POPPY INDAH TRISTIYANA 1702011068repository.helvetia.ac.id/2405/6/POPPY INDAH TRISTIYANA...Demi...

of 109 /109
FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERILAKU PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DALAM MENGONSUMSI OBAT ANTI TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS POLONIA MEDAN TAHUN 2019 TESIS POPPY INDAH TRISTIYANA NIM. 17020111068 PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT INSTITUT KESEHATAN HELVETIA MEDAN 2019

Transcript of POPPY INDAH TRISTIYANA 1702011068repository.helvetia.ac.id/2405/6/POPPY INDAH TRISTIYANA...Demi...

  • FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERILAKU PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DALAM MENGONSUMSI OBAT

    ANTI TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS POLONIA MEDAN TAHUN 2019

    TESIS

    POPPY INDAH TRISTIYANA NIM. 17020111068

    PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

    INSTITUT KESEHATAN HELVETIA MEDAN

    2019

  • TUBERKULOSIS PARU DALAM MENGONSUMSI OBAT ANTI TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS

    POLONIA MEDAN TAHUN 2019

    TESIS

    Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

    untuk Memeroleh Gelar Magister Kesehatan Masyarakat (M.K.M) pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

    Minat Studi Manajemen Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan Helvetia

    Oleh :

    POPPY INDAH TRISTIYANA NIM. 17020111068

    PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

    INSTITUT KESEHATAN HELVETIA MEDAN

    2019

  • Tanggal Lulus : Telah diuji pada tanggal : 14 November 2019 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : 1 Dr. Asyiah Manjorang, S.Kep., Ns, M.Kes Anggota : 2 Dr. Asriwati, S.Kep., Ns., S.Pd., M.Kes 3 Dr. Mappeaty Nyorong, M.P.H 4 Dr. Anto, SKM., M.Kes., MM., M.Kes

  • LEMBAR PERNYATAAN PUBLIKASI

    Sebagai civitas akademika Fakultas Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan

    Helvetia Medan, Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

    Nama Mahasiswa : Poppy Indah Tristiyana NIM : 1702011068 Minat Studi : Manajemen Rumah Sakit Fakultas : Kesehatan Masyarakat Jenis karya : Tesis Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada fakultas kesehatan masyarakat Hak Bebas Royalty Non Ekslusif atau ( Non Exclusive Royalty Free Right ) atau tesis saya yang berjudul :

    “Faktor Yang Memengaruhi Perilaku Penderita Tuberkulosis Paru Dalam Mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis Di Puskesmas Polonia

    Medan Tahun 2019”

    Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan) dengan Hak Bebas Royalty Non Ekslusif Fakultas Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan Helvetia Medan berhak menyimpan, Mengalih media format, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasi tesis saya tanpa meminta ijin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis, pencipta dan sebagai pemilik hak cipta.

    Demikian persyaratan ini saya buat dengan sebenarnya.

    Di buat di : Medan Pada Tanggal, Oktober 2019

    Yang Menyatakan

    Poppy Indah Tristiyana

  • KATA PENGANTAR

    Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan

    anugerah-Nya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis yang

    berjudul “Faktor Yang Memengaruhi Perilaku Penderita Tuberkulosis Paru Dalam

    Mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis Di Puskesmas Polonia Medan Tahun

    2019”.

    Tesis ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk

    mendapatkan gelar Magister Kesehatan Masyarakat (M.K.M) pada Program Studi

    S2 Kesehatan Masyarakat, Institut Kesehatan Helvetia. Penulis menyadari

    sepenuhnya bahwa tesis ini tidak dapat diselesaikan tanpa bantuan berbagai pihak,

    baik dukungan moril, materil dan sumbangan pemikiran. Untuk itu, penulis

    mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

    1. Dr. dr. Hj. Razia Begum Suroyo, M.Sc., M.Kes., selaku Penasehat Yayasan

    Helvetia.

    2. Iman Muhammad, S.E., S.Kom.,M.M., M.Kes., selaku ketua Yayasan

    Helvetia.

    3. Dr. H. Ismail Effendy, M.Si., selaku Rektor Institut Kesehatan Helvetia.

    4. Dr. dr. Hj. Arifah Devi Fitriani, M.Kes, selaku Wakil Rektor Bidang

    Akademik dan Kemahasiswaan Institut Kesehatan Helvetia.

    5. Teguh Suharto, S.E., M.Kes., selaku wakil Rektor II Institut Kesehatan

    Helvetia

    6. Dr. Asriwati, S.Kep., Ns., S.Pd., M.Kes, selaku Dekan Fakultas Ilmu

    Kesehatan Institut Kesehatan Helvetia, sekaligus pembimbing II yang telah

    memberikan kritik dan saran demi kesempurnaan tesis ini.

    7. Dr. Anto, SKM., M.Kes., MM, selaku Ketua Program Studi S2 Ilmu

    Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan Helvetia, sekaligus Penguji II

    yang telah meluangkan waktu dan memberikan pemikiran dalam

    membimbing penulis selama penyusunan tesis ini.

  • 8. Dr. Asyiah Simanjorang, S.Kep., Ns., M.Kes, selaku Pembimbing I yang

    telah meluangkan waktu dan memberikan pemikiran dalam membimbing

    penulis selama penyusunan tesis ini.

    9. Dr. Mappeaty Nyorong, M.P.H. selaku Penguji I yang telah meluangkan

    waktu dan memberikan pemikiran dalam membimbing penulisan selama

    penyusunan tesis ini.

    10. Seluruh Dosen Program Studi S2 Kesehatan Masyarakat yang telah

    mendidik dan mengajarkan berbagai ilmu yang bermanfaat bagi penulis.

    11. Teristimewa Ayahanda Sutrisno, S.Pd.I. M.Pd dan Ibunda Suprapti, SKM,

    M.Kes yang selalu memberikan dukungan baik moril dan materil serta

    mendoakan dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

    Penulis menyadari bahwa tesis ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh

    kerena itu, penulis menerima kritik dan saran demi kesempurnaan tesis ini. Sekian

    dan Terima Kasih.

    Medan, Oktober 2019

    Penulis,

    Poppy Indah Tristiyana

  • DAFTAR RIWAYAT HIDUP

    I. IDENTITAS Nama : Poppy Indah Tristiyana

    Tempat/Tanggal Lahir : Lampung tanggal 27 Maret 1995

    Jenis Kelamin : Perempuan

    Agama : Islam

    Anak Ke : Anak ke- 2 (dua) dari dua bersaudara

    Alamat : Jl. Karya Kasih (Villa Karya Kasi ) No 1D Medan.

    II. IDENTITAS ORANG TUA

    Nama Ayah : Sutrisno, S.Pd.I. M.Pd

    Pekerjaan : Wiraswasta

    Nama Ibu : Suprapti, SKM

    Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

    Alamat : Purworejo RT 005, RW 002, Kecamatan Kotagajah, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung.

    III. RIWAYAT PENDIDIKAN Tahun 2003-2004 : TK Pertiwi Kotagajah Lampung Tengah Tahun 2004-2009 : SD 02 Kotagajah Lampung Tengah Tahun 2009-2011 : SMP Negeri 02 Kotagajah Lampung Tengah, Tahun 2011-2013 : SMA Negeri 01 Kotagajah Tahun 2013-2017 : S1 Kedokteran Universitas Islam Sumatera

    Utara Tahun 2017- 2019 : Institut Kesehatan Helvetia Medan S2 Kesehatan Masyarak

  • ABSTRAK

    Poppy Indah T. Faktor Yang Memengaruhi Perilaku Penderita Tuberkulosis Paru Dalam Mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis Di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 (dibimbing oleh Asyiah Simanjorang dan Asriwati)

    Tuberkulosis Paru (TB) merupakan masalah kesehatan, Kepatuhan pemakaian obat tuberculosis (OAT) sangatlah penting karena akan menimbulkan resistensi terhadap OAT atau yang disebut dengan Multi Drugs Resistence (MDR). Adapun tujuan penelitian ini adalah menganalisis factor yang memengaruhi perilaku penderita TB Paru dalam mengonsumsi obat anti tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan tahun 2019.

    Jenis penelitian adalah survei analitik dengan rancangan cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Polonia Medan. Populasi penelitian adalah pasien Tuberkulosis Paru kategori I yang berkunjung di Puskesmas Polonia Medan dari bulan Oktober - November tahun 2019, sampel diperoleh dengan total sampling sebanyak 48 orang. Data dianalisis dengan Chi Square dan Regresi Logistik.

    Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar responden berumur 36-45 tahun yaitu sebanyak 24 (50,00%), berjenis kelamin laki-laki sebanyak 31 (64,58%), tamatan SMA yaitu sebanyak 21 (43,75%) responden. Berdasarkan hasil analisa bivariat didapatkan bahwa nilai p-value

  • DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i HALAMAN PENGAJUAN .......................................................................... iii LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ........................................................... vi KATA PENGANTAR .................................................................................... vii HALAMAN PERNYATAAN PUBLIKASI ................................................ ix Daftar Riwayat Hidup ................................................................................... xi ABSTRACT ..................................................................................................... xii ABSTRAK ..................................................................................................... xiii DAFTAR ISI ................................................................................................... xiv DAFTAR TABEL ......................................................................................... xvi DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xviii BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1

    1.1. Latar belakang ............................................................................. 1 1.2. Rumusan masalah ........................................................................... 5 1.3. Tujuan penelitian ............................................................................ 5

    1.3.1. Tujuan Umum ................................................................... 5 1.3.2. Tujuan Khusus .................................................................. 5

    1.4. Manfaat Penelitian .......................................................................... 6 1.4.1 Manfaat Teoretis ..................................................................... 6 1.4.2 Manfaat Praktis ........................................................................ 7

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 8

    2.1. Tinjauan Penelitian Terdahulu ........................................................ 9 2.2. Telaah Teori .................................................................................... 9

    2.2.1 Kepatuhan ........................................................................... 9 2.2.1.1 Pengertian Kepatuhan .............................................. 9 2.2.1.2 Ketidakpatuhan ......................................................... 11

    2.2.2 Tuberkulosis ......................................................................... 13 2.2.2.1 Pengertian Tuberkulosis ............................................ 13 2.2.2.2 Etiologi dan Faktor Resiko Paru ............................... 14 2.2.2.3 Patogenesis Tuberkulosis Paru ................................... 15 2.2.2.4 Gejala Klinis Tuberkulosis Paru ................................ 16 2.2.2.5 Cara Mendiagnosis Tuberkulosis Paru ..................... 17 2.2.2.6 Pengobatan Tuberkulosis Paru ................................... 19 2.2.2.7 Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis Paru ....... 21 2.2.2.8 Komplikasi ................................................................. 25

    2.2.3 Perilaku Kesehatan .............................................................. 25 2.2.3.1 Pengertian Perilaku Kesehatan ................................... 25 2.2.3.2 Respon Perilaku ......................................................... 26 2.2.3.3 Macam-Macam Perilaku ............................................ 26 2.2.3.4 Perilaku Precede-preceed Green ................................ 27

  • 2.2.3.5 Fakto-faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Minum Obat ............................................................... 31

    2.2.3.6 Kerangka Teori........................................................... 34 2.3 Kerangka Konsep Penelitian ........................................................... 35 2.4 Hipotesis Penelitian .......................................................................... 36

    BAB III METODE PENELITIAN ............................................................... 37 3.1 Jenis penelitian ................................................................................ 37 3.2 Lokasi dan waktu Penelitian ............................................................. 37

    3.2.1 Lokasi Penelitian .................................................................... 37 3.2.2 Waktu Penelitian .................................................................... 37

    3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ........................................................ 37 3.3.1 Populasi .................................................................................. 37 3.3.2 Sampel Penelitian .................................................................. 38

    3.4 Metode Pengumpulan Data ............................................................ 38 3.4.1 Jenis Data ............................................................................... 38 3.4.2 Teknik Pengumpulan Data .................................................... 38 3.4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas ................................................. 39

    3.5 Definisi Operasional dan Aspek Pengukuran ................................. 40 3.5.1 Definisi Operasional ................................................................ 40 3.5.2 Aspek Pengukuran .................................................................. 41

    3.6 Metode Pengolahan Data .................................................................. 41 3.7 Analisis Data ..................................................................................... 41

    BAB IV HASIL ANALISIS ........................................................................... 50 4.1 Gambaran Umum Puskesmas Polonia Medan .................................. 50

    4.1.1 Sejarah Singkat Puskesmas ..................................................... 50 4.1.2 Fasilitas Gedung Permanen di Puskesmas Polonia ................. 51

    4.2 Analisis Data Univariat .................................................................... 51 4.2.1 Distribusi Karakteristik Responden di Puskesmas Polonia

    Medan tahun 2019 .................................................................. 52 4.2.1.1 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan

    Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019.......................... 52

    4.2.1.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengetahuan Pasien Dalam Mengonsumsi Obat Anti Tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 ......................... 53

    4.2.1.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Sikap Pasien Dalam Mengonsumsi Obat Anti Tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 ............................................ 55

    4.2.1.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Persepsi Pasien Dalam Mengonsumsi Obat Anti Tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 ............................................

    4.2.1.5 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Dukungan Keluarga

  • Pasien Dalam Mengonsumsi Obat Anti Tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 ......................... 60

    4.2.1.6 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengawasan Minum Obat Pasien Dalam Mengonsumsi Obat Anti Tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 62

    4.2.1.7 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kepatuhan Minum Obat Anti Obat Pasien Dalam Mengonsumsi Obat Anti Tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 65

    4.3 Analisis Data Bivariat ....................................................................... 66 4.3.1 Pengaruh Pengetahuan Pasien Dalam Mengonsumsi Obat

    Anti Tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 ........................................................................................ 66

    4.3.2 Pengaruh Sikap Pasien Dalam Mengonsumsi Obat Anti Tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 ........................................................................................ 66

    4.3.3 Pengaruh Persepsi Pasien Dalam Mengonsumsi Obat Anti Tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 ........................................................................................ 67

    4.3.4 Pengaruh Dukungan Keluarga Pasien Dalam Mengonsumsi Obat Anti Tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 ........................................................................................ 68

    4.3.5 Pengaruh Penagwasan Minum Obat Pasien Dalam Mengonsumsi Obat Anti Tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 ................................................................ 69

    4.4 Analisis Multivariat .......................................................................... 70

    BAB V PEMBAHASAN ................................................................................ 72 5.1 Pengaruh Pengetahuan Pasien Dalam Mengonsumsi Obat Anti

    Tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 ................. 72 5.2 Pengaruh Sikap Pasien Dalam Mengonsumsi Obat Anti

    Tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 ................. 76 5.3 Pengaruh Persepsi Pasien Dalam Mengonsumsi Obat Anti

    Tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 ................. 79 5.4 Pengaruh Dukungan Keluarga Pasien Dalam Mengonsumsi Obat

    Anti Tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 ......... 82 5.5 Pengaruh Penagwasan Minum Obat Pasien Dalam Mengonsumsi

    Obat Anti Tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan Tahun 2019 86

    BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN........................................................ 89 6.1 Kesimpulan ..................................................................................... 89 6.2 Saran ................................................................................................ 90

    DAFTAR PUSTAKA

  • DAFTAR TABEL

    Tabel Halaman

    2.1 Efek Samping Obat Tuberkulosis ................................................................. 21

    3.1 Hasil Uji Validitas Pengetahuan ................................................................... 42

    3.2 Hasil Uji Validitas Sikap ............................................................................... 43

    3.3 Hasil Uji Validitas Persepsi ......................................................................... 43

    3.4 Hasil Uji Validitas Dukungan Keluarga ....................................................... 44

    3.5 Hasil Uji Validitas Pengawas Minum Obat .................................................. 44

    3.6 Hasil Uji Rehabilitas ..................................................................................... 45

    3.7 Aspek Pengukuran ........................................................................................ 46

    4.1 Distribusi Karakteristik Responden .............................................................. 52

    4.2 Distribusi Pengetahuan Pasien Dalam Mengonsumsi Obat TB ................... 54

    4.3 Distribusi Sikap Pasien Dalam Mengonsumsi Obat TB .............................. 54

    4.4 Distribusi Persepsi Pasien DalamMengonsumsi Obat TB .......................... 55

    4.5 Distribusi Dukungan Keluarga Dalam Mengonsumsi Obat TB .................. 55

    4.6 Distribusi Pengawas Minum Obat Dalam Mengonsumsi Obat TB ............. 56

    4.7 Distribusi Kepatuhan Mengonsumsi obat TB .............................................. 56

    4.8 Pengaruh Pengetahuan Pasien Dalam Mengonsumsi Obat TB .................... 57

    4.9 Pengaruh Sikap Pasien Dalam Mengonsumsi Obat TB ............................... 58

    4.10 Pengaruh Persepsi Pasien Dalam Mengonsumsi Obat TB ......................... 59

    4.11 Pengaruh Dukungan Keluarga Dalam Mengonsumsi Obat TB ................. 59

    4.12 Pengaruh Pengawasan Minum Obat Dalam Mengosumsi Obat TB ........... 60

    4.13 Seleksi Variabel yang Menjadi Kandidat Model dalan Uji Regresi Logistik Berdasrkan Analisa Bivariat ............................................................................... 61

    4.14 Hasil Tahapan Pertama Analisis Regresi Logistik ...................................... 62

    4.15 Hasil Tahapan Akhir Analisis Regresi Logistik.......................................... 62

  • DAFTAR GAMBAR

    Gambar Halaman 3.1 Kerangka Teori .......................................................................................... 33 3.2 Kerangka Konsep Penelitian ..................................................................... 34

  • DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran Halaman

    1. Koesioner Penelitian .................................................................................. 93

    2. Master Tabel Penelitian.............................................................................. 100

    3. Output Spss ................................................................................................ 102

    4. Surat Ijin Survey Awal .............................................................................. 125

    5. Surat Permohonan Uji Validitas ................................................................ 126

    6. Surat Balasan Uji Validitas ........................................................................ 127

    7. Surat Ijin Penelitian .................................................................................... 128

    8. Surat Balasan Penelitian Dinas Kota Medan ............................................. 129

    9. Surat Balasan Selesai Penelitian ................................................................ 130

    10. Lembar Revisi ............................................................................................ 131

    11. Lembar Konsultasi Pembimbing I ............................................................. 132

    12. Lembar Konsultasi Pembimbing II ............................................................ 133

    13. Foto-Foto Pelaksanaan Penelitian .............................................................. 1

     

     

     

     

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Tuberkulosis Paru (TB) sampai saat ini masih merupakan masalah

    kesehatan, terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

    Tuberkulosis merupakan penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit

    kardiovaskuler dan saluran pernafasan dan merupakan penyakit nomor satu

    terbesar dalam kelompok penyakit infeksi.

    Tuberkulosisi adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman

    mycrobacterium tuberkulosis yang dikenal sebagai bakteri tahan asam (BTA),

    yang dapat menyerang berbagai organ terutama paru-paru. Penyakit ini bila tidak

    diobati atau pengobatannya tidak tuntas dapat menimbulkan komplikasi

    berbahaya hingga kematian (1).

    Berdasarkan Global Truberculosisi Report WHO tahun 2017, secara

    global kasus baru tuberkulosis sebanyak 10,4 juta kasus, setara dengan 120 kasus

    per 100.000 penduduk. 5 negara dengan insiden kasus tertinggi yaitu India,

    Indonesia, China, Philipina, Pakistan. Tuberkulosis tetap menjadi 10 penyebab

    kematian tertinggi di dunia dan kematian tuberkulosis secara global diperkirakan

    1,3 juta pasien (2).

    Berdasarkan Global Truberculosisi Report WHO tahun 2017, angka

    insidensi tuberkulosisi di Indonesia pada tahun 2017 mengalami peningkatan

    sebanyak 420.994 kasus dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun 2016

    sebanyak 360.565 kasus dan 2015 330.910 kasus. Menurut jenis kelamin, jumlah

  • kasus pada laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan yaitu 1,4 kali dibandingkan

    pada perempuan pada masing-masing provinsi di seluruh Indonesia. Dari hasil

    survey prevalensi tuberkulosis didapatkan bahwa laki-laki memiliki resiko tertular

    3 kali lebih tinggi dibandingkan pada perempuan, hal initerjadi karena laki-laki

    lebih banyak terpapar pada faktor risiko TBC misalnya merokok dan

    ketidakpatuhan minum obat (3).

    Berdasarkan survey yang dilakukan pada tahun 2015 provinsi yang

    tertinggi menderita TBC per 100.000 penduduk yaitu Sulawesi Utara (238), Papua

    Barat (235), DKI jakarta (222), dan Provinsi yang terendah menderita TBC per

    100.000 penduduk yaitu, Bali (70), Yogyakarta (73), Riau (92). Sedangkan

    Sumatera Utara menempati urutan ke enam nasional dengan jumlah TB Paru 165

    kasus per 100.000 penduduk di Indonesia (4).

    Angka keberhasilan pengobatan pasien tuberkulosisi di Indonesia dari

    tahun 2008 sampai dengan tahun 2017 cenderung mengalami penurunan. Pada

    tahun 2008 sebanyak 89,5%, pada tahun 2009 sebanyak 89,2%, pada tahun 2010

    sebanyak 88,1%, 2011 sebanyak 88,0%, 2012 sebanyak 84,9%, 2013 sebanyak

    87,0%, 2014 sebanyak 85,1%, 2015 sebanyak 85,8%, 2016 sebanyak 85,0%, dan

    pada tahun 2017 sebanyak 85,7% (5).

    Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Medan tahun 2016

    ditemukan jumlah kasus baru BTA + sebanyak 2.829 kasus, bila dibandingkan

    dengan kasus baru BTA + yang ditemukan pada tahun 2015 sebanyak 3.111 kasus

    dan tahun 2014 sebanyak 3.047 kasus, jumlah kasus Tersebut mengalami

    penurunan. Hal ini dikarenakan semakin meningkatnya pelayanan kesehatan TB

  • yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kota Medan dan juga melalui program

    lintas sektor yang perduli terhadap kejadian TB di Kota Medan (6).

    Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Medan tahun 2017,

    TB berjumlah 5.386 jiwa, TB Paru BTA Positif sebanyak 2.966 kasus, adapun

    BTA positif yang diobati sebanyak 2.966 kasus. Tahun 2012 TB berjumlah 5.936

    jiwa, TB Paru BTA Positif sebanyak 2.286 jiwa, adapun BTA Positif yang diobati

    sebanyak 2.286 jiwa (6).

    Berdasarkan banyaknya kasus tuberkulosis maka pemerintah

    mengeluarkan kebijakan dalam penanggulangan tuberkulosis melalui pengadaan

    obat anti tuberkulosis (OAT) dalam strategi (Direcly Obsrved Treatment

    Shoutcourse) DOTS. DOTS memiliki lima komponen yaitu komitmen pemerintah

    untuk mempertahankan kontrol terhadap TB paru, deteksi kasus TB paru dari

    orang-orang yang memiliki gejala melalui pemeriksaan dahak, pengobatan teratur

    selama 6 sampai 8 bulan yang di awasi, persediaan obat TB paru yang rutin dan

    tidak terputus, dan sisitem laporan untuk evaluasi perkembangan pengobatan dan

    program (7).

    Kepatuhan pemakaian obat TB sangatlah penting karena bila pengobatan

    tidak dilakukan secara teratur, tidak sesuai dengan waktu pengobatan, dan

    penggunaan obat anti tuberkulosis (OAT) tidak adekuat akan menimbulkan

    resistensi terhadap OAT atau yang disebut dengan Multi Drugs Resistence

    (MDR), Penderita tuberkulosis tersebut akan menjadi sumber penularan kuman

    yang resisten di masyarakat. Resistensi kuman terhadap OAT harus ditanggulangi

    agar tidak menimbulkan situasi yang lebih parah, sehingga dibutuhkan

  • pengobatan yang efektif dan rasional agar penderita tuberkulosis paru sembuh dan

    insidens tuberkulosis dapat diturunkan (8).

    Banyak faktor yang diduga mempengaruhi ketidakpatuhan untuk berobat

    secara teratur yaitu faktor, ekonomi, kultural, personal ( pengetahuan, keyakinan,

    dan motivasi minum obat yang rendah.), pendidikan, dan, dukungan keluarga.

    Berbagai penelitian membuktikan hanya dengan mengatasi faktor-faktor tersebut

    sangat berpengaruh terhadap kepatuhan berobat. Ketidakpatuhan terhadap strategi

    pengobatan sering terjadi dan menjadi penyebab tersering gagalnya terapi inisial

    dan kasus kambuh (7).

    Untuk mendapat kesembuhan penderita TB harus memiliki keyakinan diri

    tentang seberapa serius kondisi dan gejala penyakit yang diderita dan dampak

    dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga penderita TB mampu menjalankan

    pengobatan dalam jangka waktu yang lama dan penderita TB memiliki keyakinan

    untuk sembuh dari penyakit tersebut.

    Berdasarkan survey awal yang dilakukan oleh peneliti di Puskesmas

    Polonia Medan terhadap 10 orang pasien yang menderita tuberkulosis paru

    dengan melakukan wawancara, diketahui bahwa sebanyak 8 orang yang

    menyataan bahwa tidak perlu minum obat berkali-kali, karena dengan minum 1

    kali saja sudah sembuh. Pernyataan penderita tuberkulosis terkait ketidakpatuhan

    minum obat bahwa masih kurangnya pengetahuan dan buruknya persepsi pasien

    mengenai penyakit yang dideritanya dan juga mengenai tatalaksana pengobatan

    penyakit tuberkulosis paru dan kurangnya dukungan dari keluarga dalam

  • memotivasi minum obat tuberkulosis paru sehingga penderita tuberkulosis tidak

    tuntas dalam pengobatannya.

    Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan

    penelitian dengan judul penelitian “Faktor yang Memengaruhi Perilaku

    Penderita TB Paru dalam Mengonsumsi Obat Anti Tuberculosis di

    Puskesmas Polonia Medan tahun 2019”.

    1.2 Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini

    adalah: faktor apa sajakah yang memengaruhi perilaku penderita TB Paru dalam

    mengonsumsi obat anti tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan tahun 2019?

    1.3 TujuanPenelitian

    1.3.1 TujuanUmum

    Untuk mengetahui faktor yang memengaruhi perilaku penderita TB Paru

    dalam mengonsumsi obat anti tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan tahun

    2019.

    1.3.2 Tujuan Khusus

    1. Untuk menganalisis pengaruh pengetahuan pasien dalam mengonsumsi obat

    anti tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan tahun 2019.

    2. Untuk menganalisis pengaruh sikap pasien dalam mengonsumsi obat anti

    tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan tahun 2019.

    3. Untuk menganalisis pengaruh persepsi pasien dalam mengonsumsi obat anti

    tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan tahun 2019.

  • 4. Untuk menganalisis pengaruh dukungan keluarga dalam mengonsumsi obat

    anti tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan tahun 2019.

    5. Untuk menganalisis pengaruh pengawasan minum obat pasien dalam

    mengonsumsi obat anti tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan tahun 2019.

    6. Untuk menganalisis variabel yang paling berpengaruh dalam mengonsumsi

    obat anti tuberculosis di Puskesmas Polonia Medan tahun 2019.

    1.4 Manfaat Penelitian

    1.4.1 Manfaat Teoritis

    1. Bagi Mahasiswa di Institut Kesehatan Helvetia

    Untuk menerapkan teori-teori dan pengetahuan tentang kesiapsiagaan Dinas

    Kesehatan terhadap penanggulangan bencana banjir dan perlu untuk diteliti

    lebih dalam.

    2. Bagi Akademik

    Dapat dijadikan sebagai referensi dan perbandingan bagi peneliti lain, yang

    berminat mengembangkan topik bahasan ini, yaitu tentang kesiapsiagaan

    Dinas Kesehatan terhadap penanggulangan bencana banjir

    1.4.2 Manfaat Praktis

    1. Bagi Penderita

    Memberikan pengetahuan, motivasi dan dukungan kepada penderita tuberkulosis

    Paru dalam rangka kesembuhan terhadap pengobatan tuberkulosis paru .

    2. Bagi Rumah Sakit

    Sebagai bahan masukan bagi Puskesmas Polonia Medan dalam

    melaksanakan program penanggulangan tuberkulosis paru dan

  • meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada penderita tuberkulosis

    paru.

    3. Bagi Peneliti Selanjutnya

    Sebagai bahan informasi dan pengembangan wawasan keilmuan bagi

    peneliti lain, khususnya mengenai faktor-faktor yang mempegaruhi prilaku

    penderita tuberkulosisi dalam menkonsumsi obat pada penderita

    tuberkulosis paru dan diharapkan bermanfaat dan dapat digunakan sebagai

    bahan referensi untuk penelitian selanjutnya

    4. Bagi Peneliti Sendiri

    Sebagai sarana bagi penulis untuk meningkatkan pengetahuan dan

    wawasan serta pengalaman dalam melakukan penelitian mengenai perilaku

    penderita TB Paru dalam menkonsumsi OAT pada pasien tuberkulosis

    paru serta dapat dijadikan dasar dalam melakukan penelitian di masa yang

    akan datang.

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu

    Sufatmi (2014) yang dilakukan di Balai Kesehatan Tanjung Balai

    menyimpulkan bahwa Dari hasil analisis chi-square antara pengetahuan dengan

    ketidakpatuhan minum obat diperoleh nilai p = 0,002 dan OR = 5,833. Karena

    nilai p (0,002) < α (0,05), maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara

    pengetahuan dengan ketidakpatuhan minum obat (9).

    Nurayati (2014) di Puskesmas Glugur darat menyimpulkan bahwa dari hasil

    uji statistik chi square menunjukkan bahwa nilai p < 0,05 maka dapat disimpulkan

    ada pengaruh yang signifikan antara sikap mendukung pengawas menelan obat

    terhadap kepatuhan minum obat). Kemudian hasil analisis diperoleh pula nilai 0R

    2,138 (95% CI = 1,439-3,176), artinya penderita tuberkulosis paru yang

    memperoleh sikap mendukung dari pengawas menelan obat saat komunikasi

    interpersonal 2,1 kali untuk patuh minum obat dibandingkan penderita

    tuberkulosis paru yang tidak mendapatkan sikap mendukung dari pengawas

    menelan obat (10).

    Silaswati (2014) yang berjudul“Faktor Kunci Ketidakpatuhan Pengobatan

    Tuberkulosis Paru Di Puskesmas WilayahKecamatan Bekasi Timur”,

    menyimpulkan bahwa pada hasil penelitiannya beberapa faktor yang

    mempengaruhi ketidakpatuhan seperti usia (p value 1,000), jenis kelamin (p value

    0,948), pendidikan (p value 0,047), pengetahuan (p value 0,016), pekerjaan(p

    value 1,000) dan motivasi (p value 0,037). Dengan nilai tersebut dapat

  • disimpulkan bahwa ketidakpatuhan memiliki hubungan yang signifikan dengan

    pendidikan, pengetahuan dan motivasi, namun tidak berhubungan dengan usia,

    jenis kelamin dan pekerjaan (11).

    Bertin (2009), yang berjudul ”Faktor-faktor yang mempengaruhi

    keberhasilan pengobatan pada pasien TB di wilayah Jawa Tengah”, meyimpulakn

    bahwa pada hasil penelitainnya terdapat pengaruh yang kuat antara jarak tempat

    tinggal pasien hingga tempat pengobatan dengan nilai p=0,097, status gizi p=1,00

    dengan keteraturan berobat p=0,00, r=0,75 terhadap keberhasilan pengobatan (12).

    Novitasari (2017), pada penderita TB di Puskesmas Patrang Kabupaten

    Jember pada tahun 2017 didapatkan hasil adanya hubungan antara efikasi

    (keyakinan diri) dengan kepatuhan mengkonsumsi obat TB (13).

    2.2 Telaah Teori

    2.2.1 Kepatuhan

    2.2.1.1 Pengertian Kepatuhan

    Kepatuhan (Compliance) adalah tingkat pasien melaksanakan cara

    pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh dokternya atau oleh yang lain.

    Konsep kepatuhan (Compliance) dalam konteks medis, sebagai tingkatan yang

    menunjukkan perilaku pasien dalam mentaati atau mengikuti prosedur atau saran

    ahli medis. Safitri mendefinisikan kepatuhan (Compliance) yang juga dikenal

    dengan ketaatan (Adherence) adalah derajat dimana pasien mengikuti anjuran

    klinis dari dokter yang mengobatinya (14).

  • Kepatuhan terhadap pengobatan membutuhkan partisipasi aktif pasien

    dalam manajemen perawatan diri dan kerja sama antara pasien dan petugas

    kesehatan. Penderita yang patuh berobat adalah yang menyeselaikan

    pengobatan secara teratur dan lengkap tanpa terputus selama minimal 6

    bulan sampai dengan 9 bulan (15).

    Penderita dikatakan lalai jika tidak datang lebih dari 3 hari sampai 2

    bulan dari tanggal perjanjian dan dikatakan Droup Out jika lebih dari 2 bulan

    berturut-turut tidak datang berobat setelah dikunjungi petugas kesehatan

    .Pengobatan memerlukan jangka waktu yang panjang akan memberikan

    pengaruh-pengaruh pada penderita seperti: (15)

    1. Merupakan suatu tekanan psikologis bagi seorang penderita tanpa

    keluhan atau gejala penyakit saat dinyatakan sakit dan harus

    menjalani pengobatan sekian lama.

    2. Bagi penderita dengan keluhan atau gejala penyakit setelah

    menjalani pengobatan 1-2 bulan atau lebih lama keluhan akan segera

    berkurang atau hilang sama sekali penderita akan merasa sembuh

    dan malas untuk meneruskan pengobatan kembali.

    3. Datang ke tempat pengobatan selain waktu yang tersisa juga

    menurunkan motivasi yang akan semakin menurun dengan lamanya

    waktu pengobatan.

    4. Pengobatan yang lama merupakan beban dilihat dari segi biaya yang

    harus dikeluarkan.

  • 5. Efek samping obat walaupun ringan tetap akan memberikan rasa

    tidak enak terhadap penderita.

    6. Sukar untuk menyadarkan penderita untuk terus minum obat

    selama jangka waktu yang ditentukan.

    Karena jangka waktu pengobatan yang ditetapkan lama maka terdapat

    beberapa kemungkinan pola kepatuhan penderita yaitu penderita berobat

    teratur dan memakai obat secara teratur, penderita tidak berobat secara teratur

    (defaulting), penderita sama sekali tidak patuh dalam pengobatan yaitu putus

    berobat (droup out), kepatuhan penderita dapat dibedakan menjadi: (15)

    1. Kepatuhan penuh (Total compliance) Pada keadaan ini penderita tidak

    hanya berobat secara teratur sesuai batas waktu yang ditetapkan

    melainkan juga patuh memakai obat secara teratur sesuai petunjuk.

    2. Penderita yang sama sekali tidak patuh (Non compliance) yaitu

    penderita yang putus berobat atau tidak menggunakan obat sama

    sekali.

    Berdasarkan beberapa definisi tersebut maka kepatuhan didefinisikan

    sebagai kecenderungan perilaku pasien untuk melaksanakan perintah yang

    disarankan oleh orang yang berwenang, disini adalah dokter, perawat, dan petugas

    kesehatan lainnya (14.

    2.2.1.2 Ketidakpatuhan

    Ketidakpatuhan adalah jika pasien tidak melakukan apa yang diperintahkan

    dokter. Sementara itu ketidakpatuhan berobat pada pasien tuberculosis adalah

  • apabila pasien tidak berobat selama 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa

    pengobatan selesai.

    Faktor-faktor yang menyebabkan pasien tuberkulosis tidak patuh antara

    lain sebagai berikut:

    Faktor internal;

    a. Pengetahuan,

    b. Pertimbangan kerugian biayadan waktu,

    c. Pertimbangan keuntungan dan keefektifan

    d. Ciri-ciri individual,

    e. Sikap

    f. Demografi

    Faktor eksternal :

    a. Komunikasi pasiendan dokter

    b. Dukungan sosial

    c. Dukungan petugas kesehatan

    d. Regimen obat, bentuk-bentukketidakpatuhan minum obat.

    Bentuk-bentuk ketidakpatuhan minum obat adalah sebagai berikut : minum

    obat lebih sedikit dari dosis, minum obat lebih banyak dari dosis, tidak mengamati

    interval dosis yang benar, tidak mengamati waktu pengobatan yang benar,

    meminum obat tambahan diluar dari resep dokter.

    Menurut Pohan ketidakpatuhan adalah gagal minum obat sesuai anjuran,

    tidak mengikuti aturan, berhenti melakukan latihan rehabilitasi terhadap diet dan

    perubahan pola hidup yang dianjurkan praktisi kesehatan, menghilangkan

  • beberapa dosis, mengunakan obat untuk alasan yang salah, minum obat dengan

    jumlah yang salah dan waktu yang salah, tidak melanjutkan minum obat sampai

    batas waktu yang ditentukan (16).

    2.2.2 Tuberkulosis

    2.2.2.1 Pengertian Tuberkulosis

    Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit yang banyak menginfeksi

    manusia yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.Penyakit ini banyak

    menginfeksi paru dan jika di obati dengan baik penyakit ini dapat sembuh.

    Transmisi penyakit biasanya melalaui saluran nafas yaitu melalui droplet yang

    dihasilkan oleh pasien yang terinfeksi tuberculosis (17).

    2.2.2.2 Etiologi dan Faktor Resiko Tuberkulosis Paru

    Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh

    infeksi kuman (basil) Mycobacterium tuberculosis.Kuman Mycobacterium

    Tuberkulosis berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap

    asam pada pewarnaan, oleh karena itu disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA).

    Jika dipanaskan pada suhu 60ºC akan mati dalam waktu 15-20 menit. Kuman ini

    sangat rentan terhadap sinar matahari dan radiasi sinar ultraviolet, selnya terdiri

    dari rantai panjang glikolipid dan phospoglican yang kaya akan mikolat

    (Mycosida) yang melindungi sel mikobakteria dari lisosom serta menahan

    pewarna fuschin setelah disiram dengan asam (basil tahan asam) (18).

    Tempat masuk kuman M.tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran

    pencernaan (GI), dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tb ini terjadi

    melalui udara, yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman

  • basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi.Droplet yang terhirup sangat

    kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus,

    dan terus berjalan sehingga sampai di alveolus dan menetap di sana. Infeksi

    dimulai saat kuman tuberkulosis berhasil berkembang biak dengan cara

    pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran

    limfe akan membawa kuman tuberkulosis ke kelenjar limfe di sekitar hilus paru,

    dan ini disebut sebagai kompleks primer (18).

    Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu menghentikan

    perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan

    menjadi penderita tuberkulosis. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai

    terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan. Faktor- faktor yang

    meningkatkan risiko terinfeksi tuberkulosis adalah (19):

    1. Faktor Sosial Ekonomi

    Berhubungan erat dengan keadaan rumah, kepadatan hunian, lingkungan

    perumahan, lingkungan dan sanitasi tempat bekerja yang buruk dapat

    memudahkan penularan tuberkulosis.Pendapatan keluarga sangat erat juga

    dengan penularan tuberkulosis, karena pendapatan yang kecil membuat orang

    tidak dapat hidup layak dengan memenuhi syarat-syarat kesehatan.

    2. Status Gizi

    Keadaan malnutrisi atau kekurangan kalori, protein, vitamin, zat besi dan

    lainlain, akan mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang sehingga rentan

    terhadap penyakit termasuk tuberkulosis paru.

  • 3. Umur

    Penyakit tuberkulosis paru paling sering ditemukan pada usia muda atau usia

    produktif (15–50) tahun. Dewasa ini dengan terjadinya transisi demografi

    menyebabkan usia harapan hidup lansia menjadi lebih tinggi. Pada usia lanjut

    lebih dari 55 tahun sistem imunologis seseorang menurun, sehingga sangat

    rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk penyakit tuberkulosis paru.

    4. Jenis Kelamin

    Penyakit tuberkulosis paru cenderung lebih tinggi pada jenis kelamin laki-laki

    dibandingkan perempuan. Menurut WHO, sedikitnya dalam periode setahun

    ada sekitar 1 juta perempuan yang meninggal akibat tuberkulosis paru, dapat

    disimpulkan bahwa pada kaum perempuan lebih banyak terjadi kematian yang

    disebabkan oleh tuberkulosis paru dibandingkan dengan akibat proses

    kehamilan dan persalinan. Pada jenis kelamin laki-laki penyakit ini lebih

    tinggi karena merokok tembakau dan minum alkohol sehingga dapat

    menurunkan sistem pertahanan tubuh, sehingga lebih mudah terpapar dengan

    agen penyebab tuberkulosis paru (19).

    2.2.2.3 Patogenesis Tuberkulosis Paru

    Sumber penularan adalah penderita tuberkulosis paru BTA positif. Pada

    waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk

    droplet (percikan dahak). Setiap kali penderita tuberkulosis paru batuk maka akan

    dikeluarkan 3000 droplet yang efektif (memiliki kemampuan menginfeksi).

    Droplet yang mengandung kuman tuberkulosis akan bertahan di udara pada suhu

    kamar selama 1-2 jam tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi dan

  • kelembapan. Dalam suasana lembab dan gelap bakteri dapat bertahan berhari-hari

    bahkan berbulan-bulan. Orang dapat terinfeksi apabila droplet tersebut terhirup ke

    dalam saluran pernapasan dan menempel pada jalan nafas atau paru-paru.

    Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag keluar dari

    cabang trachea-bronkhial bersama gerakan silia dengan sekretnya. Namun bila

    tidak semuanya keluar, bakteri yang tinggal justru menempel dan berkembang

    biak pada makrofag dan akan menginfeksi paru (20).

    Kuman yang bersarang di jaringan paru akan berbentuk sarang tuberkulosis

    pneumoni kecil dan disebut sarang primer atau fokus ghon. Dari sarang primer

    akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus dan juga diikuti

    pembesaran kelenjar getah bening hilus. Semua proses ini memakan waktu 3-8

    minggu. Kompleks primer ini selanjutnya dapat menjadi :

    1. Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat.

    2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik,

    kalsifikasi di hilus dan dapat terjadi reaktivasi lagi karena kuman yang

    dormant.

    Berkomplikasi dan menyebar (19).

    2.2.2.4 Gejala Klinis Tuberkulosis Paru

    Gejala utama pasientuberkulosis paru adalah batuk berdahak selama 2-3

    minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak

    bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, napsu makan menurun,

    berat badan menurun, malaise, berkeringat pada malam hari tanpa kegiatan fisik,

    demam lebih dari satu bulan. Gejala-gejala tersebut dapat juga dijumpai pada

  • penyakit paru selain tuberkulosis, seperti bronkiektasi, bronkitis kronis, asma,

    kanker paru, dan lain-lain. Prevalensi tuberkulosis paru di Indonesia saat ini masih

    tinggi, maka setiap orang yang datang ke UPK (Unit Pelayanan Kesehatan)

    dengan gejala tersebut, dianggap sebagai tersangka (suspek) pasien tuberkulosis

    paru dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskospis langsung (21).

    2.2.2.5 Cara Mendiagnosis Tuberkulosis Paru

    Semua suspek tuberkulosis diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari,

    yaitu sewaktu-pagi-sewaktu (SPS). Diagnosis tuberkulosis paru pada orang

    dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman Tuberkulosis (BTA). Pada

    program tuberkulosis nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak

    mikroskopis merupakan diagnosis utama (Kemenkes RI, 2011). Pemeriksaan

    sputum merupakan hal yang penting karena dengan ditemukannya kuman BTA,

    diagnosis tuberkulosis sudah bisa ditegakkan. Dikatakan BTA (+) jika ditemukan

    dua atau lebih dahak BTA (+) atau 1 BTA (+) disertai dengan hasil radiologi yang

    menunjukkan tuberkulosis aktif (22).

    Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat

    digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.

    Tidak dibenarkan mendiagnosis tuberkulosis paru hanya berdasarkan pemeriksaan

    foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada

    tuberkulosis paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis. Gambaran kelainan

    radiologik paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit (21).

    Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis,

    pemeriksaan fisik, pemeriksaan bakteriologis, radiologis dan pemeriksaan

  • penunjang lainnya.Pada pemeriksaan fisik, kelainan paru pada umumnya terletak

    di daerah lobus superior terutama daerah apeks dan segmen posterior, serta daerah

    apeks lobus inferior. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan antara lain suara

    nafas bronkial, amforik, suara napas melemah, ronki basah, tanda-tanda penarikan

    paru, diafragma, dan mediastinum.

    Gambar 2.1 Alur diganosis tuberkulosis Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis (21)

  • 2.2.2.6 Pengobatan Tuberkulosis Paru

    1. Pengobatan dari kedokteran

    Pengobatan tuberkulosis bertujuan untuk:

    a. Menyembuhkan pasien dan mengembalikan kualitas hidup dan

    produktivitas.

    b. Mencegah kematian.

    c. Mencegah kekambuhan.

    d. Mengurangi penularan.

    e. Mencegah terjadinya resistensi obat

    Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

    a. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam

    jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan

    gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap

    (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan (22).

    b. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan

    langsung (DOTS = Directly Observed Treatment Short -Course) oleh seorang

    Pengawas Menelan Obat (PMO)

    Pengobatan tuberkulosis paru diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif

    dan lanjutan.

    a. Tahap Awal (Intensif)

    Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi

    secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Bila pengobatan tahap

    intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak

  • menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien tuberkulosis BTA

    positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.

    b. Tahap Lanjutan

    Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka

    waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persistent

    sehingga mencegah terjadinya kekambuhan (21).

    Panduan obat tuberkulosis paru dapat dibagi atas 4 kategori, yaitu :

    1. Kategori I:

    Kasus: tuberkulosis paru BTA +, BTA -, lesi luas

    Pengobatan: 2 RHZE/ 4 RH atau 2 RHZE/ 6 HE; 2RHZE/ 4R3H3.

    2. Kategori II:

    Kasus: Kambuh

    Pengobatan: RHZES/ 1RHZE/ sesuai hasil uji resistensi atau 2RHZES/

    1RHZE/5RHE

    Kasus: Gagal pengobatan

    Pengobatan: kanamisin, ofloksasin, etionamid, sikloserin/ ofloksasin,

    etionamid, sikloserin atau 2RHZES/ 1RHZE/ 5RHE Kasus: tuberkulosis paru

    putus berobat Pengobatan: 2RHZES/RHZE/ 5R3H3E3

    3. Kategori III:

    Kasus: tuberkulosis paru BTA – lesi minimal

    Pengobatan: 2 RHZE/ 4RH atau 6 RHE atau 2RRHZE 4 R3H3 53

    4. Kategori IV:

  • Kasus: Kronik

    Pengobatan: RHZES/ sesuai hasil uji resistensi (minimal OAT yang sensitif) +

    obat lini 2 (pengobatan minimal 18 bulan).

    Kasus: MDR tuberkulosis

    Pengobatan: Sesuai uji resistensi+ OAT lini 2 atau H seumur hidup.

    Tabel 2.1 Efek Samping Obat Tuberkulosis

    Efek Samping Penyebab Penatalaksanaan Tidak ada nafsu makan Rifampicin Semua OAT diminum malam

    sebelum tidur Nyeri sendi Pyrazinamid Beri Aspirin Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki

    INH Beri vitamin B6 ( piridoxin ) 100 mg per hari

    Warna kemerahan pada seni ( urine )

    Rifampicin Tidak perlu diberi apa-apa, tapi penjelasan pada pasien

    Gatal dan kemerahan Kulit Semua Jenis OAT Ikuti petujuk pelaksanaan dibawah

    Tuli Streptomisin Streptomisin dihentikan Gangguan Keseimbangan Streptomisin Streptomisin dihentikan, ganti

    Etambutol Ikterus tanpa penyebab Hampir Semua

    OAT Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang

    Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat)

    Hampir Semua OAT

    Hentikan semua OAT, segera lakukan tes fungsi hati.

    Gangguan Penglihatan Etambutol Hentikan Etambutol Purpura dan rejatan(Syok) Rifampicin Hentikan Rifampisin (21)

    2.2.2.7 Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis

    Pencegahan tuberkulosis paru dibagi 2 yaitu :

    1. Promotif

    a. Penyuluhan kepada masyarakat apa itu tuberkulosis

    b. Pemberitahuan baik melalui spanduk atau iklan tentang bahaya

    tuberkolosis, cara penularan, cara pencegahan, faktor resiko

  • c. Mensosialisasiklan BCG di masyarakat.

    2. Preventif

    a. Menggunakan isoniazid (INH)

    b. Membersihkan lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab.

    c. Bila ada gejala-gejala tuberkolosis segera ke Puskesmas atau Rumah Sakit,

    agar dapat diketahui secara dini (21).

    3. Edukasi

    Menurut Depkes RI dalam pelatihan tatalaksana tuberkulosis bagi

    pengelola program tuberkulosis di fasilitas pelayanan kesehatan, terdapat hal-hal

    penting mengenai informasi dan edukasi yang perlu diperhatikan tentang

    tuberculosis. Sebelum memberikan informasi kepada pasien tentang tuberkulosis,

    ajukan terlebih dahulu pertanyaan untuk menjajaki pengetahuan mereka saat ini

    tentang tuberkulosis. Lalu gunakan alat bantu yang tersedia seperti lembar balik

    untuk pasien dalam menyampaikan informasi tentang tuberkulosis. Pesan-pesan

    yang perlu dikomunikasikan: (15).

    a. Penyakit tuberkulosis

    Ulangi pesan yang telah disampaikan pada saat pasien datang sebagai suspek

    untuk memperkuat informasi tersebut.

    b. Tuberkulosis dapat disembuhkan

  • Sampaikan kepada pasien bahwa penyakit tuberkulosis dapat disembuhkan

    secara tuntas bila ia menjalankan pengobatan dengan teratur dan tidak putus

    berobat di tengah jalan.

    c. Kesediaan pasien menjalankan pengobatan

    Sebelum memberikan obat kepada pasien, sampaikan bahwa pengobatan tidak

    boleh terputus. Putus berobat akan menyebabkan kuman yang masih tersisa

    dalam tubuh menjadi kebal terhadap obat yang saat ini tersedia di Indonesia dan

    pengobatan tersebut mahal harganya. Obat yang saat ini diberikan sangat

    berkualitas dan disediakan oleh pemerintah. Untuk itu sebaiknya diperlukan

    kesungguhan pasien dalam menjalankan pengobatan tuberkulosis.

    d. Perlunya pengawasan minum obat

    Petugas kesehatan menjelaskan pentingnya pengawasaan menelan obat bagi

    pasien. Jelaskan bahwa pasien menelan seluruh obat dengan diawasi oleh

    seorang Pengawas Minum Obat (PMO), untuk memastikan bahwa pasien

    menelan seluruh obat secara benar, teratur dan sesuai waktu yang ditentukan.

    e. Penjelasan tentang paduan obat meliputi :

    a) Lama waktu pengobatan

    b) Jenis obat dan cara pemberiannya

    c) Kualitas obat

    d) Frekuensi kunjungan mengambil obat

    e) Kemana pergi untuk mengambil obat

  • Jelaskan pada pasien untuk melihat kemajuan pengobatan dan memastikan

    pasien dapat melanjutkan pengobatan ke tahap lanjutan maka dahak perlu

    diperiksa kembali. Pasien perlu tahu secara jelas apa yang mungkin terjadi selama

    pengobatan tuberkulosis, dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

    f. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada pasien tuberkulosis

    Perlu disampaikan bahwa pasien sebaiknya menjaga kesehatan dengan hidup

    bersih dan sehat, misalnya :

    a) Menjemur alat tidur

    b) Membuka jendela dan pintu agar udara dan sinar matahari masuk. Aliran

    udara dalam ruangan dapat mengurangi jumlah kuman di udara. Sinar

    matahari langsung dapat mematikan kuman.

    c) Makan makanan bergizi

    d) Tidak merokok dan tidak minum minuman beralkohol

    e) Olahraga teratur bila memungkinkan

    Setelah pertemuan awal dengan pasien tuberkulosis, lanjutkan memberikan

    informasi yang tepat tentang tuberkulosis pada setiap kunjungan. Selama masa

    pengobatan, informasi yang perlu dikomunikasikan adalah :

    a. Efek samping obat.

    b. Jenis, warna kemasan, jumlah dan frekuensi obat.

    c. Pentingnya kepatuhan pasien.

    d. Pasien harus menelan seluruh obat yang dianjurkan pada waktu yang telah

    ditentukan agar bisa sembuh.

  • e. Apabila pasien merasa lebih baik, harus tetap melanjutkan pengobatan

    sampai selesai.

    f. Apabila pasien pindah atau berpergian harus menginformasikan kepada

    petugas kesehatan atau PMO, sehingga kelangsungan pengobatan dapat

    diatur lagi.

    g. Pentingnya pemeriksaan dahak, frekuensi dan arti hasil pemeriksaan (21).

    2.2.2.8 Komplikasi

    Penyakit tuberkulosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan

    menimbulkan komplikasi. Komplikasi dibagi atas komplikasi dini dan komplikasi

    lanjut.

    1. Komplikasi dini: Batuk darah, efusi pleura, empiema, laringitis

    2. Komplikasi lanjut: obstruksi jalan napas yaitu SOPT (Sindrom Obstruksi

    Pasca Tuberkulosis), kor pulmonal, amiloidosis, karsinoma paru, sindrom

    gagal napas dewasa, sering terjadi pada TB milier dan kavitas TB.

    Komplikasi penderita stadium lanjut adalah hemoptisis berat (perdarahan

    dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena

    syok, kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru, penyebaran infeksi

    ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal, dan sebagainya (23)

    2.2.3 Perilaku Kesehatan

    2.2.3.1 Pengertian Perilaku Kesehatan

    Secara umum pengertian perilaku adalah segala sesuatau perbuatan atau

    tindakan yang dilakukan oleh makhluk hidup. Faktor yang dapat mempengarui

  • proses pembentukan dan perubahan prilaku adalah faktor yang berasal dari diri,

    antara lain susunan syaraf pusat, persepsi, motivasi, emosi dan belajar. Prilaku

    sangat dipengaruhi oleh SSP (Susunan Saraf Pusat) karena perpindahan

    rangsangan ke respon yang dihasilkan dilaukan oleh unit dasar dari SSP yaitu

    neuron, neuron juga memindahkan energi dalam impuls-impuls syaraf. Perubahan

    yang terjadi dalam perilaku seseorang dapat dilihat melalui persepsi. Persepsi ini

    adalah pengalaman yang dihasilkan melalui indra pendengaran, penciuman dan

    sebagainya (24).

    2.2.3.2 Perilaku Precede-Proceed Green

    Teori atau model yang digunakan dalam penelitian untuk mengungkap

    determinan perilaku individu, khususnya perilaku yang berhubungan dengan

    kesehatan dan proses terjadinya perubahan perilaku adalah precede-proceed

    (Predisposing, Reinforcing, Enabling Causes) dengan alasan di dalamnya

    terdapat pengkajian, perencanaan intervensi dan evaluasi yang menjadi satu

    kerangka kerja. Dan teori yang lain untuk menjelaskan penyebab perilaku

    secara individu adalah Theory of Planned Behavior (TPB) dan Health Belief

    Model (HBM) precede – proceed model (26)

    Precede (Predisposing, Reinforcing, Enabling Causes), pendekatan ini

    direkomendasikan untuk evaluasi keefektifan intervensi dan memfokuskan target

    utama dalam intervensi. Kerangka dalam model precede, terdapat 8 (enam)

    tahapan, yaitu diagnosis sosial, diagnosis epidemiologi, identifikasi faktor non

    perilaku, identifikasi faktor predisposing, reinforcing dan enabling yang

    berhubungan dengan perilaku kesehatan, rencana intervensi dan diagnosis

  • administratif dan lainnya untuk pengembangan dan pelaksanaan program

    intervensi (8). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

    Sumber : Green, Lawrence, dan Marshall W, Kreuter

    Gambar 2.10 Perilaku Teori Precede procede

    a. Fase satu: diagnosis sosial merupakan penekanan pada identifikasi

    masalah sosial yang berdampak pada masyarakat. Diagnosis ini juga

    sebagai proses penentuan persepsi masyarakat terhadap kebutuhannya atau

    terhadap kualitas hidupnya dan aspirasi masyarakat untuk meningkatkan

    kualitas hidupnya. Indikator yang digunakan terkait masalah sosial adalah

    indiaktor sosial yang penilaiannya didasarkan data sensus ataupun statistik

    vital yang ada maupun dengan melakukan pengumpulan data secara

    langsung dari masyarakat.

  • b. Fase dua: diagnosis epidemiologi yaitu melakukan identifikasi terkait

    dengan aspek kesehatan yang berpengaruh terhadap kualitas hidup. Pada

    fase ini dicari faktor kesehatan yang mempengaruhi kualitas hidup yang

    dapat digambarkan secara rinci berdasarkan data yang ada baik berasal

    dari data lokal, regional maupun nasional. Pada fase ini diidentifikasi

    siapa atau kelompok mana yang terkena masalah kesehatan (umur, jenis

    kelamin, lokasi, suku dan lainnya), bagaimana pengaruh atau akibat

    dari masalah kesehatan tersebut (kematian, kesakitan, ketidakmampuan,

    dan tanda gejala yang ditimbulkannya) dan bagaimana cara untuk

    menanggulangi masalah kesehatan (imunisasi, perawatan/ pengobatan,

    perubahan lingkungan dan perubahan perilaku). Informasi ini sangat

    dibutuhkan untuk menetapkan prioritas masalah yang biasanya

    didasarkan atas pertimbangan besarnyamasalah dan akibat yang

    timbulkannya serta kemungkinan untuk diubah.

    c. Fase tiga: merupakan kegiatan identifikasi/diagnosis terhadap faktor-

    faktor perilaku dan lingkungan yang berhubungan dengan masalah-

    masalah kesehatan yang ditunjukkan pada fase sebelumnya. Identifikasi

    dilakukan terhadap faktor risiko yang secara spesifik terkait masalah-

    masalah kesehatan yang terkait dengan perilaku. Demikian juga

    dilakukan identifikasi terhadap faktor lingkungan sebagai faktor dari

    luar yang berhubungan dengan masalah-masalah kesehatan dan kualitas

    hidup. Faktor lingkungan dapat dikontrol dan dimodifikasi sedemikian

  • rupa untuk dapat menanggulangi masalah kesehatan dan kualitas hidup.

    d. Fase empat: di dalam fase ini melakukan diagnosis terhadap faktor-faktor

    secara spesifik dan potensial mempengaruhi perilaku kesehatan lingkungan.

    Perubahan perilaku kesehatan dan lingkungan sebagai tujuan promosi

    kesehatan yang memperhatikan 3 aspek yaitu: faktor predisposisi

    (meliputi pengetahuan, sikap, kepercayaan, nilai-nilai, dan persepsi), faktor

    pendukung (meliputi sumber daya) dan faktor-faktor pendorong (meliputi

    tokoh masyarakat, petugas kesehatan atau pihak yang sudah terlebih

    dahulu berubah perilakunya). Fase ini menilai faktor-faktor yang secara

    langsung berdampak terhadap perilaku dan lingkungan untuk kepentingan

    membantu perencana dalam melaksanakan intervensi dengan sumber

    daya yang ada. Upaya intervensi, selanjutnya dilakukan penentuan

    prioritas berdasarkan seleksi terhadap faktor-faktor yang ada.

    e. Fase kelima: adalah merupakan tahapan penilaian terhadap organisasi/

    kebijakan dan kemampuan administrasi serta sumber daya untuk

    mengembangkan program

    f. Fase keenam: berhubungan dengan pengembangan dan pelaksanaan

    program intervensi seperti program kampanye (cetak dan audiovisual,

    modifikasi perilaku, pemodelan, pengembangan masyarakat dan lain

    sebagainya.

    g. Fase ketujuh: fokus pada evaluasi yang diarahkan pada evaluasi proses,

    dampak

    h. Fase kedelapan: evaluasi yang dilakukan terhadap hasil intervensi pada fase

  • sebelumnya (26).

    2.2.3.3 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Minum Obat

    Faktor-faktor yang mendasari minat yaitu faktor dorongan dari dalam, faktor

    dorongan yang bersifat sosial dan faktor yang berhubungan dengan emosional.

    Faktor dari dalam dapat berupa kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani dan

    kejiwaan. Timbulnya minat dari diri seseorang juga dapat didorong oleh adanya

    motivasi sosial yaitu mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari lingkungan

    masyarakat dimana seseorang berada sedangkan faktor emosional memperlihatkan

    ukuran intensitas seseorang dalam menanam perhatian terhadap suatu kegiatan

    atau obyek tertentu.

    Oleh karena itu minat merupakan aspek psikis yang dimiliki seseorang yang

    menimbulkan rasa suka atau tertarik terhadap sesuatu dan mampu mempengaruhi

    tindakan orang tersebut. Minat mempunyai hubungan yang erat dengan dorongan

    dalam diri individu yang kemudian menimbulkan keinginan untuk berpartisipasi

    atau terlibat pada suatu yang diminatinya. Seseorang yang berminat pada suatu

    obyek maka akan cenderung merasa senang bila berkecimpung di dalam obyek

    tersebut sehingga cenderung akan memperhatikan perhatian yang besar terhadap

    obyek. Perhatian yang diberikan tersebut dapat diwujudkan dengan rasa ingin tahu

    dan mempelajari obyek tersebut.

    Menurut HsuanLi, 2016 mengemukakan bahwa pengalaman terhadap

    kualitas pelayanan kesehatan pertama yang dirasakan akan berpengaruh terhadap

    minat kunjungan ulang, sehingga dengan memberikan pelayanan dengan kualitas

  • baik serta terus meningkatkan kualitasnya akan menarik pelanggan untuk terus

    berkunjung ke pelayanan kesehatan tersebut (27).

    Adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat

    tuberkulosis (OAT) yaitu :

    1. Faktor Predisposisi (predisposing factors)adalah faktor sebelum terjadinya

    suatu prilaku, faktor ini terdiri dari pengetahuan, keyakinan, nilai-nilai, dan

    sikap.

    a. Pengetahuan

    Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan

    penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui

    panca indra manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa

    dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan

    telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting

    untuk terbentuknya perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih

    langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.

    b. Keyakinan

    Keyakinan adalah pendirian bahwa suatu fenomena atau objek benar atau

    nyata. Kebenaran adalah kata-kata yang sering digunakan untuk

    mengungkapkan atau mensyaratkan keyakinan agar terjadi perubahan

    perilaku.

    1. Seseorang harus yakin bahwa kesehatannya terancam.

  • 2. Orang tersebut harus merasakan potensi keseriusan kondisiitu dalam

    bentuk nyeri atau ketidaknyamanan, kehilanganwaktu untuk bekerja,

    dan kesulitan ekonomi.

    3. Dalam mengukur keadaan tersebut, orang yang bersangkutan harus

    yakin bahwa menfaat yang berasal dariperilaku sehat melebihi

    pengeluaran yang harus dibayarkandan sangat mungkin dilaksanan serta

    berada dalamkapasitas jangkauannya.

    4. Harus ada “isyarat kunci yang bertindak” atau sesuatukekuatan pencetus

    yang membuat orang itu merasa perlumengambil keputusan tindakan.

    c. Nilai

    Secara langsung bahwa nilai-nilai perseorangan tidak dapat dipisahkan dari

    pilihan perilaku. Konflik dalam hal nilai yang menyangkut kesehatan

    merupakan satu dari dilema dan tantangan penting bagi para penyelenggara

    pendidikan kesehatan.

    d. Sikap

    Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpikir, dan merasa dalam

    menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi

    merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu

    terhadap objek sikap. Objek sikap boleh berupa benda, orang, tempat,

    gagasan atau situasi, atau kelompok.

    2. Faktor-Faktor Pendukung (enabling factors)

    Merupakan faktor pendukung yang terwujud dalam lingkungan fisik, termasuk

    di dalamnya adalah :

  • a. Sarana

    Segala jenis peralatan, perlengkapan kerja dan fasilitas yang berfungsi

    sebagai alat utama/pembantu dalam pelaksanaan pekerjaan dan juga dalam

    rangka kepentingan yang sedang berhubungan dengan organisasi kerja.

    b. Prasarana

    Penunjang keberhasilan suatu proses upaya yang dilakukan di dalam

    pelayanan publik, karena apabila kedua hal ini tidak tersedia maka semua

    kegiatan yang dilakukan tidak akan dapat mencapai hasil yang diharapkan

    sesuai dengan rencana.

    1. Dana merupakan bentuk yang paling mudah yang dapat digunakan untuk

    menyatakan nilai ekonomi dan karena dana atau uang dapat dengan

    segera dalam bentuk barang dan jasa.

    2. Transprotasi

    Trasportasi adalah Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang

    dengan menggunakan wahana yang digerakkan oleh manusia atau mesin.

    Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia untuk melakukan

    aktivitas sehari-hari. Semakin jauh jarak antara rumah pasien dengan

    pelayanan kesehatan dan sulitnya trasportasi akan berpengaruh terhadap

    keteraturan pasien tersebut dalam berobat. Kurangnya ketersediaan sarana

    transportasi menjadi kendala dalam mencapai tempat pelyanan kesehatan.

  • 3. Fasilitas adalah segala sesuatu yang dapat mempermudah upaya dan

    memperlancar kerja dalam rangka mencapai suatu tujuan.

    3. Faktor-faktor Pendorong (reinforcing factors)

    Merupakan faktor perilaku yang memberikan domain bagi menetapnya suatu

    perilaku, Yang termsuk faktor pendorong adalah:

    a. Dukungan keluarga

    Menurut Johnson’s Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang mempunyai

    hubungan darah yang sama atau tidak, yang terlibat dalam kehidupan yang terus

    menerus, yang tinggal dala satu atap, yang mempunyai ikatan emosional dan

    mempunyai kewajiban antara satu orang dengan orang yang lainnya.Keluarga dapat

    menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan keputusan

    individu dalam pengobatan yang akan diperoleh.

    b. Tokoh masyarakat

    Orang yang dianggap serba tahu dan mempunyai pengaruh yang besar

    terhadap masyarakat. Sehingga segala tindaktanduknya merupakan pola aturan

    patut diteladani oleh masyarakat.

    c. Tokoh agama

    Panutan yang mempresentasikan kegalauan umatnya dan persoalan yang sudah

    dianggap oleh para tokoh agama menjadi perhatian untuk diselesaikan dan

    dicarikan jalan keluarnya.

    d. Petugas kesehatan

    Merupakaan tenaga profesional, seyogyanya selaku menerapkan etika dalam

    sebagian besar aktifitas sehari-hari. Etika yang merupakan suatu norma

  • perilaku atau bisa disebut dengan azaz moral, sebaiknya selalu dijunjung

    dalam kehidupan bermasyarakat kelompok manusia.

    2.6Menurut Konsep Model Keyakinan (Health Belief Model)

    Health belief model adalah model yang menspeifisikasikan bagaimana

    incividu secara kgnitif menunjukan prilaku sehat maupun usaha untuk mencapai

    sehat atau sembuh dari suatu penyakit, model ini didasari oleh keyakinan atau

    kepercayaan individu tentang perilaku sehat maupun pengobatan tertentu yang

    bisa membuta diri individu tersebut sehat ataupun sembuh. Health belief model

    terdiri dari enam dimensi diantarnya adalah:

    a. Perceived Susceptibility

    Perceived Susceptibility adalah Kerentanan yang dirasakan individu atau

    sebagai presepsi yang subjective seseorang tentang peluang mengalami resiko

    atau mendapatkan suatu penyakit, sehingga memunculkan keyakinan

    mendapatkan suatu penyakit.

    b. Perceivedseverity

    Perceived severity adalah persepsi atau kepercyaan tentang seberapa serius

    kondisi dan gejala tehadap suatu penyakit yang dimiliki individu dan dampak

    yang ditimbulkan dalam kehidupan sehari-hari

    c. Perceived benefits

    Perceived benefits adalah Keyakinan individu terhadap manfaat dari tindakan

    yang disarankan untuk mengurangi risikoatau keseriusan dampak. Tetapkan

  • tindakan yang akan diambil: bagaimana,di mana kapan,mengklarifikasiefek

    positif yang diharapkan.

    d. Perceived Barries

    Perceived Barries adalah suatu hambatan yang dirasakan individu untuk

    melakukan tindakan kesehatan yang disarankan, individu tersebut

    mempertimbangkan keefektifan tindakan terhdap persepsi bahwa biayayang

    dikeluarkan mahal, berbahaya, tidak menyenangkan, menyita waktu, atau

    merepotkan.

    e. Cues To Action

    Cues To Action adalah suatu strategi yang digunakan untuk mengaktifkan

    kesiapan individu untuk menerima dan menjalani tindakan medis yang

    direkomendasikan.

    f. Self-efficacy

    Keyakinan pada kemampuan seseorang untuk mengambil tindakan. Berikan

    pelatihan dan bimbingan dalam melakukan tindakan yang direkomendasikan

  • 2.2.2.6 Kerangka Teori

    Adapun kerangka teori dalam penelitian ini yaitu :

    Gambar 2.1 Kerangka Teori Modifikasi

    Green (26) dan Glanz et al (25).

    2.3 Kerangka Konsep Penelitian

    Adapun Kerangka Konsep dalam penelitian ini yaitu, sebagai berikut :

    Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian

    Teori HBM

    Model Keyakinan

    Faktor Predisposisi : - Pengetahuan - Keyakinan - Nilai - Sikap

    Variabel Dependen Variabel Independen

    Kepatuhan dalam Mengonsumsi Obat

    1. Pengetahuan 2. Sikap 3. Persepsi 4. Dukungan keluarga 5. Pengawasan Minum Obat

    Faktor Pendukung : Dukungan keluarga Tokoh masyarakat Tokoh agama Petugas Kesehatan

    Faktor – Faktor Pemungkin (Enabling Factor) - Sarana - Prasarana

    Kepatuhan Mengkonsumsi

    Obat TB

    Perilaku Kesehatan

    Green

    Perceived Susceptibility

    Perceived severity Perceived benefits Perceived Barries

  • 2.4 Hipotesis Penelitian

    7. Ada pengaruh pengetahuan pasien dalam mengonsumsi obat anti tuberculosis di Puskesmas

    Polonia Medan tahun 2019.

    8. Ada pengaruh sikap pasien dalam mengonsumsi obat anti tuberculosis di Puskesmas Polonia

    Medan tahun 2019.

    9. Ada pengaruh persepsi pasien dalam mengonsumsi obat anti tuberculosis di Puskesmas

    Polonia Medan tahun 2019.

    10. Ada pengaruh dukungan keluarga dalam mengonsumsi obat anti tuberculosis di Puskesmas

    Polonia Medan tahun 2019.

    11. Ada pengaruh pengawasan minum obat pasien dalam mengonsumsi obat anti tuberculosis di

    Puskesmas Polonia Medan tahun 2019.

    12. Ada variabel yang paling berpengaruh dalam mengonsumsi obat anti tuberculosis di

    Puskesmas Polonia Medan tahun 2019.

  • BAB III

    METODE PENELITIAN

    3.1. JenisPenelitian

    Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei analitik dengan

    rancangan cross sectional study yang bertujuan untuk menganalisis faktor yang memengaruhi

    perilaku penderita TB Paru dalam mengonsumsi obat anti tuberculosis di Puskesmas Polonia

    Medan.

    3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

    3.2.1 Lokasi Penelitian

    Penelitian ini akan dilaksanakan di Puskesmas Polonia Medan. Alasan dilakukan

    penelitian adalah karena belum pernah dilakukan penelitian sejenis serta berdasarkan hasil survei

    awal terlihat bahwa masih terdapat ketidakpatuhan penderita tuberkulosis Paru dalam

    mengonsumsi Obat Anti Tuberculosis.

    3.2.2 Waktu Penelitian

    Penelitian ini akan dilakukan mulai bulan Oktober sampai dengan November 2019.

    3.3. Populasi dan Sampel Penelitian

    3.3.1 Populasi

    Populasi penelitian adalah seluruh pasien Tuberkulosis Paru kategori I yang berkunjung

    di Puskesmas Polonia Medan dari bulan Oktober- November tahun 2019 dengan rata-rata pasien

    sebanyak 48 orang .

    3.3.2 Sampel

  • Sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan rumus total sampling, dengan

    alasan bahwa jumlah populasi kurang dari 100. Adapun jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu

    seluruh pasien Tuberkulosis Paru kategori I yang berkunjung di Puskesmas Polonia Medan dari

    bulan Oktober- November tahun 2019 berjumlah 48 orang.

    3.4 Metode Pengumpulan Data

    3.4.1 Jenis Data

    1) Data primer yang akan dilakukan diperoleh dari hasil observasi dengan cara pengamatan

    dan pencatatan secara langsung mengenai subjek yang diteliti

    2) Data sekunder diperoleh dari Puskesmas Polonia Medan

    3) Data tersier yang diperoleh dari catatan atau dokumen-dokumen dan dari berbagai

    referensi yang benar-benar valid yang berhubungan dengan penelitian seperti jurnal.

    3.4.2 Teknik Pengumpulan Data

    Metode pengumpulan data dalam penelitian yaitu :

    1. Data primer diperoleh dari hasil observasi dengan cara pengamatan dan pencatatan

    secara langsung mengenai dampak akreditasi serta melakukan perbandingan data dengan

    menggunakan instrumen penelitian (kuesioner) yang dibuat oleh peneliti yang

    berdasarkan konsep teoritisnya dengan terlebih dahulu memberikan penjelasan singkat

    tentang tujuan dari penelitian serta acara pengisian kuesioner dan dinyatakan pada

    responden apabila ada hal-hal yang tidak dimengerti.

    2. Data sekunder diperoleh dengan studi dokumentasi berupa data deskriptif yaitu data yang

    tersedia di Puskesmas Polonia Medan.

    3. Data tersier diperoleh melalui studi kepustakaan, seperti jurnal, buku –buku teks.

  • 3.4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas

    Sebelum instrument penelitian diberikan pada responden yang akan diteliti, maka

    instrument diuji terlebih dahulu dengan melakukan uji validitas dan reliabilitas.

    1. Uji Validitas

    Untuk penelitian ini validitas merupakan suatu ukuran yang dilakukan untuk menentukan

    derajat ketepatan dari instrumen penelitian berbentuk kuesioner. Untuk mengetahui apakah

    kuesioner dapat mengukur apa yang hendak diukur (valid). Uji Validitas bertujuan untuk

    mengetahui suatu ukuran atau nilai yang menunjukkan tingkat kehandalan atau kesahihan suatu

    alat ukur dengan cara mengukur korelasi antara variabel dan item. Sebuah tes dikatakan memiliki

    validitas jika hasilnya sesuai dengan kriterium, dalam arti memiliki kesejajaran antara hasil tes

    tersebut dengan kriterium. Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah tehnik

    korelasi product moment. Besarnya r hitung pada r tabel dengan batas signifikan 5%.

    Pada penelitian ini instrument penelitian yang digunakan sebanyak 50 butir soal, dan uji

    validitas akan dilakukan di Puskesmas Sentosa Baru. Kuesioner yang telah disusun terlebih

    dahulu akan dilakukan ujicoba untuk mengetahui validitas dan reabilitas alat ukur.

    Tabel 3.2 Hasil Uji Validitas Pengetahuan

    No Pertanyaan Correct Item Total

    Correlation

    Taraf significant (r

    tabel)

    Keterangan

    1 Pertanyaan 1 0,444 0,471 Valid 2 Pertanyaan 2 0,444 0,832 Valid 3 Pertanyaan 3 0,444 0,881 Valid 4 Pertanyaan 4 0,444 0,881 Valid 5 Pertanyaan 5 0,444 0,971 Valid 6 Pertanyaan 6 0,444 0,971 Valid 7 Pertanyaan 7 0,444 0,971 Valid 8 Pertanyaan 8 0,444 0,971 Valid 9 Pertanyaan 9 0,444 0,971 Valid 10 Pertanyaan 10 0,444  0,971 Valid 

  • Berdasarkan tabel 3.2 hasil uji validitas menunjukkan bahwa terdapat 10 butir soal

    variabel pengetahuan dinyatakan valid karena mempunyai nilai Correct Item Total Correlation

    lebih besar dibandingkan r tabel atau semua butir soal mempunyai nilai > 0,444

    Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Sikap

    No Pertanyaan Correct Item Total

    Correlation

    Taraf significant (r

    tabel)

    Keterangan

    1 Pertanyaan 1 0,444 0,571 Valid 2 Pertanyaan 2 0,444 0,523 Valid 3 Pertanyaan 3 0,444 0,881 Valid 4 Pertanyaan 4 0,444 0,822 Valid 5 Pertanyaan 5 0,444 0,566 Valid 6 Pertanyaan 6 0,444 0,971 Valid 7 Pertanyaan 7 0,444 0,972 Valid 8 Pertanyaan 8 0,444 0,973 Valid 9 Pertanyaan 9 0,444 0,861 Valid 10 Pertanyaan 10 0,444  0,771 Valid 

    Berdasarkan tabel 3.3 hasil uji validitas menunjukkan bahwa terdapat 10 butir soal

    variabel sikap dinyatakan valid karena mempunyai nilai Correct Item Total Correlation lebih

    besar dibandingkan r tabel atau semua butir soal mempunyai nilai > 0,444.

    Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Persepsi

    No Pertanyaan Correct Item Total

    Correlation

    Taraf significant (r

    tabel)

    Keterangan

    1 Pertanyaan 1 0,444 0,971 Valid 2 Pertanyaan 2 0,444 0,832 Valid 3 Pertanyaan 3 0,444 0,881 Valid 4 Pertanyaan 4 0,444 0,881 Valid 5 Pertanyaan 5 0,444 0,567 Valid 6 Pertanyaan 6 0,444 0,921 Valid 7 Pertanyaan 7 0,444 0,999 Valid 8 Pertanyaan 8 0,444 0,971 Valid 9 Pertanyaan 9 0,444 0,903 Valid 

  • 10 Pertanyaan 10 0,444  0,777 Valid  Berdasarkan tabel 3.4 hasil uji validitas menunjukkan bahwa terdapat 10 butir soal

    variabel persepsi dinyatakan valid karena mempunyai nilai Correct Item Total Correlation

    lebih besar dibandingkan r tabel atau semua butir soal mempunyai nilai > 0,444.

    Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Pengaruh Dukungan Keluarga

    No Pertanyaan Correct Item Total

    Correlation

    Taraf significant (r

    tabel)

    Keterangan

    1 Pertanyaan 1 0,444 0,761 Valid 2 Pertanyaan 2 0,444 0,822 Valid 3 Pertanyaan 3 0,444 0,981 Valid 4 Pertanyaan 4 0,444 0,681 Valid 5 Pertanyaan 5 0,444 0,874 Valid 6 Pertanyaan 6 0,444 0,971 Valid 7 Pertanyaan 7 0,444 0,971 Valid 8 Pertanyaan 8 0,444 0,567 Valid 9 Pertanyaan 9 0,444 0,888 Valid 10 Pertanyaan 10 0,444  0,888 Valid 

    Berdasarkan tabel 3.5 hasil uji validitas menunjukkan bahwa terdapat 10 butir soal

    variabel pengaruh dukungan keluarga dinyatakan valid karena mempunyai nilai Correct Item

    Total Correlation lebih besar dibandingkan r tabel atau semua butir soal mempunyai nilai >

    0,444.

    Tabel 3.6 Hasil Uji Validitas Pengaruh Pengawasan Minum Obat

    No Pertanyaan Correct Item Total

    Correlation

    Taraf significant (r

    tabel)

    Keterangan

    1 Pertanyaan 1 0,444 0,971 Valid 2 Pertanyaan 2 0,444 0,832 Valid 3 Pertanyaan 3 0,444 0,881 Valid 4 Pertanyaan 4 0,444 0,881 Valid 5 Pertanyaan 5 0,444 0,971 Valid 6 Pertanyaan 6 0,444 0,971 Valid 7 Pertanyaan 7 0,444 0,971 Valid 8 Pertanyaan 8 0,444 0,971 Valid 

  • 9 Pertanyaan 9 0,444 0,971 Valid 10 Pertanyaan 10 0,444  0,971 Valid 

    Berdasarkan tabel 3.6 hasil uji validitas menunjukkan bahwa terdapat 10 butir soal

    variabel pengawasan minum obat dinyatakan valid karena mempunyai nilai Correct Item Total

    Correlation lebih besar dibandingkan r tabel atau semua butir soal mempunyai nilai > 0,444.

    2. Uji Reliabilitas

    Reliabilitas data berhubungan dengan masalah kepercayaan. Suatu tes dapat dikatakan

    mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap.

    Untuk mengetahui taraf kepercayaan pada kuesioner dalam penelitian ini, maka peneliti

    menggunakan metode Cronbach α, yaitu metode pengkuran untuk menganalisis reliabilitas

    kuesioner dari satu kali pengukuran. Hasil uji reabilitas menggunakan Cronbach α dinyatakan

    reliabel jka memiliki nilai > 0,600. Penelitian ini menggunakan butir soal sebanyak 50 butir soal,

    sehingga perbandingan r table (30).

    Tabel 3.8 Hasil Uji Reliabilitas

    No Variabel Cronbanch’s Alpha

    r-tabel Keterangan

    1 Pengetahuan 0,943 0,444 Reliabel 2 Sikap 0,961 0,444 Reliabel 3 Persepsi 0,907 0,444 Reliabel 4 Pengaruh dukungan

    keluarga 0,740 0,444 Reliabel

    5 Pengawasan Minum Obat 0,895 0,444 Reliabel

    Berdasarkan tabel 3.8 di atas menunjukkan bahwa seluruh butir soal dinyatakan reliabel.

    3.5 Definisi Operasional dan Aspek Pengukuran

    3.5.1 Definisi Operasional

  • 1. Pengetahuan yaitu semua kegiatan atau aktivitas pengetahuan penderita TB tentang kepatuhan

    Minum Obat.

    2. Sikap yaitu pendapat atau penilaian responden terhadap hal terkait dengan kesehatan dalam

    mengonsumsi obat

    3. Persepsi yaitu hasil tahu seseorang yang berkaitan dengan konsumsi obat

    4. Dukungan Keluarga yaitu Kerabat memberi dorngan kepada pasien selama menjalani pengobatan

    baik

    5. Pemberian Minum Obat yaitu orang yang bertugas mengawasi secara langsung penderita

    Tuberkulosisparu pada saat minum obat

    3.5.2 Aspek Pengukuran

    Tabel 3.1 Aspek Pengukuran

    No Nama Variabel Jumlah

    Pernyataan Cara dan alat

    ukur Skala

    Pengukuran Value Jenis Skala Ukur

    Variabel Independen 1. Pengetahuan 10 Kuisioner

    (skor min=1, skor max=10)

    Skor 6-10 Skor 1-5

    a. Baik (2) b. Kurang (1)

    Ordinal

    2. Sikap

    10

    Kuisioner (skor min=1, skor max=10)

    Skor 6-10 Skor 1-5

    a. Positif (2) b. Negatif (1)

    Ordinal

    3.

    Persepsi

    10

    Kuisioner (skor min=1, skor max=10)

    Skor 6-10 Skor 1-5

    a. Positif (2) b. Negatif (1)

    Ordinal

    4

    Dukungan Keluarga

    10 Kuisioner (skor min=1, skor max=10)

    Skor 6-10 Skor 1-5

    a. Positif (2) b. Negatif (1)

    Ordinal

    5. Pengawasan Minum Obat

    10

    Kuisioner (skor min=1, skor max=10)

    Skor 6-10 Skor 1-5

    a. Aktif (2) b. Tidak Aktif(1)

    Ordinal

    Variabel Dependen 1. Kepatuhan

    Minum Obat 1 Kuisioner

    (skor min=1, skor max=0)

    Skor 1 Skor 0

    a. Patuh (2) b. Tidak Patuh (1)

    Ordinal

  • 3.6 Metode Pengolahan Data

    Setelah semua data terkumpul, dilakukan analisis data kembali dengan memeriksa semua

    lembar checklist apakah jawaban sudah lengkap dan benar. Menurut Iman (28), data yang

    terkumpul diolah dengan cara komputerisasi dengan langkah-langkah sebagai berikut:

    1) Collecting

    Mengumpulkan data yang berasal dari lembar checklist

    2) Checking

    Dilakukan dengan memeriksa kelengkapan pengisian lembar checklist dengan tujuan agar

    data diolah secara benar sehingga pengolahan data memberikan hasil yang valid dan

    realiabel, dan terhindar dari bias.

    3) Coding

    Pada langkah ini penulis melakukan pemberian kode pada variable-variabel yang diteliti,

    nama responden dirubah menjadi nomor.

    4) Entering

    Data entry yakni jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang masih dalam bentuk

    kode dimasukkan ke dalam program komputer yang digunakan peneliti yaitu SPSS.

    5) Data Processing

    Semua data yang telah diinput ke dalam aplikasi komputer akan diolah sesuai dengan

    kebutuhan. Setelah dilakukan pengolahan data seperti yang telah diuraikan di atas, langkah

    selanjutnya adalah melakukan analisis data.

    3.7 Analisis Data

    Adapun jenis-jenis dalam menganalisis data adalah pada penelitian ini sebagai berikut: (28)

    1. Analisis Univariat

  • Analisis univariat menggambarkan distribusi frekuensi dari masing-masing variabel bebas

    dan variabel terikat, sehingga dapat gambaran variabel penelitian.

    2. Analisis Bivariat

    Analisis ini bertujuan untuk melihat pengaruh antara variabel dependen dengan variabel

    independen. Uji yang digunakan pada analisis bivariat ini adalah uji chi square dengan

    menggunakan derajat kepercayaan 95%. Uji chi square dapat digunakan untuk melihat

    pengaruh. Dalam uji ini kemaknaan pengaruh dapat diketahui, pada dasarnya uji chi square

    digunakan untuk melihat antara frekuensi yang diamati (observed) dengan frekuensi yang

    diharapkan (expected) (28).

    3 Analisis Multivariat

    Analisis ini digunakan untuk melihat faktor yang paling berpengaruh. Pada penelitian ini

    untuk variabel independen terdapat lim