Supernova Episode Petir - Dee

download Supernova Episode Petir - Dee

of 25

  • date post

    12-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    22
  • download

    6

Embed Size (px)

description

Novel Indonesia

Transcript of Supernova Episode Petir - Dee

  • KEP1NG 38 | Petir 101

    Pertama, kamu telah menemui saya. Kedua, sudah kamu temukan

    dunia kamu. Selebihnyaia tertawa santaijalani saja. Ada atau nggak

    ada saya, kita selalu bersama.

    Muncul lonjakan nyelekit dalam dadaku. Bu, kita tetap bisa ketemu,

    kan? tanyaku cemas. Barangkali Ibu Sati belum jelas tentang semua ini.

    Belum pernah aku diurus sebegini apik oleh seseorang. Seakan ekstrak

    semua hal yang kusayang ada dalam diri manusia satu itu. Hanya di

    depannya aku bisa selepas ini, mengoceh panjang lebar, keluar dari

    kepalaku yang pengap. Jangan sampai kami tidak bertemu lagi.

    Pasti, Elektra, jawabnya tenang. Atau berusaha menenangkan. Aku

    tidak tahu. Akhirnya aku putuskan untuk nekat, mengungkapkan ide

    yang sudah terendap lama dalam kepala: Bu, gimana kalo saya kerja di

    sini? Jaga toko, ujarku bersemangat. Ibu nggak usah gaji saya gede-gede.

    Saya memang butuh kerjaan, tapi saya juga kepingin bisa sering ketemu

    Ibu.

    Ibu Sati tertawa lagi. Kamu kayak nggak tahu aja toko ini gimana,

    nanti kalo kamu yang jaga, saya ngapain, dong? Kita kan nggak kedatangan

    ratusan orang tiap hari. Toko ini terlalu kecil untuk kamu, Elektra. Dunia

    kamu kan sudah ketemu. Tinggal kamunya yang lebih berani ambil risiko.

    Sesudah itu tekuni benar-benar. Cintai. Tapi jangan lupa jaga kesehat-

    an . . .

    Aku mencureng. Dunia yang mana, Bu?

    Ibu Sati berdiri, mengambil piringku. Sambil berjalan ke bak cuci ia

    berkata selewat: Daripada kamu bolak-balik ke warnet, pulang subuh-

    subuh, rumah nggak keurus, badan nggak keurus, mending kamu beli

    komputer. Internetnya dari rumah aja.

    Beli komputer, katanya! Beli telur sekilo pun sudah terlalu ambisius!

    Aku terkikik. Nggak punya duit, Bu! seruku.

    Masa? cetusnya dari dapur.

    Mendadak aku terdiam. Aku pribadi memang tidak punya duit, tapi

    .. . seseorang telah mewariskan duitnya ke tanganku, yang belum pernah

    eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. (nurulkariem@yahoo.com)

  • 102 SUPERNOVA 2.2 | PETIR

    kusen tuh dari hari beliau wafat hingga kini. Dedi. H m m . Kepalaku

    manggut-manggut. Kedengarannya tidak masuk akal cenderung goblok,

    memang . Sebuah k o m p u t e r di r u m a h tetap saja tidak menghasilkan

    uang, malah semakin banyak menghabiskannya. Namun , entahlah ,

    rasanya aku te lah diberi p e t u n j u k oleh . . . kepa laku m e n o l e h ,

    mendapatkan punggung Ibu Sati yang tengah mencuci piring, dan tiba-

    tiba aku merasa semuanya masuk akal.

    Ibu Sati memper lakukan tubuh dan rumahnya seperti Bumi yang

    senantiasa membersihkan diri. Setiap kotoran yang menempel di rumah

    ditepisnya jauh-jauh. Ia manjakan indra-indranya dengan aroma wangi,

    lilin temaram, sunyi alam. Panas tubuhnya senantiasa ia dinginkan seperti

    hujan yang membasuh wajah Bumi. Dan semua itu dilakukannya dengan

    penuh bakti. Layaknya sebuah panggilan, bukan beban.

    Pertanyaanku terjawab. Ia tidak mungkin bosan.

    . . . D r a m a Firdaus

    Beberapa hari kemudian, aku sudah muncul di Trix. Segar bugar.

    Etra! Ke m a n a aja? Kewoy berdiri menyambu tku dengan gayanya

    yang khas. Tubuh kurus keringnya yang ikut berguncang setiap kali ia

    bicara, rambutnya yang lepek berminyak tanda belum kena air. Siap chat-

    ting, yeuh? Ia be r t anya berseri-seri . Letak kacamata S u p e r m a n - n y a

    dibetulkan.

    Woy, bisikku, pingin cari komputer, nih. Yang murah aja, tapi lumayan

    buat nginternet.

    Oh, sip! Ia mengacungkan jempol . Mau saya temenin? Lagi ada

    pameran di Landmark. Teman saya buka stand di sana. Bisa murah.

    Berapaan ya, kira-kira? tanyaku was-was. Harga merupakan masalah

    paling sensitif.

  • KEP1NG 38 | Petir 103

    Etra punya budget berapa?

    Aku berpikir-pikir. Hmm . . . tujuh ratus ribu?

    Tawa Kewoy meledak keras. Hoi! Beli komputer ini, mah! Bukan beli

    Nintendo!

    Jadi, berapa, dong?

    Etra udah pernah beli komputer belum? la menatapku geli.

    Aku menggeleng.

    Nih, duduk dulu aja. Baca-baca ini. Kewoy membawakanku setumpuk

    majalah k o m p u t e r . Kebanyakan yang di sini mah b e rmerk semua,

    lanjutnya. Tapi kalo ada yang Etra mau, kita nanti cari yang spec-nya

    sama.

    Sepanjang sore itu, aku duduk di sebelahnya, membuka lembar demi

    lembar. Sebentar-sebentar mengajukan pertanyaan-pertanyaan bodoh.

    Bisa kulihat ekspresi Kewoy yang semakin lama semakin frustrasi, dan

    barangkal i menyesal telah m e n a w a r k a n diri m e n e m a n i k u belanja

    komputer .

    Setelah berdebat panjang lebar, baru pada malam hari lah kami

    memutuskan apa-apa yang akan kami beli. Semuanya tercatat rapi di

    kertas. Kewoy mengestimasikan tidak lebih dari 2,2 juta.

    Malam sebelum pergi ke pameran, aku tidak bisa tidur. Gelisah. Resah.

    Berdebar-debar. Aku . . . akan punya komputer! Seumur hidup rasanya

    be lum p e r n a h aku benar -benar memil ik i sesuatu . Sampai-sampai

    kute lepon Ibu Sati. Minta doa restu. Besok mur idnya akan menjadi

    Manusia Ultramilenium.

    Rasanya persis seperti apa yang kubayangkan. Kumasuki pintu depan

    Landmark bersama Kewoy dengan l a n g k a h - l a n g k a h tegap berisi.

    Pameran komputertaman Firdaus abad 21.

    Di antara sekian banyak pemandangan yang disodorkan, langkahku

    terhenti di sebuah stand. Bahkan kami belum sempat mengunjungi stand

    temannya Kewoy. Namun kaki ini rasanya tak mau bergerak. Di stand itu,

    kulihat semua impian yang kemarin hanya ada dalam lembar majalah.

  • 104 SUPERNOVA 2.2 | PETIR

    Kewoy menatapku tak percaya: Tra, kamu nggak akan belanja di sini,

    kan? Ini mah atuh, kelas dunia! Udah, kita ke yang teman saya aja . . .

    Namun seperti orang kena sirep, aku terus melihat-lihat dengan wajah

    terkesima. Sampai akhirnya terperangkaplah kami oleh bujuk rayu maut

    para penjaga stand. Kewoy geleng-geleng kepala, kalau begini sudah susah!

    Kami berdua didudukkan manis. dihujani brosur, dibekali aneka petuah

    tentang kecanggihan komputer mereka. Dengan berbagai cara Kewoy

    mengelak, sekaligus mengingatkanku halus un tuk kembali berpedoman

    pada catatan yang sudah kami sepakati. Namun, biarkanlah diriku hanyut

    dalam drama Firdaus in i . . .

    Akulah Hawa yang disodori apel pengetahuan: PC ber-harddisk 40 giga,

    motherboard double processor, RAM DDR 1 giga, Pentium 4, monitor 17 inci

    LCD Flat, graphic card G-Force 3, mouse dan keyboard infrared, DVD Rom, CD

    writer 16X, scanner, sepasang speaker active 300 watt, tak ketinggalan modem

    56 K duplex.

    Mereka bilang semua itu bagus. Semua itu baik. Dan aku tergoda. Tak

    seratus persen paham, tapi benar-benar tergoda. Adam, yang diperankan

    Kewoy, sudah m e l a k u k a n ge rakan -ge rakan pan ik ke t ika aku

    memberanikan diri menanyakan harga.

    Jantungku pun berdebar saat disodorkan secarik kertas putih tempat

    Koh San-san, p e m e r a n t o k o h Ular da lam d r a m a Firdaus sore i tu ,

    berhitung penuh semangat dengan kalkulator berbungkus plastiknya.

    17 yuta. Sudah diskon. Boleh dicek. la tersenyum manis.

    Di stand hiruk-pikuk itu kontan ada suara tercekik halusyang

    mungkin cuma aku sendiri yang dengar. 17 juta? Seumur hidup belum

    pernah aku mengeluarkan uang sebanyak itu. Hanya Tuhan yang tahu

    betapa marahnya arwah Dedi, dan juga Wattiyang gawatnya masih

    belum jadi arwah-kalau mereka sampai tahu aku akan membelanjakan

    uang sebanyak ini.

    Moal aya nu ngelehkeun29. Ini mah udah yang paling top untuk tahun 2001,

    29 Tidak akan ada yang mengalahkan

  • KEP1NG 38 | Petir 105

    tandas Koh San-San.

    Aku menatap senyum manis Ular Firdaus itu sekali lagi. Lalu aku

    m e n a t a p Kewoy, yang c u m a m e m o n y o n g k a n m u l u t sambil

    mengacungkan jempolnya di bawah meja. Harga bagus, desisnya. Tapi

    kemudian sang Adam memiringkan telunjuknya di dahi. Maneh gelo30,

    desisnya lagi.

    Aku membuang pandanganku ke arah orang banyak, berharap akan

    ada satu sinyal dari alam baka yang membantuku untuk memutuskan

    keputusan besar ini. Dan pada saat itulah, aku tahu . . . Tuhan ada.

    Seorang karyawan Koh San-san tahu-tahu menjulurkan tangannya,

    di depan m u k a k u (tidak sopan, memang , tapi bukan itu intinya),

    menggenggam test-pen!

    leu, Koh. Si karyawan berujar dengan muka acuh tak acuh.

    Eeh . . . lainna test-pen. Obeng! Teu baleg pisan31. Koh San-san menggerutu.

    Aku tercenung. Test-pen. Ini dia! Kamsiah, ya Allah. Memang apel itu

    kan sudah ditakdirkan untuk dimakan Hawa! Dasar bego.

    Tanpa ragu lagi, sore itu aku membayarkan uang muka. Apel itu

    kukunyah sudah, dan rupanya Koh San-san tidak ingin aku tersedak.

    Kami berdua langsung disuguhi air mineral gelas. Masih belum cukup,

    Koh San-san meningkatkan servis: Baso tahu?

    Aku menggeleng. Nggak usah, Koh . . .

    Namun Kewoy cepat menyambar. Mukanya semrawut. Boleh, boleh,

    Koh! Telur 2, siomay 3, baso tahu 3, paria 1, kol 1 . . .

    Ternyata bukan kaum hawa doang yang jadi rakus kalau sedang stres

    Adam bisa lebih parah.

    30 Kamu gila 11 Nggak becus banget

  • 106 SUPERNOVA 2.2 | PETIR

    . . . A k u l a h k o l da lam b a k u l

    Tidak bisa kujabarkan betapa asyiknya pergi bergaul tanpa harus pergi

    ke m a n a - m a n a . Usai sudah ha r i -ha r iku naik angko t di pagi bu ta

    berdesakan dengan bakul kol. Aku bagaikan po