PENGARUH STRUKTUR MODAL DAN KONSERVATISME …

of 130/130
PENGARUH STRUKTUR MODAL DAN KONSERVATISME AKUNTANSI TERHADAP KUALITAS LABA (Studi Empiris pada Perusahaan High Profile yang terdaftar Di Bursa Efek Indonesia 2012 2014) Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untuk Memenuhi Persyaratan Meraih Gelar Sarjana Ekonomi Disusun oleh: MILADITA SEPNIATI AISYAH NIM. 208082000023 JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1437 H / 2015 M
  • date post

    22-Nov-2021
  • Category

    Documents

  • view

    1
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PENGARUH STRUKTUR MODAL DAN KONSERVATISME …

AKUNTANSI TERHADAP KUALITAS LABA
(Studi Empiris pada Perusahaan High Profile yang terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia 2012 – 2014)
Untuk Memenuhi Persyaratan Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Disusun oleh:
JAKARTA
AKUNTANSI TERHADAP KUALITAS LABA
(Studi Empiris pada PerusahaanHigh Profile yang terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia 2012 – 2014)
Untuk Memenuhi Persyaratan Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
JAKARTA
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF
Hari ini kamis, tanggal 9 Oktober 2014 telah dilakukan ujian komprehensif atas
Mahasiswa:
2. NIM : 208082000023
terhadap Kualitas Laba (Studi Empiris Perusahaan High
Profileyang terdaftar Di Bursa Efek Indonesia 2012 –
2014).
Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang
bersangkutan selama ujian komprehensif, maka diputuskan bahwa mahasiswa
tersebut di atas dinyatakan lulus dan diberi kesempatan untuk melanjutkan ke
tahap ujian skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Ekonomi pada fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
NIP. 19830326 200912 2 005
3. Yessi Fitri, SE., M.Si., Ak., CA
NIP. 19760924 200604 2 002
iii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI
Hari ini Selasa, tanggal 22 Desember 2015 telah dilakukan ujian Skripsi atas
Mahasiswa:
terhadap Kualitas Laba (Studi Empiris Perusahaan High
Profile yang terdaftar Di Bursa Efek Indonesia 2012 –
2014).
Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan mahasiswa tersebut selama
ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Akuntansi Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 22 Desember 2015
Dr. Desmadi Saharuddin, MA
Yusar Sagara, SE., M.Si., Ak., CA., CMA
NIDN. 2009058601
Hepi Prayudiawan, SE., MM., Ak., CA
NIP. 19720516 20090 1 1006
iv
NIM : 208082000023
Jurusan : Akuntansi Audit
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri yang
merupakan hasil penelitian, pengolahan dan analisis saya sendiri serta bukan
merupakan replikasi maupun saduran dari hasil karya atau hasil penelitian orang
lain.
Apabila terbukti skripsi ini plagiat atau replikasi, maka skripsi ini dianggap gugur
dan harus melakukan penelitian ulang untuk menyusun skripsi baru dan kelulusan
serta gelarnya dibatalkan.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan segala akibat yang timbul dikemudian hari
menjadi tanggung jawab saya.
Jakarta, 15 Desember 2015
2. Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 30 September 1990
3. Alamat : Jl. Bintan E 23 no 15 benda baru, Pamulang,
Rt 005, Rw 017. Tangerang Selatan.
4. Agama : Islam
Hj. Iis Risnawati (Tiri)
Debby Diastri Rianto
10. Nomor Telepon : 085710332086
2. 1996 - 2002 : SDN Benda Baru 2
3. 2002 - 2005 : SLTPN 2 Pamulang
4. 2005 - 2008 : SMAN 2 Pamulang
5. 2008 - 2015 : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
vi
CONSERVATISM TOWARD EARNING QUALITY
(Emipiric Study Company High Profile In Indonesia Stock Exchange 2012- 2014)
ABSTRACT
This research is analyze the influence of capital structure and accounting
conservatism in simultaneously and partially toward earning quality. The data
used secondary data obtained from financial report company. Sample ussing 132
sample company. A method of analysis used is multiple regression. This research
show that there are simultaneous influence on variables (capital structure and
accounting conservatism) toward earning quality, seen significant value under
0.05 and value Fvalue (3.755) > Ftable (3.006). This research also shows the value
of the capital stucture tvalue registration (2.525) bigger than ttable (1.978) with
sig.0,014 < 0,05then declared there is influence toward earning quality.This
research also shows the value of the accouting conservatism tvalue registration (-
0.923) smaller than ttable (1.978) with sig.0,360 > 0,05then declared there is not
influence toward earning quality. On the determination of the test there is
influence of7,9% % of the independent variables (capital structure and
accounting conservatism) of the dependent variable (earning quality). Meanwhile,
a total of 92,1% is affected by other variables and not included into this
regression analysis, such as liquidity, earning persistence, growt earning and
Investment Opportunity Set
Responses Coefficient, Earning Quality
TERHADAP KUALITAS LABA
(Studi Empirispada Perusahaan High Profile yang terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia2012 – 2014)
dan konservatisme akuntansi secara simultan dan parsial terhadap Kualitas Laba.
Data yang digunakan data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan
perusahaan Populasi dalam Penelitian ini adalah Perusahaan high profile yang
terdaftar di BEI periode 2012 sampai 2014. Sampel penelitian ini ditentukan
dengan metode purposive sampling sehingga diperoleh 132 perusahaan sampel.
Metode analisis yang digunakan adalah regresi berganda. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh secara simultan pada variabel (struktur
modal dan konservatisme akuntansi) terhadap kualitas laba. terlihat nilai
signifikan di bawah 0,05 dan nilai Fhitung (3.755) > Ftabel (3.006). Hasil penelitian
ini juga menunjukkan nilai thitung pada variabel struktur modal sebesar (-2.525)
lebih besar dari ttabel (1.978) dengan tingkat signifikansi sebesar 0,014 < 0,05
maka dinyatakan struktur modal terdapat pengaruh negative terhadap kualitas
laba, sedangkan pada variabel konservatisme akuntansi nilai Thitung diperoleh
sebesar -0.923 < Ttabel 1.978 sebesar dengan tingkat signifikansi 0,360 > 0,05
maka dinyatakan tidak terdapat pengaruh terhadap kualitas laba. Pada uji
determinasi terdapat pengaruh sebesar 7,9% dari variabel independen (struktur
modal dan konservatisme akuntansi) terhadap variabel dependen (kualitas laba).
Sedangkan, sebanyak 92,1% dipengaruhi oleh variabel lain dan tidak termasuk ke
dalam analisis regresi ini, seperti likuiditas, persistensi laba, pertumbuhan laba,
dan Investment Opportunity Set.
coeficient dankualitas laba
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur peneliti
panjatkan kehadirat Allah SWT atas nikmat iman, islam dan karunia-Nya yang
telah diberikan sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
“Pengaruh Struktur Modal dan konservatisme akuntansi Terhadap Kualitas
Laba (Studi empiris padaPerusahaan High Profile Di Bursa Efek Indonesia
2012 – 2014)”. Shalawat beserta salam semoga terus tercurah kepada Rasulullah
Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabat. Peneliti sangat bersyukur
atas selesainya penyusunan skripsi ini. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah
satu syarat menyelesaikan program Sarjana (S1) pada Program Sarjana Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Selama proses penyusunan skripsi ini peneliti banyak mendapatkan
bimbingan, arahan, bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
dalam kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Almarhumah Mamah tercinta dan Papah yang selalu memberikan limpahan
kasih sayang, perhatian, dan do’a yang tak pernah putus-putusnya untuk
penulis, serta Mamih yang telah menyemangati, memberikan do’a dan
semangat untuk terus berusaha memberikan yang terbaik.
2. Kepada Keluargaku Kakek, Nenek,AA dan semua adik-adiku serta sahabat
yang selalu memberikan perhatian, dukungan, dan do’a.
3. Bapak Dr. M. Arief Mufraini, LC, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. IbuDr. Rini., M.Si., Ak., CA selaku Dosen Pembimbing I yang telah bersedia
meluangkan waktunya untuk memberi bimbingan, arahan, semangat, ilmu
pengetahuannya dan selalu sabar dalam menghadapi kekurangan yang peneliti
miliki selama penyusunan skripsi hingga akhirnya skripsi ini bisa
terselesaikan. Terima kasih atas segala bimbingan dan konsultasi yang telah
diberikan selama ini.
5. Bapak Hepi Prayudiawan,SE., MM., Ak., CA. selaku Dosen Pembimbing II
yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberi bimbingan, arahan,
semangat, ilmu pengetahuannya dan selalu sabar dalam menghadapi
ix
skripsi ini bisa terselesaikan. Terima kasih atas segala bimbingan dan
konsultasi yang telah diberikan selama ini.
6. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan yang
sangat luas kepada peneliti selama perkuliahan, semoga menjadi ilmu yang
bermanfaat dan menjadi amal kebaikan bagi kita semua.
7. Seluruh Staff Tata Usaha Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu peneliti dalam
mengurus segala kebutuhan administrasi dan lain-lain.
8. Teman-teman seperjuangan Ite, Adit, dan Ka Dina yang selalu berjuang
bersama pada masa-masa penyelesaian skripsi serta buat anak-anak Akuntansi
A 2008, Terutama Kiki dan Muchsin yang rela memberikan tenaga dan
pikirannya serta dorongan semangat dalam membantu menyelesaikan skripsi
dan seluruh sahabat terbaik terima kasih atas bantuan, semangat dan do’anya.
9. Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah banyak
membantu dan memberi masukan dan inspirasi bagi peneliti, suatu
kebahagiaan telah dipertemukan dan diperkenalkan dengan kalian semua,
terima kasih banyak.
Peneliti menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak
kekurangan dan keterbatasan, oleh karena itu kritik dan saran sangat peneliti
harapkan. Semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat digunakan sebagai tambahan
informasi dan pengetahuan bagi semua pihak yang membutuhkan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Lembar Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah .............................................. iv
Daftar Riwayat Hidup .................................................................................. v
B. Perumusan Masalah ................................................................. 11
C. Tujuan Penelitian ..................................................................... 12
D. Manfaat Penelitian ................................................................... 12
A. Landasan Teori ........................................................................ 14
b.Teori Agensi (Agency Theory) .......................................... 17
c. Teori Assimetri (Assimetry Theory) .................................. 19
d. Teori Pecking Order (Pecking Order Theory) .................. 19
e. Teori Sinyal (Signaling Theory) ....................................... 21
2. Leverage .............................................................................. 22
3. Konservatisme Akuntansi
a. Definisi ............................................................................. 25
b. pengukuran ........................................................................ 30
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................... 71
A. Gambaran Umum Objek Penelitian ........................................ 71
1. Deskripsi Objek Penelitian ................................................. 71
2. Deskripsi Sampel Penelitian ............................................... 72
B. Hasil Uji Analisis Penelitian .................................................... 74
1. Hasil Uji Deskriptif ............................................................ 74
2. Hasil Uji Asumsi Klasik ..................................................... 75
a. Hasil Uji Normalitas Data .............................................. 75
b. Hasil Uji Multikolinieritas ............................................. 78
c. Hasil Uji Autokorelasi ................................................... 79
d. Hasil Uji Heteroskedastisitas .......................................... 79
3. Hasil Uji Hipotesis .............................................................. 82
a. Hasil Uji Signifikan Simultan (Uji F) ............................. 82
b. Hasil Uji Signifikan Parsial (Uji t) ................................. 83
4. Hasil Koefisien Persamaan Regresi Linier Berganda ......... 85
5. Hasil Koefisien Determinasi(Adjusted R 2 ) ......................... 86
C. Pembahasan ............................................................................. 87
A. Kesimpulan .............................................................................. 91
B. Saran ......................................................................................... 93
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 94
4.1 Proses Seleksi Populasi Perusahaan High Profile .................... 72
4.2 Hasil Uji Deskriptif Data .......................................................... 74
4.4 Hasil Uji Normalitas Data Secara Statistik .............................. 77
4.5 Hasil Uji Multikolonieritas ...................................................... 78
4.6 Hasil Uji Autokolerasi .............................................................. 79
4.8 Hasil Uji Heterokedatisitas ....................................................... 81
4.9 Hasil Uji Signifikan Simultan (Uji F) ...................................... 82
4.10 Hasil Uji Signifikan Parsial (Uji t) .......................................... 83
4.11 Hasil Uji Persamaan Regresi Linier Berganda ........................ 85
4.12 Hasil Koefisien Determinasi (Adjusted R 2 ) .............................. 86
xiv
4.7 Hasil Uji Heteroskedastisitas ................................................... 80
xv
3 Lampiran Hasil Output ............................................................. 110
1
berguna bagi bankir,kreditor, pemilik serta pihak-pihak yang berkepentingan
dalam menganalisis serta menginterprestasikan kinerja perusahaan dan kondisi
perusahaan. Para investor, kreditor dan pihak lain menggunakan laba untuk
membantu mengevaluasi daya yang menghasilkan laba, meramalkan laba
masa depan, menetapkan resiko investasi dan memberi pinjaman kepada
perusahaan (SAFC 1, dalam Hendriksen dan Michael, 2000:340). Oleh karena
itu Investor sebagai salah satu pihak yang berkepentingan menjadikan laba
perusahaan sebagai perhatian utama (Farida et al., 2014:47). Laba yang
berhasil dicapai perusahaan menjadi bahan pertimbangan oleh investor atau
kreditor dalam pengambilan keputusan untuk melakukan investasi atau
memberikan tambahan kredit (Marisatusholekha dan Budiono 2015:54).
Teori agency adalah teori yang membahas hubungan antara pemilik
dan agen (manajemen perusahaan) yang dapat menimbulkan konflik. Menurut
Bringston dan Houston (2006:54), Terjadinya konflik disebabkan adanya
perbedaan kepentingan yang ditimbulkan antara pemegang saham dengan
manajer dan pemegang saham dengan kreditur. Adanya kepentingan yang
bertentangan terhadap laporan keuangan, tidak dapat di pungkiri adanya
kemungkinan manajemen tidak melaporkan laba sesuai dengan kondisi yang
2
terjadi di dalam perusahaan. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas laba yang di
laporkan perusahaan (Marisatusholeha dan Budiono, 2015:54).
Kualitas laba yang dihasilkan perusahaan mempengaruhi reaksi pasar
yang diberikan. (Dira dan Astika 2015:54). Berdasarkan penelitian Ray Ball
dan Philip brown (1968), Yuanita (2008) dalam Farida et al., (20014:47)
terdapat hubungan signifikan antara pengumuman laba dengan perubahan
saham. Pernyataan tersebut memberikan pemahaman terhadap kasus yang
terjadi pada Bank Lippo yang mengalami pelaporan ganda yang berawal dari
laporan keuangan Triwulan III tahun 2002 menerbitkan laporan keuangan ke
publik pada tgl 28 september 2002 berbeda dengan yang diterbitkan Bursa
Efek Indonesia pada tanggal 30 september 2002, Dimana terjadi unsur
pelanggaran pasal 93 undang-undang pasar modal terhadap PT. Bank Lippo
Tbk yang memberikan informasi yang menyesatkan pada laporan keuangan
per 30 September 2002 yang telah menimbulkan ketidakpastian di masyarakat
sehingga harga efek di bursa saham PT. Lippo Tbk pun mengalami fluktuasi
harga yang tajam yang disebabkan misleading information. Akibatnya laporan
keuangan yang diterbitkan menggerakan harga saham keseluruhan di bursa
efek. Laporan keuangan yang disampaikan ke publik tanggal 28 November
2002 per 30 september 2002 mencatat total aktiva sebesar Rp. 24,185 triliun,
laba tahun berjalan sebesar Rp 98,77 dan Current Asset Rasio sebesar 24,77%.
Ternyata Setelah di audit pada tanggal 27 desember 2002 laporan keuangan
semestinya per 30 september 2002 mencatat total aktiva 22,8 triliun, rugi
tahun berjalan 1,273 triliun dan rasio kecukupan modal 4,23%. Investor akan
3
melihat kinerja perusahaan berjalan dengan bagus pada tanggal 30 september
2002 diterbitkandi bulan berikutnya. Sesungguhnya tanggal 30 september
mengalami rugi setelah di audit tanggal 27 desember 2002, Sehingga
keputusan–keputusan investor akan menguntungkan perusahaan seperti
melakukan pembelian saham Lippo secara besar-besaran ditanggal 28
november 2002. Tentunya keputusan yang dilakukan investor akan
merugikannya dengan dasar infomasi yang salah maka keputusan yang
diambilnya juga tidak tepat. Dengan demikian pengumuman informasi laba
yang dikeluarkan perusahaan akan mempengaruhi harga saham sehinggga
investor akan merespon informasi tersebut untuk pengambilan keputusan.
Praktek memanipulasi laba agar terlihat kinerja perusahaan bagus bertujuan
untuk menarik investor agar menginvestasikan dananya pada perusahaan
mereka. Kejadian ini mengakibatkan laba perusahaan menjadi tidak
berkualitas. Ketika perusahaan mengalami kenaikan laba maka akan terjadi
kecenderungan perubahaan positifpada harga saham dan sebaliknya jika laba
mengalami penurunan maka akan terjadi perubahaan negatif pada harga
saham.
besarnya laba perusahaan atas dasar informasi yang tersedia secara publik.
Selisih antara laba harapan dan laba laporan atau actual earnings disebut
sebagai laba kejutan (unexpected earnings). Laba kejutan mempresentasikan
informasi yang belum tertangkap oleh pasar sehingga pasar akan bereaksi
4
pada saat pengumuman yang tercermin dari perubahan harga saham (return)
perusahaan tersebut. (Eka Larasanta Buana, 2013:2).
Laba akuntansi yang berkualitas adalah laba yang mempunyai sedikit
persepsian didalamnya dan dapat mencerminkan kinerja perusahaan yang
sesungguhnya. Semakin besar gangguan persepsian yang terkandung didalam
laba akuntansi maka semakin rendah kualitas laba akuntansi tersebut.
(Marisatusholekha dan Boediono 2015:54).
yang digunakan untuk mengukur kualitas laba. ERC Ini menjadi model
penelitian untuk mengindikasikan kemungkinan naik–turunya harga saham
atas reaksi pasar terhadap informasi laba yang di umumkan oleh perusahaan.
Kuatnya reaksi pasar terhadap informasi laba akan tercemin dengan tingginya
ERC, demikian sebaliknya (Farida, et al., 2014:47).
Dalam penelitianDhian Eka Irawati (2012), Rizki Novianti (2012),
Yenny Wulansari, Farida, et al., Dira dan Astika (2014), Marisatusholeha dan
Budiono (2015), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas laba
yakni ukuran perusahaan, struktur modal, peluang pertumbuhan, likuiditas,
investment opportunity set. Penelitian ini menggunakan struktur modal
sebagai faktor kualitas laba.
timbul akibat adanya teori konflik agency yakni perbedaan kepentingan antara
5
pendanaannya memakai kebijakan utang. Sedangkan investor menginginkan
perusahaan menggunakan pendanaannya melalui modal. Semakin tinggi
tingkat utang maka semakin besar tingkat beban bunga yang akan ditanggung
perusahaan. Pendanaan berupa utang lebih disukai daripada modal oleh
manajer karena adanya pertimbangan biaya emisi obligasi lebih murah
daripada biaya emisi saham baru (Seftianne dan Ratih handayani, 2011:41).
Oleh sebab itu sebelum mengambil keputusan investasi, investor perlu melihat
penggunaan utang perusahaan, karena hal tersebut berpengaruh terhadap
tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan dan return yang diterima
perusahaan. (Farida et al,. 2014).
Konsep struktur modal sangat penting terutama untuk menunjukkan
kepada analisis keuangan dalam melihat trade off antara risiko dengan tingkat
keuntungan dari berbagai tipe keputusan finansial (Marisatusholekha dan
Budiono 2015:55). Semakin tinggi tingkat utang maka maka semakin besar
tingkat beban bunga yang akan ditanggung perusahaan. Oleh sebab itu
sebelum mengambil keputusan investor melihat penggunaan utang untuk
memperoleh laba.
variable untuk mengetahui seberapa besar asset perusahaan yang dibiayai oleh
hutang perusahaan (Iriwati, 2012 dalam Dira dan Astika 2014:67). Leverage
diukur dengan menghitung debt ratio yaitu dengan membandingkan antara
total utang dengan total aset dari suatu perusahaan periode tertentu (Otomegah
6
Semakin tinggi tingkat utang maka financial leverage juga akan semakin
tinggi. Jika tingkat leverage suatu perusahaan tinggi maka akan memiliki
kecendrungan untuk melakukan manajemen laba yang besar sehingga kualitas
laba yang di hasilkan akan menjadi rendah (Paulina Warianto 2012:2). Jadi
meskipun kondisi laba perusahaan semakin baik, pemegang saham (investor)
beranggapan bahwa laba tersebut hanya menguntungkan kreditur. Sehingga
laba yang dihasilkan perusahaan kurang direspon oleh pasar
(Marisatusholekha dan Budiono 2015:54).
menyebabkan pemegang saham tidak puas dan memicu untuk megganti
manajer. Manajer yang merasa posisinya terancam mendorong melakukan
pengaturan pelaporan keuangan dengan praktik pengaturan tingkat
konservatisme. Praktik ini membolehkan perusahaan memilih salah satu
metode dari sekumpulan metode saat situasi yang sama. Metode ini membuat
manajer mengatur tingkat konservatime berdasarkan metode akuntansi yang
dipakai (Hendrianto, 2012:62).
baik sangat berkaitan dengan teori keagenan yang menyatakan bahwa manajer
mempunyai kecendrungan menaikan laba untuk menyembunyikan kinerja
yang buruk (Luthfy Hikmah, 2013:331). Menurut Watts (2003) Kecendrungan
manajer untuk menaikan laba dapat didorong oleh adanya empat masalah
7
kewajiban terbatas manajer dan pay-off sismetrik.
Konservatisme adalah reaksi yang cenderung mengarah pada sikap
kehati-hatian atau disebut prudent reaction dalam menghadapi ketidakpastian
yang melekat dalam perusahaan dan melingkupi aktivitas bisnis dan ekonomi
untuk mencoba memastikan bahwa ketidakpastian dan resiko inhern yang
menjadi ancaman dalam lingkungan bisnis sudah cukup di pertimbangkan .
Prinsip konservatisme sebenarnya sudah tidak digunakan lagi sejak
tahun 2010. Penggantinya adalah konsep predunceyang menggunakan current
value sebagai indikator pengukuran laporan keuangan yang dapat dimengerti,
relevan, dapat diandalkan dan sebanding. Predunce pada dasarnya hampir
sama dengan konservatisme akuntansi, hanya saja lebih menekan pada kehati-
hatian dalam pelaksanaan penilaian yang dibutuhkan untuk membuat
perkiraan yang akan sangat diperlukan ketika berada pada posisi
ketidakpastian sehingga asset atau pendapatan dan kewajiban atau
pengeluaran tidak akan dilebih-lebihkan (Luthfiany Hikmah, 2012:331).
Implikasi Akuntansi konservatisme tidak saja berkaitan dengan dengan
pemilihan metode akuntansi, tetapi juga estimasi yang mengakibatkan nilai
buku aktiva menjadi relatip lebih rendah dan menilai kewajiban dengan nilai
yang lebih tinggi (Devi Arviandi Saputra, 2013:21).
Konservatisme merupakan prinsip akuntansi yang jika diterapkan akan
menghasilkan angka-angka pendapatan dan asset cenderung rendah, serta
angka-angka biaya cenderung tinggi. Akibatnya laporan keuangan akan
8
konservatisme menganut prinsip memperlambat pengakuan pendapatan serta
mempercepat pengakuan biaya (Fatmariani, 2013:2).
Dengan demikian Konservatisme adalah tindakan kehati-hatian dalam
menghadapi ketidakpastian dimasa mendatang yang dilakukan manajer untuk
menutupi kinerja perusahaan yang buruk, yang diwujudkan dengan prinsip-
prinsip memperlambat pengakuan pendapatan, mempercepat biaya,
merendahkan nilai dan meninggikan utang yang dapat dilihat dari metode-
metode akuntansi yang digunakan perusahaan.Kencenderungan prinsip
memperlambat pengakuan pendapatan serta mempercepat pengakuan biaya
menyebabkan understatement terhadap laba dalam periode kini yang dapat
mengarah pada overstatement terhadap laba pada periode-periode berikutnya,
sebagai akibat understatement terhadap biaya pada periode
tersebut.Sehinggakonservatisme akuntansi merupakan asimetri dalam
memverifikasi laba dan rugi. Semakin besar tingkat perbedaan tingkat
verifikasi yang diminta terhadap laba dari pada rugi, maka semakin tinggi
tingkat konservatisme akuntansi.
menjelaskan hubungan antara akuntansi konservatisme dan kualitas laba
bergantung pada pertumbuhan investasi perusahaan. Pertumbuhan investasi
yang temporer atau berfluktuasi akan menghasilkan tingkat pengembalian
(rate of return) yang temporer atau berfluktuasi sehingga menghasilkan
kualitas laba yang rendah. Laba yang berfluktuasi akan mengurangi laba untuk
9
memprediksi kas perusahaan di masa akan datang. Kualitas laba digunakan
untuk meprediksi laba masa akan datang dengan kemampuan laba periode
sekarang.
dengan hasil penelitian tersebut, menurut Kazemi et al. (2011), prinsip
konservatisme pada dasarnya dianggap sebagai keuntungan karena dapat
meminimalisir pandangan optimistis pihak manajemen dan menghindari sikap
yang cenderung berlebihan dalam laporan keuangan.
Menurut Sadidi et al., (2011) menemukan bahwa indeks kualitas laba
yang disajikan berdasarkan indeks konservatisme memiliki kemampuan untuk
menggambarkan beberapa perbedaan antara return asset operasional dan
return saham saat ini dari tahun ini sampai tahun berikutnya, sehingga
mencerminkan laba yang berkualitas. Konservatisme diukur berdasarkan Putu
tuwetina dan wirama (2014:190) dimana laba dikurang aliran kas operasi
dikurang depresiasi lalu dibandingkan dengan asset total menghasilkan indeks
konservatisme.
Sample penelitian ini menggunakan perusahaan high profile yang
terdaftar di BEI. Perusahaan yang termasuk dalam tipe industri high profile
adalah perusahaan yang termasuk dalam sektor industri primer dan sekunder
yaitu perusahaan yang memproduksi barang. (Dirgantari, 2002). Pemilihan
perusahaan high profile sebagai sampel karena memiliki beberapa
10
sensivitas tinggi terhadap kerusakan lingkungan dan memiliki kompleksivitas
terhadap stake holder yang retan terhadap potensi resiko yang dihadapi
perusahaan, serta menurut Reni Retno Anggraini (2000) kerakteristik
perusahaan high profile memiliki kecendrungan tingkat politis yang tingggi
dalam menggungkapkan informasi yang banyak dan perusahaan dengan
kepemilikan manajer yang lebih besar.Pertimbangan memilih perusahaan high
profile sebagai sample adalah high profile lebih banyak mendapat perhatian
dari masyarakat akibat kegiatan operasional perusahaan yang mengolah bahan
baku menjadi produk setengah jadi atau produk jadi dan menghasilkan residu
yang kemungkinan dapat menimbulkan kerusakan lingkungan apabila tidak
dikelola dengan baik sehingga dituntut memiliki tanggung jawab sosial yang
tinggi.
besar “Pengaruh Struktur Modaldan Konservatisme AkuntansiTerhadap
Kualitas Laba. (Studi Empiris Pada Perusahaan High Profile Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012-2014).Penelitian ini
merupakan replikasi dari penelitian sebelumnya, yaitu penelitian yang
dilakukan Kadek Prawisanti Dira dan Ida Bagus Putra Astika, (2014).
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah sebagai berikut:
1. Terdapat penambahan variabel independen berupa konservatisme
akuntansiyang diperoleh dari penelitian Putu Tuwetina dan Dewa Gede
Wirama (2014). Selain disarankan oleh peneliti terdahulu, variabel tersebut
11
ukuran perusahaan pada kualitas laba. Sedangkan penelitian ini menguji
analisa pengaruh struktur modal dan konservatisme akuntansi terhadap
kualitas laba.
sebelumnya menggunakan tahun penelitian 2009-2011.
3. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Perusahaan High
Profile terdaftar di BEI pada penelitian sebelumnya hanya menggunakan
Perusahaan Manufaktur.
dirumuskan sebagai berikut:
konservatisme akuntansi secara simultan terhadap kualitas laba?
2. Apakah terdapat pengaruh antara variabel struktur modal secara parsial
terhadap kualitas laba?
parsial terhadap kualitas laba?
adalah sebagai berikut:
dankonservatisme akuntansi secara simultan terhadap kualitas laba.
2. Untuk menganalisis pengaruh antara variabel struktur modal secara parsial
terhadap kualitas laba.
secara parsial terhadap kualitas laba.
D. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
referensi sebagai rekomendasi penelitian yang akan dilaksanakan di
waktu yang akan datang.
Laba perusahaan dan faktor apa saja yang dapat mempengaruhi
kualitas laba sehingga dijadikan informasi bagi masyarakat.
3. Bagi masyarakat sebagai bahan pertimbangan untuk menambah
referensi sebagai rekomendasi penelitian yang akan dilaksanakan di
waktu yang akan datang.
manajer dan investor dalam menentukan alternatif pendanaan dan
aspek-aspek yang mempengaruhinya, serta sebagai salah satu masukan
mengenai kinerja perusahaan sehingga mempertimbangkan kebijakan
calon investor dalam menanamkan modalnya.
2. Bagi perusahaan High Profiledapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan dan masukan khususnya dalam pengambilan keputusan
terhadap tingkat kualitas laba dan faktor apa saja yang mempengaruhi
kualitas laba.
3. Bagi peneliti diharapkan dengan adanya penelitian ini peneliti dapat
menggali ilmu tentang apa yang telah dikemukakan di atas dan dapat
dipraktekan di kehidupan yang sesungguhnya.
14
baik atau buruknya struktur modal akan mempunyai efek langsung terhadap
posisi keuangan perusahaan. Struktur modal yang optimal merupakan
struktur modal yang diperkirakan akan menghasilkan biaya modal rata-rata
tertimbang yang paling rendah yang diharapkan dapat meningkatkan harga
saham perusahaan. Namun sumber dana mana yang akan digunakan
perusahaan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya yaitu:
struktur aktiva, profitabilitas, pembayaran dividen, ukuran perusahaan,
tingkat pertumbuhan perusahaan, stabilitas dari earning, sikap manajemen,
suku bunga, inflasi, keadaan pasar modal, pertumbuhan pasar, stabilitas
penjualan, leverage operasi, tingkat pertumbuhan, pajak, pengendalian,
sikap pemberi pinjaman dan perusahaan penilaian kredibilitas, kondisi
pasar, kondisi internal perusahaan, dan fleksibilitas keuangan.
Struktur modal merupakan hasil dari keputusan pendanaan yang
pada intinya apakah memilih menggunakan utang atau ekuitas untuk
mendanai aktivitas operasional perusahaan. (Farida, et al,. 2014:55).
Permasalahan dari struktur modal adalah bagaimana perusahaan dengan
cepat memadukan komposisi dana permanen yang digunakannya dengan
mencari paduan dana yang dapat meminimumkan biaya modal perusahaan
15
pembiayaan yang paling optimal (Rodoni dan Ali, 2010:138).Terdapat
beberapa teori yang menjadi dasar penelitian di struktur modal yakni Teori
Trade off, Teori Agensi, Teori asimetri informasi, Teori pecking order,
Teori signal.
Teori trade off berusaha menemukan rasio utang yang optimal
dengan mempertimbangkan antara manfaat dan biaya dari penggunaan
utang. Teori ini menyatakan bahwa struktur modal optimal akan tercapai
bila manfaat nilai tambah dari penggunaan utang yang berupa
penghematan pajak dapat menutupi peningkatan biaya financial distress
sehubungan dengan penggunaan utang. Teori trade-off yang sering juga
disebut teori yang berdasarkan pajak menyatakan bahwa pada struktur
modal yang optimal akan diperoleh keuntungan bersih dari penggunaan
pajak seimbang dengan biaya financial distress dan kebangkrutan.
(Wermer Ria Murhadi 2011:9)
penggunaan utang akan memberikan manfaat penghematan pajak.
Dalam pandangan teori ini, penerbitan saham akan menjauhkan dari titik
optimal dan akan memberikan kabar buruk bagi investor. Menurut
Myers (1984) dalam Warmer (2011:9), perusahaan yang mengadopsi
teori ini seharusnya menetapkan target debt to value ratio dan secara
16
Konsekuensinya adalah investor mempersepsikan penerbitan saham
hanya akan terjadi bila saham tersebut sesuai atau lebih tinggi dari nilai
pasar. Hal ini berdampak pada kecenderungan investor untuk bereaksi
negatif terhadap penerbitan saham dan manajemen akan menolak untuk
menerbitkan saham. (Murhadi 2011:92)
teori trade off yang menggambarkan bahwa struktur modal yang optimal
dapat ditentukan dengan menyeimbangkan keuntungan atas penggunaan
utang dengan cost financial dan agency problems. Teori ini merupakan
kesimbangan antara keuntungan dan kerugian atas penggunaan hutang.
Mirza (1996) the trade – off model memang tidak dapat dipergunakan
untuk menentukan modal yang optimal secara akurat dari suatu
perusahaan tetapi melalui model ini memungkinkan dibuat 3 kesimpulan
tentang penggunaan leverage yaitu:
1. Perusahaan dengan risiko usaha yang lebih rendah dapat meminjam
lebih besar tanpa harus dibebani oleh expected cost of financial
distress sehingga diperoleh keuntungan pajak karena penggunaan
hutang yang lebih besar
17
ini disebabkan intangible assets lebih mudah untuk kehilangan nilai
apabila terjadi financial distress,dibandingkan standar asset dan
tangible asset
memuat hutang yang lebih besar dalam struktur modalnya dari pada
perusahaan yang dibayarkan diakui pemerintah sebagai biaya
sehingga mengurangi pajak penghasilan.
Teori keagenan merupakan sekelompok gagasan mengenai
pengendalian organisasi yang didasarkan pada keyakinan bahwa
pemisahan kepemilikan dengan manajemen menimbulkan potensi
bahwa keinginan pemilik diabaikan ketika pemilik (manajer)
mendelegasikan otoritas pengambilan keputusan ada pihak lain, terdapat
hubungan keagenan antara kedua belah pihak (Robinson, 2008:47).
Teori agensi atau teori keagenan muncul ketika terdapat dua
pihak yang saling terkait dimana pihak pertama setuju untuk memakai
jasa pihak tertentu. Sari (2011:4) menyatakan bahwa teori keagenan
mendeskripsikan pemegang saham sebagai prinsipal dan manajemen
sebagai agen. Manajemen merupakan pihak yang dikontrak oleh
pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan pemegang saham.
Untuk itu manajemen diberikan sebagian kekuasaan untuk membuat
keputusan bagi kepentingan terbaik pemegang saham. Oleh karena itu,
18
pemegang saham.
atas kepentingan mereka sendiri dan agen (manajer perusahaan)
diasumsikan menerima kepuasan bukan saja dari kompensasi keuangan
tetapi juga dari syarat-syarat yang terlibat dalam hubungan keagenan,
seperti jumlah waktu luang, kondisi kerja yang menarik, keanggotaan
klub dan jam kerja yang fleksibel. Menurut Brigham dan Houston
(2006:54), hubungan keagenan dapat timbul di antara:
a. Pemegang Saham Dengan Manajer
Masalah keagenan dapat timbul jika manajer menempatkan
tujuan dan kesejahteraan mereka sendiri pada posisi yang lebih tinggi
dari kepentingan pemegang saham. Tindakan manajer yang
oportunistik tersebut akan mempertinggi biaya perusahaan dan
mengurangi kemakmuran pemegang saham.
Kreditur memiliki klaim atas sebagian dari arus kas
perusahaan untuk pembayaran bunga dan pokok utang. Mereka
memiliki klaim atas aset perusahaan saat perusahaan mengalami
kebangkrutan. Pada saat perusahaan mengalami kebangkrutan,
keputusan harus segera diambil untuk mengatasi kondisi tersebut,
yaitu apakah akan melikuidasi perusahaan dengan menjual seluruh
aset atau melakukan reorganisasi. Manajemen perlu segera bertindak
dan khususnya manajer memilih mereorganisasi dengan tujuan
19
berdampak pada pemegang saham atau kreditur atau kedua belah
pihak tersebut.
Teori infomasi Asimetri merupakan suatu kondisi dimana
manajer perusahaan memiliki lebih banyak informasi tentang operasi
dan prospek kedepannya dari perusahaan dibandingkan dengan pihak
lainnya. Adanya asimetri infomasi membuat manajer perusahaan lebih
leluasa bertindak didalam menentukan strategi capital structure karena
lebih menguasai informasi yang terjadi didalam perusahaan. Informasi
baru yang ada selalu relevan dengan harga saham yang beredar dipasar,
sebenarnya informasi ini bersifat murah dan harus tersedia bagi semua
pihak. Namun, karena kompetisi pasar diantara para investor membuat
informasi baru segera direflesikan kedalam harga saham dipasar secara
cepat, sehingga terjadi pula kompetisi dalam mencari informasi untuk
mendapatkan keuntungan sesaat. (Seftianne dan Ratih handayani,
2011:42)
dilakukan oleh Myers (1984). Secara singkat teori ini menyatakan
bahwa:
20
operasi perusahaan berwujud laba ditahan)
b. Apabila pendanaan dari luar (external financing) diperlukan, maka
perusahaan akan menerbitkan sekuritas yang paling aman terlebih
dulu, yaitu dimulai dengan penerbitan obligasi, kemudian diikuti
oleh sekuritas yang berkarakteristik opsi (seperti obligasi konversi),
baru akhirnya apabila masih belum mencukupi, saham baru
diterbitkan. Sesuai dengan teori ini, tidak ada suatu target debt to
equity ratio, karena ada dua jenis modal sendiri, yaitu internal dan
eksternal. Modal sendiri yang berasal dari dalam perusahaan lebih
disukai daripada modal sendiri yang berasal dari luar perusahaan.
Menurut Myers (1996) perusahaan lebih menyukai penggunaan
pendanaan dari modal internal, yaitu dana yang berasal dari aliran
kas, laba ditahan dan depresiasi. Urutan penggunaan sumber
pendanaan dengan mengacu pada packing order theory adalah:
internal fund (dana internal), debt (hutang), dan equity (modal
sendiri). (Saidi, 2004).
perusahaan memiliki preferensi dalam memilih sumber pendanaannya.
Teori ini menyatakan bahwa perusahaan lebih menyukai penggunaan
dana internal daripada eksternal dalam rangka membiayai pengembangan
usahanya. Bila sumber pendanaan internal yang berasal dari financial
21
utama akan diambil dari penggunaan utang dengan cara menerbitkan
obligasi. Penerbitan saham baru dilakukan sebagai upaya terakhir dari
perusahaan bila sumber pendanaan internal dan utang tidak mencukupi
(Brealey dan Myers, 2003). Keuntungan dari pendanaan internal adalah
tidak memerlukan biaya penerbitan dan tidak perlu memberikan
informasi keterbukaan (disclosure) mengenai kondisi keuangan
perusahaan yang mungkin saja meliputi kesempatan investasi yang
potensial dan keuntungan yang diharapkan bila kesempatan investasi
tersebut diambil.
Teori sinyal mengemukakan tentang bagaimana seharusnya
sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan
keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah
dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik.
Sinyal dapat berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan
bahwa perusahaan tersebut lebih baik dari perusahaan lain. Teori sinyal
(signaling theory) yang digunakan untuk menjelaskan bahwa pada
dasarnya laporan keuangan dimanfaatkan perusahaan untuk memberi
sinyal positif maupun negatif kepada pemakainya. Demikian juga
dengan teori agensi yang digunakan untuk menjelaskan bahwa laporan
22
perusahaan (Sulistyanto, 2008:65).
gains. Modigliani dan Miller berpendapat bahwa kenaikan dividen ini
merupakan suatu sinyal kepada para investor bahwa manajemen
perusahaan meramalkan suatu penghasilan yang baik di masa yang akan
datang. Sebaliknya, suatu penurunan dividen atau kenaikan dividen di
bawah kenaikan normal (biasanya) diyakini investor sebagai sinyal
bahwa perusahaan akan menghadapi masa sulit di waktu mendatang
(Sawir, 2004:147).
2. Leverage
besar aset perusahaan yang dibiayai oleh hutang perusahaan (Dira dan
Astika 2014:67). Leverage diukur dengan menghitung debt ratio yaitu
dengan membandingkan antara total utang dengan total aset dari suatu
perusahaan periode tertentu (Otomegah Calvin 2012:30). Jika tingkat
leverage suatu perusahaan tinggi maka akan memiliki kecenderungan untuk
melakukan manajemen laba yang besar sehingga kualitas laba yang di
hasilkan akan menjadi rendah (Paulina Warianto 2012:2).Leverage
digunakan untuk menjelaskan kemampuan perusahaan dalam menggunakan
23
pemiliknya. Perusahaan dengan leverage yang tinggi mengindikasikan
bahwa perusahaan menggunakan lebih banyak utang dalam struktur
modalnya. Brigham dan Houston (2001:33) menjelaskan bahwa:
1. Penggunaan utang akan memberikan perlindungan pajak, sebagai
akibatnya penggunaan utang yang lebih besar akan mengurangi pajak
dan menyebabkan makin banyak laba operasi perusahaan yang akan
diterima investor.
2. Dalam dunia nyata perusahaan memiliki rasio utang yang meminta
utang kurang dari 100% dengan alasan untuk mengurangi dampak
potensi kebangkrutan yang buruk.
optimal terjadi ketika manfaat perlindungan pajak marjinal sebanding
dengan biaya-biaya yang berhubungan dengan kebangkrutan manajerial
Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi berarti memiliki
utang yang lebih besar dibandingkan modal. Kerugian yang timbulkan dari
penggunaan leverage, yaitu:
semakin tinggi biaya tetapnya yaitu berupa pembayaran bunga.
2 Jika sewaktu-waktu perusahaan kesulitan keuangan dan operating
income tidak cukup untuk menutup beban bunga, maka akan
menyebabkan kebangkrutan (Brigham dan Houston, 2001)
24
implikasi penting, yaitu:
mempertahankan pengendalian atas perusahaan dengan investasi yang
terbatas.
2. Kreditur melihat ekuitas atau dana yang disetor pemilik untuk
memberikan marjin penganggaran, sehingga jika pemegang saham
hanya memberikan sebagian kecil dari total pembiayaan, maka risiko
perusahaan sebagian besar ada pada kreditur.
3. Jika perusahaan memperoleh pengembalian yang lebih besar atas
investasi yang dibiayai dengan dana pinjaman dibanding pembayaran
bunga, maka pengembalian atas modal pemilik akan lebih besar atau
leverage (Brigham dan Houston, 2001).
Leverage dibagi menjadi dua yaitu leverage operasi (operating
leverage) dan leverage keuangan (financial leverage). Leverage operasi
adalah suatu indikator perubahan laba bersih yang diakibatkan oleh
besarnya volume penjualan sedangkan leverage keuangan merupakan
penggunaan utang untuk meningkatkan laba. Semakin besar rasio
leverage, berarti semakin tinggi nilai utang perusahaan. Dengan demikian,
perusahaan yang mempunyai rasio leverage yang tinggi, berarti proporsi
hutangnya lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi aktivanya akan
cenderung melakukan manipulasi dalam bentuk manajemen laba. Hal ini
berujung pada kualitas laba yang rendah.
25
suatu variable untuk mengetahui seberapa besar asset perusahaan yang
dibiayai oleh hutang perusahaan (Dira dan Astika 2014:67). Leverage
diukur dengan menghitung debt ratio menggunakan rumus :
3. Konservatisme Akuntansi
a. Konservatisme Akuntansi
mengganti manajer. Manajer yang merasa posisinya terancam
mendorong melakukan pengaturan pelaporan keuangan dengan praktik
pengaturan tingkat konservatisme. Praktik ini membolehkan perusahaan
memilih salah satu metode dari sekumpulan metode saat situasi yang
sama. Metode ini membuat manajer mengatur tingkat konservatime
berdasarkan metode akuntansi yang dipakai. (Hendrianto, 2012:62).
Perilaku manajer dalam memanipulasi laporan keuangan agar terlihat
baik sangat berkaitan dengan teori keagenan yang menyatakan bahwa
manajer mempunyai kecendrungan menaikan laba untuk
menyembunyikan kinerja yang buruk.
26
adalah sikap dalam menghadapi ketidakpastian untuk mengambil
tindakan atau keputusan atas dasar outcome yang terjelek dari
ketidakpastian tersebut”. C. Rollin Niswonger dan Philip E. Fess
menjelaskan suatu ungkapan sikap konservatif yaitu mengakui kerugian
yang mungkin terjadi dan tidak mengakui laba yang belum direalisir
(anticipate no profit and provide for all losses).
Konservatisme adalah prinsip dalam pelaporan keuangan yang
dimaksudkan untuk mengakui dan mengukur aktiva dan laba dilakukan
dengan penuh kehati-hatian oleh aktivitas ekonomi dan bisnis di
lingkupi dengan ketidakpastian (Wibowo, 2002 dalam Nugroho dan
Indriana, 2012).
(2010:245) terhadap prinsip akuntansi yaitu mengakui biaya atau rugi
yang memungkinkan akanterjadi, tetapi tidak segera mengakui
pendapatan atau laba yang akan datang walaupun kemungkinan
terjadinya besar. Implikasi tersebut dapat dilihat dari pelaporan labadan
aset yang lebih rendah atau pelaporan hutang yang lebih tinggi (Calvin
Oktomegah 2012:37).
sebagai antisipasi terhadap semua rugi tetapi tidakmengantisipasi laba
(Nathania Pramudita, 2012:2). Pengantisipasian rugi berarti pengakuan
27
yang sebaliknya dilakukan terhadap laba.
Konservatisme biasanya didefinisikan sebagai reaksi kehati-
hatian (prudent) terhadap ketidakpastian, ditujukanuntuk melindungi
hak-hak dan kepentingan pemegang saham (shareholders) dan pemberi
pinjaman (debtholders) yangmenentukan sebuah verifikasi standar yang
lebih tinggi untuk mengakui goodnews daripada badnews (Lara, et
al.,2005).
memilih berbagai metode yang dapat diterapkan dalam kondisi atau
transaksi yang sama. Kebebasan memilih standar akuntansidapat
menghasilkan angka-angka yang berbeda dalam laporankeuangan yang
pada akhirnya akan menyebabkan laba yangcenderung konservatif dan
laba yang cenderung optimis/liberal.
adalahmetode LIFO (asumsi perekonomian dalam keadaan
inflasi),sedangkan yang paling optimis/liberal adalah metode FIFO.
Kedua metode itu akan menghasilkan laba yang berbeda. Penerapan
metode LIFO akan menghasilkan laba yang lebih kecil dibandingkan
metode FIFO (dalam keadaan inflasi). Metode penyusutan atau
amortisasi bagi aktiva tetap atau tak berwujud akan lebih konservatif
jika periode penyusutan semakin pendek, dan semakin optimis jika
periode penyusutan semakin panjang. Metode penyusutan/amortisasi
28
metode garis lurus karenamenghasilkan biaya yang lebih tinggi
sehingga laba menjadi relatif kecil. Standar akuntansi mengenai
pengakuan biaya riset danpengembangan memungkinkan perusahaan
untuk memilih metode yang lebih sesuai dengan keadaan perusahaan.
Jika biaya risetdiakui sebagai cost pada periode berjalan, maka
perusahaan akanmenghasilkan laporan yang cenderung konservatif.
Sebaliknyaapabila biaya riset dicatat sebagai aktiva, maka laporan
keuangancenderung optimis.
Penman dan Zhang (2002) dan Wolk et al (2001) menyatakan
bahwa akuntansi konservatif tidak saja berkaitan dengan pemilihan
metode akuntansi, tetapi juga estimasi yang seringkali diterapkan
berkaitan dengan akuntansi akrual.Agung Suaryana (2004:4)
menyebutkan bahwa konservatisme merupakan praktik akuntansi yang
mengurangi laba (dan menurunkan aktiva bersih) ketika menghadapi
bad news, akan tetapi tidak meningkatkan laba (dan meningkatkan nilai
aktiva bersih) ketika menanggapi good news.
Dengan demikian konservatisme adalah tindak kehati-hatian
dalam menghadapi ketidakpastian dimasa mendatang yang dilakukan
manajer untuk menutupi kinerja perusahaan yang buruk, yang
diwujudkan dengan prinsip-prinsip memperlambat pengakuan
pendapatan, mempercepat biaya, merendahkan nilai dan meninggikan
29
perusahaan.
serta mempercepat pengakuan biaya menyebabkan understatement
terhadap laba dalam periode kini yang dapat mengarah pada
overstatement terhadap laba pada periode-periode berikutnya, sebagai
akibat understatement terhadap biaya pada periode tersebut.
Konservatisme akuntansi merupakan asimetri dalam
memverifikasi terhadap laba dan rugi. Semakin besar tingkat perbedaan
tingkat verifikasi yang diminta terhadap laba dari pada rugi, maka
semakin tinggi tingkat konservatisme akuntansi.
Penman dan Zhang, 2002 dalam Agung Suaryana (2004:5
menjelaskan hubungan antara akuntansi konservatisme dan kualitas
laba bergantung pada pertumbuhan investasi perusahaan. Pertumbuhan
investasi yang temporer atau berfluktuasi akan menghasilkan tingkat
pengembalian (rate of return) yang temporer atau berfluktuasi sehingga
menghasilkan kualitas laba yang rendah. Laba yang berfluktuasi akan
mengurangi laba untuk mempredisksi kas perusahaan di masa akan
datang. Kualitas laba digunakan untuk meprediksi laba masa akan
datang dengan kemampuan laba periode sekarang.
30
laba yang disajikan berdasarkan indeks konservatisme memiliki
kemampuan untuk menggambarkan beberapa perbedaan antara return
asset operasional dan return saham saat ini dari tahun ini sampai tahun
berikutnya, sehingga mencerminkan laba yang berkualitas.
Konservatisme diukur berdasarkan model Givonly dan Hayn (2000)
yang digunakan oleh Putu tuwetina (2014). Menggunakan rumus indeks
konservatisme sebagai berikut:
menggunakan konservatisme atau tidak, diantaranya:
1. Debt covenant (kontrak utang)
Debt covenant hypothesis memprediksikan bahwa semakin
tinggi jumlah pinjaman atau utang yang ingin di dapatkan oleh
perusahaan maka perusahaan berupaya menunjukan kinerja yang
baik pada debt holder. Upaya tersebut dilakukan dengan menurunkan
tingkat konservatisme dengan menyajikan aset dan laba setinggi
mungkin dan utang serendah mungkin. (Fatmariani, 2011:6)

31
untuk tidak menginformasikan kabar buruk untuk menaikkan harga
saham (Calvin Oktomegah 2011:2). Bagaimanapun informasi privat
perusahaan harus secepatnya disampaikan. Untuk perusahaan dengan
kepemilikan yang lebih terkonsentrasi, free rider akan berkurang dari
investor kecil yang ada dan kos yang dikeluarkan lebih rendah untuk
mendeteksi kecurangan. Dalam perspektif yang panjang, semakin
rendah cost investor untuk mendeteksi kecurangan semakin tinggi
probabilitas perusahaaan untuk terdeteksi dan semakin tinggi cost
yang diharapkan di masa mendatang (net benefit) dari peningkatan
laba (Qiang, 2003, dalam Calvin Oktomegah 2011:38)
3. Political Cost
ukuran perusahaan (Watts dan Zimmerman, 1986). Political cost
mengungkapkan bahwa perusahaan besar kemungkinan menghadapi
biaya politis lebih besar dibanding perusahaan kecil. Perusahaan
besar biasanya lebih diawasi oleh pemerintah dan masyarakat. Jika
perusahaan besar mempunyai laba yang tinggi secara relatif
permanen, maka pemerintah dapat terdorong untuk menaikkan pajak
dan meminta layanan publik yang lebih tinggi kepada perusahaan.
Akhirnya, manajer perusahaan besar mungkin cenderung memilih
metode akuntansi yang menunda pelaporan laba untuk mengurangi
32
2011:38).
Menurut Herdianto (2012:64) menyatakan Kesulitan keuangan
mempunyai banyak arti. Pada kondisi sesungguhnya, kesulitan
keuangan tergambar dari ketidakmampuan atau tidak tersedianya
dana untuk membayar kewajiban-kewajiban yang telah jatuh tempo.
Peneliti terdahulu berbeda-beda dalam mengartikan kesulitan
keuangan, di mana perbedaan ini tergantung dari cara mengukurnya.
Secara umum kegiatan perusahaan dianggap sebagai suatu proses
arus kas, yang dimulai dari penarikan kas dari berbagai sumber,
kemudian dilakukan pembelanjaan kas pada harta perusahaan dan
dilakukan pengoperasian atas harta perusahaan tersebut. Tahap
selanjutnya adalah menginvestasikan kembali kas yang diperoleh
dari operasi perusahaan tersebut dan diakhiri dengan pengembalian
kas. Dalam proses pengembalian kas tersebut, perusahaan dapat
menemukan masalah kesulitan keuangan. Kesulitan keuangan
tersebut secara umum dapat disebabkan:
1. Faktor internal
keuangan merupakan faktor dan kondisi yang timbul dari dalam
perusahaan yang bersifat mikro ekonomi.
33
keuangan merupakan faktor-faktor di luar perusahaan yang bersifat
makro ekonomi yang mempengarhi baik secara langsung maupun
tidak langsung terhadap kesulitan keuangan perusahaan.
Kesulitan keuangan dapat membawa suatu perusahaan
mengalami kegagalan pembayaran (default), tidak sesuai dengan
kontrak yang telah disepakati. Kegagalan pembayaran tersebut,
mendorong debitor untuk mencari penyelesaian dengan pihak
kreditor, yang pada akhirnya dapat dilakukan restrukturisasi
keuangan antara perusahaan, kreditor dan investor, (Ros dan
Westerfield, 1996). Akibat kesulitan keuangan adalah sebagai
berikut:
terhadap nilai perusahaan yang meng-offset nilai pembebasan
pajak (tax relief) atas peningkatan level hutang.
2. Jikapun manajer perusahaan menghindarkan likuidasi ketika
kesulitan, hubungannya dengan supplier, pelanggan, pekerja, dan
kreditor menjadi rusak parah.
3. Supplier penyedia barang dan jasa secara kredit mungkin lebih
berhati-hati, atau bahkan menghentikan pasokan sama sekali, jika
34
dalam beberapa bulan.
perusahaan cukup stabiluntuk menepati janji.
Penyelesaian kesulitan keuangan yang dihadapi debitor
berkaitan dengan tertunda pembayaran pokok dan bunga pinjaman,
adalah sebagai berikut:
perusahaan atau konsumen.
lain.
meningkatkan efisiensi perusahan di semua sektor.
4. Menerbitkan saham-saham atau surat berharga baru. Cara ini sulit
dilakukan bagi perusahaan dalam kondisi kesulitan keuangan,
35
perusahaan dari semua aspek.
supplier, merupakan salah satu alternatif yang mungkin
dilaksanakan oleh manajemen, di mana pihak kreditor akan
menyetujui solusi tersebut apabila ada kepastian tanggal
pembayaran terhadap kewajiban yang tertunda.
6. Melakukan penukaran modal saham terhadap hutang (exchanging
equity for debt)
4. Kualitas Laba
pendapatan dengan keseimbangan biaya-biaya dan pengeluaran untuk
periode tertentu. Laba adalah jawaban untuk investor mengenai perkiraan
keuntungan perusahaan di masa yang akan datang (Bandi,2009). Salah satu
indikator laba berkualitas adalah adanya reaksi investor saat
diumumkannya informasi tersebut, yang dapat diamati dari pergerakan
harga saham. (Farida et al., 20014:47). Laba akuntansi yang berkualitas
adalah laba yang mempunyai sedikit presepsian didalamnya dan dapat
mencerminkan kinerja perusahaan yang sesungguhnya. Semakin besar
gangguan persepsian yang terkandung didalam laba akuntansi maka
36
laba yang tinggi menunjukkan bahwa investor tertarik pada informasi laba.
Ketika keuntungan perusahaan meningkat, maka laba perusahaan dikatakan
berkualitas.
kelanjutan laba (sustainable earnings) dimasa depan, yang ditentukan oleh
komponen akrual dan kas dan dapat mencerminkan kinerja keuangan
perusahaan yang sesungguhnya (Djamaluddin, 2008).Kualitas laba adalah
jumlah yang dapat dikonsumsi dalam satu periode dengan menjaga ke-
mampuan perusahaan pada awal dan akhir periode tetap sama. Dechows et
al, (2010) mendefenisikan kualitas laba sebagai berikut:
“Higher quality earnings provide more information about the
features of a firm’s financial performance that are relevant to a specific
decision made by a specific decision-maker.”
Dari defenisi diatas, terdapat tiga hal yang harus digarisbawahi
(Dechows et al, 2010). Pertama, kualitas laba tergantung pada informasi
yang relevan dalam membuat keputusan. Dengan demikian pendefenisian
kualitas laba diatas hanya dalam konteks model keputusan tertentu. Kedua,
kualitas dari angka laba yang dilaporkan dilihat dari apakah informasi
tersebut menggambarkan kinerja keuangan suatu perusahaan. Ketiga,
kualitas laba secara bersama-sama ditentukan oleh relevansi dari kinerja
keuangan yang mendasari keputusan.
Dechows et al, (2010) mengklasifikasikan proksi dari kualitas laba
ke dalam tiga kategori utama yaitu: kategori pertama, sifat laba (properties
of earnings) meliputi: persistensi laba (ear-nings persistence), ukuran
besarnya akrual (magnitude of accruals), nilai sisa model akrual (residual
models accrual), perataan laba (earnings smoothness), dan ketepatan
pengakuan rugi (timely loss recognition). Kategori kedua, respon investor
terhadap laba (investor responsiveness to earning) meliputi: earnings
response coefficient (ERC). Dan kategori ketiga, indikator eksternal dari
salah saji laba (indicators external of earnings misstatement meliputi:
Accounting and Auditing Enforcement Releases (AAERs), pernyataan
kembali (restatements), dan ketidakefisienan prosedur internal kontrol
berdasarkan Sarbanes Oxley Act(internal control procedure deficiencies
reported under the Sarbanes Oxley Act).
Earning Response Coefficient merupakan salah satu ukuran atau
proksi yang digunakan untuk mengukur kualitas laba. ERC Ini menjadi
model penelitian untuk mengindikasikan kemungkinan naik–turunya harga
saham atas reaksi pasar terhadap informasi laba yang di umumkan oleh
perusahaan. Kuatnya reaksi pasar terhadap informasi laba akan tercemin
dengan tingginya ERC, demikian sebaliknya (Farida, et al., 2014:47).
Earnings response coefficient (ERC) adalah salah satu ukuran yang
digunakan untuk mengukur kualitas laba. ERC adalah suatu reaksi atas laba
yang diumumkan oleh perusahaan, Reaksi ini mencerminkan kualitas laba
yang dilaporkan perusahaan. Untuk menghitung earning response
38
Abnormal Return (CAR) dan menghitung nilai Unexpected Earnings (UE).
Kemudian meregresikan UE terhadap CAR.
5. ERC
Earnings response coefficient (ERC) dapat didefinisikan sebagai
efek satu satuan mata uang dari laba yang diharapkan pada return saham dan
menggambarkan reaksi investor terhadap pengumuman laba atau rugi
tersebut. ERC menunjukkan kuat lemahnya reaksi pasar terhadap
pengumuman laba, sehingga dapat digunakan untuk memprediksi
kandungan dalam informasi laba. Jika investor mempunyai persepsi bahwa
informasi keuangan itu memiliki kredibilitas tinggi, maka ia akan bereaksi
terhadap laporan keuangan tersebut secara kuat (Tiolemba, 2008 dalam Eka
Lara Santi 2013:2).
dalam laba masing-masing perusahaan, sehingga mengakibatkan earnings
response coefficient (ERC) berbeda antara satu perusahaan dengan
perusahaan lainnya. Adapun beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan
earnings response coefficient (ERC) tersebut adalah risiko sistematik yang
diukur dengan menggunakan beta, leverage yang merupakan proksi dari
struktur modal, persistensi laba dimana kemampuan menghasilkan laba yang
permanen akan menyebabkan ERC berbeda setiap perusahaan, kesempatan
39
dan the informativeness of price yang diproksi dengan ukuran perusahaan
(firm size) (Scott, 2009). Jadi, ERC didefinisikan sebagai perkiraan
perubahan harga saham yang terjadi akibat pengumuman laba
perusahaanyang masuk ke informasi pasar (Dhaliwal, 1991 dalam Eka
larasanti buana 2013:4)
langkah, yaitu menghitung Cummulative Abnormal Return (CAR) dan
menghitung nilai Unexpected Earnings (UE). Kemudian meregresikan UE
terhadap CAR. Perhitungan CAR sebagai berikut:
CARit = α0 + α1 UEi.t + ε
Sumber: Scott, 2012
variabel struktur modal (SM), Konservatisme Akuntansi (KNSV) terhadap
Kualitas Laba (KL), dapat dilihat dari table 2.1
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
a. Pengaruh antara Struktur Modal dan Konservatisme Secara
Simultan terhadap Kualitas laba.
seberapa besar asset perusahaan yang dibiayai oleh hutang perusahaan
(Dira dan Astika 2014:67). Sedangkan Konsep konservatisme menurut
Soewardjono (2010:245) terhadap prinsip akuntansi yaitu mengakui biaya
atau rugi yang memungkinkan akanterjadi, tetapi tidak segera mengakui
pendapatan atau laba yang akan datang walaupun kemungkinan terjadinya
besar. Implikasi konsep tersebut dapat dilihat dari pelaporan laba dan aset
yang lebih rendah atau pelaporan hutang yang lebih tinggi (Calvin
Oktomegah 2012:37). Perusahaan yang mempunyai rasio leverage yang
tinggi, berarti proporsi hutangnya lebih tinggi dibandingkan dengan
proporsi aktivanya perusahaan akan cenderung melakukan manipulasi
dalam bentuk manajemen laba. Hal ini berujung pada kualitas laba yang
rendah. Sehingga Peneliti menduga terdapat pengaruh secara simultan
antara struktur modal dan konservatisme terhadap kualitas laba.
Ha1: Struktur modal dan konservatisme secara simultan berpengaruh
terhadap kualitas laba.
Informasi laba perusahaan yang ber-leverage tinggi kurang
direspon oleh investor yang akan tercermin pada penurunan harga saham
atau penurunan volume penjualan sahamnya. Sehingga semakin tinggi
47
keputusan pendanaan (financial decision) yang pada intinya memilih
apakah menggunakan utang atau ekuitas untuk mendanai aktivitas
operasional perusahaan. Penggunaan utang yang lebih besar dibandingkan
dengan ekuitas pemegang saham menyebabkan semakin besar pula beban
bunga yang akanditanggung perusahaan. Oleh sebab itu, sebelum
mengambil keputusan investasi, investor tidak hanya melihat kemampuan
perusahaan dalam memperoleh laba tetapi juga penggunaan utang
perusahaan, karena hal tersebut berpengaruh terhadap tingkat keuntungan
yang diperoleh perusahaan dan return yang akan diterima oleh investor.
Informasi laba perusahaan yang memiliki leverage tinggi akan kurang
direspon oleh investor. Perusahaan yang memiliki tingkat leverage tinggi
cenderung nilai kualitas laba yang diproksikan dengan Earning Response
Coefficient rendah karena laba yang dilaporkan oleh perusahaan adalah
laba yang menguntungkan untuk kreditur. Akibat utang yang tinggi, laba
sebagian besar akan dibagikan untuk kreditur dalam bentuk pembayaran
bunga dan pokok pinjaman, bukan untuk pemegang saham. Dampak lain
yang ditimbulkan dari besarnya utang adalah risiko gagal bayar juga
mungkin dialami oleh perusahaan yang bila terjadi terus-menerus dapat
menyebabkan terjadinya kebangkrutan Ambarwati (2008). Dengan utang
yang tinggi mempunyai tingkat leverage tinggi pula sehingga kualitas laba
yang dihasilkan menjadi rendah. Hipotesis yang dirumuskan menjadi
struktur modal berpengaruh terhadap kualitas laba.
Ha2: Struktur modal berpengaruh terhadap kualitas laba
48
Menurut Tuwentina dan Wirama (2014:185) menjelaskan
konservatisme menjadi solusi dari adanya konflik agency dimana
konservatisme diterapkan melalui metode pencatatan laporan keuangan.
Penman dan Zhang (1999) menemukan kualitas laba yang rendah pada
perusahaan yang konservatif serta memiliki pertumbuhan investasi yang
berfluktuasi. Berbeda dengan hasil penelitian tersebut, menurut Kazemi
et al.(2011), prinsip konservatisme pada dasarnya dianggap sebagai
keuntungan karena dapat meminimalisir pandangan optimistis pihak
manajemen dan menghindari sikap yang cenderung berlebihan dalam
laporan keuangan. Sadidi et al. (2011) menemukan bahwa indeks
kualitas laba yang disajikan berdasarkan indeks konservatisme memiliki
kemampuan untuk menggambarkan beberapa perbedaan antara return
aset operasional dan return saham saat ini dari tahun ini sampai tahun
berikutnya, sehingga mencerminkan laba yang berkualitas. Menurut
Watts (2002), akuntansi konservatif bermanfaat untuk menghindari
konflik kepentingan antara investor dan kreditor karena konservatisme
akuntansi dapat mencegah pembagian dividen yang berlebihan kepada
investor.Peneliti menduga terdapat pengaruh positif konservatisme
akuntansi pada kualitas laba. Hal ini disebabkan oleh prinsip-prinsip
konservatisme yang berpihak kepada investor dengan cenderung bersifat
melindungi investor dari kesalahan berinvestasi akibat kekeliruan dalam
menganalisis informasi laba perusahaan sehingga hipotesis yang
dirumuskan adalah: Konservatisme akuntansiberpengaruh positif pada
kualitas laba.
49
tinjauan pustaka yang dituangkan dalam bentuk skema serta mencerminkan
keterikatan antara variabel yang diteliti. Berdasarkan tinjauan pustaka yang
telah dijabarkan sebelumnya, maka dapat dibuat kerangka konseptual sebagai
berikut:
Variabel Dependen (Y):
Kualitas Laba (Y)
Uji Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas 2. Uji Multikolinieritas 3. Uji Autokorelasi 4. Uji Heteroskedastisitas
Analisis / Interpretasi
Uji Hipotesis
1. Uji F (Secara Simultan) 2. Uji t (Secara Parsial) 3. Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R
2 )
penelitiankuantitatif. Metode penelitian kuantitatif adalah cara untuk
memperoleh pengetahuan ataumemecahkan masalah yang dihadapi dan
dilakukan secara hati-hati dan sistematis, dan data-datayang dikumpulkan
berupa rangkaian atau kumpulan angka-angka (Nasehudin & Gozali,2012).
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kausalitas, yaitu penelitian yang berguna untuk menganalisis hubungan antar
satu variable dengan variable lainnya atau bagaimana suatu variable
mempengaruhi variable lainnya. Metode penelitian kuantitatif adalah cara
untuk memperoleh pengetahuan ataumemecahkan masalah yang dihadapi dan
dilakukan secara hati-hati dan sistematis, dan data-datayang dikumpulkan
berupa rangkaian atau kumpulan angka-angka (Nasehudin & Gozali,2012).
Adapun sifat penelitian ini dikatagorikan penelitian deskriptif
explanatory. Sugiyono (2012:24) menyatakan bahwa, penelitian explanatory
merupakan penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-
variabel yang diteliti serta hubungannya antara satu variabel dengan yang lain.
Sugiyono (2012:49) menyatakan bahwa penelitian tingkat ekplanasi
(level of exlpanation) adalah tingkat penjelasan. Penelitian ini bermaksud
menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungan antara
51
satu variabel dengan variabel yang lain sedangkan penelitian deskriptif adalah
penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu
variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau hubungan
dengan variabel yang lain.
B. Metode Penelitian Sampel
yang mempunyai karakteristik tertentu. Jadi populasi bukan hanya orang,
tetapi juga benda-benda alam lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang
ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh
karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek tersebut.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan High
Profile yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012 sampai
tahun 2014 berjumlah 154 perusahaan.Perusahaan dengan kategori High
profile dikarakteristikan sebagai industri yang memiliki tingkat sensivitas
tinggi terhadap kerusakan lingkungan, kompleksivitas terhadap stake holder
yang retan terhadap potensi resiko yang dihadapi perusahaan, memiliki
kecendrungan tingkat politis yang tingggi dalam menggungkapkan
informasi yang banyak dan perusahaan dengan kepemilikan manajer yang
lebih besar.
Pengelompokan ini mengikuti aturan yang berlaku di Bursa Efek Indonesia,
yaitu untuk industri primer adalah industri yang langsung mengolah hasil
52
sumber daya alam, antara lain pertanian (sektor 1) dan pertambangan (sektor
2). Industri sekunder adalah industri yang mentransformasikan bahan baku
ke dalam produk setengah jadi melalui proses pabrikasi, diantaranya industri
dasar dan kimia (sektor 3), industri barang konsumsi (sektor 5), dan industri
lain-lain (sektor 4).
ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dan tenaga, serta waktu.
Dalam penelitian ini, sampel yang digunakan dengan metode
purposive sampling.Metode purposive sampling yaitusampel yang diambil
berdasarkan kriteria-kriteria tertentu untuk mendapatkan sampel yang sesuai
dengan tujuan penelitian (Yama dan Adityawati, 2009).
Sampel dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan beberapa
kriteria sebagai berikut:
1. Perusahaan High Profileyang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dalam
kurun waktu tahu 2012 sampai 2014
2. Perusahaan mempublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit
dengan menggunakan tahun buku yang berakhir pada tanggal 31
Desember secara konsisten dan lengkap selama periode 2012 sampai
2014
53
5. Memiliki data lengkap terkait variabel.
C. Metode Pengumpulan Data
1. Jenis dan Sumber Data
Data adalah suatu fakta dan angka yang secara relatif tidak berarti
bagi pemakai (Umar, 2010:129). Sedangkan, teknik pengolahan data adalah
cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data
(Sugiyono, 2012:11).
bersifat data sukunder, yaitu sumber data yang diperoleh dengan cara
membaca, mempelajari, dan memahami melalui media lain yang bersumber
dari literatur, buku-buku, serta dokumen perusahaan (Sugiyono, 2012:139).
Data sekunder adalah data yang informasinya diperoleh secara tidak
langsung dari perusahaan. Sedangkan menurut Indriantoro dan Supomo
(2009:147), data sekunder adalah sumber data penelitian yang diperoleh
peneliti secara tidak langsung melalui perantara (diperoleh dan dicatat oleh
pihak lain). Data sekunder dalam penelitian ini berasal dari berbagai
literatur yang berhubungan dengan struktur modal, konservatisme
akuntansi dan kualitas laba. Penelitian ini hanya menggunakan data
sekunder berupa :
a. Data laporan keuangan auditan untuk periode tahun 2012-2014 yang
diperoleh dari website BEI (www.idx.co.id), website perusahaan dan
www.sahamok.co.id
54
b. Data Transaksi harian berupa historis harga saham (high and Low), data
transaksi bulanan berupa historis harga saham (close), close, IHSG.
Data ini diambil dari www.idx.co.id dan www.yahoofinance.co.id
2. Teknik dan pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik
dokumentasi yang dimaksudkan sebagai cara untuk mengumpulkan data
dengan mempelajari dan mencatat bagian yang dianggap penting dari
berbagai sumber yang resmi. Teknik dokumentasi ditujukan untuk
memperoleh data langsung terutama seluruhnya dari kepustakaan (buku,
dokumen, artikel laporan, jurnal).
perusahaan High profile yang terdaftar di BEI tahun 2012-2014.
D. Metode Analisa Data
variabel terikat (dependent variable), metode analisis data dalam penelitian ini
(strutur modal dan konservatisme akuntansi) menggunakan model regresi
berganda atau Multiple Regression (Ghozali, 2013:5).
Tahapan penelitian dalam menganalisis pengaruh struktur modal, dan
konservatisme akuntansi terhadap kualitas laba adalah sebagai berikut:
55
variabel terikat (Y), maka perlu digunakan pengujian asumsi klasik. Uji
asumsi dasar yang dilakukan adalah:
a. Uji Normalitas
regresi variabel dependen, variabel independen atau keduanya
mempunyai distribusi normal atau tidak. Terdapat dua cara untuk
mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan
analisis grafik dan analisis statistik (Ghozali, 2013:27).
1) Analisis Grafik
melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi
kumulatif dari distribusi normal.
mengalami normalitas atau tidak dideteksi dengan melihat penyebaran
data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik. Adapun dasar
pengambilan keputusan. (Santoso, 2002:214) adalah:
(a) Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah
garis diagonal atau grafik histogramnya tidak menunjukkan pola
distribusi normal maka model regresi tersebut memenuhi asumsi
normalitas.
(b) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal atau tidak mengikuti
garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola
56
normalitas.
Kolmogorov Smirnovdengan bantuan program SPSS 22. Dalam
penelitian ini, uji yang dilakukan untuk menentukan normalitas
dengan menggunakan statistik Kolmogorov–Smirnov (Ghozali,
2013:30). Hal ini dapat dilihat sebagai berikut:
(a) Dengan membandingkan K-Shitung dengan K-Stabel :
(1) Jika K- Shitung< K- Stabel , Ho ditolak.
(2) Jika K- Shitung> K- Stabel , Ho diterima.
(b) Dengan melihat angka probabilitas, dengan ketentuan:
(1) Probabilitas > 0,05, maka Ho ditolak.
(2) Probabilitas < 0,05, maka Ho diterima.
b. Uji Multikolinieritas
hubungan antara beberapa variabel bebas (independen) dalam model
regresi (Ghazali, 2013:95). Multikolinieritas merupakan keadaan dimana
satu atau lebih variabel independen dinyatakan sebagai kondisi linier
dengan variabel lainnya. Artinya bahwa jika perubahan-perubahan bebas
digunakan sama sekali tidak berkolerasi satu dengan yang lain maka bisa
dikatakan tidak terjadi multikolinieritas. Uji multikolinearitas dapat juga
dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan Variance Information
57
Factor (VIF) dari hasil analisis dengan menggunakan SPSS 22. Apabila
nilai tolerance lebih tinggi daripada 0,10 atau VIF lebih kecil dari 10
maka dapat dikatakan tidak terjadi multikolinearitas.
c. Uji Heteroskedastisitas
tidak sama untuk semua pengamatan. Jika variance dari residual satu
pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas
dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas. Data yang baik yaitu
homoskedastisitas yaitu kesamaan varians dan residual. Kebanyakan data
cross section mengandung situasi heteroskedastisitas karena data ini
menghimpun data yang mewakili berbagai ukuran-ukuran (kecil, sedang
dan besar).
melihat hasil output SPSS 22 melalui grafik scatterplot antara nilai
prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residualnya
SRESID. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan
dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara
SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi,
dan sumbu X adalah residual (Y prediksi – Y sesungguhnya) yang telah
di-studentized (Ghozali, 2013:125). Dasar analisis dari uji
heteroskedastisitas adalah sebagai berikut:
58
1) Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola
tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit),
maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
2) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan
dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi
heteroskedastisitas.
menggunakan uji Glejser yaitu dengan mengkorelasikan masing-masing
variabel bebas terhadap nilai absolut dari residual. Apabila koefisien
korelasi dari masing-masing variabel bebas ada yang signifikan pada
tingkat kekeliruan di bawah 5%, mengindikasikan adanya gejala
heteroskedastisitas dan jika nilai signifikan pada tingkat kekeliruan di
atas 5%, mengindikasikan tidak adanya gejala heteroskedastisitas.
d. Uji Autokorelasi
model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada
periode t dengan kesalahan pada periode t-1 sebelumnya. Autokorelasi
muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu satu sama
lainnya. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan pengganggu)
tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Hal ini sering
ditemukan pada data rentet waktu (time series) karena “gangguan” pada
seorang individu kelompok cenderung mempengaruhi “gangguan” pada
individu kelompok yang sama pada periode berikutnya. Pada data
crossection (silang waktu), masalah autokorelasi relatif jarang terjadi
59
kelompok yang berbeda. Model regresi yang baik adalah regresi yang
bebas dari autokorelasi (Ghozali 2013:110).
Autokorelasi adalah korelasi antara sesama urutan pengamatan
dari waktu ke waktu. Untuk memeriksa adanya aotukorelasi, biasanya
dilakukan uji statistik Durbin – Watson. Model regresi yang baik adalah
regresi yang bebas dari autokorelasi Uji autokorelasi dilakukan dengan
menggunakan uji Durbin-Watson (D-W), dengan tingkat kepercayaan
= 5%. Apabila D-W terletak antara -2 sampai +2 maka tidak ada
autokorelasi (Santoso, 2002:219).
2. Uji Hipotesis
Pengujian ini bertujuan untuk membuktikan apakah variabel-
variabel independen (X) secara simultan (bersama-sama) mempunyai
pengaruh terhadap variabel dependen (Y) (Ghozali, 2013:88).
Apabila Fhitung> Ftabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang
berarti variabel independen mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap variabel dependen dengan menggunakan tingkat signifikan
sebesar 0,05 jika nilai Fhitung > Ftabel maka secara bersama-sama seluruh
variabel independen mempengaruhi variabel dependen. Selain itu, dapat
juga dengan melihat nilai probabilitas. Jika nilai probabilitas lebih kecil
daripada 0,05 (untuk tingkat signifikansi = 0,05), maka variabel
independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel
dependen. Sedangkan jika nilai probabilitas lebih besar daripada 0,05
60
variabel dependen.
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh
satu variabel individu independen secara individu dalam menerangkan
variabel dependen (Ghozali, 2013:88). Uji t digunakan untuk mengetahui
apakah pengaruh variabel independen berpengaruh secara parsial
terhadap variabel dependen bersifat menentukan (significant) atau tidak
(Santoso, 2007:168). Dalam penelitian ini menggunakan uji signifikan
dua arah atau two tailed test, yaitu suatu uji yang mempunyai dua daerah
penolakan Ho yaitu terletak di ujung sebelah kanan dan kiri. Kriteria
dalam uji parsial (Uji t) dapat dilihat sebagai berikut:
Uji Hipotesis dengan membandingkan thitung dengan ttabel
1) Apabila - thitung< - ttabel atau thitung> ttabel, maka Ho ditolak dan Ha
diterima, artinya variabel independen secara parsial mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
2) Apabila thitung ≤ ttabel atau - thitung ≥ - ttabel,maka Ho diterima dan Ha
ditolak, artinya variabel independen secara parsial tidak mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
Uji Hipotesis berdasarkan Signifikansi
3. Analisis Regresi Linier Berganda
a. Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R 2 )
61
Determinasi bertujuan untuk melihat seberapa besar kemampuan variabel
bebas menjelaskan variabel terikat yang dilihat melalui adjusted R².
Adjusted R² ini digunakan karena variabel bebas dalam penelitian ini
lebih dari dua. Nilainya terletak antara 0 dan 1. Jika hasil yang diperoleh
> 0,5 maka model yang digunakan dianggap cukup handal dalam
melakukan suatu estimasi.
Semakin besar angka Adjusted R² maka semakin baik model yang
digunakan untuk menjelaskan hubungan variabel bebas terhadap variabel
terikatnya. Jika Adjusted R²semakin kecil berarti semakin lemah model
tersebut untuk menjelaskan variabilitas dari variabel terikatnya.
b. Uji Regresi Linier Berganda
Untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel
dependen digunakan model regresi linier berganda dimana variabel
independen yaitu Struktur Modal terhadap variabel dependen yaitu
Kualitas laba. Model regresi linier berganda penelitian ini adalah sebagai
berikut:
Keterangan:
X1 = Struktur Modal
X2 = Konservatisme Akuntansi
= Standar Error
E. Operasional Variabel Penelitian
Pada bagian ini akan diuraikan definisi dari masing–masing variabel yang
digunakan disertai dengan operasional serta cara pengukurannya. Adapun
operasional variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel dependen
didalam laba akuntansi maka semakin rendah kualitas laba akuntansi
tersebut. (Marisatusholekha dan Boediono 2015:54). Menurut Yeni
wulansari (2013:5) mengatakan kualitas laba yang tinggi menunjukkan
bahwa investor tertarik pada informasi laba.
Laba yang berkualitas adalah laba yang dapat mencerminkan
kelanjutan laba (sustainable earnings) dimasa depan, yang ditentukan oleh
komponen akrual dan kas dan dapat mencerminkan kinerja keuangan
perusahaan yang sesungguhnya (Djamaluddin, 2008).Dechows et al, (2010)
mendefenisikan kualitas laba sebagai berikut:
“Higher quality earnings provide more information about the
features of a firm’s financial performance that are relevant to a specific
decision made by a specific decision-maker.”
Dari defenisi diatas, terdapat tiga hal yang harus digarisbawahi
(Dechows et al, 2010). Pertama, kualitas laba tergantung pada informasi
yang relevan dalam membuat keputusan. Dengan demikian pendefenisian
kualitas laba diatas hanya dalam konteks model keputusan tertentu. Kedua,
63
kualitas dari angka laba yang dilaporkan dilihat dari apakah informasi
tersebut menggambarkan kinerja keuangan suatu perusahaan. Ketiga,
kualitas laba secara bersama-sama ditentukan oleh relevansi dari kinerja
keuangan yang mendasari keputusan.Variable dependen yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Kualitas Laba sebagai variable Y. Terdapat
beberapa proksi yang dapat digunakan dalam pengukuran kualitas laba
antara lain persistensi laba, Discretionary Accruals, ketepatan waktu, dan
Earnings Respons Coefficients (Dechow, 2010). Pada penelitian ini,
kualitas laba diukur dengan proksi Earnings Response Coefficients (ERC)
karena peneliti ingin melihat kualitas laba berdasarkan respon investor atas
informasi laba yang diungkapkan oleh perusahaan sesuai dengan teori
agensi bahwa laba yang berkualitas adalah laba yang tidak menimbulkan
asimetri informasi antara investor sebagai principal dan manajemen
perusahaan sebagai agen. Koefisien respon pada dasarnya merupakan
suatu upaya untuk memahami bagaimana suatu informasi dapat
mempengaruhi harga saham (Bruegger dan Dunbar, 2009). ERC
merupakan koefisien regresi antara harga saham yang diproksikan dengan
CAR, dan laba akuntansi yang diproksikan dengan Ue dengan rumus:
Keterangan:
CARit = CAR (-3, +3) = ∑
Arit : Abnormal return Perusahaan i pada tahun t yang merupakan
selisih antara return perusahaan dengan return pasar
Untuk menentukan abnormal return (Soewardjono, 2005) dapat digunakan
rumus berikut ini :
Rit = Return perusahaan i pada waktu t
Rmt = Return pasar pada waktu t
Untuk memperoleh data abnormal return, terlebih dahulu harus mencari
return saham harian dan return pasar harian
a) Return saham harian dihitung dengan rumus
Keterangan :
b) Return pasar harian dihitung sebagai berikut
Rit = it mt
Setelah menghitung CAR, langkah berikutnya adalah menghitung
Unexpected earnings yang diukur menggunakan pengukuran laba per
lembar saham (Riyatno, 2007):
AEi.t-1 =Laba setelah pajak perusahaan i pada tahun t-i
AEi.t-1 =Laba setelah pajak perusahaan i pada tahun t-1
Kemudian ERC dihitung dengan persamaan regresi sebagai berikut atas
data tiap-tiap perusahaan:
Interval dari hari t-3 hingga t+3
UEi.t : Unexpected Earnings Perusahaan i pada periode t
CARit = α0 + α1 UEi.t + ε
Sumber: Scott, 2012
66
antara lain:
pada intinya apakah memilih menggunakan utang atau ekuitas untuk
mendanai aktivitas operasional perusahaan. (Farida, et al,. 2014:55).
Permasalahan dari struktur modal adalah bagaimana perusahaan dengan
cepat memadukan komposisi dana permanen yang digunakannya
dengan mencari paduan dana yang dapat meminimumkan biaya modal
perusahaan dan dapat memaksimalkan harga saham. Hal inilah yang
menjadi tujuan akhir dari struktur modal, yakni membuat komposisi
sumber pembiayaan yang paling optimal (Rodoni dan Ali, 2010:138).
Horne(2005:232)menjelaskan struktur modal adalah bauran atau
proporsi pendanaan permanen jangka panjang perusahaan yang diwakili
oleh hutang, saham preferen, dan ekuitas saham biasa.
Struktur modal yang diukur dengan leverage merupakan suatu
variabel untuk mengetahui seberapa besar aset perusahaan dibiayai oleh
67
perusahaan berhubungan dengan keuntungan yang akan diperoleh
perusahaan (Keshtavar et al., 2013). Jika tingkat leverage suatu
perusahaan tinggi maka akan memiliki kecendrungan untuk melakukan
manajemen laba yang besar sehingga kualitas laba yang di hasilkan
akan menjadi rendah (Paulina Warianto 2012:2). Namun Semakin
tinggi hutang perusahaan, maka perusahaan tersebut akan semakin
dinamis. Investasi yang meningkat menunjukkan adanya prospek
keuntungan di masa yang akan datang. Pihak manajemen akan lebih
terpacu untuk meningkatkan kinerjanya agar hutang-hutang perusahaan
dapat terpenuhi sehingga dampak positifnya adalah perusahaan akan
lebih berkembang. Keputusan untuk menentukan struktur modal dapat
dilihat dari harga sahamnya (Chowdhury and Chowdhury, 2010).
Rumus leverage:
TUit = Total Utang perusahaan i pada tahun t
TAit = Total Asset perusahaan i pada tahun t
Sumber : Marisatusholekha dan Eddy Budiono 2015
68
adalah sikap dalam menghadapi ketidakpastian untuk mengambil
tindakan atau keputusan atas dasar outcome yang terjelek dari
ketidakpastian tersebut”.Konservatisme biasanya didefinisikan sebagai
reaksi kehati-hatian (prudent) terhadap ketidakpastian, ditujukanuntuk
melindungi hak-hak dan kepentingan pemegang saham (shareholders)
dan pemberi pinjaman (debtholders) yangmenentukan sebuah verifikasi
standar yang lebih tinggi untuk mengakui goodnews daripada badnews
(Lara, et al.,2005).Konservatisme merupakan prinsip akuntansi yang
jika diterapkan akan menghasilkan angka-angka pendapatan dan asset
cendrung rendah, serta angka-angka biaya cenderung tinggi. Akibatnya
laporan keuangan akan menghasilkan laba yang terlalu rendah.
Kecendrungan ini terjadi karena konservatisme menganut prinsip
memperlamb