OMSK Refrat

Click here to load reader

  • date post

    24-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    251
  • download

    11

Embed Size (px)

Transcript of OMSK Refrat

PEMBIMBING : Dr. Susilaningrum, Sp.THT

Penyusun : Arvin Nathaniel H, S.ked 071.2003.0034 (FK UPH) Shofiah Sari, S.ked 07.315.134 (FK UPN) Dewa.N.N. Rama, S.ked 11.2006.089 (FK UKRIDA) Muhammad Asim, S.ked

KEPANITRAAN KLINIK DEPARTEMEN THT RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO PERIODE 23 JUNI 2008 2 AGUSTUS 2008 JAKARTA

1

BAB I PENDAHULUAN Radang telinga tengah menahun atau otitis media supuratif kronik (OMSK) atau yang biasa disebut congek adalah radang kronis telinga tengah dengan adanya lubang (perforasi) pada gendang telinga (membran timpani) dan riwayat keluarnya cairan (sekret) dari telinga (otorea) lebih dari 2 bulan, baik terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin serous, mukous atau purulen. Bila proses infeksi kurang dari 2 bulan disebut Otitis Media Supuratif Subakut.3 Insiden OMSK ini bervariasi pada setiap negara. Secara umum, insiden OMSK dipengaruhi oleh ras dan faktor sosioekonomi. Misalnya, OMSK lebih sering dijumpai pada orang Eskimo dan Indian Amerika, anak-anak aborigin Australia dan orang kulit hitam di Afrika Selatan.5 Walaupun demikian, lebih dari 90% beban dunia akibat OMSK ini dipikul oleh negara-negara di Asia Tenggara, daerah Pasifik Barat, Afrika, dan beberapa daerah minoritas di Pasifik.6 Kehidupan sosial ekonomi yang rendah, lingkungan kumuh dan status kesehatan serta gizi yang jelek merupakan faktor yang menjadi dasar untuk meningkatnya prevalensi OMSK pada negara yang sedang berkembang.5 Survei prevalensi di seluruh dunia, yang walaupun masih bervariasi dalam hal definisi penyakit, metode sampling serta mutu metodologi, menunjukkan beban dunia akibat OMSK melibatkan 65330 juta orang dengan telinga berair, 60% di antaranya (39200 juta) menderita kurang pendengaran yang signifikan.4 Secara umum, prevalensi OMSK di Indonesia adalah 3,8% dan pasien OMSK merupakan 25% dari pasien-pasien yang berobat di poliklinik THT rumah sakit di Indonesia.3

2

KATA PENGANTAR

Dengan rahmat dan puji syukur kepada Tuhan yang maha esa atas karunia dan rahmatNya sehingga penyusunan referat dengan judul Penatalaksanaan Abses Leher Dalam dapat terselesaikan. Penyusunan referat ini ditujukan sebagai tugas dari Kepaniteraan di Departemen Telinga, Hidung dan Tenggorokan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Terima kasih kami ucapkan kepada Dr. Susilaningrum Sp. THT selaku pembimbing referat ini, dan kepada dokter-dokter yang telah membantu sehingga tugas referat ini dapat terselesaikan : 1. Dr. A. Budi Sulistya Sp.THT 2. Dr. Risman Rais Sp.THT 3. Dr. Amir Santoso Sp.THT 4. Dr. Sabri Syamsu Sp.THT 5. Dr. Risman Santoso Sp.THT 6. Dr. Hj. Nurmawati Sp.THT 7. Dr. Moerseto Sp.THT 8. Dr. Wahyono Sp.THT 9. Dr. A. M. Sembayang Sp.THT 10. Dr. Djoko Waspodo Sp.THT 11. Dr. Hj.Siti Faisa. A. MSc. Sp.THT 12. Dr. Soekirman Soekin Sp.THT Selaku penulis referat ini, kami berharaf semoga referat ini dapat bermanfaat bagi rekanrekan sejawat. Dan kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan referat ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu segala saran dan masukan kami terima agar referat ini dan pengetahuan kami dapat bertambah baik.

Akhir kata, selamat membaca, dan semoga referat ini bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, July 2008

Penyusun

3

BAB II ISI

2.1 DEFINISI Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) adalah radang kronis telinga tengah dengan adanya lubang (perforasi) pada gendang telinga (membran timpani) dan riwayat keluarnya cairan (sekret) dari telinga (otorea) lebih dari 2 bulan, baik terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin serous, mukous atau purulen. Bila proses infeksi kurang dari 2 bulan disebut Otitis Media Supuratif Subakut.3

2.2 ANATOMI 2.2.1 Telinga Luar1 Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5-3 cm. Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi kelenjar keringat) dan rambut. Kelanjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada dua pertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen. 2.2.2 Telinga Tengah1 Telinga tengah berbentuk kubus dengan : Batas luar Batas depan Batas bawah : membran timpani : tuba eustachius : vena jugularis (bulbus jugularis)

Batas belakang : aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis Batas atas : tegmen timpani (meningen/otak)

4

Batas dalam

: berturut-turut dari atas ke bawah, kanalis semi sirkularis horizontal,

kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round window) dan promontorium Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut pars flaksida (membran shrapnell), sedangkan bagian bawah pars tensa (membran propria). Pars flaksida hanya berlapis dua, yaitu bagian luar adalah lanjutan dari epitel kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti epitel mukosa saluran napas. Pars tensa mempunyai satu lapis lagi ditengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier di bagian luar dan sirkuler pada bagian dalam. Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut sebagai umbo. Dari umbo bermula suatu reflek cahaya (cone of light) ke arah bawah, yaitu pada pukul 7 untuk membran timpani kiri dan pukul 5 untuk membran timpani kanan. Refleks cahaya ialah cahaya dari luar yang dipantulkan oleh membran timpani. Pada membran timpani terdapat 2 macam serabut, sirkuler dan radier. Serabut inilah yang menyebabkan timbulnya refleks cahaya yang berupa kerucut. Secara klinis refleks cahaya dinilai, misalnya bila letak refleks cahaya mendatar, berarti terdapat gangguan pada tuba eustachius. Membran timpani dibagi dalam 4 kuadran, dengan menarik garis searah dengan prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga didapatkan bagian atas-depan, atas-belakang, bawah-depan, dan bawah-belakang, untuk menyatakan letak perforasi membran timpani. Bila melakukan miringotomi atau parasentesis, dibuat insisi di bagian bawah belakang membran timpani, sesuai dengan arah serabut membran timpani. Di daerah ini tidak terdapat tulang pendengaran. Di dalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran tersusun dari luar ke dalam, yaitu maleus, inkus, dan stapes. Tulang pendengaran di dalam telinga tengah saling berhubungan. Prosesus longus maleus melekat pada membran timpani, maleus melekat pada inkus, dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang berhubungan dengan koklea. Hubungan antar tulang-tulang pendengaran merupakan persendian. Pada pars flaksida terdapat daerah yang disebut atik. Di tempat ini terdapat aditus ad antrum, yaitu lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum mastoid.

5

Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah. Bagian lateral tuba eustakius adalah yang bertulang sementara dua pertiga bagian medial bersifat kartilaginosa. Origo otot tensor timpani terletak disebelah atas bagian bertulang sementara kanalis karotikus terletak dibagian bawahnya. Bagian bertulang rawan berjalan melintasi dasar tengkorak untuk masuk ke faring di atas otot konstriktor superior. Bagian ini biasanya tertutup tetapi dapat dibuka melalui kontraksi otot levator palatinum dan tensor palatinum yang masing-masing disarafi pleksus faringealis dan saraf mandibularis. Tuba eustachius berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membran timpani.2

2.2.3 Telinga Dalam2 Bentuk telinga dalam sedemikian kompleksnya sehingga disebut sebagai labirin. Derivat vesikel otika membentuk suatu rongga tertutup yaitu labirin membran yang terisi endolimfe, satu-satunyacairan ektraselular dalam tubuh yang tinggi kalium dan rendah natrium. Labirin membran dikelilingi oleh cairan perilimfe (tinggi natrium, rendah kalium) yang terdapat dalam kapsula otika bertulang. Labirin tulang dan membran memiliki bagian vestibular dan bagian koklear. Bagian vestibularis (pras superior) berhubungan dengan keseimbangan, sementara bagian koklearis (pars inferior) merupakan organ pendengaran. Koklea melingkar seperti rumah siput dengan dua dan satu setengah putaran. Aksis dari spiral tersebut dikenal sebagai modiolus, berisi berkas saraf dan suplai arteri dari arteri vertebralis. Serabut saraf kemudian berjalan menerobos suatu lamina tulang yaitu lamina spiralis oseus untuk mencapai sel-sel sensorik organ korti. Rongga koklea bertulang dibagi menjadi 3 bagian oleh duktus koklearis yang panjangnya 35mm dan berisi endolimfe. Bagian atas adalah skala vestibuli, berisi perilimfe dan dipisah dari duktus koklearis oleh membran reissner yang tipis. Bagian bawah adalah skala timpani yang juga mengandung perilimfe dan dipisahkan dari duktus koklearis oleh lamina spiralis oseus dan membrana basilaris. Perilimfe pada kedua skala berhubungan pada apeks koklea spiralis tepat setelah ujung buntu duktus koklearis melalui suatu celah yang dikenal sebagai helikotrema. Membrana basilaris sempis pada basisnya (nada tinggi) dan melebar pada apeks (nada rendah). Terletak diatas membrana basilaris dari basis ke apeks adalah organ korti, yang mengandung organel-organel penting untuk mekanisme saraf perifer pendengaran. Organ

6

korti terdiri dari 1 baris sel rambut dalam (3000) dan 3 baris sel rambut luar (12000). Sel-sel ini menggantung lewat lubang-lubang lengan horisontal dari suatu jungkat-jungkit yang dibentuk oleh sel-sel penyokong. Ujung saraf aferen dan eferen menempel pada ujung bawah sel rambut. Pada rambut terdapat stereosilia yang