Askep Meningitis Pada Anak 3

download Askep Meningitis Pada Anak 3

of 25

description

Meningitis

Transcript of Askep Meningitis Pada Anak 3

ASKEP MENINGITIS PADA ANAK

MAKALAHKEPERAWATAN ANAK IIASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN MENINGITIS

Oleh:

Afidah Oktaviana(10620304)Dyah Ruly Susanti(10620313)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN (S1)FAKULTAS ILMU KESEHATANUNIVERSITAS KADIRI2012

BAB 1PENDAHULUAN

1.1Latar BelakangPenyakit infeksi di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan yang utama. Salah satu penyakit tersebut adalah infeksi susunan saraf pusat. Penyebab infeksi susunan saraf pusat adalah virus, bakteri atau mikroorganisme lain. Meningitis merupakan penyakit infeksi dengan angka kematian berkisar antara 18-40% dan angka kecacatan 30-50%.Bakteri penyebab meningitis ditemukan di seluruh dunia, dengan angka kejadian penyakit yang bervariasi. Di Indonesia, dilaporkan bahwa Haemophilus influenzae tipe B ditemukan pada 33% diantara kasus meningitis. Pada penelitian lanjutan, didapatkan 38% penyebab meningitis pada anak kurang dari 5 tahun. Di Australia pada tahun 1995 meningitis yang disebabkan Neisseria meningitidis 2,1 kasus per 100.000 populasi, dengan puncaknya pada usia 0 4 tahun dan 15 19 tahun . Sedangkan kasus meningitis yang disebabkan Steptococcus pneumoniae angka kejadian pertahun 10 100 per 100.000 populasi pada anak kurang dari 2 tahun dan diperkirakan ada 3000 kasus per tahun untuk seluruh kelompok usia, dengan angka kematian pada anak sebesar 15%, retardasi mental 17%, kejang 14% dan gangguan pendengaran 28%. (http://theacademyofnursing2008.blogspot.com).Meningitis merupakan peradangan dari meningen yang menyebabkan terjadinya gejala perangsangan meningen seperti sakit kepala, kaku kuduk, fotofobia disertai peningkatan jumlah leukosit pada liquor cerebrospinal (LCS). Berdasarkan durasi dari gejalanya, meningitis dapat dibagi menjadi akut dan kronik. Meningitis akut memberikan manifestasi klinis dalam rentang jam hingga beberapa hari, sedangkan meningitis kronik memiliki onset dan durasi berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.Pada banyak kasus, gejala klinik meningitis saling tumpang tindih karena etiologinya sangat bervariasi.Meningitis juga dapat dibagi berdasarkan etiologinya. Meningitis bakterial akut merujuk kepada bakteri sebagai penyebabnya. Meningitis jenis ini memiliki onset gejala meningeal dan pleositosis yang bersifat akut. Penyebabnya antara lainStreptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis, Haemophilus influenzae.Jamur dan parasit juga dapat menyebabkan meningitis seperti Cryptococcus, Histoplasma, dan amoeba.Meningitis aseptik merupakan sebutan umum yang menunjukkan respon selular nonpiogenik yang disebabkan oleh agen etiologi yang berbeda-beda. Penderita biasanya menunjukkan gejala meningeal akut, demam, pleositosis LCS yang didominasi oleh limfosit. Setelah beberapa pemeriksaan laboratorium, didapatkan peyebab dari meningitis aseptik ini kebanyakan berasal dari virus, di antaranya Enterovirus, Herpes Simplex Virus (HSV).Pada referat ini akan dibahas mengenai meningitis bakterialis. Meningitis bakterialis merupakan penyakit yang mengancam jiwa disebabkan oleh infeksi lapisan meningen oleh bakteri. Insidensi meningitis bakterialis di Amerika Serikat sudah menurun sejak diterapkannya penggunaan rutin vaksinHaemophilus influenzaetipe B (HIB). Umumnya penderita berusia di bawah 5 tahun dan pada 70% kasus terjadi pada anak-anak usia 2 tahun.(http://referensikedokteran.blogspot.com).

1.2Rumusan MasalahBagaimanakah asuhan keperawatan pada anak dengan meningitis?

1.3TujuanTujuan UmumMengetahui asuhan keperawatan pada anak dengan meningitisTujuan Khusus1. Mengidentifikasi Definisi meningitis2. Mengidentifikasi Etiologi meningitis3. MengidentifikasiManifestasi Klinikmeningitis4. MengidentifikasiKlasifikasimeningitis5. MengidentifikasiPatofisiologimeningitis6. MengidentifikasiPemeriksaan Diagnostikmeningitis7.MengidentifikasiPenatalaksanaanmeningitis8. MengidentifikasiKomplikasimeningitis9.Mengidentifikasi pathway meningitis10. Mengetahui asuhan keperawatan pada anak dengan meningitis

1.4Manfaat 1.Mahasiswa mampu dan mengerti tentang meningitis 2.Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan padaanak dengan meningitis

BAB 2PEMBAHASAN2.1 DefinisiPeradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat. (Rita Yuliani & Suriadi, 2006).Meningitis merupakan peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, meningokok, stafilokok, streptokok, hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996).Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piameter, araknoid dan dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medulla spinalis yang superfisial (neorologi kapita selekta, 1996).

2.2 Etiolog - Bakteri Merupakan penyebab tersering dari meningitis, adapun beberapa bakteri yang secara umum diketahui dapat menyebabkan meningitis adalah : Haemophillus influenza Nesseria meningitides (meningococcal) Diplococcus pneumoniae (pneumococca) Streptococcus, grup A Staphylococcus aureus Escherichia coli Klebsiella Proteus Pseudomonas - Virus Meningitis virus adalah infeksi pada meningen; cenderung jinak dan bisa sembuh sendiri. Virus biasanya bereplikasi sendiri ditempat terjadinya infeksi awal (misalnya sistem nasofaring dan saluran cerna) dan kemudian menyebar kesistem saraf pusat melalui sistem vaskuler. Virus : Toxoplasma Gondhi, Ricketsia. Ini terjadi pada penyakit yang disebabkan oleh virus spt: campak, mumps, herpes simplek dan herpes zoster. Virus herpes simplek mengganggu metabolisme sel sehingga sell cepat mengalami nekrosis. Jenis lainnya juga mengganggu produksi enzim atau neurotransmitter yang dapat menyebabkan disfungsi sel dan gangguan neurologic. Faktor Predisposisi : jenis kelamin : laki-laki lebih sering dibandingkan dengan wanita. Faktor Maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan. Faktor Imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin, anak yang mendapat obat obat imunosupresi. Anak dengan kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persarafan.

2.3Manifestasi Klinis Aktivitas/Istirahat; Malaise, aktivitas terbatas, ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan, hipotonia. Sirkulasi; Riwayat endokarditis, abses otak, tekanan darah meningkat, nadi menurun, tekanan nadi berat, takikardi, dan disritmia pada fase akut. Eliminasi; Adanya inkontinensia atau retensi urin. Makanan/cairan; Anorexia, kesulitan menelan, muntah, turgor kulit jelek, mukosa kering. Higiene; Tidak mampu merawat diri Neurosensori; Sakit kepala, parsetesia, kehilangan sensai, Hiperalgesia meningkatnay rasa nyeri, kejang, gangguan penglihatan, diplopia, fotofobia, ketulian, halusianasi penciuman, kehilangan memori, sulit mengambil keputusan, afasia, pupil anisokor, hemiparese, hemiplegia, tanda brudzinzki positif, rigiditas nukal, refleks babinski positif, refleks abdominal menurun, refleks kremasterik hilang pada laki-laki. Nyeri/ketidaknyamanan; Sakit kepala hebat, kaku kuduk, nyeri gerakan okuler, fotosensitivitas, nyeri tenggorokan, gelisah, mengaduh/mengeluh. Pernafasan; Riwayat infeksi sinus atau paru, nafas meningkat, letargi dan gelisah. Keamanan; Riwayat mastoiditis, otitis media, sinusitis, infeksi pelvis, abdomen atau kulit, pungsi lumbal, pembedahan, fraktur cranial, anemia sel sabit, imunisasi yang baru berlangsung, campak, chiken pox, herpes simpleks, demam, diaforesios, menggigil, rash, gangguan sensasi. Penyuluhan/pembelajaran; Riwayat hipersensitifitas terhadap obat, penyakit kronis, diabetes mellitus. Neonatus : Menolak untuk makan, refleks mengisap kurang, muntah atau diare, tonus otot kurang, kurang gerak,, dan menangis lemah. Anak-anak dan remaja : Demam tinggi, sakit kepala, muntah yang diikuti dengan perubahan sensori, kejang, mudah terstimulasi dan teragitasi, fotofobia, delirium, halusinasi, perilaku agresif atau maniak, stupor, koma, kaku kuduk, opistotonus. Tanda kernig dan brudzinski positif, refleks fisiologis hiperaktif, ptechiae atau pruritus (menunjukkan adanya infeksi meningococcal). Bayi dan anak-anak (usia 3 bulan hingga 2 tahun): Demam, malas makan, muntah, mudah terstimulasi, kejang, menangis dengan merintih, ubun-ubun menonjol, kaku kuduk, dan tanda Kernig dan Brudzinsky positif.

2.4KlasifikasiMeningitis dibagi menjadi 2 :1.Meningitis purulen ( pus ) Radangbernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula spinalis. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.2.Meningitis serosa ( bakteri ) Peradangan yang disebabkan oleh organisme pada bakteri seperti meningococcus, staphylococcus, Baccilus influenza, Baccilus tubercula, Neiserria meningitides, sreptococus pnemoniae (pada dewasa), haimopilus influenza (pada anak-anak dan remaja).

2.5PatofisiologiEfek peradangan akan menyebabkan peningkatan cairan cerebro spinal yang dapat menyebabkan obstruksi dan selanjutnya terjadi hidrosefalus dan peningkatan tekanan intra kranial. Efek patologi dari peradangan tersebut adalah Hiperemi pada meningen. Edema dan esudasi yang kesemuanya menyebabkan peningkatan intra kranial.Organisasi masuk melalui sel darah merahblood brainbarrier. Masuknya dapat melalui trauma penetrasi, prosedur pembedahan, atau pecahnya abses serebral atau kelainan sistem saraf pusat. Otorrhea atau rhinorrhea akibat fraktur dasar tenggkorak dapat menimbulkan meningitis, dimana terjadi hubungan antara CSF dan dunia luar.Masuknya mikroorganisme ke susunan saraf pusat melalui ruang sub-arachnoid dan menimbulkan respon peradangan pada via, arachnoid, CFS dan ventrikel.Dari reaksi radang muncul eksudat dan perkembangan infeksi pada ventrikel, edema dan skar jaringan sekeliling ventrikel menyebabkan obstruksi pada CSF dan menimbulkan hidrosefalus.Meningitis bakteri: netrofil, monosit, limfosit, dan yang lainnya merupakan sel respon radang. Eksudat terdiri dari bakteri fibrin dan lekosit yang dibentuk di ruang subarachnoid. Penumpukan pada CSF akan bertambah dan mengganggu aliran CSF di sekitar otak dan medulla spinalis. Terjadi vasodilatasi yang cepat dari pembuluh darah dapat menimbulkan ruptur atau trombosis dinding pembuluh darah dan jaringan otak dapat menjadi infarct.Meningitis virus sebagai akibat dari penyakit virus seperti meales, mump, herpes simplek dan herpes zoster. Pembentukan eksudat pada umumnya tidak terjadi dan tidak ada mikroorganisme pada kultur CSF.

2.6Pemeriksaan PenunjangLumbal Pungsi:Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa hitung jenis sel dan protein, cairan serebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya peningkatan TIK.Meningitis bacterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, leukosit dan protein meningkat, glukosa menurun, kultur positif terhadap beberapa jenis bakteri.Glukosa & dan LDH : meningkat.LED/ESRD: meningkat.CT Scan/MRI: melihat lokasi lesi, ukuran ventrikel, hematom, hemoragik.Rontgent kepala: mengindikasikan infeksi intrakranial.Kultur DarahKultur Swab Hidung dan Tenggorokan

2.7PenatalaksanaanPenatalaksanaan Terapeutik-Isolasi-Terapi antimikroba: antibiotik yang diberikan berdasarkan pada hasil kultru, diberikan dengan dosis tinggi melalui intravena.-Mempertahankan hidrasi optimum: mengatasi kekurangan cairan dan mencegah kelebihan cairan yang dapat menyebabkan edema.-Mencegah dan mengobati komplikasi: aspirasi efusi subdural (pada bayi), terapi heparin pada anak yang mengalami DIC,-Mengontrol kejang: pemberian terapi antiepilepsi-Mempertahankan ventilasi-Mengurangi meningkatnya tekanan intra cranial-Penatalaksanaan syok bacterial-Mengontrol perubahan suhu lingkungan yang ekstrim-Memperbaiki anemiaPenatalaksanaan Medis

1.Antibiotik sesuai jenis agen penyebab2.Steroid untuk mengatasi inflamasi3.Antipiretik untuk mengatasi demam4.Antikonvulsant untuk mencegah kejang5.Neuroprotector untuk menyelamatkan sel-sel otak yang masih bisa dipertahankan6.Pembedahan: seperti dilakukan VP Shunt (Ventrikel Periton).7.Pemberian cairan intravena. Pilihan awal yang bersifat isotonik seperti asering atau ringer laktat dengan dosis yang dipertimbangkan melalui penurunan berat badan anak atau tingkat dehidrasi. Ini diberikan karena anak yang menderita meningitis sering datang dengan penurunan kesadaran karena kekurangan cairan akibat muntah, pengeluaran cairan melalui proses evaporasi akibat hipertermia dan intake cairan yang kurang akibat kesadaran yang menurun.8.Pemberian diazepam apabila anak mengalami kejang. Pada dosis awal diberikan diazepam 0,5 mg/Kg BB/kali pemberian secara intravena. Setelah kejang dapat diatasi maka diberikan fenobarbital dengan dosis awal pada neonatus 30 mg, anak kurang dari 1 tahun 50 mg sedangkan yang lebih 1 tahun 75 mg. Untuk rumatannya diberikan fenobarbital 8-10 mg/Kg BB/ dibagi dalam 2 kali pemberian diberikan selama 2 hari. Sedangkan pemberian fenobarbital 2 hari berikutnya dosis diturunkan menjadi 4-5 mg/Kg BB/ dibagi dalam 2 kali pemberian. Pemberian diazepam selain untuk menurunkan kejang juga diharapkan dapat menurunkan suhu tubuh karena selain hasil toksik kuman peningkatan suhu tubuh juga berasal dari kontraksi otot akibat kejang.9.Penempatan pada ruangan yang minimal rangsangan seperti rangsangan suara, cahaya dan rangsangan polusi. Rangsangan yang berlebihan dapat membangkitkan kejang pada anak karena peningkatan rangsangan depolarisasi neuron yang dapat berlangsung cepat.10.Pembebasan jalan nafas denga menghisap lendir melaluisectiondan memposisikan anak pada posisi kepala miring hiperekstensi. Tindakan pembebasan jalan nafas dipadu dengan pemberian oksigen untuk mensupport kebutuhan metabolisme yang meningkat selain itu mungkin juga terjadi depresi pusat pernafasan karena peningkatan tekanan intrakranial sehingga perlu diberikan oksigen bertekanan lebih tinggi yang lebih mudah masuk ke saluran pernafasan. Pemberian oksigen pada anak dengan meningitis dianjurkan konsentrasi yang masuk bisa tinggi melalui masker oksigen.11.Pemberian antibiotik yang sesuai dengan mikroorganisme penyebab. Antibiotik yang sering dipakai adalah ampisillin dengan dosis 300-400mg/KgBB dibagi dalam 6 dosis pemberian secara intrevena dikombinasikan dengan kloramfenikol 50 mg/KgBB dibagi dalam 4 dosis pemberian. Pemberian antibiotik ini yang paling rasional melalui kultur dari pembelian cairan serebrospinal melaluilumbal fungtio.Penatalaksanaan di Rumah:1.Tempatkan anak pada ruangan dengan sirkulasi udara baik, tidak terlalu panas dan tidak terlalu lembab. Sirkulasi udara yang baik berfungsi mensupport penyediaan oksigen lingkungan yang cukup karena anakyang menderita demam terjadi peningkatan metabolisme aerobik yang praktis membutuhkan masukan oksigen yang cukup. Selain itu ruangan yang cukup oksigen juga berfungsi menjaga fungsi saluran pernafasan dapat berfungsi dengan baik. Adapun lingkunganyang panas selain mempersulit perpindahan panas anak ke lingkungan juga dapat terjadi sebaliknya kadang anak yang justru menerima paparan sinar dari lingkungan.2.Tempatkan anak pada tempat tidur yang rata dan lunak dengan posisi kepala miring hiperektensi. Posisi ini diharapkan dapat menghindari tertekuknya jalan nafas sehingga mengganggu masuknya oksigen ke saluran pernafasan.3.Berikan kompres hangat pada anak untuk membantu menurunkan demam. Kompres ini berfungsi memindahan panas anak melalui proses konduksi. Perpindahan panas anak biar dapat lebih efektif dipadukan dengan pemberian pakaian yang tipis sehingga panas tubuh anak mudah berpindah ke lingkungan.4.Berikan anak obat turun panas (dosis disesuaikan dengan umur anak). Untuk patokan umum dosis dapat diberikan anak dengan usia sampai 1 tahun 60 120 mg, 1-5 tahun 120-150 mg, 5 tahun ke atas 250-500 mg yang diberikan rata-rata 3 kali sehari.5.Anak diberikan minum yang cukup dan hangat dengan patokan rata-rata kebutuhan 30-40 cc/KgBB/hari. Cairan ini selain secara volume untuk mengganti cairan yang hilang karena peningkatan suhu tubuh juga berfungsi untuk menjaga kelangsungan fungsi sel tubuhyang sebagian besar komposisinya adalah unsur cairan. Sedangkan minuman hangat dapat membantu mengencerkan sekret yang kental pada saluran pernafasan.2.8Komplikasi Komplikasi yang muncul pada anak dengan meningitis, antara lain: 1.Munculnya cairan pada lapisan subdural (efusi subdural). Cairan ini muncul karena adanya desakan pada intrakranial yang meningkat sehingga memungkinkan lolosnya cairan dari lapisan otak ke daerah subdural. 2.Peradangan pada daerah ventrikuler ke otak (ventrikulitis). Abses pada meningen dapat sampai ke jaringan kranial lain baik melalui perembetan langsung maupun hematogen termasuk ke ventrikuler. 3. Hidrosepalus. Peradangan pada meningen dapat merangsang kenaikan produksi Liquor Cerebro Spinal (LCS). Cairan LCS pada meningitis lebih kental sehingga memungkinkan terjadinya sumbatan pada saluran LCS yang menuju medulla spinalis. Cairan tersebut akhirnya banyak tertahan di intrakranial. 4.Abses otak. Abses otak terjadinya apabila infeksi sudah menyebar ke otak karena meningitis tidak mendapat pengobatan dan penatalaksanaan yang tepat. 5. Epilepsi 6. Retardasi mental. Retardasi mental kemungkinan terjadi karena meningitis yang sudah menyebar ke serebrum sehingga mengganggugyrusotak anak sebagai tempat menyimpan memori. 7.Serangan meningitis berulang. Kondisi ini terjadi karena pengobatan yang tidak tuntas atau mikroorganisme yang sudah resisten terhadap antibiotik yang digunakan untuk pengobatan.

BAB 3ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian3.1.1 Identitas Klien3.1.2Riwayat kesehatan yang lalu-Apakah pernah menderita penyait ISPA dan TBC ?-Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ?-Pernahkah operasi daerah kepala ?3.1.3Riwayat kesehatan sekarang Merupakan penjelasan dari keluhan utama.3.1.4AktivitasGejala : Perasaan tidak enak (malaise). Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.3.1.5SirkulasiGejala : Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK. Tanda : tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, taikardi, disritmia.3.1.6EliminasiTanda : Inkontinensi dan atau retensi.3.1.7Makanan/cairanGejala : Kehilangan nafsu makan, sulit menelan. Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membran mukosa kering.3.1.8HigieneTanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.3.1.9NeurosensoriGejala : Sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang terkena, kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotofobia, ketulian dan halusinasi penciuman. Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma, delusi dan halusinasi, kehilangan memori, afasia,anisokor, nistagmus,ptosis, kejang umum/lokal, hemiparese, tanda brudzinki positif dan atau kernig positif, rigiditas nukal, babinski positif,reflek abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang pada laki-laki.3.1.10Nyeri/keamananGejala : sakit kepala(berdenyut hebat, frontal). Tanda : gelisah, menangis.3.1.11PernafasanGejala : riwayat infeksi sinus atau paru. Tanda : peningkatan kerja pernafasan.

3.2Diagnosa Keperawatan yang sering terjadi1.Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuskuler2.Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuskuler3.Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan aliran darah vena arteri4.Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit

3.3Discharge Planning1.Ajarkan pada orang tua tentang pemberian obat dan pemantauan efek samping.2.Ajarkan pada orang tuan untuk emmantau komplikasi jangka panjang serta tanda dan gejalanya.

3.4Rencana Keperawatan1.Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuskuler.Definisi : ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernafasan untuk mempertahankan kebersihan jalan nafas.Batasan Karakteristik:Dispneu, Penurunan suara nafasOrthopneuCyanosisKelainan suara nafas (rales, wheezing)Kesulitan berbicaraBatuk, tidak efektif atau tidak adaMata melebarProduksi sputumGelisahPerubahan frekuensi dan irama nafasFaktor-faktor yang berhubungan:Lingkungan : merokok, menghirup asap rokok, perokok pasif-POK, infeksiFisiologis : disfungsi neuromuskular, hiperplasia dinding bronkus, alergi jalan nafas, asmaObstruksi jalan nafas : spasme jalan nafas, sekresi tertahan banyaknya mukus, adanya jalan nafas buatan, sekresi bronkus, adanya eksudat di alveolus, adanya benda asing di jalan nafas.NOC :Respiratory Status : VentilationRespiratory status : Airway patencyAspiration ControlKriteria Hasil :Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)Mampu mengidentifikasikan dan mencegah factor yang dapat menghambat jalan nafas.NIC :Airway suctionPastikan kebutuhan oral/tracheal suctioningAuskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suctioningInformasikan pada klien dan keluarga tentang suctioningMinta klien nafas dalam sebelum suction dilakukanBerikan O2 dengan menggunakan nasal untuk memfasilitasi suction nasotrakealGunakan alat yang steril setiap melakukan tindakanAnjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam setelah kateter dikeluarkan dan nasotrakealMonitor status oksigen pasienAjarkan keluarga bagaimana cara melakukan suctionHentikan suction dan berikan oksigen apabila pasien menunjukkan bradikardi, peningkatan saturasi O2, dll.Airway ManagementBuka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perluPosisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasiIdentifikasikan pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatanPasang mayo bila perluLakukan fisioterapi dada jika perluKeluarkan sekret dengan batuk atau suctionAuskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahanLakukan suction pada mayoBerikan bronkodilator bila perluBerikan pelembab udara Kassa basah NACL LembabAtur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbanganMonitor respirasi dan status O2

2.Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuskuler NOC :Respiratory Status : VentilationRespiratory status : Airway patencyVital sign StatusKriteria Hasil :Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)Tanda-tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan) NIC :Airway ManagementBuka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perluPosisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasiIdentifikasikan pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatanPasang mayo bila perluLakukan fisioterapi dada jika perluKeluarkan sekret dengan batuk atau suctionAuskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahanLakukan suction pada mayoBerikan bronkodilator bila perluBerikan pelembab udara Kassa basah NACL LembabAtur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbanganMonitor respirasi dan status O2Oxygen TherapyBersihkan mulut, hidung dan secret trakeaPertahankan jalan nafas yang patenAtur peralatan oksigenasiMonitor aliran oksigenPertahankan posisi pasienObservasi adanya tanda-tanda hipoventilasiMonitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasiVital sign MonitoringMonitor TD, nadi, suhu, dan RRCatat adanya fluktuasi tekanan darahMonitor vital sign saat pasien berbaring, duduk, atau berdiriAuskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkanMonitor TD, nadi, RR, sebelum selama, dan setelah aktivitasMonitor kualitas dari nadiMonitor frekuensi dan irama pernapasanMonitor suara paruMonitor pola pernapasan abnormalMonitor suhu, warna, dan kelembaban kulitMonitor sianosis periferMonitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign3.Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan aliran darah vena arteriNOC :Circulation statusTissue Prefusion : cerebralKriteria Hasil :a.Mendemonstrasikan status sirkulasi yang ditandai dengan:Tekanan systole dan diastole dalam rentang yang diharapkanTidak ada ortostatik hipertensiTidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (tidak lebih dari 15 mmHg)b.Mendemonstrasikan kemampuan kognitif yang ditandai dengan:Berkomunikasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuanMenunjukkan perhatian, konsentrasi dan orientasiMemproses informasiMembuat keputusan dengan benarc.Menunjukkan fungsi sensori cranial yang utuh : tingkat kesadaran membaik, tidak ada gerakan-gerakan involunterNIC :Peripheal Sensation Management(Manajemen Sensasi Perifer)Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panas/ dingin/ tajam/ tumpulMonitor adanya pareteseInstruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada isi atau laserasiGunakan sarung tangan untuk proteksiBatasi gerakan pada kepala, leher dan punggungMonitor kemampuan BABKolaborasi pemberian analgetikMonitor adanya tromboplebitisDiskusikan mengenai penyebab perubahan sensasi

4.Hipertermi berhubungan dengan proses penyakitDefinisi : suhu tubuh naik di atas rentang normalBatasan Karakteristik :Kenaikan suhu tubuh di atas rentang normalSerangan atau konvulsi (kejang)Kulit kemerahanPertambahan RRTakikardiSaat disentuh tangan terasa hangatFaktor-faktor yang berhubungan:Penyakit/traumaPeningkatan metabolismeAktivitas yang berlebihPengaruh medikasi/anastesiKetidakmampuan/penurunan kemampuan untuk berkeringatTerpapar di lingkungan panasDehidrasiPakaian yang tidak tepatNOC :ThermoregulationKriteria Hasil :Suhu tubuh dalam rentang normalNadi dan RR dalam rentang normalTidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing, merasa nyamanNIC :Fever treatmentMonitor suhu sesering mungkinMonitor IWLMonitor warna dan suhu kulitMonitor tekanan darah, nadi dan RRMonitor penurunan tingkat kesadaranMonitor WBC, Hb, dan HctMonitor intake dan outputBerikan anti piretikBerikan pengobatan untuk mengatasi penyebab demamSelimuti pasienLakukan tapid spongeBerikan cairan intravenaKompres pasien pada lipatan paha dan aksilaTingkatkan sirkulasi udaraBerikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigilTemperature regulationMonitor suhu minimal tiap 2 jamRencanakan monitoring suhu secara kontinyuMonitor TD, nadi, dan RRMonitor warna dan suhu kulitMonitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermiTingkatkan intake cairan dan nutrisiSelimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuhAjarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panasDiskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan kemungkinan efek negatif dari kedinginanBeritahukan tentang indikasi terjadinya keletihan dan penanganan emergency yang diperlukanAjarkan indikasi dari hipotermi dan penanganan yang diperlukanBerikan anti piretik jika perluVital Sign MonitoringMonitor TD, nadi, suhu, dan RRCatat adanya fluktasi tekanan darahMonitor Vital Sign saat paien berbaring, duduk, atau berdiriAuskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkanMonitor TD, nadi, RR, sebelum selama, dan setelah aktivitasMonitor kualitas dari nadiMonitor frekuensi dan irama pernapasanMonitor suara paruMonitor pola pernapasan abnormalMonitor suhu, warna, dan kelembaban kulitMonitor sianosis periferMonitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign

BAB 4PENUTUP4.1KesimpulanMeningitis merupakan peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat. Yang disebabkan oleh bakteri, virus, faktor predisposisi, faktor maternal dan faktor imunologi.Meningitis dibagi menjadi 2 yaituMeningitis purulen ( pus ) adalah radangbernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula spinalis danMeningitis serosa ( bakteri ) merupakan peradangan yang disebabkan oleh organisme pada bakteri seperti meningococcus, staphylococcus, Baccilus influenza, Baccilus tubercula, Neiserria meningitides, sreptococus pnemoniae (pada dewasa), haimopilus influenza (pada anak-anak dan remaja).

4.2Saran1.Tenaga kesehatanSebagai tim kesehatan agar lebih bisa meningkatkan pengetahuan tentang meningitis dan problem solving yang efektif dan juga sebaiknya kita memberikan informasi atau health education mengenai meningitis kepada para orang tua anak yang paling utama.2.MasyarakatMasyarakat sebaiknya mengindari hal-hal yang dapat memicu terjadinya meningitis dan meningkatkan pola hidup yang sehat.

DAFTAR PUSTAKA

Suriadi,dkk.2006.Asuhan Keperawatan pada Anak.Jakarta;Sagung Seto

Smeltzer, Suzanne C & Bare,Brenda G.(2001).Buku Ajar Keperawatan Medikal BedahBrunner & Suddarth.Alih bahasa, Agung Waluyo,dkk.Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester.Ed.8.Jakarta : EGC.

Riyadi,Sujono.2010.Asuhan Keperawatan pada Anak Sakit.Yogyakarta;Gosyen Publising

Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998.