firmansyah 1209045037

download firmansyah 1209045037

of 21

  • date post

    12-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    13
  • download

    1

Embed Size (px)

description

teknik lingkungan

Transcript of firmansyah 1209045037

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangUdara adalah suatu sampuran gas yang terdapat pada lapisan yang mengelilingi bumi. Komposisi campuran gas tersebut tidak selalu konstan. Komponen yang konsentrasinya paling bevariasi adalah air dalam bentuk uap dan karbon dioksida (CO). Jumlah uap air yag terdapat di udara bervariasi tergantung dari cuaca dan suhu.Secara alamiah udara mengandung unsur kimia seperti: O, N, NO, CO, H dan lain-lain. Penambahan gas ke udara melampaui kandungan alami akibat kegiatan manusia akan menurunkan kualitas udara. Udara di alam tidak penah ditemukan bersih tanpa polusi sama sekali. Beberapa gas seperti sulfur dioksida (SO), hidrogen sulfida (HS) dan karbon monoksida selalu dibebaskan ke udara sebagi produk sampingan dari proses-proses alami.Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan pada kesehatan manusia secara umum serta menurunkan kualitas lingkungan. Proses penurunan kualitas lingkungan udara pada umumnya disebabkan oleh masuknya zat pencemar ke dalam lingkungan udara tersebut, baik alami (seperti: kebakaran hutan oleh teriknya matahari, debu vulkanik, debu meteorit, pancaran garam dari laut dan sebagainya) maupun akibat aktivitas manusia yang justru sering menimbulkan masalah (seperti pancaran gas beracun dari pemupukan pembasmian hama, asap rumah tangga, transportasi, produk sampingan dari industri dan sebagainya).Oleh karena itu dengan adanya praktikum Sampling Udara Ambien yang bertempat di area parkir Fakultas Teknik Universitas Mulawarman kita dapat mengetahui tata cara sampling kualitas udara ambien menggunakan alat High Volume Air Sampler (HVAS) dan uji tabung Impinger.1.2 Tujuan a. Untuk mengetahui macam-macam teknik sampling udara. b.Untuk mengetahui prinsip kerja dari alat High Volume Air Sampler (HVAS).c.Untuk mengetahui kualitas udara ambien di area parkir Fakultas Teknik Universitas Mulawarman.BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Udara AmbienTeknik sampling kualitas udara dilihat lokasi pemantauannya terbagi dalam dua kategori yaitu teknik sampling udara emisi dan teknik sampling udara ambien. Sampling udara emisi adalah teknik sampling udara pada sumbernya seperti cerobong pabrik dan saluran knalpot kendaraan bermotor. Teknik sampling kualitas udara ambien adalah sampling kualitas udara pada media penerima polutan udara atau emisi udara (Achmad, 2004).Untuk sampling kualitas udara ambien, teknik pengambilan sampel kualitas udara ambien saat ini terbagi dalam dua kelompok besar yaitu pemantauan kualitas udara secara aktif (konvensional) dan secara pasif. Dari sisi parameter yang akan diukur, pemantauan kualitas udara terdiri dari pemantauan gas dan partikulat (Achmad, 2004).

Partikulat atau debu adalah suatu benda padat yang tersuspensi di udara dengan ukuran dari 0,3 m sampai 100 m, berdasarkan besar ukurannya partikulat (debu) ada dua bagian besar yaitu debu dengan ukuran lebih dari 10 m disebut dengan debu jatuh (dust-fall) sedang debu yang ukuran partikulatnya kurang dari 10 m disebut dengan Suspended Partikulate Matter (SPM). Debu yang ukurannya kurang dari 10 m ini bersifat melayang-layang di udara (Achmad, 2004).Peralatan yang digunakan untuk pengukuran debu SPM (melayang-layang) yaitu :

1. HVAS (High Volume Air Sampler)Cara ini dikembangkan sejak tahun 1948 menggunakan filter berbentuk segi empat seukuran kertas A4 yang mempunyai porositas 0,3 0,45 m dengan kecepatan pompa berkisar 1.000 1.500 lpm. Pengukuran berdasarkan metode ini untuk penentuan sebagai TSP (Total Suspended Partikulate). Alat ini dapat digunakan selama 24 jam setiap pengambilan contoh.

2. MVS (Middle Volume Sampler).Cara ini menggunakan filter berbentuk lingkaran (Bulat) dengan porositas 0,3 - 0,45 m, kecepatan pompa yang dipakai untuk pengangkapan Suspended Particulate Matter ini adalah 50 - 500 lpm. Operasional alat ini sama dengan High Volume Sampler, hanya yang membedakan dari ukuran filter membrannya. HVS ukuran A 4 persegi panjang, sedang MVS ukuran bulat diameter 12 cm.

3. LVS (Low Volume Sampler)Cara ini menggunakan filter berbentuk lingkaran (Bulat) dengan porositas 0,3 - 0,45 m, kecepatan pompa yang dipakai untuk pengangkapan Suspended Partikulate Matter ini adalah 10 - 30 lpm (Wardhana, 2001).

2.2 Pencemaran UdaraPencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan mahkluk hidup, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti. Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan pada kesehatan manusia secara umum serta menurunkan kualitas lingkungan (Wardhana, 2001).Macam bahan pencemar udara dapat dilasifikasikan dalam beberapa kelompok antara lain :a.Klasifikasi menurut bentuk asal1. Bahan pencemar uadara primer, yaitu: polutan yang apabila menyebar dengan keadaan tetap pada keadaan semula. Misal: partikel halus, senyawa sulfur, nitrogen, karbon, senyawa organik.2. Bahan pencemar udara sekunder, yaitu: bahan pencemar udara primer yang mengalami reaksi dengan senyawa lain setelah keluar dari sumbernya. Misal: SO + HO HSOb.Klasifikasi menurut keadaan fisika1. Partikel (misal: aerosol, mist, smoke dan fog)2. Gas (misal: true gas dan vapor)c.Klasifikasi menurut susunan kimia bahan pencemar1. Inorganik (misal: CO dan SO)2. Organik (misal: metan, benzen dan etilen)(Achmad, 2004)2.3 Partikulat DebuPartikulat debu melayang (Suspended Particulate Matter/SPM) merupakan campuran yang sangat rumit dari berbagai senyawa organik dan anorganik yang terbesar di udara dengan diameter yang sangat kecil, mulai dari < 1 - 500. Yang dimaksud dengan partikulat adalah berupa butiran-butiran kecil zat padat dan tetes-tetes air. Partikulat-partikulat ini banyak terdapat dalam lapisan atmosfer dan merupakan bahan pencemar udara yang sangat berbahaya. Sejenis partikulat yang umum ditemukan di atmosfer adalah aerosol (Wardhana, 2001).Secara alamiah partikulat debu dapat dihasilkan dari debu tanah kering yang terbawa oleh angin atau berasal dari muntahan letusan gunung berapi. Pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung senyawa karbon akan murni atau bercampur dengan gas-gas organik seperti halnya penggunaan mesin disel yang tidak terpelihara dengan baik. Partikulat debu melayang (SPM) juga dihasilkan dari pembakaran batu bara yang tidak sempurna sehingga terbentuk aerosol kompleks dari butir-butiran tar (Wardhana, 2001). Dibandingkan dengan pembakaraan batu bara, pembakaran minyak dan gas pada umunya menghasilkan SPM lebih sedikit. Kepadatan kendaraan bermotor dapat menambah asap hitam pada total emisi partikulat debu. Demikian juga pembakaran sampah domestik dan sampah komersial bisa merupakan sumber SPM yang cukup penting. Berbagai proses industri seperti proses penggilingan dan penyemprotan, dapat menyebabkan abu berterbangan di udara, seperti yang juga dihasilkan oleh emisi kendaraan bermotor (Wardhana, 2001).

Pengaruh partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada di udara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada diudara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikulat debu yang membahayakan kesehatan umumnya berkisar antara 0,1-10 (Achmad, 2004). Pada umunya ukuran partikulat debu sekitar 5 merupakan partikulat udara yang dapat langsung masuk kedalam paru-paru dan mengendap di alveoli. Keadaan ini bukan berarti bahwa ukuran partikulat yang lebih besar dari 5 tidak berbahaya, karena partikulat yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan menyebabkan iritasi. Keadaan ini akan lebih bertambah parah apabila terjadi reaksi sinergistik dengan gas SO2 yang terdapat di udara juga. Selain itu partikulat debu yang melayang dan berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi daya tembus pandang mata (visibility) (Wardhana, 2001). Adanya ceceran logam beracun yang terdapat dalam partikulat debu di udara merupakan bahaya yang terbesar bagi kesehatan. Pada umumnya udara yang tercemar hanya mengandung logam berbahaya sekitar 0,01 % - 3 % dari seluruh partikulat debu di udara. Akan tetapi logam tersebut dapat bersifat akumulatif dan kemungkinan dapat terjadi reaksi sinergistik pada jaringan tubuh, Selain itu diketahui pula bahwa logam yang terkandung di udara yang dihirup mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan dosis sama yang besaral dari makanan atau air minum. Oleh karena itu kadar logam di udara yang terikat pada partikulat patut mendapat perhatian (Wardhana, 2001).

2.4 Nitrogen Oksida (NOx)Nitrogen oksida (NOx) adalah senyawa gas yang terdapat di udara bebas (atmosfer) yang sebagian besar terdiri atas nitrit oksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta berbagai jenis oksida dalam jumlah yang lebih sedikit. Kadar NOx di udara daerah perkotaan yang berpenduduk padat akan lebih tinggi dibandingkan di pedesaan karena berbagai macam kegiatan manusia akan menunjang pembentukan NOx, misalnya transportasi, generator pembangkit listrik, pembuangan sampah, dan lain-lain. Namun, pencemar utama NOx berasal dari gas buangan hasil pembakaran bahan bakar gas alam (Wardhana, 2004).Udara yang mengandung gas NO dalam batas normal relatif aman dan tidak berbahaya, kecuali bila gas NO yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf yang menyebabkan kejang-kejang. Bila keracunan ini terus berlanjut akan dapat menyebabkan kelumpuhan. Gas NO akan menjadi lebih berbahaya apabila gas itu teroksidasi oleh oksigen sehingga menjadi gas NO2. Di udara nitrogen monoksida (NO) teroksidasi sangat cepat membentuk nitrogen dioksida (NO2) yang pada akhirnya nitrogen dioksida (NO2) teroksidasi secara fotokimia menjadi nitrat (Yunita, 2010).

Dari seluruh jumlah oksigen nitrogen (NOx) yang d