PBL BLOK 26 SP. PROGRAM PUSKESMAS DALAM PENANGGULANGAN DIARE . SHANNAZ.doc

download PBL BLOK 26 SP. PROGRAM PUSKESMAS DALAM PENANGGULANGAN DIARE . SHANNAZ.doc

of 44

  • date post

    01-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    301
  • download

    2

Embed Size (px)

description

makalah blok 26

Transcript of PBL BLOK 26 SP. PROGRAM PUSKESMAS DALAM PENANGGULANGAN DIARE . SHANNAZ.doc

Evaluasi Program

Program puskesmas dalam menanggulangi Penyakit Diare

Shannaz

10 2008 038

Kelompok 5

email : tamagochila@yahoo.com

Program Sarjana Pendidikan Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jalan Arjuna Utara,No.6, Jakarta Barat

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki angka kejadian diare yang cukup tinggi. Tahun 2006 angka kesakitan meningkat sebesar 423/1.000 penduduk pada semua umur. Dari keseluruhan angka morbiditas hampir 60 persen didominasi anak anak. Berdasarkan hasil penelitian terbaru dari riset kesehatan dasar tahun 2008, diare merupakan penyumbang kematian terbesar di Indonesia, yaitu mencapai 31,4 persen dari total kematian bayi. Diare juga penyebab kematian terbesar balita. Tercatat 25,2 persen kematian balita di tanah air disebabkan oleh penyakit diare. Hal ini tentu patut menjadi perhatian utama karena terdapat peningkatan angka morbiditas dan mortalitas diare di Indonesia dari tahun ke tahun

Epidemiologi

Angka kematian diare pada semua umur selama dasawarsa terakhir dapat diturunkan dari 110,1 per 100.000 penduduk (1985) rnenjadi 56 per 100.000 penduduk( 1995). Sedangkan kematian karena diare pada kelompok balita diturunkan dari 5,7 per seribu balita menjadi 2,5 per seribu balita pada episode yang sama. (Dep. Kes.RI,1998)

Bedasarkan UU No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan yang ditetapkan bahwa pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi seiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan kesehatan yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.

Diare dapat timbul dalam bentuk KLB dengan jumlah penderita dan kematian yang besar. Fasilitas kasus (CFR) terjadi penurunan yang cukup bermakna dari 35 %(awal Repelita I) menjadi dibawah 3 % pada akhir Repelita VI. Penurunan CFR yang nyata dikarenakan makin meningkatnya manajemen penanggulangan KLB. (Dep.Kes. RI, 1998).

Menurut hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 proporsi penyakit infeksi dan parasit sebagai penyebab kematian adalah 22,7%. Kematian bayi dibawah umur 1 tahun 33,5% disebabkan oleh gangguan prenatal dan 32,1% oleh penyakit sistem pernapasan. Diare sebagai bagian dari kelompok penyakit infeksi dan parasit, proporsinya sebesar 9,6 % sebagai penyebab kematian pada bayi dibawah 1 tahun.

Pada kematian anak balita golongan umur 1-4 tahun, proporsi penyebab kematian paling tinggi adalah penyakit sistem pernapasan yaitu sebesar 38,8%, kemudian penyakit diare serta infeksi/parasit lain masing-masing sebesar 14,3%.

Kematian anak pada kelompok umur 1-4 tahun terutama disebabkan oleh penyakit infeksi dan parasit dengan proporsi sebesar 44,7%, pernapasan 13%. Sedangkan pada kelompok umur 15-34 tahun, penyakit infeksi dan parasit menduduki peringkat pertama sebagai penyebab kematian yaitu sebesar 36,5%, berturut-turut infeksi dan parasit lain 16,8%, kemudian TBC 13,9%.

Tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare disebabkan oleh beberapa faktor yaitu antara lain kesehatan lingkungan yang belum memadai, keadaan gizi, kependudukan, pendidikan, faktor musim dan geografi daerah, keadaan sosial pencegahan pemberantasan penyakit diare tidak akan berhasil baik tanpa adanya kesadaran yang tinggi dari masyarakat untuk ikut berpartisipasi didalamnya serta kesiapan petugas kesehatan dilapangan. yang ditandai oleh penduduknya hidup

dalam lingkungan perilakuskenario

program puskesmas

wilayah kerja puskesmas kedondong terletak di pedalaman , populasi 300 KK dengan 1550 jiwa. Pada laporan surveillance bulan juli terjadi peningkatan kasus diare yang signifikan dari periode yang lalu. Kejadian ini selalu terulang setiap tahun terutama pada musim kemarau. Puskesmas sedang menyusun suatu program terpadu untuk menangani hal tersebut. Uraikanlah bagaimana seharusnya program ini berjalan. Perumusan Masalah

Peningkatan kasus diare yang signifikan yang terulang pada setiap tahun Tujuan Tujuan Umum

Dipahaminya program pencegahan dan penanggulangan Diare di puskesmas secara menyeluruh. Tujuan khusus

1. Diketahuinya pelaksanaan Program Pencegahan dan Penanggulangan Diare di Puskesmas Kedondong

2. Diketahuinya masalah dalam pelaksanaan Program Pencegahan dan Penanggulangan Diare di Puskesmas Kedondong

3. Diketahuinya kemungkinan penyebab masalah dalam pelaksanaan Program Pencegahan dan Penanggulangan Diare di Puskesmas Kedondong

4. Dirumuskannya alternatif penyelesaian masalah bagi pelaksanaan Program Pencegahan dan Penanggulangan Diare di Puskesmas KedondongBAB IITINJAUAN PUSTAKA

DiareDefinisi Diare

Diare adalah buang air besar (defekasi) yang mengalami perubahan pada konsistensi dan atau frekuensi. Perubahan konsistensi yang dimaksud adalah peningkatan kandungan air dalam feses, yaitu lebih dari 10 ml/kgBB/hari2 (pada anak) atau lebih dari 200 ml/hari1 (pada dewasa). Perubahan frekuensi yang dimaksud adalah lebih dari tiga kali sehari. Pada bayi yang masih mendapat ASI tidak jarang frekuensi defekasinya lebih dari 3-4 kali sehari.3 keadaan ini tidak dapat disebut diare, melainkan masih bersifat fisiologis atau normal.Klasifikasi Diare 4Berdasarkan batasan waktu, diare diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu (1) diare akut, apabila berlangsung kurang dari 14 hari, (2) diare persisten, yaitu diare akut yang melanjut menjadi lebih dari 14 hari hingga 30 hari, dan (3) diare kronik, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 30 hari.1,3 Pada literatur lain, diare persisten disamakan dengan diare kronik, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. Pengertian ini juga berlaku di Indonesia agar para tenaga kesehatan tidak lengah dan dapat lebih cepat menginvestigasi penyebab diare dengan lebih tepat. Berdasarkan mekanisme patofisiologis yang terjadi, diare diklasifikasikan menjadi dua, yaitu (1) diare sekretorik, yang biasanya disebabkan oleh infeksi, misalnya infeksi Rotavirus, dan (2) diare osmotik, yang biasanya disebabkan oleh malabsorbsi laktosa.

Berdasarkan penyebab, diare diklasifikasikan menjadi (1) diare organik, yaitu bila ditemukan penyebab yang bersifat anatomik, bakteriologik, hormonal, atau toksikologik, dan (2) diare fungsional, yaitu bila tidak ditemukan penyebab organik. Di dalam kelompok diare organik juga terdapat diare infektif, yaitu diare yang disebabkan oleh infeksi. Selain itu, dikenal pula istilah disentri, yaitu kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari diare disertai darah, lendir, dan tenesmus ani.Epidemiologi

Diare adalah penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di negara berkembang. Pada tahun 2003, diperkirakan 1,87 juta anak dibawah usia 5 tahun meninggal karena diare. Hal ini menempatkan diare pada peringkat kedua penyebab kematian kedua tersering setelah infeksi pernapasan. Delapan dari sepuluh kematian akibat diare berlangsung pada dua tahun pertama kehidupan. Rata-rata anak berusia dibawah 3 tahun di negara berkembang mengalami 3 episode diare setiap tahunnya. Angka kejadian diare di Indonesia hingga saat ini masih tinggi, yaitu 423 per 1000 penduduk untuk semua umur pada tahun 2006 (hasil Subdit Diare, Ditjen PP-PL, Depkes RI), dimana angka ini meningkat dari tahun ke tahun.1,4,6

Penyebaran kuman yang menyebabkan diareKuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fekal oral, yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. Beberapa perilaku dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare. Perilaku tersebut antara lain:

Tidak memberikan air susu ibu (ASI) secara penuh pada 4 hingga 6 bulan pertama kehidupan. Pada bayi yang tidak diberi ASI terjadi peningkatan risiko menderita diare dan kemungkinan menderita dehidrasi yang lebih berat.

Menggunakan botol susu yang higienenya kurang terjaga.

Menyimpan makanan masak pada suhu kamar, sehingga dalam beberapa jam akan tercemar oleh kuman yang mudah berkembang biak.

Menggunakan air minum yang tercemar.

Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum makan, dan sebelum menyuapi anak.

Tidak membuang tinja (termasuk tinja bayi dan tinja binatang) dengan benar.

Faktor pejamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare

Faktor-faktor tersebut adalah:

Tidak memberikan ASI sampai 2 tahun, sehingga anak kekurangan antibodi yang penting untuk melindungi tubuh dari berbagai bakteri, misalnya Shigella sp. atau V. cholera.

Status gizi kurang dan gizi buruk.

Campak, di mana terjadi penurunan imunitas tubuh sehingga lebih rentan terhadap diare dan disentri.

Kondisi imunodefisiensi atau imunosupresi, misalnya pada pasien dengan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome).

Secara proporsional, diare lebih banyak (55%) terjadi pada golongan balita.

Faktor lingkungan

Dua faktor yang dominan adalah tidak cukup tersedianya sarana air bersih dan tidak ada/kurangnya sarana MCK (mandi,cuci,kakus). Kedua faktor ini saling berinteraksi dengan perilaku manusia.1Etiopatogenesis

Penggolongan penyebab diare : Infeksi Enteral dan Parenteral Enteral Dari golongan bakteri dapat disebabkan oleh Shigella sp, E. coli patogen, Salmonella sp, Klebsiella, Proteus sp, Pseudomonas aeruginosa. Dari golongan virus dapat disebabkan oleh Rotavirus, Norwalk virus, HIV, Cytomegalovirus, dll. Parasit yang dapat menyebabkan diare adalah Entamoeba hystolitica, Giardia lamblia, Ballantidium coli, Cryptosporum parvum. Cacing seperti Ascaris