OMSK Tipe Maligna

download OMSK Tipe Maligna

of 23

  • date post

    03-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    84
  • download

    1

Embed Size (px)

description

omsk adalah infeksi pada telinga lebih dari 3 bulan

Transcript of OMSK Tipe Maligna

Case Report

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK TIPE MALIGNA

Oleh :

Rini Nurul Huda05923056Ghea Kananda07923080Yana Aurora Prathita0910312044

Penguji :dr. Sukri Rahman, Sp.THT-KL

TTH

BAGIAN ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKRS Dr. M. DJAMIL PADANGFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALASPADANG2013

BAB IPENDAHULUAN

Telinga merupakan sebuah organ yang mampu mendeteksi atau mengenal suara dan juga banyak berperan dalam keseimbangan dan posisi tubuh. Telinga terdiri dari tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar meliputi daun telinga atau pinna, liang telinga atau meatus auditorius eksternus sampai membrana timpani. Telinga tengah terdiri tiga tulang pendengaran dan tuba eustachius. Sedangkan telinga dalam meliputi koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis.[1]Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Banyak ahli membuat pembagian dan klasifikasi otitis media. Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif (otitis media serosa, otitis media sekretoria, otitis media musinosa, otitis media efusi / OME). Masing-masing golongan mempunyai bentuk akut dan kronis, yaitu otitis media supuratif akut (otitis media akut) dan otitis media supuratif kronis (OMSK).[1]Selain otitis media, kelainan telinga tengah yang sering dijumpai antaranya gangguan fungsi tuba Eustachius, barotrauma ( aerotitis ), dan otosklerosis. Tiap gangguan telinga tengah ini mempunyai gejala, keluhan maupun komplikasi masing-masing.[1]Otitis media supuratif kronis dianggap sebagai salah satu penyebab tuli yang terpenting, terutama di negara-negara berkembang, dengan prevalensi antara 1 - 46%. Di Indonesia antara 2,10 - 5,20%, di Korea 3,33%, di Madras India 2,25%. Prevalensi tertinggi didapat pada penduduk Aborigin di Australia dan Bangsa Indian di Amerika Utara.[3]

BAB II ANATOMI DAN FISIOLOGI

2.1. Anatomi2.1.1 Membran TimpaniMembran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga. Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Letak membrana timpani tidak tegak lurus terhadap liang telinga tetapi miring yang arahnya dari belakang luar kemuka dalam dan membuat sudut 45o dari dataran sagital dan horizontal. Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut umbo. Dari umbo bermuara suatu reflex cahaya ( cone of light ), kearah bawah yaitu pada pukul 7 untuk membran timpani kiri dan pukul 5 untuk yang kanan.[1]Secara anatomis membran timpani dibagi menjadi:1. Pars tensamerupakan bagian terbesar membran timpani dengan permukaan tegang dan bergetar dengan sekelilingnya yang menebal dan melekat di anulus timpanikus pada sulkus timpanikus pada tulang dari tulang temporal.[5] Pars tensa memiliki tiga lapisan, lanjutan epitel kulit liang telinga, sel kubus bersilia dan satu lapisan di tengah terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin.[1]2. Pars flaksida letaknya dibagian atas muka dan lebih tipis dari pars tensa. Pars flaksida dibatasi oleh 2 lipatan yaitu plika maleolaris anterior (lipatan muka) dan plika maleolaris posterior (lipatan belakang). Pars flaksid hanya berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersili.[1]

2.1.2 Kavum TimpaniKavumtimpanimerupakan rongga dengan batas lateral membran timpani, batas medial promontorium, batas superior tegmen timpani dan inferior oleh bulbus jugularis dan n.fasialis. kavum timpani berii udara yang mempunyai ventilasi ke nasofaring melalui tuba eustachius. Terdapat tiga buah tulang pendengaran dari luar ke dalam yaitu maleus, inkus, dan stapes. Selain itu terdapat korda timpani, muskulus tensor timpani dan ligamentum muskulus stapedius.[5]

2.1.3. Saraf FasialMeninggalkan fosa kranii posterior dan memasuki tulang temporal melalui meatus akustikus internus bersamaan dengan N. VIII. Saraf fasial terutama terdiri dari dua komponen yang berbeda, yaitu :[4]1. Saraf motorik untuk otot-otot yang berasal dari lengkung brankial kedua (faringeal) yaitu otot ekspresi wajah, stilohioid, posterior belly m. digastrik dan m. stapedius.2. Saraf intermedius yang terdiri dari saraf sensori dan sekretomotor parasimpatetis preganglionik yang menuju ke semua glandula wajah kecuali parotis.

2.1.4. Prosesus MastoideusPada prosesus mastoideus terdapat rongga mastoid yang berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak mengarah ke kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial adalah dinding lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak dibawah duramater pada daerah ini.[2]Pneumatisasi prosesus mastoideus ini dapat dibagi atas :1. Prosesus Mastoideus Kompakta ( sklerotik), dimana tidak ditemui sel-sel.2. Prosesus Mastoideus Spongiosa, dimana terdapat sel-sel kecil saja.3. Prosesus Mastoideus dengan pneumatisasi yang luas, dimana sel-sel disini besar.[2]

2.1.5. Tuba EustachiusTuba eustachius merupakan saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan nasofaring. Tuba ini berfungsi untuk ventilasi, menjaga agar tekanan udara telinga tengah selalu sama dengan tekanan udara luar. Berfungsi juga untuk drainase sekret dan menghalangi masuknya sekret dari nasofaring ke telinga tengah.[1] Bentuknya seperti huruf S, pada anak ukurannya lebih pendek dan lebih datar. Tuba terdiri dari 2 bagian yaitu bagian tulang terdapat pada bagian belakang dan pendek (1/3 bagian) dan bagian tulang rawan terdapat pada bagian depan dan panjang (2/3 bagian).[1,5]

2.2.1. Gangguan Fisiologi Telinga TengahGangguan telinga tengah dapat menyebabkan tuli konduktif. Sumbatan tuba eustachius menyebabkan gangguan telinga tengah dan akan terdapat tuli konduktif. Gangguan pada vena jugulare berupa aneurisma akan menyebabkan telinga berbunyi sesuai dengan denyut jantung. Antara inkus dan maleus berjalan cabang N.Fasialis yang disebut korda timpani. Bila terdapat radang di telinga tengah atau trauma mungkin korda timpani terjepit, sehingga timbul gangguan pengecap.[1]

BAB IIIOTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK

3.1. DefinisiOtitis media supuratif kronik adalah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah.[1]Menurut WHO, otitis media supuratif kronik adalah inflamasi telinga tengah dan kavitas mastoid yang ditandai dengan adanya cairan dari telinga yang rekuren karena adanya perforasi timpani.[2]

3.2. Perjalanan PenyakitOtitis media akut dengan perforasi membran timpani menjadi otitis media supuratif kronis apabila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. Bila proses infeksi kurang dari 2 bulan, disebut otitis media supuratif subakut.Beberapa faktor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK ialah terapi yang terlambat diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman tinggi, daya tahan tubuh pasien rendah (gizi kurang) atau higiene buruk.[1]Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit infeksi telinga tengah supuratif menjadi kronis majemuk, antara lain :1. Gangguan fungsi tuba eustachius yang kronis atau berulang.0. Infeksi hidung dan tenggorok yang kronis atau berulang.0. Obstruksi anatomik tuba Eustachius parsial atau total1. Perforasi membran timpani yang menetap.1. Terjadinya metaplasia skumosa atau perubahan patologik menetap lainya pada telingatengah.1. Obstruksi menetap terhadap aerasi telinga atau rongga mastoid. 1. Terdapat daerah-daerah dengan sekuester atau osteomielitis persisten di mastoid.1. Faktor-faktor konstitusi dasar seperti alergi, kelemahan umum atau perubahan mekanisme pertahanan tubuh.

3.3. LetakPerforasiLetak perforasi di membran timpani penting untuk menentukan tipe / jenis OMSK. Perforasi membran timpani dapat ditemukan di daerah sebagai berikut : sentral, marginal, atau atik. Oleh karena itu disebut perforasi sentral, marginal atau atik.3.3.1. Perforasi sentralPada perforasi sentral, perforasi terdapat di pars tensa, sedangkan diseluruh tepi perforasi masih ada sisa membran timpani. [1] Lokasi pada pars tensa, bisa antero-inferior, postero-inferior dan postero-superior, kadang-kadang sub total.[1]3.3.2. Perforasi marginalPada perforasi marginal sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus timpanikum.[1] Terdapat pada pinggir membran timpani dengan adanya erosi dari anulus fibrosus. Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total. Perforasi pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom.[1,]3.3.3. Perforasi atikPada tipe ini sering mengenai pars flaksida dan khasnya dengan terbentuknya kantong retraksi sehingga bertumpuknya keratin sampai menghasilkan kolesteatom Kolesteatom adalah suatu massa amorf, konsistensi seperti mentega, berwarna putih, terdiri dari lapisan epitel bertatah yang telah nekrotik.[3]Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani menetap pada OMSK :[1] Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut. Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi. Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel. Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi.3.4. EpidemiologiInsiden OMSK ini bervariasi pada setiap negara. Secara umum prevalensi OMSK pada beberapa negara antara lain dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi, suku, tempat tinggal yang padat, hygiene dan nutrisi yang jelek. Misalnya, OMSK lebih sering dijumpai pada orang Eskimo dan Indian Amerika, anak-anak a