HERU SUPARJO FISIP

download HERU SUPARJO FISIP

of 28

  • date post

    02-Mar-2016
  • Category

    Documents

  • view

    50
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of HERU SUPARJO FISIP

I. Judul PenelitianPERAN SATUAN PAMONG PRAJA (SATPOL PP) DALAM MENEGAKAN PERATURAN DERAH KABUPATEN NOMOR 16 TAHUN 1992 TENTANG KETERTIBAN, KEBERSIHAN DAN KEINDAHAN DI KABUPATEN CIAMIS

II. Latar BelakangUntuk mencapai masyarakat yang tentram dan sejahtera diperlukan adanya suasana yang tertib, bersih dan indah. Untuk mencapai tujuan teresebut Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II telah mengatur dalam ketentuan yang mengatur ketertiban, kebersihan dan keindahan dalam wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Ciamis telah diatur dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Ciamis Nomor 3 Tahun 1987, bahwa sehubungan dengan beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah tersebut dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan pembangunan dewasa ini maka Peraturan Daerah diatas perlu segara diadakan perubahan. Undang-undang Nomor 5 Tahhun 1974, tentang pokok-pokok pemerintahan daerah, Undang-undang Nomor 14 Tahun 1950, tentang pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam lingkungan Propinsi Jawa Barat, Undang-undang Nomor 11 Tahun 1962, tentang Hygiene untuk usaha-usaha bagi umum, undang-undang Nomor 2 Tahun 1966, tentang Hygiene, Undang-undang Nomor 13 Tentang jalan, Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998, tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup. Peratura Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Ciamis Nomor 4/IX/PD-DPRD/1972 Nomor 12 Tahun 1976, Nomor 3 Tahun 1986, tentang mendirikan dan membongkar Banggunan di Daerah Kabupaten Ciamis, Peraturan Daerah Kabupaten Derah Tingkat II Ciamis Nomor 10 Tahun 1976, tentang cara membuat peraturan daerah tingkat II Ciamis, Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Ciamis Nomor 11 Tahun 1987, Nomor 5 Tahun 1991, tentang ketentuan parker dan bongkar muat serta pemungutan retribusi dalam wilayah kabupaten daerah tingkat II ciamis, Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Ciamis Nomor 11 Tahun 1988, tentang pola dasar pembangunan daerah tingkat II Ciamis, Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Ciamis Nomor 6 Tahun 1991, tentang penggunaan jalan dan dispensasi jalan kepunyaan pemerintah kabupaten daerah tingkat II ciamis.Keputusan Bupati mengenai penunjukan lokasi bagi para pedagang kaki lima di dalam Kota Ciamis telah ditetapkan dengan keputusan Bupati Ciamis Nomor 300/Kpts.377.Huk/2002. Bahwa berkenaan dengan dibukanya Yogya Dept Store Cabang Ciamis, perlu adanya tindakan antisipatif terhadap penempatan lokasi Pedagang kaki lima untuk menghindari dampak kesemrautan terhadap Kota Ciamis, maka keputusan Bupati sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu ditinjau kembali dan diadakan perubahan yang ditetapkan dengan keputusan Bupati.Berdasarkan hasil pengamatan penelitian di lokasi ditemukan bahwa Maraknya pedagang kaki lima yang mengganggu keindahan, kebersihan dan ketertiban kota, hal tersebut di pengaruhi beberapa indikator:1. Perilaku corat-coret di dinding atau di papan reklame2. SDM yang kurang mengerti mengenai tata keindahan kota3. Merupakan tempat usaha yang dinilai strategisMasalah tersebut dapat diatasi dengan cara : 1. Kegitan petugas dalam menindak 2. Penertiban tata ruang kota dengan memindahkan pedagang kaki lima ke tempat yang seharusnya menjadi lokasi perdagangan.3. Menindak lanjut bagi pedagang kaki lima yang melanggar ketentuan yang berlaku4. Memberi izin berdagang dengan ketentuan waktu yang sudah ditetapkan.Berdasarkan dari permaslahan di atas, penulis tertarik untuk lebih lanjut mengadakan penelitian yang kemudian dituangkan kedalam karya ilmiah (skripsi) dengan judul penelitian " PERAN SATUAN PAMONG PRAJA (SATPOL PP) DALAM MENEGAKAN PERATURAN DERAH KABUPATEN NOMOR 16 TAHUN 1992 TENTANG KETERTIBAN, KEBERSIHAN DAN KEINDAHAN DI KABUPATEN CIAMIS "

III. Rumusan MasalahBerdasarkan uraian permasalahan diatas, selanjutnya untuk membatasi masalah yang diteliti penulis merumuskan masalah sebagai berikut:1. Bagaimana peran Satuan Pamong Praja (Satpol PP) dalam menegakan Peraturan Daerah Kabupaten nomor 16 tahun 1992 tentang ketertiban, kebersihan dan keindahan di Kabupaten Ciamis?2. Bagaimana hambatan yang dihadapi oleh Satuan Pamong Praja (Satpol PP) dalam menegakan Peraturan Daerah Kabupaten nomor 16 tahun 1992 tentang ketertiban, kebersihan dan keindahan di Kabupaten Ciamis?3. Bagaimana upaya yang dilaksanakan oleh Satuan Pamong Praja (Satpol PP) dalam menegakan Peraturan Daerah Kabupaten nomor 16 tahun 1992 tentang ketertiban, kebersihan dan keindahan di Kabupaten Ciamis?

IV. Tujuan PenelitianAdapun yang menjadi tujuan dari dilakukannya penelitian mengenai permasalahan tersebut di atas adalah :1. Untuk mengetahui peran Satuan Pamong Praja (Satpol PP) dalam menegakan Peraturan Daerah Kabupaten nomor 16 tahun 1992 tentang ketertiban, kebersihan dan keindahan di Kabupaten Ciamis?2. Untuk mengetahui hambatan yang dihadapi oleh Satuan Pamong Praja (Satpol PP) dalam menegakan Peraturan Daerah Kabupaten nomor 16 tahun 1992 tentang ketertiban, kebersihan dan keindahan di Kabupaten Ciamis?3. Untuk mengetahui upaya yang dilaksanakan oleh Satuan Pamong Praja (Satpol PP) dalam menegakan Peraturan Daerah Kabupaten nomor 16 tahun 1992 tentang ketertiban, kebersihan dan keindahan di Kabupaten Ciamis?

V. Kegunaan PenelitianSelanjutnya penulis akan mengemukakan mengenai apa yang menjadi kegunaan dari penelitian ini, yaitu sebagai berikut:1. Secara teoritisa. Guna mengembangkan ilmu pengetahuan sosial khususnya ilmu administrasi Negara yang berkaitan dengan pengelolaan kearsipan dan kualitas pelayanan prima. b. Guna menambah literature/peran satpol PP dalam penegakan ketertiban, kebersihan dan keindahan di Kabupaten Ciamis khususnya mengenai ilmu Pemerintahan di perpustakaan fakultas ilmu sosial dan ilmu politik2. Secara praktisa. Sebagai sumbangan fikiran untuk penegakan Perda Peraturan Derah Kabupaten Nomor 16 Tahun 1992 Tentang Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan di Kabupaten Ciamisb. Sebagai sumbangan pemikiran bagi Satpol PP dalam Penegakan Perda Peraturan Derah Kabupaten Nomor 16 Tahun 1992 Tentang Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan di Kabupaten Ciamis c. Guna memperluas pengetahuan dan wawasan penulis, serta dapat memberikan pengalaman yang berarti bagi penulis dalam melakukan penelitian.

VI. Krangka PemikiranSatuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mempunyai tugas membantu kepala daerah untuk menciptakan suatu kondisi daerah yang tenteram, tertib, dan teratur sehingga penyelenggaraan roda pemerintahan dapat berjalan dengan lancar dan masyarakat dapat melakukan kegiatannya dengan aman. Oleh karena itu, di samping menegakkan Perda, Satpol PP juga dituntut untuk menegakkan kebijakan pemerintah daerah lainnya yaitu peraturan kepala daerah. Untuk mengoptimalkan kinerja Satpol PP perlu dibangun kelembagaan Satpol PP yang mampu mendukung terwujudnya kondisi daerah yang tenteram, tertib, dan teratur. Penataan kelembagaan Satpol PP tidak hanya mempertimbangkan kriteria kepadatan jumlah penduduk di suatu daerah, tetapi juga beban tugas dan tanggung jawab yang diemban, budaya, sosiologi, serta risiko keselamatan polisi pamong praja.Dasar hukum tentang tugas dan tanggung jawab Satpol PP adalah PP Nomor 6 Tahun 2010 tentang Satuan Polisi Pamong Praja yang ditetapkan pada tanggal 6 Januari 2010. Dengan berlakunya PP ini maka dinyatakan tidak berlaku PP Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pedoman Satuan Polisi Pamong Praja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4428).Berikut kutipan isi PP Nomor 6 tahun 2010 tentang Satpol PP.Pengertian (Pasal 3)1. Satpol PP merupakan bagian perangkat daerah di bidang penegakan Perda, ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat.2. Satpol PP dipimpin oleh seorang kepala satuan dan berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah.Syarat menjadi Satpol PP (Pasal 16)Persyaratan untuk diangkat menjadi Polisi Pamong Prajaadalah:a. pegawai negeri sipil;b. berijazah sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas atau yang setingkat;c. tinggi badan sekurang-kurangnya 160 cm (seratus enam puluhsentimeter) untuk laki-laki dan 155 cm (seratus lima puluh lima sentimeter) untuk perempuan; d. berusia sekurang-kurangnya 21 (dua puluh satu) tahun;e. sehat jasmani dan rohani; danf. lulus Pendidikan dan Pelatihan Dasar Polisi Pamong Praja.Kedudukan (Pasal 3 ayat (2))Satpol PP dipimpin oleh seorang kepala satuan dan berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah. (Pertanggungjawaban Kepala Satpol PP kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah adalah pertanggungjawaban administratif. Pengertian "melalui" bukan berarti Kepala Satpol PP merupakan bawahan langsung sekretaris daerah. Secara struktural Kepala Satpol PP berada langsung di bawah kepala daerah).Tugas (Pasal 4)Satpol PP mempunyai tugas menegakkan Perda dan menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat. (Sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah bahwa penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat merupakan urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah termasuk penyelenggaraan perlindungan masyarakat).Fungsi (Pasal 5)Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Satpol PP mempunyai fungsi:a. Penyusunan program dan pelaksanaan penegakan Perda, penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat;b. Pelaksanaan kebijakan penegakan Perda dan peraturan kepala daerah;c. Pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan ketertiban umumdan ketenteraman masyarakat di daerah;d. Pelaksanaan kebijakan perlindungan masyarakat;(Tugas perlindungan masyarakat merupakan bagian dari fungsi penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat, dengan demikian fungsi perlindungan masyarakat yang selama ini berada pada Satuan Kerja Perangkat Daerah bidang kesatuan bangsa dan perlindungan masyarakat menjadi fungsi Satpol PP)e. Pelaksanaan koordinasi penegakan Perda dan per