Askep Struma ICHA

Click here to load reader

download Askep Struma ICHA

of 18

  • date post

    27-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    28
  • download

    4

Embed Size (px)

description

askep struma icha

Transcript of Askep Struma ICHA

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar BelakangPada zaman ini kebutuhan akan gizi seimbang sering diabaikan, masyarakat biasanya lebih tertarik dengan makanan yang instan, mengandung zat pengawet/ kimiawi sehingga pola makan dan kebutuhan gizi kurang diperhatikan. Tanpa di sadari masyarakat yang mengkonsumsi makanan yang kurang mengandung yodium menimbulkan potensi mengalami struma.Struma adalah pembesaran kelenjar tiroid atau kelenjar gondok, bila pemeriksaan kelenjar tiroid teraba nodul satu atau lebih maka ini disebut struma nodusa. Struma nodusa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme disebut struma non toksik. Struma nodusa non toksik merupakan kelainan yang paling sering ditemukan. Penyebab utamanya adalah defisiensi yodium, di samping faktor-faktor lain misalnya bertambahnya hormon, tulang pada masa pertumbuhan, kehamilan dan laktasi atau dapat juga karena pengaruh zat-zat goitrogenik. (Mansjoer , 2000) Penyakit banyak terserang pada kaum wanita dibandingkan laki-laki. Hal ini terjadi karena wanita khususnya pada masa pubertas, kehamilan dan laktasi kebutuhan tiroksin sangat diperlukan. Dan ini telah dibuktikan dengan adanya penyelidikan di Tecumseh, suatu komunitas di Michigan dimana struma menyerang 16 % perempuan dan 4 % laki-laki yang berusia antara 20 sampai 60 tahun . Biasanya tidak ada gejala-gejala lain kecuali gangguan kosmetik, tetapi kadang-kadang timbul komplikasi-komplikasi. Struma mungkin membesar secara difus dan atau bernodula. (Sylvia A,dkk, 2006)Pada kasus struma bila tidak dilakukan penanganan yang segera dan pengobatan serta perawatan yang adekuat dapat menimbulkan keganasan. Salah satu tindakan pengobatannya berupa operasi dengan indikasi keganasan yang pasti.Mengetahui akibat akan hal ini, maka penulis terdorong dan berminat untuk lebih membahas tentang asuhan keperawatan yang tujuan terbesarnya bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. B. Tujuan Penulisan1. Agar mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang permasalahan yang timbul pada kasus Struma Nodosa Nontoksik 2. Memperoleh pemahaman konsep yang benar tentang penyakit ini sehingga nantinya dapat diterapkan dalam pemberian asuhan keperawatan pada klien.3. Asuhan keperawatan yang kita berikan akan lebih bermutu bila ada keseimbangan antara pengetahuan teori dan kecakapan praktice.4. Memenuhi tugas mata kuliah Sistem Endokrin

BAB IITINJAUAN TEORI

A. KONSEP MEDIS1. DefinisiStruma adalah pembesaran pada kenlenjar tiroid yang biasanya terjadi karena folikel folikel terisi koloid secara berlebihan. Setelah bertahun-tahun folikel tumbuh semkin membesar dengan membentuk kista dan kelenjar tersebut menjadi noduler. Struma nodosa nontoksik merupakan pembesaran kelenjar tiroid karena adanya nodul yang tidak disertai gejala hipertiroidisme (Tarwoto,dkk, 2012)Struma nodosa nontoksik adalah pembesaran kelenjar tiroid sebagai akibat pertambahan ukuran jaringan.(Rendy, dkk, 2012)Struma nodosa nontoksik adalah struma nodosa yang secara klinis teraba nodul satu atau lebih disertai tanda tanda hipertiroidisme. (Mansjoer, 2001).2. Etiologi Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid merupakan factor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain :a. Defisiensi iodiumPada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan. (Rendy,dkk,2012)b. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tyroid.(Rendy,dkk,2012) Penghambatan sintesa hormon T4 (seperti substansi dalam kol, lobak, bayam, kacang kedelai). Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya : thiocarbamide, sulfonylurea dan litium).c. Hiperplasia dan involusi kelenjar tiroidPada setiap orang dapat dijumpai masa dimana kebutuhan terhadap tiroksin bertambah. Terutama masa pertumbuhan, pubertas, menstruasi, kehamilan, laktasi, menopause, infeksi atau stress lain. Pada masa masa tersebut terjadi hyperplasia dan involusi kelenjar tiroid. Perubahan ini dapat menimbulkan nodularitas kelenjar tiroid serta kelainan arsitektur yang dapat berlanjut dengan berkurangnya aliran darah ke daerah tersebut sehingga terjadi iskemia. (Mansjoer, 2001)d. Hipotiroidisme primer yang disebabkan karena kegagalan kelenjar tiroid atau kekurangan yodium, dimana kadar hormone tiroid dalam sirkulasi darah kurang sehingga tidak ada inhibisi umpan balik neegatif ke hipofisis anterior.(Sherwood, 2001)e. Penyakit Grave. Adanya TSI merangsang pertumbuhan tiroid meningkatkan sekresi hormone tiroid.(Rendy,dkk, 2012)3. Patofisiologi Pembentukan hormone tiroid membutuhkan unsur yodium dan stimulasi dari TSH. Salah penyebab paling sering penyakit gondok adalah karena kekurangan yodium,. Aktivitas utama dari kelenjar tiroid adalah berkonsentrasi dalam pengambilan yodium dari darah untuk membuat hormone tiroid. Kelenjar tersebut tidak cukup membuat hormone tiroid jika tidak memiliki cukup yodium. Oleh karena itu dengan defisiensi hormone tiroid akan mengakibatkan hipotiroid. Keadaan ini mengakibatkan terjadinya kompensasi terhadap pembesaran kelenjar, hal ini juga merupakan proses adaptasi terhadap defisiensi hormone tiroid. Namun demikian, pembesaran ini dapat juga terjadi sebagai respon terhadap respon meningkatnya sekresi pituitary yaitu TSH. ( Tarwoto,dkk, 2012)

Pathway

Defisiensi yodium Kelainan Kongenital Hyperplasia Kelj. Tiroid Hipotiroidisme Peny. Grave Reaksi autoimun TSI mirip TSH

G3 Citra tubuh Hipersekresi H. Tiroid Kelenjar tidak cukup menghasilkan hormone tiroid

Pola napas tidak efektif Defisiensi h. tiroid Kompensasi dalam bentuk pembesaran kelenjar

penekanan pada kel. tiroid Nodularitas perubahan bentuk fisik tubuh

Ketidak efektifan bersihan dalan napas Obstruksi Trakea penekanan pada pita suara

Hambatan komunikasi verbalPerubahan status kesehatan

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhanAnsietas susah menelan secret kental efek anastesi Strumektomy/ Tiroidektomy dan hipersekresi

Resiko Infeksi terputusnya kontinitas jaringan saraf laryngeal terputus

Nyeri Akut

Sumber: Tarwoto, dkk, 2012

4. Manifestasi klinisAkibat berulangnya periode hyperplasia dapat terjadi berbagai bentuk degenerasi seperti fibrosis, nekrosis, klasifikasi, pembentukan kista dan perdarahan kedalam kista tersebut. Pada umumnya kelainan-kelainan yang dapat menampakan diri sebagai struma nodosa nontoksik adalah adenoma, kista, perdaraha, tiroditis, dan karsinoma.(Manjoer,2000)Struma nodosa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal sebagai berikut: a. Berdasarkan jumlah nodul: jika nodulnya hanya satu disebut struma nodosa soliter (uninodosa) dan bila lebih dari satu disebut struma multinodosab. Berdasarkan kemampuan menangkap yodium radioaktif: dikenal 3 bentuk nodul tiroid yaitu nodul dingin, nodul hangat dan nodul pans. c. Berdasarkan konsistensinya: nodul lunak, kistik, keras dan sangat kerasPada status lokalis pemeriksaan fisik perlu dinilai:a. Jumlah nodul: satu atau lebih dari satub. Konsistensi: lunak, kistik, keras dan sangat kerasc. Nyeri pada penekanan: ada atau tidak.d. Pembesaran kelenjar getah bening disekitar tiroid: ada atau tidak adaKeganasan biasanya terjadi pada nodul yang soliter dan keras sampai sangat keras. Yang multipel biasanya tidak ganas, kecuali apabila satu dari nodul tersebut lebih menonjol atau lebih keras dari yang lainnya. Apabila satu nodul nyeri pada saat penekanan dan mudah digerakkan, kemungkinan terjadi perdarahan kedalam kista, suatu adenoma atau tiroiditis. Tetapi apabila nyeri dan sukar digerakkan kemungkinan besar adalah karsinoma.Nodul yang tidak nyeri, multiple, dan mudah digerakkan mungkin merupakan struma difus atau hyperplasia tiroid. Apabila nodul multiple tidak nyeri tetapi tidak mudah digerakkan ada kemungkinan itu suatu keganasan. Adanya limfadenopati mencurigakan suatu keganasan. Pada umumnya pasien struma nodosa datang berobat karena keluhan kosmetik atau takut akan keganasan. Sebagian kecil pasien, khususnya dengan pasien struma nodosa besar, mengeluh adanya gejala mekanis, yaitu penekanan pada esophagus dan trakea. Diagnose ditegakkan atas adanya struma yang bernodul dengan keadaan eutiroid.Pada penyakit struma nodosa nontoksik tyroid membesar dengan lambat. Awalnya kelenjar ini membesar secara difus dan permukaan licin. Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan. Klien tidak mempunyai keluhan karena tidak ada hipo atau hipertirodisme, benjolan di leher, peningkatan metabolisme karena klien hiperaktif dengan meningkatnya denyut nadi, peningkatan simpatis seperti ; jantung menjadi berdebar-debar, gelisah, berkeringat, tidak tahan cuaca dingin, diare, gemetar, dan kelelahan.Manifestasi klinis secara ringkas menurut Rendy,dkk, 2012 adalah sebagai berikut : Leher bertambah besar akibat pembesaran kelenjar Sulit menelan Sulit bicara Suara serak atau parau Sulit bernapas Pada palpasi kelenjar tiroid, n