Skripsi Prakerin

Click here to load reader

  • date post

    25-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    2.941
  • download

    7

Embed Size (px)

Transcript of Skripsi Prakerin

MODEL PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI ( PRAKERIN ) PADA BIDANG KEAHLIAN KRIYA KAYU SMK N 2 JEPARA TAHUN AJARAN 2006 / 2007

SKRIPSIUntuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Universitas Negeri Semarang

oleh PUJI ASTUTI 5101402009 PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007

ABSTRAK Puji Astuti, 2007. Model Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) Pada Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara Tahun Ajaran 2006 /2007. Skripsi. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang. Kata Kunci : Model Pelaksanaan, Praktik Kerja Industri, Institusi Pasangan. Tujuan penelitian ini adalah : (1) menjelaskan persiapan pelaksanaan Prakerin baik di sekolah maupun di industri; (2) menjelaskan model pelaksanaan pendidikan pada bidang keahlian kriya kayu SMK N 2 Jepara; (3) menjelaskan model pelaksanaan pelatihan di industri pada bidang keahlian kriya kayu SMK N 2 Jepara; (4) menjelaskan bagaimana persepsi tentang kemanfaatan pelaksanaan Prakerin bagi industri, bagi sekolah dan bagi peserta didik (siswa). Proses pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Tidak ada kriteria baku mengenai berapa jumlah responden yang harus diwawancarai, sebagai aturan umum, peneliti berhenti melakukan wawancara sampai data menjadi jenuh, artinya peneliti tidak menemukan aspek baru dalam fenomena yang diteliti. Setelah data terkumpul, data tersebut disusun, dianalisis dan disimpulkan kemudian disajikan dalam bentuk laporan. Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa dengan menggunakan teknik triangulasi sumber dan perpanjangan keikut sertaan peneliti pada kegiatan Prakerin. Teknik triangulasi sumber meliputi : (1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara; (2) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan; (3) membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti guru dengan siswa. Persiapan yang dilaksanakan SMK N 2 Jepara dalam rangka pelaksanaan Prakerin khususnya untuk mengkoordinasikan tempat pelaksaan Prakerin dan administrasinya sudah cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan adanya dua tahap yang terorganisir yaitu tahap perencanaan dan tahap persiapan. Industri sebagai institusi mitra dalam pelaksanaan Prakerin sudah cukup baik dalam melaksankan persiapan dengan mempersiapkan pembimbing lapangan dan sistem kerja serta pembagian kerja untuk siswa. Model pelaksanaan pendidikan pada bidang Kriya Kayu harus dibenahi terutama untuk pembelajaran pembentukan sikap dan sopan santun. Kepercayaan industri tentang keahlian siswa melalui pembelajaran disekolah dan ngengersudah cukup baik. Hal ini terbukti dengan keleluasaan untuk mengerjakan suatu pekerjaan dari proses awal sampai menjadi suatu barang jadi. Manfaat yang dirasakan siswa adalah mendapatkan pengalaman baru dan mendapat pengakuan masyarakat tentang skill yang dimiliki, bagi sekolah bisa melaksankan kebijakan link and match dan sebagai tolok ukur pelaksanaan Prakerin tahun yang akan datang, sedang bagi industri selain dapat membantu sekolah mencetak lulusan yang berkualitas juga mendapatkan kemudahan untuk mencari tenaga kerja terdidik dengan skill yang bagus

ii

PENGESAHAN SKRIPSI Model Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) Pada Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara Tahun Ajaran 2006/2007 oleh : Puji Astuti 5101402009 Telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Fakultas Teknik UNNES pada : Hari : Senin Tanggal : 28 Mei 2007 Panitia Ujian Skripsi : Ketua Sekretaris

Drs. Lashari, MT NIP.131 471 402

Drs. Supriyono NIP. 131 571 560 Anggota Dewan Penguji,

Pembimbing I,

Penguji I

Drs. Yeri Sutopo, M.Pd, MT. NIP.131 658 244 Pembimbing II,

Drs. M. Pujo Siswoyo, M.Pd. NIP.131 931 830 Penguji II

Drs. Supriyono NIP.131 571 560

Drs. Yeri Sutopo, M.Pd, MT. NIP.131 658 244 Penguji III

Drs. Supriyono NIP. 131 571 560

iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO 1. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan beberapa derajat (Q.S. Al Mujadalah : 11) 2. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak berupaya mengubahnya ( Q.S. Ar Radu : 11) 3. Jangan pernah menunda suatu niatan yang baik dan dimulyakan Allah.

PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan untuk : 1. Ayah (Alm) dan Bunda Tercinta atas cinta dan fasilitas yang diberikan. 2. Kakak dan Keponakan atas semangat yang berikan. 3. Seseorang yang memberikan rasa aman, kasih yang tulus dan semangat untuk maju. 4. Anak Flamboyan Kost dan teman-teman PTB - Sipil UNNES.

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini, pada kesempatan ini penulis dengan kerendahan hati mengucapkan terima kasih kepada : 1. Prof. Dr. Soesanto, Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin mengadakan penelitian untuk penyusunan skripsi ini; 2. Drs. Lashari, M.T, Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang; 3. Drs. M. Pujo Siswoyo, M.Pd, Penguji Utama yang telah memberikan arahan dalam penyusunan skripsi ini : 4. Drs. Yeri Sutopo, M.Pd, M.T, Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini; 5. Drs. Supriyono, Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini; 6. Drs. Ismoyo Joko Saptono, Kepala Sekolah SMK N 2 Jepara yang telah memberikan ijin penelitian untuk penyusunan skripsi ini; 7. Semua pihak yang telah memberikan motivasi, bantuan dan masukan dalam penyusunan skripsi yang tidak dapat penulis sebut satu persatu. Masih disadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu peneliti mengharapkan kritik dan saran membangun dari semua pihak. Peneliti berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti dan pembaca, Amin. Semarang, Penulis v Mei 2007

DAFTAR ISI

halaman HALAMAN JUDUL ABSTRAK ...................................................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................................................. KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................... DAFTAR TABEL ........................................................................................... DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................... 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 Latar Belakang ....................................................................... Fokus Penelitian .................................................................... Pertanyaan Penelitian ............................................................ Tujuan Penelitian ................................................................... Manfaat Penelitian .................................................................. Sistematika Skripsi ................................................................ i ii iii iv v vi ix x xi 1 1 4 6 7 7 8

BAB II KAJIAN PUSTAKA ........................................................................ 10 2.1 Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ) ................................... 10 10 10

2.1.1 Pengertian Pendidikan Kejuruan ............................................ 2.1.2 Tujuan Pendidikan Menengah Kejuruan ................................

vi

2.1.3 Struktur Kurikulum SMK ...................................................... 11 2.2 Kurikulum SMK Bidang Keahlian Kriya Kayu .................... 12

2.2.1 Pengertian Bidang Keahlian Kriya Kayu ............................ 12 2.2.2 Tujuan SMK Bidang Keahlian Kriya Kayu ......................... 12

2.2.3 Kurikulum SMK Bidang Keahlian Kriya Kayu ................... 13 2.3 2.4 Silabus Dalam Kriya Kayu .................................................. 14

Praktik Kerja Industri ( Prakerin ) ....................................... 15

2.4.1 Tinjauan Tentang Prakerin ................................................... 15 2.4.1.1 Pengertian Prakerin ............................................................. 15

2.4.1.2 Landasan Hukum Prakerin .................................................... 15 2.4.1.3 Tujuan Pelaksanaan Prakerin ................................................ 16 2.4.2 Kelembagaan Kerja Sama .. 16

2.4.2.1 Majelis Sekolah ..... 16 2.4.2.2 Wakil Kepala Sekolah Hubungan Masyarakat dan Industri ( Wakasek Humasind ) .. 17 2.4.3 Model Pelaksanaan Prakerin . 18 2.4.4 2.4.5 2.4.6 Standar Profesi ( Standar Keahlian Tamatan ) . Model Pelaksanaan Pendidikan di Sekolah .. 22 23

Model Pelaksanaan Pelatihan di Industri .. 24

2.4.7 Jenis Penilaian 25 2.4.8 Jenis Sertifikasi 2.5 26

Persepsi Terhadap Kemanfaatan Pelaksanaan Prakerin .... 27

vii

BAB III METODE PENELITIAN ................................................................. 3.1 3.2 3.3 3.4 3.4.1 3.4.2 3.4.3 3.5 3.6 3.7 Pendekatan dan Jenis Penelitian ..........................................

30 30

Lokasi Penelitian ................................................................. 31 Sumber dan informan .......................................................... 31 Prosedur Pengumpulan Data ............................................... 32 Wawancara .......................................................................... Observasi ........................................................................... 33 35

Dokumentasi ........................................................................ 36 Analisis Data ........................................................................ 37 Pengecekkan Keabsahan Data ............................................. 40 Memperpanjang Keikutsertaan Peneliti ............................... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................... 43 4.1 4.1.1 Hasil Penelitian ................................................................... 43 Persiapan Pelaksanaan Prakerin baik di Sekolah maupun di Industri ............................................................................ 43 4.1.2 4.1.3 4.1.4 4.2 Pelaksanaan Pendidikan di Sekolah .................................... 46 Pelaksanaan Pelatihan di Industri ....................................... 55 Kemanfaatan Pelaksanaan Prakerin .................................... 63 Pembahasan ......................................................................... 65

BAB V PENUTUP......................................................................................... 80 5.1 5.2 Simpulan ............................................................................ 80 Saran ................................................................................... 82

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 84 LAMPIRAN LAMPIRAN viii

DAFTAR TABEL

halaman Tabel 4.1 Tabel 4.2 Model 1 Menurut Konsep Prakerin ........................................ 76 Model Prakerin SMK N 2 Jepara ............................................ 77

ix

DAFTAR GAMBAR

halaman Gambar 2.1 Bagan Hubungan Majelis Sekolah dengan Dunia Industri ........ 17 Gambar 2.2 Model Pelaksanaan Prakerin ...................................................... 21 Gambar 2.3 Bagan Pembentukan Kerja Profesi.............................................. 23 Gambar 3.1 Teknik Analisis Data .................................................................. 40 Gambar 3.2 Pengujian Validitas dengan Sumber Sama Teknik Beda ........... 41 Gambar 3.3 Pengujian Validitas dengan Teknik Sama Sumber Beda ............ 41 Gambar 4.1 Proses Pembelajaran di SMK N 2 Jepara.................................... 54 Gambar 4.2 Pola Pelaksanaan Prakerin yang Diterapakan SMK N 2 Jepara 57

Gambar 4.3 Siswa Kriya Kayu Saat Pelaksanaan Prakerin ............................ 59 Gambar 4.4 Kegiatan Siswa Selama Pelaksanaan Prakerin di Industri .......... 59 Gambar 4.5 Ukiran Meja Bundar Hasil Siswa selama Prakerin ..................... 60 Gambar 4.6 Proses Monitoring Siswa di Industri oleh Tim Monitoring dari Sekolah......................................................................................... 62 Gambar 4.7 Hubungan Ngenger dengan Pelaksanaan Kurikulum 2004 ......... 73

x

DAFTAR LAMPIRAN

halaman Lampiran 1. Lembar Observasi di Sekolah .................................................. Lampiran 2. Lembar Observasi di Industri ................................................. Lampiran 3. Hasil Wawancara dengan Guru Pengajar ............................... 86 87 88

Lampiran 4. Hasil Wawancara dengan Wakasek Kurikulum ........................ 95 Lampiran 5. Hasil Wawancara dengan Ketua Pokja Prakerin ...................... 99 Lampiran 6. Hasil Wawancara dengan Industri .......................................... 102 Lampiran 7. Hasil Wawancara dengan Siswa ............................................. 106 Lampiran 8. Struktur Kurikulum SMK N 2 Jepara ..................................... 118 Lampiran 9. Standar Kompetensi Keahlian ................................................ 130 Lampiran 11. Sertifikat Akreditasi Sekolah .................................................. 134 Lampiran 12. Jadual Kegiatan Prakerin Siswa ............................................. 135 Lampiran 13. Daftar Perusahaan Tempat Prakerin Siswa ............................ 136 Lampiran 14. Akta Perjanjian Kerjasama ..................................................... 140 Lampiran 15. Sertifikat Prakerin ................................................................... 148 Lampiran 16. Surat Undangan Tutor Prmbekalan Prakerin........................... 149 Lampiran 17. Jadual Pembekalan Prakerin ................................................... 150 Lampiran 18. Materi Pembekalan Prakerin .................................................. 151 Lampiran 19. Tata Tertib Peserta Prakerin ................................................... 152 Lampiran 20. Surat Tugas Monitoring Siswa Prakerin ................................. 154 Lampiran 21. Surat Perintah Perjalanan Dinas ............................................. 155

xi

Lampiran 22. Daftar Nilai Prakerin Siswa ................................................... 156 Lampiran 23. Karya Siswa Kriya Kayu Dalam Gelar Karya Tugas Akhir Tahun Ajaran 2006/2007 . 158

xii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pendidikan nasional berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan upaya untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa serta agar pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang diatur dengan undang-undang yaitu Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pemerintah melalui Depdiknas menetapkan kebijaksanaan link and match yang berlaku pada semua jenis dan jenjang pendidikan di Indonesia. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan mendapat tugas langsung dari Menteri Pendidikan Nasional untuk mengembangkan dan melaksanakan penyelenggaraan pendidikan SMK dilaksanakan dalam 2 (dua) jalur yaitu pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Pelaksanaan pendidikan yang dilaksanakan dalam 2 (dua) jalur sebagai kajian tak terpisahkan dari kebijakan link and match dijadikan pola utama dan menjadi acuan dalam penyusunan kurikulum SMK 2004 dan dalam teknis pelaksanaannya disebut dengan Praktik Kerja Industri (Prakerin). Hasil penelitian Sunaryo (1996) menunjukkan bahwa tanggapan dunia industri dalam rangka program link and match pada indikator penyusunan program, penyusunan kurikulum, dan pelaksanaan pendidikan adalah cukup

1

2

positif dan cenderung bersedia terlibat langsung. Namun, kesediaan dunia industri dalam melakukan evaluasi dan pemasaran lulusan cenderung kurang karena mereka menganggap tidak memiliki keahlian pada bidang ini, sedangkan pemasaran lulusan merupakan suatu masalah rumit karena terjadi

ketidakseimbangan antara besarnya lulusan dengan daya tampung dunia industri untuk tenaga kerja. Menyikapi perkembangan dewasa ini muncul sinyalemen terjadi ketimpangan hubungan antara dunia kerja atau industri dengan sekolah. SMK disinyalir dalam melakukan proses pendidikan terhadap peserta didik kurang maksimal sehingga menghasilkan tamatan dengan kualitas rendah. Siswa dianggap kurang memahami kompleksitas masalah yang ada di industri. Sementara dunia kerja atau industri kurang optimal dalam menyerap tenaga kerja tamatan SMK, dunia industri lebih berminat mempekerjakan tenaga kerja yang sudah mempunyai pengalaman kerja yang bagus, sehingga tenaga kerja lulusan SMK tidak terpakai dan menganggur. Hal inilah yang memicu terjadinya ketimpangan antara dunia industri dengan dunia pendidikan, untuk itu diperlukan chek and balance. Sebagai upaya chek and balance antara dunia industri dan dunia pendidikan maka dilaksanakan praktik kerja industri (Prakerin) dengan tujuan untuk memperkenalkan siswa secara lebih mendalam tentang industri dengan tingkat kompleksitas masalah yang ada di dalamnya. Meski demikian, pelaksanaan Prakerin tidak luput dari masalah dan kendala yang sering didapati oleh industri di lapangan, yaitu : (1) ketidaksesuaian antara latar belakang disiplin ilmu siswa dengan dunia usaha tujuan bekerja,

3

(2) adanya proses penyesuaian diri oleh siswa pada tahap awal, dan (3) monitoring dari sekolah masih relatif kurang (Surunuddin, 1997). Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka peran serta dunia usaha dalam program Prakerin sangat diharapkan melalui aspek : (1) perencanaan Program Penyusunan Kurikulum; (2) penyelenggaraan Pendidikan; (3) evaluasi program dan hasil; serta (4) pemasaran Lulusan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993). Untuk model penyelenggaraan Prakerin itu sendiri secara garis besar yang berhasil disepakati antara sekolah dengan industri / perusahaan, yaitu : model day release, model block release, model hour release, atau kombinasi dari ketiganya. SMK N 2 Jepara merupakan Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ) Kelompok Teknologi dan Industri dengan beberapa Bidang Keahlian yang terdapat di dalamnya, salah satunya Bidang Keahlian Kriya Kayu yang telah cukup lama melaksanakan Prakerin yaitu sejak tahun pelajaran 1994 / 1995. Sesuai dengan sejarahnya, sekitar tahun 1962 di Jepara terdapat Sekolah Menengah dengan nama STM Dekorasi Ukir Jepara. Terhitung mulai tanggal 26 Mei 1979 dengan Surat Perintah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. :090/0/79 berdirilah SMIK ( Sekolah Menengah Industri Kerajianan ) dengan 3 (tiga) program studi yaitu ukir kayu, batik, logam, dan pogram studi keramik sudah disiapkan. Pada tanggal 13 Agustus 1983 dengan Surat Perintah Menteri Pendidiakan dan Kebudaayan No. : 136/Dirpt/83 SMIK berubah menjadi Sekolah Negeri dengan nama SMK N 2 di Jepara dengan jurusan : (1) logam, (2) kayu, (3) tektil, (4) keramik. Pada tanggal 28 April 2004, Ketua Badan Akreditasi Sekolah

4

Profinsi Jawa Tengah menetapkan bahwa SMK N 2 Jepara memperoleh akreditasi dengan predikat Akreditasi A ( Amat Baik ) dengan skor 86. Seiring dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, maka terhitung tanggal 1 Juli 2004 menambah Jurusan Busana dan Animasi dengan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. : 306/Set/DDT/04 tanggal 13 Juli 2004. Sesuai dengan disiplin ilmu yang peneliti miliki yaitu Teknik Bangunan yang kajiannya meliputi teknik perkayuan, maka timbul keinginan peneliti untuk mengetahui lebih jauh mengenai bagaimana pelaksanaan pendidikan pada Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara terutama dalam pelaksanaan Prakerin pada tahun pelajaran 2006 / 2007. 1.2 Fokus Penelitian Penentuan fokus suatu penelitian memiliki dua tujuan. Pertama, penetapan fokus dapat membatasi studi, jadi dalam hal ini fokus akan membatasi bidang inkuiri. Kedua, penetapan fokus ini berfungsi untuk memenuhi kriteria inklusieksklusi atau memasukkan mengeluarkan suatu informasi yang baru diperoleh (Moleong, 2005 : 94). Adapun fokus dari penelitian ini adalah Model Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) di SMK Bidang Keahlian Kriya Kayu. Karakteristik praktik kerja industri sebagai sistem penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kejuruan, didukung oleh beberapa faktor yang menjadi komponen-komponennya, yaitu Institusi Pasangan, Program Pendidikan dan Pelatihan Bersama, Kelembagaan Kerjasama, Nilai Tambah/ Kemanfaatan, dan Jaminan Keberlangsungan (Sustainability).

5

Institusi pasangan. Prakerin hanya mungkin dilaksanakan apabila terdapat kerjasama dan kesepakatan antara institusi pendidikan pelatihan kejuruan (dalam hal ini SMK Negeri 2 Jepara) dan institusi lain (industri/ perusahaan atau institusi lain yang berhubungan dengan lapangan) yang memiliki sumber daya untuk mengembangkan keahlian kejuruan, untuk bersama-sama menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan keahlian kejuruan. Institusi lain yang meningkatkan diri untuk bekerjasama dengan lembaga pendidikan-pelatihan kejuruan itu disebut Institusi Pasangan. Program pendidikan dan pelatihan bersama. Dalam Keputusan Mendikbud No.060 / U / 1993 tentang penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan dalam dua jalur yaitu pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Dan karena Prakerin pada dasarnya merupakan milik dan tanggung jawab bersama antara lembaga pendidikan-pelatihan kejuruan dan institusi pasangannya, maka program pendidikan yang akan digunakan harus merupakan program yang dirancang dan disepakati bersama oleh kedua belah-pihak. Program pendidikan dan pelatihan yang harus disepakati bersama, paling tidak meliputi : Standar Profesi (standar keahlian tamatan), Standar Pendidikan dan Pelatihan (materi, waktu dan pola pelaksanaan) dan sistem penilaian dan sertifikasi (jenis penilaian dan jenis sertifikat). Kelembagaan kerjasama. Prakerin pada dasarnya merupakan program bersama antara sekolah dan institusi pasangannya (dunia usaha / industri). Dengan keputusan bersama Mendikbud dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia No. 0267a/U/1994 dan No. 84/KU/X/1994 tanggal 17 Oktober 1994,

6

kebersamaan tersebut diatur dalam organisasi tingkat pusat di sebut Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, tingkat wilayah disebut Majelis Pendidikan Kejuruan Propinsi, dan tingkat sekolah disebut Majelis Sekolah. Kelembagaan kerjasama dalam penelitian ini hanya difokuskan pada kelembagaan kerja sama yang ada didalam sekolah (SMK N 2 Jepara), karena kelembagaan tersebut yang lebih mengetahui secara detail mengenai keseluruhan pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) di SMK N 2 Jepara khususnya pada Bidang Keahlian Kriya Kayu. Nilai tambah / kemanfaatan. Kerjasama antara SMK dan Dunia Usaha / Industri khususnya dalam pelaksanaan Prakerin dikembangkan dengan prinsip saling membantu, saling mengisi, dan saling melengkapi untuk kepentingan bersama. Berdasarkan prinsip ini, pelaksanaan Prakerin akan memberi nilai tambah bagi pihak-pihak yang bekerjasama (Industri/ Perusahaan, Sekolah dan Siswa). Jaminan keberlangsungan. Pelaksanaan Prakerin melibatkan banyak pihakpihak yang berkaitan dengan ketenagakerjaan, maka seharusnya dibuat pegangan untuk pelaksanaannya. Pelaksaaan tersebut disepakati melalui suatu Naskah Kerjasama Penyelenggaraan Prakerin antara organisasi Depdiknas dan industri/ perusahaan atau organisasi lain yang bersedia menjadi Institusi Pasangan. 1.3 Pertanyaan Penelitian Berdasarkan latar belakang permasalahan dan fokus penelitian maka diperoleh permasalahan sebagai berikut :

7

1. Bagaimanakah Persiapan Pelaksanaan Prakerin baik di Sekolah maupun di Industri / Perusahaan ? 2. Bagaimanakah Model Pelaksanaan Pendidikan pada Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara? 3. Bagaimanakah Model Pelaksanaan Pelatihan di Industri / Perusahaan pada kegiatan Prakerin Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara ? 4. Bagaimanakah Persepsi Tentang Kemanfaatan Pelaksanaan Prakerin bagi Industri / Perusahaan, bagi Sekolah dan bagi Siswa ? 1.4 Tujuan Penelitian Dalam penelitian ini tujuan yang hendak dicapai adalah : 1. Menjelaskan persiapan pelaksanaan Prakerin baik di sekolah maupun di

industri / perusahaan; 2. Menjelaskan model pelaksanaan pendidikan pada Bidang Keahlian Kriya

Kayu SMK N 2 Jepara dalam pelaksanaan Prakerin; 3. Menjelaskan model pelaksanaan pelatihan di Industri / Perusahaan pada Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara dalam pelaksanaan Prakerin; 4. Menjelaskan bagaimana persepsi tentang kemanfaatan pelaksanaan Prakerin bagi Industri / Perusahaan, bagi Sekolah dan bagi Peserta Didik (Siswa). 1.5 Manfaat Penelitian Dengan penelitian ini diharapkan dapat memperoleh manfaat sebagai berikut :

8

1.5.1 Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat mendukung pengembangan konsep link and match antara SMK dengan DUDI sebagai Institusi Mitra dalam pelaksanaan Prakerin. 1.5.2 Manfaat praktis 1. Bagi Sekolah Sebagai refleksi diri terhadap pelaksanaan Prakerin dan dijadikan sebagai acuan pelaksanaan diwaktu mendatang agar pelaksanaan yang sudah baik untuk dipertahankan dan untuk mengeliminir kemungkinan kesalahan dari pelaksanaan Prakerin yang akan datang. 2. Bagi Industri Dapat dijadikan sebagai dokumentasi penting terhadap pelaksanaan Prakerin dan industri akan lebih memahami tentang manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan Prakerin tersebut. 3. Bagi Siswa Siswa jadi lebih memahami dan mengetahui hal yang harus mereka lakukan dalam pelaksanaan Prakerin tersebut serta manfaat yang akan mereka peroleh. 1.6 Sistematika Skripsi Skripsi ini berisi tiga bagian, yaitu bagian pendahuluan, bagian isi skripsi, dan bagian akhir skripsi.

9

1.6.1 Bagian pendahuluan skripsi terdiri atas halaman judul, halaman pengesahan, abstrak, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran 1.6.2 Bagian kedua adalah bagian isi skripsi yang terdiri atas 5 bagian : BAB I : Pendahuluan, yang berisi latar belakang, fokus penelitian, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat

penelitian, dan sistematika skripsi. BAB II : Kajian pustaka, dalam kajian pustaka ini berisi tentang uraian teoritis atau pendapat para ahli tentang masalah yang berhubungan dengan judul skripsi, yaitu

hubungannya dengan Praktik Kerja Industri ( Prakerin ). BAB III : Metode penelitian, yang berisi : pendekatkan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subjek dan informan, prosedur pengumpulan data, analisis data dan pengecekan keabsahan data. BAB IV : Hasil penelitian dan pembahasan, yang berisi tentang hasil hasil penelitian dan pembahasan. BAB V : Penutup, yang berisi simpulan penelitian dan saran saran.

1.6.3 Pada bagian akhir skripsi berisi tentang daftar pustaka dan lampiranlampiran yang mendukung skripsi.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2.1.1 Pengertian Pendidikan Kejuruan Pendidikan kejuruan adalah suatu program pendidikan di berbagai jenjang yang bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan potensi awal kearah suatu pekerjaan atau karier ( Imam Budi S., 2005). Pendidikan kejuruan juga merupakan pendidikan yang mempersiapkan siswa untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Dalam konteks ini pengertian pendidikan nasional ditekankan pada lulusan yang mampu bekerja pada bidang tertentu sesuai dengan jurusannya. Masa pendidikan di SMK pada prinsipnya sama dengan masa pendidikan tingkat menengah lainnya yaitu 3 (tiga) tahun. Dengan mempertimbangkan keluasan dan jumlah kompetensi yang harus dipelajari, jika SKKNI menuntut masa pendidikan lebih dari tiga tahun, maka masa pendidikan dapat diperpanjang paling banyak 2 (dua) semester atau sampai dengan 4 (empat) tahun (Dikmenjur, 2004). 2.1.2 Tujuan Pendidikan Menengah Kejuruan Pendidikan kejuruan bertujuan untuk : (1) memenuhi kebutuhan masyarakat akan tenaga kerja; (2) meningkatkan pilihan pendidikan bagi tiap individu; (3) mendorong motifasi untuk belajar terus. SMK sebagai bentuk satuan pendidikan kejuruan sebagaimana ditegaskan dalam penjelasan pasal (15) UU Sisdiknas, merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu.

10

11

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 29 tahun 1990 merumuskan bahwa pendidikan menengah kejuruan bertujuan mengutamakan penyiapan siswa untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesional. 2.1.3 Struktur Kurikulum SMK SMK menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (diklat) berbagai program keahlian yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan kerja. Program keahlian tersebut dikelompokkan menjadi bidang keahlian sesuai dengan kelompok bidang industri/usaha/profesi. Penamaan bidang keahlian dan program keahlian pada Kurikulum SMK 2004 dikembangkan mengacu pada nama bidang dan program keahlian yang berlaku pada Kurikulum SMK 1999. Jenis keahlian baru diwadahi dengan jenis program keahlian baru atau spesialisasi baru pada program keahlian yang relevan. Jenis bidang dan program keahlian ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Substansi atau materi yang diajarkan di SMK disajikan dalam bentuk berbagai kompetensi yang dinilai penting dan perlu bagi peserta didik dalam menjalani kehidupan sesuai dengan zamannya. Kompetensi dimaksud meliputi kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi manusia Indonesia yang cerdas dan pekerja yang kompeten, sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan oleh industri/dunia usaha/asosiasi profesi. Untuk mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan oleh industri / dunia usaha / asosiasi profesi, substansi diklat dikemas dalam berbagai mata diklat

12

yang dikelompokkan dan diorganisasikan menjadi program normatif, adaptif, dan produktif (Dikmenjur, 2004). 2.2 Kurikulum SMK Bidang Keahlian Kriya Kayu 2.2.1 Pengertian Bidang Keahlian Kriya Kayu Bidang keahlian Kriya Kayu adalah bidang keahlian yang membekali peserta didiknya dengan keterampilan, pengetahuan dan sikap agar berkompeten dalam bidang mengolah bahan dasar dan terampil menggunakan permesinan. 2.2.2 Tujuan SMK Bidang Keahlian Kriya Kayu Tujuan Program Keahlian Kriya Kayu secara umum mengacu pada isi Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) pasal 3 mengenai Tujuan Pendidikan Nasional dan penjelasan pasal (15) yang menyebutkan bahwa pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Secara khusus tujuan Program Keahlian Kriya Kayu adalah membekali peserta didik dengan keterampilan, pengetahuan dan sikap agar kompeten dalam : a. mengolah bahan dasar atau material kayu menjadi suatu produk baru melalui proses pengerjaan, pembahanan, pengolahan dan penyelesaian akhir atau finishing, b. terampil menggunakan permesinan yang dipakai dalam membuat produk kerajinan kayu, c. mencetak perajin terampil yang berorientasi pada pemenuhan produk ekspor.

13

2.2.3 Kurikulum SMK Bidang Keahlian Kriya Kayu Kurikulum adalah substansi pembelajaran yang dirancang secara terstruktur dan dikemas dalam berbagai mata diklat yang dikelompokkan dalam program normatif, adaptif dan produktif. Pengorganisasian materi program normatif dan adaptif mengacu pada UU Sisdiknas No 20 tahun 2003 pasal 37, berupa nama mata diklat, sedangkan program produktif berupa nama kompetensi yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja nasional (SKKNI). Kurikulum adalah segala pengalaman yang diberikan oleh sekolah kepada seluruh anak didiknya, baik dilakukan di dalam sekolah maupun di luar sekolah (Suryosubroto,2004:32) Kurikulum yang digunakan peseta didik kelas III SMK N 2 Jepara adalah kurikulum 2004. Standar kompetensi yang digunakan sebagai acuan

pengembangan kurikulum Program Keahlian Kriya Kayu adalah Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) pada Bidang Kriya Kayu. Waktu pembelajaran efektif per tahun untuk tingkat I dan II minimum 40 minggu dan untuk tingkat III minimum 36 minggu, jam pembelajaran per minggu maksimum 50 jam @ 45 menit. Untuk jam pembelajaran disini merupakan alokasi waktu untuk pelaksanaan pembelajaran termasuk eveluasi sumatif. Evaluasi sumatif yang dimaksud adalah tes uuntuk satu atau beberapa pokok bahasan dalam program normatif dan adaptif, dan tes untuk setiap pencapaian suatu kompetensi tertentu dalam program produktif. Pelaporan administratif dan akademik kemajuan program pendidikan dilakukan setiap semester atau minimal 2 kali setiap tahun pembelajaran. Alokasi waktu pembelajaran praktik dalam

14

program produktif minimum 70 % dan untuk teorinya maksimum 30 %. Untuk pengaturan waktu pembelajaran dalam bentuk jadwal mingguan dalam 1 tahun dilakukan dengan memperhatikan;(1) keutuhan dan ketuntasan penguasaan kompetensi; (2) kesinambungan proses pembelajaran; dan (3) efisiensi penggunaan sumber daya pendidikan. Struktur kurikulum yang digunakan SMK N 2 Jepara Bidang Keahlian Kriya Kayu dapat dilihat pada lampiran 8. 2.3 Silabus Dalam Kriya Kayu Untuk siswa kelas III Kriya Kayu ada dua macam silabus. Untuk mata pelajaran normatif dan adatif mengacu pada UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 pasal 37 berupa mata diklat, sedangkan untuk mata program produktif berupa nama kompetensi yang mengacu pada SKKNI yang disesuaikan dengan industri tempat siswa melaksanakan Prakerin dan tempat pelaksanaan mata diklat produktif saat siswa berada di industri dengan mengunakan alokasi waktu mata pelajaran produktif. Hal-hal yang harus ada dalam penyusunan silabus kriya kayu adalah : a. jenis kompetensi kerja, b. kode kompetensi c. durasi pembelajaran d. kondisi kerja e. sub kompetensi f. kriteria kinerja g. lingkup belajar

15

h. materi pokok pembelajaran yang di dalamnya terdiri dari sikap, pengetahuan dan keterampilan. Silabus yang digunakan saat prakerin disesuaikan dengan jenis produksi perusahaan tempat siswa melaksanakan Prakerin. 2.4 Praktik Kerja Industri (Prakerin) 2.4.1 Tinjauan Tentang Prakerin 2.4.1.1 Pengertian Praktik Kerja Industri Praktik kerja industri (Prakerin) merupakan bagian dari program bersama antara SMK dan Industri yang dilaksanakan di dunia industri. Praktik Kerja Industri (Prakerin) dapat diartikan sebagai suatu saat di mana seseorang bekerja dibawah bimbingan orang yang sudah berpengalaman dalam rangka untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yamg diperlukan untuk memperoleh lapangan pekerjaan dalam jangka waku yang telah ditentukan. 2.4.1.2 Landasan Hukum Prakerin Dalam pelaksanaan pendidikan yang berlaku di Indonesia harus mempertimbangkan nilai kemanfaatan bagi lingkungan pendidikan khususnya bagi peserta didik. Untuk menunjang tujuan dari pendidikan itu sendiri maka harus ada landasan hukum yang menjadi acuan atau patokan dalam pelaksanaan pendidikan. Dalam pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, Kepmen Pendidikan dan Kebudayaan No. 323/U/1997tentang penyelenggaraan Prakerin SMK, PP No.29 tahun 1990 tentang pendidikan Pendidikan Menengah, Kepmen Pendidikan dan Kebudayaan No. 080/U/1993 tentang Kurikulum SMK (UNNES.2006:126)

16

2.4.1.3 Tujuan Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) Praktik kerja industri (Prakerin) sebagai usaha peningkatan kualitas lulusan mempunyai tujuan agar siswa dapat : a. meningkatkan, memperluas dan menetapkan keterampilan yang membentuk kemampuan siswa sebagai bekal untuk memasuki lapangan yang sesuai dengan program studi yang dipilihnya; b. menumbuh kembangkan dan memantapkan sikap profesional yang diperlukan siswa untuk memasuki lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahlian masing-masing; c. meningkatkan pengalaman siswa pada aspek-aspek usaha yang potensial dalam lapangan kerja; d. memberikan kesempatan pada siswa untuk memasyarakatkan diri pada suasana lingkungan kerja yang sesungguhnya, baik sebagai pekerja, penerima upah, jenjang karier, manajemen usaha; e. meningkatkan, memperluas dan memantapkan proses penyerapan teknologi dari lapangan kerja ke sekolah; f. memperoleh masukan dan umpan balik guna memperbaiki dan

mengembangkan kesesuaian pendidikan kejuruan; g. memberikan peluang masuk penempatan tamatan dan kerja sama. 2.4.2 Kelembagaan Kerja Sama 2.4.2.1 Majelis Sekolah Praktik Kerja Industri (Prakerin) sebagai program kerja sama antara sekolah sebagai penyelenggara lembaga pendidikan kejuruan dengan dunia usaha sebagai

17

mitra usaha dalam membentuk peserta didiknya supaya menguasai keahlian profesi. Pola hubungan ini dikoordinasikan melalui Majelis Sekolah. Secara lebih jelas pola hubungan antara Sekolah, Majelis Sekolah dan dunia usaha (perhatikan gambar 2.1)MAJELIS SEKOLAH1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Dep. Perindustrian Dep. Pendidikan Nasional Kamar Dagang Industri Dep. Tenaga Kerja Dep. Koperasi Pemerintah Daerah Asosiasi Profesi Organisasi Pekerja

INDUSTRI PASANGAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI SMK1. 2. 3. 4. 5. 6. Standar Profesi / Silabus Pelaksanaan Pengawasan Mutu Uji profesi Sertifikasi Pemasaran

TAMATAN BERKUALITAS PROFESIONAL

Sumber : Lembaran Ilmu Kependidikan Gambar 2.1 Bagan Hubungan Majelis Sekolah Dengan Dunia Industri 2.4.2.2 Wakil Kepala Sekolah Hubungan Masyarakat dan Industri ( Wakasek Humasind ) Wakasek Humasind bertanggung jawab kepada Kepala Sekolah atas terlaksananya kerjasama dengan industri/ masyarakat dalam mendukung pelaksanaan Prakerin dan unit produksi, dengan tugas-tugas sebagai berikut; (1)

18

menyusun

program

kerja

hubungan

masyarakat

dan

industri

dan

mengkoordinasikan pelaksanaannya, (2) mengkoordinasikan kegiatan dalam menjalin dan membina kerjasama sekolah dengan industri, masyarakat ataupun instansi pemerintah sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap sekolah, (3) mengarahkan Pokja agar berfungsi sebagaimana mestinya, (4) mengarahkan unit produksi agar usahanya dapat berkembang, (5) mempromosikan sekolah dan lulusannya kepada industri/ masyarakat, dan (6) memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. 2.4.3 Model Pelaksanaan Prakerin Model pelaksanaan Prakerin adalah pola yang menyangkut tentang tata cara pelaksanaan Prakerin mulai dari tahapan persiapan, pelaksanan dan tahap penarikan siswa dari industri dengan alokasi waktu yang telah terstruktur. Model pengaturan penyelenggaraan program, khususnya yang menyangkut tentang kapan dilaksanakan di lembaga pendidikan (di SMK) dan kapan di institusi pasangannya. Secara garis besar model atau pola penyelenggaraan itu dapat berbentuk day release, berbentuk block release, berbentuk hour release, atau kombinasi dari ketiganya. (Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 1996) Dalam bentuk penyelenggaraan day release disepakati bersama dari 6 hari belajar dalam satu minggu, 5 hari di institusi pasangan dan 1 hari di sekolah. Dalam penyelenggaraan block release disepakati bersama bulan / semester mana di institusi pasangan, dan bulan / semester mana di sekolah. Dalam penyelenggaraan hour release disepakati jam-jam belajar yang harus dibagi dua antara jam belajar di sekolah dengan jam bekerja di industri. Keistimewaan model day release adalah selain melaksanakan praktik di industri, siswa juga masih bisa mendapatkan materi sesuai tuntutan kurikulum walaupun prosentasenya rendah.

19

Model block release mempunyai keistimewaan yang hampir sama demgan day release sama-sama mempunyai waktu yang dibagi antara di sekolah dan di industri, namun jangka waktu diberikan pada siswa berada di industri untuk berkonsentrasi dalam Prakerin lebih besar. Sedangkan model hour release mempunyai kelebihan siswa tidak melupakan materi di sekolah dan tetap dapat mengikuti Prakerin di industri. Namun ketiga model pelaksanaan Prakerin tersebut mempunyai

kelemahan. Dalam bentuk penyelenggaraan day release mempunyai kekurangan yaitu konsentrasi siswa akan terbagi antara kegiatan Prakerin di industri dengan pembelajaran di sekolah. Dalam betuk penyelenggaraan block release siswa difokuskan melaksanakan praktik di indusri 6 hari dalam seminggu dengan waktu pelaksanaan 8 bulan. Bentuk block release tidak cocok diterapkan karena materi yang sesuai dengan tuntutan kurikulum tidak tercapai dan pelaksanaan evaluasi secara tatap muka oleh sekolah juga sulit dilakukan. Sedangkan untuk model hour release akan konsentrasi siswa akan terbagi karena proses pembelajaran yang terbagi dengan Prakerin di industri dalam hari yang sama. Maka untuk menyelenggarakan Prakerin, sekolah harus

mempertimbangkan beberapa hal. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan dan menyepakati pola penyelenggaraan ini, yaitu: (1) komponen pendidikan normatif , komponen pendidikan adaptif, dan sub komponen teori kejuruan, pada umumnya dapat dilaksanakan sepenuhnya di sekolah; (2) sub komponen praktik dasar kejuruan, dapat dilaksanakan di sekolah, dan dapat pula dilaksanakan di institusi pasangan (industri / perusahaan) sejauh memiliki fasilitas

20

yang memungkinkan keterlaksanaannya, atau di kedua tempat tersebut sesuai dengan ketersediaan sumber daya yang diperlukan di kedua-belah pihak; (3) sub komponen praktik keahlian produktif, hanya dapat dilaksanakan di institusi pasangan (industri / perusahaan) dimana proses bekerja yang sesungguhnya berlangsung. Pada batas-batas tertentu, kegiatan ini dapat dilaksanakan di Unit Produksi SMK yang telah beroperasi secara professional (perhatikan gambar 2.2).

Model Block Release I (1) (2) (3a) (3b) II (1) (2) (3c) (3c) (3a) (3b) III (1)

Dalam penyelenggaraan block release disepakati bersama bulan / semester mana di industri dan bulan / semester mana ada di sekolah pada saat kelas III.

Model Day Release I (1) (2) (3a) (3b) II (1) (2) (3a) (3b) III (1) (2) (3c) (3c) (3c) (3c) Per Minggu Dalam Satu Bulan 1 3c 3c 3c 3c Prakerin model day release pelaksanaannya pada saat kelas III. 3c 2 3c 3c 3c 3c 3c 1 3c 3c 3c 3c 3c 2 3c 3c 3c 3c 3c

Dalam penyelenggaraan day release disepakati bersama dari 6 hari dalam satu minggu, 1 hari di sekolah dan 5 hari di industri.

21

Model Hour Release I (1) (2) (3a) (3b) II (1) (2) (3a) (3b) III (1) (2) 3c (3c) (3c) 1 3c 1 Prakerin model hour release dilaksanakan pada tahun ketiga. 3c 1 3c 1 3c 1 3c 3c 2 3c 2 3c 2 3c 2 3c 2 3c 3c 1 3c 1 3c 1 3c 1 3c 1 3c 3c 2 3c 2 3c 2 3c 2 3c 2 3c Per Hari Dalam Satu minggu

1

2

1

2

Dalam penyelenggaraan hour release disepakati dengan industri bahwa pengunaan jam pembelajaran di sekolah dibagi dengan Prakerin di industri. Keterangan (1) Kemampuan Normatif, (2) Kemampuan Adaptif, (3a) Teori Kejuruan, (3b) Praktik Dasar Kejuruan dan (3c) Praktik Keahlian Produktif, : Sekolah : Industri/ Dunia Usaha

Gambar 2.2 Gambar Model Pelaksanaan Prakerin

22

Catatan : Model day release, block release, dan hour release tersebut di atas dapat dikembangkan sesuai dengan kesepakatan antara SMK dengan institusi pasangannya, dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Program pendidikan komponen 1, 2 dan 3 (3a, 3b dan 3c) pada dasarnya merupakan program bersama antara SMK dan institusi pasangannya. Dalam Pelaksanaan Prakerin, isi program ketiga komponen tersebut dibahas dan disepakati bersama, termasuk cara penyelenggaraannya; bagian mana yang diselenggarakan di sekolah dan bagian mana yang diselenggarakan di institusi pasangan (industri / perusahaan). 2. Program pendidikan subkomponen (3a) dan (3b), harus betul-betul diperkuat pada tahun I dan tahun II, agar pada tahun III siswa benar-benar dalam keadaan siapun untuk memasuki kegiatan produks / bekerja langsung di industri / dunia usaha. 3. Program pendidikan subkomponen (3c) dalam bentuk bekerja langsung pada lini produksi, pada dasarnya dilaksanakan sepenuhnya di institusi pasangan sesuai dengan jumlah waktu yang ditetapkan untuk menguasai keahlian produktif. Apabila industri / perusahaan yang menjadi pasangan hanya siap menerima siswa untuk sebagian waktu yang dipersyaratkan, maka sisa sebagian waktu yang lainnya harus diusahakan digunakan untuk praktik/ bekerja di industri/ perusahaan lain, setidak-tidaknya dalam kegiatan unit produksi di sekolah. (Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 1996) 2.4.4 Standar Profesi (Standar Keahlian Tamatan) Untuk memberlakukan Prakerin dalam dunia industri juga mampunyai standar tertentu yang harus dipatuhi agar tujuan dari pelaksanaanya dapat tercapai. Standar tersebut mengandung nilai-nilai tentang profesionalitas dengan artian bahwa program pendidiakn kejuruan harus jelas mengacu pada tercapainya keahlian peserta didik sesuai dengan bidangnya yang selaras dengan tuntutan yang diharapkan dalam dunia industri. Standar yang dimaksud mencakup 4 point dasar yaitu : (1) aspek pendidikan umum yang membentuk kemampuan peserta didik agar menjadi warga negara yang baik dan memiliki karakteristik sebagai bangsa Indonesia; (2) aspek pendidikan dasar yang menunjang pembentukan kemampuan adaptif, yaitu memberi bekal penunjang untuk menguasai keahlian profesi dan

23

bekal kemampuan untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; (3) aspek pendidikan dasar profesi, yatu membentuk peserta didik untuk menguasai pengetahuan dan teknik dasar keahlian profesi; (4) aspek pelatihan keahlian dengan cara bekerja langsung di dunia industri secara terprogram untuk membentuk kemampuan profesi yang diminati. Dari keempat point dasar tersebut dapat digambarkan dalam bagan alur pembentukan kerja profesi (perhatikan gambar 2.3) Pendidikan Umum Kemampuan Pendidikan dasar profesi :Kemampuan Teknik Dasar dan Keahlian Profesi ( di sekolah atau DUDI )

Kemampuan Profesiaonal (Keterampilan produktif)

Pendidikan Dasar Penunjang

Pelatihan Keahlian Kemampuan Sumber : Lembaran Ilmu Kependidikan Gambar 2.3 Bagan Pembentukan Kerja Profesi

2.4.5 Model Pelaksanaan Pendidikan di Sekolah Materi pendidikan yang dipelajari di sekolah meliputi: (1) komponen Pendidikan Umum (Normatif), dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi warga negara yang baik, yang memiliki watak dan kepribadian sebagai warga Negara dan bangsa Indonesia; (2) komponen Pendidikan Dasar (Adaptif),

24

untuk memberi bekal penunjang bagi penguasaan keahlian profesi dan bekal kemampuan pengembangan diri untuk mengikuti perekembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi; (3) komponen Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan, berisi materi yang berkaitan dengan pembentukan kemampuan keahlian tertentu sesuai program keahlian masing-masing untuk bekal memasuki dunia kerja, dengan subkomponen : Teori Kejuruan; untuk membekali pengetahuan tentang teori kejuruan bidang keahlian yang bersangkutan, dan Praktik Dasar Kejuruan; yaitu berupa latihan dasar untuk menguasai dasar-dasar teknik bekerja secara baik dan benar sesuai dengan persyaratan keahlian profesi. (Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 1996) Media dan metode yang digunakan pada tiap-tiap bentuk pembelajaran seharusnya mengikuti kebutuhan dari pembelajaran tersebut yang bertujuan untuk memberi kemudahan bagi pelaksana (guru) dalam menyampaikan materi pembelajaran pembelajaran. 2.4.6 Model Pelaksanaan Pelatihan di Industri Materi pelatihan di industri tidak terlepas dari pertimbangan isi atau materi kurikulum yang berlaku secara utuh yang berupa ; Komponen Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan; berisi materi yang berkaitan dengan pembentukan kemampuan keahlian tertentu sesuai program studi masing-masing untuk bekal memasuki dunia kerja yang sebenarnya, dengan sub komponen yang berupa Praktik Keahlian Produktif; yaitu berupa kegiatan bekerja langsung secara maupun bagi penerima (siswa) dalam menyerap materi

25

terprogram dalam situasi sebenarnya, untuk mencapai tingkat keahlian dan sikap kerja professional (Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 1996). Untuk waktu praktik kerja di industri diatur sebagai berikut : (1) minimum 3 bulan kerja, mengikuti minggu dan jam kerja industri; (2) boleh lebih dari 3 bulan kerja jika kegiatan bekerja di industri memberi nilai tambah yang lebih tinggi bagi industri maupun bagi siswa yang bersangkutan; (3) kegiatan di industri dapat dimulai dari tingkat I dengan catatan industri yang bersangkutan mampu memberi keterampilan dasar dan sebaiknya tidak langsung kerja di dunia produksi. 2.4.7 Jenis Penilaian Pada pelaksanaan Prakerin di SMK, terdapat 2 (dua) jenis penilaian yang paling dominan dan dituntut harus terjadi, yaitu : Penilaian Hasil Belajar dan Penilaian Penguasaan Keahlian. (1) Penilaian Hasil Belajar, adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui tingkat pencapaian penguasaan hasil belajar siswa berdasarkan program (kurikulum) yang berlaku, biasanya dilaksanakan pada akhir satuan waktu tertentu. Penilaian hasil belajar terutama dimaksudkan untuk mempertimbangkan dan menetapkan berhasil atau tidaknya siswa dalam menempuh mata pelajaran. Penilaian ini dapat dilaksanakan secara bertahap berdasarkan satuan-satuan (unit) materi yang dipelajari, atau dapat pula dilaksanakan secara menyeluruh (comprehensive) terhadap penguasaan kinerja (performance) tertentu. (2) Penilaian Penguasaan Keahlian, adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui tingkat penguasaan seseorang terhadap kemampuan-kemampuan

26

(competencies) yang dipersyaratkan untuk dinyatakan ahli dan berwenang melaksanakan tugas/ pekerjaan tertentu, berdasarkan ketentuan atau standar yang berlaku di lapangan kerja. Berdasarkan standar yang digunakan dan proses pengukurannya, penilaian penguasaan keahlian digolongkan menjadi: (1) ujian kompetensi, yaitu suatu proses pengukuran dan penilaian penguasaan keahlian seseorang berdasarkan penguasaannya terhadap kemampuan-kemampuan (competencies) dipersyaratkan dan berlaku di perusahaan/ industri tertentu (enterprise standard) dan atau atas dasar tuntutan kebutuhan lapangan kerja tertentu. (2) uji profesi, yaitu suatu proses pengukuran dan penilaian penguasaan keahlian seseorang, berdasarkan penguasaannya terhadap standar kemampuan (competencies) yang dipersyaratkan untuk dinyatakan ahli dan berwenang (profesional) pada bidang pekerjaan tertentu, sesuai dengan standar resmi (baku) yang berlaku pada suatu jenis keahlian (profesi) tertentu. (Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 1996) 2.4.8 Jenis Sertifikat Sesuai dengan pengelompokkan jenis penilaian di atas maka jenis-jenis sertifikat dalam pelaksanaan prakerin pada SMK dibagi menjadi : (1) ijazah atau Surat Tanda Tamat Belajar (STTB), yaitu keterangan yang menjelaskan bahwa pemiliknya telah selesai mengikuti pendidikan pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Ijazah atau STTB ini diberikan kepada setiap siswa SMK sesuai dengan ketentuan aturan persekolahan yang berlaku, oleh karena itu kewenangan untuk mengeluarkan STTB sepenuhnya berada pada pihak SMK, dan institusi pasangan tidak ikut terlibat; (2) sertifikat, yaitu keterangan yang menjelaskan bahwa

27

pemiliknya telah berhasil menguasai kemampuan/ keahlian tertentu. Sertifikat ini ada dua macam, yaitu sertifikat Praktik Kerja Industri (Prakerin) dan sertifikat kompetensi. Sertifikat Prakerin diberikan kepada setiap siswa SMK sesuai dengan aturan industri/ perusahaan tertentu, oleh karena itu kewenangan untuk mengeluarkan sertifikat sepenuhnya berada pada pihak industri/ perusahaan, dan pihak SMK tidak ikut terlibat. Sertifikat kompetensi diberikan kepada setiap siswa SMK yang mengacu pada standar kompetensi nasional Indonesia dan/atau Internasional. (Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 1996) Sertifikat kompetensi diberikan oleh penyelenggara pendidikan dan lembaga pelatihan kepada peserta didik dan warga masyarakat sebagai pengakuan terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi.(Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi). 2.5 Persepsi Terhadap Kemanfaatan Pelaksanaan Prakerin Dalam rangka mensukseskan pembangunan perlu adanya kerjasama yang erat dan permanen antara dunia pendidikan kejuruan dan dunia usaha pada umumnya dalam rangka memenuhi tenaga kerja yang cakap dan terampil bagi keperluan pembangunan di berbagai bidang tanpa merugikan dunia usaha. Bahkan dengan kerjasama ini diharapkan memiliki nilai tambah segi tiga antara dunia usaha, sekolah dan peserta didik itu sendiri. Kerjasama antara SMK dan Dunia Usaha / Industri, khususnya dalam pelaksanaan Prakerin, dikembangkan dengan prinsip saling membantu, saling mengisi, dan saling melengkapi untuk

28

keuntungan bersama. Berdasarkan prinsip ini, pelaksanaan Prakerin akan memberi nilai tambah bagi pihak-pihak yang bekerjasama. Nilai tambah bagi dunia usaha adalah, (1) institusi pasangan dapat mengetahui secara tepat kualitas peserta didik yang belajar dan bekerja di perusahaannya, bila perusahaan menilainya bisa menjadi asset, dapat direkrut menjadi tenaga kerja di perusahaan tersebut, bila tidak perusahaan dapat melepasnya, karena tidak ada keharusan bagi institusi pasangan untuk mempekerjakan peserta didik di perusahaan / industri yang bersangkutan setelah mereka tamat, (2) pada umumnya peserta didik telah aktif ikut dalam proses produksi, sehingga pada batas-batas tertentu selama masa pendidikan, peserta didik adalah tenaga kerja yang dapat memberikan keuntungan, (3) selama proses pendidikan melalui bekerja di industri, peserta didik lebih mudah diatur dalam disiplin, seperti kepatuhan terhadap aturan perusahaan, karena itu sikap dan perilaku kerja peserta didik dapat dibentuk sesuai dengan ciri khas dan tuntutan Institusi pasangan, (4) institusi pasangan dapat memberi tugas kepada peserta didik untuk mencari ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang relevan, dan (5) memberi kepuasan bagi dunia usaha karena ikut serta menentukan hari depan bangsa melalui Praktik Kerja Industri. Nilai tambah bagi sekolah adalah lebih terjaminnya pencapaian: (1) tujuan utama pendidikan kejuruan untuk memberi keahlian professional bagi peserta didik (siswa) dalam memasuki dunia kerja, (2) permasalahan biaya, sarana, dan prasarana pendidikan yang selama ini menjadi keluhan dalam upaya peningkatan mutu, dapat diatasi bersama oleh sekolah dan peranserta masyarakat, khususnya

29

Institusi Pasangan, (3) terdapat kesesuaian dan kesepadanan yang pas, antara program pendidikan dan kebutuhan lapangan kerja (sesuai dengan prinsip link and match), dan (4) memberi kepuasan bagi penyelenggara pendidikan kejuruan (SMK dan para pelaku lainnya), karena tamatannya lebih terjamin memperoleh bekal keahlian yang bermakna; baik untuk kepentingan tamatan yang bersangkutan, untuk kepentingan dunia kerja maupun untuk kepentingan pembangunan bangsa pada umumnya. Nilai tambah bagi peserta didik adalah : (1) hasil belajar akan lebih bermakna, karena setelah tamat akan betul-betul memiliki bekal keahlian professional untuk terjun ke lapangan kerja sehingga dapat meningkatkan taraf kehidupannya, dan mereka memiliki keahlian sebagai bekal untuk

mengembangkan diri secara berkelanjutan, (2) rentang waktu (Lead-time) untuk mencapai keahlian professional menjadi singkat, karena setelah tamat Prakerin tidak memerlukan waktu latihan lanjutan untuk mencapai tingkat keahlian siap pakai, (3) keahlian professional yang diperoleh melalui Prakerin dapat mengangkat harga dan percaya diri tamatan, yang selanjutnya dapat mendorong mereka untuk meningkatkan keahlian profesionalnya pada tingkat yang lebih tinggi (Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 1996).

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian Sebelum penelitian dilaksanakan terlebih dahulu ditetapkan langkahlangkah pendekatan penelitian. Langkah pendekatan penelitian ini ditetapkan sebagai acuan atau pedoman dalam pelaksanaan di lapangan, sehingga data yang diambil sesuai dengan tujuan penelitian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, pendekatan kualitatif bertujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala secara holistikkontekstual (menyeluruh dan sesuai konteks) melalui pengumpulan data dari latar alami sebagai sumber instrumen kunci peneliti itu sendiri (Suyitno, 1996 : 5). Hal-hal yang menyangkut penelitian kualitatif adalah sebagai berikut: (1) bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif; (2) proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan; dan (3) laporan berbentuk narasi, kreatif, mendalam dan menunjukkan ciri naturalistik yang penuh keotentikan. (Suyitno, 1996 : 4). Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana model pelaksanaan dari Prakerin pada Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara Tahun Ajaran 2006 / 2007, dari segi Persiapan Pelaksanaan di sekolah dan di Industri, Program Pendidikan dan Pelatihan bersama, Kelembagaan Kerjasama, Nilai Tambah/ Kemanfaatan, dan Jaminan Keberlangsungan (Sustainability). Setelah data terkumpul, data tersebut disusun, dianalisis dan disimpulkan kemudian disajikan dalam bentuk laporan. Pendekatan kualitatif diharapkan dapat mengetahui, memahami, menjelaskan serta dapat mendeskripsikan tentang proses

30

31

dan hasil yang telah dicapai, sehingga data yang berupa uraian dapat disajikan secara mendalam dan menyeluruh. 3.2 Lokasi Penelitian Penetapan lokasi penelitian sangat penting dalam rangka mempertanggungjawabkan data yang diperoleh. Maka lokasi penelitian perlu ditetapkan terlebih dahulu. Adapun dalam penelitian ini mengambil lokasi di SMK N 2 Jepara Jln. Sosrokartono No. 1 Jepara 59415. Denah lokasi SMK N 2 Jepara yang digunakan sebagai objek penelitian :

Jalan Jepara - Bangsri Musium Jepara Radio Kartini SMK N 2 JEPARA

Alun alun

Kantor Bupati

Masjid

Jln Pemuda

Jalan Jepara - Kudus

SMU N 1 JEPARA

Pos Polisi

Dari Semarang

3.3 Sumber dan Informan Sumber adalah pelaku, sebagai subyek dalam penelitian ini adalah sekolah (SMK) sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan pendidikan di sekolah dan institusi mitra (industri / perusahaan) sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan pelatihan kerja yang sesungguhnya bagi siswa dalam pelaksanaan Prakerin.

32

Informan adalah sumber data yang berupa orang. Orang yang dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan keterangan yang diperlukan untuk melengkapi atau memperjelas jawaban dari responden. Dalam penelitian ini informan yang dimaksud kadang juga bertindak sebagai responden. Untuk keabsahan informasi maka tidak cukup bila informasi didapat dari satu informan saja, untuk itu perlu diambil informasi dari beberapa informan yang memahami tentang subjek yang dimaksud. Informan utama dalam penelitian ini yaitu Drs. Suyoto sebagai Ketua Pokja Prakerin SMK N 2 Jepara, Drs. Sunarto sebagai Wakil Kepala Sekolah bagian Hubungan Industri (Waka Hubind) dan Drs.Asy Ari sebagai Wakil Kepala Sekolah Kurikulum. Kemudian untuk informan pendukung adalah Muh Zaidi, SPd. sebagai Bendahara Pokja Prakerin SMK N 2 Jepara, Drs. Basuki sebagai Sekretaris, Guru-guru pengajar pembelajaran normatif, adaptif dan produktif pada Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara, Petugas Monitoring, Pembimbing Lapangan siswa di lokasi pelaksanaan Prakerin serta siswa tahap satu dan tahap dua. 3.4 Prosedur Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam rangka penelitian. Pengumpulan data akan berpengaruh pada langkah-langkah berikutnya sampai pada penarikan kesimpulan. Sangat pentingnya proses pengumpulan data ini, maka diperlukan teknik yang benar untuk memperoleh data-data yang akurat, relevan dan dapat dipercaya kebenarannya. Dalam penelitian guna mendapatkan informasi yang diharapkan, pengumpulan data dilakukan melalui :

33

3.4.1 Wawancara (interview) Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan ini dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewer) yang memberi jawaban atas pertanyaan (Moleong, 2005 : 186). Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tak terstruktur atau wawancara bebas terpimpin, yaitu wawancara dengan membuat pedoman pertanyaan yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang menghendaki jawaban yang luas. Wawancara ini dapat dikembangkan apabila dianggap perlu agar mendapat informasi yang lebih lengkap, atau dapat pula dihentikan apabila dirasakan telah cukup informasi yang didapatkan atau diharapkan. Seperti yang dituliskan Mulyana, 2001:181, metode ini bertujuan memperoleh bentuk-bentuk tertentu informasi dari semua responden, tetapi susunan kata dan urutannya disesuaikan dengan ciri-ciri setiap responden. Wawancara tak terstruktur bersifat luwes, susunan pertanyaan dan susunan katakata dalam setiap pertanyaan dapat diubah pada saat wawancara, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi saat wawancara. Tidak ada kriteria baku mengenai berapa jumlah responden yang harus diwawancarai, sebagai aturan umum, peneliti berhenti melakukan wawancara sampai data menjadi jenuh, artinya peneliti tidak menemukan aspek baru dalam fenomena yang diteliti. Dengan kata lain, sebagaimana ditegaskan Mulyana, peneliti berhenti mewawancarai, hingga mereka bertindak dan berpikir sebagai anggota-anggota dari kelompok yang sedang diteliti. Menurut Douglas dalam bukunya Mulyana, begitu pewawancara merasa mereka menemukan pandangan yang memadai, mereka harus aktif mencari contoh-contoh negatif, yaitu kasus-kasus yang tidak sesuai dengan pola-pola yang anda temukan.

34

Dalam wawancara tak terstruktur ini dimulai dengan kata tanya bersifat terbuka, seperti bagaimana, apakah, dan mengapa (pertanyaan bahkan dapat diajukan dalam bahasa sehari-hari, bila diyakini bahwa responden akan lebih terbuka). Wawancara dengan Waka Hubin Drs. Sunarto dilakukan pada tanggal 25 dan 29 November 2006, 2 dan 7 Desember 2006 dan 2 Januari 2007 mengenai kinerja urusan Hubungan Industri, kinerja Pokja Prakerin dan persiapan serta pelaksanaan Prakerin. Wawancara dengan Waka Kurikulum Drs. Asy Ari dilakukan pada tanggal 27 Desember 2006, 3 dan 5 Januari 2007 mengenai pelaksanaan pendidikan di sekolah dan proses IHT Kurikulum, pelaksanaan pembelajran di sekolah dan persiapan Prakerin. Wawancara dengan Ketua Pokja Prakerin SMK N 2 Jepara Drs. Suyoto dilakukan pada tanggal 25 November 2006, 1 Januari 2007 mengenai Kelembagaan Prakerin di sekolah dan kinerjanya, proses In House Training (IHT) Kurikulum serta pelaksanaan pelatihan di Industri / Perusahaan. Wawancara dengan Bendahara Pokja Prakerin SMK N 2 Jepara Muh. Zaidi, S.Pd. dilakukan pada tanggal 30 November 2006 dan 1 Desember 2006 mengenai Program Kerja Prakerin. Wawancara dengan Sekretaris Pokja Prakerin Drs. Basuki dilakukan pada tanggal 30 November 2006 dan 3 Desember 2006 mengenai Program Kerja Prakerin. Wawancara dengan guru-guru pembelajaran normatif dilakukan pada tanggal 29 Desember 2006 dan 2 Januari 2007 mengenai pelaksanaan pendidikan di sekolah dan proses IHT Kurikulum. Wawancara dengan guru-guru pembelajaran adaptif dilakukan pada tanggal 29 Desember 2006 dan 2 Januari

35

2007 mengenai pelaksanaan pendidikan di sekolah dan proses IHT Kurikulum. Wawancara dengan guru-guru pembelajaran produktif dilakukan pada tanggal 1 Desember 2006 dan 2 Januari 2007 mengenai palaksanaan pendidikan di sekolah dan proses IHT Kurikulum. Wawancara dengan tim monitoring dilakukan pada tanggal 1 dan 4 Desember 2006 mengenai kinerja petugas monitoring. Wawancara dengan pembimbing-pembimbing lapangan dilakukan pada tanggal 4, 6, dan 12 Desember 2006 mengenai pelaksanaan pelatihan di Industri / Perusahaan (Prakerin). Wawancara dengan siswa peserta Prakerin dilakukan pada tanggal 4, 6, 12, 14 dan 15 Desember 2006 mengenai pelaksanaan pendidikan di sekolah dan pelaksanaan pelatihan di Industri/ Perusahaan (pelaksanaan Prakerin). Melalui wawancara tersebut diharapkan mendapatkan gambaran dan pengertian yang nyata dari model pelaksanaan Prakerin pada Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara pada Tahun Ajaran 2006/2007. Wawancara ini dapat juga berguna untuk mendeskripsikan suatu objek penelitian disamping data atau suatu informasi pendukung lain. 3.4.2 Observasi Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling tepat adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen (Arikunto, 2002 : 204). Dalam penelitian ini menggunakan metode observasi langsung yaitu di SMK N 2 Jepara pada Bidang Keahlian Kriya Kayu dan pada Institusi Mitra yang menjadi tempat siswa melakukan praktek pelaksanaan Prakerin. Pengamatan dilakukan sendiri secara langsung ditempat yang menjadi objek penelitian. Objek

36

yang diamati adalah model pelaksanaan prakerin dari segi pelaksanaan pendidikan di sekolah dan pelatihan di Industri / Perusahaan serta faktor-faktor yang mempengaruhi adanya kegiatan tersebut. Observasi terhadap pelaksanaan pendidikan di sekolah dilakukan pada tanggal 23 dan 25 November 2006. Untuk observasi terhadap pelaksanaan pelatihan di Industri/ Perusahaan dilakukan pada tanggal 1 dan 4 Desember 2006. 3.4.3 Dokumentasi Metode dokumentasi adalah cara memperoleh data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, paper, lager, agenda dan sebagainya. (Arikunto, 2002 : 206). Metode dokumentasi digunakan dalam penelitian karena beberapa alasan, antara lain : (1) dokumen merupakan sumber yang stabil, kaya dan mendorong; (2) berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian; (3) berguna dan sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah; dan (4) hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas ilmu pengetahuan terhadap yang diselidiki. Metode dokumentasi dilakukan dengan cara atau metode dimana melakukan kegiatan pengumpulan dan pencatatan terhadap data-data yang ada di SMK N 2 Jepara dan institusi mitra yang menjadi pasangannya sehubungan dengan pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin). Data tersebut berupa ; (1) kurikulum SMK untuk Bidang Keahlian Kriya Kayu, (2) naskah perjanjian kerja sama tentang pelaksanaan Prakerin antara Institusi Pasangan dengan SMK N 2 Jepara, (3) analisis program diklat normatif, adaptif dan produktif, (4) daftar distribusi siswa peserta Prakerin Tahun Pelajaran

37

2006/ 2007 paket keahlian Kriya Kayu pada Gtahap satu dan dua, (5) jurnal kegiatan dan laporan siswa Prakerin, (6) surat tugas bagi petugas monitoring terhadap pelaksanaan Prakerin tahap satu dan dua, (7) Job sheet, (8) sertifikat kompetensi dan sertifikat prakerin yang pernah diberikan, (9) Satuan Acara Pembelajaran (SAP) untuk pembelajaran normatif dan adaptif, (10) laporan Pelaksanaan In House Training Kurikulum (IHT), (11) program pembelajaran bersama dan (12) soal evaluasi sumatif. Data yang didapat tersebut selanjutnya ditafsirkan dan digunakan untuk memperkuat apa yang terjadi di lapangan saat wawancara dan observasi. 3.5 Analisis Data Analisis data menurut Patton dalam bukunya Moleong (2005 : 280), adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2005 : 280), mendefinisikan bahwa analisis data merupakan proses merintisi usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti disarankan oleh data-data sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis itu. Jika dikaji, pada dasarnya definisi pertama lebih menitikberatkan pada pengorganisasian data, sedang yang ke dua menekankan maksud dan tujuan analisis data. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa analisis adalah proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. (Moleong, 2005 : 280). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif analisis yang merupakan proses penggambaran lokasi penelitian. Dalam penelitian diperoleh gambaran tentang model pelaksanaan praktik kerja industri pada Bidang

38

Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara, yang ditinjau dari segi Institusi Pasangan, Program Pendidikan dan Pelatihan Bersama, Kelembagaan Kerjasama, Nilai Tambah/ Kemanfaatan, dan Jaminan Keberlangsungan (Sustainability). Adapun pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan 4 tahap, yaitu : (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) sajian data, dan (4) kesimpulan data (verifikasi data). Dengan uraian dari masing-masing tahap tersebut adalah sebagai berikut : Pengumpulan data. Peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan mengenai pelaksanaan prakerin pada Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara yang ditinjau dari segi Institusi Pasangan, Program Pendidikan dan Pelatihan Bersama, Kelembagaan Kerjasama, Nilai Tambah/ Kemanfaatan, dan Jaminan

Keberlangsungan (Sustainability). Reduksi data. Menurut Matte B. Milles (dalam Soedjadi, 1992 : 6), reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan.

Reduksi data dilakukan terhadap data kasar hasil observasi dan wawancara di lapangan mengenai pelaksanaan prakerin pada Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara yang ditinjau dari segi Institusi Pasangan, Program Pendidikan dan Pelatihan Bersama, Kelembagaan Kerjasama, Nilai Tambah/ Kemanfaatan, dan Jaminan Keberlangsungan (Sustainability). Sajian data. Menurut Matte B. Milles (dalam Soedjadi, 1992 : 17), sajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan

39

adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Sajian data dapat dibagi menjadi dua, yaitu sajian data emik dan sajian data etik. Sajian data emik merupakan sajian data berdasarkan hasil asli yang diperoleh di lapangan sesuai dengan hasil wawancara dan observasi mengenai pelaksanaan prakerin pada Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara yang ditinjau dari segi Institusi Pasangan, Program Pendidikan dan Pelatihan Bersama, Kelembagaan Kerjasama, Nilai Tambah/ Kemanfaatan, dan Jaminan

Keberlangsungan (Sustainability). Sajian data etik, merupakan sajian data emik yang telah dianalisis berdasarkan kajian pustaka yang bersangkutan dengan data emik tersebut. Kesimpulan data (verifikasi data). Penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasikan selama penelitian berlangsung (Matte B. Milles ,dalam Soedjadi, 1992 : 19). Dalam penarikan kesimpulan ini, didasarkan pada reduksi data dan sajian data yang merupakan jawaban atas masalah yang bersangkutan dengan Institusi Pasangan, Program Pendidikan dan Pelatihan Bersama, Kelembagaan Kerjasama, Nilai Tambah/ Kemanfaatan, dan Jaminan Keberlangsungan (Sustainability) dari pelaksanaan prakerin pada Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara. Dari keempat tahapan analisis data tersebut dapat digambarkan dengan bentuk alur kerja seperti gambar 3.1

40

Pengumpulan Data

Reduksi Data

Sajian Data Emik dan Etik

Penarikan Kesimpulan / Verifikasi Data Gambar 3.1 Teknik Analisis data 3.6 Pengecekan Keabsahan Data Keabsahan data sangat mendukung dalam menentukan hasil akhir penelitian. Oleh sebab itu suatu teknik untuk memeriksa keabsahan data memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau perbandingan terhadap data itu (Moleong, 2005 : 198). Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa dengan menggunakan teknik triangulasi sumber. Menurut Patton dalam bukunya Moleong, triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui alat dan waktu yang berbeda dalam metode kualitatif. Hal ini dapat dicapai dengan jalan: (1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara; (2) membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi; (3) membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu; (4) membandingkan keadaan perspektif seseorang dengan berbagai pandangan orang sebagai rakyat biasa, orang orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang

41

pemerintah; (5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan (Moleong, 2005:331). Bagan triangulasi pada pengujian validitas data dapat dilihat pada gambar 3.2 dan gambar 3.3

Pengamatan/ Observasi Sumber Data Wawancara

Dokumentasi

Sumber Data Wawancara Gambar 3.2 Sumber sama, teknik berbeda

Informan A

Wawancara

Informan B

Gambar 3.3 Teknik sama, sumber berbeda

42

3.7 Memperpanjang Keikutsertaan Peneliti Dalam pengumpulan data, keikutsertaan peneliti menjadi suatu hal yang sangat penting dan menentukan dalam pengumpulan data. Keikutsertaan peneliti membutuhkan waktu yang relatif lama dengan tujuan mendapatkan data yang diperoleh menjadi jenuh. Perpanjangan keikut-sertaan berarti peneliti tinggal dilapangan penelitian samapi kejenuhan pengumpulan data tercapai. Jika hal itu dilakukan maka akan membatasi: (1) membatasi gangguan dari dampak peneliti pada konteks, (2) membatasi kekeliruan (biases) peneliti, (3) mengkonsepsikan pengaruh dari kejadian-kejadian yang tidak biasa atau pengaruh sesat (Moleong, 2005:327).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Persiapan Pelaksanaan Prakerin baik di Sekolah maupun di Industri 4.1.1.1 Persiapan Pelaksanaan Prakerin di SMK N 2 Jepara Dalam persiapan pelaksanaan Prakerin SMK N 2 Jepara membuat dua tahapan yaitu tahap perencanaan dan tahap persiapan. Pada tahap perencanaan, SMK N 2 Jepara mengumpulkan data-data yang merupakan komponen penting dalam persiapan pelaksanaan yang meliputi : (1) data tentang tempat yang potensial untuk pelaksanaan Prakerin, (2) data tentang Institusi yang potensial dengan program studi yang ada di sekolah untuk pelaksanaan Prakerin, (3) persiapan blangko untuk mencari tempat Prakerin di DU/DI yang meliputi surat permohonan, lembar ketersediaan DU/DI, kelompok peserta Prakerin, (4) penyerahan kembali blangko-blangko tersebut yang sudah lengkap ditanda tangani oleh ketua program studi dan pimpinan / yang mewakili dari dunia industri, serta (5) perencanaan dan kemungkinan penempatan peserta Prakerin di masing-masing industri dipimpin oleh guru pembimbing. Setelah tahap perencanaan selesai maka dilanjutkan dengan tahap persiapan. Sebelum melaksanakan Prakerin berkas administrasi yang perlu dipersiapkan antara lain : (1) pembekalan siswa peserta Prakerin yang dipandu oleh kelompok kerja Prakerin dan penyampai materi dari perwakilan industri, (2) pengadaaan buku panduan dan laporan kegiatan untuk siswa, (3) pembuatan surat-

43

44

surat pemberitahuan yang meliputi surat penitipan siswa Prakerin di industri, surat pengantar kepada institusi tempat praktik, surat keterangan perjalanan dinas, dan pemberitahuan kepada guru pembimbing, (4) surat tugas untuk kepala sekolah atau tim pelaksana, (5) jurnal pelaksanaan Prakerin, (6) tata tertib , dan (7) format sertifikasi dan kelengkapan administrasi kegiatan Prakerin. Drs. Sunarto menjelaskan untuk kelancaran pelaksanaan Prakerin periode 2006/2007 pihak sekolah membuat dua tahapan yaitu tahap perencanaan dan tahap persiapan. Untuk tahap perencanaan menitik beratkan pada penyiapan datadata tentang tempat Prakerin siswa , surat permohonan ke DUDI, dan lembar ketersediaan pihak industri untuk menerima siswa Prakerin. Sedangkan untuk tahap persiapan dimulai dengan pengadaan buku panduan untuk siswa, pembekalan pra pelaksanaan Prakerin, sampai pembuatan surat tugas untuk guru yang terlibat dengan pelaksanaan Prakerin tahun 2006/2007. Ditambahkan oleh Drs. Suyoto rapat koordinasi pelaksanaan Prakerin dan mendata tempat Prakerin yang didapat siswa merupakan serangkaian kegiatan yang masuk dalam tahap perencanaan. Sedangkan untuk pembekalan Prakerin dan pengadaan buku panduan dan laporan kegiatan siswa selama Prakerin menjadi bagian dari tahap persiapan. Drs. Basuki menjelaskan pada dasarnya persiapan utama untuk pelaksanaan Prakerin adalah penyiapan diri peserta didik sebagai subjek dari program Prakerin ini, ini berhubungan dengan sikap, sopan santun dan kecakapan serta keterampilan yang dimiliki siswa, untuk hal ini pihak sekolah sudah membekali dari kegiatan belajar mengajar sejak kelas satu tentunya. Saat pembekalan siswa peserta Prakerin diberikan materi-materi yang berkaitan dengan pelaksanaan teknis Prakerin. Adapun materi yang diberikan saat pembekalan meliputi dua hal utama yang disampaikan oleh perwakilan industri dan wali kelas masing-masing program studi kriya. Materi yang disampaikan oleh industri saat pembekalan Prakerin siswa antara lain : produk yang dihasilkan, konsumen / pengguna produk, bahan baku, alat dan peralatan, pemasaran dan modal. Sedangkan materi yang disampaikan

45

oleh wali kelas masing-masing kriya meliputi etika dan tata tertib, serta panduan pengisian jurnal atau administrasi Prakerin secara lengkap. Drs. Suyoto menjelaskan siswa saat pembekalan diberikan materi yang disampaikan oleh pihak perusahaan dan dari pihak sekolah yang diwakili oleh wali kelas. Ditambahkan oleh Drs. Sunarto untuk materi yang disampaikan oleh pihak industri meliputi manajemen perusahaan dan keselamatan kerja yang ada di lingkungan kerja di perusahaan, sedangkan materi yang disampaikan oleh pihak sekolah melalui wali kelas sehubungan dengan etika dan tata tertib serta penjelasan tentang panduan pengisian jurnal dan laporan. Drs. Suyoto menambahkan untuk materi yang disampaikan wali kelas meliputi dua hal yaitu (1) etika dan tata tertib yang meliputi ucapan dan sikap, ramburambu / hukum dan sanksi yang diberikan bila siswa melanggar, (2) panduan pengisian jurnal dan laporan siswa dengan menunjukkan format penulisan laporan dan pengisian jurnal tahun dan penjelasan pengisian.

4.1.1.2 Persiapan Pelaksanaan Prakerin di Industri Persiapan yang dilakukan oleh pihak industri untuk pelaksanaan Prakerin dimulai dari menyiapkan pembimbing lapangan yang akan membantu siswa peserta Prakerin selama pelaksanaan Prakerin di perusahaannya, dan persiapan untuk pembagian kerja serta sistem kerja yang akan diterapkan untuk siswa peserta Prakerin. H.Wasiun pimpinan Cipta Antiq menjelaskan untuk tahap persiapan kami menyiapakan satu pembimbing lapangan yang bertugas untuk memebantu siswa dalam pelaksanaan Prakerin ditempat kami, kami juga sudah menetapakn jadwal kerja untuk siswa yang kami samakan dengan pegawai yang ada di perusahaan kami. Purwanto dari Oval Jati menuturkan untuk tahun ini kami terlibat dengan proses pembekalan siswa di SMK dan untuk kesiapan kami menyiapkan pembimbing lapangan yang bertugas untuk membimbing dan mengecek ulang pekerjaan siswa, yang nantinya juga mengevaluasi kerja siswa selama pelaksanaan Prakerin.

46

Ditambahkan oleh Purwanto saat pembekalan Prakerin di sekolah kami selaku perwakilan dari pihak industri menyampaikan tentang manajemen perusahaan yang meliputi produk yang dihasilkan, bahan baku dan semua hal yang menyangkut perusahaan dan keselamatan kerja yang harus diperhatikan perusahaan dan tenaga kerjanya. N. Sandi dari Dian Jati Antika menjelaskan bahwa sebelum siswa peserta Prakerin diserahkan pihak sekolah kepada kami, kami sudah menyiapkan satu pembimbing lapangan yang akan menjelaskan sistem kerja dan pembagian kerja untuk siswa serta membantu siswa bila mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugasnya selama ia praktik di sini. Pembimbing lapangan mempunyai peranan yang sangat penting dalam membantu siswa peserta Prakerin untuk mengembangkan potensi dan skill yang dimiliki siswa. Selain itu, pembimbing lapangan juga berperan dalam membantu siswa saat menemui kesulitan dalam mengerjakan tugas yang diberikan. 4.1.2 Pelaksanaan Pendidikan di Sekolah Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara dalam pelaksanan pendidikan menggunakan kurikulum tahun 2004 dengan struktur kurikulum yang terbagi menjadi 3 (tiga) mata diklat, yaitu : 1. Program Normatif Program normatif adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membentuk peserta didik menjadi pribadi utuh, yang memiliki norma-norma kehidupan sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial (anggota masyarakat) baik sebagai warga negara Indonesia maupun sebagai warga dunia. Program normatif diberikan agar peserta didik bisa hidup dan berkembang selaras dalam kehidupan pribadi, sosial, dan bernegara. Program ini berisi mata diklat yang lebih menitikberatkan pada norma, sikap, dan perilaku yang harus diajarkan, ditanamkan, dan dilatihkan pada peserta didik, di samping kandungan

47

pengetahuan dan keterampilan yang ada di dalamnya. Mata diklat pada kelompok normatif berlaku sama untuk semua program keahlian. Pada pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan untuk mendidik siswa agar dapat bersikap positif , bertutur bahasa yang halus serta menghargai orang lain. Bersikap positif adalah bersikap yang berguna untuk kepentingan orang lain dan terbuku untuk menerima masukan / kritik yang membangun. Bertutur bahasa yang halus adalah bertutur kata yang tidak menyinggung perasaan orang yang sedang kita ajak berbicara. Menghargai orang lain adalah sikap yang tidak menganggap diri kita paling baik dan bisa menerima masukan dari orang lain. Dhian S, S.Pd. menjelaskan bahwa pelajaran Bahasa Indonesia memang perlu diberikan pada siswa termasuk pada siswa SMK, ini bertujuan agar siswa memiliki tata karma dan dan sopan santun dalam berbicara dan bertutur kata kepada siapa saja termasuk ketika ia harus berada di lingkungan industri Media yang digunakan untuk menunjang kelancaran pembelajaran mata pelajaran Bahas Indonesia adalah buku cetak, CD pembelajaran, ruang perpustakaan, papan tulis, kapur tulis dan penghapus. Buku cetak adalah buku yang berisikan materi pelajaran guna menunjang proses transfer ilmu dari guru kepada siswa. CD pembelajaran untuk pelajaran Bahasa Indonesia berisi tentang materi pelajaran yang ditampilkan dalam bentuk tampilan materi-materi inti, dan untuk penjelasannya akan disampaikan oleh guru pengajar. Contoh materi yang disampaikan adalah cara pembuatan surat permohonan / surat ijin melaksanakan Prakerin di industri. Ruang perpustakaan selain memberikan fasilitas untuk peminjaman buku-buku paket juga menyediakan satu ruangan yang dilengkapai TV yang digunakan untuk menanyangkan CD pembelajaran yang akan disampaikan oleh guru.

48

Drs. Asy Ari mengemukakan media yang digunakan untuk menunjang pelajaran Bahasa Indonesia adalah CD pembelajaran yang biasanya disediakan oleh guru mata diklat dan diperlihatkan pada siswa di ruang perpustakaan dan buku cetak yang dapat dipinjam dari perpustakaan saat pelajaran dan dikembalikan lagi setelah pelajaran selesai agar bisa dipinjam siswa lainnya. Media lain adalah ruang kelas beserta kapur tulis dan penghapus. Penggunaan media bertujuan agar siswa dapat memahami materi secara maksimum dan menyenangkan. Metode yang digunakan untuk menunjang kelancaran pembelajaran mata diklat Bahasa Indonesia adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi, dan tugas baik bersifat tugas kelompok, tugas mandiri maupun tugas rumah. Metode ceramah digunakan untuk menjelaskan suatu materi oleh guru kepada siswa. Metode tanya jawab digunakan saat materi diberikan dan ada pertanyaan dari siswa tentang materi yang diberikan guru. Metode pemberian tugas diberikan pada siswa untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan guru. Budi N, S.Pd. menambahkan, pelaksanaan metode tersebut adalah sebagai berikut; untuk metode ceramah, guru menjelaskan materi pelajaran di depan kelas dan siswa memperhatikan dengan baik, metode tanya jawab : guru mempersilahkan siswa untuk menanyakan terhadap hal-hal yang belum paham/ belum jelas tentang materi pelajaran yang diberikan kemudian guru menjawab dan menjelaskannya atau guru yang bertanya kepada siswa tentang materi yang baru saja disampaikan kemudian siswa menjawabnya, metode diskusi kelompok : guru memberikan suatu permasalahan kepada siswa dan harus dipecahkan secara kelompok, metode tugas mandiri : guru memberikan soal kepada siswa dan harus dikerjakan sendiri, dan metode tugas rumah : siswa diberi soal yang harus diselesaikan dirumah baik kelompok maupun perorangan, adapun tujuan dari penggunaan metode tersebut yaitu untuk mempermudah siswa dalam menyerap dan menguasai materi pelajaran yang diberikan. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia, kegiatan evaluasi dilakukan pada akhir pertemuan dari tiap satu atau beberapa pokok bahasan tergantung dari banyak sedikitnya materi yang ada dan juga dilakukan di akhir semester dengan bentuk tes tertulis yang berupa essay dan atau pilihan ganda, tes lesan yaitu tanya

49

jawab secara langsung antara guru dan siswa. Dari kegiatan evaluasi tersebut nilai minimal yang harus diperoleh siswa adalah 7.00 untuk dinyatakan lulus dalam pelajaran yang diberikan. Bila siswa mendapatkan nilai kurang dari 7.00 maka siswa yang bersangkutan akan diberikan tugas tambahan yang bertujuan untuk memperbaiki nilai yang didapatkan sebelumnya. Budi N, S.Pd. mengemukakan bahwa ada kegiatan evaluasi dari pelajaran Bahasa Indonesia dengan tujuan untuk mengukur tingkat pemahaman materi oleh siswa yang dilaksanakan saat pelajaran dilaksanakan atau saat akhir semester dan ini ada nilai minimum yang harus dicapai siswa yaitu tujuh bila kurang dari tujuh maka siswa wajib mengikuti remidi atau mendapatkan tugas tambahan. Kurikulum yang digunakan untuk seluruh mata diklat Bahasa Indonesia pada siswa kelas III adalah kurikulum 2004 yang telah disempurnakan. Penyempurnaan dilaksankan bersama DUDI melalui program In House Training (IHT) kurikulum. 2. Program Adaptif Program adaptif adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membentuk peserta didik sebagai individu agar memiliki dasar pengetahuan yang luas dan kuat untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di lingkungan sosial, lingkungan kerja, serta mampu mengembangkan diri sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Program adaptif berisi mata diklat yang lebih menitikberatkan pada pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk memahami dan menguasai konsep dan prinsip dasar ilmu dan teknologi yang dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari dan atau melandasi kompetensi untuk bekerja.

50

Program adaptif diberikan agar peserta didik tidak hanya memahami dan menguasai apa dan bagaimana suatu pekerjaan dilakukan, tetapi memberi juga pemahaman dan penguasaan tentang mengapa hal tersebut harus dilakukan. Program adaptif terdiri dari kelompok mata diklat yang berlaku sama bagi semua program keahlian dan mata diklat yang hanya berlaku bagi program keahlian tertentu sesuai dengan kebutuhan masing-masing program keahlian. Selain itu, pembelajaran adaptif juga perlu diberikan dengan tujuan untuk memberi bekal penunjang bagi penguasaan keahlian profesi dan bekal kemampuan pengembangan diri untuk mengikuti perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi. Pada mata pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengolahan Informasi (KKPI) bertujuan untuk membekali siswa agar bisa menggunakan teknologi komputer dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki kemampuan aplikasi Komputer sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI) pada bidang Kriya Kayu. Drs. Suyoto mengemukakan bahwa pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengolahan Informasi (KKPI) sangat di perlukan dengan tujuan agar siswa mempunyai bekal penunjang untuk menguasai suatu keahlian tertentu yang nantinya bisa mengikuti perkembangan teknologi . Ditambahkan oleh Drs. Sunarto pelajaran KKPI perlu sekali diberikan pada siswa SMK agar siswa mempunyai bekal penunjang untuk penguasaan keahlian tertentu yang nantinya saat ia harus bekerja . Media yang dipakai dalam pembelajaran ini berupa buku cetak, kapur, papan tulis, buku panduan / modul, dan audio visual (berupa perangkat komputer). Buku cetak pinjam di perpustakaan, modul diberikan dari guru sebagai panduan saat pelaksanaan pelajaran yang berisi tentang teknik / cara pengoprasian

51

komputer, sedangkan komputer disediakan di laboratorium komputer digunakan saat pelajaran berlangsung. Drs. Basuki mengatakan, media yang digunakan dalam pembelajaran KKPI berupa buku cetak yang bisa siswa pinjam di perpustakaan sekolah atau buku lain yang memiliki materi yang sama lalu kapur, papan tulis, cd pembelajaran, buku panduan (modul) serta komputer. Metode yang digunakan dalam pembelajaran Keterampilan Komputer dan Pengolahan Informasi (KKPI) ini yaitu metode caramah, metode tanya jawab, dan kerja mandiri. Metode ceramah digunakan saat guru menjelaskan langkah kerja sebelum pelaksanaan praktik pengoprasian komputer. Metode tanya jawab digunakan saat siswa menemukan kesulitan dalam memahami ceramah yang diberikan guru dan saat siswa menghadapi kesulitan dalam mengoprasikan komputer. Metode kerja mandiri digunakan saat siswa diberikan tugas untuk mengoprasikan komputer sesuai langkah kerja dalam buku panduan. Drs. Basuki