Down to Zero | bahasa indonesia

of 116 /116
MENUJU NOL BAGAIMANA GREENPEACE MENGHENTIKAN DEFORESTASI DI INDONESIA 2003–2013 DAN SELANJUTNYA

description

Ini adalah cerita mengenai kampanye Greenpeace untuk menghentikan perusakan hutan hujan Indonesia. Ini adalah cerita jutaan manusia dan satu pilihan: selamatkan atau hilang. Ini adalah cerita mengenai apa yang anda bantu kami capai melalui dukungan aktif dan donasi anda. Semuanya dimulai sepuluh tahun lalu. Pada tahun 2003, hutan hujan Indonesia berkurang lebih cepat dari hutan manapun di dunia. Bisnis kuat yang dikendalikan beberapa keluarga menghancurkan hutan seluas negara Belgia tiap tahunnya untuk membuat kertas, kertas pembungkus dan kayu murah. Ratusan ribu hektar hutan dan lahan gambut yang kaya karbon terbakar saat perusahaan kelapa sawit membuka hutan untuk perkebunan homogen yang luas, menggusur masyarakat lokal dan menghancurkan habitat harimau Sumatra dan orangutan terakhir.

Transcript of Down to Zero | bahasa indonesia

Page 1: Down to Zero | bahasa indonesia

MENUJU NOL Bagaimana greenpeace

menghentikan

Deforestasi Di inDonesia

2003–2013 dan selanjutnya

Page 2: Down to Zero | bahasa indonesia

II

Page 3: Down to Zero | bahasa indonesia

MENUJU NOL

Page 4: Down to Zero | bahasa indonesia

‘Ada banyak situasi di mana aktivisme yang di depan mata memiliki peran. Terutama dalam kasus di mana kampanye lingkungan terhadap perusahaan yang mendesak pertahanan terakhir hutan hujan Asia terakhir. Munculnya suatu headline terkadang cukup untuk memulai perkembangan besar, dan inilah yang terjadi di awal minggu ini dengan siaran pers yang dikeluarkan oleh perusahaan kertas dan pulp terbesar di Indonesia: “Asia Pulp & Paper Group (APP) Berkomitment untuk Segera Menghentikan Semua Pembukaan Hutan Alam.”

Langkah ini mengikuti tekanan intensif dari Greenpeace dan kelompok-kelompok lingkungan lainnya, yang telah mengekspos praktik-praktik merusak yang dimulai dengan laporan 2010, “Bagaimana Sinar Mas Meluluhkan Bumi”.

Greenpeace dan sekutunya memberikan tekanan dengan dua cara: menyoroti apa yang terjadi dalam hutan yang merupakan rumah terakhir orangutan dan harimau yang terancam punah dan juga mengidentifikasi peran pengguna kertas bermerk besar seperti Xerox dan Adidas dan kontribusi mereka terhadap kerusakan hutan.

Di beberapa bagian Asia Tenggara, uji lapangan terhadap praktik-praktik industri dapat merupakan kerja berbahaya, baik yang dilakukan oleh pengkampanye lokal atau oleh wartawan… Ada kalanya saya tidak menyukai taktik Greenpeace… Tapi dalam hal ini, saya pikir usaha ini perlu mendapatkan tepuk tangan.’

Andrew Revkin, ‘Activism at Its Best: Greenpeace’s Push to Stop the Pulping of Rain Forests’, The New York Times, 8 Februari 2013

Page 5: Down to Zero | bahasa indonesia

BagaiMaNa grEENpEacE MENghENtikaN DEfOrEstasi Di iNDONEsia

2003–2013 DaN sELaNJUtNya

MENUJU NOL

Page 6: Down to Zero | bahasa indonesia

©Greenpeace 2013

Diterbutkan oleh Greenpeace Asia Tenggara – Indonesia

Jl. KH. Abdullah Syafi'ie (Lapangan Roos)

No. 47, Tebet Timor

Jakarta 12820, Indonesia

www.greenpeace.org/seasia/id

Dicetak di Inggris Raya pada 100% kertas daur ulang

pada bulan Juni 2013.

Penyunting: Stokely Webster

Perancang: Laura Yates

Page 7: Down to Zero | bahasa indonesia

Buku ini didedikasikan untuk Hapsoro (1971–2012) sebagai penghargaan terhadap apa yang ia berikan kepada Greenpeace sebagai salah satu staf pertamanya di Indonesia, tapi juga yang lebih penting, apa yang ia capai bagi hutan dan masyarakat Indonesia.

Page 8: Down to Zero | bahasa indonesia

6

Page 9: Down to Zero | bahasa indonesia

7

ini adalah cerita mengenai kampanye Greenpeace untuk menghentikan perusakan hutan hujan Indonesia. Ini adalah cerita

jutaan manusia dan satu pilihan: selamatkan atau hilang. Ini adalah cerita mengenai apa yang anda bantu kami capai melalui dukungan aktif dan donasi anda.

Semuanya dimulai sepuluh tahun lalu. Pada tahun 2003, hutan hujan Indonesia berkurang lebih cepat dari hutan manapun di dunia. Bisnis kuat yang dikendalikan beberapa keluarga menghancurkan hutan seluas negara Belgia tiap tahunnya untuk membuat kertas, kertas pembungkus dan kayu murah. Ratusan ribu hektar hutan dan lahan gambut yang kaya karbon terbakar saat perusahaan kelapa sawit membuka hutan untuk perkebunan homogen yang luas, menggusur masyarakat lokal dan menghancurkan habitat harimau Sumatra dan orangutan terakhir.

Penegakan hukum di lapangan memang lemah, tapi pasar internasional untuk produk-produk dari penghancuran inilah yang menjadi insentif terjadinya hal ini. Proyek-proyek perbaikan bangunan dari pemerintah negara-negara Eropa menggunakan kayu lapis sekali pakai dari operasi-operasi ilegal dan merusak di Kalimantan. Toko-toko utama menjual bahan pelapis lantai dan mebel di Cina menggunakan kayu ilegal dari Papua. Sebagian perusahaan makanan cepat saji, kosmetik dan mainan terbesar tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa kemasan dan minyak kelapa sawit yang mereka gunakan berasal dari pengrusakan lahan gambut Sumatra. Bahkan buku bacaan anak-anak dibuat dari penghancuran habitat harimau.

Perusahaan ritel adalah kunci dari krisis deforestasi. Kecuali mereka membersihkan rantai pasokannya, hanya menghentikan deforestasi di satu negara seperti Indonesia atau satu komoditas seperti minyak kelapa sawit hanya akan memindahkan masalah ke tempat lain. Selanjutnya, sementara hanya sedikit orang pernah mendengar mengenai produsen pulp, kertas dan minyak kelapa sawit, hampir semua orang pernah mendengar nama Penguin Books, Dove, KitKat, HSBC, Barbie dan KFC dan menginginkan mereka bebas dari deforestasi.

Agustus 2008, Riau, Sumatra, IndonesiaHutan gambut alam

dekat Danau Pulau

Besar, yang terancam

perluasan perkebunan

kayu pulp.

©Beltra/Greenpeace

Page 10: Down to Zero | bahasa indonesia

8

Dengan latar belakang kehidupan liar yang khas dan bentang alam yang mengundang decak kagum, ini adalah cerita yang menangkap semua elemen kampanye Greenpeace yang sukses:

• riset dan dokumentasi yang tak kenal lelah melacak operasi kayu lapis ilegal di Indonesia ke pabrik-pabrik di Cina dan lalu menuju proyek-proyek pembangunan gedung-gedung pemerintah Eropa dan Cina

• pembongkaran kasus besar dari merek-merek global yang menciptakan pasar yang mendorong pengrusakan

• investigasi rahasia yang membongkar adanya spesies kayu yang dilindungi dalam tumpukan kayu di logyard pabrik pulp terbesar di Indonesia

• sukses hebat yang menandai langkah penting menuju transformasi pasar internasional dan sektor pulp dan kelapa sawit

• solusi nyata, untuk masyarakat di Indonesia dan pada skala global.

Yang terpenting, ini adalah cerita orang-orang yang melakukan aksi: menghentikan kapal pengangkut kayu ilegal, menutup kanal-kanal drainase yang menghancurkan lahan gambut Indonesia, mengkonfrontasi para menteri, menekan korporasi dengan menggantungkan spanduk atau melalui media sosial sampai mereka mengubah cara-cara mereka, mendukung program-program reforestasi masyarakat dan kelompok-kelompok lingkungan dan sosial. Ini adalah cerita jutaan masyarakat Indonesia dan seluruh dunia, yang menjawab panggilan kami untuk melakukan aksi dan membuat yang berkuasa duduk tegak dan memberikan perhatian. Aksi kami melindungi hutan hujan. Aksi kami juga menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan masyarakat dan kehidupan alam Indonesia.

Ini adalah cerita Greenpeace.

Kami berbicara kebenaran terhadap kekuasaan. Kami berdiri menghadapi yang berkuasa, bersaksi pada kesalahan mereka, mendorong solusi dan selalu siap untuk berdiri di antara buldozer dan hutan hujan.

Bustar Maitar Kepala Pengkampanye Hutan, Indonesia

Februari 2012, Sumatra Selatan, IndonesiaHutan gambut di

Taman Nasional Sungai

Sembilang.

©Jufri/Greenpeace

Page 11: Down to Zero | bahasa indonesia

9

Page 12: Down to Zero | bahasa indonesia

10

KAYUKAYU2003–20062003–2006

Page 13: Down to Zero | bahasa indonesia

11

Papua Barat, IndonesiaAra pencekik [Ficus aurea] dan anak-anak

di Totoberi.

©Johan van Roy

‘Dengan membeli kayu yang berasal dari Indonesia, anda memfasilitasi penghancuran hutan hujan dan taman nasional kami.’ Nabiel Makarim, Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, September 2002

Di awal abad ini, pandangan terhadap hutan Indonesia cukup suram. Jutaan hektar hutan hujan di Sumatra, Kalimantan dan Papua mengadapi ancaman perusahaan-perusahaan penebangan kayu. Bank Dunia mengingatkan bahwa dengan laju deforestasi yang sekarang, hutan hujan dataran rendah di Sumatra dan Kalimantan akan sama sekali habis dalam sepuluh tahun.

Kejahatan hutan di Indonesia merajalela: hampir 90% pohon ditebangi secara ilegal. Banyak diantara kayu ini bertujuan Eropa. Merek-merek terkenal termasuk jaringan toko DIY, toko bangunan dan mebel, membeli kayu dari cukong-cukong kayu yang terkait dengan penebangan ilegal, pengemplangan pajak, kebakaran hutan dan pemicu konflik sosial. Walau dengan kebijakan pengadaan yang ketat, kayu lapis dari beberapa perusahaan penebangan Indonesia yang paling nakal tetap digunakan dalam pembangunan gedung-gedung pemerintahan.

Kami sangat perlu moratorium penebangan di seluruh negeri, yang didukung oleh peraturan internasional yang melarang penjualan dan pembelian kayu ilegal.

tUNtUtaN• Moratorium penebangan di Indonesia• Larangan internasional perdagangan kayu ilegal • Kebijakan pengadaan pemerintah dan industri yang mewajibkan

kayu bersertifikat FSC

KAYUKAYU

Page 14: Down to Zero | bahasa indonesia

12

Januari 2003,Kalimantan, IndonesiaJalan-jalan penebangan kayu yang

memotong hutan alam di jantung

Kalimantan.

©Davison/Greenpeace

Halaman berikutnya: Januari 2003, Kalimantan Timur, Indonesia Kehidupan masyarakat Dayak.

©Davison/Greenpeace

Atas: 2003Laporan Greenpeace mengenai kaitan

antara Inggris Raya dengan cukong-

cukong kayu Indonesia.

Penebangan merusak dan perdagangan ilegal dan kayu dari hutan hujan Indonesia

iNVEstigasi

Pada akhir 2002, Greenpeace meluncurkan investigasi besar pertamanya di jantung

Kalimantan. Investigasi ini, dengan dibantu dukungan masyarakat sekitar hutan dan

pengetahuan ahli-ahli dalam Kementerian Kehutanan Indonesia, membongkar skala

luar biasa penebangan ilegal dalam hutan hujan Indonesia oleh industri perkayuan.

Page 15: Down to Zero | bahasa indonesia

13

Page 16: Down to Zero | bahasa indonesia

14

Januari 2003, Kalimantan Timur dan Tengah, IndonesiaMenyamar bersama para penebang

kayu di logging camp Barito Pacific.

©Davison/Greenpeace

Page 17: Down to Zero | bahasa indonesia

15

Page 18: Down to Zero | bahasa indonesia

16

Page 19: Down to Zero | bahasa indonesia

17

Kiri: Januari 2003, Kalimantan Timur, IndonesiaSeniman Lara Kay menambahkan wajah-

wajah orangutan pada kayu-kayu hutan

hujan dalam tumpukan pada sebuah

poster yang mempublikasikan kampanye

Greenpeace ‘Save or Delete’.

©Kay

Juli 2003, London, Inggris RayaGreenpeace melacak operasi

penebangan kayu ilegal dan

merusak balik ke pabrik kayu lapis

Barito Pacific di Indonesia, melalui

impor Inggris di Tilbury Docks, dan

akhirnya ke lokasi pembangunan

gedung Departemen Dalam Negeri

Pemerintah Inggris yang baru.

©Davison/Greenpeace

©Cobbing/Greenpeace

Bagaimana perbaikan gedung pemerintah Inggris Raya mendorong penebangan ilegal

Pada tahun 2001, Perdana Menteri Inggris Tony Blair berjanji bahwa Inggris hanya akan

membeli kayu dari sumber-sumber yang legal dan berkelanjutan. Walau demikian, Greenpeace

menemukan bahwa kayu hutan alam yang ditebang secara ilegal digunakan sebagai kayu lapis

murah pada proyek-proyek pembangunan gedung pemerintah Inggris.

Juli 2003, Tilbury, UKPara aktivis Greenpeace di Tilbury Docks

mengecat kayu lapis Barito Pacific

dengan pesan ‘Stop kayu ilegal’ untuk

mengekspos impor mereka ke Inggris.

©Cobbing/Greenpeace

EkspOs

Page 20: Down to Zero | bahasa indonesia

18

Melibatkan publik melalui iklan utama dan materi yang tajam

2003–4, Inggris RayaGreenpeace memenangkan kategori kampanye

dalam The Panda Awards – ‘penghargaan tertinggi

dunia untuk film-film mengenai lingkungan hidup’ –

untuk film The Ancient Forests, sebuah film pendek

yang disutradarai oleh Julien Temple dan dinarasi oleh

Ewan McGregor dan Sir David Attenborough. Film

ini menunjukkan bagaimana kayu yang ditebangi dari

hutan hujan berakhir sebagai kertas toilet, daun pintu

dan penyangga pada lokasi-lokasi pembangunan.

pELiBataN pUBLik

Page 21: Down to Zero | bahasa indonesia

19

2005, Inggris RayaBrosur yang dibagikan di taman-taman

menjelaskan bagaimana mebel taman

berperan dalam penebangan hutan hujan

Indonesia secara ilegal dan merusak.

2004, Inggris RayaBrosur plesetan bergaya IKEA yang

mengaitkan antara mebel knock-down

dengan perdagangan kayu ilegal.

Page 22: Down to Zero | bahasa indonesia

20

Bekerja dengan para penulis untuk membuat sektor penerbitan ‘ramah hutan alam’

Oktober 2003, Inggris RayaIlustrator buku anak-anak Quentin Blake pada

peluncuran Kampanye Buku Greenpeace, yang

mempromosikan penggunaan kertas FSC yang ‘ramah

hutan’ sebagai salah satu solusi terhadap deforestasi.

Penulis yang mendukung kampanye ini termasuk JK

Rowling, Philip Pullman dan sejumlah penulis lainnya.

©Cobbing/Greenpeace

Mei 2005, Hay-on-Wye, Inggris RayaMantan menteri pemerintah Inggris Raya Tony Benn

menandatangani Kampanye Buku di Hay Festival.

©Stanton/Greenpeace

sOLUsi

Page 23: Down to Zero | bahasa indonesia

21

Kaitan antara proyek pembangunan gedung-gedung pemerintah Eropa dan penebangan ilegal di hutan hujan Indonesia.

September 2004, Glasgow, SkotlandiaAktivis Greenpeace mengantar lantai kayu oak Eropa

yang bersertifikat FSC ke Kelvingrove Art Gallery and

Museum, museum yang paling banyak dikunjungi

di Inggris Raya di luar London. Dana dari Lotre

Nasional digunakan untuk merenovasi galeri yang

menggunakan lantai yang menggunakan kayu yang

ditebang secara ilegal dan merusak dari hutan hujan

Indonesia.

©Davison/Greenpeace

Mei 2004, Brussels, BelgiaAktivis Greenpeace membawa kayu lapis

bersertifikat FSC ke lokasi pembangunan perumahan

Komite Ekonomi dan Sosial Uni Eropa. Kayu lapis

yang berasal dari kayu yang ditebang secara ilegal

dan merusak dari hutan Indonesia digunakan dalam

renovasi gedung tersebut.

©Cobbing/Greenpeace

EkspOs

Page 24: Down to Zero | bahasa indonesia

22

Bawah, kiri dan kanan: 2003 dan 2005, Inggris RayaPameran seni dan foto dari kampanye ‘Save or Delete’

Greenpeace, menampilkan karya seniman grafis

terkemuka dunia termasuk Pete Fowler, Mike Gillette

dan Jasper Goodall, diselenggarakan di Oxo Gallery,

London.

Pameran ini memamerkan karya-karya ilustrasi

yang dikomisi khusus dan serangkaian foto yang

mengkomunikasikan keindahan dan krisisi yang

dihadapi oleh hutan hujan terakhir Indonesia serta

ancaman yang dihadapi dari penebangan yang ilegal

dan merusak. Komposer Dan Parmentier menciptakan

gubahan soundscape yang menyentuh perasaaan

untuk mengiringi pameran.

© (dari kiri ke kanan) Jody Barton, Airside, Michael

Gillette

Pameran seni dari kampanye ‘Save or Delete’

pELiBataN pUBLik

Atas: 2002, Inggris RayaSebagai bagian dari kampanye Save or Delete

Greenpeace, seniman jalanan Banksy menggunakan

karakter dari The Jungle Book untuk menyoroti

dampak kerusakan hutan hujan terhadap kehidupan

liar dan masyarakat hutan. Gambar ini dilarang oleh

Disney, yang menyatakan pelanggaran hak cipta.

©Banksy/Greenpeace

Page 25: Down to Zero | bahasa indonesia

23

Page 26: Down to Zero | bahasa indonesia

24

Menciptakan platform bersama dengan LSM sosial dan lingkungan Indonesia

Januari 2004, Jakarta, IndonesiaPengkampanye hutan Greenpeace Internasional Steve

Campbell berbicara pada konferensi pers dengan

perwakilan LSM Indonesia: Hapsoro dari Telapak (kiri)

dan Longgena Ginting dari Walhi di Jakarta.

©Behring/Greenpeace

pELiBataN pUBLik

Page 27: Down to Zero | bahasa indonesia

25

Januari 2004, Jakarta, IndonesiaSeorang anak buah kapal Greenpeace mempercantik

Rainbow Warrior pada kunjungan pertamanya ke

Indonesia untuk mendokumentasi perdagangan kayu

ilegal dan merusak.

©Behring/Greenpeace

Page 28: Down to Zero | bahasa indonesia

26

Mendokumentasi dan mengekspos perdagangan kayu ilegal Indonesia

Februari 2004, Kalimantan Selatan, IndonesiaPekerja Indonesia duduk di atas tumpukan besar

muatan kayu tak bertanda yang diduga ilegal di

atas sebuah tongkang yang ditambatkan di pantai

Taman Nasional Tanjung Puting.

©Behring/Greenpeace

Februari 2004, Kalimantan Selatan, IndonesiaKontainer kayu lapis yang bertujuan ke Antwerp,

Belgia menunggu dimuat ke MV Greveno.

©Behring/Greenpeace

Februari 2004, Kalimantan Selatan, IndonesiaSeorang pengkampanye Greenpeace menyaksikan

dari atas Rainbow Warrior saat kayu lapis sedang

dimuat ke kapal.

©Behring/Greenpeace

iNVEstigasi DaN aksi

Untuk mengekspos bagaimana kayu ilegal menemukan jalannya ke pasar Eropa, Greenpeace

melacak MV Greveno, kapal barang besar yang bermuatan kayu yang diduga ilegal dari pantai

Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan ke sebuah pelabuhan di Belanda. Greenpeace

sebelumnya telah menulis kepada Bea Cukai Pemerintah Inggris, industri kayu dan perusahaan

perkapalan untuk memberitahu mereka akan adanya muatan ilegal tersebut.

Page 29: Down to Zero | bahasa indonesia

27

Maret 2004, Ostend, BelgiaSeorang aktivis Greenpeace mencoba

menaiki kapal kargo MV Greveno di

Selat Inggris.

©Cobbing/Greenpeace

Page 30: Down to Zero | bahasa indonesia

28

Bagaimana Cina mencuci kayu ilegal dari Indonesia dan tempat lain

Beberapa investigas utama Greenpeace mengungkap bagaimana kayu yang ditebangi

secara ilegal dari hutan hujan terakhir di Papua New Guinea, Indonesia dan Gabon

dicuci masuk ke pasar internasional melalui Cina. Cina adalah salah satu importir

kayu keras tropis terbesar dunia. Banyak di antaranya berasal dari Indonesia, dimana

data pemerintah dan industri menunjukkan bahwa pada tahun 2003 lebih dari 85%

penebangan industrial adalah ilegal. Di Cina, kayu ini diproduksi menjadi kayu lapis

untuk diekspor ke Eropa, AS, Jepang dan negara-negara lain.

Kanan atas:

Agustus 2005, Provinsi Anhui, CinaSeorang anak

perempuan yang

bekerja di pabrik yang

memproses veneer kayu

hutan hujan di Dangshan

yang memasok kayu

lapis ke Inggris.

Bintangor berasal dari

Kalimantan.

©Greenpeace

Agustus 2005, Provinsi Shandong, Cina(kanan) Truk di Kota

Linyi mengantar kayu

bulat hutan hujan untuk

diproses menjadi kayu

lapis.

(kanan bawah) Kayu

lapis di pabrik kayu

lapis Jiade Wood, Kota

Linyi, siap dikapalkan ke

Inggris.

©Greenpeace

Bawah: Agustus 2005, Provinsi Shandong, CinaSebuah kayu meranti

gelondongan ilegal

yang berasal dari hutan

Indonesia di Pabrik Veneer

Yifeng di Kota Linyi

menunggu diraut menjadi

kayu lapis. Papan iklan di

belakangnya menampilkan

pemimpin Cina Deng

Xiaoping dan tertulis

‘Kemajuan itu perlu’.

©Greenpeace

iNVEstigasi DaN EkspOs

Page 31: Down to Zero | bahasa indonesia

29

Januari 2006, Provinsi Guangdong, Cina Kayu merbau dari hutan Indonesia

disimpan di Pasar Kayu Yuzhou di tepi

Sungai Pearl, Guangzhou. Kayu bernilai

tinggi ini akan diproduksi menjadi bahan

bangunan dan mebel sebelum masuk ke

pasar internasional.

©Guo Qiang Ji/Greenpeace

2005-7Tiga Laporan Greenpeace.

Dari kiri ke kanan, laporan pertama

mendokumentasikan bagaimana

perdagangan internasional kayu lapis

dari Cina menghancurkan hutan hujan.

Yang kedua meletakkan alternatif-

alternatif menuju kayu lapis yang tidak

berkelanjutan untuk industri konstruksi.

Laporan ketiga mengungkapkan

bagaimana merbau, spesies kayu yang

hanya tersedia dalam jumlah komersial

di pulau Papua, menghadapi risiko

kepunahan yang sangat tinggi di alam

liar. Penyelundupannya ke Cina sangat

marak terjadi.

Maret 2006, Papua, Indonesia:Aktivis Greenpeace, Hapsoro

menyaksikan penebangan merbau

dari hutan Papua sebagai bagian

dari investigasi penebangan ilegal

dan merusak spesies ini dan

perdagangannya dengan Cina.

©Budhi/Greenpeace

Page 32: Down to Zero | bahasa indonesia

30

Riset dan mengekspos kaitan antara kayu lapis di Inggris dan perusakan hutan hujan ilegal

Atas: Oktober 2005, Leeds, Inggris RayaPengkampanye Greenpeace menemui Menteri

Lingkungan Hidup Hilary Benn MP di luar

pertemuannya dengan para politisi Eropa. Pesan

Greenpeace disampaikan pada kayu lapos yang

terbuat dari kayu hutan hujan yang ditebangi

secara ilegal.

©Morgan/Greenpeace

Halaman selanjutnya: Oktober 2005, London, Inggris RayaPara aktivis Greenpeace membuang lebih dari satu

ton kayu lapis yang terkait dengan perusahaan-

perusahaan yang memproses kayu hutan hujan ilegal

di depan pintu masuk Departemen Lingkungan,

Pangan dan Urusan Daerah.

©Touhig/Greenpeace

aksi

Walau telah diperingatkan Greenpeace, kayu hutan hujan yang ditebangi

secara ilegal masih digunakan untuk merenovasi gedung pemerintahan,

termasuk Kantor Kabinet.

Page 33: Down to Zero | bahasa indonesia

31

Page 34: Down to Zero | bahasa indonesia

32

Perdagangan internasional kayu Indonesia ilegal

MENJaDi saksi

pELiBataN Masyarakat

Mei 2006, JepangPengkampanye hutan Asia Tenggara Greenpeace Hapsoro menjadi saksi di

Pelabuhan Yokohama saat kapal MV Ardhianto membongkar seribu kubik kayu

lapis yang berasal dari penebangan ilegal dan merusak di Papua.

©Noda/Greenpeace

2005, Jakarta, IndonesiaGreenpeace pertama kali membuka kantor di Indonesia. Dalam gambar ini adalah

tim hutan pertamanya: Hapsoro, Abner Korwa, Leonard (Bunny) Soriano dan

Bustar Maitar.

©Greenpeace

Juli 2006, Papua, IndonesiaSukarelawan Greenpeace dari Papua memimpin pertemuan kelompok perempuan

di desa Sira dan Manggroholo untuk mendiskusikan solusi untuk mendukung

ekonomi desa dan melindungi mereka dari deforestasi.

©Jufri/Greenpeace

Bekerja dengan masyarakat Papua untuk perlindungan hutan dan kesejahteraan masyarakat

Page 35: Down to Zero | bahasa indonesia

33

Melobi pemerintah Indonesia untuk melakukan moratorium deforestasi

LOBi DaN pELiBataN para pihak

Juni 2006, Jakarta, IndonesiaAktivis Greenpeace menghalangi jalan masuk ke Kementerian Kehutanan

Indonesia dengan palang kayu dan rantai untuk menuntut Kementerian untuk

berhenti mengalokasikan ‘Izin Membunuh Hutan’ kepada perusahaan-perusahaan

penebangan kayu.

©Danhur/Greenpeace

Desember 2007, Bali, IndonesiaPresiden Konferensi ke-13 Badan PBB untuk Kerangka Konvensi Perubahan

Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change, UNFCCC) dan

Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar berdiri di depan Rainbow Warrior

di Bali sebelum memasuki Pertemuan tingkat Menteri, dimana kesepakatan

untuk sebuah mekanisme pendanaan internasional untuk mengurangi emisi dari

deforestasi.

©Hilton/Greenpeace

Maret 2007, Jakarta, IndonesiaAktivis Greenpeace Bustar Maitar dan Hapsoro menunjukkan buku Guinness

World Records yang menamakan Indonesia sebagai pemegang rekor dunia sebagai

penghancur hutan tercepat di Bumi. Greenpeace meluncurkan kampanye Pembela

Hutan (Forest Defenders), menggunakan aksi dan petisi untuk meningkatkan

kesadaran mengenai implikasi lingkungan dari penebangan ilegal di negara ini.

©Danhur/Greenpeace

Page 36: Down to Zero | bahasa indonesia

34

hasiL Mengubah hukum internasional Peraturan perdagangan dalam pasar konsumen kunci saat ini melarang perdagangan kayu ilegal. Ini termasuk (a) amandemen 2008 kepada Hukum Lacey di AS, (b) Peraturan Kayu Uni Eropa 2010 dan (c) Undang-Undang Pelarangan Penebangan Kayu Ilegal Australia 2012. Perusahaan yang beroperasi dalam pasar-pasar ini sekarang diharuskan untuk mengetahui – dan dapat membuktikan – secara persis dari mana kayu mereka berasal dan harus melakukan segala hal yang diperlukan untuk mencegah mereka membeli kayu ilegal.

Pemerintah Inggris dan Uni Eropa memperketat kebijakan pengadaan pemerintah

Sejumlah besar cukong kayu menghentikan pasokan dari perusahaan berisiko tinggi

Februari 2012, Sumatra, IndonesiaHutan Gambut Kerumutan.

©Jufri/Greenpeace

Page 37: Down to Zero | bahasa indonesia

35

Page 38: Down to Zero | bahasa indonesia

36

MINYAK KELAPA SAWIT

2007–2010

Page 39: Down to Zero | bahasa indonesia

37

Agustus 2006, Riau, Sumatra, IndonesiaLahan gambut yang telah terdegradasi dan terbakar

sebagai persiapan untuk pembukaan perkebunan.

©Dithajohn/Greenpeace

Pada tahun 2007, deforestasi Indonesia diakui sebagai masalah global karena dampaknya terhadap iklim. Indonesia menjadi pegemisi gas rumahkaca ketiga terbesar, hanya setelah Cina dan Amerika Serikat. Program PBB untuk Lingkungan Hidup (The United Nations Environment Programme, UNEP) memperingatkan bahwa perkebunan kelapa sawit adalah ancaman terbesar kepada hutan hujan Indonesia. Perkebunan kelapa sawit memproduksi minyak kelapa sawit, minyak nabati murah yang banyak digunakan dalam produk kecantikan, makanan terproses dan makanan ringan.

Industri kelapa sawit berkembang pesat di Riau, provinsi di Sumatra yang memiliki stok karbon yang besar, yang dilepas ke udara saat lahan gambutnya dikeringkan saat pembukaan perkebunan. Penghancuran lahan gambut Indonesia, yang hanya kurang dari 0,1% permukaan darat dunia, menyumbang sampai dengan 4% emisi gas rumahkaca dunia tiap tahunnya.

Greenpeace memfokuskan perhatiannya kepada konglomerat Indonesia Sinar Mas, yang divisi kelapa sawitnya, Golden Agri-Resources, merupakan produsen minyak kelapa sawit kedua terbesar di dunia dan menjual produknya ke perusahaan-perusahaan seperti Mars, Nestlé, Carrefour dan Unilever. Jika cukup banyak pelanggannya membatalkan kontrak mereka, maka Sinar Mas akan tidak mempunyai pilihan untuk mengabaikan deforestasi. Bukan hanya ini akan mentransformasi industri kelapa sawit di Indonesia, tapi juga akan memberikan pemerintah Indonesia kesempatan politik untuk memberlakukan moratorium pembukaan hutan industri dan dan degradasi lahan gambut.

tUNtUtaN• Deforestasi nol: pembukaan hutan industri dan dan degradasi lahan

gambut• Bersihkan perdagangan: berlakukan kebijakan konservasi hutan • Bersihkan perdagangan: batalkan kontrak dengan perusahaan yang

terlibat dengan deforestasi dan degradasi lahan gambut

MINYAK KELAPA SAWIT

Page 40: Down to Zero | bahasa indonesia

38

Bagaimana perdagangan internasional minyak kelapa sawit mendorong penghancuran hutan dan lahan gambut Indonesia.

iNVEstigasi

Agustus 2006, Riau, Sumatra, IndonesiaSebuah truk bermuatan kayu pulp perkebunan

berjalan sebuah jalan akses logging melalui konsesi

kayu pulp yang terbakar.

©Dithajohn/Greenpeace

November 2007Sebuah laporan mendalam Greenpeace, ‘Bagaimana

Industri Minyak Kelapa Sawit Menggoreng Iklim’,

mengungkapkan bagaimana permintaan global minyak

kelapa sawit menghancurkan lahan gambut dan hutan

hujan Indonesia dan mendorong perubahan iklim.

Page 41: Down to Zero | bahasa indonesia

39

Oktober 2007, Kalimantan Selatan, Indonesia Tonggak-tonggak kayu

yang terbakar di lahan

gambut yang dibuka

untuk konversi.

©Behring/Greenpeace

Agustus 2006, Riau, Sumatra, Indonesia Investigator Greenpeace

dalam konsesi kayu pulp

yang terbakar milik PT

Satria Perkasa Agung,

yang masuk dalam Sinar

Mas group, yang telah

diidentifikasi sebagai

kawasan penting bagi

keanekaragaman hayati

dan konservasi.

©Dithajohn/Greenpeace

Page 42: Down to Zero | bahasa indonesia

40

Oktober 2007, Riau, Sumatra, IndonesiaLahan gambut ini telah dibuka dan dikeringkan,

siap untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.

©Budhi/Greenpeace

Page 43: Down to Zero | bahasa indonesia

41

Agustus 2006, Riau, Sumatra, IndonesiaKayu pulp yang terbakar ini adalah peringatan

visual dari tingginya emisi dari pembukaan

lahan gambut.

©Dithajohn/Greenpeace

Page 44: Down to Zero | bahasa indonesia

42

Menghalangi perdagangan internasional minyak kelapa sawit yang berasal dari operasi-operasi yang ilegal dan merusak

aksi

November 2007, Riau, Sumatra, IndonesiaKapal Rainbow Warrior mengakhiri blokade tiga

harinya terhadap kapal tanker MT Westama yang

membawa lebih dari 30.000 ton minyak kelapa sawit

di Pelabuhan Dumai.

©Äslund/Greenpeace

Page 45: Down to Zero | bahasa indonesia

43

Menutup kanal drainase dan memerangi kebakaran hutan lahan gambut

sOLUsi DaN pELiBataN Masyarakat

Kanan: Oktober 2007,Riau, Sumatra, IndonesiaChristo, anggota tim aktivis Greenpeace

dan sukarelawan dan masyarakat

lokal, menutup kanal drainase untuk

menghentikan degradasi lahan gambut

di Kuala Cenaku.

©Budhi/Greenpeace

Kanan bawah: April 2007,Kalimantan Tengah,Orangutan muda Indonesia

bergelantungan dari dahan di proyek

reintroduksi Nyaru Menteng dekat

Palangkaraya.

©Mauthe/Greenpeace

Kiri bawah: Oktober 2007, Riau, Sumatra, IndonesiaGreenpeace dan LSM lokal Jikalahari

membantu untuk melatih masyarakat

lokal untuk memerangi kebakaran hutan

di Kuala Cenaku. Api yang seringkali

dinyalakan secara sengaja untuk

membuka wilayah lahan gambut untuk

perkebunan kelapa sawit dan kayu pulp.

©Budhi/Greenpeace

Page 46: Down to Zero | bahasa indonesia

44

Mengaitkan perdagangan minyak kelapa sawit Unilever dengan perusakan hutan dan lahan gambut Indonesia

iNVEstigasi

Maret 2008, Kalimantan Tengah, IndonesiaPak Yamin memegang dokumen adat resmi yang membuktikan bahwa ia memiliki

hak terhadap lahan kebun yang ditebangi oleh perusahaan perkebunan kelapa

sawit PT Hamparan Persada.

©films4.org

Musim semi 2008Dua laporan Greenpeace mendokumentasikan dampak yang diakibatkan oleh para

pemasok utama minyak kelapa sawit terhadap hutan hujan dan kehidupan liar

di Kalimantan. Laporan ini mengekspos peran Unilever dan beberapa konsumen

korporat besar lainnya dalam mendorong penghancuran ini.

September 2006, Kalimantan Tengah, Indonesia‘Mico’, seekor orangutan yang terdampar dalam konsesi kelapa sawit yang telah

ditebangi.

©BOS

Agustus 2007, Kalimantan Tengah, IndonesiaPenggali bekerja di konsesi kelapa sawit PT Sarana Titian Perata. Konsesi ini

berada di bawah kuasa perusahaan Malaysia, Wilmar, yang memasok minyak

kelapa sawit ke Unilever. Tulisan di pohon terbaca ‘Dilarang Memburu Satwa Liar’.

©films4.org

Page 47: Down to Zero | bahasa indonesia

45

Maret 2008, Riau, Sumatra, IndonesiaPembukaan hutan lahan gambut di perkebunan kelapa sawit PT Duta Palma.

©Behring/Greenpeace

Page 48: Down to Zero | bahasa indonesia

46

Page 49: Down to Zero | bahasa indonesia

47

Bagaimana Unilever mendorong penghancuran hutan hujan

EkspOs

Kiri atas: April 2008, Liverpool, Inggris RayaEnam-puluh orangutan menduduki

pabrik Unilever di Port Sunlight.

©Rose/Greenpeace

Halaman sebelumnya: April 2008, London, Inggris RayaAktivis yang berkostum orangutan

berbicara dengan para pejalan kaki di

luar kantor pusat Unilever di London.

©Cobb/Greenpeace

Kanan atas: April 2008Peluncuran video plesetan Dove

untuk mengekspos keterlibatan

Unilever dalam perusakan hutan hujan

Indonesia serta dampaknya.

Kiri: April 2008, London, Inggris Raya Iklan plesetan Dove di stasiun kereta

bawah tanah London.

Setelah berbulan-bulan riset, kami mengungkapkab bahwa Unilever dan beberapa

perusahaan lain membeli minyak kelapa sawit dari perusahaan yang menghancurkan

hutan hujan Indonesia. Minyak kelapa sawit dari perkebunan dalam lahan gambut

digunakan dalam Dove, produk kosmetik Unilever. Kami meluncurkan kampanye

terhadap Unilever, menuntut perusahaan tersebut menghentikan perdagangan

dengan perusahaan yang terkait dengan deforestasi dan degradasi lahan gambut.

Hanya diperlukan waktu sepuluh hari bagi Unilever untuk mendukung diberlakukannya

moratorium terhadap deforestasi di Indonesia dan kurang dari satu bulan untuk

memberlakukan kebijakan deforestasi nol pada seluruh rantai pasokannya.

Page 50: Down to Zero | bahasa indonesia

48

Menghentikan perdagangan minyak kelapa sawit internasional Wilmar yang merupakan pasokan ilegal dan merusak

aksi

November 2008,Riau, Sumatra, Indonesia Aktivis Greenpeace Adhonian

Canarisla disemprot dengan selang

air bertenaga tinggi saat ia menaiki

rantai jangkar kapal tanker Gran

Couva dan menggantung banner

bertuliskan ‘Tidak ada lagi hutan,

lahan gambut untuk kelapa sawit’.

Kru kapal Greenpeace MV Esperanza

menduduki tanker tersebut selama

24 jam di lepas pantai Riau, Sumatra

dan menuliskan ‘Forest Crime’ atau

Kejahatan Hutan pada lambungnya.

Kapal tersebut, membawa 27.000

ton minyak kelapa sawit mentah untuk

grup Malaysia Wilmar, akan berlayar

menuju pelabuhan Rotterdam di Negeri

Belanda.

Kiri: ©Sharomov/Greenpeace

Bawah dan halaman berikut: ©Novis/

Greenpeace

Page 51: Down to Zero | bahasa indonesia

49

Page 52: Down to Zero | bahasa indonesia

50

Page 53: Down to Zero | bahasa indonesia

51

Konflik sosial dan perkebunan di Papua dan Sumatra

DOkUMENtasi

Kiri: Oktober 2008,Papua, IndonesiaPenebangan kayu di Waropen.

Greenpeace mengorganisir perjalanan

kapal ‘Hutan untuk Iklim’ untuk

mengekspos penebangan ilegal dan

merusak di Papua, pertahanan hutan

alam asli terakhir Indonesia – dan

menyerukan moratorium segera

terhadap semua konversi hutan.

©Rante/Greenpeace

Kanan atas: Desember 2008,Riau, Sumatra, IndonesiaPetugas polisi berdiri saja sementara

rumah-rumah di dekatnya terbakar.

Masyarakat Suluk Bongkal

mempertahankan tanah mereka

terhadap perusahaan kayu pulp PT

Arara Abadi, anak perusahaan Sinar

Mas group, yang hendak mengambil

alih ribuan hektar lahan masyarakat.

Polisi dan staf keamanan menyerang

masyarakat desa dan membakar 700

rumah rata dengan tanah.

©Greenpeace

Kanan: Januari 2009,Riau, Sumatra, Indonesia Para penduduk Suluk Bongkal

berdemonstrasi menuntut untuk

membebaskan anggota keluarga

mereka di depan gedung dewan

perwakilan rakyat daerah di Bengkalis.

©Rante/Greenpeace

Page 54: Down to Zero | bahasa indonesia

52

Mengkonfrontasi Sinar Mas group dan Asia Pacific Resources International Holdings Limited (APRIL), pemain utama sektor pulp dan kelapa sawit di Indonesia

aksi

Page 55: Down to Zero | bahasa indonesia

53

Halaman sebelumnya, atas: Agustus 2009, Kalimantan Barat, IndonesiaAktivis Greenpeace merantai dirinya

pada sebuah traktor dalam sebuah

protes di tepi hutan konsesi Sinar Mas

group di kabupaten Kapuas Hulu.

©Rante/Greenpeace

Halaman sebelumnya, kiri bawah: November 2009,Riau, Sumatra, IndonesiaAktivis Greenpeace memprotes

penghancuran lahan gambut di

perkebunan kayu pulp APRIL di

Semenanjung Kampar.

©Rante/Greenpeace

Halaman sebelumnya, tengah bawah: Agustus 2009,Kalimantan Barat, Indonesia Aktivis Greenpeace dan LSM lokal

Walhi merantai diri mereka ke

ekskavator di perkebunan kelapa sawit

di Kapuas Hulu yang dikendalikan oleh

Sinar Mas group.

©Rante/Greenpeace

Halaman sebelumnya, kanan bawah:

Oktober 2009, St Nazaire, PerancisAktivis Greenpeace menuliskan

‘Climate Crime’ atau Kejahatan Iklim

pada lambung kapal kargo Izmir

Castle, yang mengangkut 15.000 ton

minyak kelapa sawit.

©Greenpeace

Kanan: November 2009,Riau, Sumatra, Indonesia Aktivis Greenpeace tiba di Polda Riau,

Pekanbaru setelah ditahan karena

menghentikan fasilitas ekspor di

pabrik pulp Asia Pulp & Paper, anak

perusahaan Sinar Mas.

©Greenpeace

Page 56: Down to Zero | bahasa indonesia

54

Climate Defenders Camp di Sumatra

Pada saat para pemimpin dunia mempersiapkan Pertemuan Tingkat Tinggi PBB mengenai iklim

COP15 United Nations Climate Summit di Copenhagen, Denmark, Greenpeace membangun Kamp

Pembela Iklim di Semenanjung Kampar di Riau, Sumatra. Para sukarelawan kami bekerja bersama

masyarakat setempat untuk memerangi kebakaran hutan dan membangun dam untuk menutup

kanal drainase dan transpor yang dibangun perusahaan perkebunan yang memotong lahan gambut.

sOLUsi DaN pELiBataN Masyarakat

Halaman berikutnya, kanan bawah:

November 2009,Riau, Sumatra, IndonesiaBintang film Perancis Mélanie Laurent

mengunjungi Climate Defender Camp

Greenpeace.

©Rose/Greenpeace

Atas: November 2009,Riau, Sumatra, IndonesiaHutan hujan lahan gambut tercermin di

sungai Serkap di Semenanjung Kampar.

©Sjolander/Greenpeace

Halaman berikutnya, kiri bawah:

November 2009,Riau, Sumatra, IndonesiaBintang pop Cina Xiao Wei mengunjungi

Suaka Alam Kerumutan di Semenanjung

Kampar dengan seorang sukarelawan

Greenpeace.

©Rose/Greenpeace

Halaman balik: Agustus 2008, Riau, Sumatra, Indonesia Hutan gambut Kampar.

©Beltra/Greenpeace

Page 57: Down to Zero | bahasa indonesia

55

Kiri: November 2009,Riau, Sumatra, Indonesia Aktivis Greenpeace dan sukarelawan

dari masyarakat lokal membangun

bendungan untuk menghentikan

mengeringnya lahan gambut yang

kaya karbon.

©Rose/Greenpeace

Bawah: November 2009, Riau, Sumatra, Indonesia Pemusik Indonesia Iwan Fals

menggelar konser untuk mendukung

kampanye Greenpeace untuk

melindungi Kampar.

©Greenpeace

Page 58: Down to Zero | bahasa indonesia

56

Page 59: Down to Zero | bahasa indonesia

57

Page 60: Down to Zero | bahasa indonesia

58

Menyerukan pemerintah Indonesia untuk memberlakukan moratorium dan meminta pertanggungjawaban produsen minyak kelapa sawit Sinar Mas group dan APRIL akan deforestasi yang diakibatkannya

LOBi DaN aksi

Page 61: Down to Zero | bahasa indonesia

59

Halaman sebelumnya, kiri atas:

Juli 2009, Jakarta, IndonesiaAktivis dan pendukung Greenpeace menyerukan

moratorium nasional deforestasi di luar studio TV

dimana debat terakhir kampanye pemilihan presiden

sedang berlangsung.

©Rante/Greenpeace

Halaman sebelumnya, kanan atas:

Maret 2009, Jakarta, IndonesiaAktivis Greenpeace menghalangi pintu masuk kantor

pusat Sinar Mas group.

©Rante/Greenpeace

Halaman sebelumnya, bawah: November 2009, Riau, Sumatra, IndonesiaAktivis Greenpeace beraksi melawan APRIL,

produsen pulp dan kertas kedua terbesar di

Indonesia, untuk menghentikan pembukaan hutan

di lahan gambut. Aksi berlangsung dua hari sebelum

Presiden Obama bersama duapuluh kepala negara

lain bertemu di Singapura untuk membicarakan

Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik.

©Novis/Greenpeace

Melengkapi masyarakat untuk memerangi kebakaran lahan gambut

pELiBataN Masyarakat

Agustus 2009, Riau, Sumatra, IndonesiaSeorang sukarelawan Greenpeace bersama

masyarakat memerangi kebakaran hutan di Kuala

Cenaku. Banyak dari peralatan yang digunakan adalah

sumbangan Greenpeace kepada masyarakat dua

tahun sebelumnya.

©Anggoro/Greenpeace

Page 62: Down to Zero | bahasa indonesia

60

Dampak meluasnya pasar minyak kelapa sawit dari deforestasi

kErUsakaN

Juli 2009,Jambi, Sumatra, IndonesiaJalan akses melalui perkebunan kayu

pulp eucalyptus Sinar Mas group.

©Beltra/Greenpeace

Juli 2009,Kalimantan Selatan, Indonesia Kerangka pohon hutan hujan dalam

perkebunan kelapa sawit dekat

Sungaihantu. Foto ini adalah juara kedua

One Earth Award tahun 2010.

©Beltra/Greenpeace

Page 63: Down to Zero | bahasa indonesia

61

Agustus 2009,Jambi, Sumatra, Indonesia Orangutan yang kehilangan induknya

ditempatkan di pusat rehabilitasi Frankfurt

Zoological Society dalam Bentang Alam

Bukit Tigapuluh.

©Budhi/Greenpeace

Februari 2009,Kalimantan Barat, IndonesiaPembukaan lahan dekat Taman Nasional

Danau Sentarum untuk perkebunan

kelapa sawit oleh anak perusahaan Sinar

Mas group, Golden Agri-Resources.

©Purnomo/Greenpeace

Page 64: Down to Zero | bahasa indonesia

62

Mengaitkan Nestlé dengan perusakan hutan hujan oleh Sinar Mas group

EkspOs

November 2009, UKMateri komunikasi Greenpeace

digunakan untuk mengekspos kaitan

antara Nestlé dan perusakan hutan hujan

oleh divisi kelapa sawit Sinar Mas group

(Golden Agri-Resources).

NEW EVIDENCESINARMAS -RAINFOREST ANDPEATLAND DESTRUCTION

For more information contact:[email protected]

PUBLISHED IN APRIL 2010by Greenpeace InternationalOttho Heldringstraat 51066 AZ AmsterdamThe NetherlandsTel: +31 20 7182000Fax: +31 20 7182002

JN 324

www.greenpeace.org

Clearedforestson

deep

peatwithintheHigh

ConservationValuearea

inPT

ALMconcession.Peatland

threeormoremetresdeep

may

notbeconvertedtoplantations

accordingtoIndonesian

law.PTALM,KetapangDistrict,West-Kalim

antan.9March

2010,G

PS:1

36'0.8"S/11025'9.2"

E

©Greenpeace/Ryo Adna

Greenpeace menggeser fokusnya ke Nestlé, salah satu pelanggan Sinar Mas group. Kampanye

kami diluncurkan dengan video provokatif dimana seorang pekerja kantor menggigit KitKat yang

di dalamnya terdapat jari orangutan. Nestlé mengeluarkan video tersebut dari YouTube dan

mengancam akan men-delete semua komen dari halaman Facebook mereka. Tindakan ini berbalik

menyerang mereka karena para pendukung Greenpeace dengan cepat mengunggah kembali

film ini dan membanjiri perusahaan dengan email dan komen-komen di Facebook. Delapan

minggu setelah peluncuran video tersebut, Nestlé mengumumkan kebijakan deforestasi nol yang

mengeliminasi deforestasi dari rantai pasokan mereka.

Maret 2010Foto dari film kampanye Greenpeace,

Give the Orang-utan a Break atau

Berikan Break untuk Orangutan. Film ini

ditonton lebih dari 1,5 juta kali.

Page 65: Down to Zero | bahasa indonesia

63

Meminta pertanggungjawaban Nestlé untuk perdagangannya dengan Sinar Mas group

Meminta pertanggungjawaban HSBC karena telah memberikan jasa keuangan kepada Sinar Mas

MELOBi

Kanan, dari atas ke bawah:

Maret 2010, JermanStaf Greenpeace membagikan brosur kepada karyawan Nestlé di kantor pusat

mereka di Frankfurt dan di pabrik-pabrik mereka di Hamburg, Berlin, Nuernberg,

Soest dan Singen.

©Varnhorn/Greenpeace

Maret 2010, Beijing, CinaSeorang penjaga keamanan di kantor pusat Nestlé berbicara dengan orangutan

Greenpeace yang membagikan brosur yang menyerukan perusahaan untuk

menghentikan pembelian minyak kelapa sawit dari Sinar Mas.

©Lim/Greenpeace

April 2010, Swiss Aktivis Greenpeace menembus pertemuan tahunan pemegang saham Nestlé.

Dua orang pemanjat turun dengan tambang di atas kepala para eksekutif Nestle,

dan membentangkan spanduk yang menyerukan perusahaan untuk memberi

kesempatan pada orangutan.

©Greenpeace

Maret 2010, London, Inggris RayaSebuah papan iklan Greenpeace dekat kantor pusat Nestlé.

©Rezac/Greenpeace

Bawah: Juni 2010, Inggris RayaSticker placed on cashpoint machines during a short, sharp campaign exposing

HSBC’s relationship with the Sinar Mas group.

Page 66: Down to Zero | bahasa indonesia

64

Apa yang kita bela

aLaM

September 2008, Papua, IndonesiaSeekor serangga di

hutan gunung Cyclops

dekat danau Sentani di

Papua.

©Beltra/Greenpeace

Juni 2009, Kalimantan Tengahlangur Kalimantan

(Trachypithecus

cristatus), juga dikenal

sebagai monyet daun

perak atau langur perak.

©Rante/Greenpeace

Page 67: Down to Zero | bahasa indonesia

65

November 2009, Riau, Sumatra, IndonesiaSeorang nelayan di

Semenanjung Kampar

memperlihatkan

tangkapannya. Lebih

dari satu dekade sejak

tahun 1998, tangkapan

keluarganya turun

sampai dengan 70% –

mereka mengatakan hal

ini terjadi akibat polusi

yang disebabkan oleh

penghancuran hutan

hujan lahan gambut.

©Rose/Greenpeace

Harimau Sumatra

(Panthera tigris sumatrae).

©Alamy

Page 68: Down to Zero | bahasa indonesia

66

Kelapa sawit yang baik

sOLUsi

Janji-janji akan pembangunan ekonomi dan pekerjaan untuk masyarakat lokal dari ekspansi

kelapa sawit tidak menjadi kenyataan bagi banyak orang. Walau demikian, sebuah proyek

perkebunan kecil yang inovatif dan independen yang dimulai oleh Pemerintah Kabupaten Siak

di Semenanjung Kampar, Riau, Sumatra telah memberikan keuntungan sosial dan ekonomi

untuk masyarakat Dosan sementara menjaga hutan mereka yang tersisa. Greenpeace

mendukung pendekatan ini untuk memproduksi 'Minyak Kelapa Sawit yang Baik' yang dapat

direplikasi tidak hanya di Indonesia, tapi juga oleh masyarakat di belahan lain di dunia.

Mei 2012,Kampar, Riau, Sumatra, Indonesia Sejak 2008, masyarakat Dosan

telah mengelola perkebunan kelapa

sawit mereka sendiri, yang berarti

semua keuntungan dikembalikan ke

masyarakat desa dan memastikan

pekerjaan penuh bagi masyarakat.

Hutan telah menjadi bagian penting

bagi kehidupan masyarakat Dosan.

Konservasi adalah prioritas dan

kebutuhan karena memberikan

komunitas hasil seperti karet, rotan,

pangan dan kayu selain juga uang.

©Novis/Greenpeace

Page 69: Down to Zero | bahasa indonesia

67

Kanan: Mei 2012,Kampar, Riau, Sumatra, Indonesia Membangun bendungan di perkebunan

kelapa sawit masyarakat Dosan.

Masyarakat Dosan berkomitmen untuk

melindungi hutan dan lahan gambut

mereka dengan menerapkan praktik

pengelolaan lingkungan yang baik di

perkebunan kelapa sawit mereka.

©Novis/Greenpeace

Atas: Mei 2012,Kampar, Riau, Sumatra, Indonesia Danau Nagasakti sangat rentan

terhadap pengembangan perkebunan

di kubah gambut Kampar, yang

mempengaruhi ketinggian permukaan

air dan hutan di sekelilingnya. Danau ini

keramat bagi penduduk Dosan. Sebagai

penjaganya, masyarakat mengerti

pentingnya menjaga wilayah ini melalui

penggunaan lahan mereka secara arif.

©Novis/Greenpeace

Page 70: Down to Zero | bahasa indonesia

68

Membersihkan industri Pada 9 Februari 2011, produsen minyak kelapa sawit terbesar kedua di dunia, anak perusahaan Sinar Mas group, Golden Agri- Resources, mengumumkan kebijakan konservasi hutan yang baru. Perusahaan sepakat untuk menghentikan pembukaan hutan dan pengembangan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit.

Membersihkan perdagangan Banyak merek yang akrab dengan publik memberlakukan kebijakan yang tidak mengikutsertakan produk-produk yang terkait dengan deforestasi dari rantai pasokannya. Banyak yang berkomitmen untuk membeli secara eksklusif hanya dari anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), standar yang dibuat berdasarkan kesepakatan para pemangku kepentingan. Unilever dan Nestlé – dua konsumen minyak kelapa sawit terbesar dunia – melangkah lebih jauh dan memberlakukan kebijakan yang memajukan industri ini untuk membersihkan rantai pasokan mereka.

hasiL

Maret 2013, Jakarta, IndonesiaGolden Agri-Resources, divisi kelapa sawit

Sinar Mas group, meluncurkan Proyek

Pilot Konservasi Hutan mereka. Bustar

Maitar dari Greenpeace berdiri dengan

staf dari The Forest Trust, Wakil Menteri

Keuangan Mahendra Siregar, Wakil Bupati

Kapuas Hulu, dan Daud Darshono dari PT.

SMART/Sinar Mas group.

©Greenpeace

Agustus 2009,Jambi, Sumatra, IndonesiaHutan hujan yang mengelilingi Taman

Nasional Bukit Tigapuluh adalah habitat

vital bagi banyak spesies yang dilindungi

dan terancam punah. Hutan ini telah

dirusak oleh pembangunan perkebunan.

©Budhi/Greenpeace

Page 71: Down to Zero | bahasa indonesia

69

Page 72: Down to Zero | bahasa indonesia

70

KERTAS2010–2013

Page 73: Down to Zero | bahasa indonesia

71

Agustus 2008, Riau, Sumatra, IndonesiaPabrik pulp APRIL, PT Riau Andalah Pulp and Paper.

APRIL dimiliki oleh Raja Garuda Mas Group.

©Beltra/Greenpeace

Saat divisi kelapa sawit Sinar Mas group telah menyetujui tuntutan Greenpeace, kami memutuskan untuk berfokus pada sektor pulp dan kertas, yang didominasi anak perusahaan Sinar Mas lainnya, Asia Pulp & Paper (APP). APP dan kompetitornya Asia Pacific Resources International Holdings Limited (APRIL) menguasai 80% industri pulp dan kertas Indonesia.

APP mengklaim bahwa pabrik-pabrik mereka sebagian besar menggunakan kayu dari perkebunan, seperti akasia atau eucalyptus. Produk kertas dapat diuji dan diidentifikasi dari pohon mana mereka dibuat, dan kami menemukan serat kayu tropis campuran (mixed tropical hardwood, MTH) dalam kertas dan kemasan yang dibuat oleh APP untuk perusahaan-perusahaan internasional besar. Ini adalah bukti nyata bahwa APP masih menghancurkan hutan hujan Indonesia. Kami bahkan menemukan tumpukan kayu ramin – spesies terancam punah yang dilindungi oleh hukum internasional – dicampur dengan kayu bulat dari jenis kayu keras tropis lainnya dalam pabrik kertas terbesar APP.

Sementara kantor-kantor Greenpeace di seluruh dunia menantang pelanggan APP, kantor Indonesia masih bekerja keras untuk mendapatkan moratorium pembukaan hutan skala industri dan degradasi lahan gambut. Sampai sekarang, hampir semua hutan Indonesia telah dialokasikan untuk perusahaan tambang, pulp dan kelapa sawit, maka kami juga menginginkan pemerintah Indonesia untuk mengkaji konsesi yang ada dan mengambil alih kembali wilayah hutan yang belum dihancurkan.

tUNtUtaN• Deforestasi nol: moratorium pembukaan hutan skala industri dan

degradasi lahan gambut dan pengkajian konsesi yang ada • Membersihkan perdagangan: sektor pulp agar memberlakukan

kebijakan konservasi hutan • Membersihkan perdagangan: batalkan kontrak dengan perusahaan

yang terlibat deforestasi dan degradasi lahan gambut

KERTAS

Page 74: Down to Zero | bahasa indonesia

72

Bagaimana ekspansi Sinar Mas group mengancam hutan hujan Indonesia

iNVEstigasi

Bawah dan kanan: Agustus 2010, Sumatra, IndonesiaDokumentasi udara dari deforestasi

yang terkait dengan anak perusahaan

Sinar Mas group, Asia Pulp & Paper.

©Rante/Greenpeace

Halaman berikutnya, bawah:

September 2010, Kalimantan Timur, Indonesia Perkebunan kelapa sawit yang baru

saja ditanami pada lahan hutan yang

baru ditebang habis di Telen.

©Budhi/Greenpeace

Page 75: Down to Zero | bahasa indonesia

73

iiihow sinar mas is pulping the planet

PULPINGthe

PLANethow SINAr MAS IS

Musim panas 2010Dua laporan Greenpeace yang mendokumentasikan

dampak ekspansi kerajaan kertas dan kelapa sawit

Sinar Mas group terhadap hutan hujan Indonesia.

September 2011, Riau, Sumatra, IndonesiaMengukur jejak kaki harimau di dalam Taman Nasional

Tesso Nilo pada Tur Mata Harimau 2011. Greenpeace

mengorganisir tur ini untuk meningkatkan kesadaran

akan dampak deforestasi dan untuk mendesak

pemerintah Indonesia untuk mengkaji ulang konsesi

yang ada.

©Ifansasti/Greenpepace

Page 76: Down to Zero | bahasa indonesia

74

April 2010, Jambi, Sumatra, IndonesiaTumpukan kayu hutan hujan di Bentang

Alam Bukit Tigapuluh.

©Greenpeace

Page 77: Down to Zero | bahasa indonesia

75

Oktober 2009, Riau, Sumatra, IndonesiaJalan akses dalam perkebunan kayu

pulp di Semenanjung Kampar yang

terkait dengan Asia Pulp & Paper.

©Rante/Greenpeace

Page 78: Down to Zero | bahasa indonesia

76

Bagaimana kebijakan iklim dan pembangunan pemerintah membahayakan jutaan hektar hutan hujan Indonesia

iNVEstigasi

PRO

TEC

TIO

N M

ON

EY

iii

How industry expansion plans would use climate funds to bankroll deforestation and undermine President Susilo Bambang Yudhoyono’s commitment to low-carbon development

PROTECTiOnmOnEy

Kiri: Maret 2010, Jakarta, Indonesia Aktivis Greenpeace di

gedung Kementerian

Kehutanan.

©Rante/Greenpeace

Kanan: Agustus 2008, Riau, Sumatra, Indonesia Perkebunan kayu pulp

Eucalyptus berdampingan

dengan hutan hujan dekat

Pekanbaru.

©Beltra/Greenpeace

Pada tahun 2010, pemerintah Indonesia mengumumkan rencana

akan mengklasifikasi perkebunan sebagai hutan, sementara

memberi izin perusahaan perkebunan dan pertambangan untuk

terus merusak habitat kritis seperti hutan lahan gambut. Rencana

ini akan memungkinkan bagi Indonesia untuk menyembunyikan

emisi gas rumahkaca dalam jumlah besar dari penghancuran hutan

dan lahan gambut. Rencana ini dikecam oleh Greenpeace dan

sejumlah organisasi lingkungan dan sosial kemasyarakatan lainnya.

November 2010Sebuah laporan Greepeace yang mengekspos

rencana pemerintah Indonesia untuk

mengembangkan hampir semua hutan dataran

rendahnya dalam waktu 20 tahun. Metode

penghitungan karbon yang keliru diusulkan oleh

Kementerian Kehutanan akan berarti Indonesia dalam

mengklain pengurangan emisi dengan mengganti

hutan hujan dengan perkebunan.

Page 79: Down to Zero | bahasa indonesia

77

Page 80: Down to Zero | bahasa indonesia

78

Agustus 2008, Riau, Sumatra, IndonesiaHutan hujan yang

berbatasan dengan

Danau Pulau Besar.

Kawasan ini terancam

ekspansi perkebunan

kayu pulp.

©Beltra/Greenpeace

Juli 2009,Kalimantan Tengah, IndonesiaJaringan jalan di lahan

yang baru saja ditebangi

habis dalam sebuah

perkebunan kelapa sawit

dekat Kuala Kuayan.

©Beltra/Greenpeace

Page 81: Down to Zero | bahasa indonesia

79

Oktober 2009, Riau, Sumatra, IndonesiaPerkebunan kayu pulp

Akasia di Kampar.

©Rante/Greenpeace

Page 82: Down to Zero | bahasa indonesia

80

Berdiri dengan masyarakat dan LSM lainnya pada platform yang sama

pELiBataN Masyarakat DaN MENJaDi saksi

Oktober 2010, IndonesiaDirektur Eksekutif Greenpeace Internasional

Kumi Naidoo berbicara dengan media setelah

menyaksikan langsung keindahan hutan hujan

Sumatra dan penghancurannya oleh Asia Pulp &

Paper. Kumi berada di Indonesia untuk peluncuran

‘Platform Bersama untuk Menyelamatkan Hutan

Indonesia untuk Melindungi Iklim Global’ – koalisi

besar LSM yang bekerja untuk keanekaragaman

hayati , hak azasi manusia dan perlindungan iklim

serta yang mewakili masyarakat adat.

©Sutton-Hibbert/Greenpeace

Juni 2010, Riau, Sumatra, IndonesiaAktivis Greenpeace bekerja dengan LSM lokal

Jikalahari dan Forum Komunitas Penyelamat

Semenanjung Kampar (FMPSK) untuk membangun

plasma berbagai tumbuhan dan pohon asli pada

peluncuran kembali ‘Kamp Masyarakat untuk

Pernyelamatan Kampar’, sebelumnya dikenal sebagai

Kamp Pembela Iklim. Kamp yang terdahulu terbakar

yang dicurigai diakibatkan oleh pembakar industri.

©Van Lembang/Greenpeace

Page 83: Down to Zero | bahasa indonesia

81

Oktober 2011, Riau, Sumatra, Indonesia‘Harimau’ Greenpeace dengan anak-anak lokal di

Kelayang, Indragiri Hulu dalam bagian Tur Mata

Harimau Greenpeace.

©Infansasti/Greenpeace

Oktober 2011, Jambi, Sumatra, Indonesia‘Harimau’ Greenpeace mengikuti truk yang

bermuatan kayu bulat hutan hujan dalam perjalanan

mengunjungi suku Orang Rimba di Tebo.

©Infansasti/Greenpeace

Page 84: Down to Zero | bahasa indonesia

82

Dampak ekspansi oleh anak perusahaan Sinar Mas group, Asia Pulp & Paper di hutan lahan gambut

iNVEstigasi

Halaman berikutnya: Oktober 2011,Sumatra Selatan, IndonesiaTruk logging di perempatan jalan dalam perkebunan

kayu pulp milik anak perusahaan Sinar Mas group,

Asia Pulp & Paper. Sebagian besar perkebunan ini

terletak di lahan gambut dan hutan hujan dalam

konsesi yang diidentifikasi sebagai habitat untuk

harimau Sumatra yang terancam punah.

©Rante/Greenpeace

Agustus 2010, Riau, Sumatra, IndonesiaSebuah ekskavator tenggelam dalam lubang di rawa

dalam perkebunan kayu pulp di Kerumutan yang

berhubungan dengan anak perusahaan Sinar Mas

group, Asia Pulp & Paper.

©Greenpeace

Page 85: Down to Zero | bahasa indonesia

83

Page 86: Down to Zero | bahasa indonesia

84

Kiri: September 2011, Riau, Sumatra, Indonesia ‘Harimau’ Greenpeace Bustar Maitar – ketua

Kampanye Hutan untuk Indonesia – menjadi saksi

kehancuran hutan hujan lahan gambut dalam

perkebunan kayu pulp yang terkait dengan anak

perusahaan Sinar Mas group, Asia Pulp & Paper.

©Infansasti/Greenpeace

Atas: Juli 2011, Riau, Sumatra, Indonesia Embun pagi di perkebunan kayu pulp yang baru

ditanami milik anak perusahaan Sinar Mas group, Asia

Pulp & Paper. Seekor harimau ditemukan terjebak

dalam perkebunan pemasok APP dan kemudian mati.

©Priananda/Greenpeace

Page 87: Down to Zero | bahasa indonesia

85

Juli 2011, Riau, Sumatra, IndonesiaHarimau Sumatra tertangkap jebakan dalam wilayah

perkebunan milik anak perusahaan Sinar Mas group,

Asia Pulp & Paper.

©Priananda/Greenpeace

Juli 2011, Riau, Sumatra, IndonesiaPetugas kehutanan menggotong harimau Sumatra

yang mati terjebak di perbatasan PT Arara Abadi,

perkebunan akasia APP.

©Priananda/Greenpeace

Page 88: Down to Zero | bahasa indonesia

86

Kaitan antara kerusakan hutan oleh APP dan Barbie (dan kawan-kawannya)

EkspOs

Kiri: Juni 2011Dua gambar dari animasi yang

merangkum investigasi Greenpeace

mengenai kaitan antara sektor mainan

dan penghancuran hutan hujan

tempat tinggal harimau Sumatra

oleh Asia Pulp & Paper. Uji forensik

menunjukkan bahwa serat MTH (mixed

tropical hardwood, kayu keras tropis

campuran) – dalam kemasan merek-

merek terkenal termasuk Barbie.

Kiri: Juni 2011Gambar yang diambil dari video

kampanye Greenpeace. Animasi – yang

dibuat oleh pembuat film dokumenter

Nick Broomfield – menunjukkan

pacar Barbie, Ken yang kaget saat

mengetahui bahwa Barbie mendorong

harimau Sumatra makin dekat menuju

kepunahan.

Kanan: Juni 2011, Jakarta, Indonesia Stiker yang digunakan oleh

sukarelawan dalam kegiatan pelibatan

publik untuk mengekspos kaitan antara

sektor mainan dan penghancuran

hutan hujan Indonesia untuk

pembuatan kemasan.

©Greenpeace

Greenpeace meluncurkan kampanye terhadap perusahaan mainan yang membeli

produk kertas dari Asia Pulp & Paper. Laporan kami mengungkapkan bahwa Mattel

(produsen Barbie), Hasbro, Disney dan Lego membungkus mainan mereka dengan

kemasan murah yang seringkali mengandung kayu keras tropis campuran – serat

dari hutan hujan Indonesia. Dalam waktu lima bulan keempat perusahaan ini setuju

untuk membersihkan rantai pasokan mereka dan berjanji tidak berdagang dengan

perusahaan yang bertanggungjawab akan penghancuran hutan hujan.

Page 89: Down to Zero | bahasa indonesia

87

Atas: Juni 2011, Los Angeles, California, ASAktivis Greenpeace berkostum sebagai Ken, pacar Barbie, turun di

sisi gedung kantor pusat Mattel.

©Ruelas/Greenpeace

Kiri, dari atas ke bawah:

Juni 2011, Inggris RayaBarbie Sang Penggergaji lepas – bagian dari kegiatan pelibatan

publik oleh sukarelawan untuk mengekspos kaitan antara sektor

mainan dan perusakan hutan hujan Indonesia untuk pembuatan

kemasan.

©Greenpeace

Juni 2011, BelandaPara aktivis berkostum Barbie berpose dengan gergaji listrik

berwarna merah muda.

©Til/Greenpeace

Juni 2011Materi komunikasi publik, digunakan di halte bus London dan

tempat lain.

Page 90: Down to Zero | bahasa indonesia

88

Page 91: Down to Zero | bahasa indonesia

89

Page 92: Down to Zero | bahasa indonesia

90

APP dan perdagangan ilegal ramin, spesies kayu yang dilindungi

iNVEstigasi

Setelah investigasi selama setahun, kami menemukan kayu ramin – spesies

yang dilindungi secara internasional – di pabrik terbesar Asia Pulp & Paper, yang

memasok pasar global dan merek-merek korporat. Pabrik Indah Kiat Perawang

secara reguler mencampur kayu ramin ke dalam pasokan kayu dari hutan hujan

mereka. Rekaman video dan bukti forensik yang diperoleh saat investigasi

disediakan bagi Kementerian Kehutanan Indonesia dan Sekretariat CITES bagian

dari PBB di Jenewa.

2011, Hamburg, JermanDr Gerald Koch, ahli spesies kayu yang diakui secara internasional, memeriksa

sampel yang diambil di pabrik pulp Indah Kiat Perawang milik APP di Sumatra.

©Greenpeace

Februari 2012, InternasionalGambar yang diambil dari video pendek

Greenpeace Jejak Kertas Ramin (The

Ramin Paper Trail) yang merangkum

bukti keterlibatan APP dalam

perdagangan ilegal kayu ramin.

Mei 2011, Riau, Sumatra, IndonesiaKayu hutan hujan menunggu dihancurkan

di pabrik pulp milik Asia Pulp & Paper,

Indah Kiat Perawang.

©Greenpeace

Harimau Sumatra.

©WWF

Halaman sebelumnya: April 2010, Riau, Sumatra, IndonesiaPembukaan hutan baru oleh anak perusahaan Sinar Mas group, Asia

Pulp & Paper dalam Bentang Alam Bukit Tigapuluh. Bentang alam ini

merupakan habitat penting bagi beberapa spesies yang terancam

punah termasuk harimau Sumatra.

©Anggoro/Greenpeace

Page 93: Down to Zero | bahasa indonesia

91

April 2011, Sumatra Selatan, IndonesiaTruk logging yang bermuatan kayu bulat yang berasal dari hutan hujan dalam

perkebunan yang terkait dengan anak perusahaan Sinar Mas group, Asia Pulp & Paper.

©Greenpeace

Agustus 2011Kayu ramin ilegal diidentifikasi di pabrik

pulp Asia Pulp & Paper, Indah Kiat

Perawang di Sumatra. Kayu ramin rentan

terhadap jamur biru yang terlihat jelas.

©Greenpeace

Maret 2011, Hamburg, JermanGambar mikroskopik kayu sampel

EC198612, yang diambil dari pabrik

Indah Kiat Perawang, mengkonfirmasi

bahwa kayu ini adalah ramin. Sampel ini

diuji di Institut Teknologi Kayu dan Biologi

Kayu, Universitas Hamburg, Jerman.

©Greenpeace

Page 94: Down to Zero | bahasa indonesia

92

Atas: Februari 2012,Sumatra Selatan, IndonesiaJalan akses dan tonggak kayu yang

baru dibersihkan dari hutan lahan

gambut dalam perkebunan yang

terkait dengan anak perusahaan Sinar

Mas group, Asia Pulp & Paper.

©Jufri/Greenpeace

Kiri: Maret 2012, Jakarta, IndonesiaLatar belakang sebuah slide yang

menunjukkan kaitan beberapa

perusahaan yang diidentifikasi

menggunakan kertas dari Asia Pulp &

Paper yang mengandung serat hutan

hujan Indonesia, yang dibawakan

oleh Bustar Maitar –ketua Kampanye

Hutan Campaign untuk Indonesia –

dalam jumpa pers.

©Rante/Greenpeace

Page 95: Down to Zero | bahasa indonesia

93

Kanan: Maret 2012, Jakarta, IndonesiaKetua tim hutan Greenpeace Zulfahmi

Fahmi memberikan Direktur Jendral

Perlingungan Hutan dan Konservasi

Alam, Kementerian Kehutanan Bapak

Darori, dengan bukti investigasi satu

tahun mengenai keterlibatan Asia Pulp

& Paper dalam perdagangan ilegal

kayu ramin.

©Rante/Greenpeace

Atas: Februari 2012,Riau, Sumatra, Indonesia Ekskavator menumpuk kayu-kayu dari

hutan hujan dengan kanal transpor

yang memotong lahan gambut dalam

perkebunan dalam Hutan Lahan

Gambut Kerumutan Peat Swamp

berhubungan dengan Asia Pulp &

Paper. Wilayah ini adalah habitat

penting bagi harimau Sumatra yang

terancam punah.

©Jufri/Greenpeace

Page 96: Down to Zero | bahasa indonesia

94

Bagaimana Kentucky Fried Chicken merusak hutan

EkspOs

Mei 2012, Toronto, KanadaSatu tim sukarelawan Greenpeace

turut serta dalam kegiatan

mencelupkan Colonel ke dalam ember

KFC raksasa.

©Greenpeace

Pada bulan Mei 2012 Greenpeace mengungkapkan bahwa KFC mendapatkan

pasokan kemasan dari Asia Pulp & Paper. Peneliti kami menemukan jejak

serat hutan hujan – kayu keras tropis campuran – dalam cangkir, kotak

makan, pembungkus kentang goreng, serbet dan ember ayam mereka yang

terkenal. Pada bulan April 2013 KFC dan perusahaan induknya Yum! Foods

berkomitmen pada deforestasi nol bagi semua kertas dan kemasan mereka.

Mei 2012, Riau, Sumatra, Indonesia Aktivis Greenpeace menempatkan

‘kemasan’ KFC raksasa bertuliskan

‘KFC: Merusak Hutan’ di hutan lahan

gambut yang baru saja dihancurkan

– tempat yang dahulu merupakan

habitat harimau Sumatra.

©Priananda/Greenpeace

Page 97: Down to Zero | bahasa indonesia

95

Kiri: Mei 2012, London, Inggris Raya‘Orangutan’ Greenpeace di depan

outlet KFC di Jalan Oxford di pusat

kota London.

©Rose/Greenpeace

Atas: Juni 2012,Quezon City, Filipina‘Harimau’ Greenpeace melakukan aksi

teatrikal di depan outlet KFC di Quezon

City. Para aktivis mengekspos resep

rahasia perusahaan makanan cepat saji

tersebut: penghancuran hutan hujan!

©Matimtiman/Greenpeace

Page 98: Down to Zero | bahasa indonesia

96

Terus menerus terjadinya pengrusakan hutan lahan gambut dan habitat oleh sektor pulp dan kelapa sawit

iNVEstigasi

September 2012,Kalimantan Barat, Indonesia‘Harimau’ menyaksikan kerusakan yang

ditimbulkan oleh konsesi yang terkait

dengan Asia Pulp & Paper.

©Infansasti/Greenpeace

September 2012,Kalimantan Barat, Indonesia Pembukaan dan drainase hutan lahan

gambut yang sedang terjadi di konsesi

yang terkait dengan Asia Pulp & Paper.

Dalam konsesi ini terdapat habitat

orangutan.

©Ifansasti/Greenpeace

Page 99: Down to Zero | bahasa indonesia

97

Atas: April 2013Laporan Greenpeace baru yang mengekspos terus berlangsungnya

operasi ilegal dan merusak yang terkait dengan Duta Palma, salah

satu produsen minyak kelapa sawit Indonesia terbesar dan anggota

Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Pada bulan Mei, RSPO

mengeluarkan Duta Palma – mungkin langkah semacam ini yang

pertama kalinya.

Kanan: Mei 2013, Riau, Sumatra, IndonesiaPengiriman ribuan ton kayu bulat dari hutan hujan yang bertujuan

ke pabrik pulp RAPP, milik APRIL, produsen pulp kedua terbesar di

Indonesia.

©Jufri/Greenpeace

Kanan atas: Mei 2013, Riau, Sumatra, IndonesiaTonggak-tonggak terbakar di wilayah hutan lahan gambut yang

baru dibuka tepat bersebelahan dengan konsesi kelapa sawit milik

Duta Palma di Indragiri Hulu, Riau, Sumatra. Saksi-saksi setempat

mengatakan bahwa perusahaan tersebutlah yang membuka hutan,

walau lokasinya di luar batas konsesi resmi perusahaan. Menurut

peta resmi pemerintah, wilayah ini diberlakukan moratorium

penebangan.

©Jufri/Greenpeace

Page 100: Down to Zero | bahasa indonesia

98

2011: Moratorium izin konsesi hutan baru selama dua tahun, yang diperpanjang kembali untuk dua tahun pada tahun 2013

2008-2013: 130+ perusahaan membatalkan kontraknya dengan anak perusahaan Sinar Mas group, Asia Pulp & Paper dan memberlakukan kebijakan yang memastikan rantai pasokan mereka bebas dari deforestasi sebagai hasil dari kampanye Greenpeace dan LSM lainnya

Maret 2013: Kebijakan konservasi hutan APP berkomitmen menghentikan perannya dalam deforestasi

hasiL

5 Februari 2013, Jakarta, IndonesiaCEO APP/Sinar Mas Group Teguh Widjaya dengan Menteri

Kehutanan Zulkifli Hasan dan ketua Kampanye Hutan untuk

Indonesia Bustar Maitar memegang kebijakan konservasi hutan

Asia Pulp & Paper yang baru.

©Greenpeace

Agustus 2008, Riau, Sumatra, Indonesia Hutan lahan gambut di

Kerumutan.

©Beltra/Greenpeace

Page 101: Down to Zero | bahasa indonesia

99

Page 102: Down to Zero | bahasa indonesia

100

BERIKUTNYA deforestasi nol di indonesia

Page 103: Down to Zero | bahasa indonesia

101

Oktober 2010, Sumatra, Indonesia Menavigasi tur di konsesi anak perusahaan

Sinar Mas group, Asia Pulp & Paper.

©Sutton-Hibbert/Greenpeace

BERIKUTNYA

Sama sekali menghentikan deforestasi di Indonesia bukan merupakan perkara mudah. Walau demikian dalam satu dekade terakhir Greenpeace dan masyarakat sipil sekutu kami telah mencapai beberapa kemenangan. Banyak perusahaan telah setuju untuk membersihkan rantai pasokan mereka dari deforestasi. Golden Agri-Resources dan Asia Pulp & Paper, yang keduanya masing-masing merupakan produsen minyak kelapa sawit dan pulp dan kertas terbesar di Indonesia, telah berjanji tidak akan menghancurkan hutan hujan lagi.

Pemerintah nasional, Uni Eropa dan PBB saat ini mengganggap serius masalah deforestasi. Mereka telah memberlakukan beberapa Undang-Undang dan Peraturan yang bertujuan menghentikan perdagangan kayu ilegal dan membantu negara seperti Indonesia untuk berkembang secara berkelajutan.

Skema sertifikasi seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Forest Stewardship Council (FSC) memiliki kekurangan, tapi mencoba untuk mendorong perubahan dalam rantai pasokan komoditi dengan mempermudah perusahaan untuk mengetahui apakah mereka memasok minyak kelapa sawit, kayu dan kertas yang berkelanjutan, dan membantu konsumen untuk mengerti apakah produk yang mereka beli terkait dengan penghancuran hutan hujan.

Hasil-hasil ini sebagian adalah jasa anda. Tanpa dukungan aktif dan donasi dari ribuan individu yang berkomitmen dari seluruh dunia, Greenpeace tidak akan ada sebagai kekuatan untuk perubahan positif.

Namun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Moratorium izin baru di hutan dan lahan gambut yang baru diperbaharui di Indonesia harus ditegakkan dan diperluas untuk menyertakan hutan dan lahan gambut dalam konsesi yang ada. Korupsi masih merajalela. Di banyak wilayah, Kementerian Kehutanan mengeluarkan izin yang tumpang tindih yang membuatnya lebih sulit untuk memantau deforestasi di lapangan dan mengidentifikasi perusahaan mana yang bertanggung jawab. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak hutan dan lahan gambut Indonesia telah rusak atau terdegradasi parah. Kemenangan pada tahapan ini adalah kemenangan didapatkan dengan harga yang sangat mahal kecuali para perusahaan berkomitmen untuk memberbaiki dan mengkompensasi lahan yang mereka rusak.

Page 104: Down to Zero | bahasa indonesia

102

Apa yang terjadi pada dua tahun ke depan akan menentukan apakah kita dapat menyelamatkan hutan hujan atau tidak.

Pemerintah Indonesia memiliki kesempatan untuk memperluas moratorium yang baru saja diberlakukan kembali selama dua tahun untuk meliputi semua konversi hutan alam. Ini harus termasuk peninjauan kembali konsesi yang adal untuk mengatasi masalah tumpang tindihnya izin dan memastikan perusahaan-perusahaan nakal tidak merusak hutan alam dan lahan gambut yang masih tersisa. Pemerintah harus memerangi korupsi untuk melindungi masyarakat dan memastikan hukum Indonesia ditegakkan secara adil. Transparansi dan akuntabilitas pemerintah dan industri yang lebih besar sangat penting untuk memungkinkan keterlibatan yang lebih berarti oleh kelompok-kelompok sipil masyarakat Indonesia dan masyarakat lokal dalam memantau dan melindungi hutan hujan di Aceh, Sumatra, Kalimantan dan Papua.

Perusahaan-perusahaan pulp dan kelapa sawit perlu mengikuti jejak langkah yang diambil oleh Sinar Mas group dengan mengetatkan kebijakan konservasi mereka dan menempatkan usaha-usaha memanfaatkan lahan dengan lebih efisien. Badan-badan sertifikasi seperti RSPO harus mengetatkan regulasinya untuk memastikan hutan alam dan lahan gambut terlindungi. Perusahaan konsumen harus terus memberlakukan kebijakan pengadaan mereka untuk tidak menyertakan perusahaan-perusahaan yang terkait dengan deforestasi dari rantai pasokan mereka.

Greenpeace tidak akan tinggal diam sementara perusahaan membahayakan iklim dan kehidupan liar serta masyarakat yang bergantung padanya. Greenpeace dan para pendukung kami tidak akan menerima penolakan: kami akan meneruskan kampanye kami untuk mencapai deforestasi nol di Indonesia dan seluruh dunia.

Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, yang sebentar lagi akan berakhir masa tugasnya, mendukung aksi untuk melindungi hutan hujan di negrinya: ‘Saya tidak mau nanti harus menjelaskan kepada cucu saya Almira bahwa kami, masa kami, tidak dapat menyelamatkan hutan dan masyarakat yang bergantung padanya.’

Anda dapat membantu terjadinya perubahan. Dan bukan hanya untuk Almira.

Longgena Ginting Kepala Greenpeace Indonesia

Page 105: Down to Zero | bahasa indonesia

103

BagaiMaNa aNDa Dapat MEMBaNtU MEMpErkUat tUgas UNtUk MENghENtikaN DEfOrEstasi

Mei 2013, Jayapura, Papua, IndonesiaPara penari Papua di atas kapal Greenpeace

Rainbow Warrior di Jayapura, Papua, hanya tiga

tahun setelah Angkatan Laut TNI mengawal kapal

Greenpeace Rainbow Warrior II keluar dari perairan

teritorial Indonesia. Rainbow Warrior berada di

Indonesia untuk mendokumentasi lingkungan yang

paling beraneka ragam dan terancam kepunahan

di dunia. Papua memiliki bentangan hutan hujan

terbesar terakhir di Indonesia, dan makin banyak

dari sektor pulp, kelapa sawit dan pertanian

berpaling ke tanah ini sebagai target ekspansi.

©Hilton/Greenpeace

1. Bergabunglah dengan Greenpeace. Jadilah pendukung dengan memberikan donasi tetap untuk membantu pekerjaan penting ini berlanjut.

2. Jadilah aktivis online bersama kami. Lakukan aksi dan tuntut perusahaan, pemerintah dan individu untuk mengambil pilihan tepat.

3. Teriakkan. Ajak yang lain untuk bergabung bersama kami di Twitter (@greenpeaceID, Facebook, YouTube dan banyak lagi).

www.greenpeace.org/getinvolved

Page 106: Down to Zero | bahasa indonesia

104

DEfOrEstasi NOL hENtikaN pENgrUsakaN hUtaN,DUkUNg pEMBaNgUNaN rENDah karBON DaN hargai pErLiNDUNgaN hUtaN Membuat agenda untuk perubahan positif adalah peran penting yang diambil Greenpeace di Indonesia. Deforestasi nol bergantung pada ditemukannya solusi jangka panjang bagi rakyat.

pEMEriNtahDiperlukannya tata kelola yang kuat yang memprioritaskan perlindungan hutan dan menghargai kepemimpinan industri.• Perluas moratorium untuk mencakup semua konversi hutan alam dan lahan

gambut.• Tinjau izin-izin yang ada.• Hentikan korupsi di sektor kehutanan. Berantas ilegalitas, termasuk tidak

dipatuhinya proses pemberian izin, tidak dibayarkannya pajak dan tidak dipatuhinya peraturan mengenai lahan gambut.

• Hargai kepemimpinan industri. Beri insentif pada peningkatan produktivitas dan pembangunan lahan kosong atau yang benar-benar terdegradasi.

sEktOr pULp DaN kELapa saWit • Ikuti langkah Sinar Mas group dan berlakukan kebijakan konservasi hutan.• Perbaiki efisiensi penggunaan lahan dan produktivitas.

pErDagaNgaN iNtErNasiONaL • Berlakukan kebijakan pengadaan yang tidak menyertakan perusahaan yang

terkait dengan deforestasi dari rantai pasokan.

sEktOr kEUaNgaN • Pastikan keputusan investasi tidak turut menyebabkan deforestasi melalui

pemberlakukan kriteria pemberian pinjaman yang lebih ketat pada sektor kehutanan.

• Tolak dukungan finansial atau jasa kepada perusahaan yang terlibat dalam deforestasi.

Mei 2011, Riau, Sumatra, IndonesiaPenebangan habis aktif

hutan alam di atas lahan

gambut dalam kawasan

konsesi perusahaan yang

terkait dengan anak

perusahaan Sinar Mas

group, Asia Pulp & Paper.

©Rante/Greenpeace

Page 107: Down to Zero | bahasa indonesia

105

Page 108: Down to Zero | bahasa indonesia

106

Oktober 2005, Papua, IndonesiaHutan di Raja Ampat.

©Greenpeace

Page 109: Down to Zero | bahasa indonesia

107

Halaman berikutnya: Agustus 2010, Sumatra Selatan, IndonesiaPemandangan di atas sungai di lahan

gambut dalam wilayah perusahaan

yang terkait dengan anak perusahaan

Sinar Mas group, Asia Pulp & Paper.

©Rante/Greenpeace

Kanan: October 2008, Papua Barat, Indonesia Hutan hujan dekat Manokwari di Papua

Barat.

©Rante/Greenpeace

Page 110: Down to Zero | bahasa indonesia

108

Page 111: Down to Zero | bahasa indonesia

109

Page 112: Down to Zero | bahasa indonesia

110

Juni 2013, Jakarta, IndonesiaUntuk memperingati sepuluh tahun

kampanye Greenpeace melindungi

hutan Indonesia, Presiden Susilo

Bambang Yudhoyono bertemu dengan

Direktur Eksekutif Greenpeace

Internasional Kumi Naidoo di atas kapal

Rainbow Warrior.

©Rante/Greenpeace

Juni 2012, Jakarta, IndonesiaKumi Naidoo, Direktur Eksekutif

Greenpeace Internasional,

menunjukkan Presiden Indonesia

Susilo Bambang Yudhoyono edisi

buku 'Forest Planet', saat berkunjung

ke Istana Negara.

©Budhi/Greenpeace

Page 113: Down to Zero | bahasa indonesia

111

‘Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Greenpeace

atas berbagai usaha yang telah dilakukan untuk

menyelamatkan lingkungan Indonesia dan juga dunia …

Saya ingin mewariskan lingkungan yang bersih dan aman

kepada cucu-cucu saya di kemudian hari.’

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 7 Juni 2013

‘Sulit bagi kami saat Greenpeace mempublikasikan laporan

dan menyerang kami serta melakukan boikot – sangat

sulit bagi kami. Sangat sulit bagi kami untuk mengerti dan

menyadari bahwa apa yang mereka katakan kemungkinan

adalah benar, saat itu kami agak tidak ingin percaya.

Kami mencoba untuk menjustifikasi apa yang kami lakukan,

tapi bila melihat ke belakang tanpa apa yang mereka lakukan

kami tidak akan sampai di sini. Hal ini penting. Kami secara

publik mengatakan bahwa kami berterimakasih kepada

Greenpeace untuk peran mereka membantu kami mengubah

strategi kami.’

Aida Greenbury, Direktur Keberlanjutan APP, wawancara dengan BusinessGreen 21 Maret 2013

Page 114: Down to Zero | bahasa indonesia

'Faktanya adalah manusia memiliki kendali luar biasa

terhadap bumi dan segala yang ada di dalamnya. Jadi, suka

tidak suka, apa yang terjadi selanjutnya adalah sama sekali

tergantung pada mereka.’

David Attenborough, Life on Earth ,1979

Page 115: Down to Zero | bahasa indonesia

113

Page 116: Down to Zero | bahasa indonesia

114

greenpeace adalah organisasi kampanye global yang bertindak untuk mengubah sikap dan perilaku, melindungi dan mengkonservasi lingkungan dan mempromosikan perdamaian.

greenpeace berkomitmen untuk menghentikan perubahan iklim. kami berkampanye untuk melindungi hutan alam yang tersisa di dunia serta tumbuhan, satwa dan masyarakat yang bergantung padanya.

kami menginvestigasi, mengekspos dan mengkonfrontasi perdagangan produk-produk yang menyebabkan pengrusakan hutan dan perubahan iklim.

kami menantang pemerintah dan industri untuk menghentikan peran mereka dalam pengrusakan hutan dan perubahan iklim.

kami mendukung hak masyarakat yang hidup di hutan.

Efektivitas kami terletak dalam uniknya kebebasan kami dari ketergantungan dari pendanaan dari pemerintah dan korporasi.