UU no. 045 tahun 2002 kemendiknas

Click here to load reader

  • date post

    27-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.808
  • download

    20

Embed Size (px)

Transcript of UU no. 045 tahun 2002 kemendiknas

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji syukur hanya milik Allah SWT semata yang mana telah melimpahkan rahmat, inayah serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat melaksanakan amanat dari pesantren dengan menyelesaikan paper halaqoh yang berjudul Bentangkan Elemen Kompetensi SK Mendiknas No. 045/U/2002 ini tanpa suatu aral, rintangan dan halangan apapun. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada sang revolusioner dunia, Nabi agung Muhammad SAW yang telah membimbing manusia dari zaman kejahiliahan menuju zaman kecemerlangan seperti sekarang ini. Karena tanpa risalah dari beliau mustahil Islam dapat berkembang seperti sekarang ini. Dan berkat dari jihad beliau pula kita selaku umat Islam dapat mencicipi nikmatnya Al Dini al Haq yaitu agama Islam. Ucapan terima kasih tak lupa kami sampaikan kepada Abah kami tercinta Prof. DR. Kyai H. Ahmad Mudlor, SH selaku pengasuh Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang yang tak jenuh-jenuhnya mendidik, membimbing dan menasehati serta menemani kami dalam menapaki dunia ilmu pengetahuan, baik pengetahuan umum maupun pengetahuan agama di Pesantren ini. Semoga beliau senantiasa dalam ridla dan inayah-Nya. Amiin. Dan tak lupa juga terimakasih kepada teman-teman semua, teman-teman seperjuangan, satu atap, satu tujuan di bawah naungan Pesantren Luhur Malang yang telah menemani serta membantu dalam penyusunan paper ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Demikianlah sedikit kalimat pengantar dari kami. Harapan terbesar dari kami adalah mudah-mudahan budaya halaqah seperti ini membudidaya khususnya di kalangan umat Islam dan dengan adanya forum halaqah seperti ini mudah-mudahan dapat senantiasa menambah khazanah ilmu pengetahuan kami dan tentunya ilmu yang bermanfaat dan berbarakah.

1

BAB I PENDAHULUAN

SK Mendiknas No. 045/U/2002 ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional pada tanggal 2 April 2002 yang pada waktu itu dijabat oleh Ahmad Malik Fajar. SK ini merupakan tindak lanjut dari Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa. Sedangkan SK Mendiknas No. 045/U/2002 sendiri berisi tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi. Pengertian kurikulum pendidikan tinggi menurut SK Mendiknas No 232/U/2000 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di perguruan tinggi. Kurikulum di pandang sebagai 2 bagian yaitu sebagai perencanaan yang terdiri atas sederetan mata kuliah (silabus) dan program kegiatan pembelajaran (GBPP-SAP). Kurikulum juga harus dipandang sebagai kegiatan nyata yaitu proses pembelajaran, proses evaluasi dan penciptaan suasana pembelajaran. Kurikulum biasanya berubah di perguruan tinggi bukan karena tradisi 5 tahunan, melainkan karena adanya perubahan internal perguruan tinggi (visi, perubahan aturan lembaga, perubahan IPTEKS) dan perubahan eksternal (perkembangan kebutuhan masyarakat pemangku kepentingan dan kecenderungan keadaan masa depan). Kurikulum di perguruan tinggi saat ini telah berubah. Dulu ada Kurikulum Nasional sesuai dengan SK Mendikbud No. 056/U/1994 yang berbasis pada isi (content) dan luarannya dinilai oleh perguruan tinggi sebagai kemampuan minimal penguasaan pengetahuan, ketrampilan dan sikap sesuai sasaran kurikulum program studinya. Kemudian muncullah SK Mendiknas No. 323/U/2000 tentang kurikulum inti dan institutional yang berbasis pada kompetensi. Luaran perguruan tinggi dinilai dari kompetensi seseorang untuk dapat melakukan tindakan cerdas, penuh tanggung jawab sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan

2

tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Artinya penilaian bukan lagi dilakukan oleh perguruan tinggi semata, melainkan oleh pemangku kepentingan. Dengan demikian orientasi hasil bukan terletak pada output (keluaran) saja melainkan bergeser ke outcome (akibat). Bukan saja nilai mahasiswa yang bagus (IPK diatas 2.75) melainkan apakah mereka akan dapat berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh dan mengimplementasikannya dengan sikap dan berperilaku dalam berkarya. Kurikulum berbasis kompetensi merupakan kurikulum yang berorientasi pada kebudayaan yang menghasilkan lulusan perguruan tinggi lebih humanis. Berkaitan dengan pendidikan yang bersifat humanis, maka diperlukan muatan nilai kebudayaan di dalam pendidikan tinggi, mencakup: 1. Fenomena anthrophos yang tercakup dalam pengembangan manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, berkepribadian mantap, dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Fenomena tekne yang tercakup dalam penguasaan ilmu dan ketrampilan untuk mencapai derajat keahlian berkarya. Fenomena oikos yang tercakup dalam kemampuan untuk memahami kaidah kehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya. Fenomena etnos, yaitu tercakup pembentukan sikap dan perilaku yang diperlukan seseorang dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keahlian yang dikuasai.

2. 3. 4.

Kemudian kompetensi seperti apa yang dimaksudkan dalam sistem KBK tersebut dan apa saja elemen-elemen yang mendasarinya? Hal inilah yang telah dijawab oleh mendiknas dalam SK Menteri Pendidikan Nasional No. 045/U/2002.

3

BAB II PEMBAHASAN

A.

Pengertian Kompetensi Menurut Ansharullah dalam Kajian P2RP-LP3-UB (2005), makna kompetensi

tersirat sebagai integrasi kegiatan psikomotorik, kemampuan kognitif dan afektif agar diakui oleh stakeholder (bukan perguruan tinggi) pada standar profesi (professional) tertentu. Association K.U. Leuven mendefinisikan bahwa pengertian kompetensi adalah peingintegrasian dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan untuk melaksanakan satu cara efektif. Kemudian SK Mendiknas No. 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi mengemukakan kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Dari definisi-definisi tersebut, nampaknya kompetensi dapat digambarkan sebagai kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas, peran, kemampuan

mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan. B. Macam-macam Kompetensi dalam SK Mendiknas No. 045/U/2002 Menurut SK Mendiknas No. 045/U/2002 pasal 2 ayat 1 dijelaskan bahwa kompetensi hasil didik suatu program studi terdiri atas: kompetensi utama,

4

kompetensi pendukung dan kompetensi lain yang bersifat khusus dan gayut dengan kompetensi yang biasanya disebut dengan kompetensi pelengkap. a. Kompetensi Utama Yang dimaksud dengan kompetensi utama di sini adalah kompetensi yang harus dan bersifat wajib dimiliki oleh seorang pelajar/ mahasiswa yang sesuai dengan bidang yang diambilnya. Misalnya apabila seorang pelajar/ mahasiswa masuk pada bidang Bahasa Inggris maka ia harus mempunyai kompetensi yang cukup dalam bidang bahasa Inggris, dia harus benar-benar menguasai secara utuh bidang yang ditekuninya tanpa kecuali, yakni bahasa Inggris, mulai dari Linguistik, Sastra, Gramar maupun yang lainnya yang erat kaitannya dengan bahasa Inggris. Jika dia masuk pada bidang Pendidikan maka dia harus benarbenar ahli dalam bidang hal mendidik. Dia harus menguasai seluk-beluk pendidikan secara utuh, mulai dari bagaimana cara mendidik siswa yang baik sampai bagaimana menghasilkan anak didik yang baik. Seorang sarjana bahasa Inggris akan disebut sebagai sarjana bahasa Inggris apabila ia benar-benar menguasai dan berkompeten dalam bidang bahasa Inggris. Begitu juga sarjana bahasa Arab dan sarjana-sarjana lainnya harus benar-benar kompeten dalam bidangnya masing-masing. Maka, ada pendapat yang mengatakan; seorang sarjana bahasa Inggris yang tidak kompeten dalam bahasa Inggris namun kompeten dalam bahasa Arab maupun bahasa lainnya, maka ia tidak dapat disebut sebagai sarjana bahasa Inggris, akan tetapi mungkin dapat disebut sebagai sarjana bahasa Arab walaupun realitanya adalah sarjana dalam bidang bahasa Inggris. b. Kompetensi Pendukung Kompetensi pendukung merupakan kompetensi yang sifatnya hanyalah mendukung pada suatu bidang yang ditekuni oleh seorang mahasiswa.

5

Kompetensi ini sangat penting dimiliki oleh seorang pelajar/ mahasiswa. Walaupun fungsinya hanya sebagai pendukung namun kompetensi ini harus dimiliki oleh seorang mahasiswa. Luaran Perguruan Tinggi belum dapat dikatakan sebagai sarjana yang profesional apabila ia tidak memiliki kompetensi ini, karena kompetensi ini masih erat kaitannya dengan kompetensi utama yang mana wajib dimiliki dan dikuasai oleh seorang ahli. Contoh dari kompetensi pendukung ini adalah, misalnya seorang Mahasiswa jurusan Hukum harus menguasai bahasa Inggris, Arab dan Belanda serta bahasa-bahasa lainnya selain harus benar-benar kompeten dalam bidang Hukum karena ada sebagian hukum yang berlaku di Indonesia berasal dari pemilik bahasa-bahasa tersebut, dengan kata lain hukum yang berlaku di Indonesia bukan murni produk bangsa Indonesia, akan tetapi ada sebagian yang mengadopsi dari negara lain. Hal ini adalah untuk mengantisipasi adanya kesalahan dalam penafsiran hukum yang tidak berbahasa Indonesia. Sehingga untuk mencapai pemahaman yang utuh seyogyanya seorang ahli hukum harus menguasai bahasa asal dari hukum yang diadopsi tersebut. c. Kompetensi Khusus atau Kompetensi Pelengkap Pada awalnya kompetensi ini tidak diwajibkan untuk dimiliki oleh seorang sarjana. Seorang sarjana hanya dituntut dan diwajibkan untuk memiliki kompetensi utama saja. Kemudian seiring dengan perkembangan zaman