Status Imun Imunitas - repository.ipb.ac.id · berpengaruh terhadap respon imun (Muis 2001). Sistem...

of 23/23
53 Status Imun Imunitas Pengertian awal imunitas adalah perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik lagi adalah perlindungan terhadap penyakit infeksi. Dalam keadaan sehat respon imun berfungsi secara efisien sehingga seseorang dapat terhindar dari dampak yang tidak menguntungkan akibat masuknya subtansi asing. Apabila ada kelainan dalam sistem pengaturan imunitas, seseorang mungkin tidak mampu melindungi tubuh dengan respon imun yang efisien. Akan tetapi sebaliknya mungkin juga pada keadaan tertentu respon imun berlangsung secara berlebihan sehingga menimbulkan berbagai penyakit (Kresno 2001). Menurut Surono (2004) kondisi imunitas menentukan kualitas hidup. Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis unsur pathogen yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Infeksi yang terjadi pada anak normal umumnya singkat dan jarang meninggalkan kerusakan permanen karena tubuh memiliki sistem imun yang memberikan respons dan melindungi tubuh terhadap unsur-unsur pathogen. Bellanti & Joseph (1993) menyatakan defisiensi zat gizi termasuk zat gizi mikro dapat menyebabkan sangat berkurangnya reaktifitas seluler pada pertumbuhan anak. Zat gizi mikro mempunyai peranan yang penting dalam proses imunologi sehingga adanya defisiensi zat gizi mikro akan berpengaruh terhadap respon imun (Muis 2001). Sistem imun Sistem imun dapat dibagi menjadi menjadi dua yaitu non spesifik dan sistem imun spesifik. Mekanisme imunitas spesifik timbul atau bekerja lebih lambat dibanding imunitas non spesifik. Pembagian sistem imun dalam sistem imun spesifik dan non spesifik hanya dimaksudkan untuk mempermudah pengertian saja. Sebenarnya antara kedua sistem imun teresbut terjadi kerja sama yang erat, yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain (Bratawijaya dan Rengganis 2009). Berikut ini adalah gambaran umum sitem imun menurut Bratawijaya dan Rengganis 2009. SISTEM IMUN
  • date post

    13-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    237
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of Status Imun Imunitas - repository.ipb.ac.id · berpengaruh terhadap respon imun (Muis 2001). Sistem...

53

Status Imun

Imunitas Pengertian awal imunitas adalah perlindungan terhadap penyakit, dan

lebih spesifik lagi adalah perlindungan terhadap penyakit infeksi. Dalam keadaan

sehat respon imun berfungsi secara efisien sehingga seseorang dapat terhindar

dari dampak yang tidak menguntungkan akibat masuknya subtansi asing.

Apabila ada kelainan dalam sistem pengaturan imunitas, seseorang mungkin

tidak mampu melindungi tubuh dengan respon imun yang efisien. Akan tetapi

sebaliknya mungkin juga pada keadaan tertentu respon imun berlangsung secara

berlebihan sehingga menimbulkan berbagai penyakit (Kresno 2001).

Menurut Surono (2004) kondisi imunitas menentukan kualitas hidup.

Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis unsur pathogen yang

dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Infeksi yang terjadi pada anak normal

umumnya singkat dan jarang meninggalkan kerusakan permanen karena tubuh

memiliki sistem imun yang memberikan respons dan melindungi tubuh terhadap

unsur-unsur pathogen. Bellanti & Joseph (1993) menyatakan defisiensi zat gizi

termasuk zat gizi mikro dapat menyebabkan sangat berkurangnya reaktifitas

seluler pada pertumbuhan anak. Zat gizi mikro mempunyai peranan yang penting

dalam proses imunologi sehingga adanya defisiensi zat gizi mikro akan

berpengaruh terhadap respon imun (Muis 2001).

Sistem imun Sistem imun dapat dibagi menjadi menjadi dua yaitu non spesifik dan

sistem imun spesifik. Mekanisme imunitas spesifik timbul atau bekerja lebih

lambat dibanding imunitas non spesifik. Pembagian sistem imun dalam sistem

imun spesifik dan non spesifik hanya dimaksudkan untuk mempermudah

pengertian saja. Sebenarnya antara kedua sistem imun teresbut terjadi kerja

sama yang erat, yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain (Bratawijaya dan

Rengganis 2009). Berikut ini adalah gambaran umum sitem imun menurut

Bratawijaya dan Rengganis 2009.

SISTEM IMUN

54

Gambar 1 Gambaran umum sistem imun Sumber: Baratawijaya dan Rengganis (2009).

Menurut Tortora (2004) sistem imun non spesifik adalah sistem

pertahanan tubuh, yang merupakan komponen normal tubuh yang selalu

ditemukan pada induvidu sehat dan siap mencegah mikroba yang akan masuk

kedalam tubuh. Untuk menyingkirkan mikroba tersebut dengan cepat, imunitas

non spesifik melibatkan kulit dan selaput lendir, fagositosis, inflamasi, demam,

serta produksi komponen-komponen antimikrobial (selain antibodi). Sistem imun

ini disebut non spesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroba tertentu, telah

ada dan siap berfungsi sejak lahir. Sistem ini merupakan pertahanan terdepan

dalam menghadapi serangan berbagai mikroba dan dapat memberikan respon

secara langsung (Bratawijaya 2006).

Imunitas non spesifik jumlahnya dapat ditingkatkan oleh infeksi , misalnya

jumlah sel darah putih meningkat selama fase akut pada banyak penyakit.

Disebut non spesifik karena tidak ditujukan pada mikroba tertentu, telah ada dan

siap berfungsi sejak lahir. Mekanismenya tidak menunjukkan spesifitas terhadap

bahan asing dan mampu melindungi tubuh terhadap banyak patogen potensial.

Sistem tersebut merupakan pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan

berbagai mikroba dan dapat memberikan respon langsung (Samik dan Julia

2002).

Berbeda dengan sistem imun non spesifik, sistem imun spesifik

mempunyai kemampuan untuk mengenal benda asing yang dianggap asing bagi

dirinya. Benda asing yang pertama kali muncul dalam tubuh segera dikenal oleh

NON SPESIFIK

SELULAR

SPESIFIK

FISIK LARUT HUMORAL SELULAR

Kulit Selaput lendir Silia Batuk

Biokimia - Lisozim - Sekresisebaseus - Asam lambung - Laktoferin - Asam neuraminik

- Fagosit * Mononuklear * Polimononuklear - Sel NK - Sel mast - Basofil - Eosinofil - SD

Sel B - IgG - IgA - IgM - IgE - IgD Sitokinin

Sel T - Th1 - Th2 - Ts/Tr/Th3 - ThTd - CTL/Tc - Th17

Humoral - Komplemen - APP - Mediator asal lipid - Sitokinin

55

sitem imun spesifik sehingga terjadi sensitasi sel-sel sistem imum tersebut.

Benda asing yang sama bila terpajang ulang akan dikenal lebih cepat, kemudian

dihancurkan. Oleh karena sistem tersebut hanya dapat menyingkirkan benda

asing yang sudah dikenal sebelumnya, maka sistem ini disebut spesifik

(Bratawijaya 2006). Peneliti lainnya menjelaskan bahwa disebut imun spesifik

karena jika antigen 1 menyerang tubuh maka antibodi 1 diproduksi untuk

melawan. Jika antigen 2 menyerang maka antibodi 2 diproduksi untuk melawan,

begitu seterusnya (Tortora 2004).

Sistem imun spesifik dapat bekerja tanpa bantuan sistem imun non

spesifik, tetapi pada umumnya terjadi kerjasama yang baik antara antibodi,

komplemen dan fagosit dengan sel-T makrofag. Antibodi akan muncul apabila

ada antigen yang masuk kedalam tubuh. Sistem imun spesifik hanya dapat

menghancurkan antigen yang telah dikenalnya (Kresno 2001). Secara garis

besar sistem imun terdiri dari dua macam mekanisme, yakni pertahanan selular

dan humoral, dalam hal ini mukosa usus merupakan sisi terpenting yang

berhubungan dengan mikroba (Surono 2004).

Sistem imunitas selular memegang peranan penting dalam pertahanan

terhadap infeksi yang disebabkan oleh kuman-kuman intrasel contohnya virus,

riketsia, mikrobakteria, dan beberapa protozoa (Kresno 2001). Imunitas humoral

terdiri kelompok sel-B yang berperan dalam sintesis antibodi dan merupakan

20% dari limfosit tubuh. Bila sel B dirangsang oleh antigen, sel akan berpoliferasi

dan berkembang menjadi sel plasma yang dapat membentuk antibody. Antibodi

ini berbentuk humoral (dalam cairan tubuh seperti darah, getah bening). Fungsi

utama antibodi ini adalah pertahanan terhadap infeksi ekstraseluler, virus dan

bakteri serta antitoksik (Baratawijaya dan Garna 2002). Antibodi yang lepas

dapat ditemukan dalam serum. Terjadinya respon imun humoral oleh karena

infeksi dengan toksoid atau virus/bakteri yang dimatikan/dilemahkan (kresno

2001).

Penilaian Status Imun Intregritas respon imun sering dinilai dengan cara mengukur kadar

berbagai jenis kelas immunoglobulin didalam serum seseorang atau dengan

56

mengukur titer antibodi setelah diberikan stimulus antigenis yang cukup (Suyitno

1985). Analisis untuk mengukur respon imun humoral (antibodi) dapat dibagi

menjadi tiga kelas yaitu primary binding test, secondary binding test, dan tertiary

binding test. Metode yang paling sensitif (jumlah antibodi yang dapat dideteksi)

adalah primary binding test yang merupakan suatu metode pengukuran langsung

yang dilakukan pada interaksi antibodi-antigen. Salah satu metode yang

termasuk dalam primary binding test adalah metode ELISA (Enzyme-Linked

Immunosorbent Assay) (Kindt et al 2007).

IgG adalah antibodi yang paling banyak ditemukan dan mencakup sekitar

80% dari semua imunoglobulin dalam darah. Imunoglobulin dapat ditemukan

dalam darah, limpa, dan usus. Kadar IgG meningkat secara lambat selama

respons primer terhadap suatu antigen, tetapi meningkat secara cepat dengan

kekuatan yang lebih besar pada paparan kedua (Corwin 2001). Terdapat empat

subkelas pada IgG manusia yang dibedakan oleh jumlah dan urutan rantai yang

sesuai dengan penurunan rata-rata kosentrasi serum. Empat subkelas tersebut

antara lain : IgG1, IgG2, IgG3, dan IgG4 (Goldsby et al 2007). Menurut Roitt (1991)

Imunogllobulin G merupakan komponen utama immunoglobulin dalam serum.

Respon imun diukur dengan menganalisis titer IgG total terhadap sampel darah

anak. Kriteria IgG menurut Kurniati (2004) dikelompokkan menjadi tiga kelompok.

Klasifikasi status imun disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Klasifikasi status imun Kadar titer IgG IU/ml Kategori

0,0-1,0 IU/ml Rendah >1,0-1,5 Cukup

> 1.5 IU/ml Tinggi Sumber: Kurniati (2004)

Peran Vitamin dalam Pembentukan Imunitas Vitamin adalah komponen organik yang diperlukan dalam jumlah kecil,

namun sangat penting untuk reaksi-reaksi metabolik didalam sel, serta

diperlukan untuk pertumbuhan normal dan pemeliharaan kesehatan. Mineral

terutama mineral mikro terdapat (Almatsier 2006). Peran vitamin lam jumlah

sangat kecil dalam tubuh, namun mempunyai peran sangat penting untuk

kehidupan, kesehatan dan reproduksi (Piliang 2006). Menurut IOM (2000) Peran

lain dari vitamin dan mineral adalah sebagai antioksidan yang sangat

mempengaruhi kualitas hidup manusia.

57

Sistem kekebalan tubuh (imunitas) memerlukan zat gizi antioksidan

antara lain untuk memproduksi dan menjaga keseimbangan sel imun

(hematopoises), vitamin dan mineral sebagai antioksidan untuk melawan

mikroorganisme penyebab penyakit (imunitas bawaan/innate dan

dapatan/adaptive). Tubuh memerlukan vitamin dan mineral dalam jumlah yang

cukup agar sistem imun dapat berfungsi secara optimal. Vitamin dan mineral

tertentu seperti vitamin A, vitamin E, vitamin C, vitamin B6, vitamin B12, zinc,

selenium dan zat besi mempunyai peranan dalam respon imun. Zat besi tersebut

membantu pertahanan tubuh pada tiga level yaitu pertahanan fisik (kulit/mukosa),

seluler dan produksi antibodi. Oleh karena itu kombinasi vitamin dan mineral

dapat membantu sistem perlindungan tubuh bekerja dengan optimal (Wintergrest

et al 2007).

Hasil penelitian Karyadi et al (2002) menunjukkan bahwa anak-anak

kekurangan vitamin A berisiko mengidap penyakit pernafasan dan meningkatkan

keparahan penyakit diare. Hal ini karena terganggunya sel ephitel pada sel

saluran cerna dan pernafasan. Demikian pula hasil penelitian yang dilakukan

Semba et al (1993) dan Semba (1994) menunjukkan bahwa kekurangan vitamin

A berdampak pada kemampuan membangkitkan respon antibodi terhadap

antigen T. Vitamin A juga terbukti dapat meningkatkan respon antibodi terhadap

antigen spesifik, apositosis dan menjaga intregitas lapisan mukosa (Rahman et al

1999). Peran vitamin A pada sel-sel mukosa diantaranya mukosa saluran cerna

juga telah dibuktikan oleh Kotake-Nara et al (2000).

Status Vitamin A

Vitamin A Vitamin A adalah sekelompok senyawa organik komplek yang dibutuhkan

oleh tubuh dalam jumlah yang relatif kecil tetapi sangat penting untuk

pertumbuhan dan menjaga kesehatan. Pada umumnya vitamin A tidak dapat

disintesis dari dalam tubuh. Oleh karena itu, untuk mendapatkan jumlah vitamin

yang cukup harus diperoleh dari asupan makanan (Linder 1992). Vitamin A

adalah vitamin larut lemak yang pertama kali ditemukan. Secara luas, vitamin A

merupakan nama generik yang menyatakan semua retinoid dan

prekusor/provitamin A/Karotenoid yang mempunyai aktivitas biologi sebagai

retinol (Almatsier 2006).

58

Istilah Vitamin A biasa digunakan mencakup berbagai komponen kimia

yang memiliki aktivitas biologis vitamin, yakni karotenoid provitamin A, retinol dan

metabolit aktivnya. Secara fisiologis bentuk aktiv vitamin A yang utama adalah

retinaldehida a dan asam retinoat, keduanya merupakan turunan dari retinol

(Bender 2003).

Peran Vitamin A Menurut Hartono (2000) Vitamin A diperlukan untuk pertumbuhan dan

perbaikan jaringan tubuh. Selain itu sangat penting untuk kesehatan mata,

melawan bakteri dan infeksi. Apabila kekurangan vitamin A akan mengakibatkan

buta senja, peningkatan kerentanan terhadap infeksi, sering marah dan lesu.

Vitamin A berfungsi membantu perkembangan tulang dan gigi, menyehatkan

struktur sel pada kulit dan membran mukosa, serta membantu penglihatan.

Kemampuan retinoid mempengaruhi perkembangan sel epitel dan kemampuan

meningkatkan aktivitas sistem kekebalan (Almatsier 2000).

Stipanuk (2000) menyebutkan Vitamin A dan metabolismenya dalam

spectrum yang luas mempunyai fungsi biologis antara lain adalah esensial untuk

penglihatan, reproduksi, fungsi imun serta berperan penting dalam diferensiasi

seluler, proliferasi dan pemberian isyarat (Signaling). Selain itu Vitamin A juga

berperan penting dalam proliferasi dan aktivasi limfosid. Vitamin A mempunyai

peran atau fungsi umum dan fungsi yang khas. Vitamin A mutlak dalam

memelihara sel-sel epitel dan memberikan rangsangan bagi pertumbuhan sel-sel

baru. Vitamin A juga memelihara ketahanan tubuh terhadap infeksi, juga

menyebabkan sel hidup lebih lama dan menghambat proses penuaan. Fungsi

Vitamin A yang paling banyak diketahui ialah pada fungsi penglihatan

(Moeljoharjo 1993).

Vitamin A dalam bahan pangan berbentuk beta karoten. Menurut Simon &

Macmillan (1995), beta karoten merupakan zat gizi mikro yang banyak ditemukan

pada buah dan sayur. Di dalam tubuh, beta karoten dikonversi menjadi Vitamin

A. Beta karoten memiliki keuntungan lain yaitu sebagai antioksidan. Antioksidan

adalah suatu subtansi yang dapat membantu melawan proses pembentukan

radikal bebas, molekul yang tidak stabil dan dapat merusak sel. Radikal bebas

yang terbentuk didalam tubuh saat metabolisme tubuh tidak normal diakibatkan

faktor lingkungan seperti sinar x, merokok, konsumsi alkohol, dan zat pencemar

59

lainnya. Aktivitas antioksidan dari beta karoten mengatur pencegahan kanker dan

sakit jantung serta dapat meningkatkan sistem imun.

Pangan Sumber Vitamin A Pangan yang menjadi sumber beta karoten adalah wortel, brokoli, bayam,

dan apricot (Simon & Macmillan 1995). Berkenaan dengan karotenoid, wortel dan

sayuran hijau daun, seperti bayam secara umum mengandung karotenoid dalam

jumlah yang besar. Meskipun tomat mengandung beberapa vitamin A dengan

karotenoid aktif, pigmen yang dikandung yakni lycopene, yang tidak memiliki

aktivasi gizi. Buah-buahan seperti pepaya dan jeruk mengandung karotenoid

yang dapat diperhitungkan. Sedangkan sereal seperti gandum secara umum

mengandung sangat sedikit vitamin A (Olson 1990).

Sumber vitamin A adalah bahan makanan yang berasal dari hewani,

terutama minyak ikan laut yang berasal dari hati ikan. Ikan laut dan mamalia

menghasilkan vitamin A1, sedangkan ikan air tawar mengandung terutama

vitamin A2. Sumber vitamin A yang lazim dikonsumsi ialah susu segar dan telur.

Secara tidak langsung vitamin A berasal dari pigmen tumbuhan berupa senyawa-

senyawa karotena, yang dalam saluran pencernaan diubah menjadi vitamin A

(Moeljoharjo 1993). Pangan hewani asal ternak adalah sumber gizi yang dapat

daiandalkan untuk mendukung perbaikan gizi masyarakat yang kaya akan

vitamin A. Termasuk kedalam pangan hewani adalah telur, daging, susu dan ikan

(Khomsan 2004).

Kecukupan Vitamin A Banyak sekali keadaan yang mempengaruhi keadaan status vitamin A

seseorang. Salah satu faktor yang terpenting ialah kecukupan asupan vitamin A

dan provitamin A. Asupan yang dianjurkan bergantung pada usia, jenis kelamin

serta keadaan fisiologis (Arisman 2002). Angka kecukupan vitamin A adalah

jumlah vitamin A yang harus dikonsumsi per hari untuk mempertahankan status

vitamin A pada level memuaskan atau cukup.

Kecukupan protein merupakan persyaratan bagi transportasi dan

penggunaan vitamin A secara optimal, kadar retinol serum akan menurun jika

terdapat kekurangan energi dan protein (KEP). Tanda-tanda defisiensi vitamin A

dapat pula terjadi sebagai fenomena sekunder KEP tanpa tergantung apakah

asupan vitamin A nya mencukupi atau tidak. Keadaan ini disebabkan oleh

gangguan sintesis RBP ( retinol binding protein; protein pengikat retinol) yang

60

membuat protein tidak tersedia untuk mengangkut retinol. Keadaan ini turut

menimbulkan gangguan respon imun yang berat terhadap infeksi sebagai akibat

defisiensi fungsional vitamin A maupun gangguan respon imun yang menyertai

gizi kurang tersebut (Hartono 2009).

Mengingat penting dan banyaknya peran vitamin A, maka kekurangan

asupan vitamin A dapat menyebabkan beberapa konsekuensi serius (Muhilal &

Sulaeman 2004). Seseorang dikatakan memiliki level vitamin A cukup apabila

dalam hatinya mengandung >20 g/g berat basah, dan tidak menunjukkan tanda

defisiensi walaupun tanpa asupan vitamin A selama 3 bulan. Ada berbagai

standard mengenai angka kecukupan vitamin A anak. Angka kecukupan vitamin

A anak yang digunakan untuk menghitung kecukupan vitamin A dalam penelitian

ini adalah menurut Muhilal dan Sulaeman (2004). Adapun kecukupan vitamin A

anak disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Angka kecukupan vitamin A untuk anak-anak (g RE/hari) Kelompok umur Angka

Kecukupan (1998)

IOM (2002)

FAO/WHO (2002)

FNRI (2002)

Angka Kecukupan

(2004) 1-3 tahun 350 300 400 400 400 4-6 tahun 400 400 450 450 450 7-9 tahun 400 400 500 400 500

Sumber: Muhilal dan Sulaeman (2004)

Penilaian Status Vitamin A Penentuan status vitamin A dilakukan untuk melihat kadar vitamin A

dalam tubuh seseorang. Tubuh menyimpan vitamin A di hati dalam bentuk retinil

ester. Pengukuran cadangan vitamin A dalam hati merupakan indeks terbaik

untuk mengetahui status vitamin A, namun pengukuran dengan cara biopsi tidak

mungkin dilakukan pada penelitian di lapangan. Karena tidak memungkinkan,

total serum vitamin A atau konsentrasi retinol serum lebih sering digunakan

sebagai gantinya (Gibson 2005).

Retinol serum diukur secara intra vena untuk mengetahui keadaan

defisiensi Vitamin A pada sampel. Seseorang dikatakan kekurangan vitamin A

jika kadar vitamin A dalam serumnya < 20 g/dl. Menurut Sommer dan West

(1996) status vitamin A seseorang juga dapat diklasifikasikan berdasarkan

kandungan vitamin A dalam serum darah Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3 Klasifikasi status vitamin A

61

Kadar Serum Status vitamin A g/dl mol/liter 20 0, Normal

10 20 0,35 0,69 Low < 10 < 0,35 Deficient

Sumber: Sommer dan West (1996).

Konsentrasi retinol serum dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, dan ras.

Selain itu, konsentrasi retinol serum juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang

mempengaruhi pengeluaran holo-RBP. Faktor lain yang berpengaruh adalah

asupan lemak yang rendah dalam makanan, misalnya asupan kurang dari 5-10

g/hari akan mengganggu absorpsi provitamin A (karoten) dan pada jangka

panjang menurunkan konsentrasi retinol. Kurang energi protein dapat

menurunkan apo-RBP, kekurangan zinc dapat menurunkan kadar retinol karena

peranannya dalam sintesa hepatik atau sekresi RBP (Gibson 2005). Retinol

serum dapat ditentukan dengan spektrofotometri atau menggunakan HPLC (High

Perfomance Liquid Chromatography). HPLC dapat membedakan retinol dari

retinil ester sedangkan metode lain hanya mengukur total serum vitamin A

Menurut Linder (1992) Devisiensi Vitamin A menyebabkan sekresi sel

mukosa dan terjadinya penggantian sel epitel dengan lapisan tebal, bertanduk,

lapisan epithelium dibeberapa bagian tubuh, termasuk keratinisasi epitel korne,

paru-paru, kulit dan mukosa intestinal serta dapat menurunkan sel goblet

intestinal dan permukaan vilus. Menurunnya sel goblet dalam usus dapat

menurunkan kemampuan sistem untuk menahan organisme pathogen (Brody

1994). Devisiensi Vitamin A pada anak-anak berhubungan dengan angka infeksi

dan angka kematian. Indikator Defisiensi Vitamin A antara lain dapat dilihat dari

konsentrasi retinol dalam serum (Sommer dan West 1996; Beaten et al 2004).

Kekurangan vitamin A menyebabkan intregitas mukosa epitel terganggu,

hal ini sebagian besar disebabkan karena hilangnya sel goblet penghasil mukus.

Konsekwensinya adalah meningkatkan kerentanan terhadap kuman pathogen di

mata dan saluran nafas serta saluran pencernaan. Hal ini dapat diperkuat

dengan penelitian dimana anak-anak kekurangan vitamin A menderita penyakit

saluran nafas (Karyadi et al 2002; Long et al 2006).

Kelebihan vitamin A dapat terjadi jika mengkonsumsi vitamin A dengan

jumlah yang berlebihan dalam jangka waktu lama. Kelebihan dapat

menyebabkan kerusakan hati, sakit pada tulang sendi, alopecia, sakit kepala,

muntah dan kulit mongering(FAO/WHO 2001). Kelebihan terjadi bila konsumsi

62

vitamin A dalam bentuk vitamin A. Beberapa studi menunjukkan, vitamin A dosis

tinggi dapat meningkatkan respon antibodi terhadap tetanus toxoid (Semba et al

1992). Perbaikan status vitamin A dapat memulihkan aktivitas IFN, dan aktivitas

sel NK dalam darah mononuklear anak-anak yang terkena campak stadium

parah (Griffin et al 1990).

Metabolisme Vitamin A dalam Tubuh Proses metabolisme vitamin A secara keseluruhan dapat digambarkan

oleh dua fungsi biologis utama yaitu menyediakan jumlah retinoid yang cukup

untuk jaringan di tubuh yang digunakan dalam produksi asam retinoat untuk

proses diferensiasi jaringan dan ekspresi gen, dan menyediakan retinol untuk

produksi 11-cis-retinal yang berada dalam retina (Ross & Harison 2007). Vitamin

A dalam makanan sebagian besar terdapat dalam bentuk retinil ester, bersama

karotenoid bercampur dengan lipida lain di dalam lambung. Ester retinil

dihidrolisis oleh enzim-enzim pankreas esterase menjadi retinol yang lebih efisien

diabsorpsi daripada ester retinil di dalam sel-sel mukosa usus halus.

Sebagian dari karotenoid, terutama -karoten di dalam sitoplasma sel

mukosa usus halus dipecah menjadi retinol (Almatsier 2005). Retinol

diesterifikasi dalam mukosa intestinal, diikat kedalam chylomicron dan dibawa ke

saluran darah melalui sirkulasi lymph. Vitamin A dalam tubuh disimpan dalam

hati dengan bentuk retinil ester sekitar 90%. Hati mempunyai kemampuan

menyimpan vitamin A yang cukup untuk beberapa bulan. Kapasitas

penyimpanan pada anak-anak lebih kecil dibanding dengan orang dewasa.

Bersama-sama dengan Retinol Binding Protein (RBP) dan transtiretin, retinol

keluar dari hati (Semba 2002).

Kehilangan simpanan vitamin A ini biasanya terjadi karena asupan

vitamin A tidak mencukupi selama satu periode waktu tertentu kendati kehilangan

vitamin A tersebut akan meningkat dengan infeksi yang menyertai. Laju

pemakaian vitamin A oleh jaringan tertentu dapat menunjukkan adanya adaptasi

terhadap ketersediaan vitamin A yang berkurang. Adaptasi homeostatik dan

pendaurulangan ini berfungsi untuk mempertahankan kadar vitamin A yang

relative konstan dalam darah sampai simpanan didalam tubuh terpakai dibawah

nilai batas yang menentukan Hartono (2009).

Pengambilan retinol oleh berbagai sel tubuh bergantung pada reseptor

pada permukaan membran yang spesifik untuk RBP. Retinol kemudian diangkut

63

melalui membran sel untuk kemudian diikatkan pada Cellular Retinol Binding

rotein (CRBP) dan RBP kemudian dilepaskan (Almatsier 2005). Menurut

Almatsier (2005), bila tubuh mengalami kekurangan konsumsi vitamin A, asam

retinoat diabsorpsi tanpa perubahan. Asam retinoat merupakan sebagian kecil

dari vitamin A dalam darah yang aktif dalam diferensiasi sel dan pertumbuhan.

Status Gizi Berdasarkan Antropometri

Status gizi sebagai keadaan kesehatan tubuh seseorang yang

diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan (absorbsi), dan penggunaan (utilisasi)

zat-zat gizi makanan (Riyadi 1995). Menurut Almatsier (2001) status gizi adalah

keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi.

Gibson (2005) mendefinisikan status gizi merupakan keadaan tubuh seseorang

atau sekelompok orang sebagai akibat dari konsumsi, peyerapan, dan

penggunaan zat gizi makanan. Menilai status gizi seseorang dapat memberikan

gambaran tentang baik atau tidaknya status gizi orang tersebut. Menurut

Astawan & Wahyuni (1988), status gizi seseorang merupakan refleksi dari mutu

makanan yang dimakan sehari-hari. Susunan makanan yang memenuhi

kebutuhan gizi tubuh dapat menciptakan status gizi yang memuaskan.

Penilaian status gizi seseorang dapat dilakukan dengan cara pengukuran

langsung dan tidak langsung. Pengukuran status gizi secara langsung menurut

Suparisa et al (2002) ada empat macam, yakni: secara antripometri, klinis,

biokimia, dan biofisik; sedangkan pengukuran tidak langsung seperti survei

konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi. Pada penilaian berbasis

masyarakat cara pengukuran yang sering digunakan adalah metode antropometri

gizi. Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthropos artinya

tubuh dan metros artinya ukuran. Jadi antropometri ialah ukuran dari tubuh.

Antropometri sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai

ketidak seimbangan protein dan energi (Hartono A 2005, Suparisa IDN et al

2002).

Pengukuran Status Gizi Pengukuran status gizi yang paling sering dan umum digunakan adalah

penilaian status gizi secara antropometri, yaitu menggunakan ukuran tubuh

manusia. Parameter yang digunakan antara lain berat badan (BB) dan tinggi

badan (TB). Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi.

Indeks antropometri yang dugunakan antara lain BB/U, TB/U dan BB/TB.

64

Perbedaan penggunaan indeks akan memberikan gambaran status gizi yang

berbeda dan saling melengkapi keterbatasannya (Suharjo dan Riyadi 1990).

Status gizi berdasarkan indikator indeks tinggi badan menurut umur (TB/U)

menunjukkan status gizi seseorang pada masa yang relative lama, sedangkan

berat badan menurut umur (BB/U) dan berat badan menurut tinggi badan

(BB/TB) menunjukkan status gizi seseorang pada masa kini dan relatif mudah

berubah (Roedjito 1989).

Suharjo & Riyadi (1990) mengungkapkan dalam keadaan normal tinggi

badan tumbuh dengan pertambahan umur. Pertambahan tinggi badan kurang

sensitif terhadap defisiensi gizi jangka pendek, artinya pengaruh defisiensi gizi

terhadap tinggi badan akan nampak pada saat yang cukup lama. Kelebihan

indeks BB/U adalah lebih mudah dan lebih cepat dimengerti oleh masyarakat

umum, sensitif untuk melihat perubahan status jangka pendek dan meneteksi

kegemukan. Sedangkan kelemahannya adalah dapat mengakibatkan kekeliruan

interpretasi status gizi jika terdapat pembengkakan atau edema, memerlukan

data umur yang akurat, dan sering terjadi kesalahan pengukuran misalnya

pakaian atau gerakan anak pada saat menimbang.

Tinggi badan (TB) merupakan indikator antropometri yang

menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Dalam kondisi normal, TB

tumbuh seiring pertambahan umur. Namun indeks TB/U relatif kurang sensitif

terhadap masalah kekurangan gizi dalam kurun waktu pendek. Kelebihan indeks

TB/U yaitu baik untuk menilai status gizi masa lampau dan alat ukur panjang

badan dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa. Sedangkan

kelemahannya adalah TB tidak cepat naik, pengukuran relatif sulit karena harus

berdiri tegak sehingga diperlukan lebih dari satu orang untuk pengukuran TB

serta ketepatan umur sulit didapat (Suharjo & Riyadi 1990).

Pengukuran antropometri terbaik menurut Soekirman (2000) adalah

menggunakan indikator BB/TB karena ukuran ini dapat menggambarkan status

gizi saat ini dengan lebih sensitif dan spesifik. Artinya anak yang BB/TB kurang

dikategorikan sebagi kurus (wasted). Kelebihan berat badan indeks BB/TB

adalah bebas dari pengaruh umur dan ras, dapat memberi gambaran proporsi

berat badan relatif terhadap tinggi badan. Sedangkan kelemahannya adalah

sering terjadi kesulitan ketika mengukur panjang badan anak dan sering terjadi

kesalahan membaca angka hasil pengukuran terutama bila pembacaan

dilakukan oleh tenaga non professional.

65

Indikator BB/TB , berat badan berkorelasi linear dengan tinggi badan,

artinya dalam keadaan normal perkembangan berat badan akan mengikuti

pertambahan tinggi badan pada percepatan tertentu. Dengan demikian berat

badan anak yang normal akan proporsional dengan tinggi badan anak. Hal ini

terutama dapat dilihat setelah hasil pengukuran BB dan TB diolah dan ditentukan

nilai Z-skor. Penilaian status gizi berdasarkan Z-skor dilakukan dengan melihat

distribusi normal kurva pertumbuhan anak. Nilai tersebut menunjukkan jarak nilai

baku median dalam unit simpangan baku (standar deviasi) dengan asumsi

distribusi normal. Nilai Z-skor masing-masing anak dihitung dengan

menggunakan rumus (Gibson 1990) sebagai berikut:

Keterangan: i = umur (bulan) Zsci = nilai Z-skor untuk nilai antropometri hasil pengukuran pada umur bulan ke-i Xi = nilai antropometri hasil pengukuran pada umur bulan ke-i Mi = nilai baku median untuk umur bulan ke-i Sbi = nilai simpangan baku pada umur bulan ke-i

Ada tiga tingkatan niali Z-skor yang diperoleh, yaitu Z-skor BB/U, Z-skor

BB/TB dan Z-skor TB/U. penentuan Z-skor tersebut tersebut didasarkan pada

referensi WHO/NCHS. Hasil penentuan Z-skor terhadap masing-masing individu

kemudian dibandingkan dengan distribusi baku WHO/NCHS (2006) dengan titik

batas (cut-off-point) Z-skor adalah -2. Berikut adalah Tabel 4 klasifiksi status gizi

berdasarkan nilai Z-skor.

Tabel 4 Klasifikasi Status Gizi Berdasarkan Z-skor WHO-NCHS (2006) Indikator Kriteria Standar BB/U Gizi Lebih >2,0 SD baku WHO-NCHS Gizi Baik -2,0 SD s/d 2 SD Gizi Kurang

66

dibawah -2 SD; b) Hasil perhitungan telah dibakukan menurut standar deviasi

sehingga dapat dibandingkan untuk setiap kelompok umur dan indeks

antropometeri; c) Dapat dipergunakan untuk kebutuhan penilaian status gizi

secara darurat untuk melihat perbandingan antar waktu, antar wilayah dan antar

kelompok; d) Dapat mengetahui populasi yang mengalami kurang gizi akut dan

kronik dalam keadaan kurus atau pendek. Sedangkan kelamahan penilaian

dengan Z-skor adalah keadaan status gizi masing-masing indeks tidak sama

(Jahari dkk 2000).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi

Menurut Apriaji (1986) faktor-faktor yang berperan dalam menentukan

status gizi seseorang terdiri dari dua bagian, yaitu faktor eksternal dan faktor

internal. Faktor eksternal yaitu faktor yang berpengaruh dari luar diri seseorang

(konsumsi makan, tingkat pendidikan, pengetahuan gizi, latar belakang sosial

budaya serta kebersihan lingkungan). Faktor internal yang dimaksud adalah

faktor yang menjadi dasar pemenuhan tingkat kebutuhan gizi seseorang (status

kesehatan, umur, dan jenis kelamin).

Tingkat kecukupan gizi juga mempengaruhi status gizi seseorang.

Konsumsi zat gizi yang cukup sesuai dengan angka kebutuhan gizi yang

dianjurkan untuk setiap individu akan mengakibatkan status gizi yang baik pada

seseorang. Sebaliknya jika konsumsi zat gizi berlebih atau kekurangan akan

menimbulkan status gizi berlebih atau kurang pada seseorang. Kekurangan atau

kelebihan konsumsi gizi dari kebutuhan normal jika berlangsung dalam jangka

waktu yang lama dapat membahayakan kesehatan (Hardinsyah & Martianto

1992). Status gizi seseorang dipengaruhi oleh jumlah dan mutu pangan yang

dikonsumsi serta keadaan tubuh yang dapat menyebabkan gangguan

penyerapan gizi atau parasit (Suharjo 1989).

Gizi kurang terjadi karena konsumsi energi memang tidak mencukupi

kebutuhan sehingga mengakibatkan hampir seluruh zat gizi lainnya ikut

berkurang. Kekurangan zat gizi khususnya energi dan protein pada tahap awal

akan menimbulkan rasa lapar, dalam jangka waktu tertentu berat badan menurun

disertai dengan menurunnya kemampuan kerja (Hardinsyah & Martianto 1989).

Konsumsi energi dan zat gizi mempengaruhi keadaan gizi anak. Energi dan

protein berperan secara timbal balik antara keduanya terhadap pertumbuhan

anak. Kurang gizi merupakan hasil akhir kesinambungan mekanisme perubahan

67

anatomi dan penurunan fungsi tubuh akibat kekurangan asupan energi dan zat

gizi (Waterlow et al 1992)

Menurut Almatsier (2002) status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami

kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial, sehingga menimbulkan akibat

yang membahayakan, yakni terjadinya gangguan/masalah gizi. Gangguan gizi

disebabkan oleh masalah primer dan sekunder. Faktor primer, yakni susunan

makanan kurang berkualitas dan kurang kuantitasnya, dan faktor sekunder

adalah semua faktor yang menyebabkan zat-zat gizi tidak sampai di sel-sel tubuh

setelah makanan dikonsumsi.

Konsumsi Pangan Konsumsi merupakan salah satu kebutuhan pokok yang diperlukan tubuh

setiap hari dalam jumlah tertentu sebagai sumber energi dan zat gizi.

Kekurangan dan kelebihan dalam jangka waktu yang lama akan berakibat buruk

terhadap kesehatan. Kebutuhan akan energi dan zat gizi bergantung pada

berbagai faktor seperti umur, jenis kelamin, berat badan, iklim dan aktivitas fisik

(Almatsier 2003). Menurut Wulandari (2000) konsumsi pangan secara garis

besar adalah kuantitas pangan dikonsumsi oleh seseorang atau sekelompok

orang dengan tujuan tertentu dengan jenis pangan tunggal ataupun beragam.

Frekuensi makan dapat menunjukkan tingkat kecukupan konsumsi gizi.

Semakin tinggi frekuensi makan, maka semakin besar kemungkinan

terpenuhinya kecukupan gizi. Frekuensi makan pada seseorang dengan kondisi

ekonomi mampu lebih tinggi dibandingkan dengan orang dengan kondisi

ekonomi lemah. Hal ini disebabkan orang dengan kondisi ekonomi yang lebih

tinggi memiliki daya beli yang tinggi sehingga dapat mengkonsumsi makanan

dengan frekuensi lebih tinggi. Cerminan kebiasaan makan individu atau keluarga

merupakan fungsi dari pola konsumsi pangan individu atau keluarga. Salah satu

aspek kebiasaan makan adalah frekuensi makan per hari (Khomsan 1993).

Menurut Hardinsyah & Martianto (1992) ada tiga yang mempengaruhi

konsumsi pangan yaitu kualitas dan ragam pangan yang tersedia dari produksi,

pendapatan dan tingkat pengetahuan gizi. Konsumsi pangan adalah informasi

tentang jenis dan jumlah pangan yang dimakan seseorang atau kelompok orang

(sekeluarga atau rumah tangga) pada waktu tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa

telaah tentang konsumsi pangan dapat ditinjau dari aspek jenis pangan yang

dikonsumsi dan jumlah pangan yang dikonsumsi.

68

Karakteristik individu anak sekolah dasar (umur, jenis kelamin, berat

badan, dan kondisi sosial ekonomi keluarga) dapat mempengaruhi pola dan

tingkat konsumsi pangannya. Manusia memerlukan sejumlah zat gizi agar dapat

hidup sehat dan mempertahankan hidupnya. Oleh karena itu, jumlah zat gizi

yang diperoleh melalui konsumsi pangan harus mencukupi kebutuhan untuk

melakukan kegiatan (internal dan eksternal), aktivitas dan mempertahankan daya

tahan tubuh. Kebutuhan gizi merupakan sejumlah zat gizi minimal yang harus

dipenuhi dari konsumsi makanan. Kekurangan atau kelebihan konsumsi zat gizi

dari kebutuhan normal jika berlangsung dalam jangka waktu lama dapat

membahayakan kesehatan (Hardinsyah & Martianto 1992).

Metode food recall adalah metode penilaian konsumsi pangan dimana

pewawancara menanyakan apa yang telah dikonsumsi oleh responden.

Wawancara dilakukan berdasarkan suatu daftar pertanyaan atau kuisioner yang

telah dipersiapkan terlebih dahulu. Ditanyakan dengan lengkap apa yang telah

dikonsumsi ketika makan pagi, siang, makan dan selingan/ makanan kecil diluar

waktu makan. Tanggal waktu makan serta besar porsi setiap makanan dicatat

dengan teliti. Hasil pencatatan wawancara kemudian diolah, dikembalikan

kepada bentuk bahan mentah dan dihitung zat-zat gizinya berdasarkan Daftar

Komposisi Bahan Makanan (DKBM) yang berlaku. Masing-masing zat gizi

dijumlahkan dan dihitung rata-rata konsumsi setiap hari (Sediaoetama 2006).

Kebutuhan Energi dan Zat Gizi Zat gizi merupakan unsur-unsur yang terdapat dalam makanan dan

diperlukan oleh tubuh untuk berbagai keperluan seperti menghasilkan energi,

mengganti jaringan aus serta rusak, memproduksi subtansi tertentu misalnya

enzim, hormone dan antibodi. Zat gizi dapat dibagi menjadi kelompok

makronutrien yang terdiri atas karbohidrat, lemak serta protein dan kelompok

mikronutien yang terdiri atas vitamin serta mineral (Harono 2006).

Energi yang diperlukan anak usia sekolah sangat beragam, oleh karena

itu penting mengetahui tinggi dan berat badannya tiap bulan untuk menentukan

kebutuhan energinya (Endres et al 2004). Menurut Almatsier (2003) menyatakan

pada anak-anak, ibu hamil dan ibu menyusui kebutuhan energi termasuk

kebutuhan untuk pembentukan jaringan-jaringan baru. Protein memiliki peran

yang sangat penting bagi tubuh yaitu sumber energi, pertumbuhan dan

pemeliharaan, pembentukkan ikatan-ikatan esensial tubuh, mengatur

69

keseimbangan air, memelihara netralitas tubuh, membentuk antibodi dan

mengangkut zat-zat gizi (Almatsier 2003). Didalam tubuh lemak berfungsi

sebagai cadangan energi dalam bentuk jaringan lemak yang ditimbun ditempat-

tempat tertentu (Soediaoetama 2006).

Kecukupan protein merupakan persyaratan bagi trasportasi pada

penggunaan vitamin A secara optimal, kadar retinol serum akan menurun jika

terdapat kekurangan energi protein (KEP). Tanda defisiensi vitamin A dapat pula

terjadi sebagai fenomena sekunder KEP tanpa tergantung apakah asupan

vitamin A-nya mencukupi atau tidak. Keadaan ini disebabkan oleh gangguan

sintesis RBP (retinol binding protein; protein pengikat retinol) yang membuat

protein tersebut tersedia untuk mengangkut retinol. Keadaan ini turut

menimbulkan respon imun yang berat terhadap infeksi sebagai akibat defisiensi

fungsional vitamin A maupun gangguan respon imun yang menyertai gizi kurang

tersebut (Hartono 2009).

Perbandingan antara konsumsi zat gizi dengan angka kecukupan gizi

yang dianjurkan disebut sebagai tingkat kecukupan zat gizi. Klasifikasi tingkat

kecukupan energi dan protein menurut Depkes (1996) diacu dalam Sukandar

(2007) adalah: 10 defisit tingkat berat (120% AKG). Klasifikasi tingkat kecukupan vitamin dan mineral

menurut Gibson (2005) yaitu, kurang ( 77% AKG).

Penilaian untuk mengetahui tingkat kecukupan zat gizi dilakukan dengan

membandingkan antara konsumsi zat gizi actual (nyata) dengan kecukupan zat

gizi yang dianjurkan. Hasil perhitungan kemudian dinyatakan dalam persen.

Morbiditas Morbiditas dan status gizi merupakan variabel yang mencerminkan status

kesehatan. Morbiditas ini meliputi prevalensi penyakit menular dan penyakit tidak

menular. Derajat kesehatan atau status kesehatan adalah tingkat kesehatan

perorangan, kelompok atau masyarakat yang diukur dengan angka kematian,

umur harapan hidup, status gizi, dan angka kesakitan (morbiditas). Kesehatan

merupakan masalah yang kompleks hingga tidak mungkin diukur semua faktor

yang mempengaruhinya, baik secara langsung maupun tidak langsung, karena

itu diperlukan suatu alat yang dapat memberi indikasi untuk menggambarkan

keadaan kesehatan. Alat tersebut ialah indikator. Indikator kesehatan dapat

70

digunakan untuk mengukur status kesehatan, memonitor kemajuan keadaan

kesehatan dan merupakan alat bantu dalam mengadakan evaluasi program

kesehatan Depkes (2008).

Faktor-faktor yang mempengaruhi Morbiditas Menurut Undang-undang No. 9 Bab I, pasal 2 tentang pokok-pokok

Kesehatan, yang dimaksud dengan sehat adalah sehat jasmani, rohani (jiwa dan

mental) dan sosial bukan hanya bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan.

Sehat rohani adalah kondisi sosial yang memungkinkan setiap warga negara

mampu memelihara kehidupannya serta keluarganya. Faktor yang

mempengaruhi kesehatan adalah penyebab penyakit, manusia, dan lingkungan.

Gangguan keseimbangan diantara ketiga faktor tersebut menimbulkan gangguan

kesehatan yang menyebabkan penurunan derajat kesehatan seseorang.

Penyebab penyakit dapat berasal dari dalam maupun luar tubuh. Daya tahan

tubuh manusia akan mempengaruhi kemudahan terkena penyakit. Lingkungan

adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia dan dapat mempengaruhi

kehidupannya (Subandriyo & Hartanti 1994).

Menurut Subandriyo (1993), angka kesakitan (morbiditas) lebih

mencerminkan keadaan kesehatan sesungguhnya, sebab kejadian kesakitan

mempunyai hubungan yang erat dengan berbagai faktor lingkungan, seperti

perumahan, air minum dan kebersihan serta faktor kemiskinan, kekurangan gizi

serta pelayanan kesehatan di daerah tersebut. Sedangkan angka kematian lebih

banyak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi kedokteran sehingga kurang

mencerminkan keadaan kesehatan yang sesungguhnya.

Keterkaitan Morbiditas dengan Status Gizi Antara status gizi kurang dan infeksi terdapat interaksi bolak-balik. Infeksi

dapat menimbulkan gizi kurang melalui berbagai mekanisme. Yang paling

penting ialah efek langsung dari infeksi sistemik pada katabolisme jaringan.

Walaupun hanya terjadi infeksi ringan sudah akan menimbulkan kehilangan

nitrogen. Infeksi yang akut mengakibatkan kurangnya nafsu makan dan toleransi

terhadap makanan. Orang yang mengalami gizi kurang, daya tahan tubuh

terhadap penyakit menjadi rendah, sehingga mudah terkena serangan penyakit

infeksi (Suhardjo 1989).

Keadaan kesehatan atau adanya infeksi akan berpengaruh terhadap

status gizi. Penurunan keadaan gizi dan pertumbuhan akibat adanya kejadian

71

sakit (morbiditas), mekanismenya mencakup penurunan asupan makanan,

gangguan penyerapan, gangguan peningkatan kebutuhan gizi, serta peningkatan

kerusakan jaringan (Latham 1997). Ada hubungan yang sinergistik antara

kejadian sakit dengan status gizi. Infeksi bersama-sama penurunan asupan

makanan merupakan sebab utama kurang gizi (Waterlow 1992).

Penyakit Infeksi Penyakit infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh

mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, protozoa, cacing dan sebagainya

(Shulman et al 1994; Entjang 2000). Proses terjadinya penyakit infeksi karena

adanya bibit penyakit (agent) yang masuk kedalam tubuh manusia rentan (host).

Morbiditas menyebakan berkurangnya aktivitas anak, menyebabkan terjadinya

anoreksia, pengurangan asupan makanan dengan sengaja (Satoto 1990)

Infeksi yang sering terjadi pada anak-anak adalah infeksi saluran

pernafasan akut (ISPA) dan Infeksi saluran makanan, yang umum adalah diare.

Infeksi saluran pernapasan akut merupakan penyebab masalah kesehatan paling

umum terjadi didunia. Meskipun penyakit ini belum didefinisikan kedalam

kelompok penyakit, namun infeksi pernapasan akut termasuk di dalamnya batuk

influenza, pneumonia, bronchitis, dan sejumlah penyakit infeksi lainnya.

Kebanyakan infeksi pernapasan ditemukan dibagian dunia yang lebih dingin atau

didataran tinggi daerah tropis (Webber 2005).

Defisiensi vitamin A merupakan predisposisi yang memudahkan

seseorang seseorang untuk menderita infeksi berat. Dalam sebuah penelitian

prospektif di Indonesia, anak-anak prasekolah yang menderita penyakit diare

akut atau infeksi saluran pernafasan akut menghadapi kemungkinan terkena

xeroftalmia dalam periode 3 bulan berikutnya sebesar dua kali lipat dibandingkan

anak-anak yang sehat. Defisiensi vitamin A dan infeksi saling berinteraksi ketika

satu kambuh, maka kerentanan terhadap yang lain akan meningkat. Infeksi dapat

menimbulkan defisiensi vitamin A melalui berbagai cara menurut penyebab,

durasi, dan intensitas infeksi, serta status vitamin A dalam tubuh penderita pada

saat infeksi. Kadar retinol darah akan menurun sesudah terjadinya infeksi dan

penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya asupan atau penyerapan vitamin A

dari makanan sebagai akibat dari diare atau adanya kuman pahogen intestinal,

gangguan atau percepatan pemakaian simpanan retinol dalam hati, peningkatan

72

pemakaian retinol oleh jaringan target, atau peningkatan kehilangan retinol

melalui urin yang berkaitan dengan respon fase akut (Hartono 2009).

Diare berkaitan secara khusus dengan status gizi anak, dampak diare

terhadap status gizi lebih besar dari pada infeksi lain karena selama diare terjadi

gangguan asupan, gangguan absorbsi dan gangguan metabolisme secara

bersamaan (Scrimshaw et al 1983). Diare adalah suatu kondisi buang air besar

dengan konsistensi yang lembek sampai encer bahkan dapat berupa air saja

yang terjadi lebih sering dari biasa (tiga kali atau lebih sehari). Tanda-tanda diare

diantaranya adalah buang air besar encer terus-menerus (lebih dari tiga kali

sehari) kadang disertai muntah (muntaber) dan panas, nafsu makan berkurang

dan selalu haus serta badan lesu dan lemas (Latifah et al 2002).

Diare akut lebih mudah diobati dibandingkan yang kronis. Diare akut akan

segera hilang setelah gejala atau penyebabnya teratasi. Pengobatan diare kronis

lebih spesifik sebab terlebih dahulu harus menemukan penyebabnya sebelum

dilakukan tindakan pengobatan. Diare akut dapat menyebabkan tubuh kurang

cairan (dehidrasi). Sebaliknya diare kronis yang berkepanjangan dapat

menyebabkan kurang gizi (Subandriyo 2000).

Demam termasuk tanda bahwa tubuh terkena infeksi yang ditunjukkan

dengan naiknya suhu tubuh. Suhu tubuh manusia merupakan hasil akhir dari

produksi panas pada proses metabolic, aktivitas otot dan kehilangan panas.

Suhu normal tubuh sekitar 37 C. Pada saat demam, suhu tubuh mencapai 41 C.

Demam biasanya terjadi akibat tubuh terpapar infeksi mikroorganisme (virus,

bakteri, parasit). Demam juga bisa disebabkan oleh faktor non infeksi seperti

kompleks imun, atau inflamasi (peradangan) lainnya (Shulman et al 1994).

Anak Sekolah Dasar Hurlock (1999) mengelompokkan anak usia sekolah dasar berdasarkan

perkembangan psikologis yang disebut sebagai Late Childhood. Usia sekolah

dimulai pada usia 6 tahun dan berakhir pada saat individu menunjukkan

kematangan seksualnya antara usia 13 sampai 14 tahun. Menurut Yusuf dalam

Kusumaningrum (2006), masa usia sekolah dasar dibagi menjagi dua fase, yaitu

masa kelas rendah berumur 6 sampai 9 tahun dan masa kelas tinggi 12 sampai

13 tahun.

Anak usia sekolah adalah masa dimana mereka harus bermain tanpa

diperhatikan orang tua saat bermain dapat mengetahui cara bergaul dengan

73

teman sebaya secara baik. Pada usia ini anak diharapkan memperoleh dasar-

dasar pengetahuan yang dianggap penting untuk keberhasilan penyesuaian diri

pada kehidupan dewasa, dan mempelajari berbagai keterampilan penting

tertentu Hurlock (1999). Usia sekolah merupakan awal seorang anak belajar

bertanggung jawab terhadap sikap dan perilakunya. Anak usia sekolah biasanya

mempunyai lebih banyak perhatian dan aktivitas diluar rumah, sehingga sering

melupakan waktu makan. Anak usia sekolah telah mempunyai daya tahan yang

cukup terhadap berbagai penyakit (RSCM dan Persagi 1990)

Anak usia sekolah dasar mempunyai sifat yang berubah-ubah terhadap

makanan, selalu ingin mencoba makanan yang baru dikenalnya dan secara

umum mereka tidak pernah mengalami masalah dalam hal nafsu makan

(Komalasari 1991). Menurut Akbar (2005) menyatakan pada periode ini terjadi

perkembangan sosialisasi yang menonjol pada anak. Diantaranya adalah

pergaulan anak menjadi lebih luas, dan tidak terbatas hanya dengan anggota

keluarga di rumah. Masa sekolah memberikan kesempatan kepada anak untuk

lebih banyak bergaul dengan teman sebayanya. Selain itu, pada usia sekolah

terjadi perkembangan intelegensi, minat, emosi dan kepribadian.

Karakteristik Sosial Ekonomi Keluarga

Menurut Hartog et al (1995) karakteristik sosial ekonomi keluarga

dinegara berkembang dikategorikan ke dalam tiga kelas yiatu tinggi, menengah

dan bawah. Status sosial ekonomi keluarga dapat dilihat dari besarnya pendapatan atau pengeluaran keluarga, baik pangan maupun non pangan

selama setahun terkhir. Jika pendapatan masih rendah maka kebutuhan pangan

cenderung lebih dominan dari pada kebutuhan non pangan. Sebaliknya jika

pendapatan meningkat maka pengeluaran untuk non pangan akan semakin

besar, mengingat kebutuhan pokok makanan sudah terpenuhi (Husaini et al.

2000). Hal ini sesuai dengan Hukum Engel bahwa semakin tinggi pendapatan

maka persentase pendapatan yang dikeluarkan untuk pangan semakin kecil.

Besar Keluarga Besar keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang terdiri dari

ayah, ibu, anak dan anggota keluarga lain yang hidup dari pengelolaan

sumberdaya yang sama. Menurut Sanjur (1982), banyaknya anggota keluarga

akan mempengaruhi konsumsi pangan dalam hubungannya dengan pengeluran

74

pangan rumah tangga. Besar kecilnya anggota keluarga dapat mempengaruhi

kebutuhan keluarga, semakin besar anggota keluarga maka kebutuhan pangan

yang harus tercukupi semakin meningkat, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk

kebutuhan pangan keluarga akan tinggi ( Lumeta 1987).

Peningkatan jumlah keluarga menurunkan konsumsi pangan hewani dan

pangan sumber karbohidrat diganti dengan yang lebih murah atau dalam porsi

yang lebih kecil (Hartog et al. 1995). Menurut BKKBN (1998), jumlah anggota

keluarga dapat diklasifikasikan sebagai besar keluarga dalam tiga kategori, yaitu

kecil (7 orang). Suhardjo (1989)

menyatakan bahwa ada hubungan yang sangat nyata antara besar keluarga

dengan kurang gizi pada masing-masing keluarga.

Pendidikan Orang Tua Keadaan gizi seseorang banyak titentukan oleh perilaku pengasuhannya.

Dari berbagai penelitian diketahui bahwa apabila pendidikan dan pengetahuan

dalam berbagai bidang gizi yang dimiliki orang tua baik maka keadaan gizi anak

juga baik (Riyadi 2006). Semakin tinggi tingkat pendidikan formal maka akan

semakin luas wawasan berfikirnya, sehingga lebih banyak informasi yang

diserap. Hal tersebut akan berdampak positif terhadap ragam pangan yang

dikonsumsi (Soewondo & Sadi 1990). Latar belakang pendidikan ibu juga

berpengaruh terhadap perilaku ibu dalam mengelola rumah tangga, termasuk hal

konsumsi pangan sehari-hari (Engle et al. 1997).

Pekerjaan Orang Tua Bekerja adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan maksud

memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan. Besar

pendapatan yang diterima individu akan dipengaruhi oleh jenis pekerjaan yang

dilakukan (Suhardjo 1989). Tingkat pendidikan akan berhubungan dengan jenis

pekerjaan seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka kesempatan untuk

mendapatkan pekerjaan semakin besar (Engel et al. 1994).

Hardinsyah dan Suhardjo (1987) menyatakan bila mereka yang

berpendidikan tinggi bekerja, maka akan diupah lebih tinggi dibanding dengan

orang yang berpendidikan rendah. Jenis pekerjaan yang akan dilakukan individu

akan berpengaruh terhadap besar pendapatan yang akan diterimanya.

Kemampuan individu menyediakan makanan dalam jumlah yang cukup

dipengaruhi oleh pendapatan dan daya beli yang cukup dan berkualitas bahwa

75

pekerjaan secara tidak langsung melalui pendapatan dapat mempengaruhi

kebiasaan makan individu.

Pendapatan Keluarga Pendapatan keluarga adalah besarnya rata-rata penghasilan yang

diperoleh dari seluruh anggota keluarga. Pendapatan keluarga tergantung pada

jenis pekerjaan kepala keluarga dan anggota keluarga lainnya. Jika pendapatan

masih rendah maka kebutuhan pangan lebih dominan daripada kebutuhan non

pangan. Sebaliknya, jika pendapatan meningkat maka pengeluaran untuk non

pangan akan semakin besar, mengingat kebutuhan akan pangan sudah

terpenuhi (Husaini et al. 2000).

Menurut Martianto dan Ariani (2004) tingkat pendapatan seseorang akan

berpengaruh terhadap jenis dan jumlah bahan pangan yang dikonsumsinya.

Sesuai dengan Hukum Bennet, semakin tinggi pendapatan maka kualitas bahan

pangan yang dikonsumsi pun semakin baik yang tercermin dari perubahan

pembelian bahan yang harganya murah menjadi bahan pangan yang harganya

lebih mahal dengan kualitas yang baik. Sebaliknya, rendahnya pendapatan yang

dimiliki oleh seseorang akan mengakibatkan terjadinya perubahan kebiasaan

makan yang tercermin dari pengurangan frekuensi makan dari tiga kali menjadi

dua kali dalam sehari. Selain itu, masyarakat berpendapatan rendah juga akan

mengkonsumsi pangan dalam jumlah dan jenis yang beragam untuk memenuhi

kebutuhan gizi yang seimbang seperti mengkonsumsi tahu dan tempe sebagai

pengganti daging.

Tingkat pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan terhadap

kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi. Dengan demikian terdapat

hubungan yang erat antara pedidikan dengan status gizi. Rendahnya

pendapatan menyebabkan daya beli terhadap makanan menjadi rendah dan

konsumsi pangan keluarga akan berkurang. Kondisi ini akhirnya mempengaruhi

kesehatan dan status gizi (Riyadi et al. 1990).

KERANGKA PEMIKIRAN

Anak merupakan aset penting bagi keberlangsungan masa depan suatu

Negara. Untuk itu diperlukan asupan energi dan zat gizi yang cukup setiap hari.

Konsumsi merupakan salah satu kebutuhan pokok yang diperlukan tubuh setiap

hari. Kebutuhan akan energi dan zat gizi bergantung pada berbagai faktor seperti

umur, jenis kelamin, dan berat badan. Selain faktor tersebut juga dipengaruhi