53330951 Sepsis Neonatal

download 53330951 Sepsis Neonatal

of 42

  • date post

    30-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    52
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of 53330951 Sepsis Neonatal

SEPSIS NEONATORUMI. PENDAHULUAN

Kematian Neonatus sampai saat ini masih merupakan mortalitas yang tertinggi sepanjang kehidupan manusia dan berhubungan erat dengan angka kematian bayi. Dalam angka kematian bayi (infant mortality rate) dikenal dengan istilah the two third rule atau aturan 2/3, yaitu aturan yang memperlihatkan bahwa 2/3 dari seluruh kematian bayi berusia dibawah 1 tahun merupakan kematian bayi usia kurang dari 1 bulan; dari kematian bayi usia < 1 bulan tersebut 2/3 merupakan kematian bayi berusia < 1 minggu dan 2/3 dari jumlah tersebut meninggal dalam 24 jam pertama. Aturan memperlihatkan bahwa kematian neonatus merupakan komponen utama kematian bayi (infant mortality rate) yaitu angka yang dipakai sebagai indikator kemajuan kesehatan di suatu negara. Penyebab kematian neonatus pada negara berkembang berturut-turut ialah penyakit infeksi (42 %), asfiksia dan trauma lahir (29 %), bayi kurang bulan dan berat lahir rendah (10 %), kelainan bawaan (14 %) dan sebab lain (4 %). Penyakit infeksi dan Sepsis Neonatorum masih merupakan masalah utama yang belum dapat terpecahkan sampai saat ini. WHO juga melaporkan case fatality rate yang tinggi pada penderita tetanus neonatorum dan sepsis neonatus. Dengan pesatnya kemajuan teknologi kedokteran dan penemuan bermacam antibiotik baru memperlihatkan penurunan angka kematian sepsis neonatorum. Walaupun demikian, hal ini ternyata tidak memperbaiki angka kejadian sepsis neonatorum. Angka kejadian sepsis yang masih tetap tinggi baik dinegara maju maupun negara berkembang disebabkan oleh beberapa faktor perinatal yang masih belum dapat ditanggulangi dengan optimal, antara lain :

1

1. Sering

terjadi

dilema

dalam

tata

laksana

sepsis.

Keterlambatan

pengobatan akan meningkatkan angka mortalitas, sedangkan over diagnosis akibat gambaran klinis yang tidak spesifik akan menyebabkan over treatment yang tentunya akan merugikan pasien. 2. Diagnosis sepsis neonatorum seringkali sulit karena jarang ditemukan tanda sepsis klasik. Biakan darah yang merupakan baku emas dalam diagnosis sepsis baru memberikan hasil setelah 3-5 hari pengambilan bahan biakan. Selain itu, kuman penyebab infeksi tidak selalu sama, baik antar klinik, antara waktu, ataupun antar negara. Demikian pula berbagai pemeriksaan penunjang lain seperti C reaktif protein atau rasio I/T tidak spesifik sehingga sulit dipakai sebagai pegangan dalam diagnosis pasti sepsis. 3. Adanya informasi baru dalam patogenesis dan perjalanan penyakit sepsis dalam dekade terakhir memberikan alternatif baru dalam mengatasi masalah sepsis, baik pencegahan maupun tatalaksana sepsis secara umum beberapa penulisan terakhir memperlihatkan tata laksana sepsis yang lebih efisien dan efektif.(1) Segala bentuk infeksi yang terjadi pada bayi merupakan hal yang lebih berbahaya dibandingkan dengan infeksi yang terjadi pada anak atau dewasa. Sistem imun pada bayi muda belum cukup berkembang untuk melawan infeksi yang terlalu berat. Ini merupakan alasan mengapa bayi harus dirawat dengan ketat bila dicurigai mengalami infeksi.(2)

II.

DEFINISIdefinisi sepsis masih diperdebatkan. Sesuai dengan

Konsensus

kesepakatan yang ada, akhir-akhir ini dikemukakan bahwa sepsis bukan merupakan kondisi Homogen dengan ditemukannya kuman penyebab, tetapi merupakan suatu proses berkelanjutan mulai dari infeksi, SIRS, sepsis, sepsis

2

berat, renjatan/syok septik, disfungsi multiorgan dan akhirnya kematian. Pada neonatus umumnya ditemukan berbagai tingkat defisiensi sistem pertahanan tubuh, sehingga respon sistematik pada janin dan neonatus akan berlainan dengan orang dewasa. Infeksi neonatus awitan dini respons sistematik pada bayi mungkin terjadi saat bayi masih didalam kandungan yang dikenal dengan istilah fetal inflamatory responce syndrome (FIRS), yaitu infeksi janin atau neonatus terjadi karena penyebaran infeksi dari kuman vagina (ascendng infection) atau infeksi yang menjalar secara hematogen dari ibu yang mengalami infeksi. Dengan demikian konsep infeksi pada neonatus, khusus pada infeksi awitan dini, perjalanan penyakit bermula dengan FIRS, kemudian sepsis, sepsis berat, syok septik/renjatan septik, disfungsi multiorgan dan akhirnya kematian. Pada tahun 1991 konsensus The American College of The Physicions and the society of critical care medicine (ACCP/SCCM) mendefinisikan systematic inflammatory respons syndrome (SIRS) sebagai respon inflamasi sistemik terhadap berbagai keadaan klinis yang merusak (trauma, luka bakar, pankreatitis dan infeksi), sedangkan sepsis adalah respons inflamasi sistemik terhadap infeksi. Pendapat lain menyebutkan sepsis neonatorum sebagai syndrom klinik penyakit sistematik yang disertai bakteremia dan terjadi pada bulan pertama kehidupan. Sepsis berat didefinisikan sebagai sepsis yang disertai komplikasi disfungsi organ tunggal dan hipotensi. Syok septik ditandai dengan sepsis berat yang membutuhkan resusitasi cairan dan dukungan inotropik. Syndrom disfungsi multi organ yaitu kegagalan multiorgan walaupun dukungan terapi telah diberikan separuhnya.

III.

EPIODEMIOLOGI

Berdasarkan perkiraan WHO terdapat sekitar 5 juta kematian neonatus per tahun. Di negara berkembang angka mortalitas neonatus (kematian dalam 28 hari pertama kehidupan) adalah 34 per 1000 kelahiran hidup. Sepsis meliputi 11 30 % dari seluruh kematian neonatus. Angka kejadian sepsis dinegara berkembang masih cukup tinggi (1,8 18/1000 kelahiran) di banding dengan negara maju (1-5 pasien/ 1000 kelahiran). Di RSCM periode Januari

3

September 2005, angka kejadian sepsis neonatorum sebesar 13,68 % dan seluruh kelahiran hidup dengan tingkat kematian sebesar 14,18 %, tingginya angka kejadian sepsis neonatorum di RSCM karena merupakan RS. Rujukan. (1)

IV.

KLASIFIKASI

Sepsis neonatorum dibedakan menjadi sepsis neonatorum awitan dini (SNAD) dan sepsis neonatorum awitan lambat (SWAL). Keduanya berbeda dengan patogenesis, mikroorganisme penyebab, tata laksana dan prognosis. SNAD terjadi pada usia < 72 jam, biasanya disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari ibu, baik dalam masa kehamilan maupun selama proses persalinan. SNAL terjadi pada usia > 72 jam, dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang diperoleh selama proses pasalinan tetapi manifestasinya lambat (setelah 3 hari) atau biasanya terjadi pada bayi-bayi yang dirawat di rumah sakit (Infeksi nasokomial). Perjalanan penyakit SNAD biasanya lebih berat, dan cenderung menjadi fulminan yang dapat berakhir dengan kematian. Sepsis lambat mudah menjadi berat, dan sering menjadi meningitis.(3,4)

V.

ETIOLOGI

Berbagai macam kuman seperti bakteri, virus, parasit, atau jamur dapat menyebabkan infeksi berat yang mengarah ke terjadinya sepsis. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri. (2) Beberapa masalah yang perlu dipertimbangkan dalam identifikasi kuman ialah adanya perbedaan antara kuman penyebab dari satu tempat ke tempat yang lain, dari waktu ke waktu, serta perbedaan bentuk infeksi. Pada negara maju kuman yang tersering ditemukan pada infeksi awitan dini adalah kelompok kuman B Streptokokus (GBS), E-coli, Haemophilus Influenzae dan Lysteria monosytogenis, sedangkan di FKUI RSCM selama tahun 2002 ditemukan berturut-turut kuman Enterobacter Sp, Acinetobader Sp dan Coli Sp.

4

Berlainan dengan kelompok awitan dini, pada awitan lambat pola kuman yang ditemukan.biasanya terdiri dari kuman nosokomial, antara lain Staphilococus aureus, E-coli, Klebsilla, Pseudamonas, Enterobacter, Candida, GBS, Serratia, Acinetobacter, kuman anaerob dan virus herpes samplex (HSV). Penelitian yang dilakukan di FKUI RSCM memperlihatkan jenis kuman yang tidak banyak berbeda pada awitan dini dan awitan lambat, yaitu Enterabacter sp, Klebsiella sp dan Acinotobacter Sp. Hampir sebagian besar kuman penyebab dinegara berkembang adalah kuman gram negatif berupa kuman enterik, antara lain Entrobacter sp, Klebsiella sp, dan Coli sp. Di Amerika Utara dan Eropa Barat 40 % disebabkan oleh Streptococus group B (SGB), sedangkan Coli sp, Literia sp, dan Enterouius di temukan dalam jumlah yang lebih sedikit.pada bayi dengan berat badan lahir rendah, Candida dan Stafilokokus koagulase negatif (CONS) merupakan patogen yang paling umum pada sepsis awitan lambat.(1) Streptokokus grup B dapat masuk ke dalam tubuh bayi selama proses kelahiran. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika, paling tidak terdapat bakterial pada vagina / rektum pada satu dari setiap lima wanita hamil, yang dapat mengkontaminasi bayi selama melahirkan. Bayi prematur yang menjalani perawatan intensif rentan terhadap sepsis karena sistem imun mereka yang belum berkembang dan mereka biasanya menjalani prosedur-prosedur invasif seperti infus jangka panjang, pemasangan sejumlah kateter, dan bernafas melalui selang yang dihubungkan dengan ventilator. Organisme yang normalnya hidup di permukaan kulit dapat masuk ke dalam tubuh kemudian ke dalam aliran darah melalui alat-alat seperti yang telah disebut di atas. Bayi berusia 3 bulan 3 tahun beresiko mengalami bakteremia tersamar, yang bila tidak segera di rawat, kadang-kadang dapat mengarah ke sepsis. Bakteremia tersamar artinya bahwa bakteri telah memasuki aliran darah, tapi tidak ada sumber infeksi yang jelas. Tanda paling umum terjadinya bakteremia tersamar adalah demam. Hampir 1/3 dari semua bayi rentang usia ini mengalami demam tanpa adanya alasan yang jelas dan

5

penelitian menunjukkan bahwa 4% dari mereka akhirnya akan mengalami infeksi bakterial dalam darah. S treptokokus pneumoniae (pneumokokus) menyebabkan sekitar 85% dari semua kasus bakteremia tersamar pada bayi berusia 3 bulan 3 tahun.(2)

VI.

PATOFISIOLOGImerupakan patogen akibat dan interaksi pejamu. yang Tinjauan kompleks tentang antara sepsis

Sepsis

mikroo