PPI Brief Series PPI Brief adalah analisis bulanan PPI Dunia atas Kondisi nasional dan internasional

download PPI Brief Series PPI Brief adalah analisis bulanan PPI Dunia atas Kondisi nasional dan internasional

of 8

  • date post

    24-Dec-2019
  • Category

    Documents

  • view

    5
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PPI Brief Series PPI Brief adalah analisis bulanan PPI Dunia atas Kondisi nasional dan internasional

  • PPI Brief Series Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia

    PPI Brief no. 7 / 2019

    Laode Marzujriban Masfara

    Shale Gas: Tantangan dan Perkembangannya untuk

    Pemenuhan Kebutuhan Energi di Indonesia

  • PPI Brief

    Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia

    RINGKASAN EKSEKUTIF

    Gas serpih atau shale gas merupakan salah satu bentuk sumber energi fosil yang kini menja- di primadona. Berbeda dengan gas pada umumnya dimana gas terperangkap pada suatu batuan yang berpori setelah bermigrasi dari batuan sumber, shale gas justru tersimpan pada batuan sumber itu sendiri. Pertama dikomersilkan di Amerika Serikat, kini shale gas menja- di pendorong produksi gas di sana.

    Di Indonesia, penelitian tentang shale gas terpublikasi oleh pemerintah di bawah Lemigas telah dilakukan sejak tahun 2011. Meski demikian, penelitian yang dilakukan memang perlu waktu yang panjang serta sumber daya yang tidak sedikit sehingga sampai saat ini shale gas di Indonesia belum se-menarik gas atau minyak konvensional ditambah lagi hasil riset yang saat ini belum menjadi domain publik yang menjadikan sulitnya kolaborasi antarinsti- tusi/antarpeneliti baik lembaga swasta maupun pemerintah dalam mengembangkan shale gas.

    Berangkat dari masalah-masalah yang dikemukakan, beberapa pemecahan masalah dapat diimplementasikan seperti perampingan perizinan tanpa mengurangi substansi terkait perizinan sumur baru dan elemen penunjang eksplorasi serta keterbukaan data didukung oleh riset yang lebih masif.

    PENDAHULUAN

    Tidak seperti gas alam lain yang biasa diproduksi, shale gas terperangkap pada batuan tempat dimana energi fosil ini terbentuk. Ketika kandungan organik tersebut berada pada temperatur dan tekanan tertentu, minyak dan gas akan terdorong keluar dan bermigrasi. Pada bahan bakar fosil konvensional, minyak dan gas bermigrasi dan kemudian terakumulasi pada batuan berpori. Sedangkan dalam kasus shale gas, batuan sumber tempat terakumulasinya gas adalah batuan yang memiliki kondisi pori serta daya tembus yang buruk. Hal ini kemudian mengharuskan adanya proses perekahan batuan dengan menginjeksi fluida ke dalam formasi batuan atau dikenal dengan istilah fracking. Selain itu, dikarenakan konektivitas antarpori yang sangat buruk, pengeboran biasanya dilakukan secara horizontal terutama pada lapisan batuan target (horizontal drilling). Karena proses pembentukan dan kebutuhan akan perlakuan yang berbeda tersebut, shale gas dimasukkan dalam kategori sumber energi nonkonvensional.

    Perkembangan shale gas diawali pada tahun 1821 ketika shale gas pertama kali dikomersialisasikan di New York, Amerika Serikat oleh William Hart (Lash & Lash, 2014). Amerika Serikat kemudian dianggap sebagai negara pelopor revolusi shale gas. Berkat penelitian yang panjang yang malah mayoritas didukung oleh swasta, 62% produksi gas di Amerika Serikat berasal dari shale gas pada tahun 2017 (Outlook, 2017). Selain itu, sejak tahun

    1

    1.

    2.

    3.

  • PPI Brief

    Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia

    2

    2012 perkembangan teknologi seperti teknik fracking dan horizontal drilling, telah meningkatkan efisiensi produksi shale gas 20% - 35% (Mistré, Crénes, & Hafner, 2018).

    Keberhasilan Amerika Serikat dalam mengembangkan shale gas berdampak besar bagi ekonomi. Di satu sisi, banyak perusahaan Amerika Serikat yang berorientasi pada bisnis minyak dan gas (migas) berasal dari Amerika Serikat mengalami kerugian dibanding tahun sebelumnya akibat anjloknya harga migas yang disinyalir karena pengembangan shale gas secara masif (Asche et al., 2012). Di sisi lain, keberhasilan dalam meningkatkan produksi gas yang dimulai pada tahun 2007 menjadi tonggak penting karena peningkatan produksi gas tersebut dipicu oleh produksi shale gas seperti diperlihatkan pada Gambar 1.

    Lebih dari itu, minyak dan gas konvensional yang diproduksi hingga kini layaknya ujung piramida sedangkan minyak dan gas nonkonvensional berada pada dasar piramida. Maksudnya, migas nonkonvensional memiliki cadangan (reserve) dengan jumlah volume yang jauh lebih besar. Akan tetapi, migas nonkonvensional ini memiliki tantangan teknis dan biaya ekstraksi yang lebih tinggi dari migas konvensional. Bagaimanapun, seiring dengan kemajuan teknologi pengeboran shale gas, pengeboran shale gas sudah sukses diterapkan di berbagai negara seperti Amerika Serikat (Medlok & Barry, 2012), Argentina (Eygun et al., 2017), dan Kanada (Ross & Bustin, 2008). Dalam hal ini, teknologi menjadi realisasi ekstraksi shale gas yang ada.

    POTENSI SHALE GAS

    Gambar 1. Peningkatan produksi gas di Amerika Serikat yang ditopang oleh produksi shale gas serta penurunan impor gas sejak produksi shale gas (sumber data: EIA).

  • PPI Brief

    Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia

    3

    Pada tahun 2013, Advance Resource International (ARI) melakukan survei tentang potensi shale gas di 137 formasi di 41 negara termasuk Indonesia. Hasilnya diketahui bahwa Indonesia memiliki sumber daya shale gas sebesar 574 Tcf (atau setara 102.000 barrel per hari) yang tersebar di 14 cekungan (Kuuskraa, Stevens, & Moodhe, 2013). Hal ini tentu sangat menjanjikan dan memerlukan perhatian pemerintah mengingat saat ini terjadi tren penurunan total ekspor gas alam Indonesia (ESDM, 2017).

    Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah melakukan penelitian terkait shale gas dengan menginisiasi studi Geologi, Geofisika dan Teknik Reservoir untuk studi kasus di Sumatera Utara dan Kalimantan Selatan pada tahun 2011. Salah satu hasil studi untuk kasus di Sumatera utara mengindikasikan adanya sasaran empuk atau sweet spot target shale gas yang potensial (Akbar, Nur, Musu, et al., 2017). Pemerintah melalui LEMIGAS juga melakukan kerja sama dengan berbagai institusi dalam dan luar negeri, seperti KIGAM (Korea Institute of Geoscience and Mineral Resource), untuk melakukan penelitian terkait dengan shale gas di Indonesia dan menunjukkan indikasi positif (Son, 2018). Pemerintah kemudian mengambil inisiatif terkait tren ini dengan mengeluarkan beberapa kebijakan terkait migas nonkonvensional salah satunya dengan terbitnya Peraturan Menteri nomor 38 tahun 2015 tentang percepatan pengusahaan migas nonkonvensional. Tapi wilayah kerja studi terkait migas nonkonvensional menurun jumlahnya di tahun 2017 (ESDM, 2017).

    BPPT telah memprediksi kenaikan kebutuhan gas dalam negeri. Hal ini mendorong pembangunan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dalam negeri sebagai upaya tambahan dalam pemenuhan kebutuhan listrik nasional. Per 2018, laju produksi gas bumi mengalami penurunan sebesar 3% dari tahun 2017 dengan pemanfaatan domestik mendominasi sebesar 58.59% (ESDM, 2018). Terkait pemenuhan konsumsi gas, shale gas diproyeksikan akan menjadi salah satu penyumbang terbesar setelah gas konvensional (Gambar 2). Bagaimanapun, proyeksi BPPT dengan mempertimbangkan 90% cadangan terbukti dan 50% cadangan potensial menunjukan bahwa pada tahun 2028, konsumsi gas yang didominasi kebutuhan pembangkit listrik akan melebihi kapasitas produksi sehingga penambahan pasokan gas konvensional maupun sumber energi baru, seperti shale gas, dirasa sangat diperlukan (BPPT, 2018).

    POSISI INDONESIA

  • PPI Brief

    Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia

    4

    • Kemapanan Teknologi

    Dikarenakan parameter fisik shale gas yang membutuhkan riset dan teknologi khusus, hambatan dalam kecakapan teknologi ini menjadi tidak terelakkan. Salah satu formasi dengan potensi shale gas terbesar di Amerika Serikat saat ini adalah Formasi Bakken. Berkaca dari formasi Bakken, dibutuhkan kurang lebih riset dan eksplorasi selama 36 tahun hingga kemudian memasuki tahap konfirmasi cadangan. Contoh lain adalah formasi Barnett yang pada tahun 1982 hanya satu sumur yang didedikasikan untuk eksplorasi shale gas hingga kemudian pada akhir 2005 mencapai lebih dari 4000 sumur (Bowker, 2007).

    Sebagai negara yang sukses dalam mengembangkan shale gas, potensi akan shale gas telah dilirik sejak awal abad ke-20 di Amerika Serikat. Namun, saat itu belum terdapat cara yang efektif seperti saat ini untuk mengekstraksi cadangannya. Hingga kemudian stimulasi rekahan dilakukan pada tahun 1997 hingga 1999 dan diikuti dengan penerapan horizontal drilling tahun 2003, produksi shale gas meroket hingga lebih dari 600%. Rentang waktu dan upaya tersebut menunjukkan pentingnya riset dan pengembangan teknologi ekstraksi shale gas. Di sisi lain umur batuan juga menentukan mudah tidaknya fracking dilakukan dimana semakin tua umur suatu batuan maka akan cenderung lebih mudah direkahkan dibanding dengan jenis batuan yang sama dengan umur yang lebih muda.

    • Kebijakan Perizinan

    Secara kebijakan, melalui Peraturan Menteri nomor 38 tahun 2015 terkait percepatan pengusahaan migas nonkonvensional, pemerintah telah memberikan kesempatan untuk Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk mengakuisisi wilayah kerja migas nonkon-

    TANTANGAN EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI SHALE GAS

    Gambar 2. Neraca gas Indonesia (sumber data: BPPT Outlook Energi Indonesia 2018).

  • Penyelarasan birokrasi terkait perizinan sumur baru dan elemen penunjang eksplorasi dianggap penting terutama dalam fase produksi berkaca pada tingginya angka penurunan produksi shale gas. Amerika Serikat yang dinilai berhasil mengembangkan shale gas mematok waktu hitungan minggu untuk mengurus izin pengeboran sumur baru. Selain itu mengingat mudanya segmen migas ini, pemerintah perlu lebih fleksibel dalam menyusun peraturan terkait kegiatan penunjang eksplorasi seperti pengadaan barang dan jasa untuk kegiatan eksplorasi.

    Adanya insentif khu