Kedelai Bagian b

download Kedelai Bagian b

of 77

  • date post

    14-Feb-2015
  • Category

    Documents

  • view

    33
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of Kedelai Bagian b

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

I. PENDAHULUANKedelai merupakan komoditas tanaman pangan terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Selain itu, kedelai juga merupakan tanaman palawija yang kaya akan protein yang memiliki arti penting dalam industri pangan dan pakan. Kedelai berperan sebagai sumber protein nabati yang sangat penting dalam rangka peningkatan gizi masyarakat karena aman bagi kesehatan dan murah harganya. Kebutuhan kedelai terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan bahan industri olahan pangan se perti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, snack, dan sebagainya. Konsumsi per kapita pada tahun 1998 sebesar 8,13 kg meningkat menjadi 8,97 kg pada tahun 2004. Hal ini menunjukkan bahwa kebu tuhan akan kedelai cenderung meningkat. Kebutuhan kedelai pada tahun 2004 sebesar 2,02 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0,71 juta ton dan kekurangannya diimpor sebesar 1,31 juta ton. Hanya sekitar 35% dari total kebutuhan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Keadaan ini tidak dapat dibiarkan terus menerus, mengingat potensi lahan cukup luas, teknologi telah banyak tersedia dan SDM handal cukup tersedia. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, peningkatan efisiensi produksi, penguatan kelembagaan petani, peningkatan kualitas produk, peningkatan nilai tambah, perbaikan akses pasar, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infra struktur, serta pengaturan tataniaga dan insentif usaha. Mengingat Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup besar, dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan di dalam ne geri untuk menekan laju impor. Produk kedelai sebagai bahan olahan pangan berpotensi dan berperan dalam menumbuhkembangkan industri kecil menengah bahkan sebagai komoditas ekspor. Berkembangnya industri pangan

AGRO INOVASI

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

berbahan baku kedelai membuka peluang kesempatan kerja dimulai dari budidaya, panen, prosesing, transportasi, pasar sampai pada industri pengolahan. Agar produksi kedelai dan olahannya mampu bersaing di pasar global, maka mutu kedelai dan olahannya masih harus ditingkatkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembinaan dan pengembangan dalam proses produksi, pengolahan dan pemasaran nya, khususnya penerapan jaminan mutu terpadu sejak tahapan budi daya hingga penanganan pascapanen.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

II. KONDISI KEDELAI SAAT INIA. Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Data statistik dari FAO menunjukkan bahwa selama periode 1990-1995, areal panen kedelai meningkat dari 1,33 juta ha pada tahun 1990 menjadi 1,48 juta ha pada tahun 1995, atau meningkat rata-rata 2,06% per tahun. Sejak tahun 1995, terjadi penurunan areal panen secara tajam dari sekitar 1,48 juta ha menjadi sekitar 0,83 juta ha pada tahun 2000, atau menurun rata-rata 11% per tahun. Selama periode 20002004, areal panen kedelai masih terus menurun ratarata 9,66% per tahun. Secara keseluruhan, selama periode 15 tahun terakhir (19902004) luas areal kedelai di Indonesia menurun tajam dari sekitar 1,33 juta ha pada tahun 1990 menjadi 0,55 juta ha pada tahun 2004, atau turun rata-rata 6,14% per tahun, seperti terlihat pada Gambar 1. Sebagai sumber protein nabati, kedelai umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan, yaitu tahu, tempe, kecap, tauco, susu kedelai, dan berbagai bentuk makanan ringan ( snack ). Data statistik FAO menunjukkan bahwa konsumsi per kapita kedelai selama 1 dekade terakhir menurun dari sekitar 11,38 kg/kapita pada tahun 1990 menjadi sekitar 8,97 kg/kapita pada tahun 2004, atau menu run rata-rata 1,69% per tahun. Penurunan terjadi sejak tahun 1995. Selama periode 19952000, konsumsi per kapita menurun dari 11,82 kg/kapita pada tahun 1995 menjadi 10,92 kg/kapita pada ta hun 2000, atau turun rata-rata 1,57% per tahun. Selanjutnya, penu runan paling tajam terjadi pada periode 20002004, yaitu rata-rata 4,81% per tahun. Penurunan total konsumsi jauh lebih rendah dari pada penurun an produksi. Implikasinya ialah bahwa tanpa terobosan yang berarti, Indonesia akan menghadapi defisit yang makin besar. Artinya, bahwa Indonesia akan makin tergantung dengan impor untuk menutupi defi sit. Indonesia selalu mempunyai net impor yang meningkat dari se kitar 0,54 juta ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1,31 juta ton

AGRO INOVASI

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

pada tahun 2004. Mengingat penurunan produksi kedelai jauh lebih tajam dari pada penurunan total konsumsi, maka ke depan impor untuk menutupi defisit diperkirakan akan terus meningkat. Padahal Indonesia pernah berswasembada kedelai sebelum tahun 1976, de ngan indeks swasembada lebih besar dari satu.2 1.8 1.6 1.4 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 Areal (juta ha) Produktivitas (t/ha) Produksi (juta ton)

Gambar 1. Perkembangan areal tanam, produktivitas, dan produksi kedelai di Indonesia. Keadaan demikian tidak dapat dibiarkan terus menerus, mengingat potensi lahan cukup luas, teknologi telah banyak tersedia dan SDM handal cukup tersedia. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, peningkatan efisiensi produksi, penguatan kelembagaan petani, peningkatan kualitas produk, peningkatan nilai tambah, perbaikan akses pasar, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infrastruktur, serta pengaturan tataniaga dan insentif usaha.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

B. Permintaan Kedelai Pertumbuhan permintaan kedelai selama 15 tahun terakhir cukup tinggi, namun tidak mampu diimbangi oleh produksi dalam negeri, sehingga harus dilakukan impor dalam jumlah yang cukup besar. Harga kedelai impor yang murah dan tidak adanya tarif impor menyebabkan tidak kondusifnya pengembangan kedelai di dalam negeri. Proyeksi konsumsi kedelai dalam bahasan ini dilakukan dengan cara memproyeksikan konsumsi per kapita dan proyeksi jumlah penduduk. Proyeksi konsumsi per kapita dilakukan dengan menggunakan elastisitas pendapatan, elastisitas harga kedelai, dan elastisitas silang harga komoditas lainnya, berdasarkan hasil penelitian Simatupang et al. (2003). Pertumbuhan harga masing-masing komoditas menggunakan data FAO 19912002, sedangkan pertumbuhan pendapatan per kapita menggunakan data BPS (2002). Proyeksi jumlah penduduk dilakukan dengan menggunakan pertumbuhan penduduk dengan tingkat yang makin rendah. Selama periode 19902004, pertumbuhan penduduk adalah 1,67% per tahun. Selanjutnya, pertumbuhan penduduk diasumsikan menurun 0,03% per tahun. Dengan menggunakan elastisitas yang ada, maka proyeksi konsumsi per kapita dan total konsumsi kedelai sampai 2025 adalah seperti disajikan pada Tabel 1.

AGRO INOVASI

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

Tabel 1. Proyeksi konsumsi kedelai di Indonesia, tahun 20032025. Tahun Konsumsi/ kapita Proy Pddk (kg/th) (000 jiwa) Pertumbuhan Total Konsumsi pddk (000 ton) (%) 2.016 2.069 2.124 2.179 2.235 2.291 2.349 2.407 2.466 2.525 2.585 2.646 2.708 2.770 2.833 2.896 2.960 3.024 3.089 3.154 3.219 3.286 3.352

2003 9,11 2004 9,20 2005 9,29 2006 9,39 2007 9,48 2008 9,58 2009 9,67 2010 9,77 2011 9,87 2012 9,97 201310,07 201410,17 201510,27 201610,37 201710,47 201810,58 201910,68 202010,79 202110,90 202211,01 202311,12 202411,23 202511,34 Sumber: perhitungan proyeksi penulis.

221.2311,67 224.8601,64 228.4801,61 232.0901,58 235.6871,55 239.2701,52 242.8351,49 246.3801,46 249.9031,43 253.4021,40 256.8741,37 260.3161,34 263.7261,31 267.1021,28 270.4401,25 273.7401,22 276.9971,19 280.2101,16 283.3771,13 286.4941,10 289.5591,07 292.5711,04 295.5261,01

Dari Tabel 1 terlihat bahwa total kebutuhan konsumsi kedelai terus meningkat dari 2,02 juta ton pada tahun 2003 menjadi 2,71 juta ton pada tahun 2015 dan 3,35 juta ton pada tahun 2025. Jika sasaran produktivitas rata-rata nasional 1,5 ton/ha bisa dicapai, maka kebutuhan areal tanam kedelai diperkirakan sebesar 1,81 juta ha pada tahun 2015, dan 2,24 juta ha pada tahun 2025. Tantangan nya adalah bagaimana mencapai areal tanam seluas itu, sementara lahan yang tersedia terbatas dan digunakan untuk berbagai tanaman palawija, terutama yang lebih kompetitif.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

C. Profil Teknologi Kedelai Senjang produktivitas kedelai di tingkat petani (rata-rata 1,29 t/ha) dengan potensi genetik tanaman masih cukup tinggi (potensi genetik >2 t/ha). Rendahnya produktivitas disebabkan sebagian be sar petani belum menggunakan benih unggul dan teknik pengelolaan tanaman masih belum optimal. Teknologi produksi meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan, air, tanaman, dan organisme pengganggu tanaman (LATO) telah tersedia. Pengelolaan LATO dimaksudkan agar potensi hayati yang dimiliki oleh varietas dapat terekspresikan secara optimal. Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah diadopsi petani dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan produksi. Varietas unggul memi liki sifat seperti hasil tinggi, umur genjah, dan tahan/toleran terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkungan fisik). Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO (lahan, air, tanaman, dan organisme pengganggu). Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu, pembuatan saluran drainase, pemberian air yang cukup, pengendalian hama dan penyakit dengan sistem PHT, panen dan pascapanen dengan alsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya. D. Profil Usaha Tani Tanaman kedelai merupakan tanaman cash crop yang dibudi dayakan di lahan sawah da