulai

percakapan baru. Ide baru tidak mengikuti susunan organisasi. Perusahaan yang

serius akan inovasi harus menghancurkan “monopoli strategi” yang menghalangi

jajaran eksekutif dari ide baru yang muncul. Perusahaan yang berpikir inovasi

memunculkan percakapan baru dengan mengumpulkan para eksekutif dan

pegawai dari berbagai lapisan dan tingkatan untuk mempertanyakan peraturan

perusahaan dan mencari cara baru dalam melakukan bisnis. Yang ke dua adalah

mencari perspektif baru. Mencari sudut pandang baru dan melihat kesempatan

baru bermunculan. Yang ke tiga adalah keluarkan semangat baru. Selain dari

kepala, inovasi datang dari hati. Perusahaan yang tidak takut berinovasi

mengikutsertakan pegawai dengan cara dan metode yang berbeda. Ketika orang-

orang menjadi bagian dari tujuan dan bukan hanya penggerak, IQ (innovation

Page 38: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

23

quotient) mereka akan melonjak. Harris (2010) mengatakan bahwa dalam inovasi

dapat diciptakan nilai tambah. Oleh karenanya sebagian definisi dan inovasi

meliputi pengembangan dan implementasi sesuatu yang baru sedangkan istilah

“baru” bukan berarti original tetapi lebih ke newness (kebaruan). Inovasi adalah

mengkreasikan dan mengimplementasikan sesuatu menjadi satu kombinasi.

Pengertian perilaku inovatif adalah semua perilaku individu yang diarahkan

untuk menghasilkan, memperkenalkan, dan mengaplikasikan hal-hal baru yang

bermanfaat (Harris, 2010). Inovasi adalah implementasi yang berhasil dari ide-ide

kreatif. Menurut (Harris, 2010), terdapat dua dimensi yang mendasari perilaku

inovatif yaitu kreativitas dan pengambilan risiko bahwa semua inovasi diawali

dari ide yang kreatif. Kreativitas adalah kemampuan untuk mengembangkan ide

baru yang terdiri dari tiga aspek yaitu keahlian, kemampuan berpikir fleksibel,

imajinatif dan motivasi internal. Dalam proses inovasi, individu mempunyai ide-

ide baru berdasarkan proses berpikir imajinatif dan didukung oleh motivasi

internal yang tinggi. Inovasi yang berasal dari bahasa latin innovane yang berarti

“untuk membuat sesuatu yang baru”, dapat didefinisikan sebagai suatu proses

untuk merubah kesempatan menjadi ide-ide baru dan menjadikannya dapat

digunakan dalam praktik secara luas. Dari definisi ini dapat dipertegas bahwa

inovasi lebih dari sekedar mendapatkan ide-ide bagus, namun merupakan proses

untuk mengembangkan ide-ide tersebut menjadi penggunaan dalam praktik.

Inovasi dapat pula berarti kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam

rangka memecahkan persoalan-persoalan dan peluang untuk meningkatkan dan

memperkaya kehidupan (inovation is the ability to apply creative solutions to

Page 39: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

24

those problems and opportunities to enhance or to enrich people’s live).

Kreativitas adalah thinking new things (berpikir sesuatu yang baru) dan inovasi

adalah doing new things (melakukan sesuatu yang baru). Dapat dikatakan inovasi

merupakan aplikasi praktis dari kreativitas.

Dari berbagai pendapat ahli di atats, jika inovasi dikaitkan dengan musik,

maka inovasi musik merupakan ide atau pengenalan hal-hal baru serta

pengembangan ide-ide yang kreatif melalui unsur musiknya maupun

pembawaannya untuk menghasilkan sebuah aransemen, penemuan musik atau

genre musik baru yang berbeda dari sebelumnya. Inovasi musik berarti

menghasilkan, memperkenalkan, dan mengaplikasikan hal-hal baru yang ada pada

musik tersebut.

2.2.2 Musik

Menurut Martopo (2013, h.135) kata “musik” yang berasal dari mitologi

Yunani perlu dijelaskan sebagai kata bentukan dari kata bahasa Inggris: music=

muse + ic, sesuatu yang bersifat muse atau seni para muse (the art of the Muses).

Konon Muses adalah sebutan jamak dari para muse ialah para dewi nyanyian,

musik, tarian, dan ilmu pengetahuan yang berjumlah Sembilan, anak-anak dewa

Zeus (god) dan dewi Mnemosyne (memori). Menurut Jamalus, (1988, h.1), musik

merupakan bentuk suatu hasil karya seni bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi

musik yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-

unsur musik yaitu irama, melodi, harmoni, bentuk dan struktur lagu dan ekspresi

sebagai satu kesatuan. Seperti yang dikatakan Tarwiyah (2010), musik ialah

Page 40: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

25

ungkapan rasa indah manusia dalam bentuk suatu konsep pemikiran yang bulat,

dalam wujud nada-nada atau bunyi lainnya yang mengandung ritme dan harmoni.

Bagi pencipta musik, musik menjadi suatu luapan emosi jiwa, luapan

perasaan maupun pikiran oleh pencipta musik tersebut. Sedangkan seorang

penikmat musik, mereka mendengarkan musik agar merasa lebih nyaman, rileks,

atau sebagai penyemangat dalam beraktivitas seperti halnya yang terjadi pada

berbagai jenis tarian, pembentukan watak manusia, pengisi waktu yang

bermanfaat, bahkan menjadi alat untuk mencapai kemajuan dan kebahagiaan

rohani pada manusia

Sedangkan seni musik adalah suatu tiruan seluk beluk hati dengan

menggunakan melodi dan irama (Sanjaya, 2013, h.185). Seni musik merupakan

hasil ciptaan manusia. Bermula dengan ciptaan bunyi- bunyian mulut, penggunaan

anggota badan seperti tangan dan kaki dalam menghasilkan bunyi-bunyian

(Abdullah, Bakar, & Annuar, 2013). Musik di masa lalu bukan hal yang

menyenangkan, tetapi tumbuh, berkembang dan berubah dengan keadaan yang

berubah (Stubington, 1987). Musik memiliki beberapa unsur yaitu irama, melodi,

harmoni, dan ekspresi.

2.2.2.1 Irama

Menurut Jamalus (1988, h.7) Irama adalah urutan rangkaian gerak yang

menjadi kesatuan unsur dalam musik dan tari. Irama dalam musik terbentuk dari

sekelompok bunyi dengan berbagai macam panjang dan pendeknya ketukan,

kemudian membentuk pola irama menurut pola ayunan birama. Soeharto (1992,

h.71) menyatakan bahwa irama dalam musik terbentuk oleh bunyi dan diam,

Page 41: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

26

dengan bermacam- macam lama panjang atau pendeknya, membentuk pola irama,

bergerak menurut pulsa dan ayunan irama. Irama dapat dirasakan dan didengar.

Jadi irama adalah suatu urutan rangkaian gerak yang teratur yang membuat lagu

menjadi lebih baik untuk didengarkan dan dirasakan.

2.2.2.2 Melodi

Melodi adalah unsur musik yang juga pertama digunakan oleh orang-orang

primitif dalam berkata-kata dengan mengolah tinggi rendah suaranya dalam

berbagai pola (Martopo, 2013, h.135). Menurut Jamalus (1988, h.7) melodi adalah

susunan rangkaian nada (bunyi dengan getaran teratur) yang terdengar berurutan

serta berirama dan mengungkapkan suatu pkiran dan perasaan. Menurut Soeharto

(1992, h.1), melodi adalah rangkaian dari beberapa atau sejumlah nada yang

berbunyi atau dibunyikan secara berurutan. Menurut Ratner (1977, h.29), melodi

adalah suatu garis dari berbagai nada. Melodi dapat bergerak naik dan turun serta

dapat juga tetap di tempatnya untuk waktu yang lama maupun singkat dalam suatu

nada, melodi juga memiliki wilayah nada yang luas dan juga ada yang sempit.

Dari berbagai pengertian para ahli di atas, dapat dikatakan bahwa melodi

adalah susunan rangkaian nada yang dibunyikan secara teratur dan memiliki

wilayah nada yang luas.

2.2.2.3 Harmoni

Menurut Jamalus (1988, h.38) harmoni atau paduan nada adalah bunyi

gabungan dua nada atau lebih, yang berbeda tinggi rendahnya dan dibunyikan

secara serentak. Trinada adalah dasar dari paduan nada tersebut. Paduan nada

tersebut merupakan gabungan tiga nada yang terdiri atas satuan nada dasar akor,

Page 42: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

27

nada terts dan nada kwintnya. Kodijat (1986, h.32) menyatakan bahwa harmoni

adalah selaras, sepadan, bunyi serentak menurut harmoni, yaitu pengetahuan

tentang hubungan nada-nada dalam akor, serta hubungan antara masing-masing

akor. Miller (2001, h.48) mengatakan bahwa harmoni adalah elemen musik yang

didasarkan atas penggabungan secara simultan dari nada-nada, sebagaimana

dibedakan oleh rangkaian nada-nada dari melodi. Melodi merupakan sebuah

konsep horizontal, sedangkan harmoni adalah konsep vertikal.

Dari berbagai macam pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa harmoni

merupakan cabang ilmu pengetahuan musik yang membahas tentang paduan

nada-nada lebih dari satu yang biasanya terdapat penggabungan nada yang

membentuk susunan akor yang memiliki keindahan.

2.2.2.4 Ekspresi

Menurut Jamalus (1988, h.38), ekspresi dalam musik ialah ungkapan

pemikiran dan perasaan yang mencakup semua suasana dari tempo, dinamika dan

warna nada dari unsur-unsur pokok musik, dalam penyampaiannya yang

diwujudkan oleh pemain musik atau penyanyi yang kemudian disampaikan

kepada pendengarnya. Unsur ekspresi tersebut meliputi:

1) Tempo

Menurut Soeharto (1992, h.56), tempo adalah kecepatan lagu yang dituliskan

berupa kata-kata dan berlaku untuk seluruh lagu dan istilah itu ditulis pada awal

penulisan lagu atau partitur sebuah lagu. Fungsi dari tempo dimaksudkan untuk

mempermudah pemain musik atau penyanyi dalam memainkan atau menyanyikan

sebuah lagu yang ada. Menutut Miller (penerjemah Bramantyo, 2001, h.4), tempo

Page 43: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

28

adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Italy yang secara harfiah berarti

waktu, di dalam musik menunjukkan pada kecepatan.

Dari berbagai macam pendapat para ahli di atas, dapat dikatakan bahwa

tempo adalah kecepatan sebuah lagu atau musik yang ditulis di bagian awal

partitur lagu yang berfungsi untuk mempermudah seorang pemain musik atau

penyanyi dalam menyanyikan sebuah lagu.

2) Dinamika

Menurut Soeharto (1992, h.30), dinamika adalah suatu kekuatan bunyi dan

tanda dinamik adalah tanda untuk menyatakan kuat lemahnya penyajian sebuah

bunyi. Dinamika mempunyai peranan yang besar dalam menciptakan suasana

musik atau ketegangan yang dihasilkan musik tersebut, karena dengan dinamika

sebuah lagu atau karya musik dapat menambah keindahannya. Pada dasarnya

semakin keras suatu musik, maka semakin kuat tegangan yang dihasilkan begitu

pula sebaliknya, semakin lembut musik yang didengar, semakin lembut pula

ketegangannya (Miller penerjemah Bramantyo, 2001, h.81). Sedangkan menurut

Jamalus (1988, h.90) dinamika adalah tanda yang fungsinya untuk menyatakan

besar kecilnya, atau keras lunaknya dan perubahan-perubahan keras lunak dari

nada atau suara itu.

Dari berbagai pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa

dinamik adalah keras lembutnya suara untuk menciptakan suasana musik agar

musik terlihat lebih indah yang dilambangkan dengan tanda dinamik.

Page 44: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

29

2.2.3 Musik Ska

Musik ska adalah genre musik yang berasal dari Jamaika pada akhir 1950-

an, dan merupakan pendahulu rocksteady dan reggae. Musik ska adalah musik

hasil dari pleburan beberapa genre yaitu Jazz Calypso, Mento, R&B dan Boogie

Woogie. Ska telah menjadi genre musik yang ditandai oleh akulturasi fisik dan

budaya keterbukaan untuk meminjam dari luar asalnya. Sejarah ska berjalan

melintas batas-batas negara dan berintegrasi dengan gaya musik lainnya,

menjadikan salah satu bentuk musik yang popular pasca perang (Traber, 2013).

Pada awal 1960-an, ska adalah genre musik yang dominan di Jamaika dan popular

di kalangan para masyarakat di Britania Raya. Musik ini kemudian populer di

kalangan Skinhead. Sejarah Ska umumnya dibagi menjadi tiga periode: Ska asli

Jamaika dari tahun 1960-an (gelombang pertama), kebangkitan Ska 2 Tone

Inggris pada akhir 1970-an (gelombang kedua), dan gerakan Ska gelombang

ketiga yang dimulai pada 1980-an, dan meraih kepopuleran di Amerika Serikat

pada tahun 1990-an (Traber, 2013).

Rocksteady merupakan salah satu genre musik yang berasal dari Jamaika.

Jenis musik ini berawal dari ska yang dibuat lebih halus tapi tidak seperti reggae

yang pelan dan santai. Reggae adalah penerus jenis musik rocksteady. Nama

rocksteady ini muncul dari lagu Alton Ellis "Rock Steady". Genre musik ini

muncul ketika warga-warga desa di Jamaika berhijrah dari daerah pedesaan dan

masuk ke kota-kota. Di Ghetto di kota-kota seperti misalkan Kingston, para

pemuda menyanyikan lagu-lagu dengan irama rocksteady (Traber, 2013).

Page 45: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

30

2.2.4 Musik Keroncong

Di antara berbagai musik di Indonesia, musik keroncong merupakan salah

satu jenis musik yang digemari, terutama di kalangan oang- orang tua di masa

sekarang. Di dalam perkembangan dan sejarah musik kerocong banyak pendapat

yang bermunculan yang menyatakan bahwa musik keroncong diawali dan

diperkenalkan di abad ke-16. Pada saat itu ketika bangsa Portugis membuka

hubungan perdagangan dengan Indonesia yaitu perdagangan rempah-rempah serta

memonopoli perdagangan lokal. Bangsa Portugis bertempat di daerah pesisir-

pesisir kota di berbagai pulau termasuk Jakarta (Ganap, 2006). Dalam

perkembangannya musik keroncong baru dilakukan pada awal abad ke-20, ketika

itu musik dan lagu-lagu keroncong dimainkan tanpa menggunakan partitur dan

hanya mengandalkan improvisasi saja (Prakosa & Haryono, 2012). Musik

keroncong lahir dari musik jenis hiburan meliputi stambul gambang, gambus,

joget dan langgam. Suatu bentuk permainan ansambel yang dinamis karena dapat

dipentaskan sambil berjalan seperti musik troubadour di Perancis (Martopo,

2003).

Keroncong adalah suatu bagian dari seni musik seperti halnya cabang-

cabang seni musik yang lain, misalnya: musik gamelan, musik angklung, musik

klasik, musik jazz atau bentuk-bentuk musik yang lain (Budiman, 1979, h.1).

Menurut Ganap (2011), secara musikologis keroncong termasuk dalam kategori

musik popular karena tumbuh dan berkembang pada masa sekarang.

Orkes keroncong adalah orkes yang memainkan lagu-lagu keroncong, dan

pada masa-masa sekarang ini biasanya terdiri dari kurang lebih tujuh orang

Page 46: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

31

pemain musik, mereka bergabung menjadi satu kelompok untuk memainkan alat-

alat musik, antara lain : (1) Keroncong (ukulele); (2) Keroncong cak (banyo); (3)

Cello; (4) Gitar Melodi; (5) Bass; (6) Flute (Seruling); (7) Biola. Sebagai

ketentuan sebagai orkes keroncong apabila ada orkes yang tidak atau tanpa

menggunakan alat musik yang namanya keroncong (ukulele), itu bukan orkes

keroncong (Budiman, 1979, h.1-2). Pernyataan Budiman memberikan pemahaman

bahwa musik keroncong dikatakan sebagai keroncong apabila dalam susunan

pemainnya terdapat alat musik keroncong (ukulele). Karena menurut beliau

ukulele adalah nyawa atau dasar dari musik keroncong tersebut.

Menurut Harmunah (1987, h.16) ciri-ciri musik keroncong meliputi bentuk,

harmoni, ritme, alat keroncong dan pembawaan.

2.2.4.1 Bentuk

Pada perkembangan musik keroncong muncul beberapa jenis atau bentuk

musik keroncong, antara lain keroncong asli, langgam, stambul serta lagu ekstra.

1) Keroncong Asli

Bentuk musik keroncong asli mempunyai jumlah birama 28 tanpa intro dan

coda. Keroncong asli mempunyai sukat 4/4 dengan bentuk kalimat A-B-C dan

dinyanyikan dua kali. A merupakan bagian angkatan (permulaan), B merupakan

bagian ole-ole atau refrain (tengah) dan C merupakan senggaan (akhir).

Keroncong asli selalu ada intro dan coda. Intro merupakan improvisasi tentang

akor I dan V, yang diakhiri dengan akor I dan ditutup dengan kadens lengkap

yang disebut juga dengan istilah “overgang” atau lintas akor yaitu I – IV – V - I.

Sedangkan coda juga berupa kadens lengkap. Pada tengah lagu ada interlude,

Page 47: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

32

yang disebut juga dengan istilah “middle spell” atau “senggaan”, yaitu pada

birama ke sembilan dan ke sepuluh. Contoh lagu keroncong asli adalah Kr.

Sapulidi, Kr. Kemayoran dan lain-lain.

2) Langgam

Bentuk musik keroncong langgam mempunyai jumlah birama 32 birama

tanpa intro dan coda. Keroncong langgam mempnyai sukat 4/4 dengan bentuk

kalimat A-A-B-A. Lagu biasanya dibawakan dua kali, ulangan kedua bagian

kalimat A-A dibawakan secara instrumental, vokal baru masuk pada bagian

kalimat B, dan dilanjutkan A. Intro biasanya diambilkan empat birama terakhir

dari lagu langgam tersebut, sedangkan coda berupa kadens lengkap. Contoh lagu

keroncong langgam adalah Lgm. Rangkaian Melati, Lgm. Pagi Hari dan lain-lain.

3) Stambul I

Bentuk musik keroncong stambul I mempunyai Jumlah birama 16 birama

dengan sukat 4/4 serta bentuk kalimat A-B. keroncong stambul I bersyair secara

improvisatoris. Intro merupakan improvisasi dengan peralihan dari akor tonika ke

akor sub-dominan. Jenis stambul I sering berbentuk musik dan vokal saling

bersatuan, yaitu dua birama instrumental dan dua birama berikutnya diisi oleh

vokal, demikian seterusnya sampai lagu berakhir. Contoh lagu stambul I adalah

Stb. I Jampang, Stb. I Terang Bulan dan lain-lain.

4) Stambul II

Bentuk musik keroncong stambul II mempunyai jumlah birama dua kali 16

birama. Sukat 4/4 dengan bentuk kalimat A-B. Keroncong stambul II bersyair

secara improvisatoris. Intro merupakan improvisasi dengan peralihan dari akor

Page 48: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

33

tonika ke akor sub-dominan, sering berupa vokal yang dinyanyikan secara

recitative, dengan peralihan dari akor I ke akor IV, tanpa iringan. Contoh lagu

stambul II adalah Stb. II Ukir-ukir.

5) Lagu ekstra/khusus

Bentuk musik keroncong lagu ekstra/khusus berbeda dari ketiga jenis

keroncong lainnya. Lagu ekstra lebih bersifat merayu, riang gembira dan jenaka.

Jenis musik ini sangat terpengaruh oleh bentuk lagu-lagu tradisional. Contoh lagu

keroncong ekstra adalah Jali-jali.

2.2.4.2 Harmoni

1) Keroncong Asli

Dalam tangga nada mayor ciri-ciri umum harmonisasinya adalah tetap, yaitu

membentuk kadens lengkap I – IV – V – I, dan modulasi II - V, dan hampir selalu

setelah modulasi ke dominan dilanjutkan dengan akor IV.

Skema harmonisasi (chord progression) keroncong asli sebagai berikut:

Introduksi

I - - - I - - - V - - - V - - -

II - - - II - - - V - - - V - - -

V - - - V - - - IV - - - IV - - -

IV - - - IV- V- I - - - I - - -

V - - - V - - - I - - - IV- V-

I - - - IV- V- I - - - I - - -

V - - - V - - - I - - - I - - - Coda.

Page 49: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

34

2) Langgam

Dalam tangga nada mayor, dan tangga nada yang diarahkan dari musik

daerah, ciri-ciri harmonisasinya hampir sama dengan jenis keroncong asli, yaitu

membentuk kadens lengkap I – IV – V – I, dan modulasi II – V atau ii – V.

Skema dari harmonisasinya adalah sebagai berikut:

Introduksi

I - - - IV- V- I - - - I - - -

V - - - V - - - I - - - I - - -

I - - - IV- V- I - - - I - - -

V - - - V - - - I - - - I - - -

IV - - - IV - - - I - - - I - - -

II - - - II - - - V - - - V - - -

I - - - IV- V- I - - - I - - -

V - - - V - - - I - - - I - - - Coda.

3) Stambul

Dalam tangga nada mayor, ciri-ciri harmonisasinya adalah membentuk

kadens lengkap yaitu I – IV – V – I. Untuk introduksi adalah akor I dengan

peralihan ke akor IV.

Skema harmonisasi dari stambul I adalah sebagai berikut:

Introduksi

IV - - - IV - - - I - - - I - - -

V - - - V - - - I - - - I - - -

IV - - - IV - - - I - - - I - - -

V - - - V - - - I - - - I - - - Coda.

Page 50: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

35

Skema harmonisasi dari stambul II adalah sebagai berikut:

Introduksi

IV - - - IV - - - IV - - - IV- V-

I - - - IV- V- I - - - I - - -

V - - - V - - - V - - - V - - -

I - - - IV- V- I - - - I - - -

Diulang dua kali kemudian Coda.

2.2.4.3 Ritme

Menurut Harmunah (1987, h.20), di dalam musik keroncong, jenis alat

musik yang berperan sebagai pengiring dan pemegang ritmis adalah alat-alat

musik ukulele, banyo, cello dan bass.

Skema pola ritme alat musik keroncong:

Skema tersebut merupakan skema dasar, dapat diganti atau diimprovisasi,

misalnya seperti berikut:

Gambar 2.1 Skema Dasar Pola Ritme Alat Musik Keroncong

(Sumber: Buku Harmunah 1987, h.20)

Gambar 2.2 Improvisasi Pola Ritme Alat Musik Keroncong

(Sumber: Buku Harmunah 1987, h.20)

Page 51: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

36

2.2.4.4 Alat Musik Pengiring Keroncong

Alat musik keroncong asli yang dipakai sebagai ukuran adalah tujuh

macam, yaitu: biola, flute (seruling), gitar, ukulele, banyo (cak, atau cak tenor),

cello, bass. Jadi apabila sudah ada ketujuh macam alat musik keroncong ini, maka

permainan musik keroncong sudah dapat dikatakan lengkap. Untuk peranan

masing-masing alat sebagai pemegang melodi adalah biola dan flute (seruling).

Sebagai pengiring adalah gitar, ukulele, banyo, cello, dan bass.

Berikut adalah fungsi dari setiap alat musik keroncong beserta stemnya:

1) Biola

Biola termasuk warga instrumen tali gesek, yang badannya terdiri dari leher

dan almari nada. Leher Biola tersusun atas kurukul (krul), almari sekrup dan

papan (toets). Almari nada atau corpus terdiri dari daun muka, daun belakang, tepi

atas, tengah, dan bawah. Jadi terdiri atas tiga lapisan. Biola berfungsi sebagai

pemegang melodi dan sebagai kontrapunk dari vokal dengan imitasi-imitasinya.

Biola ini bertali empat, dengan stem nada: g – d’ – a ’– e’’.

2) Flute (seruling)

Flute termasuk instrumen tiup kayu, yang mempunyai ambitus nada c’ sampai

dengan c’’’’. Fungsi alat ini sebagai pemegang melodi seperti alat Biola, dan

mengisi kekosongan selain untuk intro dan coda. Seruling ini ada yang terbuat

dari kayu, bambu, maupun logam.

3) Gitar

Alat ini termasuk instrumen petik (keluarga instrumen tali), jadi agak berbeda

dengan biola yang termasuk instrumen gesek. Fungsi alat ini sebagai pengiring,

Page 52: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

37

tetapi dapat pula sebagai pembawa melodi. Gitar ini bertali enam, dengan stem

nada: E – A – d – g – b – e’. Tali atau senar terbuat dari bahan logam.

4) Ukulele

Alat ini termasuk instrumen tali petik, dan berfungsi sebagai pemegang ritmis,

bertali empat dengan stem nada g’’ – c’’ – e’’ – a’’, yang disebut Ukulele stem A.

Tetapi ada pula yang bertali tiga dengan stem nada g’’ – b’ – e’’, yang selanjutnya

disebut ukulele stem E. Tali/senar terbuat dari bahan nilon.

5) Banyo

Alat banyo ini dalam keroncong sering disebut dengan nama cak atau cak

tenor. Sama dengan alat ukulele, termasuk keluarga instrumen tali petik, dan

dalam musik keroncong berfungsi sebagai pemegang ritmis pula. Alat ini bertali

tiga, dengan stem nada g’’ – b’ – e’’ atau g’ – b’ – e’’, yang selanjutnya disebut

banyo stem E, sedangkan banyo B, dengan stem nada d’’ – fis’ – b’.

6) Cello

Cello merupakan alat musik sekeluarga dengan biola, hanya bentuknya lebih

besar. Alat ini berfungsi sebagai pemegang ritmis, bertali tiga dengan stem nada C

– G – d, ada pula yang mempergunakan stem D – G – d, dengan maksud

mempermudah permainan atau cara bermain. Tali mempergunakan bahan dari

nilon atau dari kulit sapi yang disebut “jangat”. Cello ini dimainkan dengan cara

dipetik, jadi bukan digesek biarpun alat ini termasuk alat gesek. Biasanya dipetik

secara pizzicato dengan jari telunjuk dan ibu jari.

Page 53: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

38

7) Bass

Bass atau Contrabass termasuk juga keluarga instrumen tali dan mempunyai

leher yang lebih pendek dari pada biola atau cello. Tepi-tepinya lebih besar dan

nampak tidak menonjol bila dilihat dari belakang. Bass berfungsi sebagai

pengendali ritmis, bertali empat dengan stem nada E – A – D – G, dan ada pula

yang hanya mempergunakan tiga tali dengan stem nada A – D – G. Tali terbuat

dari bahan nilon ataupun jangat (kulit sapi).

2.2.4.5 Pembawaan

1) Biola

Pada umumnya permainan biola disengaja dengan intonasi yang kurang

murni. Pada saat sebuah nada (panjang) dibunyikan, sengaja diambil nada yang

sedikit lebih rendah, kemudian dinaikkan ke atas dengan glissando. Dengan

demikian biola menirukan pembawaan vokal yang mempergunakan teknik yang

sama, yaitu portamento. Lagu yang dimainkan biola umumnya merupakan imitasi

dari lagu vokal dengan banyak improvisasi serta introduksi dan coda.

2) Flute

Pembawaan dari alat tiup flute pada umumnya banyak membunyikan deretan

interval dengan tekanan pada nada bawah sedangkan nada atas diperpendek

(staccato), atau sebaliknya. Juga nada-nada glissando. Selain itu juga introduksi

dan coda.

3) Gitar

Pembawaan dari alat ini mengikuti tangga nada dan lompatan sedikit naik atau

turun, artinya lebih kurang diatonis. Dan merupakan uraian dari akor yang sedang

Page 54: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

39

dibawakan dengan nilai nada 1/8 atau 1/16 untuk ritmenya, dan mempergunakan

harga nada 1/32 untuk pembawaan ritme yang rangkap. Jangkauan nadanya tidak

hanya pada suara tengah saja, tetapi bergerak ke atas maupun ke bawah. Pada

permainan dengan nada 1/8, sering terjadi permainan singkup atau triol.

4) Ukulele

Pembawaan dari alat ini dipetik secara arpeggio atau menurut istilah dalam

teknik permainan gitar disebut “rasgueado” (Spanyol), dengan alat plecktrum.

Pada tahun 1958 dikembangkan dengan cara permainannya oleh Bapak

Abdulrazak, seorang pemain keroncong dari Orkes Studio RRI Surakarta, dari

permainan rasgueado menjadi petikan repetisi pada satu senar berdasarkan akor

yang dibawakan. Rasgueado dimainkan pada pukulan tertentu yaitu pukulan

pertama dan ketiga. Iramanya tenang dan ajeg, dengan sedikit kebebasan

perkembangan akor.

5) Banyo

Pembawaan alat ini sebagai pengisi antara pukulan ritmis dari ukulele, jadi

pada pukulan singkup. Akor yang dimainkan mungkin merupakan suatu petikan

rasgueado dalam setiap pukulannya. Sering alat ini hanya memperguunakan satu

senar saja, yang dipetik satu-satu dengan maksud untuk mengimbangi pukulan

ukulele yang dimainkan secara rasgueado.

6) Cello

Pembawaan dari cello menirukan suara pukulan kendang batangan, dan

mengisi kekosongan di antara pukulan ritmis dari alat bass. Untuk irama

Page 55: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

40

keroncong, alat ini tidak pernah digesek, tetapi dipetik secara pizzicato. Cello

memainkan uraian nada dari akor yang sedang dibawakan.

7) Bass

Alat ini membawakannya secara dipetik, dan memainkan nada bass dan

contra-nya dari akor yang sedang dibawakan. Ketepatan ritme dalam setiap

petikan sangat dibutuhkan, atau dengan kata lain, attack harus tepat. Dapat pula

terjadi bass memainkan filler, yaitu mengisi istirahat, terutama pada peralihan

akor tonika ke sub-dominan, atau ke dominan.

Untuk pembawaan dari ukulele, banyo, dan cello, permainannya kadang-

kadang dapat digandakan pola ritmenya dan disebut dengan istilah “Permainan

rangkap”, dengan dasar untuk menumbuhkan rasa yang lebih hidup, lincah, dan

gembira. Tetapi permainan rangkap ini tidak dibenarkan dalam mengiringi lagu

jenis stambul II, karena sifatnya lebih halus dan feminine.

8) Vokal

Bernyanyi keroncong itu bisa dibilang susah, karena tidak semua orang bisa

bernyanyi keroncong dengan baik dan benar. Menurut Budiman (1979, h.17) ,

menyatakan bahwa penyanyi keroncong itu harus menjiwai lagu- lagu yang

dibawakannya, dengan baik dan juga luwes. Luwes dalam arti kata penyanyi harus

dapat menempatkan lekuk-lekuk keroncong dan gayanya yang khas itu. Menurut

Harmunah (1987, h.29), menyatakan bahwa penyanyi tidak boleh menyanyikan

persis seperti apa yang tertulis dalam part lagu, tetapi dituntut untuk bisa

bervariasi dengan cengkok dan gregel dengan luwes dan baik, juga dalam teknik

pembawaan tentang dinamika.

Page 56: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

41

Ada beberapa jenis musik keroncong yang menyebabkan gaya bernyanyi

berbeda. Pembawaan vokal berdasarkan jenis-jenis musik keroncong menurut

Harmunah (1987, h.30-31):

a) Pembawaan Vokal dalam Keroncong Asli

Pembawaan melodi dan syairnya bersifat improvisatoris, bercengkok dan

gregel, juga secara portamento, sedangkan ritme sering tidak pas pada pukulan

yang seharusnya, dalam istilah keroncong disebut “nggandul” (bahasa Jawa).

Pembawaan keroncong asli bersifat gagah dengan tempo Andante atau Moderato.

b) Pembawaan Vokal dalam Stambul II

Pembawaan melodi dan syairnya secara improvisatoris, selaras dengan

pembawaan keroncong asli, dengan cengkok dan gregel. Bersifat halus dan

lembut, serta mengharukan dan penuh percintaan dengan tempo Andante.

c) Pembawaan Vokal dalam Langgam Keroncong

Sifat pembawaannya lebih mudah dari pada keroncong asli dan stambul II,

karena tanpa cengkok dan gregel. Serupa dengan sifat pembawaan lagu hiburan

Indonesia dengan tempo Andante dan Moderato.

2.2.5 Musik Ska Keroncong

Musik ska adalah genre musik yang berasal dari Jamaika pada akhir 1950-

an, dan merupakan pendahulu rocksteady dan reggae. Musik ska adalah musik

hasil dari pleburan beberapa genre yaitu Jazz Calypso, Mento, R&B dan Boogie

Woogie (Traber, 2013). Sedangkan musik keroncong adalah musik yang ada sejak

abad ke-16. Awalnya musik keroncong ini dibawa oleh bangsa Portugis yang

datang ke Indonesia (Ganap, 2006). Musik ska keroncong adalah sebuah inovasi

Page 57: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

42

musik yang dilakukan oleh salah satu band dari Bandung bernama “Sir’iyai”.

Musik ska keroncong merupakan penggabungan antara dua genre musik yakni

musik ska dan musik keroncong. Alat musik yang digunakan adalah

penggabungan alat musik band, alat musik keroncong dan alat musik tiup atau

brass section yang menjadi ciri khas musik ska. Pola permainan ska keroncong

adalah pola permainan musik ska yang ditambah alat musik keroncong seperti

cak, cuk, cello dan flute. Pola permainan alat musik keroncong yang dimainkan

merupakan pola permainan keroncong pada umumnya di mana terdapat pola

engkel dan dobel. Alat musik band yang digunakan sama seperti alat musik band

pada umumnya yaitu drum, gitar elektrik dan bass elektrik. Kemudian brass

section meliputi trumpet, trombon, alto saxophone dan tenor saxophone.Sir’iyai

mengatakan genre musik ini bisa juga dikatakan “Jamaican Sound Keroncong”

karena musik ska tersebut merupakan musik yang berasal dari Jamaika.

2.2.6 Pelestarian

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pelestarian berasal dari

kata dasar lestari, yang artinya adalah tetap selama-lamanya tidak berubah.

Kemudian dalam buku EYD penulisan Bahasa Indonesia yang benar,

menerangkan bahwa arti dari penggunaan awal pe- dan akhiran –an mengandung

arti proses. Maka dapat diartikan bahwa pelestarian adalah upaya atau proses

untuk membuat sesuatu tetap selama-lamanya tidak berubah. Atau dalam

pengertian singkat yaitu sebagai upaya mempertahankan sesuatu supaya tetap

sebagaimana adanya.

Page 58: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

43

Menurut Pontoh (1992) menyatakan bahwa konsep awal pelestarian adalah

konservasi, yaitu upaya melestarikan dan melindungi sekaligus memanfaatkan

sumber daya suatu tempat dengan adaptasi terhadap fungsi baru, tanpa

menghilangkan makna kehidupan budaya. Alwasilah (2006, h.18) mengatakan

bahwa pelestarian adalah sebuah upaya yang mendasar, dan dasar ini disebut juga

faktor-faktor yang mendukungnya baik dari dalam maupun dari luar hal yang

dilestarikan. Maka dari itu, sebuah proses atau tindakan pelestarian mengenal

strategi ataupun teknik yang didasarkan pada kebutuhan dan kondisinya masing-

masing.

Ranjabar (2006, h.115) menyatakan bahwa pelestarian sebagai kegiatan

atau yang dilakukan secara terus menerus, terarah dan terpadu guna mewujudkan

tujuan tertentu yang mencerminkan adanya sesuatu yang tetap dan abadi, bersifat

dinamis, luwes dan selektif. Pelestarian norma lama bangsa (budaya lokal) adalah

mempertahankan nilai-nilai seni budaya, nilai tradisional dengan mengembangkan

perwujudan yang bersifat dinamis, serta menyesuaikan dengan situasi dan kondisi

yang selalu berubah dan berkembang. Soekanto & Soemarjan (1969)

mengemukakan bahwa kelestarian tidak mungkin berdiri sendiri, oleh karena

senantiasa berpasangan dengan perkembangan, dalam hal ini kelangsungan hidup.

Kelestarian merupakan aspek-aspek stabilisasi kehidupan manusia, sedangkan

kelangsungan hidup merupakan pencerminan dinamika.

2.2.7 Upaya Pelestarian

Upaya menurut Malik Syifa (2012) dalam (Wuri, Wimbrayardi, & Marzam,

2015) , usaha dapat didefinisikan sebagai upaya untuk menciptakan, menambah

Page 59: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

44

dan mengembangkan sesuatu dengan tujuan merubah keadaan supaya menjadi

lebih baik. Upaya pelestarian kesenian tradisional ditujukan terutama untuk

mempertahankan apa yang telah menjadi milik budaya tertentu, maka upaya

pengembangan bertujuan untuk membuat tradisi seni yang bersangkutan tidak saja

tetap hidup melainkan juga tetap tumbuh (Wuri dkk., 2015).

Indonesia mempunyai beragam budaya dan kesenian tradisional. Kesenian

tradisional di Indonesia terbagi menjadi berpuluh-puluh kesenian daerah yang

terdiri dari seni rakyat dan seni klasik (Sinaga, 2001, h.73). Potensi seni budaya

sebagai kearifan lokal sangat berperan penting dalam upaya mengusung

kebudayaan nasional, maka sewajarnya potensi seni yang dimiliki oleh daerah

perlu diperhatikan pelestarian dan pengembangannya oleh instansi terkait

(Wikandia, 2016). Melestarikan kebudayaan sebenarnya mudah, misal dengan

cara mendalami atau paling tidak mengetahui kebudayaan itu sendiri (Khutniah,

2012). Kebudayaan selalu elastis dan lebih bersifat adaptif, oleh karenanya tidak

ada sebuah kebudayaan yang mandek kecuali pendukungnya musnah tanpa sisa

(Wiyoso, 2007, h.3). Kesenian akan ikut selalu berubah dan berkembang bila

kebudayaannya juga selalu bersikap terbuka terhadap perubahan dan inovasi

(Laksono, Purba, & Hapsari, 2015). Pemertahanan atau pelestarian musik popular

sangat erat kaitannya dengan pengarsipan. Tersedianya tempat untuk kegiatan

pengarsipan ini sangat penting, tempat tersebut dapat dijadikan konsumsi publik

untuk mengenalkan musik popular sebagai salah satu upaya mempertahankan

kebudayaan (Baker & Huber, 2013). Pemertahanan atau pelestarian musik yang

ada di masa lalu dapat menginspirasi masa kini dalam hal pemikiran ekstra

Page 60: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

45

musikal (White, 1996). Menutut Howard & Others (2016), pemertahanan budaya

dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan media elektronik

(penyiaran) maupun dengan media pendidikan. Dengan memperkenalkan budaya

pada media elektronik dan media pendidikan masyarakat akan mengetahui tentang

budaya yang kita miliki, sehingga dapat bekerja sama dalam pemertahanan

budaya tersebut.

Berdasarkan Peraturan menteri dalam negeri nomor 52 tahun 2007 tentang

pedoman pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan nilai sosial budaya

masyarakat pasal 3 yang berbunyi: Pelestarian dan pengembangan adat istiadat

dan nilai sosial budaya masyarakat dilakukan dengan (1) konsep dasar; (2)

program dasar; (3) strategi pelaksanaan. Kemudian dalam pasal 4 yang berbunyi

tentang: Konsep dasar sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 huruf a meliputi: (1)

Pengakomodasian keanekaragaman lokal untuk memperkokoh kebudayaan

nasional; (2) Penciptaan stabilitas nasional di bidang idiologi, politik, ekonomi,

sosial budaya, agama maupun pertahanan dan keamanan sosial; (3) Menjaga,

melindungi dan membina adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat; (4)

Penumbuhkembangan semangat kebersamaan dan kegotongroyongan; (5)

Partisipasi, kreativitas, dan kemandirian masyarakat; (6) Media

menumbuhkembangkan modal sosial; (7) Terbentuknya komitmen dan kepedulian

masyarakat yang menjunjung tinggi nilai sosial budaya.

Upaya pelestarian mengakibatkan suatu kebudayaan mengalami proses

pengembangan. Seperti yang dijabarkan menurut Sedyawati (1981, h.112-118)

menggambarkan secara vertikal perkembangan musik yang terjadi di Indonesia

Page 61: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

46

dalam lima tahapan yaitu: 1) kehidupan yang terpencil dalam wilayah-wilayah

etnik, 2) masuknya pengaruh-pengaruh luar sebagai unsur asing, 3) penembusan

secara sengaja atas batas-batas kesukuan (etnik), 4) gagasan mengenai

perkembangan musik untuk taraf nasional, 5) kedewasaan baru yang ditandai oleh

pencarian nilai-nilai.

Menurut Sedyawati (2008, h.208) strategi pewarisan kebudayaan berkenaan

dengan dua aspeknya, yaitu (1) kelembagaan dan, (2) sumber daya manusia.

Kelembagaan di sini dapat diartikan sebagai pendidikan formal dan non formal,

selain itu juga ada bidang kepariwisataan dan industri budaya. Sedangkan sumber

daya manusia merupakan masyarakat dengan berbagai peran di dalamnya,

misalnya sebagai pelaku dalam penerusan nilai-nilai, sumber keahlian, dan

contoh-contoh kemahiran dalam aspek-aspek budaya khusus (Sedyawati 2008,

h.210). Sedyawati (2008) mengutarakan upaya-upaya pelestarian budaya yang

dapat ditempuh, antara lain: (1) Pendokumentasian secermat mungkin dengan

menggunakan berbagai media yang sesuai, hasil dokumentasi ini selanjutnya

dapat menjadi sumber acuan, tentunya apabila disimpan di tempat yang aman dan

diregistrasi secara sistematis dengan kemungkinan penelusuran yang mudah; (2)

Pembahasan dalam rangka penyadaran, khususnya mengenai nilai-nilai budaya,

norma, dan estetika; (3) Pengadaan acara penampilan yang memungkinkan orang

“mengalami” dan “menghayati”. Batasan pengertian mengenai ”pelestarian

budaya” yang dirumuskan dalam draft RUU tentang kebudayaan (1999)

dijelaskan bahwa pelestarian budaya berarti pelestarian terhadap eksistensi suatu

kebudayaan dan bukan berarti membekukan kebudayaan di dalam bentuk-

Page 62: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

47

bentuknya yang sudah pernah dikenal saja. Dalam kenyataan, kebudayaan

senantiasa berada dalam proses: berkembang, menyusut, berubah, atau

bertransformasi guna tetap menjaga keberadaan suatu budaya. Dalam batasan

tersebut, pelestarian dilihat sebagai sesuatu yang terdiri dari tiga aspek, yaitu

perlindungan atau pemertahanan, pengembangan, dan pemanfaatan atau

penyebarluasan (Sedyawati 2008, h.152).

Pelestarian berkaitan erat dengan keberlanjutan. Putra (2018), menyatakan

bahwa pandangan ekologi menginformasikan keberlanjutan sebagai kemampuan

musik untuk bertahan, tanpa menyiratkan berbagai cara untuk mempertahankan

suatu budaya musik harus tetap atau tidak berubah. Keberlanjutan musik berusaha

untuk memastikan bahwa keberlanjutan tidak menghambat kebebasan untuk

tumbuh dan berkembang (Grant dalam Putra, 2018). Jadi keberlanjutan musik

merupakan suatu cara untuk melihat praktik tradisional terlibat dalam sebuah

ekosistem dalam memperebutkan sumber daya, baik internal maupun eksternal

(Putra, 2018). Dewi (2016) mengatakan bahwa cara mempertahankan

keberlanjutan suatu tradisi adalah melakukan pembinaan dan pengembangan.

Pembinaan dan pengembangan ini dilakukan para pekerja seni, sedangkan

masyarakat dapat memberi dukungan dengan menanggap atau menonton tradisi

tersebut.

Penelitian ini, konsep pelestarian dikaitkan dengan inovasi. Inovasi

merupakan sesuatu ide yang baru. Sesuai dengan teori Sedyawati (2008)

mengenai upaya pelestarian yaitu pemertahanan, pengembangan, dan

penyebarluasan, pada bagian pengembangan Sir’iyai melakukan sebuah inovasi.

Page 63: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

48

Inovasi di sini merupakan inovasi musik berupa penggabungan dua genre musik

yang berbeda yaitu ska dan keroncong menjadi satu genre yaitu ska keroncong

atau Jamaican sound keroncong. Seperti yang diungkap Laksono, dkk. (2015)

yang menyatakan bahwa kesenian akan ikut selalu berubah dan berkembang bila

kebudayaannya juga selalu bersikap terbuka terhadap perubahan dan inovasi.

Sir’iyai melakukan sebuah inovasi musik baru yaitu ska keroncong agar musik

keroncong tetap lestari.

2.3. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah peneliti akan mendeskripsikan

dan menjelaskan bagaimana inovasi musik yang dilakukan oleh Sir’iyai dalam

mempertahankan dan mengembangkan musik keroncong. Inovasi tersebut

merupakan salah satu upaya pelestarian musik keroncong yaitu pengembangan.

Peneliti akan mengkorelasikan dengan inovasi musik ska dan musik keroncong

yang dipadukan menjadi sebuah genre baru yaitu musik ska keroncong.

Selanjutnya berkaitan dengan inovasi musik, peneliti akan mengambil satu contoh

lagu dari Sir’iyai kemudian mendeskripsikan dan menganalisis unsur-unsur

pendukung dalam lagu tersebut seperti bentuk, melodi, harmoni, dan pembawaan.

Kemudian peneliti akan mendeskripsikan upaya penyebarluasan karya Sir’iyai

meliputi pendokumentasian, sosialisasi dan pentas. Hal tersebut dilakukan agar

diperoleh hasil penelitian tentang inovasi musik ska keroncong oleh Sir’iyai

dalam melestarikan musik keroncong di Bandung.

Page 64: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

49

Pelestarian

Sir’iyai

Pemertahanan Pengembangan Penyebarluasan

Inovasi Musik

Musik Keroncong Musik Ska

Bentuk

Melodi

Harmoni

Pembawaan

Musik Ska Keroncong

Bagan 2.1 Kerangka Berpikir

(Sumber: Wildan Qurrata A’yun)

Pendokumentasian

Sosialisasi

Pentas

Page 65: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

129

BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Sir’iyai melakukan

sebuah inovasi dari segi alat musik yang digunakan, bentuk, melodi, harmoni,

ritmis serta pembawaan dari alat musik yang digunakan. Alat musik yang

digunakan merupakan penggabungan dari alat musik combo atau band dan alat

musik keroncong serta alat musik tiup yang merupakan ciri khas dari musik ska.

Alat musik combo atau band yang digunakan yaitu gitar elektrik, bass elektrik dan

drum. Kemudian alat musik keroncong yang dipakai adalah cak, cuk, cello dan

flute. Alat musik tiup atau brass section meliputi trumpet, trombon, saxophone

alto dan saxophone tenor. Bentuk dari salah satu lagu Sir’iyai yang berjudul

“Industri Kopi” mempunyai bentuk dua bagian yaitu A dan B dengan

pengulangan dan dimainkan dengan menggunakan intro, interlude serta coda.

Melodi yang digunakan dalam lagu tersebut tergolong mudah atau easy listening

namun terdpat pengembangan nada seperti sel dan ri. Harmonisasi yang dipakai

memiliki keindahan tersendiri karena terdapat akor 1 M7

dan 17. Progresi akor

yang digunakan pun tidak mengikuti aturan pakem dari musik keroncong.

Pembawaan dari vokal sangat luwes dan menjiwai dengan ciri khas dan karakter

vokal bass. Sir’iyai mencoba membawakan dengan gaya bernyanyi keroncong

walaupun tidak sedalam keroncong asli. Pembawaan instrumen keroncong

dimainkan sedemikian rupa seperti halnya keroncong pada umumnya di mana

Page 66: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

130

terdapat pola-pola seperti engkel dan dobel. Untuk pembawaan flute sebagai filler

namun flute juga menyatu dengan pola permainan brass section. Pembawaan alat

musik combo atau band dimainkan sesuai dengan pola irama atau beat ska yang

ciri khasnya up beat pada permainan gitarnya dan drum yang sering menggunakan

rim shot. Inovasi musik tersebut diterapkan di semua lagu atau karya-karya

Sir’iyai yang kemudian disebarluaskan melalui media sosial seperti facebook,

instagram, youtube dan spotify untuk musik digital. Mereka juga melakukan

sosialisasi dan pentas atau perform agar karya mereka lebih dikenal.

Inovasi musik Sir’iyai merupakan salah satu upaya pelestarian musik

keroncong. Inovasi musik ska keroncong adalah wujud dari visi Sir’iyai yaitu

“tradisi X tradisi” yang artinya adalah dua tradisi yang berbeda dan digabungkan

menjadi satu yaitu musik ska yang merupaka tradisi Jamaica dan musik keroncong

yang merupakan tradisi Indonesia. Hasil dari akulturasi kedua tradisi musik

tersebut menghasilkan musik yang baru yaitu ska keroncong atau Jamaican sound

keroncong. Sir’iyai mengusung musik keroncong dengan alasan ingin

memasyarakatkan musik keroncong khususnya kepada generasi muda melalui

kemasan musik ska keroncong. Dengan inovasi musik tersebut terbukti banyak

para pemuda yang menggemari Sir’iyai bahkan para fans tersebut membuat

fansclub dengan nama “Crispy Crew”. Inovasi musik tersebut selain menambah

warna baru di musik ska juga dapat mengenalkan unsur musik keroncong yang

ada di dalam musik Sir’iyai tersebut khususnya kepada para pemuda. Sehingga

inovasi musik ska keroncong dari Sir’iyai dapat melestarikan musik keroncong.

Page 67: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

131

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, dan simpulan yang telah

diuraikan, maka saran yang dapat disampaikan oleh peneliti bagi Sir’iyai yaitu;

Pertama Sir’iyai melakukan atau membuat suatu acara pentas yang pengisi

acaranya melibatkan musisi ska dan musisi keroncong yang asli. Dengan

demikian edukasi musik keroncong akan lebih efektif lagi karena para penggemar

dari Sir’iyai jadi tahu atau melihat musik keroncong yang asli. Ke dua Sir’iyai

melakukan cover lagu keroncong. Dengan meng-cover lagu keroncong para

pemuda jadi tahu lagu-lagu keroncong. Yang ke tiga Sir’iyai diharapkan untuk

lebih mengenalkan karya-karyanya melalui media sosial dengan membuat video

klip yang terlihat alat musik keroncongnya sehingga akan lebih banyak lagi

masyarakat yang tau mengenai inovasi musik tersebut dan juga mengenal musik

keroncong.

Saran bagi musisi atau pelaku seni, diharapkan untuk bisa atau berani

mencoba hal-hal baru yang bisa memberikan manfaat dan selalu berkreativitas

dan berinovasi untuk menciptakan musik yang baru dengan tidak melupakan

musik asli Indonesia seperti musik keroncong. Saran bagi peneliti, diharapkan

penelitian ini bisa dijadikan sebagai salah satu referensi atau gambaran untuk

mengembangkan penelitian yang baru mengenai topik ataupun masalah yang

sama.

Page 68: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

132

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, N., Bakar, A., & Annuar, M. (2013). Budaya tradisi yang berevolusi.

Wacana Seni, 12, 19–56.

Alvianto, W. A., & Joseph, W. (2012). Eksistensi Grup Musik Keroncong Gema

Irama di Desa Gedongmulya Kecamatan Lasem. Jurnal Seni Musik, 1(1),

12–21.

Alwasilah, A. C. (2006). Pokoknya Sunda. Bandung: Kiblat & Pusat Studi Sunda.

Andrew, H., & Ven, V. de. (2017). The innovation journey : you can â€TM

t

control it , but you can learn to maneuver it. Innovation Organization &

Management, 19(1), 39–42. https://doi.org/10.1080/14479338.2016.1256780

Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan dan Praktek. Jakarta:

Rineka Cipta.

Baker, & Huber. (2013). Notes towards a typology of the DIY institution:

Identifying do-it-yourself places of popular music preservation. European

Journal of Cultural Studies, 16(5), 513–530.

Budiman, B. J. (1979). Mengenal Keroncong Lebih Dekat. Jakarta: PT. Elex

Media Komputindo.

Darini, R. (2012). Keroncong Dulu dan Kini. Jurnal Ilmu - Ilmu Sosial Dan

Humaniora, 6(1), 19–31.

Dewi, H. (2016). Keberlanjutan dan Perubahan Seni Pertunjukan Kuda Kepang di

Sei Bamban , Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Panggung, 26(2), 139–150.

Ferryanto, L. (2009). Inovasi dan Strategi Pencapaiannya. Jurnal Teknik Industri,

11(2), 95–100.

Ganap, V. (2006). Pengaruh Portugis Pada Musik Keroncong. Harmonia - Jurnal

Pengetahuan Dan Pemikiran Seni, 2(4), 1–14.

Ganap, V. (2011). Krontjong Toegoe. Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta.

Hadiyati, E. (2011). Kreativitas dan Inovasi Berpengaruh Terhadap

Kewirausahaan Usaha Kecil. Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan, 13(1),

8–16.

Page 69: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

133

Harmunah, S. (1987). Musik Keroncong. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi.

Harris, F. (2010). Akselerasi Transformasi Perlindungan Hak Kekayaan

Intelektual Melalui Inovasi. (A. Nasution & Omon, Eds.). Jakarta: Badan

pembinaan hukum nasional, kementrian hukum dan hak asasi manusia RI.

Hendry, Y. (2011). Musik Keroncong Campur Sari dalam Pluralitas Budaya

Masyarakat Sawahlunto. Resital, 12(1), 84–95.

Henry, N., & Wijaya, M. (2017). Diskursus Pelestarian Seni Budaya Keroncong

(Deskriptif Kualitatif Pada Komunitas Seni Keroncong Swastika di

Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta). Jurnal Sosiologi Dilema, 32(2), 52–

63.

Hesselbein, F., & Johnston, R. (2002). On Creativity, Innovation, and Renewal.

(M. E. Setiadi, Ed.). Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Howard, & Others. (2016). Music as intangible cultural heritage: Policy, ideology,

and practice in the preservation of East Asian traditions.

Jamalus, D. (1988). Pengajaran Musik Melalui Pengalaman Musik. Jakarta:

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan.

Jazuli, M. (2001). Metode Penelitian Kualitatif. Semarang: UNNES Press.

Khutniah, N. (2012). Upaya Mempertahankan Eksistensi Tari Kridha di Sanggar

Hayu Budaya Kelurahan Pengkol Jepara. Jurnal Seni Tari, 1(1), 9–21.

Laksono, K., Purba, S. A., & Hapsari, P. D. (2015). Musik Hip-Hop sebagai

Bentuk Hybrid Culture dalam Tinjauan Estetika. Resital, 16(2), 75–83.

Martopo, H. (2003). Persoalan Mencari Identitas Musik Indonesia Melalui Kajian

Historis Gamelan dan Keroncong. Harmonia - Jurnal Pengetahuan Dan

Pemikiran Seni, 4(1).

Martopo, H. (2013). Sejarah Musik sebagai Sumber Pengetahuan Ilmiah untuk

Belajar Teori, Komposisi, dan Praktik Musik. Harmonia - Jurnal

Pengetahuan Dan Pemikiran Seni, 13(2), 132–139.

Miller, H. (2001). Apresiasi Musik. Yogyakarta: Yayasan Lentera Budaya.

Mintargo, W. (2017). Akulturasi Budaya Dalam Musik Keroncong di Indonesia.

Nuansa Journal of Arts and Design, 1(1).

Page 70: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

134

Moleong, L. J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya Offset.

Mudana, I. W. (2016). Inovasi Bentuk Lukisan Wayang Kamasan Sebagai Seni

Kamasan Pasar. Mudra, 31(2), 199–209.

Munaf, D. R., Piliang, Y. A., & Purnomo, D. H. (2016). Arts as a Cultural Politics

and Diplomacy. Mudra, 31(3), 308–316.

Nur Setiadi, M. (2018). Bentuk Musik Ska dan Strategi Pemasaran Karya Band

Grisness Culture Melalui Media Youtube di Semarang. Universitas Negeri

Semarang.

Parmadi, B., Kumbara, A. A. N. A., Wirawan, A. A. B., & Sugiartha, I. G. A.

(2018). Globaliasi dan Hegemoni Terhadap Transformasi Musik Dol di

Bengkulu. Mudra, 33(1), 67–75.

Piliang, Y. A., & Darmawan, R. (2014). Kreativitas Desain Kuliner dan Sistem

Inovasi Lokal. Panggung, 24(3), 285–294.

Pontoh, N. K. (1992). Preservasi dan Konservasi Suatu Tinjauan Teori

Perancangan Kota. Jurnal Pengembangan Wilayah Dan Kota, IV(6), 34–39.

Prakosa, G. R., & Haryono, S. (2012). Improvisasi Permainan Cello pada

Permainan Irama Jenis Langgam Jawa Grup Orkes Keroncong Harmoni

Semarang. Jurnal Seni Musik, 1(1), 68–76.

Putra, B. A. (2018). Tantangan Keberlanjutan Musik Tingkilan di Kutai

Kartanegara. Seminar Antar Bangsa: Seni Budaya Dan Desain, 201–210.

Rachman, A. (2013). Bentuk dan Analisis Musik Keroncong Tanah Airku Karya

Kelly Puspito. Harmonia - Jurnal Pengetahuan Dan Pemikiran Seni, 13(1),

69–77.

Rachman, A., & Lestari, W. (2012). Bentuk Aransemen Musik Keroncong Asli

Karya Kelly Puspito dan Relevansinya bagi Remaja dalam Mengembangkan

Musik Keroncong Asli. Catharsis : Journal of Arts Education, 1(2), 11–15.

Rachman, A., & Utomo, U. (2018). “Sing Penting Keroncong”: Sebuah Inovasi

Petunjukkan Musik Keroncong di Semarang. Jurnal Pendidikan Dan Kajian

Seni, 3(1), 47–63.

Rachman, A., & Utomo, U. (2019). The Rhythm Pattern Adaptation of Langgam

Jawa in Kroncong, 276(2), 99–101.

Ranjabar, J. (2006). Sistem Sosial Budaya Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Page 71: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

135

Rogers, E. M. (2003). Diffusion of Innovations (5th ed.). New York.

Rohidi, T. R. (2011). Metodologi Penelitian Seni. Semarang: Cipta Prima

Nusantara.

Sanjaya, B. A. A. (2013). Makna Kritik Sosial Dalam Lirik Lagu “Bento” Karya

Iwan Fals (Analisis Semiotika Roland Barthes). E- Journal Ilmu Komunikasi,

1(4), 183–199.

Sari, D. (2015). Perkembangan Musik Keroncong di Surakatra Tahun 1960 -

1990. Jurnal Pendidikan Sejarah, 3(2).

Sasongko, W. S., & Rachman, A. (2017). Kreativitas Musik pada Grup

Kentongan Adiyasa di Kabupaten Banyumas. Jurnal Seni Musik, 6(2), 66–

80.

Sedyawati, E. (2008). Keindonesiaan dalam Budaya. Jakarta: Wedatama Widya

Sastra.

Sinaga, S. S. (2001). Akulturasi Kesenian Rebana. Harmonia - Jurnal

Pengetahuan Dan Pemikiran Seni, 2(3), 72–83.

Soeharto, M. (1992). Kamus Musik. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia

(Grasindo).

Soekanto, S., & Soemarjan, S. (1969). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja

Grafindo Persada.

Soemaryatmi. (2012). Dampak Akulturasi Budaya pada Kesenian Rakyat. Jurnal

Seni & Budaya Panggung, 22(1), 25–36.

Stubington, J. (1987). Preservation and conservation of Australian traditional

musics : An environmental analogy. Musicology Australia, 10(1), 2–10.

https://doi.org/10.1080/08145857.1987.10415175

Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,

Kualitatif, dan R&D. Bandung: ALFABETA.

Tarwiyah, T. (2010). Pelestarian Budaya Betawi Permainan Anak Cici Putri dan

Ulabang/ Wak Wak Guing: Kajian Kandungan Kecerdasan Jamak. Harmonia

- Jurnal Pengetahuan Dan Pemikiran Seni, 10(1).

Traber, D. S. (2013). Pick It Up ! Pick It Up !: The Transnational Localism of Ska.

Popular Music and Society, 36(1), 1–18.

https://doi.org/10.1080/03007766.2011.600293

Page 72: INOVASI MUSIK SKA KERONCONG OLEH SIR’IYAIlib.unnes.ac.id/35241/1/2501414176_Optimized.pdfviii ABSTRAK A’yun, Wildan Qurrata. (2019). Inovasi Musik Ska Keroncong oleh Sir’iyai

136

Urabe, K., Child, J., & Kagono, T. (n.d.). Innovation and Management:

International Comparisons. California: de Gruyter.

White. (1996). The preservation of music and Irish cultural history. International

Review of the Aesthetics and Sociology of Music, 123–138.

Widjajadi, R. A. S. (2005). Menelusuri Sarana Penyebaran Musik Keroncong.

Harmonia - Jurnal Pengetahuan Dan Pemikiran Seni, VI(2).

Widyanta, N. (2017). Efektivitas keroncong garapan orkes keroncong. Kajian

Seni, 3(2), 165–180.

Wikandia, R. (2016). Pelestarian Dan Pengembangan Seni Ajeng Sinar Pusaka

Pada Penyambutan Pengantin Khas Karawang. Panggung, 26(1), 58–69.

Wiyoso, J. (2007). Campursari: Suatu Bentuk Akulturasi Budaya Dalam Musik.

Harmonia - Jurnal Pengetahuan Dan Pemikiran Seni, 8(3), 3–10.

Wuri, J. M., Wimbrayardi, & Marzam. (2015). Upaya Pelestarian Musik

Talempong Pacik di Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan.

E-Jurnal Sendratasik FBS Universitas Negeri Padang, 4(1), 79–88.

Yusuf, D., & Alrianingrum, S. (2016). Kiprah Sundari Soekotjo Dalam Kancah

Musik Keroncong di Indonesia Tahun 1977 - 2014. Jurnal Pendidikan

Sejarah, 4(2), 522–532.

Zulfikar, D. (2018). Pelestarian Musik Keroncong oleh Komunitas Keroncong 3G

di Kecamatan Comal Kabupaten Pemalang. Universitas Negeri Semarang.