acara ekonomi syariah

download acara ekonomi syariah

of 130

Transcript of acara ekonomi syariah

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Pengadilan Agama sebagai salah satu dari empat lembaga peradilan yang ada di Indonesia. semenjak diundangkannya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama, mempunyai wewenang baru sebagai bagian dari yurisdiksi absolutnya, yaitu kewenangan untuk menerima, memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan sengketa dibidang ekonomi syariah. Wewenang baru tersebut bisa dikatakan sebagai tantangan dan sekaligus peluang bagi lembaga peradilan agama. Dikatakan sebagai tantangan karena selama ini bagi Pengadilan Agama belum ada pengalaman apa pun dalam menyelesaikan sengketa di bidang ekonomi syariah, sehingga kalau pun sekiranya datang suatu perkara tentang sengketa ekonomi syariah , maka bagi lembaga peradilan agama ini mesti mencari dan mempersiapkan diri dengan seperangkat peraturan perundangan maupun norma hukum yang terkait dengan persoalan ekonomi syariah. Hukum Islam sebagai sebuah hukum yang hidup di Indonesia menghalami perkembangan yang cukup berarti dalam masa kemerdekaan ini.

Perkembangan tersebut antara lain dapat dilihat

dari kewenangan yang

dimiliki oleh Peradilan Agama (PA) sebagai peradilan Islam di Indonesia. Dulunya, putusan PA murni berdasarkan fiqh para fuqaha', eksekusinya harus

2

dikuatkan oleh

Peradilan Umum, Para

hakimnya hanya berpendidikan

Syari'ah tradisional dan tidak berpendidikan hukum, organisasinya tidak berpuncak ke Mahkamah Agung, dan lain-lain. Sekarang keadaan sudah berubah. Salah satu perubahan mendasar akhir-akhir ini adalah penambahan kewenangan PA dalam Undang-Undang Peradilan Agama yang baru, antara lain bidang ekonomi syari'ah.1 Persoalannya sampai saat ini belum ada aturan hukum positive yang secara terperinci mengatur tentang acara penyelesaian sengketa ekonomi syariah, namun demikian bukan berarti tidak ada aturan hukumnya atau dengan kata lain telah terjadi kekosongan hukum dalam persoalan ini. Karena pada asasnya pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara yang diajukan kepadanya dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadili2 Oleh karena itu walau pun aturan formal yang berkenaan dengan penyelesaian sengketa ekonomi syariah belum ada, pengadilan agama sebagai lembaga yang diberi wewenang oleh negara untuk memeriksa, mengadili dan menyelesaikan sengketa ekonomi syariah sudah seharusnya mengerahkan segenap potensinya untuk menjawab tantangan tersebut. Untuk menjawab persoalan-persoalan yang berkaitan dengan proses penyelesaian sengketa ekonomi syariah ini kiranya pengadilan agama harus berani dan mampu menggali nilai-nilai maupun norma-norma hukum Islam,

1

Rifyal Ka'bah, Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syari'ah Sebagai Sebuah Kewenangan Baru Peradilan Agama, dalam Varia Peradilan . tahun ke XXI, NOMOR245 April, 2006,hal. 12. 2 Lihat pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.

3

baik yang terdapat dalam kitab Al-Quran, al-Sunnah maupun kitab-kitab fiqh /ushul fiqh serta fatwa-fatwa Majelis Ulama yang dalam hal ini melalui Dewan Syariah Nasional yang berkaitan dengan persoalan-persoalan diseputar ekonomi syariah.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan kepada latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan pokok-pokok masalah sebagai berikut : 1. Mengapa sengketa ekonomi syariah mesti diselesaikan melalui Badan Peradilan Agama ? 2. Bagaimana cara-cara dan proses penyelesaian sengketa ekonomi syariah di Pengadilan Agama ? 3. Pengadilan Agama mana yang paling berwenang menyelesaikan sengketa ekonomi syariah (kompetnsi relative) ?

C. Tujuan Penelitian Penelitian tentang sengketa ekonomi syariah dan penyelesaiannya di Pengadilan Agama mengandung maksud dan tujuan sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui lebih mendalam mengapa Pengadilan Agama lebih berwenang dalam meyelesaikan sengketa ekonomi syariah ? 2. Untuk menganalis lebih jelas bagaimana cara-cara dan proses penyelesaian sengketa ekonomi syariah di Pengadilan Agama.

4

3.

Untuk memperoleh informasi yang pasti tentang Pengadilan Agama mana yang paling berwenang (kompetensi relatif) memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara sengketa ekonomi syariah.

D. Manfaat Penelitian Penelitian tentang penyelesaian sengketa ekonomi syariah di lingkungan Pengadilan agama diharapkan memiliki manfaat tertentu.. Manfaat tersebut sekurang-kurangnya meliputi dua aspek, yaitu: 1. Manfaat sosial (social value), yang diharapkan berguna untuk : a. Memberi gambaran atau pedoman awal bagi lembaga Peradilan Agama tentang bagaimana cara-cara dan proses penyelesaian sengketa ekonomi syariah. b. Memberi informasi kepada masyarakat muslim Indonesia pada umumnya, khususnya para pelaku bisnis syariah tentang cara-cara menyelesaikan sengketa ekonomi syariah melalui pengadilan agama. c. Memberi pedoman praktis kepada para praktisi hukum khususnya dalam hal-hal yang berkaitan dengan proses penyelesaian sengketa ekonomi syariah. 2. Manfaat akademik (academic value) a. Diharapkan penulisan tesis tentang proses penyelesaian sengketa

ekonomi syariah di pengadilan agama ini dapat dijadikan sebagai pemenuhan salah satu syarat guna memperoleh gelar Magister Studi Islam pada Program Pascasarjana Universitas Islam Indonesia.

5

b. Manfaat lain dari penulisan tesis ini diharapkan

bisa menambah

khazanah keilmuan dalam bidang penyelesaian sengkerta ekonomi syariah.

E. Telaah Pustaka Dari penelusuran referensi yang ada tidak banyak dijumpai karya-karya ilmiyah yang membahas persoalan penyelesaian sengketa ekonomi syariah di lingkungan Pengadilan Agama . Hal ini bisa dimaklumi karena persoalan ini relatif masih baru. Namun demikian hal-hal yang masih ada relevansinya dengan penyelesaian sengketa ekonomi syariah dapat dijumpai pada beberapa karya ilmiyah, diantaranya adalah tulisan Dr. Dadan Muttaqien tentang Penyelesaian Sengketa Perbankan Syariah Di Luar Lembaga Peradilan. Dalam tulisan ini dijelaskan bahwa pada prinsipnya penyelesaian sengketa ekonomi syariah di luar lembaga peradilan (non litigasi) ada dua cara yang bisa ditempuh, yaitu melalui lembaga perdamaian (al-Shulh) dan melalui lembaga arbitrase (al-Tahkim). 3 Di Indonesia, lembaga perdamaian telah diakui keberadaannya melalui Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaaian Sengketa. Dalam Undang-Undang tersebut dinyatakan bahwa negara memberi kebebasan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalah

3

Dadan Muttaqien, Penyelesaian Sengketa Perbankan Syariah Di Luar Lembaga Peradilan, dalam Majalah Hukum Varia Peradilan Tahun Ke XXIII NOMOR 266 Januari 2008 (Jakarta : IKAHI, 2008) Hal. 60.

6

sengketa bisnisnya di luar lembaga peradilan, baik melalui konsultasi, mediasi, negosiasi, konsiliasi, atau penilaian para ahli.4 Sedangkan lembaga tahkim disini yang dimaksud adalah penyelesaian sengketa ekonomi syariah melalui Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS ). Sebagai gambaran tentang peraturan dan prosedur Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) adalah sebagai berikut: 1. Penagajuan Permohonan Proses arbitrase dimulai dengan didaftarkannya surat permohonan untuk mengadakan arbitrase oleh Sekretaris dalam Register Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS). Dalam surat permohonannya tersebut harus memuat sekurang-kurangnya nama lengkap dan tempat tinggal atau tempat kedudukan kedua belah pihak, suatu uraian singkat tentang

salinan naskah perjanjian Arbitrasenya dan suatu surat kuasa khusus jika diajukan oleh kuasa hukum. 2. Selanjutnya, surat permohonan itu akan diperiksa oleh Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) , untuk menentukan apakah Badan Arbitrase Nasional (BASYARNAS) berwenang memeriksa dan

memutuskan sengketa arbitrase yang dimohonkan tadi.

Dalam hal

perjanjian atau klausula arbitrase dianggap tidak cukup kuat dijadikan dasar kewenangan Badan Arbitrase Nasional (BASYARNAS) untuk memeriksa sengketa yang diajukan, maka Badan Arbitrase Syariah

Nasional (BASYARNAS) akan meyatakan permohonan itu tidak dapat diterima (niet outvankelijk verklaard) yang dituangkan dalam sebuah4

Ibid.

7

penetapan yang dikeluarkan oleh Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) sebelum pemeriksaan dimulai atau dapat pula dilakukan oleh arbiter tunggal atau arbiter majelis yang ditunjuk dalam hal pemeriksaan telah dimulai. Sebaliknya, jika perjanjian atau klausula maka Ketua Badan Arbitrase

arbitrase dianggap telah mencukupi,

Syariah Nasional (BASYARNAS) segera menetapkan dan menunjuk arbiter tunggal atau majelis yang akan memeriksa dan memutus sengketa berdasarkan berat ringannya sengketa. Arbiter yang ditunjuk tersebut

dapat dipilih dari arbiter atau menunjuk seorang ahli dalam bidang khusus yang diperlukan untuk menjadi arbiter, karena pemeriksaanya

memerlukan suatu keahlian khusus. Dengan demikian susunan arbiter dapat pula dalam bentuk tunggal atau majelis. 3. Arbiter yang ditunjuk memerintahkan untuk menyampaikan salinan surat permohonan kepada Termohon disertai perintah untuk menanggapi permohonan tersebut dan memberikan jawabannya secara tertulis selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak diterimanya salinan surat permohonan dan surat panggilan. Segera setelah diterimanya jawaban dari Termohon, atas perintah Arbiter tunggal atau Ketua ArbiterMajelis, salinan dari jawaban tersebut diserahkan kepada Pemohon dan bersamaan dengan itu memerintahkan kepada para pihak untuk menghadap di muka sidang Arbitrase pada tanggal yang ditetapkan, selambat-lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal dikeluarkannya perintah itu, dengan pemberitahuan bahwa

8

mereka boleh mewakilkan kepada kuasa hukumnya masing-masing dengan surat kuasa khusus. 4. Pemeriksaan persidangan Arbitrase dialakukan di tempat kedudukan Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS), persetujuan dari kedua belah pihak, tempat lain. Arbiter Tunggal kecuali ada

pemeriksaan dapat dilakukan di

atau Majelis dapat melakukan sidang barang, atau benda dokumen yang Putusan

ditempat untuk memeriksa saksi,

mempunyai hubungan dengan para pihak yang bersengketa.

harus diambil dan dijatuhkan di tempat kedudukan Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS). 5. Selama proses dan pada setiap tahap pemeriksaan berlangsung Arbiter tunggaal atau majelis harus memberi perlakuan dan kesempatan yang sama sepenuhnya terhadap para pihak (equality before the law) untuk membela dan mempertahankan kepentingan yang disengketekannya. Arbiter tunggal atau Majelis , baik atas pendapat sendiri atau para pihak dapat melakukan pemeriksaan dengan mendengar keterangan saksi, termasuk saksi ahli dan pemeriksaan secara lisan di antara para pihak, setiap bukti atau dokumen yang disampaikan salah satu pihak kepada Arbiter Tunggal atau Majelis salinannya harus disampaikan kepada pihak lawan. Namun, pemeriksaan dibolehkan secara lisan (oral hearing).

Tahap pemeriksaan dimulai dari jawab-menjawab (replik-duplik), pembuktian dan putusan dilakukan berdasarkan kebijakan Arbiter Tunggaal atau Majelis.

9

6. Dalam jawabannya, atau paling lambat pada sidang pertama pemeriksaan, Termohon dapat mengajukan suatu tuntutan balasan (reconventie). Terhadap bantahan yang diajukan Termohon, Pemohon dapat mengajukan jawaban (replik) yang dibarengi dengan tambahan tuntutan (Additional Claim) asal hal itu mempunyai hubungan yang sangat erat langsung

dengan pokok yang disengketekan serta termasuk dalam Yurisdiksi Badaan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS), baik tuntutan

konvensi, rekonvensi maupun addional Claim akan diperiksa dan diputus oleh Arbiter atau maajelis terlebih dulu akan mengusahakan tercapainya perdamaian. Apabila usaha tersebut berhasil, maka Arbiter Tunggal

akan membuat akta perdamaian dan mewajibkan kedua belah pihak untuk memenuhi dan mentaati perdamaian tersebut masing-masing. Sebaliknya, apabila perdamaian tidak berhasil, maka Arbiter Tunggal atau Majelis akan meneruskan pemeriksaan sengketa yang dimohon. Dalam hal yang diteruskan para pihak dipersilakan untuk memberikan argumentasi dan pendirian masing-masing serta mengajukan bukti-bukti yang dianggap perlu untuk mengatakannya. Seluruh pemeriksaan dilakukan secara

tertutup sesuai dengan saran arbitrase yang tertutup. 7. Arbiter tunggal atau Majelis akan menutup pemeriksaan sengketa

arbitrase dan menetapkan suatu hari sidang untuk mengucapkan putusan yang diambil, bila menganggap pemeriksaan telah cukup, dengan tidak menutup kemungkinan dapat membuka sekali lagi pemeriksaan (to open) sebelum putusan dijatuhkan bila dianggap perlu.

10

8. Putusan diambil dan diputuskan dalam suatu sidang yang dihadiri kedua belah pihak. Bila para pihak telah dipanggil secara patut, tetapi jika tidak ada yang hadir, maka putusan tetap diucapkan. Seluruh proses

pemeriksaan sampai diucapkannya putusan oleh Arbiter Tunggal atau Majelis akan diselesaikan selambat-lambatnya sebelum jangka waktu 6 (enam) bulan habis, terhitung sejak dipanggilnya pertama kali para pihak untuk menghadiri sidang pertama pemeriksaan. 9. Putusan Arbitrase tersebut harus memuat alasan-alasan, kecuali para

pihak menyetujui putusan tidak perlu membuat alasan. Arbiter Tunggal atau Majelis harus memutus berdasar kepatutan dan keahlian sesuai dengan ketentuaan hukum yang berlaku bagi perjanjiaan yang

menimbulkan sengketa dan disepakati para pihak.

Putusannya bersifat

final dan mengikat para pihak yang bersengketa dan para pihak wajib mentaati seta memenuhi secara suka rela seperti yang disebut di atas. Apabila putusan tidak dipenuhi secara suka rela, maka putusan

dijalankan menurut ketentuan yang diatur dalam Pasal 637 RV dan Pasal 639 RV. 5 Walaupun putusan arbiter itu bersifat final , namun Peraturan Prosedur Badan Arbitrase Syariah Nasional memberikan kemungkinan kepada salah satu pihak untuk mengajukan secara tertulis, permintaan pembatalan putusan (annulment of the award) arbitrase tersebut yang disampaikan kepada sekretaris BASYARNAS dan tembusan kepada pihak lawan sebagai pemberitahuan. Pengajuan pembatalan putusan5

paling lambat

Ibid, hal. 65.

11

dalam waktu 60 (enam puluh) hari dari tanggal putusan diterima, kecuali mengenai alasan penyelewengan dan hal itu berlaku paling lama dalam waktu 3 (tiga) tahun sejak putusan dijatuhkan. Permintaan pembatalan putusan hanya dapat dilakukan berdasarkan salah satu alasan sebagai berikut: a. Penunjukan Arbiter Tunggal atau Majelis tidak sesuai dengan ketentuan, b. Putusan melampaui batas kewenangan BASYARNAS, c. Putusan melebihi yang diminta para pihak, d. Terdapat penyelewengan diantara saalah salah seorang arbiter, e. Putusan jauh menyimpang dari ketentuan pokok dan putusan tidak memuat alasan-alasan yang menjadi landasan pengambilan putusan.6 Sementara itu dalam tulisan Dr. Rifyal Kabah yang berjudul Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah Sebagai Sebuah Kewenangan Baru Peradilan Agama yang termuat dalam Majalah Hukum Varia Peradilan tahun Ke XXI Nomor 245 April 2006, lebih banyak mambahas tentang pengalaman BASYARNAS dalam menyelesaian sengketa ekonomi syariah yang diajukan kepadanya, dimana didalam menyelesaiakan sengketa ekonomi syariah BASYARNAS menggunakan dua hukum yang berbeda, yakni hukum Islam seperti yang diformulasikan oleh DSN (Dewan Syariah Nasional) dan pasalpasal dalam KUHPerdata. Hal ini dilakukan karena ketiadaan peraturan

6

Ibid.

12

perUndang-Undangan tentang perbankan syariah secara khusus dan ekonomi syariah secara umum.7 Selain kedua referensi di atas terdapat satu tesis MSI-UII Yogyakarta yang disusun oleh Yususf Buchori dengan judul Litigasi Sengketa Perbankan Syariah Dalam Persektif Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 Tentang Peradilan Agama (Study Kasus Putusan Pada Pengadilan Agama Purbalingga) , dalam pembahasannya lebih terfokus kepada studi kasus pada sengketa perbankan syariah yang diadili dan diselesaikan oleh pengadilan Agama Purbalinga, bukan kepada penyelesaian sengketa ekonomi syariah pada umumnya. Sebaagaimana dalam salah satu kesimpulannya Yusuf Buchori menyatakan, bahwa dalam menyelesaikan sengketa perbankan syariah terdapat dua lapangan hukum (two level playing fields) , yaitu syariah level dan legal level. Hal ini dikarenakan dalam praktek Bank Syariah dalam mengadakan akad secara formal berpedoman kepada KHUPerdata (BW) dan secara

materiil atau substansinya berdasarkan prinsip syariah.8 Dari ketiga referensi di atas secara jelas belum ada yang membahas proses penyelesaian sengketa ekonomi syariah dilingkungan Peradilan Agama.

Oleh karena itu cukup alasan bagi diri Penyusun untuk menyusun tesis ini dalam rangka untuk menambah khazanah keilmuan dalam hal penyelesaian sengketa ekonomi syariah, khususnya bagi lembaga Pengadilan Agama.7 8

Rifyal Ka'bah, Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syari'ah ,hal. 20. Yusuf Buchori, Litigasi Sengketa Perbankan Syariah Dalam Persektif Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 Tentang Peradilan Agama (Study Kasus Putusan Pada Pengadilan Agama Purbalingga) , Tesis MSI-UII Yogyakarta, 2007, hal. 148.

13

F. Kerangka Teori Ekonomi atau ilmu ekonomi Islam berbeda dengan ekonomi atau ilmu ekonomi konvensional yang berkembang di dunia dewasa ini, karena yang pertama terikat kepada nilai-nilai Islam dan yang kedua memisahkan diri dari agama semenjak negara-negara Barat berpegang kepada sekularisme dan menjalankan politik sekularisasi.9 Sungguh pun demikian, tidak ada ekonomi yang terpisah dari nilai atau tingkah laku manusia, tetapi pada ekonomi konvensional, nilai yang digunakan adalah nilai duniawi semata (profane, mundane). Yang dimaksud dengan kata syari'ah dalam ekonomi syari'ah sebenarnya adalah fiqh para fuqaha'. Hal itu karena salah satu pengertian syari'ah yang berkembang dalam sejarah adalah fiqh dan bukan ayat-ayat dan/atau haditshadits semata sebagai inti agama Islam atau ayat-ayat dan/atau hadts-hadits hukum saja secara khusus. Pemakaian kata syari'ah sebagai fiqh tampak secara khusus pada pencantuman syari'ah Islam sebagai sumber legislasi di beberapa negara muslim (dan juga pada 7 kata dalam Piagam Jakarta), perbankan syari'ah, asuransi syari'ah, ekonomi dan keuangan syari'ah secara umum di Indonesia, serta Pengadilan Syari'ah (Mahkamah Syar'iyah) di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Inilah yang diistilahkan dalam bahasa Barat sebagai Islamic Law, de Mohammadan wet/recht, la loi islamique, dan lain-lain.109

Khurshid Ahmad (ed), Studies in Islamic Economics , dalam Rifyal Ka'bah, Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah., hal. 12. 10 Rifyal Ka'bah,Hukum Islam di Indonesia, (Buletin Dahwah) DDII, DKI Jakarta, Mei 2006.

14

Ada pun pengertian ekonomi Islam adalah merupakan suatu ilmu yang mempelajari perilaku muslim (yang beriman) dalam suatu masyarakat Islam yang mengikuti Al-Quran, hadits Nabi Muhammad SAW., ijma dan qiyas.11 Islam memang sebagai suatu sistem nilai yang sedemikian lengkap dan menyeluruh dalam mengatur kehidupan umat manusia di dunia ini, tak terkecuali di dalam persoalan perekonomian. Dalam hal ini Islam telah mengatur bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalam sistem

perekonomian Islam tersebut. Untuk ini Muhammad Syafi'i Antonio dalam bukunya Bank Syari'ah, dari Teori ke Praktek, telah menguraikan :12 1. Perekonomian masyarakat luas bukan hanya masyarakat Muslim akan menjadi baik bila menggunakan kerangka kerja atau acuan normanorma Islami. Banyak ayat Al-Qur'an yang menyerukan penggunaan kerangka kerja perekonomian Islam, diantaranya adalah :

13 11

Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah, Buku Saku Lembaga Bisnis Syariah , (Jakarta: PKES, 2006), hal.1 12 Muhammad Syafi'I Antonio, Bank Syari'ah, dari Teori ke Praktek, Cet.kesembilan (Jakarta: Gema Insani, 2005)hal. 10. 13 Q.S. Al-Baqarah (2): 87-88.

15

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apaapa yang baik yang Telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah Telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

Semua ayat tersebut merupakan penentuan dasar pikiran dari pesan Al-Qur'an dalam bidang ekonomi. Dari ayat-ayat tersebut dapat difahami bahwa Islam mendorong penganutnya untukmenikmati karunia yang telah diberikan oleh Allah. Karunia tersebut harus didayagunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ,baik materi maupun non materi. Islam juga mendorong penganutnya berjuang untuk mendapatkan materi/harta dengan berbagai cara, asalkan mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan. Salah satu hadits Rasulullah SAW menegaskan :

Artinya :"Kaum Muslimin (dalam kebebasan) sesuai dengan syarat dan kesepakatan mereka, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram."14

Rambu-rambu tersebut di antaranya: carilah yang halal lagi baik; tidak menggunakan cara batil; tidak berlebih-lebihan/melampaui batas; tidak di zhalimi maupun menzhalimi; menjauhkan diri dari unsur riba; maisir (perjudian dan intended speculation); dan gharar (ketidak-jelasan dan manipulatif ) serta tidak melupakan tanggung jawab sosial berupa zakat, infak dan sedekah. Ini yang membedakan sistem ekonomi Islam dengan14

H.R. At-Turmudzi, dalam kitab Subulus Salam,Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Juz III, Jilid II, disusun oleh Imam Muhammad ibn Isma'il Al-Kahlaniy Al-Shan'aniy (t.t.p., Dar al-Fikr, t.t.)hal. 59.

16

perekonomian konvensional yang menggunakan prinsip self interest (kepentingan pribadi) sebagai dasar perumusan konsepnya. 2. Keadilan dan Persaudaraan Menyeluruh. Islam bertujuan untuk membentuk masyarakat dengan tatanan sosial yang solid. Dalam tatanan itu setiap individu diikat oleh persaudaraan dan kasih sayang bagai satu keluarga. Sebuah persaudaraan yang universal dan tak diikat batas geografis. Keadilan dalam Islam memiliki implikasi sebagai berikut : a. Keadilan Sosial; b. Keadilan Ekonomi; 3. Keadilan Distribusi Pendapatan. Kesenjangan pendapatan dan kekayaan alam yang ada dalam masyarakat, berlawanan dengan semangat dan komitmen Islam terhadap persaudaraan dan keadilan sosial-ekonomi. Kesenjangan harus diatasi dengan menggunakan cara yang ditekankan Islam. 4. Kebebasan Individu dalam Konteks Kesejahteraan Sosial. Konsep Islam amat jelas. Manusia dilahirkan merdeka. Karenanya tidak ada seorang pun bahkan negara mana pun yang berhak mencabut kemerdekaan tersebut dan membuat hidup manusia menjadi terikat. Dalam konsep ini setiap individu berhak menggunakan kemerdekaannya tersebut sepanjang tetap berada dalam kerangka norma-norma Islami. Dengan kata lain, sepanjang kebebasan tersebut dapat dipertanggung-jawabkan, baik secara sosial maupun dihadapan Allah.

17

Sedangkan yang dimaksud dengan ekonomi syariah menurut UndangUndang Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilakukan menurut prinsip syariah, 15 antara lain meliputi : a.bank syariah; b.asuransi syariah; c.reasuransi syariah; d.reksadana syariah; e.lembaga keuangan mikro syariah; f.obligasi syariah dan surat berharga berjangka menengah syariah; g. sekuritas syariah; h.pembiayaan syariah; i.pegadaian syariah; j.dana pensiun lembaga keuangan syariah; k.bisnis syariah. Menegenai sendi-sendi Islam, menurut catatan Abu Ala Al-Maududi terdapat tujuh hal sebagai berikut : a. Adanya prinsip perbedaan antara yang halal dan yang haram mengenai jalanjalan mencari kekayaan. Dalam hal ini Islam tidak membenarkan bagi umatnya untuk mencari kekayaan semau-mau mereka, tetapi Islam menegaskan perbedaan antara mereka dalam mencari penghidupan melalui

15

Penjelasan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, pasal 49 huruf i.

18

jalan-jalan yang sah dan yang tidak sah. Prinsip ini diterangkan oleh Allah dalam firman-Nya :

16 Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu17; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, Maka kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Ayat ini telah menetapkan dua perkara sebagai syarat bagi sahnya perdagangan. Pertama, hendaklah perdagangan itu dilakukan dengan suka sama suka diantara kedua belah pihak. Kedua, hendaklah keuntungan satu pihak, tidak berdiri di atas dasar kerugian pihak yang lain. Maksudnya adalah bahwa tiap-tiap orang yang merugikan orang lain untuk membela kepentingan pribadinya, maka seolah-olah ia

menumpahkan darahnya dan membukakan jalan kebinasaan16

Q.S. An-Nisa (4) : 29-30. Larangan membunuh diri sendiri mencakup juga larangan membunuh orang lain, sebab membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, Karena umat merupakan suatu kesatuan.17

19

bagi dirinya akhir kesudahannya. Pencurian, penyuapan, perjudian, jual beli secara gharar18

, penipuan, pemalsuan,

membungakan uang dan lain-lain jalan mencari kekayaan, apabila terdapat di dalamnya kedua sebab ini menjadikan dia tidak sah. Dan jika hanya terdapat sebagian syarat , misalnya suka sama suka, diantara kedua belah pihak, maka ia masih membutuhkan satu syarat lagi, yaitu sebagaimana yang dimaksud dalam ayat :

Artinya : Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri.

b. Larangan menumpuk / mengumpulkan harta. Bahwa seyogyanya seseorang yang baik tidak mengumpulkan harta yang didapatnya dengan jalan yang sah, karena yang demikian itu menghambat perputaran kekayaan dan merusak keseimbangan dalam pembagiannya dikalangan masyarakat ramai. Orang yang mengumpulkan harta dan tidak membelanjakannya, tidak hanya mencampakkan dirinya ke dalam berbagai penyakit moril saja, tetapi juga melakukan sesuatu kejahatan yang besar terhadap masyarakat seluruhnya, dimana madharatnya dan keburukannya akan kembali menimpa dirinya juga. Oleh karena itu Islam sangat mencela dan memerangi sifat kebakhilan, sebagaimana firman Allah SWT dalam AlQuran:18

Jual beli secara gharar, artinya jual beli yang membawa kebinasaan (resiko), seperti tidak diketahuinya ketentuan barang yang diperjual belikan, atau tidak diketahui harganya,banyaknya, temponya kalau di sana ada tempo, atau tidak diketahui kepastian adanya barang itu dan keselamatannya.

20

19 Artinya : Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allahlah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

c. Perintah untuk membelanjakan harta. Tetapi walaupun demikian Islam tidak membenarkan umatnya membelanjakan hartanya dengan jalan boros, sematamata untuk memuaskan hawa nafsu. Akan tetapi didalam membelanjakan harta tersebut haruslah didasari fi sabilillah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :

20 Artinya : . dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.

19 20

Q.S. Ali Imran (5): 180. Q.S. Al-Baqarah (2) : 219.

21

21

Artinya : Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).

22 Artinya : Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan Karena mencari keridhaan Allah. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).

d. Zakat. Kewajiban zakat dimaksudkan agar supaya kekayaan tidak dibiarkan

terkumpul disalah satu tempat dalam masyarakat. e. Hukum Waris. Yang dikehendaki dalam aturan ini adalah apabila seseorang meninggalkan harta benda, maka harta bendanya tersebut dibagi-bagikan kepada sanak21 22

Q.S. Al-Maarij (70) : 24-25. Q.S. Al-Baqarah (2) : 272.

22

kerabatnya yang terdekat, dan apabila tidak meninggalkan sanak kerabat semua harta peninggalannya harus diserahkan ke Baitul Mal kaum muslimin, supaya dapat dinikmati manfaatnya oleh seluruh umat. f. Pembagian rampasan perang. Islam telah mengatur harta-harta yang diperoleh dari hasil rampasan perang, secara lebih adil dan lebih bermanfaat bagi sesama pihak. g. Perintah untuk berhemat dalam perbelanjaan. Islam menghendaki, bahwa tidak seyogyanya seseorang membelanjakan hartanya kecuali dalam batas-batas kemampuan ekonominya 23

Berangkat dari uraian di atas, dapat dimunculkan kerangka teori sebagai berikut :Bahwa ikatan antara kepentingan pribadi dan kepentingan masyarakat adalah erat-semata-mata karena fitrah keduanya. Antara keduanya harus ada keselarasan dan keserasian, bukan persaingan dan pertarungan.24 Sementara itu, untuk menyelesaikan sengketa ekonomi/bisnis syariah pada umumnya pihak penggugat menuntut ganti rugi dari pihak tergugat atas tidak terpenuhinya prestasi yang telah disepakati bersama dalam suatu akad

perjanjian yang telah dibuat oleh mereka. Oleh karena itu disini perlu dijelaskan beberapa teori ganti rugi (tawid, daman). Berkaitan dengan hal tersebut definisi .daman mengandung makna-makna sebagai berikut:

23

Abu Ala Al-Maududi, Dasar-Dasar Ekonomi Islam dan Berbagai System Masa Kini,alih bahasa Abdullah Suhaili, cet. Kedua (Bandung: PT. Al-Maarif, 1984) hal . 136 24 Ibid, hal. 13.

23

1. Objek wajib daman terletak pada zimmah (perjanjian). Kewajiban .daman tidak akan gugur kecuali dengan memenuhi atau dibebaskan oleh pihak yang berhak menerima ganti rugi tersebut. Pihak yang dirugikan (mutadarrar) berhak mengadukan ke pengadilan untuk memaksa pihak yang menyebabkan terjadinya kerugian (mutasabbib) agar memenuhi kewajibannya. Hal ini berbeda dengan kewajiban yang bersifat moral atau keagamaan di mana Syari hanya mendorong untuk memenuhinya tanpa implikasi hukuman keduniaan atas pelenggaran itu. Hal ini termasuk katagori khitab al-targib yang meliputi, dalam istilah kaum ushuli, makruhat dan mandubat. Zimmah menurut bahasa adalah al-aqdu (perjanjian). Menurut tradisi fuqaha zimmah adalah suatau sifat yang menjadikan seseorang mempunyai kompetensi untuk menerima hak atau melakukan kewajiban. 2. Hak yang dibebankan kepada seseorang berdasarkan .daman berbeda dengan kewajiban seseorang berdasarkan uqubah baik pada karakter maupun tujuannya. Wajib karena .daman disyariatkan untuk melindungi hak-hak individu. Pada saat yang sama uqubah disyariatkan karena adanya unsur pelanggaran (al-taaddi) terhadap hak-hak Allah SWT. Wajib pada .daman disyariatkan untuk mengganti atau menutupi (al-ajru) kerugian yang terjadi pada seseorang. Sementara uqubah ditetapkan untuk menghukum pelaku agar jera dan tidak melakukan perbuatan itu kembali (al-zajru).

24

3. Sebab-sebab .daman adalah adanya unsur al-taadi , yaitu melakukan perbuatan terlarang dan atau tidak melakukan suatu kewajiban menurut hukum. Taaddi dapat terjadi karena melanggar perjanjian dalam akad yang semestinya harus dipenuhi. Misalnya, tempat penitipan barang (almuda) tidak memelihara barang sebagaimana mestinya, seorang al-ajir (buruh upahan, orang sewaan) dengan al-mustajir (penyewa) sama-sama meyalahi akad. Taaddi juga dapat terjadi karena melanggar hukum

syariah (mukhalafatu ahkam syariah) seperti pada kasus perusakan barang (al-itlaf), perampasan(al-gash), maupun kelalaian atau penyianyiaan barang secara sengaja (al-ihmal). 4. Taaddi yang mewajibkan .daman benar-benar menimbulkan ..darar (kerugian). Jika tidak menimbulkan kerugian, maka tidak ada .daman, karena secara fatual tidak ada .darar yang harus digantirugikan. Itulah sebabnya jika seorang pengendara yang lalai menabrak barang orang lain tetapi tidak menimbulkan kerusakan, tidak diwajibkan untuk memberikan .daman. Namun demikian, tedapat suatu perbuatan dengan sendirinya mewajibkan .daman seperti al-gasbu (perampasan) . Menurut jumhur ulama, pelaku perampasan harus mengganti manfaat barang yang dirampas walaupun tidak memanfaatkannya. Ini adalah bagian dari adanya asumsi bahwa kerugian akan selalu ada pada kasus-kasus perampasan. Damikian pula diduga kuat akan terjadi kerugian (.darar) bagi seseorang yang dibatasi kebebasannya atau seseorang yang ditahan secara ilegal menurut fuqaha Hanabilah. Hal ini mirip dengan Strict Liability dalam

25

hukum Inggris. Pengecualian ini memperkuat kaidah bahwa al-.darar syarthum liwujubi .daman (kerugian adalah syarat terhadap keharusan ganti rugi). 5. Antara taaddi (pelanggaran) dengan .darar (kerugian) harus memiliki hubungan kausalitas. Artinya, .darar dapat dinisbatkan kepada pelaku pelanggaran secara langsung. Jika .darar dinisbatkan kepada sebab-sebab lain, bukan perbuatan pelaku pelanggaran (mutaaddi) sendiri, maka .daman tidak dapat diberlakukan , karena seseorang tiadak dapat dibebani tanggungjawab atas akibat perbuatan orang lain. Kaidah syariah mengenai masalah ini adalah: .

6. .darar harus bersifat umum sesuai dengan keumuman hadit Nabi: laa .darara wa la .dirara (tidak boleh merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain). Tingkat .darar diukur berdasarkan urf (kebiasaan) yang berlaku. Hal ini sejalan dengan kaidah ushul: yajibu hamlu al-laf.zi ala manahu al-muhaddah fi as-syari in wujida, wa illa wajaba hamluhu ala manahu al-urfi (suatu keharusan membawa kata kepada maknanya yang definitif secara syara jika ditemukan, tetapi kalau tidak ada harus dialihkan kepada makna definitif berdasarkan urf). Karena Syari tidak menetapkan makna .darar , sehingga ukurannya, baik kualitas maupun kuantitas, mengaju kepada urf. Dengan demikian, .darar yang diganti rugi berkaitan dengan harta benda, manfaat harta benda, jiwa, dan hak-hak

26

yang berkaitan dengan keharta-bendaan jika selaras dengan urf yang berlaku di tengah masyarakat. 7. Kualitas dan kuantitas .daman harus seimbang dengan .darar. Hal ini sejalan dengan filosofi .daman, yaitu untuk mengganti dan menutupi kerugian yang diderita pihak korban, bukan membuat pelakunya agar jera. Kendati demikian, tujuan ini selalu ada dalam berbagai sanksi, walau hanya bersifat konvensional.25

G. Metode Penelitian 1. Sifat Penelitian Oleh karena penelitian ini bersifat penelitian pustaka ( Library Research), maka metode yang dipergunakan untuk memperoleh data yang dikehendaki adalah dengan jalan menggali/mengeksplorasi nilai-nilai maupun normanorma hukum Islam yang berkaitan dengan persoalan yang sedang diteliti, baik yang terdapat di dalam kitab suci Al-Quran, kitab-kitab hadis, kitabkitab fiqh/ushul fiqh, peraturan perUndang-Undangan, fatwa Majelis Ulama Indonesia maupun sumber-sumber lain yang berkaitan.

2. Jenis Penelitian Dari segi kegunaan atau manfaatnya, penelitian ini lebih tepat dikategorikan sebagai jenis penelitian terapan (Applied Research), yakni jenis penelitian yang dilakukan dalam rangka menjawab kebutuhan dan25

Asmuni Mth, Teori Ganti Rugi (.daman) Perspektif Hukum Islam, diktat kuliah pada program Magister Studi Islam UII Yogyakarta. Hal. 8.

27

memecahkan masalah-masalah praktis, sehingga jenis penelitian ini dapat juga di sebut dengan operational research (penelitian operasi) atau action research (penelitian kerja).26

3. Pendekatan Sedangkan pendekatan yang dipakai dalam menjawab persoalan yang telah dirumuskan adalah menggunakan pendekatan perUndang-Undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach) dan sekiranya dalam proses penulisan tesis ini muncul kasus tentang sengketa ekonomi syariah di Pengadilan Agama, maka tidak menutup

kemungkinan juga akan dipergunakan pendekatan kasus (case approach). Pendekatan Undang-Undang (statute approach) dilakukan dengan menelaah semua Undang-Undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani. Bagi penelitian untuk kegiatan praktis, pendekatan Undang-Undang ini akan membuka kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari adakah konsistensi dan kesesuaian antara suatu Undang-Undang dengan Undang-Undang lainnya atau antara UndangUndang dengan Undang-Undang Dasar atau antara regulasi dan UndangUndang. Hasil dari telaah tersebut merupakan suatu argumen untuk memecahkan suatu isu yang dihadapi. 27

26

Supardi, Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis, Cet.1 (Yogyakrta: UII Press,2005) ,hal. 26 27 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Edisi Pertama, cet. Ke-2 (Jakarta: Kencana,2005), hal. 93

28

Pendekatan konseptual (conceptual approach) beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang didalam suatu ilmu hukum. Dengan mempelajari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin di dalam ilmu hukum, peneliti akan menemukan ide-ide yang melahirkan pengertian-pengertian hukum, konsep-konsep hukum dan asas-asas hukum yang relevan dengan isu yang dihadapi. Pemahaman akan pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin tersebut merupakan sandaran bagi peneliti dalam membangun suatu argumentasi hukum dalam memecahkan isu yang dihadapi.28 Sedangkan pendekatan kasus dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Kasus bisa berupa kasus yang terjadi di Indonesia maupun di negara lain. Yang menjadi kajian pokok dalam pendekatan kasus adalah ratio decidendi atau reasoning, yaitu pertimbangan pengadilan untuk sampai kepada suatu putusan. Baik untuk keperluan praktik maupuin untuk kajian akademis, ractio decidendi atau reasonimg tersebut merupakan referensi bagi penyusunan argumentasi dalam pemecahan isu hukum. Perlu dikekmukakan di sini bahwa pendekatan kasus tidak sama dengan studi kasus (case study). Didalam pendekatan kasus (case approach), beberapa kasus ditelaah untuk referensi bagi suatu isu hukum.

28

Ibid, hal. 95

29

Studi kasus merupakan suatu studi terhadap kasus tertentu dari berbagi aspek hukum, 29

4. Metode Analisis Data Lebih lanjut untuk menganalisis data yang diperoleh dipergunakan metode induktif, yakni berusaha mencari aturan-aturan, nilai-nilai maupun norma-norma hukum yang terdapat dalam pustaka yang terkait untuk dirumuskan sebagai suatu kaidah hukum tertentu yang bisa diberlakukan untuk menyelesaikan kasus sengketa ekonomi syariah di Pengadilan Agama.

H. Sistematika Pembahasan Untuk memperoleh gambaran awal tentang isi, pembahasan tesis ini disusun berdasaarkan sisitematika sebagai berikut: BAB I : Pendahuluan; dalam bab ini dibahas tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, telaah pustaka dan kerangka teori serta metode penelitian dan sisitematika pembahasan. BAB II : Tinjauan Umum tantang Ekonomi Syariah; dalam bab ini dibahas tentang konsep dan sistem ekonomi syariah, macam-macam aktivitas ekonomi syariah, sumber-sumber hukum ekonomi syariah dan ragam konflik ekonomi syariah, bab ini dimaksudkan untuk menjawab persoalan hal-hal apa saja yang rawan terjadinya konflik atau sengketa dalam aktivitas perekonomian yang berbasis syari'ah, serta prinsip-prinsip ekonomi syariah.29

Ibid, hal. 94

30

BAB III : Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah; dalam bab ini dibahas tentang penyelesaian sengketa ekonomi syariah dengan jalan

musyawarah, melalui badan arbitrase dan penyelesaian sengketa ekonomi syariah melalui Badan Peradilan Agama. Dalam bab ini dimaksudkan untuk menjelaskan dan menjawab persoalan bagaimana mestinya sengketa dibidang perekonomian syari'ah tersebut dapat diselesaikan sesuai dengan nilai-nilai yang Islami yang menjunjung tinggi rasa keadilan serta Pengadilan Agama mana yang berwenang menyelesaikan sengketa dimaksud . BAB IV : Analisis Data; Dalam bab ini dimaksudkan untuk menganalisis data yang diperoleh sepanjang penelusuran pustaka yang relevan mapun dari hasil wawancara dengan praktisi hukum yang berkompeten dalam penyelesaian perkara sengketa ekonom syari'ah. BAB V : Penutup; pada bab ini dideskripsikan kesimpulan penyusun hasil analisis pembahasan dan saran/rekomendasi yang dipandang perlu. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG EKONOMI SYARI'AH A. Konsep dan Sistem Ekonomi Syari'ah. Gagalnya kapitalisme maupun sosialisme dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat, mengharuskan adanya pemecahan. Karena itu, negara-negara muslim sangat membutuhkan suatu sistem yang lebih baik yang mampu memberikan semua elemen berperan dalam rangka mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia sejati. Sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran :

31

30 . Artinya :Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu31, Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya 32dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan .

Sistem Ekonomi Islam yang dilandasi dan bersumber pada ketentuan Al-Quran dan Sunnah berisi tentang nilai

persaudaraan, rasa cinta, penghargaan kepada waktu, dan kebersamaan. Adapun sistem ekonomi Islam meliputi antara lain : 1.Mengakui hak milik individu sepanjang tidak merugikan masyarakat. 2. Individu mempunyai perbedaan yang dapat dikembangkan berdasarkan potensi masing-masing. 3.Adanya jaminan sosial dari negara untuk masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuihan pokok manusia .

30

Q.S. Al-Anfal (8) : 24. Maksudnya: menyeru kamu berperang untuk meninggikan kalimat Allah yang dapat membinasakan musuh serta menghidupkan Islam dan muslimin. juga berarti menyeru kamu kepada iman, petunjuk jihad dan segala yang ada hubungannya dengan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.3132

Maksudnya: Allah-lah yang menguasai hati manusia

32

4.Mencegah konsentrasi kekayaan pada sekelompok kecil orang yang memiliki kekuasaan lebih. 5. Melarang praktek penimbunan barang sehingga

mengganggu distribusi dan stabilitas harga. 6. Melarang praktek asosial (mal-bisnis).33

B. Macam-Macam Aktivitas Ekonomi Syariah Aktivitas ekonomi syariah atau ekonomi Islam sangatlah luas dan banyak sebanyak aktivitas kehidupan manusia didalam memperoleh kesejahteraan kehidupan di dunia ini, sebab menusia memang diperintahkan untuk memenuhi kesejahteraannya di dunia ini tanpa melupakan kebahagiannya di akhirat kelak. Sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam Al-Quran surat Al-Qoshosh ayat 77 :

Artinya : Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.33

Gita Danupranata, Ekonomi Islam, cetakan pertama (Yogyakarta : UPFE-UMY,2006) hal

26-27.

33

Namun dalam hal ini akan dibatasi pada aktivitas-aktivitas ekonomi syariah yang sudah populer dan melembaga di Indonesia, sebagaimana yang tercantum didalam penjelasan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Untuk itu berikut ini akan diuraiakan beberapa aktivitas ekonomi syariah yang berkembang di Indonesia , diantaranya : 1. a. Bank Syariah

Pengertian Bank Islam atau bank syariah secara teknis mempunyai persamaan pengertian. Para Pakar pebankan Islam memberikan beberapa definisi. Menurut Karnaen A. Perwaatmadja, bank syariah adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, yakni bank dengan tata cara dan operasinya mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam. Salah satu unsur yang harus dijauhi dalam muamalah Islam adalah praktikpraktik yang mengandung unsur riba.34 Sedangkan Warkum Sumitro mengatakan bahwa bank Islam berarti bank yang tata cara operasinya didasarkan pada tata cara bermuamalah secara Islami, yakni mengacu kepada ketentuan-ketentuan Al-Quran dan hadits. Dalam operasionalisasinya, bank Islam harus mengikuti atau berpedoman kepada praktik-praktik usaha yang dilakukan pada zaman Rasulullah SAW, bentuk-bentuk yang sudah ada sebelumnya tetapi tidak dilarang

34

Karnaen A. Perwaatmadja, Membumikan Ekonomi Islam di Indonesia, dalam Sofiniyah Ghufron (Penyunting) Briefcase Book Edukasi Profesional Syariah, Konsep dan Implementasi Bank Syariah, cet. 1, (Jakarta : Renaisan, 2005), hal.18.

34

oleh Rasulullah bentuk-bentuk usaha baru sebagai hasil ijtihad para ulama atau cendekiawan muslim yang tidak menyimpang dari ketentuan AlQuran dan hadits.35 Senada dengan pengertian di atas, Amin Azis juga berpendapat bahwa bank Islam adalah lembaga perbankan yang menggunakan sistem dan operasi berdasarkan syariah Islam. Hal ini berarti, operasional bank syari ah harus sesuai dengan tuntunan Al-Quran maupun hadits, yaitu menggunakan sistem bagi hasil dan imbalan lainnya sesuai dengan syariah Islam.36 Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang

dimaksud dengan bank Islam adalah sebuah lembaga keuangan yang berfungsi sebagai penghimpun dana dan menyalurkannya kepada masyarakat. Di mana sistem, tata cara, dan mekanisme kegiatan usahanya berdasarkan pada syariat Islam, yaitu Al-Quran dan hadits. Dalam Al-Quran, istilah bank tidak pernah disebutkan secara eksplisit, tetapi menurut Arifin, jika yang dimaksud merujuk pada sesuatu yang memiliki unsur-unsur seperti struktur, manajemen, fungsi, hak dan kewajiban, maka semua itu disebutkan dengan jelas seperti zakat, shodaqoh, ghanimah, bai, dan sebagainya., atau segala sesuatu yang memiliki fungsi atau peran tertentu yang dilaksanakan dalam kegiatan ekonomi.37

35 36

Ibid, hal.19. Ibid. 37 Zainul Arifin, Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah, dalam Sofiniyah Ghufron (Penyunting), Ibid, hal. 20.

35

Sedangkan dilihat dari sisi ahlak, Al-Quan juga menyebutkan sebuah konsep yang secara eksplisit disebutkan dalam bentuk kisah maupun perintah. Konsep accountability merupakan contoh kongkrit yang tertera dalam beberapa ayat, misalnya QS al-Baqarah(2):282-283,

36

37

Artinya

.

:Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah38 tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang 39 (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Q.S. Surat Al-Baqarah: 282283)

Konsep trust (amanah) dalam QS al-Baqarah (2): 283, dan masih banyak ayat lain yang berkaitan dengan konsep keadilan, amar maruf38

Bermuamalah ialah seperti berjualbeli, hutang piutang, atau sewa menyewa dan sebagainya.39

barang tanggungan (borg) itu diadakan bila satu sama lain tidak percaya mempercayai.

38

nahi mungkar, menegakkan kebenaran, dan berlaku sabar dalam rangka menjaga stabilitas lembaga tersebut.40

b.Prinsip-Prinsip Prilaku Bisnis Syariah Untuk menyesuaikan dengan aturan dan norma-norma Islam, sudah semestinya diterapkan dalam perilaku bisnis termasuk dalam hal ini praktek perbankan Islam, lima prinsip sebagai berikut : 1). Tidak ada transaksi keuangan berbasis bunga (riba); 2). Pengenalan pajak religius atau pemberian sedekah, zakat; 3). Pelarangan produksi barang dan jasa yang bertentangan dengan sistem nilai Islam (haram); 4). Penghindaran aktivitas ekonomi yang melibatkan maisir (judi) dan gharar (ketidakpastian); 5). Penyediaan Takaful (asuransi Islam).41

2.

Reksadana Syariah a. Memahami Reksadana Syariah Menurut Undang-Undang Pasar Modal Nomor8 Tahun 1995, Pasal 1 ayat 27, Reksadana adalah suatu wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi yang telah

40

Sofiniyah Ghufron (Penyunting), Konsep dan Implementasi Bank Syariah, cet. I (Jakarta: Renaisan, 2005) hal.20. 41 Latifa M. Algaud dan Mervyn K. Lewis, Islamic Banking, diterjemahkan oleh Burhan Wirasubrata dengan judul Perbankan Syariah, Prinsip, Praktek, Pospek, cet.II (Jakarta : PT. Serambi Ilmu Semesta, 2005), hal. 48.

39

mendapat izin dari Bapepam. Reksadana dapat terdiri dari berbagai macam instrumen surat berharga seperti saham, obligasi, instrumen pasar uang, atau campuran dari instrumen-instrumen di atas. Dengan demikian, sebuah reksadana merupakan hubungan trilateral karena melibatkan beberapa pihak yang terikat sebuah kontrak atau trust deed secara legal. Mereka adalah pemilik modal, manajer investasi, dan bank kustodian. Manajer investasi biasanya berbentuk perusahaan yang kegiatan usahanya mengelola portofolio efek. Perusahaan pengelola disebut dengan fund management company. Di samping sebagai pengelola investasi, fund management company juga menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan pemasaran dan adaministrasi dana. Portofolio efek adalah kumpulan (kombinasi) sekuritas, atau surat berharga atau efek, atau instrumen yang dikelola. Reksadana Syariah (Islamic Investment Funds) dalam hal ini memiliki pengertian yang sama dengan reksadana konvensional, hanya saja cara pengelolaan dan kebijakan investasinya harus berdasarkan pada syariat Islam, baik dari segi akad, pelaksanaan investasi, maupun dari segi pembagian keuntungan. Islamic Investment Fund merupakan lembaga intermediaris yang membantu surplus unit melakukan penempatan dan untuk

diinvestasikan. Salah satu tujuan dari Reksadana Syariah adalah memenuhi kebutuhan kelompok investor yang ingin memperoleh

40

pendapatan investasi dari sumber dan cara yang bersih dan dapat dipertanggungjawabkan secara religius, serta sejalan dengan prinsipprinsip syariah. Dengan demikian, Reksadana Syariah adalah suatu wadah yang -digunakan oleh masyarakat untuk berinvestasi secara kolektif, di mana pengelolaan dan kebijakan investasinya mengacu pada syriat Islam. Reksadana merupakan jalan keluar bagi para pemodal kecil yang ingin ikut serta dalam pasar modal dengan modal minimal yang relatif kecil dan kemampuan menanggung resiko yang sedikit. Reksadana memiliki andil yang amat besar dalam perekonomian nasional karena dapat memobilisasi dana untuk pertumbuhan dan pengembangan perusahaan-perusahaan nasional, baik BUMN maupun swasta. Di sisi lain, reksadana memberikan keuntungan kepada masyarakat berupa keamanan dan keuntungan materi yang meningkatkan kesejahteraan material. Dari sisi tujuan Reksadana Syariah dapat disejajarkan dengan Sosial Responsible Investment (SRI) atau Etical Investment , Sosially Aware Investment, dan Value-based investment. Tujuan utama Reksadana Syariah bukan semata-mata mencari keuntungan, tetapi juga memiliki tanggungjawab sosial terhadap lingkungan, komitmen terhadap nilainilai yang diyakini tanpa harus mengabaikan keinginan investornya. Oleh karena itu, Reksadana Syariah tidak boleh menginvestasikan dananya pada bidang-bidang yang bertentangan dengan Syariat Islam,

41

misalnya saham-saham atau obligasi-obligasi dari perusahaan yang pengelolaan dan produknya bertentangan dengan syariat islam; pabrik makanan atau minuman yang mengandung alkohol, daging babi, rokok, tembakau, jasa keuangan konvensional, pornografi, pelacuran, serta bisnis hiburan yang berbau maksiat.42 Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Nomor 20/DSNMUI/IV/2001, Reksadana Syariah adalah : Reksadana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip syariah Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta (shahibul maal/rabb al maal) dengan manajer investasi sebagai wakil shahibul maal, maupun antara manajer investasi sebagai wakil shahibul maal dengan pengguna investasi. b. Ciri-Ciri dan Mekanisme Operasional Reksadana Syariah Ciri-Ciri Operasional Reksadana Syariah : 1). Mempunyai Dewan Syariah yang bertugas memberikan arahan kegiatan Manajer Investasi (MI) agar senantiasa sesuai dengan syariah Islam. 2). Hubungan antara investor dari perusahaan didasarkan pada sistem mudharabah, di mana satu pihak menyediakan 100% modal (investor), sedangkan satu pihak lagi sebagai pengelola (manajer investasi). 3). Kegiatan usaha atau investasinya diarahkan pada hal-hal yang tidak bertentangan dengan syariah Islam.

42

Sofiani Ghufron (Penyunting), Briefcase Book Edukasi Profesional Syariah, Investasi Halal di Reksa Dana Syariah, cet.1 (Jakarta : Renaisan, 2005), hal. 16.

42

Mekanisme Operasional Reksadana Syariah Perbedaan paling mendasar antara reksadana konvensional dan reksadana syariah adalah terletak tada proses screening dalam mengkonstruksi portofolio. Filterisasi menurut prinsip syariah adalah mengeluarkan saham-saham yang memiliki aktifitas haram seperti riba, gharar, minuman keras, judi, daging babi, rokok dan lain sebagainya. Di samping itu, proses filterisasi juga dilakukan dengan cara membersihkan pendapatan yang dianggap diperoleh dari kegiatan haram dan membersihkannya dengan cara charity. Dalam mekanisme kerja yang terjadi di reksadana ada tiga pihak yang terlibat dalam pengelolaan dan, yaitu: 1). Manajer investasi sebagai pengelola investasi. Manajer investasi ini bertanggungjawab atas kegiatan investasi, yang meliputi analisa dan pemilihan jenis investasi, mengambil keputusankeputusan investasi, memonitor pasar investasi, dan melakukan tindakan-tindakan yang dibutuhkan untuk kepentingan investor,. Manajer investasi (perusahaan pengelola) dapat berupa: a). Perusahaan efek, dimana umumnya berbentuk devisi tersendiri atau PT yang khusus menangani reksa dana. b). Perusahaan yang secara khusus bergerak sebagai perusahaan manajemen company. investasi (PMI) atau investment manajemen

43

2). Bank kustodian adalah bagian dari kegiatan usaha suatu bank yang bertindak sebagai penyimpan kekayaan (safe keeper) serta administrator reksadana. Dana yang terkumpul dari sekian banyak investor bukan merupakan bagian kekayaan manajer investasi maupun bank kustodian, tetapi milik para investor yang disimpan atas nama reksadana dari bank kustodian. Baik manajer investasi maupun bank kustodian yang akan melakukan kegiatan ini terlabih dahulu harus mendapat ijin dari Bapepam. 3). Pelaku (perantara) di pasar modal (broker, underwriter) maupun di pasar uang (bank) dan pengawas yang dilakukan oleh Bapepam.

c. Jenis dan Instrumen Investasi Investasi hanya dapat dilakukan pada instrumen keuangan yang sesuai dengan syariah Islam, yaitu : 1).Instrumen saham yang sudah melalui penawaran umum dan pembagian deviden didasarkan atas tingkat laba usaha. 2).Penempatan dalam deposito pada Bank Umum Syariah. 3) Surat hutang jangka panjang dan jangka pendek yang sesuai dengan prinsip syariah. 43 Berikut ini adalah kaidah-kaidah syariah yang telah dipenuhi dalam instrumen saham :

1). Kaidah syariah untuk saham :43

Ibid, hal.32.

44

a). Bersifat musyarakah jika saham ditawarkan secara terbatas; b). Bersifat mudharabah jika saham ditawarkan secara terbatas. c).Tidak boleh ada perbedaan jenis saham karena resiko harus ditanggung oleh semua pihak. d).Seluruh keuntungan akan dibagi hasil, dan jika terjadi kerugian akan dibagi rugi bila perusahaan dilikuidasi. e). Investasi pada saham tidak dapat dicairkan kecuali setelah likuidasi. 2). Kaidah syariah untuk emiten : a). Produk/jasa yang dihasilkan dikategorikan halal. Dalam hal ini, JII (Jakarta Islamic Index) telah melakukan penyaringan terhadap saham yang listing. Berdasarkan fatwa DSN, BEJ memilih emiten yang unit usahanya sesuai dengan syariah. b). Hasil usaha tidak mengandung unsur riba dan tidak bersifat zalim. c). Tidak menempatkan investor dalam kondisi gharar atau maysir. _ Memberi informasi yang transparan _ _ _ _ Resiko usaha yang wajar dan memenuhi ketentuan. Manajemen Islami Menghormati HAM Menjaga sumber daya alam dan lingkungan hidup.

3). Kaidah syariah untuk pasar perdana : a). Semua akad harus berbasis pada transaksi yang riil (dengan penyerahan) atas produk dan jasa yang halal dan bermanfaat.

45

b). Tidak boleh menertibkan efek hutang untuk membayar kembali hutang. c). Dana hasil penjualan efek yang diterbitkan akan dietrima oleh perusahaan. d). Hasil investasi yang akan diterima pemodal merupakan fungsi dan manfaat yang diterima emiten dari modal yang diperoleh dari dana hasil penjualan efek dan tidak boleh semata-mata merupakan fungsi dari waktu.. 4). Kaidah syariah untuk pasar sekunder : a). Semua efek harus berbasis pada transaksi riil (dengan penyerahan) atas produk dan jasa yang halal. b). Tidak boleh membeli efek hutang dengan dana dari hutang atau menerbitkan surat hutang. c). Tidak boleh membeli berdasarkan tren atau indek. d). Tidak boleh memperjual belikan hasil yang diperoleh dari suatu efek (misalnya kupon, dividen) walaupun efeknya sendiri dapat diperjualbelikan. e). Tidak boleh melakukan transaksi murabahah dengan menjadikan objek transaksi sebagai jaminan. f). Transaksi tidak menyesatkan, seperti penawaran palsu dan cornering Salah satu faktor utama yang menyebabkan gerakan yang tidak stabil dalam harga saham adalah spekulasi dalam pembayaran uang muka atau obral

46

saham dengan harga marjinal. Para spekulan mencari keuntungan perbedaan harga dalam transaksi jangka pendek. Spekulan berbeda kontras dengan investor. Tujuan investor yang sungguhsungguh adalah mencari jalan keluar dari tabungan saham yang mereka miliki jika mereka benar-benar mau menjual di kemudian hari. Investor yang sesungguhnya tidak tertarik pada transaksi berjangka pendek dan tujuan mereka, setidaknya saat pembelian, adalah memegang saham dalam jangka panjang. Oleh karena itu, ada tiga hal yang mencirikan suatu inventasi di pasar modal yaitu ; a). Mengambil saham yang telah dibeli, b) Melakukan pembayaran penuh, c) Keinginan pada saat membeli untuk memegang saham dalam jangka waktu yang tidak tertentu.44

3. Gadai Syariah a. Rukun dan Syarat Transaksi Gadai Setiap akad harus memenuhi syarat syah dan rukun yang telah ditetapkan oleh para ulama fiqih. Walaupun terdapat perbedaan mengenai hal ini, namun secara syarat syah dan rukun dalam menjalankan pegadaian sebagai berikut: Rukun Gadai : 1). Shigat adalah ucapan berupa ijab dan qabul.44

Sofiniyah Ghufron (Penyunting), Briefcase Book Edukasi Profesional Syariah, Sistem Keuangan dan Investasi Syariah, cet.I,(Jakarta : Renaisan, 2005), hal. 33-36.

47

2). Orang yang berakad, yaitu orang yang menggadaikan (rahin) dan orang yang menerima gadai (murtahin). 3). Harta / barang yang dijadikan jaminan (marhun). 4). Hutang (Marhun bih)

Syarat Sah Gadai : 1). Shigat Syarat shigat tidak boleh terikat dengan syarat tertentu dan dengan masa yang akan datang. Misalnya; rahin mensyaratkan apabila tenggang waktu marhunbih habis dan marhunbih belum terbayar, maka rahin dapat diperpanjang satu bulan. Kecuali jika syarat tersebut mendukung kelancaran akad maka diperbolehkan seperti pihak murtahin minta agar akad itu disaksikan oleh dua orang. 2). Orang yang berakad. Baik rahin maupun martahin harus cakap dalam melakukan tindakan hukum, baligh dan berakal sehat, serta mampu melakukan akad. Bahkan menurut ulama Hanafiyah, anak kecil yang mumayyis dapat melakukan akad, karena ia dapat membedakan yang baik dan yang buruk. 3). Marhun bih a). Harus merupakan hak yang wajib dikembalikan kepada murtahin. b).Merupakan barang yang dapat dimanfaatkan, jika tidak dapat dimanfaatkan, maka tidak syah. c). Barang tersebut dapat dihitung jumlahnya.

48

4). Marhun a). Harus berupa harta yang bisa dijual dan nilainya seimbang dengan marhun bih. b). Marhun harus mempunyai nilai dan dapat dimanfaatkan. c). Harus jelas dan spesifik. d). Marhun itu secara sah dimiliki oleh rahin. e). Merupakan harta yang utuh, tidak bertebaran dalam beberapa tempat.

b. Hak dan Kewajiban pihak Penerima Gadai (Murtahin) 1). Hak Murtahin ( Penerima Gadai ) : (a).Pemegang gadai berhak menjual marhun apabila rahin tidak dapat memenuhi kewajibannya pada sat jatuh tempo. Hasil penjualan barang gadai (marhun) dapat digunakan untuk melunasi pinjaman (marhun bih) dan sisanya dikembalikan kepada rahin. (b).Pemegang gadai berhak mendapatkan penggantian biaya yang telah dikeluarkan untuk menjaga keselamatan marhun. (c).Selama pinjaman belum dilunasi, pemegang gadai berhak menahan barang gadai yang diserahkan oleh pemberi gadai (nasabah/rahin). 2.) Adapun kewajiban penerima gadai (murtahin) adalah : (a) Penerima gadai bertanggung jawab atas hilang atau merosotnya barang gadai, apabila hal itu disebabkan oleh kelalaiannya.

49

(b) Penerima gadai tidak boleh menggunakan barang gadai untuk kepentingan sendiri. (c) Penerima gadai wajib memberitahukan kepada pemberi gadai sebelum diadakan pelelangan barang gadai.

c. Hak dan Kewajiban Rahin (Pemberi Gadai) 1). Hak pemberi gadai adalah: (a). Pemberi gadai berhak mendapatkan kembali barang gadai, setelah ia melunasi pinjaman. (b). Pemberi gadai berhak menuntut ganti kerugian dari kerusakan dan hilangnya barang gadai, apabila hal itu disebabkan kelalaian penerima gadai. (c). Pembari gadai berhak menerima sisa hasil penjualan barang gadai setelah dikurangi biaya pinjaman dan biaya-biaya lainnya. (d). Pemberi gadai berhak meminta kembali barang gadai apabila penerima gadai diketahui menyalahgunakan barang gadai. 2). Kewajiban pembari gadai: (a) Pemberi gadai wajib melunasi pinjaman yang telah diterimanya dalam tenggang waktu yang ditentukan, termasuk biaya-biaya yang ditentukan oleh penerima gadai. (b) Pemberi gadai wajib merelakan penjualan atas barang gadai miliknya, apabila dalam jangka waktu yang telah ditentukan pemberi gadai tidak dapat melunasi pinjamannya.

50

d. Akad Perjanjian Transaksi Gadai Untuk mempermudah mekanisme perjanjian gadai antara rahin (pemberi gadai) dan murtahin (penerima gadai), maka dapat menggunakan tiga akad perjanjian, antara lain: 1). Akad Qard al-Hasan Akad ini biasanya dilakukan pada nasabah yang ingin menggadaikan barangnya untuk tujuan konsumtif. Untuk itu, nasabah (rahin) dikenakan biaya berupa upah / fee kepada pihak pegadaian (murtahin) karena telah menjaga dan merawat barang gadaian (marhun). Sebenarnya, dalam akad qard al-hasan tidak diperbolehkan memungut biaya kecuali biaya administrasi. Namun demikian, ketentuan untuk biaya administrasi pada pinjaman dengan cara: Harus dinyatakan dalam nominal, bukan persentase. Sifatnya harus jelas, nyata dan pasti serta terbatas pada hal-hal yang mutlak diperlukan dalam kontrak. Mekanisme pelaksanaan akad qard al-hasan: (a). Barang gadai (marhun) berupa barang yang tidak dapat dimanfaatkan, kecuali dengan jalan menjualnya dan berupa barang bergerak saja, seperti emas, barang elektronik, dan sebagainya. (b). Tidak ada pembagian bagi hasil, karena akad ini bersifat sosial. Tetap diperkenankan menerima fee sebagai pengganti biaya administrasi yang biasanya diberikan pihak pemberi gadai (rahin) kepada penerima gadai.

51

. 2). Akad Mudharabah Akad mudharabah adalah akad yang dilakukan oleh nasabah yang menggadaikan jaminannya untuk menambah modal usaha atau pembiayaan yang bersifat produktif. Dengan akad ini, nasabah (rahin) akan memberikan bagi hasil berdasarkan keuntungan yang didapat nasabah kepada pegadaian (marhum) sesuai dengan kesepakatan, sampai modal yang dipinjam dilunasi. Jika barang gadai (marhun) dapat dimanfaatkan, maka dapat diadakan kesepakatan baru mengenai pemanfaatan barang gadai, dengan jenis akad yang dapat disesuaikan dengan jenis barangnya. Jika pemilik barang gadai tidak berniat memanfaatkan barang gadai tersebut, penerima gadai dapat mengelola dan mengambil manfaat dari barang itu. Akan tetapi hasilnya harus diserahkan kepada pemilik barang gadai sebagian. Ketentuan akad mudharabah: .(a). Jenis barang gadai dalam akad ini adalah semua jenis barang asal bisa dimanfaatkan, baik berupa barang bergerak maupun barang tidak bergerak. Seperti kendaraan bermotor, barang elektronik, tanah, rumah, bangunan dan lain sebagainya. (b). Keuntungan yang dibagikan kepada pemilik barang gadai adalah keuntungan setelah dikurangi biaya pengelolaan. Adapun ketentuan persentase nisbah bagi hasil sesuai dengan kesepakatan antara kedua belah pihak.

52

3). Akad Bai Muqayyadah Akad Bai Muqayyadah adalah akad yang dilakukan apabila nasabah (rahin) ingin menggadaikan barangnya untuk keperluan produktif. Seperti pembelian peralatan untuk modal kerja. Untuk memperoleh pinjaman, nasabah harus menyerahkan barang sebagai jaminan berupa barangbarang yang dapat dimanfaatkan, baik oleh rahin maupun murtahin. Dalam hal ini, nasabah dapat memberi keuntungan berupa mark up atas barang yang dibelikan oleh murtahin. Atau dengan kata lain, murtahin (pihak pegadaian) dapat memberikan barang yang dibutuhkan oleh nasabah dengan akad jual beli, sehingga murtahin dapat mengambil keuntungan berupa margin dari penjualan barang tersebut sesuai dengan kesepakatan antara keduanya. 4). Akad Ijarah Akad Ijarah adalah akad yang objeknya adalah penukaran manfaat untuk masa tertentu, yaitu pemilikan manfaat dengan imbalan, sama dengan menjual manfaat. Dalam kontrak ini ada kebolehan untuk menggunakan manfaat atau jasa dengan ganti berupa kompensasi. Dalam gadai syariah, penerima gadai (murtahin) dapat menyewakan tempat penyimpanan barang (deposit box) kepada nasabahnya. Barang titipan dapat berupa barang yang menghasilkan manfaat maupun tidak menghasilkan manfaat. Pemilik yang menyewakan disebut muajjir (pegadaian), sementara nasabah (penyewa) disebut mustajir, dan sesuatu

53

yang diambil manfaatnya disebut major, sedangkan kompensasi atau balas jasa disebut ajron atau ujrah.45

4. Asuransi Syariah a. Pengertian Asuransi Syariah Sebagaimana telah diterangkan pada bab terdahulu, dalam konsep agama Islam terdapat suatu terminologi yang membedakan hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) di satu sisi dan hubungan manusia dengan sesamanya (hablum minannas) dan lingkungan sekitarnya (hablum minal alam) di sisi lainnya. Hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan seperti peribadatan misalnya adalah bersifat limitatif (taabudi) artinya tidak dimungkinkan bagi manusia untuk mengembangkannya. Sedangkan hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya dan lingkungan alam di sekitarnya adalah bersifat terbuka, artinya Allah SWT dalam Al-quran hanya memberikan aturan yang bersifat garis besarnya saja. Selebihnya adalah terbuka bagi mujtahid untuk mengembangkan melalui pemikirannya. Lapangan kehidupan ekonomi termasuk di dalamnya usaha perasuransian, digolongkan di dalam hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya yang disebut dengan hukum muamalah, oleh karena itu bersifat terbuka dalam pengembangannya.46

45

Sofiniyah Ghufron (Penyunting), Briefcase Book Edukasi Profesional Syariah, Mengatasi Masalah Dengan Pegadaian Syariah, cet. I (Jakarta : Renaisan, 2005), hal. 31. 46 Gemala Dewi, Aspek-Aspek Hukum Dalam Perbankan dan Perasuransian Syariah di Indonesia , cetakan ke-4 (Jakarta : Kencana, 2007),hal. 135.

54

Pengertian kehidupan ekonomi dalam konteks perusahaan asuransi menurut syariah atau asuransi Islam secara umum sebenarnya tidak jauh berbeda dengan asuransi konvensional. Di antara keduanya, baik asuransi konvensional maupun asuransi syariah mempunyai persamaan yaitu perusahaan asuransi hanya berfungsi sebagai fasilitator hubungan struktural antara peserta penyetor premi (penanggung) dengan peserta penerima pembayaran klaim (tertanggung). Secara umum asuransi Islam atau sering diistilahkan dengan takaful dapat digambarkan sebagai asuransi yang prinsip operasionalnya didasarkan pada syarat Islam dengan mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunnah.47 Dalam menerjemahkan istilah asuransi ke dalam konteks asuransi Islam terdapat beberapa istilah, antara lain takaful (bahsa Arab), tamin (bahasa arab) dan Islamic insurance (bahasa Inggris). Istilah-istilah tersebut pada dasarnya tidak berbeda satu sama lain yang mengandung makna pertanggungan atau menanggung. Namun dalam prakteknya istilah yang paling populer digunakan sebagai istilah lain dari asuransi dan juga paling banyak digunakan di beberapa negara termasuk Indonesia adalah istilah tafakul. Istilah tafakul ini pertama kali digunakan oleh Dar Al Mal Islami , sebuah perusahaan asuransi Islam di Genewa yang berdiri pada tahun 1983.48 Istilah tafakul dalam bahasa Arab berasal dari kata dasar kafala-yakfulutakafala-yatakafalu-takaful yang berarti saling menanggung atau47

H.A. Dzajuli dan Yadi Janwari, Lembaga-Lembaga Perekonomian Umat (Sebuah Pengenalan), (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002) hal. 120. 48 Gemala Dewi, Aspek-Aspek Hukum...., hal. 136.

55

menanggung bersama. Kata takaful tidak dijumpai dalam Al-Quran namun demikian ada sejumlah kata yang seakar dengan kata takaful, seperti misalnya dalam QS. Thaha (20) : 40 :

Artinya :"Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?"

Apabila kita memasukkan asuransi tafakul ke dalam lapangan kehidupan muamalah, maka tafakul dalam pengertian muamalah mengandung arti yaitu saling menanggung resiko di antara sesama manusia sehingga di antara satu dengan lainnya menjadi penanggung atas resiko masing-masing. Dengan demikian, gagasan mengenai asuransi tafakul berkaitan dengan unsur saling menanggung resiko di antara para peserta asuransi, di mana peserta yang satu menjadi penanggung peserta yang lainnya. Tanggung menanggung resiko tersebut dilakukan atas dasar saling tolong-menolong dalam kebaikan dengan cara masing-masing mengeluarkan dana yang ditujukan untuk menanggung resiko tersebut. Perusahaan asuransi takaful hanya bertindak sebagai fasilitator saling menanggung di antara para peserta asuransi. Hal inilah salah satu yang membedakan antara asuransi tafakul dengan asuransi konvensional, di mana dalam asuransi konvensional terjadi saling menanggung antara perusahaan asuransi dengan peserta asuransi.

b. Prinsip-prinsip Asuransi Syariah Prinsip utama dalam asuransi syariah adalah taawanu ala al birr wa al-taqwa (tolong menolong kamu sekalian dalam kebaikan dan takwa)

56

dan al-tamin (rasa aman). Prinsip ini menjadikan para anggota atau peserta asuransi sebagai sebuah keluarga besar yang satu dengan yang lainnya saling menjamin dan menanggung resiko. Hal ini disebabkan transaksi yang dibuat dalam asuransi tafakul adalah akad takafuli (saling menanggung), bukan akad tabaduli (saling menukar) yang selama ini digunakan oleh asuransi konvensional, yaitu pertukaran pembayaran premi dengan uang pertanggungan. Para pakar ekonomi Islam mengemukakan bahwa asuransi syariah atau asuransi tafakul ditegakkan atas tiga prinsip utama, yaitu: 1). Saling bertanggung jawab, yang berarti para peserta asuransi takaful memiliki rasa tanggung jawab bersama untuk membantu dan menolong peserta lain yang mengalami musibah atau kerugian dengan ikhlas, karena memikul tanggung jawab dengan niat akhlas adalah ibadah. Rasa tanggung jawab terhadap sesama merupakan kewajiban setiap muslim. Rasa tanggung jawab ini tentu lahir dari sifat saling menyayangi, mencintai, saling membantu dan merasa mementingkan kebersamaan untuk mendapatkan kemakmuran bersama dalam mewujudkan masyarakat yang beriman, bertakwa dan harmonis. Dengan prinsip ini, maka asuransi tafakul merealisir perintah Allah SWT dalam Al-Quran dan Rasulullah SAW dalam As-Sunnah tentang kewajiban untuk tidak memerhatikan kepentingan diri sendiri semata tetapi juga mesti mementingkan orang lain atau masyarakat.

57

2). Saling bekerjasama atau saling membantu, yang berarti di antara peserta asuransi tafakul yang satu dengan yang lainnya saling bekerja sama dan saling tolong menolong dalam mengatasi kesulitan yang dialami karena sebab musibah yang diderita. Sebagaimana firman Allah dalam QS. AlMaidah ayat 2 :

Artinya :... dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Dengan prinsip ini maka asuransi takaful merealisir perintah Allah SWT dalam Al-Quran dan Rasulullah SAW dalam As-Sunnah tentang kewajiban hidap bersama dan saling menolong di antara sesama unat manusia. 3). Saling melindungi penderitaan satu sama lain, yang berarti bahwa para peserta asuransi takaful akan berperan sebagai pelindung bagi musibah yang di deritanya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Quraisy (106) ayat 4:

58

Artinya :Yang Telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.

Dengan begitu maka asuransi takaful merealisir perintah Allah SWT tentang kewajiban saling melindungi di antara sesama warga masyarakat. Karnaen A. Perwataatmadja mengemukakan prinsip-prinsip asuransi takaful yang sama, namun beliau menambahkan satu prinsip dari prinsip yang telah ada yakni prinsip menghindari unsur-unsur gharar, maisir dan riba. Sehingga terdapat 4 prinsip asuransi syariah yaitu: 1. Saling bertanggung jawab; 2. Saling bekerja sama atau saling membantu; 3. Saling melindungi penderitaan satu sama lain, dan 4. Menghindari unsur gharar, maisir dan riba.49 Terdapat beberapa solusi untuk menyiasati agar bentuk usaha asuransi dapat terhindar dari unsur gharar, maisir dan riba. 1. Gharar (uncertainty) atau ketidakpastian ada dua bentuk: a. Bentuk akad syariah yang melandasi penutupan polis. Secara konvensional, kontrak dan perjanjian dalam asuransi jiwa dapat dikatagorikan sebagai akad tabaduli atau akad pertukaran yaitu pertukaran pembayaran premi dengan uang pertanggungan. Secara harfiah dalam akad pertukaran harus jelas berapa yang dibayarkan dan berapa yang diterima. Keadaan ini menjadi rancu (gharar) karena kita tahu berapa yang akan diterima (sejumlah uang pertanggungan),49

Muhammad Syafii Antonio, Prinsip Dasar Operasi Asuransi Takaful dalam Arbitrase Islam di Indonesia (Jakarta : Badan Arbitrase Muamalat indonesia,1994), hal. 148.

59

tetapi tiadak tahu berapa yang akan dibayarkan (sejumlah seluruh premi) karena hanya Allah yang tahu kapan seseorang akan meninggal. Dalam konsep syariah keadaan ini akan lain karena akad yang digunakan adalah akad takafuli atau tolong menolong dan saling menjamin di mana semua peserta asuransi menjadi penolong dan penjamin satu sama lainnya. b. Sumber dana pembayaran klaim dan keabsahan syari penerima uang klaim itu sendiri. Dalam konsep asuransi konvensional, peserta tidak mengetahui dari dana pertanggungan ysng diberikan perusahaan asuransi berasal. Peserta hanya tahu jumlah pembayaran klaim yang akan diterimanya. Dalam konsep takaful, setiap pembayaran premi sejak awal akan dibagi dua, masuk ke rekening pemegang polis dan satu lagi di masukkan ke rekening khusus peserta yang harus di niatkan tabarru atau derma untuk membantu saudaranya yang lain. Dengan kata lain, dana klaim dalam konsep takaful diambil dari dana tabarru yang merupakan kumpulan dana shadaqah yang di berikan oleh para peserta. 2. Maisir (gambling) artinya ada salah satu pihak yang untung namun di pihak lain justru mengalami kerugian. Unsur ini dalam asuransi konvensional terlihat apabila selama masa perjanjian peserta tidak mengalami musibah atau kecelakaan, maka peserta tidak berhak mendapatkan apa-apa termasuk premi yang disetornya. Sedangkan, keuntungan diperoleh ketika peserta yang belum lama menjadi anggota

60

(jumlah premi yang disetor sedikit) menerima dana pembayaran klaim yang jauh lebih besar. Dalam konsep takaful, apabila peserta tidak mengalami kecelakaan atau musibah selama menjadi peserta, maka ia tetap berhak mendapatkan premi yang disetor kecuali dana yang di masukkan ke dalam dana tabarru. 3. Unsur riba tercermin dalam cara perusahaan asuransi konvensional melakukan usaha dan investasi di mana meminjamkan dana premi yang terkumpul atas dasar bunga. Dalam konsep takaful dana premi yang terkumpul diinvestasikan dengan prinsip bagi hasil, terutama mudharabah dan musyarakah.50

4.Baitul Mal Wa at-Tamwil (BMT) a. Pengertian Baitul Maal Wat at Tamwil (BMT) atau Balai Usaha Mandiri Terpadu, adalah lembaga keuangan mikro yang di oprasikan dengan prinsip bagai hasil, menumbuh-kembangkan bisnis usaha mikro dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin, ditumbuhkan atas prakarsa dan modal awal dari tokoh-tokoh masyarakat setempat dengan berlandaskan pada sistem ekonomi yang salam : keselamatan (berintikan keadilan), kedamaian, dan kesejahteraan. b.50

Asas dan prinsip dasarGemala Dewi, Aspek-Aspek Hukum ....,hal. 150.

61

BMT didirikan dengan berasaskan pada masyarakat yang salam, yaitu penuh keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan. Prinsip Dasar BMT, adalah : 1). Ahsan (mutu hasil kerja terbaik), thayyiban (terindah), ahsanu amala (memuaskan semua pihak), dan sesuai dengan nilai-nilai salam: keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan 2). Barokah, artinya berdayaguna, berhasil guna, adanya penguatan jaringan, transparan (keterbukaan), dan bertanggung jawab sepenuhnya kepada masyarakat. 3). Spiritual communication (penguatan nilai ruhiyah). 4). Demokratis, partisipatif, dan inklusif. 5). Keadilan sosial dan kesetaran jender, non-diskriminatif. 6). Ramah lingkungan. 7). Peka dan bijak terhadap pengetahuan dan budaya lokal, serta keanekaragaman budaya. 8). Keberlanjutan, memberdayakan masyarakat dengan meningkatkan kemampuan diri dan lembaga masyarakat lokal. c. Sifat, peran dan fungsi BMT bersifat terbuka, tidak partisan, berorientasi pada pengembangan tabungan dan pembiayaan untuk mendukung bisnis ekonomi yang produktif bagi anggota dan kesejahteraan sosial masyarakat sekitar, terutama usaha mikro dan fakir miskin. Peran BMT di masyarakat, adalah sebagai berikut:

62

1). Motor penggerak ekonomi dan sosial masyarakat banyak. 2). Ujung tombak pelaksanaan sitem ekonomi syariah. 3). Penghubung antara kaum aghnia (kaya) dan kaum dhuafa (miskin). 4).Sarana pendidikan informal untuk mewujudkan prinsip hidup yang berkah, ahsanu amala, dan salam melalui spiritual communication dan dzikir qalbiyah ilahiah. Fungsi BMT di masyarakat adalah untuk: 1). Meningkatkan kualitas SDM anggota, pengurus, dan pengelola menjadi lebih profesional, salam (selamat, damai dan sejahtera), dan amanah sehingga semakin utuh dan tangguh dalam berjuang dan berusaha (beribadah) menghadapi tantangan hidup. 2). Mengorganir dan memobilisasi dana sehingga dana yang dimiliki oleh masyarakat dapat termanfaatkan secara optimal di dalam dan di luar organisasi untuk kepentingan rakyat banyak. 3). Mengembangkan kesempatan kerja. 4). Mengukuhkan dan meningkatkan kualitas usaha dan pasar produk-produk anggota. 5). Memperkuat dan meningkatkan kualitas lembaga-lembaga ekonomi dan sosial masyarakat banyak. d. Pendiri BMT BMT dapat didirikan oleh : 1). Sekurang-kurangnya 20 (dua puluh) orang.

63

2. Satu pendiri dengan yang lainnya tidak memiliki hubungan keluarga vertikal dan horisontal satu kali. 3). Sekurang-kurangnya 70% anggota pendiri bertempat tinggal di sekitar daerah kerja BMT. 4). Pendiri dapat bertambah dalam tahun-tahun kemudian jika disepakati oleh rapat para pendiri. e. Permodalan BMT Modal BMT, terdiri dari: 1). Simpanan Pokok (SP) yang ditentukan besarnya sama besar untuk semua anggota. 2) Simpanan Pokok Khusus (SPK) , yaitu simpanan pokok yang khusus diperuntukkan untuk mendapatkan sejumlah modal awal sehingga memungkinkan BMT melakukan persiapan-persiapan pendirian dan memulai operasinya. Jumlahnya dapat berbeda antar anggota pendiri. Pada pendirian BMT, para pendiri dapat bersepakat agar dalam waktu 4 (empat) bulan sejak disepakati dapat berkumpul uang sejumlah: (a). Minimal Rp 75 juta untuk wilayah JABOTABEK. (b). Minimal Rp 50 juta untuk wilayah ibukota propinsi. (c). Minimal Rp 30 juta untuk wilayah ibukota kabupaten / kota. (d). Minimal Rp 20 juta untuk wilayah ibukota kecamatan (e). Minimal Rp 15 juta untuk daerah pedesaan. f.Status BMT Status BMT ditentukan oleh jumlah aset yang dimiliki sebagai berikut:

64

1). Pada awal pendiriannya hingga mencapai aset lebih kecil dari Rp 100 juta BMT adalah Kelompok Swadaya masyarakat yang berhak meminta /mendapakan Sertifikat Kemitran dari PINBUK (Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil). 2). Jika BMT telah memiliki aset Rp 100 juta atau lebih, maka BMT diharuskan melakukan proses pengajuan Badan Hukum kepada notaris setempat, antara lain dapat berbentuk: a). Koperasi Syariah (KOPSYAH). b).Unit Usaha Otonomi Syariah dari KSP (koperasi Simpan Pinjam), KSU (Koperasi Serba Usaha), KUD (Koperasi Unit Desa), Kopontren (Koperasi Pondok Pesantren), atau Koperasi lainnya yang beroperasi otonom termasuk pelaporan dan pertanggung jawabannya. g.Anggota BMT Anggota BMT, terdiri dari : 1). Anggota pendiri BMT, yaitu anggota yang membayar simpanan pokok, simpanan wajib, dan simpanan-simpanan pokok khusus minimal 4% dari jumlah modal awal BMT yang direncanakan. 2). Anggota biasa, yaitu anggota yang membayar simpanan pokok dan simpanan wajib. 3). Calon anggota, yaitu mereka yang memanfaatkan jasa BMT tetapi belum melunasi simpanan wajib.

65

4). Anggota kehormatan, Yaitu anggota yang mempunyai kepedulian untuk ikut serta memajukan BMT baik moral amupun materiil tetapi tidak bisa ikut serta secara penuh sebagai anggota BMT.

h. Cara Kerja BMT Cara kerja BMT adalah sebagai berikukt: 1). Pendamping atau beberapa pemrakarsa yang mengetahui tentang BMT, menyampaikan dan menjelaskan ide atau gagasan ini kepada rekanrekannya sebagai upaya untuk menarik beberapa orang sebagai pemrakarsa awal hingga mencapai lebih dari 20 (dua puluh) orang. 2). Dua puluh orang atau lebih tersebut kemudian menyepakati pendirian BMT di desa, kecamatan, pasar, atau masjid dan bersepakat mengumpulkan modal awal pendirian BMT. 3). Modal awal kemudian ditentukan sesuai dengan kesepakatan bersama, tidak harus sama jumlahnya antara pemrakarsa, hingga mencapai jumlah yang telah ditentukan untuk pendirian sebuah BMT. 4). Pemrakarsa membuat rapat untuk memilih pengurus BMT. 5). Pengurus BMT kemudian merapatkan dan merekrut pengelola / manajeman BMT dari lingkungan tersebut yang memiliki sifat siddiq, amanah, tabligh, fatonah dan benar-benar menguasai visi, misi, tujuan, dan usaha-usaha BMT, serta memiliki keinginan keras dan dengan sepenuh hati untuk mengembangkan BMT.

66

6). Pengurus BMT menghubungi PINBUK setempat untuk memberikan pelatihan kepada calon pengelola / manajemen BMT tersebut (umumnya 2 minggu pelatihan dan magang). 7). Pengelola yang telah diberi pelatihan kemudian membuka kantor dan menjalankan BMT, dengan giat menggalakkan simpanan masyarakat dan memberikan pembiayaan pada usaha mikro dan kecil di sekitarnya. 8). Pembiayaan pada usaha mikro dilakukan dengan menerapkan sistem bagi hasil yang disampaikan sesuai dengan akad yang telah disepakati. 9). Hasil bagi hasil ini kemudian digunakan oleh para pengelola untuk membayar honor para pengelola dan membayar kegiatan operasional BMT. 10).Hasil bagi hasil juga digunakan untuk membayar bagi hasil kepada penyimpan dana, diupayakan agar nilai bagi hasil yang diperoleh para penyimpan dana busa kebih besar dari bunga konvensional.51

C. Sumber-Sumber Hukum Ekonomi Syariah Ajaran Islam memberikan jalan tengah yang adil untuk berbagai pasangan , antara dunia dan akhirat, antara rasio dan hati, antara rasio dan norma, antara idialisme dan fakta, antara individu dan masyarakat, dan lain sebagainya. Ajaran Islam mengacu pada berbagai sumber yang telah ditetapkan Al-Quran adalah sumber utama pengetahuan sekaligus sumber hukum yang memberi inspirasi pengaturan segala aspek kehidupan.

51

Buku Saku Lembaga Bisnis Syariah (Jakarta : Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah, 2006),hal. 28.

67

Artinya: Kitab (Al Quran)52 Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.53

Artinya : (Al Quran) Ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. 54

Dengan menggunakan Al-Quran berarti manusia menjalani hidup dengan mengacu pada buku pedoman dari yang

menciptakan manusia karena yang paling tahu tentang manusia . Sunnah Rasul, berarti, kebiasaan yang merujuk pada perintah (fiil), ucapan (qaul), dan ketetapan (taqrirat) dari Rasulullah Muhammad SAW. Sunnah Rasul merupakan

sumber hukum yang berisi banyak tentang penjelas yang disampaikan dalam Al-Quran disamping pedoman hidup manusia yang belum diatur dalam Al-Quran. Ijma adalah konsensus opini dari sahabat dan atau ahli hukum Islam (fuqoha, mufti) atas masalah tertentu yang52

Tuhan menamakan Al Quran dengan Al Kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis. 53 takwa yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintahNya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja. ( Q.S.Al-Baqarah (2) :2) 54 Q.S.Ali Imran (3): 138

68

tidak secara eksplisit dijelaskan Al-Quran dan Sunnah. Salah satu contoh adalah ijma tentang keabsahan kontrak jual beli komoditi yang belum diproduksi (aqad Al-Istisna). Ijtihad, adalah penggunaan alasan logika rasional dalam melakukan interpretasi atas teks Al-Quran dan Hadits. Dalam Al-Quran disebutkan tentang kedudukan dan fungsi akal sebagai berikut :

Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.55

Dengan terbukanya kembali pintu ijtihad maka akan semakin meningkatkan keeratan Ilmu Ekonomi Islam dengan fiqh, karena disebabkan adanya ilmu ekonomi konvensional55

Q.S. Ali Imran (3) :190-191

69

yang banyak dianut negara-negara muslim dan kekuatan fiqh. Analisis ekonomi akan memberikan berbagai cara menyelesaikan permasalahan yang selalu berkembang, sementara fiqh akan merespon dengan ikut memberikan solusi yang merekomendasikan perkembangan zaman. Apabila ini dapat terbentuk akan mendorong interaksi antara para ekonom dengan fuqaha yang selanjutnya akan memberikan pemahaman pada masing-masing untuk dapat menyelesai