Referat Abd

download Referat Abd

of 25

  • date post

    04-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    224
  • download

    5

Embed Size (px)

description

THT

Transcript of Referat Abd

REFERAT

ALAT BANTU DENGAR

PEMBIMBING:

Dr. H. Yuswandi Affandi, Sp. THT-KL

Dr. M. Bima Mandraguna, Sp. THT-KL

Penyusun:

Dea Haykalsani Harahap (030.11.065)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARAWANG

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK KEPALA & LEHER

PERIODE 25 MEI- 27 JUNI 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, karena berkat, rahmat, dan petunjuk-Nya, penulis dapat menyelesaikan referat berjudul Alat Bantu Dengar.

Referat ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas kepanitraan klinik di bagian THT-KL Rumah Sakit Umum Daerah Karawang. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. H. Yuswandi Affandi, Sp.THT-KL selaku dokter pembimbing dan rekan-rekan kepanitraan klinik yang ikut membantu memberi dorongan semangat serta moril. Tidak lupa penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada dr. M. Bima Mandraguna, Sp. THT-KL yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa referat ini masih terdapat kekurangan serta kesalahan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. semoga referat ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan dalam bidang ilmu THT-KL khususnya dan bidang kedokteran pada umumnya.

Karawang, 21 Juni 2015

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

BAB 1PENDAHULUAN ................................................................

1

BAB IITINJAUAN PUSTAKA ...............................................................

2

2.1. Anatomi dan fisiologi telinga .......................................

2

2.2Fisiologi pendengaran ..........................

6

2.3Gangguan pendengaran................................................

7

2.4 Alat bantu dengar .....................

8

2.5 Klasifikasi alat bantu dengar .....................

10

2.6 Pemakaian alat bantu dengar .....................

13

BAB IIIKESIMPULAN ................................................................

19

DAFTAR PUSTAKA

20

BAB IPENDAHULUAN

Komponen panca indra pada manusia sangat penting dalam kelangsungan hidup manusia itu sendiri, termasuk telinga dengan fungsi pendengaran dan keseimbangan. Pendengaran yang baikmerupakan salah satu kebutuhan hidup yang sangat penting bagi kita. Jika kita mengalami gangguan pendengaran maka hal itu akan sangat berdampak buruk dalam kehidupan sehari-hari. Kualitas hidup adalah hal penting yang sangat dikompromikan bagi orang yang mengalami gangguan pendengaran dan keluarganya. Gangguan pendengaran dapat dikatakan memiliki kategori berat, dimana suara yang cukup keras tidak dapat terdengar atau yang biasanya terjadi orang tersebut sangat sulit mengerti kata-kata yang diucapkan. Dalam kasus-kasus tersebut beberapa jenis suara atau percakapan sulit untuk didengar, terutama di lingkungan suara yang bising.Saat ini sudah tersedia teknik penanganan gangguan pendengaran yangbaru dan lebih baik. Penanganan gangguan pendengaran yang efektif telah terbukti menghasilkan efek positif terhadap kualitas hidup. Setelah diketahui seorang anak menderita ketulian upaya habilitasi pendengaran harus dilaksanakan sedini mungkin. American Joint Commitee on Infant Hearing (2000) merekomendasikan upaya habilitasi sudah harus dimulai sebelum usia 6 bulan. Penelitian-penelitian telah membuktikan bahwa bila habilitasi yang optimal sudah dimulai sebelum usia 6 bulan maka pada usia 3 tahun perkembangan wicara anak yang mengalami ketulian dapat mendekati kemampuan wicara anak normal.

Pemasangan alat bantu dengar (ABD) merupakan upaya pertama dalam habilitasi pendengaran yang akan dikombinasikan dengan terapi wicara atau terapi audio verbal. Sebelum proses belajar harus dilakukan penilaian tingkat kecerdasan oleh Psikolog untuk melihat kemampuan belajar anak. Anak usia 2 tahun dapat memulai pendidikan khusus di Taman Latihan dan Observasi (TLO), dan melanjutkan pendidikannya di SLB-B atau SLB-C bila disertai dengan retardasi mental. Proses habilitasi pasien tunarungu membutuhkan kerjasama dari beberapa disiplin, antara lain dokter spesialis THT, audiologist, ahli madya audiologi, ahli terapi wicara, psikolog anak, guru khusus untuk tuna rungu dan keluarga penderita.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA

TELINGA LUAR

Telinga luar, yang terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius eksternus, dipisahkan dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membrana timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus.

Gambar 1. Potongan frontal telinga

Gambar 2. Pembagian telingaTepat di depan meatus auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika membuka dan menutup mulut. Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2,5 sentimeter. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat di mana kulit terlekat. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus, glandula seruminosa, yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar tetinga. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit.TELINGA TENGAH

Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak di antara kedua Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga, Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen.Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah) dihubungan dengan tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal.

Gambar 3. Membran Timpani

Gambar 4. Tulang-tulang Pendengaran, Kanal semisirkularis, dan Potongan KokleaTelinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen, yang membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara dihantar telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis, atau struktur berbentuk cincin. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe. Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm, menghubngkan telingah ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer.TELINGA DALAM

Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ untuk pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu juga kranial VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian dari komplek anatomi. Koklea dan kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang labirint. Ketiga kanalis semisi posterior, superior dan lateral erletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan mengandung organ yang berhubungan dengan keseimbangan. Organ ahir reseptor ini distimulasi oleh perubahan kecepatan arah dan gerakan seseorang.

Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3,5 cm dengan dua setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran, dinamakan organ Corti. Di dalam lulang labirin, namun tidak sem-purna mengisinya,Labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe, yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis.Labirin membranosa tersusun atas utrikulus, akulus, dan kanalis semisirkularis, duktus koklearis, dan organan Corti. Labirin membranosa memegang cairan yang dinamakan endolimfe. Terdapat keseimbangan yang sangat tepat antara perilimfe dan endolimfe dalam telinga dalam; banyak kelainan telinga dalam terjadi bila keseimbangan ini terganggu. Percepatan angular menyebabkan gerakan dalam cairan telinga dalam di dalam kanalis dan merang-sang sel-sel rambut labirin membranosa. Akibatnya terjadi aktivitas elektris yang berjalan sepanjang cabang vesti-bular nervus kranialis VIII ke otak.Perubahan posisi kepala dan percepatan linear merangsang sel-sel rambut utrikulus. Ini juga mengakibatkan aktivitas elektris yang akan dihantarkan ke otak oleh nervus kranialis VIII. Di dalam kanalis auditorius internus, nervus koklearis (akus-dk), yang muncul dari koklea, bergabung dengan nervus vestibularis, yang muncul dari kanalis semisirkularis, utrikulus, dan sakulus, menjadi nervus koklearis (nervus kranialis VIII). Yang bergabung dengan nervus in