Print

40
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bu Rukmini 45 tahun mengeluh gigi tiruannya telah pecah dan ingin menggantinya dengan yang baru. Pasien tidak mengingat penyebab pecahnya gigi tiruan. Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis pada retainer gigi 25 menunjukkan lapisan porcelain bagian oklusalnya telah hilang. Pada gigi abutment 27 menunjukkan resesi gingiva dan karies pada akar palatal. Secara klinis gigi 25 dan 27 merupakan retainer dengan desain extracoronal retainer berupa porcelain fused to metal dan pontic pada gigi 26 dengan tipe ridge lap pontic. Retainer dan pontic dihubungkan dengan connector tipe fixed-fixed bridge. Pasien juga ingin mengganti gig tiruan mahkota (crown) pada gigi 11 dengan konstruksi mahkota akrilik yang sudah berubah warna. Dokter gigi akan membongkar gigi tiruan tetap dan mahkota akrilik dengan menggunakn crown remover. Crown remover merupakan alat yang digunakan untuk melepaskan gigi tiruan cekat baik sementara maupun permanen. Bentuknya dapat berupa tang, handpiece, dan wire. Penggunaanya dengan cara mengukit dan merusak bagian mahkota. Selain itu, juga dapat dengan cara merusak ikatan semen.

description

p

Transcript of Print

Page 1: Print

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bu Rukmini 45 tahun mengeluh gigi tiruannya telah pecah dan ingin

menggantinya dengan yang baru. Pasien tidak mengingat penyebab pecahnya

gigi tiruan. Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis pada retainer gigi 25

menunjukkan lapisan porcelain bagian oklusalnya telah hilang. Pada gigi

abutment 27 menunjukkan resesi gingiva dan karies pada akar palatal. Secara

klinis gigi 25 dan 27 merupakan retainer dengan desain extracoronal retainer

berupa porcelain fused to metal dan pontic pada gigi 26 dengan tipe ridge lap

pontic. Retainer dan pontic dihubungkan dengan connector tipe fixed-fixed

bridge. Pasien juga ingin mengganti gig tiruan mahkota (crown) pada gigi 11

dengan konstruksi mahkota akrilik yang sudah berubah warna. Dokter gigi

akan membongkar gigi tiruan tetap dan mahkota akrilik dengan menggunakn

crown remover.

Crown remover merupakan alat yang digunakan untuk melepaskan gigi

tiruan cekat baik sementara maupun permanen. Bentuknya dapat berupa tang,

handpiece, dan wire. Penggunaanya dengan cara mengukit dan merusak

bagian mahkota. Selain itu, juga dapat dengan cara merusak ikatan semen.

1.2 Rumusan Masalah

1 Apa saja macam-macam kegagalan GTC serta penyebabnya?

2 Bagaimana penatalaksanaan dari kegagalan perawatan GTC, meliputi :

a. Perawatan bahan

b. Perawatan pendahuluan

c. Pemilihan desain

1.3 Tujuan

1 Mengetahui macam-macam kegagalan GTC serta penyebabnya.

2 Mengetahui penatalaksanaan dari kegagalan perawatan GTC, meliputi :

Page 2: Print

a. Perawatan bahan

b. Perawatan pendahuluan

c. Pemilihan desain.

1.4 Mapping

Kegagalan perawatan Gigi tiruan Cekat

Pemeriksaan Klinis dan Penunjang

Evaluasi Kegagalan

Diagnosa dan Rencana

Perawatan

Penatalaksanaan

Page 3: Print

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gigi Tiruan Cekat

Gigi tiruan cekat merupakan piranti prostetik permanen yang melekat pada

gigi yang masih tersisa, yang menggantikan satu atau lebih kehilangan gigi.Jenis

restorasi ini telah lama disebut dengan gigitiruan jembatan.

2.1.1 Komponen-komponen Gigitiruan Cekat

Gigitiruan cekat terdiri dari beberapa komponen, yaitu pontik,

retainer, konektor, abutment, dan sadel, yang dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Pontik, adalah gigi buatan pengganti dari gigi atau gigi-geligi yang hilang.

Dapat dibuat dari porselen, akrilik atau logam, atau gabungan dari bahan-

bahan ini.

2. Retainer, adalah restorasi tempat pontik dicekatkan. Retainer dapat dibuat

intrakoronal atau ekstrakoronal.

3. Konektor, adalah bagian yang mencekatkan pontik ke retainer. Konektor

dapat berupa sambungan yang disolder, struktur cor (alumina derajat tinggi,

jika terbuat dari porselen seluruhnya).

4. Abutment, adalah gigi penyangga dapat bervariasi dalam kemampuan untuk

menahan gigitiruan cekat dan tergantung pada faktor-faktor seperti daerah

membran periodontal, panjang serta jumlah akar.

5. Sadel, adalah daerah diantara gigi-gigi penyangga, yang terutama adalah

tulang alveolar yang ditutupi oleh jaringan lunak. Tulang alveolar akan

berubah kontur selama beberapa bulan setelah hilangnya gigi. Kontur dan

tekstur sadel akan mempengaruhi desain pontik.

2.1.2 Macam-macam Desain GTC.

Adapun 5 macam desain dari GTC yang perbedaannya terletak pada

dukungan yang ada pada masing-masing ujung pontik. Kelima desain ini adalah:

Page 4: Print

a. Fixed-fixed bridge

Suatu gigitiruan yang pontiknya didukung secara kaku pada kedua sisi oleh

satu atau lebih gigi penyangga. Pada bagian gigi yang hilang yang terhubung

dengan gigi penyangga, harus mampu mendukung fungsional dari gigi yang

hilang.GTC merupakan restorasi yang kuat dan retentif untuk menggantikan gigi

yang hilang dan dapat digunakan untuk satu atau beberapa gigi yang

hilang.Indikasi dari perawatan dengan menggunakan fixed-fixed bridge yaitu jika

gigi yang hilang dapat terhubung dengan gigi penyangga yang mampu

mendukung fungsional dari gigi yang hilang.Seperti pada gambar 1, Fixed-fixed

bridge dengan menggunakan bahan porselen pada gigi insisivus sentralis.

Gambar 1. Gambaran fixed-fixed bridge pada gigi Insisivus sentralis

(Sumber : Barclay CW, Walmsley AD. Fixed and removable

prosthodontics. 2nd ed. Tottenham: Churchill livingstone;2001.p. 115)

b. Semi fixed bridge

Suatu gigitiruan yang didukung secara kaku pada satu sisi, biasanya pada

akhir distal dengan satu atau lebih gigi penyangga. Satu gigi penyangga akan

menahan perlekatan intracoronal yang memungkinkan derajat kecil pergerakan

antara komponen rigid dan penyangga gigi lainnya atau gigi

Page 5: Print

Gambar 2. Gambaran semi-fixed bridge (Sumber :

Barclay CW, Walmsley AD. Fixed and removable

prosthodontics. 2nd ed. Tottenham: Churchill

livingstone;2001.p.118)

c. Cantilever bridge

Suatu gigitiruan yang didukung hanya pada satu sisi oleh satu atau lebih

abutment. Pada cantilever bridge ini, gigi penyangga dapat mengatasi beban

oklusal dari gigitiruan

Page 6: Print

Gambar 3. Gambaran cantilever bridge (Sumber : Barclay

CW, Walmsley AD. Fixed and removable prosthodontics.

2nd ed. Tottenham: Churchill livingstone;2001.p. 120)

d. Spring cantilever bridge

Suatu gigitiruan yang didukung oleh sebuah bar yang dihubungkan ke

gigi atau penyangga gigi. Lengan dari bar yang berfungsi sebagai

penghubung ini dapat dari berbagai panjang, tergantung pada posisi dari

lengkung gigi penyangga dalam kaitannya dengan gigi yang hilang. Lengan

dari bar mengikuti kontur dari palatum untuk memungkinkan adaptasi

pasien. Jenis gigitiriruan ini digunakan pada pasien yang kehilangan gigi

anterior dengan satu gigi yang hilang atau terdapat diastema di sekitar

anterior gigi yang hilang.

Gambar 4. Gambaran spring cantilever bridge (Sumber :

Barclay CW, Walmsley AD. Fixed and removable

prosthodontics. 2nd ed. Tottenham: Churchill

livingstone;2001.p. 122)

e. Compound bridge

Ini merupakan gabungan atau kombinasi dari dua macam gigitiruan cekat

dan bersatu menjadi suatu kesatuan.

2.1.3 Indikasi dan Kontraindikasi Pemakaian GTC.

Page 7: Print

Adapun indikasi dan kontraindikasi dari GTC, yaitu :

1. Kehilangan satu atau lebih gigi

2. Kurangnya celah karena pergeseran gigi tetangga ke daerah edentulus

3. Gigi di sebelah daerah edentulus miring

4. Splint bagi gigi yang memiliki ketebalan email yang cukup untuk dietsa.

Kontraindikasi pemakaian GTC :

1. Pasien yang tidak kooperatif

2. Kondisi kejiwaan pasien kurang menunjang

3. Kelainan jaringan periodonsium

4. Prognosis yang jelek dari gigi penyangga

5. Diastema yang panjang

6. Kemungkinan kehilangan gigi pada lengkung gigi yang sama

7. Resorbsi lingir alveolus yang besar pada daerah anodonsia.

2.2 Jaringan Periodontal

Normalnya, jaringan periodontal yang memberikan dukungan yang

diperlukan untuk mempertahankan fungsi gigi terdiri dari empat komponen

utama, yaitu gingiva, ligamentum periodontal, sementum, dan tulang alveolar.

Masing-masing komponen dari jaringan periodontal berbeda lokasi, tekstur

jaringan, komposisi biokimia, dan komposisi kimianya.

Gambar 5. Diagram anatomi gingiva

(Sumber: Itoiz ME, Carranza FA. The

gingival. In: Newman MG, takei HH,

Carranza FA, editors. Clinical

periodontology. 9th ed. Philadelphia : WB

Saunder Co; 2002. p.17)

2.2.1. Gingiva.

Page 8: Print

Gingiva adalah bagian dari mukosa mulut yang melapisi tulang alveolar

dari rahang atas dan rahang bawah serta di sekeliling leher gigi.Gingiva secara

anatomi dibagi menjadi marginal gingiva (tepi gusi), sulkus gingiva, attached

gingiva (bagian dari yang melekat), serta interdental gingiva atau interdental

papilla.

1. Marginal gingiva

Marginal gingiva atau unattched gingiva adalah sambungan tepi atau

pinggiran dari gingiva yang mengelilingi gigi berbentuk seperti lingkaran.

Dalam 50% kasus, marginal gingiva dibatasi dengan attached gingiva oleh

depresi linear yang dangkal disebut free gingiva groove. Biasa lebarnya sekitar

1 mm dari dinding jaringan lunak sulkus gingiva.Marginal gingiva dapat

dipisahkan dari permukaan gigi dengan probe periodontal.

2. Sulkus gingiva

Sulkus gingiva adalah celah dangkal atau ruang di sekitar gigi yang dibatasi

oleh permukaan gigi pada satu sisi dan lapisan epitel margin bebas dari sisi

lain gingiva. Sulkus ini berbentuk V dan hanya sedikit saja yang dapat

dimasuki oleh probe periodontal.Determinasi klinik dari kedalaman sulkus

gingiva merupakan parameter diagnostik yang penting.Dalam kondisi benar-

benar normal atau ideal, maka kedalaman sulkus gingiva dapat mencapai 0.

3. Attached gingiva.

Attached gingiva merupakan suatu lanjutan dari marginal gingiva.Attached

gingiva berbatas tegas, elastik dan melekat erat pada periosteum dari tulang

alveolar. Aspek permukaan dari attached gingiva meluas ke mukosa alveolar

dibatasi oleh mucogingiva junction. Lebar dari attached gingiva merupakan

parameter klinik penting lainnya. Yang dapat diukur sesuai jarak antara

mucogingivajunction dan proyeksi dari permukaan dasar luar dari sulkus

dengan menggunakan probe periodontal.

Lebar dari attached gingiva dari aspek fasial berbeda pada tiap daerah dalam

rongga mulut. Attached gingiva pada daerah insisivus rahang atas 3,5-4,5 mm

Page 9: Print

dan pada insisivus rahang bawah sebesar 3,3-3,9 mm dan lebih sempit pada

daerah posterior ( 1,9 mm pada rahang atas dan 1,8 pada rahang bawah).

Mucogingiva junction tetap tidak bergerak hingga dewasa, perubahan lebar

attached gingiva disebabkan oleh perubahan posisi coronal end. Lebar dari

attached gingiva meningkat sesuai umur dan pada gigi yang supraerupsi. Dari

aspek lingual alveolar, akhir dari attached gingiva dihubungkan oleh mukosa

membran dasar mulut.

4. Papila Interdental

Gingiva interdental menempati embrasure gingiva yang terletak pada daerah

interproksimal di bawah daerah kontak gigi.Interdental gigi dapat berbertuk

piramida atau berbentuk kol.Bentuk ruang interdental gingiva tergantung dari

titik kontak antara gigi dan ada tidaknya resesi gingiva.

Permukaan fasial dan lingual lonjong ke daerah kontak proksimal dan

berbentuk cembung pada daerah mesial dan distal. Ujung lateral dari

interdental gingiva dibentuk oleh kontibuitas marginal gingiva ke gigi

sebelahnya. Jika terjadi diastem, gingiva berbentuk datar membulat di atas

tulang interdental dan halus tanpa papila interdental.

2.2.2. Ligamentum Periodontal

Ligamentum periodontal adalah jaringan ikat yang mengelilingi akar dan

terhubung ke tulang. Ligamentum periodontal akan terus berlanjut dengan

jaringan ikat pada gingiva dan kemudian berhubungan dengan ruang sumsum

melalui pembuluh darah dalam tulang. Fungsi dari ligamentum periodontal adalah

sebagai fisik formatif dan perubahan bentuk, nutrisi dan sensoris.

2.2.3. Sementum.

Jaringan mesensim yang membentuk dan melapisi bagian luar akar anatomi

gigi. Terdapat dua macam sementum, yaitu sementum aselular atau primer dan

sementum selular atau sementum sekunder.Kedua sementum tersebut terdiri dari

kalsifikasi matriks interfibril dan fibril kolagen.

Page 10: Print

2.2.4. Tulang alveolar.

Tulang alveolar dibentuk selama pertumbuhan janin oleh proses ossifikasi

intramembranous dan terdiri dari kalsifikasi matriks dengan osteosit tertutup

dalam suatu ruang atau celah yang disebut lacuna.

2.3 Dampak Desain GTC yang Buruk

Desain gigitiruan yang tidak memenuhi syarat dapat menimbulkan

pengaruh buruk pada beberapa jaringan di rongga mulut, terutama pada jaringan

gingiva, misalnya :

a. Tidak adanya rest, dan rest yang jelek atau patah karena preparasi yang tidak

cukup, umumnya dapat mengakibatkan migrasi dari komponen-komponen

logam ke apikal sehingga terjadi gingivitis hiperplasia. Jika migrasi dibiarkan

berlanjut, maka dapat terjadi dehiscence dan penetrasi akar..

b. Celah antara lengan cengkram dan tepi gingiva menyebabkan makanan

terperangkap dan meningkatkan kemungkinan besar pembusukan makanan

dan gingivitis.

c. Penempatan cengkram atau konektor yang terlalu cepat ke tepi gingiva.

d. Adanya penimbunan sisa makanan diantara pinggiran basis gigitiruan dan

gigi alami. Timbunan sisa makanan akan mendorong tepi gingiva keluar dari

perlekatannya terhadap inflamasi jaringan akibat toksin yang dibentuk oleh

mikroorganisme yang berinkubasi.

e. Penekanan atau penutupan basis yang terlalu menekan pada tepi gingiva

dapat mengakibatkan trauma mekanik, respon inflamasi dan jika dalam

keadaan kronik, dapat mempercepat terbentuknya poket.

f. Kontrol plak yang kurang dari pasien

g. Kurangnya perawatan di rumah, baik pada kebersihan gigitiruan cekat

maupun kebersihan mulut yang menyebabkan respon tidak menguntungkan

karena makanan terperangkap. Dengan berkurangnya perawatan di rumah,

maka masalah jaringan periodontal sering mengikuti gingivitis dan karies

gigi.

Page 11: Print

h. Konstruksi GTC yang tidak benar mempengaruhi kondisi kesehatan rongga

mulut, menghambat kemampuan saliva sebagai self-cleaning, trauma mekanis

pada gingiva, mengalami kesulitan dalam membersihkan rongga mulut yang

dapat menimbulkan bau mulut.

2.4 Gingivitis

Gingivitis adalah penyakit yang paling sering terjadi, baik dalam bentuk

akut maupun kronis, dan biasanya disebabkan oleh plak bakteri.Peradangan

jaringan periodontal yang disebut periodontitis dapat disebabkan karena

masuknya kuman melalui tepi gingiva langsung atau merupakan kelanjutan dari

peradangan gusi yang tidak dirawat.Selain dari peradangan gingiva, trauma

oklusi, atropi periodontal dan manifestasi penyakit sistemik juga dapat

terjadi.Trauma oklusi hampir selalu terjadi bersamaan dengan peradangan

gusi.Trauma oklusi menghasilkan 2 macam gejala klinis, yaitu meningkatnya

pergerakan gigi dan melebarnya ruang periodontal.Poket periodontal merupakan

suatu penyakit unit perlekatan periodontal yang disebabkan oleh pembesaran

jaringan gingiva dan pergerakan perlekatan epitel ke arah apikal sampai

kehilangan perlekatan jaringan ikat dan kadang-kadang sampai kehilangan

dukungan tulang alveolar.

2.4.1. Tahap-tahap Gingivitis

Urutan perkembangan gingivitis terjadi dalam tiga tahap yang berbeda.

Tentu, dari satu tahap akan berkembang ke tahap selanjutnya.

a. Tahap 1. Initial Lesion

Manifestasi pertama dari inflamasi gingiva adalah perubahan konsistensi

vaskular, terutama dilatasi kapiler dan peningkatan aliran darah.Perubahan

inflamasi awal ini terjadi sebagai respon dari leukosit terhadap aktivitas

mikrobial dan stimulasi subquent sel endotel.Secara klinis, respon awal

gingiva terhadap plak bakteri tidak terlihat.

b. Tahap II. Early Lesion

Dengan berjalannya waktu, tanda klinis eritema mungkin akan muncul,

terutama karena proliferasi kapiler dan peningkatan pembentukan loop

Page 12: Print

kapiler antara rete pegs atau ridge. Perdarahan saat probing mungkin akan

terlihat jelas.

c. Tahap III. Established Lesion

Pada gingivitis kronik (tahap III), pembuluh darah membesar dan padat, vena

terganggu, dan aliran darah menjadi lamban.Hasilnya adalah anoksemia lokal

gingiva yang superimposif berwarna kebiruan pada gingiva.

Kesehatan gigi dan gingiva serta pencegahan seperti kerusakan gigi dan

penyakit periodontal memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan umum dan

kesejahteraan penduduk. Meskipun telah terjadi penurunan yang signifikan dalam

peningkatan kerusakan gigi di 30 tahun terakhir, namun terus terjadi peningkatan

kerusakan gigi antara rentan populasi, karena terdapat perbedaan akses terhadap

perawatan gigi dikalangan penduduk. Di Australia, ketersediaan dokter gigi sangat

rendah di luar kota besar. Pada saat yang sama, mereka yang tinggal di daerah

terpencil dan masyarakat adat, sering memiliki tingkat kerusakan gigi dan

edentulous yang lebih tinggi daripada populasi metropolitan. Kurangnya

kesadaran kesehatan gigi menjadi faktor utama dalam tingginya kerusakan gigi

yang terjadi.

Pulau Kodingareng merupakan salah satu pulau di Kota Makassar dengan

jumlah penduduk sekitar 4170 jiwa, dengan mata pencaharian 90% sebagai

nelayan, dan sisanya usaha lainnya. Warga menggunakan listrik dengan generator

yang beroperasi selama 12 jam, dengan fasilitas kesehatan berupa 1 buah

Puskesmas pembantu, pos obat desa (POD) melalui program NGO Plan

Internasional. Namun demikian, pelayanan kesehatan di Pulau Kodingareng masih

belum maksimal, karena faktor dari Puskesmas pembantu yang belum naik

statusnya menjadi Puskesmas, selain itu fasilitas seperti pembangunan asrama

untuk staf kesehatan masih dalam perencanaan.

Pelayanan kesehatan yang ada di Pulau Kodingareng dapat berpengaruh

terhadap kesehatan gigi dan mulut masyarakat serta perawatan-perawatan yang

dilakukan berhubungan dengan pelaksanaan perawatan gigi dan mulut.Dengan

demikian, maka pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang menggunakan

gigitiruan tidak dapat dilaksanakan dengan baik jika tingkat pelayanan

Page 13: Print

kesehatannya pun masih kurang. Sehingga salah satunya berdampak pada

pelaksanaan perawatan gigitiruan terutama GTC. Peradangan yang dapat terjadi

pada jaringan periodontal akibat pemakaian GTC dikarenakan syarat-syarat dari

suatu restorasi tidak terpenuhi.Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam suatu

restorasi cekat yaitu syarat biologis, syarat mekanis, dan syarat estetis.Di antara

ketiga syarat tersebut yang sangat berhubungan dengan jaringan penyangga gigi

adalah faktor biologis. Banyak faktor yang harus diperhatikan pada pembuatan

restorasi cekat dalam hal ini adalah restorasi mahkota tiruan dan gigitiruan

jembatan , antara lain yaitu faktor adaptasi tepi restorasi sangat berhubungan

dengan jaringan gingiva, karena itu tepi tersebut tidak boleh menekan atau

mengiritasi jaringan gingiva. Hal penting lainnya yaitu tepi restorasi yang tidak

berlebihan (over hanging), karena akan menyebabkan mudahnya terjadi retensi

plak penyebab utama timbulnya peradangan. Sehingga faktor yang paling penting

untuk mengendalikan dampak dari restorasi terhadap kesehatan gigi adalah

lokalisasi dari tepi mahkota relatif terhadap tepi gingiva.

Preparasi tepi servikal merupakan tahap preparasi yang paling penting

yang menentukan keberhasilan perawatan GTC, karena pada tahap preparasi ini

ditempatkan pada daerah pertemuan antara jaringan gigi penyangga dengan tepi

restorasi.Letak akhiran servikal di sekitar leher gigi yang berbatasan dengan

gingiva, sehingga plak mudah terakumulasi dan hal ini merupakan tahap awal

terjadinya penyakit periodontal.

Preparasi tepi servikal dapat diletakkan di supragingiva, subgingiva, atau

setinggi puncak gingiva. Namun dari beberapa ahli bidang prostodonsia dan

periodonsia menganjurkan penempatan tepi preparasi di supragingiva, karena

batas preparasinya cukup jelas terlihat, lebih mudah dibersihkan dan dikontrol

serta tidak mengiritasi gingiva.

Selain itu, pemeliharaan dari pengguna GTC sangat berperan dalam

kesehatan jaringan periodontal. Agar pemeliharaan gigitiruan cekat dilakukan

pada pasien, maka pertama dokter gigi harus memberikan dental health education

(DHE) kepada pasien bagaimana cara menjaga kebersihan mulut pada umumnya

Page 14: Print

dan GTC pada khususnya dengan cara menggosok gigi yang benar dan melakukan

kontrol plak secara teratur.

Keterbatasan sarana pelayanan kesehatan terutama pada pelayanan

kesehatan gigi dan mulut di Pulau Kodingareng, berdampak pada masyarakat

yang mengandalkan jasa tukang gigi. Menurut peraturan Menteri Kesehatan No.

339/Menkes/Per/V/1989 tentang pekerjaan Tukang Gigi, tukang gigi adalah

mereka yang melakukan pekerjaan di bidang penyembuhan dan pemeliharaan

kesehatan gigi dan tidak mempunyai izin untuk melakukan pekerjaannya.

Berdasarkan keputusan Dirjen Yanmed Depkes RI No. 234/ Yanmed/

KG/5/1991, wewenang tukang gigi antara lain :

1) Membuat gigitiruan lepasan dari akrilik, sebagian atau penuh.

2) Memasang gigitiruan lepasan, tidak menutupi sisa akar

3) Merujuk ke saran kesehatan yang terdekat

Sedangkan larangan-larangan yang tidak boleh dilakukan dalam

pelaksanaan praktek tukang gigi yaitu :

1) Melakukan penambalan gigi dengan bahan tambalan apapun.

2) Melakukan pembuatan dan pemasangan GTC/mahkota/tumpatan tuang dan

sejenisnya.

3) Menggunakan obat-obatan yang berhubungan dengan bahan tambahan gigi,

baik sementara ataupun tetap.

4) Melakukan pencabutan gigi, baik dengan suntikan maupun tanpa suntikan.

5) Melakukan tindakan-tindakan secara medik termasuk pemberian obat-obatan

6) Mewakili pekerjaannya kepada siapapun.

BAB 3

PEMBAHASAN

Page 15: Print

3.1 Macam-Macam Kegagalan Serta Penyebabnya.

Adapun beberapa bentuk kegagalan dari pemakaian gigi tiruan jembatan

yang dapat ditemukan antara lain :

1. Intrusi gigi pendukung, perubahan yang terjadi dimana posisi gigi

pendukung menjauhi bidang oklusal.

2. Karies gigi pendukung, umumnya disebabkan karena pinggiran

restorasirtetainer yang terlampau panjan,kurang panjang atau tidak

lengkap sertaterbuka. Sebab lain, yaitu terjadi kerusakan pada bahna

mahkota retainer yang lepas, embrasure yang terlalu sempit, pilihan tipe

retainer yang salah,serta mahkota sementara yang merusajk

atau ,mendorong gingival terlalulama.

3. Periodontitis jaringan pendukung

4. Konektor patah.

5. Penderita mengeluh akan adanya perasaan yang tidak enak. Hal yang

dapatmenyebabkan gangguan ini adalah kontak prematur atau oklusi yang

tidak sesuai, bidang oklusi yang terlalu luas dan atau penimbunan sisa

makananantara pontik dan retainer, tekanan yang berlebih pada gingiva.

Daerahservikal yang sakit, shok termis oleh karena pasien belum terbiasa.

6. Retainer atau jembatan lepas dari gigi penyangga. Adakalanya satu

jembatan yang lepas secara keseluruhan dapat disemen kembali setelah

penyebab dari lepasnya restorasi tersebut diketahui dan dihilangkan.

Jikatidak semua retainer lepas maka jembatan dikeluarkan dengan cara

dirusak dan dibuatkan kembali jembatan yang baru, jika sesuatu dan

kondisimemungkinkan

7. Jembatan kehilangan dukungan, dapat terganggu oleh karena

jembatan,luas permukaan oklusal, bentuk embrasure, bentuk retainer,

kurang gigi penyangga, trauma pada periodontium dan teknik pencetakan

8. Terjadi perubahan pada pulpa, dapat disebabkan oleh cara preparasi,

preparasi yan g tidak dilindungi dengan mahkota sementara, karies

yangtersembunyi, rangsangan dari semen serta terjadinya perforasi.

Page 16: Print

9. Jembatan patah. Dapat diakibatkan oleh hubungan oleh shoulder atau

bahuyang tidak baik, teknik pengecoran yang salah serta kelelahan bahan.

10. Kehilangan lapisan estetik

11. Sebab-sebab lain yang menyebabkan jembatan tidak berfungsi

Usaha Pencegahan Kegagalan Gigi Tiruan Jembatan

Usaha pencegahan yang dilakukan terhadap kegagalan gigi tiruan jembatan adalah :1. Mengetahui pemilihan jumlah dan distribusi gigi pendukung

Pemilihan jumlah dan distribusi gigi pendukung yang baik dapat mengurangi resiko terjadinya kegagalan gigi tiruan jembatan. Hukum Ante tetap merupakan acuan utama untuk menentukan distribusi jumlah gigi yang tepat pada gigi tiruan jembatan, idealnya dua pendukung digunakan untuk satu pontik yang terletak pada ujung-ujungnya.

2. Dokter gigi mengetahui dengan baik prosedur perawatannya3. Pasien menjaga oral hygiene dengan baik agar tidak ada akumulasi plak4. Aplikasi bahan pelapis lunak5. Pemakaian stres absorbing elemen 6. Pemakaian konektor non rigid. Perbedaan gerakan gigi dan implan dapat

menyebabkan berbagai bentuk kegagalan pemakaian gigi tiruan jembatan dukungan gigi dan implant. Usaha yang paling penting untuk diperhatikan dalam mencegah berbagai bentuk kegagalan tersebut adalah dengan mencegah terjadinya tekanan berlebihan pada pendukung gigi tiruan jembatan yang timbul akibat perbedaan pergerakan tersebut.

3.1.1 Dampak Pemakaian Gigitiruan Mahkota terhadap Kesehatan Jaringan

Gingiva

Menurut Drg Esti Prasetyo dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta

Utara, penyebab gingivitis yang paling sering terjadi yaitu menumpuknya karang

pada gigi yang berasal dari sisa makanan yang tidak dibersihkan. Karang gigi itu

berasal dari sisa-sisa makanan  yang tidak dibersihkan, sehingga terjadi

penumpukkan dan menjadi karang. Jika plak tetap melekat pada gigi selama lebih

dari 72 jam, maka akan mengeras dan membentuk karang gigi. Gingivitis banyak

juga ditemukan pada orang yang menggunakan gigitiruan yang tidak pernah

memperhatikan faktor kebersihan gigitiruan dan rongga mulutnya. Apalagi jika

Page 17: Print

gigitiruan itu terbuat dari bahan yang kasar sehingga ada kemungkinan bisa

melukai gusi sehingga menyebabkan radang.

Penyakit periodontal harus dikenali dan dirawat sebelum pembuatan gigi

tiruan terutama gigi tiruan cekat yang sepenuhnya didukung oleh jaringan

penyangga gigi, sedang letak tepi gusi dapat dipakai sebagai pedoman letak tepi

gigi tiruan cekat yang sempurna berkaitan dengan faktor estetis.

Faktor yang juga memegang peranan penting dalam menjaga kesehatan

jaringan penyangga gigi adalah kontur mahkota. Kontur mahkota ini dapat

dibahas dari 4 sudut pandang yaitu :

1. Hubungan kontur mahkota dengan perlindungan jaringan gusi. Wheeler

(1961), Bessett dkk (1964), -Glickman (1972) dan Kornfeld (1974)

mendukung pemikiran bahwa kontur dengan kecembungan sedikit saja akan

melindungi jaringan gusi dan mudah dibersihkan dari sisa-sisa makanan (self

cleansing).

2. Hubungan kontur mahkota dengan aktivitas otot. Morris (1962) dan Herlands

dick (1962) menganjurkan kontak restorasi dengan pipi, bibir dan lidah dapat

mempunyai efek pembersihan mahkota gigi dan jaringan gusi. Kontur

mahkota yang berlebihan (overcontured) akan menghalangi efek pembersihan

ini.

3. Hubungan kontur mahkota dengan dimensi anatomi. Kraus (1969), Burch

(1971) dan Beaudreau (1973) menganjurkan bahwa pembuatan mahkota tiruan

harus meniru kontur gigi aslinya, tapi anjuran ini tidak didukung oleh

penelitian.

4. Hubungan kontur mahkota dengan kontrol plak. Berdasarkan pengertian

bahwa terdapatnya plak adalah penyebab utama penyakit periodontal, maka

Haren dan Osbone (1967), Barkley (1971) dan Yuodelis dkk (1973)

menyarankan kontur mahkota yang memungkinkan kontrol plak secara

optimum. Sackett dan Gildenhuys (1976) menunjukkan secara eksperimen

bahwa kontur mahkota yang berlebihan menghilangkan kesempatan untuk

pembersihan plak serta menyebabkan peradangan jaringan gusi, sedangkan

kontur mahkota yang kurang (undercontoured) tidak menyebabkan kerusakan

Page 18: Print

yang berarti.

Ketahanan struktur restorasi pada gigitiruan cekat, harus cukup kuat untuk

mencegah lapisan semen dibawahnya agar tidak patah.Oleh karena itu jaringan

gigi yang dihilangkan harus cukup, sehingga terdapat jarak untuk membentuk

kontur restorasi yang normal. Jika restorasi dibuat dengan kontur normal pada

preparasi dengan pengurangan aksial yang tidak adekuat, maka dinding restorasi

akan tipis dan mudah terjadi distorsi. Kurangnya celah pada daerah aksial

menyebabkan tekniker sulit membuat pola malam, memendam dan menuang

tanpa terjadi distorsi. Biasanya sebagai kompensasi, tekniker akan membuat

dinding overcontour. Cara ini akan menimbulkan masalah pada jaringan

periodontium. Prinsip berikutnya adalah integritas marginal.

Ada tiga syarat untuk mendapatkan tepi restorasi yang baik, yakni harus

serapat mungkin dengan tepi akhir preparasi, cukup kuat menahan tekanan

kunyah, dan jika memungkinkan harus ditempatkan pada daerah yang mudah

diperiksa oleh dokter gigi dan mudah dibersihkan oleh penderita.Restorasi cekat

dapat bertahan lama dalam rongga mulut jika tepinya beradaptasi baik dengan

cavosurvace finish line. Konfigurasi dari garis akhir preparasi menentukan bentuk

dan ketebalan dari logam serta kecekatan tepi restorasi.

Preparasi gigi untuk mahkota metal porselen seringkali tidak adekuat

sehingga ruang yang optimal yang dibutuhkan untuk mahkota tidak diperoleh,

sehingga akan menyebabkan warna mahkota tiruan menjadi buram karena

ketebalan porselen yang menutupi coping metal tidak optimal. Dibutuhkan

ruangan preparasi minimal tebal 1,5 mm untuk mendapatkan warna mahkota

tiruan yang estetis. Akan tetapi pada beberapa kasus tidak semua gigi dapat

direduksi teba1 1,5 mm. Kadang-kadang pada saat dilakukan preparasi yang

adekuat malah terjadi trauma pada pulpa.

Hal lain yang sering mengganggu tampilan pengguna mahkota tiruan

metal porselen adalah adanya grey area pada tepi mahkota, biasanya disebabkan

gingiva yang resesi setelah pemakaian dalam jangka waktu lama, sehingga bagian

metal pada tepi sedikit terlihat dan terjadinya diskolorisasi gingiva akibat korosi

metal.

Page 19: Print

3.1.2 Dampak desain tepi restorasi yang buruk terhadap jaringan gingiva

a. Knife-edge/feather edge atau shoulderless

Bentuk preparasi ini dapat digunakan untuk restorasi yang terbuat dari

logam. Keuntungan dari bentuk akhiran preparasi ini adalah pengambilan jaringan

yang lebih sedikit, namun preparasi tidak dapat dievaluasi secara tepat

pengurangan di bagian tepi servikal sehingga dapat mengakibatkan akhiran tepi

servikal terlalu dalam di sulkus gingiva dan mengiritasi jaringan periodontal.

Kekurangan dari akhiran tepi servikal knife-edge ini adalah batasnya sulit

dilihat secara jelas pada gigi yang dipreparasi maupun pada model.Bentuk akhiran

ini memerlukan pengamatan secara lebih teliti oleh laboran terutama pada saat

membuat pola malamnya. Bentuk knife-edge merupakan akhiran tepi servikal

yang digunakan pula pada restorasi yang terbuat dari bahan emas karena

preparasinya dapat dibuat secara lebih mudah dan pengambilan jaringan gigi tidak

terlalu banyak, sehingga tidak membahayakan jaringan pulpa gigi.

b. Preparasi shoulder (bentuk hahu penuh)

Preparasi shoulder ini adalah preparasi yang mempunyai bahu

mengelilingi seluruh servikal sehingga disebut full shoulder atau partial shoulder

jika hanya bagian labial/bukal. Preparasi ini lebih menjamin adanya ruangan yang

cukup di daerah servikal terutama untuk kelompok restorasi metal porselen atau

metal akrilik. Teknik preparasi ini lebih sulit dan tidak mungkin dikerjakan pada

gigi yang mempunyai ruang pulpa yang besar.Bur yang digunakan dalam

pembuatan akhiran tepi servikal ini adalah bur bentuk fisur runcing yang

ujungnya rata. Bur ini digunakan apabila diperlukan ruangan untuk penempatan

restorasi yang terbuat dari porselen.

c. Preparasi bevel shoulder (bentuk setengah bahu)

Bentuk akhiran tepi servikal ini merupakan kombinasi dari bentuk bahu

penuh yang disertai dengan bevel.Preparasi bevel shoulder ternyata dapat

menghasilkan kontur yang baik untuk penempatan tepi restorasi karena jika bahu

ditempatkan pada lokasi yang tepat maka tepi bevel dapat berada dalam sulkus

gingival tanpa mengganggu dasar sulkus gingiva.Preparasi ini memenuhi dua

Page 20: Print

syarat penting pada daerah servikal yaitu, memberikan ruangan yang cukup untuk

bahan restorasi yang diperoleh dari bahu dan memungkinkan adaptasi tepi yang

adekuat dari bevel.untuk membuat bahu dan bevel di sub gingiva, bahu perlu

dipreparasi setinggi tepi gusi yang sehat dan kemudian ditambahkan bevel 0,3-0,5

mm. Cara preparasi ini memungkinkan kontrol penempatan tepi restorasi dengan

baik. Bentuk bevel shoulder ini digunakan sebagai akhiran tepi servikal pada

restorasi metal porselen, namun porselen tidak ditempatkan pada bagian bevelnya.

Bagian bevel biasanya ditempati oleh metal collar atau restorasi yang bagian

leher/tepi servikalnya terbuat dari logam.

d. Akhiran preparasi bentuk chamfer

Beberapa peneliti menganggap sebuah akhiran servikal yang bersudut

tumpul atau bentuk dengan potongan melintang yang melengkung disebut dengan

chamfer. Bell dkk yang dikutip oleh Reitemeier menyatakan bahwa preparasi

dilakukan dengan pengurangan setebal 1,5 mm, sudut garis internal yang

membulat dari sudut cavosurface sebesar 135°. Desain preparasi tepi ini sangat

menguntungkan jika dipakai untuk lahkota logam porselin, karena tepi logamnya

dapat dibuat relatif tipis. Bentuk chamfer seringkali digunakan sebagai akhiran

tepi servikal dari restorasi yang terbuat dari logam, namun bukan berarti bahwa

bentuk chamfer lebih istimewa jika dibandingkan dengan bentuk akhiran preparasi

servikal lainnya.

3.2 Penatalaksanaan dari kegagalan perawatan GTC

a. Perawatan bahan

Syarat-syarat bahan secara umum adalah memiliki aspek

1. Biologis

Non iritan

Non toksik

Kariostatik

2. Kelarutan

Page 21: Print

Bahan tersebut harus tahan terhadap saliva ( tidak larut dalam

saliva)

3. Mekanis

Memiliki daya tahan abrasi yang baik

Modulus elasticitysama dengan enamel dan dentin

4. Sifat termis

Koefisien muai panas sama dengan enamel dan dentin.

Macam – macam bahan gigi tiruan

Gigi tiruan berdasarkan bahan yang digunakan

1. All porcelain bridge

Bahan porselen adalah bahan yang sangat populer saat ini.Kelebihannya

adalah pilihan gradasi warna yang sangat estetis dan permukaannya

mengkilat.Bahan porselen sulit dibedakan dengan gigi yang asli.Kekuatannya

lebih besar daripada akrilik tetapi tidak sekuat logam.Kekurangan dari bahan

porselen ini bersifat rapuh dan sehingga tidak dapat diasah dan tidak dapat

diletakkan pada permukaan kunyah gigi belakang.Biasaya juga digunakan untuk

gigi yang memerlukan estetik tinggi. Bahan porselen ini tidak cocok digunakan

pada pasien dengan kebiasaan buruk bruxism karena gesekan yang terus menerus

dengan gigi antagonisnya akan menyebabkan porcelain cepat pecah.

2. All acrylic bridge

Bahan akrilik biasanya digunakan untuk pembuatan mahkota jaket sementara

(menunggu mahkota jaket permanen).Bahan akrilik biasanya dikombinasikan

dengan logam karena sifat bahan akrilik tidak kuat menahan beban

kunyah.Kelebihan dari bahan akrilik warnanya dapat disesuaikan dengan gigi asli,

namun mudah berubah warnanya.Harganya pun murah tetapi tampilan

menarik.Kontraindikasi dari bahn ini adalah tidak digunakan pada gigi yang

memiliki beban kunyah yang besar karena kekerasan akrilik hanya 1/16 kekerasan

dentin.Gigi tiruan yang menggunakan bahan ini juga tidak cocok digunakan pada

penderita dengan bruxism.

3. All metal bridge

Page 22: Print

Gigi tiruan permanen yang terbuat dari logam atau emas mempunyai kekuatan

yang sangat bagus bahkan dapat bertahan sampai bertahun-tahun, keuntungan

yang lain adalah logam dan emas tidak korosif dan tidak berkarat. Tetapi gigi

tiruan dari bahan logam dan emas tampilan warnanya sangat berbeda dengan gigi

asli.Biasanya diindikasikan pada gigi posterior dan kontraindikasinya adalah gigi

abutmen yang digunakan mempunyai ketebalan dentin yang kecil.

Gold Crowns

Keuntungan:

-metode simple karena struktur gigi yang dkurangin lebih minimal.

- Lebih tahan lama pada saat tekanan berat seperti menggigit dan mengunyah.

- Mudah menyesuaikan sesuai daerah di mana gigi dan mahkota memenuhi

- Sehat lingkungan untuk jaringan gusi

Kerugian:

- estetik kurang karena warna gigi tidak seperti gigi asli.

4. Kombinasi (porselen dan metal)

Porcelain fuse to metal adalah jenis hibrida antara mahkota logam dan

mahkota porselen. Mereka terutama dipilih untuk gigi depan tetapi tidak menutup

kemungkinan juga digunakan pada gigi posterior. Porcelen fuse to metal ini lebih

kuat daripada all porselen bridge. Meskipun porcelen fuse to metal dipilih untuk

penampilan yang sangat baik karena keestetikannya, ada beberapa kelemahan

utama yang terkait dengan logam menyatu di dalamnya. Berikut adalah beberapa

kelemahan dicatat oleh pengguna dan dokter gigi mahkota ini:

Ketidaknyamanan-gigi mungkin sensitif setelah prosedur. Jika gigi

dimahkotai masih mengandung beberapa saraf, saraf yang akan sensitif

terhadap panas dan dingin.

Ada beberapa kasus di mana permukaan mahkota menciptakan keausan pada

gigi antagonisnya. Hal ini kadang-kadang menjadi begitu menonjol sehingga

tidak dapat diawasi.Bagian porselen bisa terkelupas mati dan logam yang

mendasari dapat terlihat sebagai garis gelap.

5. In Ceram (keramik bridge)

Page 23: Print

Terbuat dari porselen alumina yang sangat tangguh. Memiliki estetika yang sangat

baik dan cukup kuat untuk dapat disemen dengan semen gigi tradisional.

SPINELL - untuk kasus anterior unit tunggal yang memerlukan estetika unggul

dan tembus. ALUMINA - untuk posterior unit tunggal dan kasus anterior, dan

sampai restorasi 3-unit jembatan. Zirkonia - untuk posterior unit tunggal dan

kasus anterior, dan sampai restorasi 5-unit jembatan.

Berdasarkan bahan pembuatan pontik dapat diklasifikasikan :

1. Pontik logam

Logam yang digunakan untuk membuat pontik pada umumnya terdiri dari

alloy yang setara dengan alloy emas tipe III. Alloy ini memiliki kekuatan

dan kelenturan yang cukup sehingga tidak mudah menjadi patah atau

berubah bentuk(deformasi) akiba tekanan pengunyanhan. Pontik logam

biasanya dibuat untuk daerah-daerah yang kurang mementingkan factor

estetis, namun lbih mementingkan factor fungsi dan kekuatan seperti pada

jembatan posterior.

2. Pontik porselen

Pontik jenis ini merupakan pontik dengan kerangka dari logam sedangkan

seluruh permukaannya dilapisi dengan porselen.Pontik ini biasanya

diiindikasikan untuk jembatan anterior dimana factor estetis menjadi hal

yang utama. Pontik porselen mudah beradaptasi dengan gingival dan

memberikan nilai estetik yang baik untuk jangka waktu yang lama.

3. Pontik akrilik

Pontik akrilik ini adalah pontik yang dibuat dengan pemakaian bahan resin

akrilik. Dibandingkan dengan pontik lainnya, pontik akrilik lebih lunak

dan tidak kaku sehingga membutuhkan bahan logam untuk kerangkanya

agar mampu menahan daya kunyah/gigit.Pontik ini biasanya diindikasikan

untuk jembatan anterior dan berfungsi hanya sebagai bahan pelapis estetis

saja.

4. Koimbinasi logam dan porselen

Page 24: Print

Pontik ini merupakan kombinasi logam dan porselen dimana logam akan

memberikan kekuatan sedangkan porselen pada jenis pontik ini

memberikan estetis. Porselen pada bagian labial/bukal dapat

dikombinasikan dengan logam yang bertitik leburtinggi (lebih tinggi dari

temperature porselen). Tidak berubah warna jika dikombinasikan dengan

logam, sangat keras, kuat, kaku dan memiliki pemuaian yang sama dengan

porselen. Porselen ditempatkan pada bagian bukal/labial dan daerah yang

menghadap linggir, sedangkan logam ditempatkan pada oklusal dan

lingual.Pontik ini dapat digunakan pada jembatan anterior maupun

posterior.

5. Kombinasi logam dan akrilik

Pada kombinasi logam dan akrilikini, akrilik hanya berfungsi sebagai

bahan estetik sedangkan logam yang member kekuatan dan dianggap lebih

dapat diterima oleh gingival sehingga permukaan lingual/palatal dan

daerah yang menghadap gusi dibuat dari logam sedangkan daerah

labial/bukal dilapisi dengan akrilik.

b. Perawatan pendahuluan

Perawatan pendahuluan adalah tindakan yang dilakukan terhadap gigi,

jaringan lunak maupun keras, dalam rangka mempersiapkan mulut untuk

menerima gigi tiruan. Keberhasilan atau gagalnya gigi tiruan cekat tergantung

pada beberapa factor diantarnya meliputi:

1. Kondisi mulut pasien

2. Keadaan periodontal gigi abutment

Tujuan perawatan pendahuluan selain untuk mengadakan sanitasi mulut,

juga untuk menciptakan kondisi oklusi normal, yang menjamin kesehatan gigi dan

jaringan pendukungnya.

Perawatan ini meliputi:

Page 25: Print

1. Tindakan-tindakan yang berhubungan dengan perawatan jaringan

pendukung gigi abutment.

Hal ini berguna untuk mendapatkan jaringan yang sehat pada gigi yang

ada sehingga dapat memberikan dukungan dan fungsi yang baik untuk gigi tiruan.

Antara lain :

Menghilangkan kalkulus

Menghilangkan pocket periodontal

Memperbaiki tambalan yang tidakbaik, seperti tambalan menggantung.

Menghilangkan gangguan oklusal

Mengevaluasi keadaan jaringan periodontal gigi abutment secara radiografi juga

perlu dilakukan untuk menilai apakah gigi tersebut masih dapat digunakan

sebagai penyangga atau tidak.

2. Tindakan Konservasi

Sebelum merencanakan gigitiruan harus diketahui perbaikan yang akurat

terhadap gigi-gigi yang ada.

Antara lain :

Penambalan gigi yang karies

Pembuatan inlay, dsb

3. Tindakan Prostetik

Setelah semua gigi penyangga dan jaringan pendukungnya dievaluasi

tahap berikutnya adalah pembuatan gigi tiruan cekat yang baru.

Keuntungan dari perencanaan, pembuatan dan pelaksanaan persiapan

didalam mulut yang teliti adalah sangat mendasar. Preparasi yang tepat akan

mengarahkan gaya pengunyahan, sehingga desain gigi tiruan akan mendukung

satu sama lain. Gaya yang seimbang dan didistribusikan dengan sesuai dapat

membantu mempertahankan struktur rongga mulut yang masih ada dan restorasi.

Akhirnya keadaan ini dapat menghasilkan ramalan, prognosa yang baik untuk

Page 26: Print

suatu restorasi. Setelah dilakukan perawatan pendahuluan yang baik, barulah

dapat dilakukan pengambilan cetakan pada pasien untuk pembuatan gigitiruan,

karena gigi tiruan dapat bertindak sebagai pengganti fungsi gigi yang hilang dan

mengembalikan kesehatan jaringan mulut.

c. Pemilihan desain

Pertimbangan Pemilihan Desain Dasar Gigi Tiruan Cekat

1. Desain Retainer

2. Desain Pontik