METODA ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN KEDELAI Analisis Efisiensi Pemasaran Kedelai di Sulawesi Selatan...

download METODA ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN KEDELAI Analisis Efisiensi Pemasaran Kedelai di Sulawesi Selatan (Abdul Gaffar Tahir, ... Informatika Pertanian, Vol. 20 No.2, Desember 2011 : 47

of 11

  • date post

    06-Feb-2018
  • Category

    Documents

  • view

    213
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of METODA ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN KEDELAI Analisis Efisiensi Pemasaran Kedelai di Sulawesi Selatan...

  • Metoda Analisis Efisiensi Pemasaran Kedelai di Sulawesi Selatan(Abdul Gaffar Tahir, Dwi Djono Hadi Darwanto dkk )

    47

    METODA ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN KEDELAIDI SULAWESI SELATAN

    Abdul Gaffar Tahir(1), Dwidjono Hadi Darwanto(2), Jangkung Handoyo Mulyo(2), dan Jamhari(2)

    1. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan, Jl. Perintis Kemerdekaan, KM. 17,5 Sudiang - Makassar 902422. Dosen Ekonomi Pertanian UGM Yogyakarta (2,)

    E-mail: alkautzar_gaf@yahoo.com

    (Makalah diterima 14 April 2010 Revisi Desember 2011)

    ABSTRAK

    Penurunan harga riil kedelai dan persaingan penggunaan lahandengan palawija lainnya diduga merupakan salah satu penyebabterjadinya penurunan areal panen kedelai. Sementara lajupermintaan kedelai yang meningkat lebih cepat dibandingkandengan kemampuan produksi dalam negeri, sehingga defisitmeningkat dari 968 ribu ton (1998) menjadi 1,42 juta ton(2006) dan 1,45 juta ton pada tahun 2008 atau meningkatsebesar 8,74 persen per tahun. Penelitian efisiensi pemasarankedelai dilakukan di Sulawesi Selatan pada tiga kabupaten, yaitu:Kabupaten Bone, Soppeng, dan Wajo. Pemilihan lokasidilakukan secara sengaja (purposive sampling) denganpertimbangan sebagai daerah sentra produksi kedelai. Adapuntujuan penelitian yaitu untuk menganalisis efisiensi pemasarankedelai dan faktor-faktor yang mempengaruhi marjinpemasaran kedelai di Sulawesi Selatan. Penelitian dilakukanpada bulan April Juni 2010. Hasil penelitian menunjukkanbahwa variabel yang sangat menentukan marjin pemasarankedelai adalah harga di tingkat petani, jumlah tahap yang dilaluiyaitu pada tahap III (saluran pemasaran 2 dan 4) kemudiandiikuti oleh varietas kedelai, sedangkan volume rata-ratapemasaran kedelai, jarak dari rumah ke pasar, jumlah tahapyang dilalui pada tahap I (saluran 6), II (saluran 5 dan 7), danIV (saluran 1 dan 3), serta lokasi pemasaran untuk wilayahSoppeng dan Wajo tidak berpengaruh nyata pada taraf nyata 90persen terhadap marjin pemasaran. Selanjutnya diperoleh pulabahwa semakin panjang saluran atau semakin banyak lembagapemasaran yang terlibat dalam pemasaran kedelai, akanmengakibatkan semakin besar pula marjin pemasaran.

    Kata kunci : Efisiensi, kedelai, marjin pemasaran, pemasaran,saluran pemasaran.

    ABSTRACT

    Efficiency analysis of soybean marketing in South Sulawesi

    The decrease on soybeans real price and its competition withother crops in the usage of field is presumed as one of the causesof soybeans harvest areal reduction. At the same time, thereis a higher increasing on the demand of soybean compared tothe production capability inside the country so that the deficitincreases from 968,000 ton (1998) become 1.42 million ton(2006) and 1.45 million ton in 2008 or increases up to 8.74%/year. A research on the efficiency of soy marketing in SouthSulawesi is done in three areas; Bone, Soppeng and Wajo. Siteselection is done on purpose (purposive sampling) withconsideration of the central areas of soybean production. The

    purpose of the study is to analyze the efficiency of marketingsoybeans and the factors that influence soybean marketingmargins in South Sulawesi. The study was conducted in April-June 2010. The results showed that the variables that determinethe kedalai marketing margin is the price at the farm level, thenumber of stages through which is in phase III (marketingchannels 2 and 4) followed by soybean varieties, while theaverage volume of soybean marketing, distance from home tomarket, the number of stages through which the first phase(line 6), II (channels 5 and 7), and IV (channels 1 and 3), as wellas location marketing for the region and Wajo Soppeng nosignificant effect on the real level of 90 percent of themarketing margin . Subsequently obtained also that the longerthe channel or the more marketing agencies who are involvedin marketing of soybeans, will lead to greater the marketingmargin.SimakBaca secara fonetik

    Key words : Efficiency, marketing, marketing link, marketingmargin, soybean.

    PENDAHULUAN

    Fluktuasi produksi kedelai lebih disebabkan karenatanaman semusim dengan skala usaha yang kecil.Usahatani kedelai dengan skala yang kecil dantersebar (spatial) salah satu faktor penyebabtingginya biaya pengumpulan, sehingga fluktuasiproduksi juga dibarengi dengan fluktuasi harga pasar.Selain hal tersebut di atas, petani umumnya beradadalam posisi tawar yang lemah, sehingga hargakedelai ditingkat petani lebih banyak ditentukan olehpedagang. Karena tingkah laku para pedagang/lembaga pembeli kedelai cenderung menentukanharga secara sepihak, keadaan harga pasar ini tidakdapat dinikmati oleh petani secara maksimal, dansecara tidak langsung berakibat kurang memberiinsentif bagi petani untuk bergairah meningkatkanintensifikasi dalam pengelolaan usahataninya. Olehkarena itu, dalam pengembangannya diperlukanperbaikan pemasaran kedelai dari produsen hinggakonsumen.

    Penurunan harga riil kedelai menjadi disinsentif yangmenyebabkan terjadinya penurunan areal panenkedelai. Selain itu, persaingan penggunaan lahandengan palawija lainnya juga diduga merupakan salah

  • Informatika Pertanian, Vol. 20 No.2, Desember 2011 : 47 - 57

    48

    satu penyebab turunnya areal panen kedelai.Indikatornya ialah kenaikan harga riil jagung. Secarateoritis, kenaikan harga jagung akan mendorong petaniuntuk menanam komoditas tersebut. Konsekuensinyaialah bahwa kenaikan areal tanam jagung (sebagaikomoditas pesaing) dengan sendirinya akanmengurangi areal tanam untuk kedelai, karena lahanyang digunakan adalah lahan yang sama.

    Berdasarkan hal tersebut, maka laju permintaankedelai yang meningkat lebih cepat dibandingkandengan kemampuan produksi dalam negerimenyebabkan defisit meningkat dari 968 ribu ton (1998)menjadi 1,42 juta ton (2006) dan 1,45 juta ton pada tahun2008 atau meningkat sebesar 8,74 persen/tahun.Tingginya permintaan kedelai dalam negerimenyebabkan impor kedelai tetap berlangsung dalamjumlah yang besar, bukan saja disebabkan karenapertambahan jumlah penduduk dan penurunan luasareal tanam, tetapi juga akibat meningkatnyapendapatan masyarakat, serta berkembangnya industrimakanan dan pakan yang menggunakan bahan bakukedelai terutama untuk industri peternakan ayam ras(Damardjati et al, 2005). Dilihat dari komposisinya,sekitar 59 persen dari total impor kedelai dipergunakanuntuk memenuhi kebutuhan industri tempe, tahu dansejenisnya, serta sisanya berupa bungkil kedelaidipergunakan untuk memenuhi kebutuhan industripakan ternak (Adreng dan Purwanto, 1992). MenurutSudaryanto (2005), konsumsi kedelai per kapita pertahun meningkat sekitar 160 persen dalam periodewaktu 10 tahun dari tahun 1990 sampai dengan 2003.Konsumsi tahu dan tempe per kapita per tahun sajameningkat berturut-turut dari 3,8 kg dan 4,2 kg padatahun 1999 menjadi 4,5 dan 4,9 kg pada tahun 2003.

    Oleh karena itu, maka diharapkan petani produsendapat meningkatkan produksinya serta merangsangpetani lain untuk berproduksi tanpa mengabaikan faktorkualitas dan permintaan pasar, sehingga kedelai akanmampu memenuhi permintaan pasar baik untukkonsumsi langsung maupun untuk memenuhikebutuhan industri berbahan baku kedelai, yang padagilirannya mampu tampil sebagai komoditis unggulanSulawesi Selatan.

    Sulawesi Selatan sebagai salah satu wilayah programperluasan areal tanam melalui peningkatan indekspertanaman (IP) yang memiliki potensi sumberdayalahan cukup baik di Indonesia Bagian Timur, sampaisaat ini ternyata masih menunjukkan fenomenakesenjangan seperti yang dijelaskan di depan. Dalamkerangka keragaan usahatani kedelai yang dilakukanpetani, fenomena tersebut menarik untuk diteliti yangberkaitan dengan bentuk saluran pemasaran, biayayang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga

    pemasaran, fungsi yang dilakukan oleh pedagangperantara yang ada dalam saluran pemasaran, sertafaktor-faktor yang mempengaruhi marjin pemasarandengan memperhatikan struktur pasar, tingkah lakupasar dan efektivitas pasar guna perbaikan sistempemasaran.

    Berdasarkan hal tersebut di atas, maka analisisterhadap efisiensi pemasaran kedelai dan faktor-faktoryang mempengaruhi marjin pemasaran kedelai sangatpenting untuk dilakukan, sehingga pada akhirnya dapatdiperoleh suatu kesimpulan yang dapat dijadikan acuanuntuk membuat kebijakan yang terkait dengan kinerjapemasaran yang dapat berdampak pada pengembanganusahatani kedelai di Sulawesi Selatan.

    METODOLOGI

    Lokasi Penelitian dan Sumber Data

    Penelitian ini dilaksanakan di Sulawesi Selatan(Kabupaten Bone, Soppeng, dan Wajo). Pemilihanketiga lokasi tersebut didasarkan, antara lain :merupakan sentra produksi kedelai di Sulawesi Selatanatau sekitar 61,8 % dari total luas panen lahan kedelai(17.721 ha); dan di lokasi tersebut terdapat petanikedelai yang memiliki keragaman sosial, ekonomi, danvariasi tingkat kepemilikan lahan usahatani kedelai.

    Pengumpulan data primer dilakukan selama 3 (tiga)bulan, yaitu mulai dari April sampai Juni 2010 denganmengumpulkan data musim tanam tahun sebelumnyadan musim tanam tahun yang berjalan, dengan metodesurvey. Menurut (Singarimbun dan Effendi, 1989;Supranto, 1997; dan Subiyanto, 2000) bahwa penelitiandengan teknik survey adalah penelitian yang bersifatdeskriptif untuk menguraikan suatu keadaan tanpamelakukan perubahan terhadap variabel tertentu.Pendekatan survey dilakukan dengan tujuan untukmemperoleh pengetahuan deskriptif yang bersifatobyektif tentang: saluran pemasaran, efisiensipemasaran, marjin pemasaran, dan elastisitas transmisiharga, dan lain-lain.

    Teknik Sampling dan Penentuan Jumlah Sampel

    Selain mewawancarai petani kedelai, juga dilakukanwawancara kepada pedagang kedelai secarasnowball sampling, dengan mengikuti saluranpemasaran yang dilalui oleh komoditi kedelai, yaknidari produsen, pedagang pengumpul, pedagangbesar sampai ke konsumen akhir. Pengambilan dengancara snowball sampling adalah pengambilan sampelyang diawali dari kelompok