PRAGMATISME KEBERAGAMAAN

download PRAGMATISME KEBERAGAMAAN

of 24

  • date post

    10-Apr-2018
  • Category

    Documents

  • view

    219
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PRAGMATISME KEBERAGAMAAN

  • 8/8/2019 PRAGMATISME KEBERAGAMAAN

    1/24

    PRAGMATISME KEBERAGAMAAN : Kesadaran Normatif

    Oleh Rum Rosyid, Dosen Sosiologi Politik, FKIP Untan Pontianak

    Pragmatisme juga terdapat dalam mengemukakan ajaran agama. Hal ini terjadi berkenaan

    dengan keabsahan perempuan jadi presiden. Item ini dipertentangkan secara terbuka di

    hadapan umat dari suatu komunitas kultur keberagamaan yang sama. Hal ini diperparahdengan silat lidah untuk mendukung seseorang dan menghujat yang lainnya atas nama

    organisasi keagamaan terhadap person-person tertentu yang berasal dari komunitas yang

    sama juga. Hal ini semua menunjukkan bahwa ternyata banyak terminologi agamadipakai hanya untuk tujuan-tujuan mencapai kekuasaan semata. Pada sisi lain, lantaran

    ternyata membawa bendera agama tersebut berujung pada kekalahan, maka sebaiknya

    dipikirkan, masih relevankah membawa bendera agama ke dalam kegiatan politik? Bila

    melihat hasilnya, sepertinya umat ini sudah tidak tertarik lagi oleh partai yang membawabendera agama. Perhelatan Pilpres 2009 telah menggambarkan betapa umat Islam tak

    berdaya menentukan nasibnya sendiri. Mereka hanya menjadi obyek pemilu. Ini kian

    kentara ketika partai-partai yang mengaku Islam terjebur dalam lumpur kekuasaan dan

    dengan gegap gempita merapat ke partai sekuler. Padahal sebelumnya para petinggi-petinggi partai itu mengatakan haram memilih partai sekuler.

    Namun jangan disimpulkan bahwa umat tidak mau berpolitik dengan jiwa keagamaan.

    Umat justru sangat mengharapkan pemimpin politik yang agamis. Ideologi Islam itu

    sekecil apapun pasti melekat erat dalam keislaman seorang Muslim, apalagi pada diri

    seorang kyai atau ulama. Hanya saja kadang ideologi ini kalah dengan doronganpragmatisme politik demi kekuasaan dan uang. Karenanya, di tengah arus besar

    pragmatisme politik dalam tatanan yang sekularistik sekarang ini memang tidak mudah

    untuk kokoh memegang atau mengembang ideologi Islam, termasuk bagi seorang kyaiatau ulama sekalipun. Namun sebagaimana dikemukakan gambarannya di atas, umat

    agak kurang percaya terhadap para pemimpin politiknya. Karena pemilih memangmayoritas umat Islam.

    Apalagi faktanya parpol Islam seperti PKS, PPP, PBB dan PMB, maupun parpol berbasis

    massa Islam seperti PAN, PKB dan PBR semua mendukung SBY. Maka, perolehan suaraSBY berdasar hitung cepat yang sekitar 60 persen bisa dianggap cerminan dari tingginya

    dukungan umat Islam. Kenyataannya umat memilih SBY semata berdasarkan popularitas

    dan kesan atau citra sebagai sosok yang meyakinkan, yang dianggap cukup berhasil

    memimpin Indonesia serta memuaskan rakyat banyak. Ukurannya sederhana. SBY lahyang mengasih BLT, menurunkan BBM, bikin sekolah gratis, menaikkan gaji guru dan

    sebagainya. Dengan memilih SBY, rakyat berharap program-program tadi bisa

    dilanjutkan. Mereka tidak terlalu ambil peduli soal-soal ideologis seperti isu neoliberal,pengaruh dan intervensi asing dalam pemerintahan SBY dan sebagainya. Buat mereka itu

    terlalu canggih untuk dipahami. Umat juga merasa pilihannya tidak keliru secara

    ideologis mengingat pada faktanya SBY juga didukung oleh semua parpol Islam atauparpol berbasis massa Islam. Artinya, umat merasa pilihannya juga cukup Islami. Tapi

    apakah endorsment (dukungan. red) partai-partai itu benar-benar didasarkan pada

    pertimbangan ideologis yang Islami ataukah semata berdasar pertimbangan pragmatisme

    politis demi didapatnya kue kekuasaan bagi para elit partai, hal ini tampaknya tidak

  • 8/8/2019 PRAGMATISME KEBERAGAMAAN

    2/24

    terlalu dipikirkan oleh umat. Yang mereka lihat, partai-partai itu semua mendukung

    SBY.

    Pernyataan ini membuktikan bahwa isu syariah dimata parpol Islam dan aktivisnya hanya

    akan melahirkan pro kontra bahkan mungkin penolakan di tengah masyarakat. Kemudian

    membuat logika sederhana lagi: toh seandainya kami mayoritas, kami bisa melakukanapapun, termasuk memberlakukan syariat Islam. Deideologisasi parpol Islam

    menunjukkan bahwa parpol Islam kian jauh dari amanah utamanya untuk menyeru agar

    syariat Islam diterapkan secara kffah melalui dukungan menyeluruh dari masyarakat(yang sudah sadar bahwa Islam sebaik-baik solusi problematika mereka). Oleh karena itu,

    bagaimana mungkin muncul kesadaran itu kalau syariat Islam tidak disampaikan secara

    terbuka kepada masyarakat sejak dini.

    Tepat 9 April 2009, serentak di seluruh daerah Indonesia melaksanakan pemilu untuk

    memilih anggota legislatif. Seperti perkiraan sebelumnya, parpol sekuler (walau

    sebenarnya kebanyakan parpol Islam peserta pemilu juga layak disebut parpol sekuler)

    tetap menjadi juara. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya tak ada perubahan mendasardalam pandangan masyarakat atas parpol Islam yang terjun dalam lingkaran demokrasi

    Indonesia. Padahal, kepercayaan masyarakat inilah yang menjadi indikasi seberapa besarparpol atau jamaah memiliki dukungan. Karena umat sudah punya pilihan sendiri dengan

    pertimbangan sendiri, dan pilihan itu dirasa lebih sesuai dengan selera mereka. Boleh saja

    para kyai atau tokoh umat menentukan pilihan dan menyerukan umat untuk juga memilih

    pilihan itu, tapi ketika arahan itu tidak sesuai dengan selera mereka, maka merekalebih cenderung kepada pilihannya sendiri. Apalagi pilihan para kyai dan tokoh umat

    juga masih bisa dipertanyakan keislamannya. Maksudnya, umat tentu boleh bertanya

    apakah betul pilihan para kyai dan tokoh umat itu adalah figur yang betul-betul Islami?Umat tahu, calon pilihan kyai dan tokoh umat itu akhirnya menjadi capres adalah setelah

    dirinya ditolak oleh SBY. Artinya, dia menjadi calon presiden itu bukan karena sejak dari

    awal memang hendak memperjuangkan sesuatu yang bersifat Islami, tapi lebih karenaketerpaksaan politik setelah dirinya tidak lagi bisa berpasangan dengan SBY.

    Karenanya, wajar jika dukungan para kyai dan tokoh umat itu dirasakan tidak cukup kuatmemberikan legitimasi akan keislaman dari calon tersebut. Hal-hal seperti ini dibaca

    oleh umat. Meski di sepanjang waktu kampanye ada usaha keras untuk menunjukkan

    bukti tentang peran beliau bagi kepentingan Islam di negeri ini, tapi tampaknya hal itu

    sekali lagi tidak cukup kuat menggeser selera umat dari SBY yang pada saat yangsama, bersama parpol-parpol Islam atau parpol-parpol berbasis Islam, juga berusaha

    menunjukkan keIslamannya.

    Dalam dunia politik Indonesia, ternyata ada beberapa kemajuan dari parpol Islam. Kini,

    parpol Islam tidak lagi menggunakan ayat alias isu Islam atau syariat Islam sebagai isu

    kampanyenya. Justru isu-isu moralitas dan isu-isu parsial seperti pemberantasan KKN,kehidupan serba gratis dan isu perubahan semu yang diobral. Karena itu, parpol Islam

    dikatakan lebih takut aturan KPU dibanding aturan Allah sang Pencipta manusia. Atau

    ironisnya lagi, mereka seolah mengamini dan mengikuti statement tokoh parpol Islam

    dengan jargon bersih, peduli, profesional yang mengatakan bahwa "Partai kami tak

  • 8/8/2019 PRAGMATISME KEBERAGAMAAN

    3/24

    akan menjual isu syariat Islam pada pemilu 2009. Ini agar partai kami bisa menempatkan

    orangnya di kekuasaan. Soal syariat Islam dan sebagainya, sudah tidak relevan lagi bagi

    partai kami."

    Soal kecenderungan pragmatisme politik yang terjadi pada semua partai-partai Islam,

    sebenarnya itu tidak terlalu mengejutkan. Tapi di situlah memang letak tantangannya.Meletakkan idealisme di tengah pusaran arus pragmatisme yang demikian kuat. Bila

    berpegang pada idealisme Islam, sebenarnya kumpulan parpol Islam dan parpol berbasis

    massa Islam itu punya cukup suara untuk mengajukan calonnya sendiri. Tapi, karenadorongan pragmatisme politik maka semangat idealisme Islam itu pun tergusur. Saking

    pragmatisnya, cawapres Boediono yang sebelumnya dikecam habis-habisan toh akhirnya

    didukung juga dengan berbagai dalih. Bukan dalil. Dalil itu dari Alquran dan As Sunnah.

    Sementara dalih, dicari-cari atau diada-adakan untuk melegalkan pilihan politik itu. Jadi,kalau kita boleh menyebut, sekarang ini lebih deras mengalir arus politisasi Islam dari

    pada Islamisasi politik. Politisasi Islam itu menjadikan (massa) Islam sebagai alat untuk

    meraih tujuan politik, sedang Islamisasi politik itu menjadikan politik sebagai alat untuk

    meraih tujuan Islam.

    Dalam politik praktis di mana tujuan utamanya meraih kursi kekuasaan, sementarapilihan-pilihan politik yang ada secara faktual terbatas, misalnya dalam Pilpres lalu yang

    hanya dengan tiga pasang pilihan, memang akan cenderung membawa siapapun untuk

    bersikap lebih pragmatis. Bagaimana mau mempertahankan idealisme bila pilihan untuk

    itu menurutnya tidak ada. Maka, politik idealistik dalam konteks seperti itu akandianggap tidak realistik. Meski demikian, Politik aliran dalam arti politik Islam tidak

    pernah dan tidak akan pernah hilang. Buktinya, parpol Islam masih ada, dan masih cukup

    mendapat dukungan. Gabungan suara PKS, PPP, PBB, PMB dan PKNU dalam pemilulalu saya kira masih mendekati angka 20 persen.

    Buktinya lagi, parpol seperti PAN dan PKB juga tetap terus berusaha menjagaindentifikasi diri sebagai partainya orang-orang Muhammadiyah atau NU, karena mereka

    tahu di situlah basis utama mereka. Dan gabungan suara kedua partai itu dalam Pileg lalu

    masih mendekati angka 10 persen. Bila angka ini digabung dengan perolehan suaraparpol Islam, masih pada kisaran 30 persen. Itu artinya, 1 dari 3 orang di Indonesia masih

    melekatkan pilihan politiknya pada sesuatu yang berbau Islam. Jadi, politik aliran dalam

    arti politik yang disemangati oleh Islam itu masih ada. Hanya ekspresinya saja yang

    berubah-ubah, atau berbeda-b