Inkontinensia Urine

of 21

  • date post

    13-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    91
  • download

    5

Embed Size (px)

description

Inkontinensia Urine pada Geriatri

Transcript of Inkontinensia Urine

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Pembahasan tentang proses menua semakin sering muncul dengan

    beratambahnya populasi usia lanjut di berbagai belahan dunia. Telah banyak

    dikemukaan bahwa proses menua amat dipengaruhi oleh interaksi faktor genetik dan

    lingkunganseharusnya dianggap sebagai suatu proses normal dan tidak selalu

    menyebabkan gangguan fungsi atau penyaki. Proses penuaan secara umum terdapat

    kecenderungan menurunnya kapasitas fungsional baik pada tingkat selular maupun

    pada tingkat oragan sejalan dengan proses menua. Akibat penurunan kapasitas

    fungsional tersebut, orang lanjut usia biasanya tidak berespon pada berbagai

    rangsangan, baik internal maupun eksternal, sesensitif yang dapat dilakukan orang

    yang lebih muda. Menurunnya respon tersebut cenderung membuat oarng usia lanjut

    sulit untuk memelihara kestabilan homeostatis tubuh.

    Salah satunya adalah inkontinensia urin dimana terjadi ketidakmampuan

    seseorang dalam menahan air kencingnya. Inkontinensia urin merupakan salah satu

    keluhan utama pada penderita lanjut usia, batasan inkontinensia adalah pengluaran

    urin tanpa disadari, dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan

    masalah gangguan kesehatan atau sosial.

    1.2 Rumusan Masalah

    1.1. Apa definisi dari inkontinensia urin?

    1.2. Bagaimana epidemiologi inkontinensia urin pada lansia?

    1.3. Apa etiologi yang menyebabkan inkontinensia urin pada lansia?

    1.4. Bagaimana fisiologi berkemih dan patofisiologi inkontinensia urin pada lansia?

    1.5. Bagaimana cara diagnosis inkontinensia urin pada lansia?

    1.6. Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi pada inkontinensia urin lansia?

    1.7. Bagaimana tatalaksana inkontinensia urin pada lansia?

    1.8. Bagaimana prognosis inkontinensia urin pada lansia?

  • 2

    1.3 Tujuan

    1.1. mengetahui definisi dari inkontinensia urin

    1.2. mengetahui epidemiologi inkontinensia urin pada lansia

    1.3. mengetahui etiologi yang menyebabkan inkontinensia urin pada lansia

    1.4. mengetahui fisiologi berkemih dan patofisiologi inkontinensia urin pada lansia?

    1.5. mengetahui cara diagnosis inkontinensia urin pada lansia

    1.6. mengetahui komplikasi yang mungkin terjadi pada inkontinensia urin lansia?

    1.7. mengetahui tatalaksana inkontinensia urin pada lansia

    1.8. mengetahui prognosis inkontinensia urin pada lansia

    1.4 Manfaat

    1.4.1 Penulis

    Penulis dapat mengenali, mencegah, dan mengedukasi mengenai dampak yang

    terjadi pada inkontinensia urin lansia.

    1.4.2 Pembaca

    Pembaca diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai

    inkontinensia urin pada lansia.

    1.4.3 Akademik

    Dalam bidang akademik, penulis berharap supaya referat ini dapat digunakan

    sebagai salah satu bahan pembelajaran bagi mahasiswa atau orang yang tertarik

    pada inkontinensia urin pada lansia.

  • 3

    BAB 2

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Definisi

    Menurut International Continence Society, inkontinensia urin didefinisikan

    sebagai keluhan berkemih secara involunter (di luar kesadaran).

    2.2 Epidemiologi

    Perempuan lebih sering mengalami inkontinensia urin daripada laki-laki

    dengan perbandingan 1,5:1 . Survei yang dilakukan oleh Divisi Geriatri Bagian Ilmu

    Penyakit Dalam RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo di Poliklinik Geriatri RSUPN

    Dr. Cipto Mangunkusumo (2003) terhadap 179 pasien geriatri mendapatkan angka

    kejadian inkontinensia urin tipe stres pada laki-laki sebesar 20,5% dan perempuan

    sebesar 32,5%. Sedangkan hasil penelitian di India terhadap 3000 wanita berbagai

    umur menunjukkan bahwa prevalensi inkontinensia urin sebesar 21,8% dan 42,8%

    nya memiliki usia 61-70 tahun 1,2

    2.3 Etiologi

    Seiring dengan bertambahnya usia, terjadi beberapa perubahan pada anatomi

    dan fungsi organ untuk berkemih, antara lain melemahnya otot dasar panggul akibat

    multigravida, kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini mengakibatkan

    seseorang tidak dapat menahan air seni. Selain itu, adanya kontraksi abnormal dari

    dinding kandung kemih, sehingga walaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah

    menimbulkan rasa ingin berkemih.

    Penyebab inkontinensia urin antara lain terkait dengan gangguan di saluran

    kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya

    gangguan kemampuan/keinginan ke toilet. Gangguan saluran kemih bagian bawah

    bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi saluran kemih, maka tatalaksananya adalah

    terapi antibiotika. Apabila vaginitis atau uretritis atrofi penyebabnya, maka dilakukan

    terapi estrogen topical. Terapi perilaku harus dilakukan jika pasien baru menjalani

    prostatektomi. Inkontinensia urin juga bisa terjadi karena produksi urin berlebih

  • 4

    karena berbagai sebab. Misalnya gangguan metabolik, seperti diabetes melitus, yang

    harus terus dipantau. Sebab lain adalah asupan cairan yang berlebihan yang bisa

    diatasi dengan mengurangi asupan cairan yang bersifat diuretika seperti kafein.

    Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor penyebab produksi urin

    meningkat dan harus dilakukan terapi medis yang sesuai. Gangguan kemampuan ke

    toilet bisa disebabkan oleh penyakit kronik, trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk

    mengatasinya penderita harus diupayakan ke toilet secara teratur atau menggunakan

    substitusi toilet. Apabila penyebabnya adalah masalah psikologis, maka hal itu harus

    disingkirkan dengan terapi non farmakologik atau farmakologik yang tepat. Pasien

    lansia, kerap mengonsumsi obat-obatan tertentu karena penyakit yang dideritanya

    yang menjadi faktor pencetus inkontinensia urin. Jika kondisi ini yang terjadi, maka

    penghentian atau penggantian obat jika memungkinkan, penurunan dosis atau

    modifikasi jadwal pemberian obat.

    Golongan obat yang berkontribusi pada inkontinensia urin, antara lain,

    diuretika, antikolinergik, analgesik, narkotik, antagonis adrenergic alfa, agonic

    adrenergic alfa, ACE inhibitor, dan kalsium antagonik. Golongan psikotropika seperti

    antidepresi, antipsikotik, dan sedatif hipnotik juga memiliki andil dalam

    inkontinensia urin. Kafein dan alkohol juga berperan dalam terjadinya inkontinensia

    urin. Selain hal-hal yang disebutkan diatas inkontinensia urin juga terjadi akibat

    kelemahan otot dasar panggul, karena kehamilan, pasca melahirkan, kegemukan

    (obesitas), menopause, usia lanjut, kurang aktivitas dan operasi vagina. Penambahan

    berat dan tekanan selama kehamilan dapat menyebabkan melemahnya otot dasar

    panggul karena tertekan selama masa mengandung.

    Proses persalinan juga dapat membuat otot-otot dasar panggul rusak akibat

    regangan otot dan jaringan penunjang serta robekan jalan lahir, sehingga dapat

    meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia urin. Dengan menurunnya kadar

    hormon estrogen pada wanita di usia menopause (50 tahun ke atas), akan terjadi

    penurunan tonus otot vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga

    menyebabkan terjadinya inkontinensia urin. Faktor risiko yang lain adalah obesitas

    atau kegemukan, riwayat operasi kandungan dan lainnya juga berisiko

    mengakibatkan inkontinensia. Semakin tua seseorang semakin besar kemungkinan

    mengalami inkontinensia urine, karena terjadi perubahan struktur kandung kemih dan

    otot dasar panggul.

  • 5

    2.4 Fisiologi dan Patofisiologi

    2.3.1 Fisiologi berkemih

    Pusat pengaturan refleks berkembih diatur di medula spinalis segmen sakral.

    Proses berkemih dibagi menjadi 2 fase yaitu fase pengisian dan fase pengosongan.

    Pada fase pengisian kandung kemih, terjadi peningkatan aktivitas saraf otonom

    simpatis yang menyebabkan penutupan katup leher kandung kemih, relaksasi dinding

    kandung kemih, serta penghambatan saraf parasimpatis. Pada fase pengosongan,

    aktifitas simpatis dan somatik menutun, sedangkan parasimpatis meningkat sehingga

    terjadi kontraksi otot detrusor dan pembukaan leher kandung kemih.

    Proses berkemih normal merupakan proses dinamis yang memerlukan

    rangkaian koordinasi proses fisiologik berurutan yang pada dasarnya dibagi menjadi

    2 fase yaitu, fase pengisisan, dengan kandung kemih berfungsi sebagai reservoar

    urine yang masuk secara berangsur-angsur dari ureter, dan fase miksi dengan

    kandung kemih befungsi sebagai pompa serta menuangkan urin melalui uretra dalam

    waktu relatif singkat.

    Pada keadaan normal selama fase pengisian tidak terjadi

  • 6

    kebocoran urin, walaupun kandung kemih penuh atau tekanan intraabdomen

    meningkat seperti sewaktu batuk, meloncat-loncat atau kencing. Peningkatan isi

    kandung kemih memperbesar keinginan ini dan pada keadaan normal tidak terjadi

    kebocoran di luar kesadaran. Pada fase pengosongan, isi seluruh kandung kemih

    dikosongkan sama sekali. Orang dewasa dapat mempercepat atau memperlambat

    miksi menurut kehendaknya secara sadar, tanpa dipengaruhi kuatnya rasa ingin

    kencing. Cara kerja kandung kemih yaitu sewaktu fase pengisian otot kandung kemih

    tetap relaksasi sehingga meskipun volume kandung kemih meningkat, tekanan di

    dalam kandung kemih tetap rendah. Sebaliknya otot-otot yang merupakan

    mekanisme penutupan selalu dalam keadaan kontraksi untuk menutup aliran ke

    uretra. Sewaktu miksi, tekanan di dalam kandung kemih meningkat karena kontraksi

    aktif otot-ototnya, sementara terjadi