PBL Blok 26 Diare David

download PBL Blok 26 Diare David

of 30

  • date post

    15-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    22
  • download

    2

Embed Size (px)

description

untuk IKK-IKM

Transcript of PBL Blok 26 Diare David

Hubungan Rendahnya Pengetahuan dan Perilaku Masyarakat dengan Peningkatan Angka Kejadian Diare David Andrean Natanael / 102011285Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJl. Arjuna utara no.6 Jakarta Baratdavidnatanael@yahoo.co.id

SkenarioDokter K di Puskesmas K pada bulan Juni lalu mendiagnosis sekitar 50 orang penderita diare akut. Angka kejadian ini cukup tinggi dibandingkan bulan Mei lalu. Sebagian besar adalah balita. Tingkat kepadatan penduduknya rendah. Sumber air minum menggunakan air PAM. Dokter K ingin meneliti apakah penyebab dari tinginya angka kejadian diare di daerah ini dari pengetahuan dan perilaku masyarakat.

Pendahuluan

Diare adalah salah satu topik kesehatan yang sering diteliti. Sampai saat ini penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan dunia terutama di negara berkembang. Penyakit diare sering menyerang bayi dan balita, bila tidak diatasi lebih lanjut akan menyebabkan dehidrasi yang mengakibatkan kematian. Data terakhir dari Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa diare menjadi penyakit pembunuh kedua bayi di bawah lima tahun (balita) di Indonesia setelah radang paru atau pneumonia. Banyak faktor risiko yang diduga menyebabkan terjadinya penyakit diare pada bayi dan balita di Indonesia. Salah satu faktor risiko yang sering diteliti adalah faktor lingkungan yang meliputi sarana air bersih (SAB), sanitasi, jamban, saluran pembuangan air limbah (SPAL), kualitas bakterologis air, dan kondisi rumah. Data terakhir menunjukkan bahwa kualitas air minum yang buruk menyebabkan 300 kasus diare per 1000 penduduk. Sanitasi yang buruk dituding sebagai penyebab banyaknya kontaminasi bakteri E.coli dalam air bersih yang dikonsumsi masyarakat. Bakteri E.coli mengindikasikan adanya pencemaran tinja manusia. Kontaminasi bakteri E.coli terjadi pada air tanah yang banyak disedot penduduk di perkotaan, dan sungai yang menjadi sumber air baku di PDAM pun tercemar bakteri ini. Hasil penelitian Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) propinsi DKI Jakarta menunjukkan 80% sampel air tanah dari 75 kelurahan memiliki kadar E.coli dan fecal coli melebihi ambang batas .

Pembahasan

Diare atau penyakit diare (Diarrheal disease) berasal dari bahasaYunani yaitu diarroi yang berarti mengalir terus, merupakan keadaan abnormal dari pengeluaran tinja yang terlalu frekuen.1 Menurut Hippocrates definisi diare yaitu sebagai suatu keadaan abnormal dari frekuensi dan kepadatan tinja. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, diare atau penyakit diare adalah bila tinja mengandung air lebih banyak dari normal. Menurut WHO diare adalah berak cair lebih dari tiga kali dalam 24 jam, dan lebih menitikberatkan pada konsistensi tinja dari pada menghitung frekuensi berak. Ibu-ibu biasanya sudah tahu kapan anaknya menderita diare, mereka biasanya mengatakan bahwa berak anaknya encer atau cair. Menurut Direktur Jenderal PPM dam PLP, diare adalah penyakit dengan buang air besar lembek/ cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari).Diare adalah buang air besar (defekasi) yang mengalami perubahan pada konsistensi dan atau frekuensi. Perubahan konsistensi yang dimaksud adalah peningkatan kandungan air dalam feses, yaitu lebih dari 10 ml/kgBB/hari (pada anak) atau lebih dari 200 ml/hari (pada dewasa). Perubahan frekuensi yang dimaksud adalah lebih dari tiga kali sehari. Pada bayi yang masih mendapat ASI tidak jarang frekuensi defekasinya lebih dari 3-4 kali sehari. keadaan ini tidak dapat disebut diare, melainkan masih bersifat fisiologis atau normal.1,2Berdasarkan batasan waktu, diare diklasifikasikan menjadi tiga, sebagai berikut.1 (1) diare akut, berlangsung kurang dari 14 hari, frekuensi bisa 3 kali atau lebih sehari.(2) diare persisten, yaitu diare akut yang melanjut menjadi lebih dari 14 hari hingga 30 hari, dan (3) diare kronik, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 30 hari, bisa dengan kurang energi protein (KEP) berat dan diare dengan penyakit penyerta. Untuk diare yang berlangsung lebih dari beberapa hari atau diare dengan dehidrasi perlu dilakukan pemeriksaan penunjang seperti dibawah ini.1. Pameriksaan darah tepi: kadar hemoglobin, hematokrit, hitung leukosit, hitung diferensial leukosit. Penting untuk mengetahui berat ringannya hemokonsentrasi darah, dan respon leukosit. Contohnya pada diare karena Salmonella dapat terjadi neutropenia. Pada diare karena kuman yang bersifat invasif dapat terjadi shift to the left leukosit.2. Elektrolit darah untuk mengobservasi dampak diare terhadap kadar elektrolit darah.3. Ureum dan kreatinin untuk memonitor adanya gagal ginjal akut.4. Pemeriksaan tinja untuk mencari penyebab diare. Pada infeksi bakteri, ditemukan leukosit pada tinja. Pada infeksi oleh organisme enteroinvasif, leukosit feses yang ditemukan umumnya berupa neutrofil. Dapat pula ditemukan telur cacing maupun parasit dewasa. Dapat dilakukan pengukuran toksin Closstridium difficile pada pasien yang telah mendapatkan terapi antibiotik dalam jangka waktu tiga bulan terakhir. Tinja dengan pH 5,5 menunjukkan ada intoleransi karbohidrat yang umumnya terjadi sekunder karena infeksi virus. Netrofil tidak ditemukan tidak mengeliminasi kemungkinan infeksi enteroinvasif, tapi ditemukannya neutrofil feses mengeliminasi kemungkinan infeksi organisme enterotoksin dan virus.5. Apabila ditemukan leukosit pada feses, lakukan kultur feses untuk menentukan apakah penyebab diare adalah Salmonella, Shigella, Campylobacter, atau Yersenia.6. Pemeriksaan serologis untuk mencari amoeba.7. Foto roentgen abdomen. Untuk melihat morfologi usus yang dapat membantu diagnosis.8. Rektoskopi, sigmoideoskopi, dapat dipertimbangkan pada pasien dengan diare berdarah, pasien diare akut persisten. Pada pasien AIDS, kolonoskopi dipertimbangkan karena ada kemungkinan diare disebabkan oleh infeksi atau limfoma di area kolon kanan. Biopsy mukosa sebaiknya dilakukan bila dalam pemeriksaan tampak inflamasi berat pada mukosa.9. Biopsi usus. Dilakukan pada diare kronik, atau untuk mencari etiologi diare pada AIDS.

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada diare akut adalah dehidrasi (dengan berbagai derajat dari ringan hingga berat/ syok), asidosis metabolik, hipokalemia, hiponatermia, dan hipoglikemia. Mencegah dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah dengan memberikan lebih banyak cairan (minum). Macam cairan yang diberikan tergantung pada kebiasaan setempat dalam mengobati diare, tersedianya cairan sari makanan yang cocok, jangkauan pelayanan kesehatan, dan tersedianya oralit.1 Di Indonesia penyakit diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, dimana insidens diare pada tahun 2000 yaitu sebesar 301 per 1000 penduduk, secara proporsional 55 % dari kejadian diare terjadi pada golongan balita dengan episode diare balita sebesar 1,0 1,5 kali per tahun. Beberapa hasil survei mendapatkan bahwa 76 % kematian diare terjadi pada balita, 15,5 % kematian bayi dan 26,4 % kematian pada balita disebabkan karena penyakit diare murni. Menurut hasil survei rumah tangga pada tahun 1995 didapatkan bahwa setiap tahun terdapat 112.000 kematian pada semua golongan umur, pada balita terjadi kematian 2,5 per 1000 balita. Hasil Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) tahun 2002 mendapatkan prevalensi diare balita di perkotaan sebesar 3,3 % dan di pedesaan sebesar 3,2 %, dengan angka kematian diare balita sebesar 23/ 100.000 penduduk pada laki-laki dan 24/100.000 penduduk pada perempuan, dari data tersebut kita dapat mengukur berapa kerugian yang ditimbulkan apabila pencegahan diare tidak dilakukan dengan semaksimal mungkin dengan mengantisipasi faktor risiko apa yang mempengaruhi terjadinya diare pada balita.1Faktor risiko yang sangat berpengaruh untuk terjadinya diare pada balita yaitu status kesehatan lingkungan (penggunaan sarana air bersih, jamban keluarga, pembuangan sampah, pembuangan air limbah) dan perilaku hidup sehat dalam keluarga. Sedangkan secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam enam kelompok besar yaitu infeksi (yang meliputi infeksi bakteri, virus dan parasit), malabsorpsi, alergi, keracunan (keracunan bahan-bahan kimia, keracunan oleh racun yang dikandung dan diproduksi baik jazad renik, ikan, buah-buahan, sayur-sayuran, algae dll), imunisasi, defisiensi dan sebab-sebab lain.1Upaya pemerintah dalam menanggulangi penyakit diare, terutama diare pada balita sudah dilakukan melalui peningkatan kondisi lingkungan baik melalui program proyek desa tertinggal maupun proyek lainnya, namun sampai saat ini belum mencapai tujuan yang diharapkan, karena kejadian penyakit diare masih belum menurun. Apabila diare pada balita ini tidak ditangani secara maksimal dari berbagai sektor dan bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja tetapi masyarakatpun diharapkan dapat ikut serta menanggulangi dan mencegah terjadinya diare pada balita ini, karena apabila hal itu tidak dilaksanakan maka dapat menimbulkan kerugian baik itu kehilangan biaya untuk pengobatan yang cukup besar ataupun dapat pula menimbulkan kematian pada balita yang terkena diare.1Berhubungan dengan perincian diatas telah diperoleh data-data di Desa K, yaitu pada bulan Juni lalu Puskesmas K mendapatkan sekitar 50 orang penderita diare akut. Angka kejadian ini cukup tinggi dibandingkan dengan bulan Mei lalu, dan hal ini menujukkan peningkatan kejadian diare di desa K. Sebagian besar penderita diare akut ini adalah balita. Selain itu juga diketahui tentang tingkat pendidikan penduduknya yang rendah serta Sumber air minum di desa K menggunakan air PAM. Untuk menggetahui apakah penyebab dari peningkatan kejadian diare di desa K ini, maka dilakukan penelitian ini. Berdasarkan rumusan masalah diatas kami akan mencari faktor resiko apa saja yang mempengaruhi terjadinya penyakit diare terutama balita di desa K. Apakah tingginya angka kejadian diare di desa K berhubungan atau disebabkan dengan pengetahuan dan perilaku masyarakat di desa K yang rendah,