Pleno Skenario B Blok 16

download Pleno Skenario B Blok 16

of 44

  • date post

    12-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    226
  • download

    1

Embed Size (px)

description

#PLENO

Transcript of Pleno Skenario B Blok 16

Pleno Skenario A Blok 14: Endokrinologi Tahun 2014

RhinoskopiRhinoskopi dapat dilakukan dengan menggunakan spekulum hidung.Cara melakukannya (khusus untuk rhinoskopi anterior), yaitu:Spekulum hidung di pegang dengan tangan kiriTangan kanan memegang kepala penderitaLubang hidung kanan dan kiri dibuka secara bergantianPerhatikan dan nilai konka inferior, konka media, cairan hidung, nanah, warna mukosa, pembengkakan mukosa, polip, tumor, dllOtoskopi Otoskop dapat dipegang dalam posisi berikut ini. Posisi yang lebih disukai, yaitu memegang otoskop seperti sebuah pensil, diantara ibu jari dan jari telunjuk, dalam posisi mengarah ke bawah dengan aspek ulnar tangan pemeriksa bersandar pada sisi wajah pasien. Dengan memegang ujung tangkai otoskop, pemeriksa kemudian mengarahkan speculum ke dalam kanalis eksternus. Untuk memeriksan telinga kanan pasienpemeriksa memegang otoskop dengan tangan kananKanalnya diluruskan oleh tangan kiri pemeriksa, yang menarik daun telinga ke atas, luar, dan belakang. Makinlurus kanalnya, makin mudah visualisasi dan pemeriksaan akan dirasakan makin nyaman oleh pasien.

Pemeriksaan OrofaringPemeriksa biasanya diharus menekan lidah dengan spatula lidah, yang terdiri dari:Pasien diminta untuk membuka mulutnya lebar-lebar, menjulurkan lidahnya, dan bernapas perlahan-lahan melalui mulutnya. Pemeriksa memegang spatula lidah dengan tangan kanannya dan sumber cahaya dengan tangan kirinya. Spatula lidah harus diletakkan pada sepertiga tengah lidah. Jika spatula lidah diletakkan terlalu anterior, bagian posterior lidah akan membentuk gundukan, sehingga inspeksi faring menjadi sulit, jika diletakkan terlalu posterior, akan timbuk reflex muntah. Skenario B Blok 16 2015Tuan R, 20 tahun datang ke klinik umum RSUD dengan keluhan nyeri menelan dan demam yang tidak terlalu tinggi sejak 3 hari yang lalu. Makan dan minum masih bisa. Keluhan tidak disertai batuk dan pilek. Riwayat sakit serupa yang sering berulang sejak 1 tahun yang lalu disertai rasa kering dan gatal di tenggorokan. Didapatkan kebiasaan merokok sehari sampai 5 batang rokok sejakt iga tahun terakhir. Pemeriksaan fisik:Pemeriksaan GeneralTekanan darah: 120/80 mm HgNadi: 80x/menitRespirasi: 24x/menitSuhu 38,2 CPemeriksaan status lokalisOtoskopi: kanalis akustikus eksternus : dalam batas normal.Membran timpani: dalam batas normal.Rhinoskopi anterior hidung kanan dan kiri:Mukosa hidung dalam batas normal.Konka inferior: eutrofi.Septum nasi di tengah.Secret (-).Orofaring: Tonsil T1-T1 tenangDinding faring posterior hiperemis (+)Granula (+)Post nasal drip (-)Pemeriksaan laboratoriumHb: 12,5%WBC: 11.000/uLTrombosit: 250.000/uL

Klarifikasi IstilahNyeri menelanOtoskopi RhinoskopiEutrofiKanalis akustikus eksternus Post nasal drip

HiperemisTonsil T1OrofaringKonka inferior.Granula Membrane timpani

Identifikasi MasalahTuan R, 20 tahun datang ke klinik umum RSUD dengan keluhan nyeri menelan dan demam yang tidak terlalu tinggi sejak 3 hari yang lalu. Makan dan minum masih bisa. Keluhan tidak disertai batuk dan pilek. (main Problem)Riwayat sakit serupa yang sering berulang sejak 1 tahun yang lalu disertai rasa kering dan gatal di tenggorokan. Didapatkan kebiasaan merokok sehari sampai 5 batang rokok sejakt iga tahun terakhir. Pemeriksaan fisik:Pemeriksaan GeneralTekanan darah: 120/80 mm HgNadi: 80x/menitRespirasi: 24x/menitSuhu 38,2 CPemeriksaan status lokalisOtoskopi: kanalis akustikus eksternus : dalam batas normal.Membran timpani: dalam batas normal.Rhinoskopi anterior hidung kanan dan kiri:Mukosa hidung dalam batas normal.Konka inferior: eutrofi.Septum nasi di tengah.Secret (-).Orofaring: Tonsil T1-T1 tenangDinding faring posterior hiperemis (+)Granula (+)Post nasal drip (-)Pemeriksaan laboratoriumHb: 12,5%WBC: 11.000/uLTrombosit: 250.000/uL

Analisis MasalahTuan R, 20 tahun datang ke klinik umum RSUD dengan keluhan nyeri menelan dan demam yang tidak terlalu tinggi sejak 3 hari yang lalu. Makan dan minum masih bisa. Keluhan tidak disertai batuk dan pilek. Bagaimana anatomi faring? Bagaimana histologi faring?Bagaimana fisiologi faring?Apa etiologi nyeri menelan?Bagaimana patofisiologi nyeri menelan?Bagaimana patofisiologi demam pada kasus ini?Mengapa Tuan R tidak disertai batuk dan pilek?Apa makna klinis makan dan minum masih bisa?Riwayat sakit serupa yang sering berulang sejak 1 tahun yang lalu disertai rasa kering dan gatal di tenggorokan. Didapatkan kebiasaan merokok sehari sampai 5 batang rokok sejakt iga tahun terakhir.Apa hubungan kebiasaan merokok dengan keluhan pada kasus? Apa penyebab sakit tenggorokan bisa berulang dalam 1 tahun?Bagaimana riwayat perjalanan penyakit sejak 3 tahun sampai Tuan R datang ke RSUD?Bagaimana patofisiologi rasa kering dan gatal tenggorokan?

3. Pemeriksaan fisik:Pemeriksaan GeneralTekanan darah: 120/80 mm HgNadi: 80x/menitRespirasi: 24x/menitSuhu 38,2 CPemeriksaan status lokalisOtoskopi: kanalis akustikus eksternus : dalam batas normal.Membran timpani: dalam batas normal.Rhinoskopi anterior hidung kanan dan kiri:Mukosa hidung dalam batas normal.Konka inferior: eutrofi.Septum nasi di tengah.Secret (-).Orofaring: Tonsil T1-T1 tenangDinding faring posterior hiperemis (+)Granula (+)Post nasal drip (-)Pemeriksaan laboratoriumHb: 12,5%WBC: 11.000/uLTrombosit: 250.000/uLApa interpretasi dari hasil pemeriksaan fisik?Bagaimana mekanisme abnormalnya?Apa Tujuan pemeriksaan status lokalis?Bagaimana prosedur pemeriksaan status lokalis?Jelaskan pembagian pembesaran tonsil?

4. Diagnosis kasusBagaimana penegakan diagnosis pada kasus?Apa dd pada kasus?Apa gold standar pemeriksaan pada kasus ini?Apa diagnosis pada kasus?Apa etiologi dari diagnosis kasus?Apa faktor resiko dari diagnosis kasus?Bagaimana patofisiologi dari diagnosis kasus?Bagaimana manifestasi klinis? Apa saja pemeriksaan penunjang pada kasus?Bagaimana tatalaksana pada kasus?Bagaimana prognosis pada kasus?Bagaimana komplikasi pada kasus?Apa SKDI pada kasus?

Anatomi , Histologi dan Fisiologi faringLearning IssueFaringitisPemeriksaan status LokalisFaring terdiri dari 3 bagian, yaitu:NasofaringOrofaringLaringofaring

A. Vaskularisasi faringBerasal dari beberapa sumber dan kadang-kadang tidak beraturan.Yang utama berasal dari cabang a. Karotis eksterna serta dari cabang a.maksilaris interna yakni cabang palatine superior.

B. Otot pada FaringOtot-otot pada faring terdiri atas 3 otot konstriktor pharyngeus. Otot-otot ini berperan dalam proses deglutition atau menelan.

C. Persarafan pada faringPersarafan motorik dan sensorik daerah faring berasal dari pleksus faring yang ekstensif. Pleksus ini dibentuk oleh cabang dari n.vagus, cabang dari n.glosofaringeus dan serabut simpatis.Cabang faring dari n.vagus berisi serabut motorik. Dari pleksus faring yang ekstensif ini keluar untuk otot-otot faring kecuali m.stilofaringeus yang dipersarafi langsung oleh cabang n.glossofaringeus.

D. Sistem pertahananCincin waldeyer memiliki berbagai fungsi, yaitu:Menghasilkan antibodi spesifik (Ig)Menghasilkan limfositPertahanan terhadap kuman pathogenberperan terhadap proses immunologis.

Histologi FaringPanjang : 12.5 15 cmTerdiri atas : Nasopharynx Oropharynx Laryngopharynx

Lapisan-lapisan pada faring:1. Tunica Mucosa terdiri atas: terdapat sel gobletEpitel Nasopharynx dan Laryngopharynx : pseudostratified columnarEpitel Oropharynx: Squamous Complex non Cornificatio

2. Lamina Propria Terdiri : Jaringan Ikat Padat, Fibroelastis dengan Serat2 Elastis yang berkembang baik, dan Jaringan Lymphoid dalam jumlah cukup besar Pada Nasopharynx :Tonsila Pharyngealis Pada Oropharynx:Tonsila Palatina

3. Tunica Muscularis: Otot Striata Ireguler

4. Tunica Fibrosa: Lapisan Fibroelastis yang melekatkan dengan jaringan disekitarnya

Fisiologi FaringProses menelan dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu:gerakan makanan dari mulut ke faring secara voluntertranspor makanan melalui faring secara involunterjalannya bolus melalui esofagus secara involunter.Jalannya bolus ke dalam perut

2. Faringitis kronik Faktor predisposisi penyakit ini ialah rinitis kronik, sinusitis, iritasi kronik oleh rokok, minum alkohol, inhalasi uap yang merangsang mukosa faring dan debu Faringitis kronis dibagi menjadi 2 bentuk yaitu:A. Faringitis kronik hiperplastik terjadi perubahan mukosa dinding posterior faring dengan gejala mula-mula tenggorok kering gatal dan akhirnya batuk berdahakB. Faringitis kronik hiperplastik atrofi. sering timbul bersamaan dengan rinitis atrofi di mana udara pernapasan tidak disesuaikan dengan tubuh sehingga menimbulkan rangsangan dan infeksi pada faring. Gejalanya yaitu tenggorok kering dan tebal serta bau mulut.

3. Faringitis spesifikDibagi menjadi dua yaitu: A. Faringitis luetika disebabkan oleh Treponema palidum B. Faringitis tuberkulosis. proses sekunder dari tuberkulosis paru.

Riwayat perjalanan penyakit Tn. R terkait faringitis3 tahun yang lalu merokokRiwayat sakit berulang sejak 1 tahun yg lalu3hari yang lalu terdapat tanda eksaserbasi akutPembesaran tonsilT0: tonsil berada di dalam fossa tonsilaris atau sudah diangkatT1: bila besarnya jarak antara arkus anterior dengan uvulaT2: bila besarnya jarak antara arkus anterior dengan uvulaT3: bila besarnya jarak antara arkus anterior dengan uvulaT4: bila besarnya mencapai uvula atau lebih

Penegakkan diagnosis faringitisAnamnesis:keluhan utama (nyeri menelan dan demam)riwayat penyakit sekarang riwayat kesehatan laluriwayat kelahiranriwayat imunisasipenyakit yang pernah diderita ( faringitis berulang )riwayat hospitalisasipemeriksaan fisik umumusia, tingkat kesadaran, antopometri, tanda tanda vital dllpernafasan inspeksi tonsil (warna dan pembesaran)inspeksi dinding belakang faringPemeriksaan fisik khususOtoskopiRhinoskopiOrofaringPemeriksaan lanjutanKultur swab tenggorokan (merupakan tes gold standard). Jenis pemeriksaan ini sering dil