pembahasan kedelai

of 89

  • date post

    17-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    638
  • download

    13

Embed Size (px)

Transcript of pembahasan kedelai

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangKedelai telah menjadi makanan sehari-hari penduduk Asia. Pada sebagian besar negara Asia, konsumsi isoflavon diperkirakan antara 25 45 mg/hari. Jepang merupakan negara yang mengkonsumsi isoflavon terbesar, diperkirakan konsumsi harian orang Jepang adalah 200 mg/hari. Di negara-negara barat konsumsinya kurang dari 5 mg isoflavon per hari. Makanan yang terbuat dari kedelai mempunyai jumlah isoflavon yang bervariasi, tergantung bagaimana mereka diproses. Makanan dari kedelai seperti tahu, susu kedelai, tepung kedelai dan kedelai utuh mempunyai kandungan isoflavon berkisar antara 130 380 mg/100 gram. Kecap dan minyak kedelai tidak mengandung isoflavon. Produk kedelai yang digunakan sebagai bahan tambahan pangan, seperti isolat dan konsentrat protein kedelai mempunyai kandungan isoflavon yang bervariasi, tergantung bagaimana proses pengolahannya. Misalnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan alkohol dalam proses ekstraksi menghasilkan kadar isoflavon yang rendah.

Hasil penelitian di berbagai bidang kesehatan telah membuktikan bahwa konsumsi produk-produk kedelai berperan penting dalam menurunkan resiko terkena berbagai penyakit degeneratif. Ternyata, salah satu penyebab dari hal tersebut adalah adanya zat isoflavon dalam kedelai. Isoflavon merupakan faktor kunci dalam kedelai sehingga memiliki potensi memerangi penyakit tertentu.Terdapat suatu realita bahwa di negara-negara ASEAN dan Jepang yang persentase konsumsi kedelainya relatif tinggi dibandingkan dengan negara lain, terjadi resiko penyakit kanker payudara, kanker prostat, dan uterus yang lebih rendah. Isoflavon kedelai dapat menurunkan resiko penyakit jantung dengan membantu menurunkan kadar kolesterol darah. Protein kedelai telah terbukti mempunyai efek menurunkan kolesterol, yang dipercaya karena adanya isoflavon di dalam protein tersebut. Studi epidemologi juga telah membuktikan bahwa masyarakat yang secara teratur mengkonsumsi makanan dari kedelai, memiliki kasus kanker payudara, kolon dan prostat yang lebih rendah. Isoflavon kedelai juga terbukti, melalui penelitian in vitro dapat menghambat enzim tirosin kinase, oleh karena itu dapat menghambat perkembangan sel-sel kanker dan angiogenesis. Hal ini berarti suatu tumor tidak dapat membuat pembuluh darah baru, sehingga tidak dapat tumbuh.

1

Peranan isoflavon dalam membantu menurunkan osteoporosis juga telah diteliti. Konsumsi protein kedelai dengan isoflavon telah terbukti dapat mencegah kerapuhan tulang pada tikus yang digunakan sebagai model untuk penelitian osteoporosis. Studi yang lain menunjukkan hasil yang sama pada saat menggunakan genistein saja. Ipriflavone, obat yang dimetabolisme menjadi daidzein telah terbukti dapat menghambat kehilangan kalsium melalui urine pada wanita post menopouse. Produk kedelai yang mengandung isoflavon dapat membantu pengobatan simptom menopouse. Pada wanita yang memproduksi sedikit estrogen, isoflavon (phytoestrogen) dapat menghasilkan cukup aktivitas estrogen untuk mengatasi simptom akibat menopouse, misalnya hot flashes. Suatu penelitian menunjukkan bahwa wanita yang mengkonsumsi 48 gram tepung kedelai per hari mengalami gejala hot flashes 40 % lebih rendah. Dari segi epidemologi, wanita Jepang yang konsumsi isoflavonnya tinggi jarang dijumpai simptom post menopousal. Isoflavon terdiri dari beberapa jenis senyawa diantaranya yaitu : genistein, glisitein, dan daidzein. Karena begitu pentingnya fungsi senyawa isoflavon yang terdapat dalam tanaman kedelai, khususnya biji kedelai, maka pada percobaan ini dilakukan isolasi dan identifikasi senyawa golongan flavonoid dari biji kedelai (Glycine max). Metode ekstraksi yang digunakan untuk memisahkan isoflavon dari biji kedelai dalam hal ini adalah metode soxhletasi mengingat metode ini cukup sesuai digunakan untuk memisahkan isoflavon yang cukup stabil terhadap pemanasan. Serbuk biji kedelai yang diekstraksi memiliki struktur lunak sehingga dengan dengan aliran cairan penyari yang kontinu dapat diperoleh ekstrak dengan lebih cepat dan lebih murni. Selain itu, metode soxhletasi dipilih karena dengan metode ini dapat diperoleh ekstrak dengan lebih cepat, digunakan cairan penyari yang lebih sedikit, serta pelarut tidak cepat jenuh karena adanya sirkulasi pelarut yang berkesinambungan. Untuk identifikasi senyawa isoflavon dari biji kedelai, digunakan teknik KLT dan pergeseran spektrum. Alasan digunakannya teknik KLT adalah untuk mengefisiensikan waktu analisis mengingat KLT dapat memberikan waktu analisis yang cepat, yaitu antara 30 menit hingga beberapa jam. Selain itu, teknik KLT dapat dikombinasikan dengan suatu penampak bercak, sehingga penentuan senyawa dapat dilakukan dengan tepat. Identifikasi selanjutnya dapat dipastikan dengan menggunakan metode pergeseran

2

spektrum pada spektrofotometer UV-Vis, di mana senyawa isoflavon dapat memberikan absorbansi tertentu dengan penambahan pereaksi geser pada panjang gelombang UVVis.

1.2 Rumusan masalah 1. Bagaimana cara mengisolasi senyawa isoflavon pada biji kacang kedelai (Glycine max) ? 2. Bagaimana cara mengidentifikasi senyawa isoflavon yang ada pada biji kacang kedelai (Glycine max)? 3. Bagaimana prinsip pengidentifikasian senyawa isoflavon berdasarkan metode KLT-Spektrofotodensitometri ? 1.3 Tujuan Percobaan 1. Untuk mengetahui bagaimana cara mengisolasi senyawa isoflavon dari biji kacang kedelai (Glycine max). 2. Untuk mengetahui cara mengidentifikasi isolat yang diperoleh dari teknik isolasi yang dilakukan. 3. Untuk mengetahui prinsip pengidentifikasian senyawa isoflavon berdasarkan metode KLT-Spektrofotodensitometri

1.4 Manfaat Percobaan Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada kalangan akademis mengenai cara yang tepat untuk melakukan isolasi dan identifikasi kandungan kimia (isoflavon) dalam ekstrak biji kacang kedelai (Glycine max).

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Tanaman Dan Simplisia

Gambar 1. Kedelai (Glycine max Piper)

2.1.1 Deskripsi tanaman a. Sistematika Tanaman Divisi Sub divisi Kelas Ordo Famili Subfamili Genus Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Rosales : Legiminosae : Papilionoidae : Soya : Soya max atau Glycine max Piper(Anonim a, 2001).

b. Nama Daerah Sumatera : Kacang bulu (Minangkabau) Retah Mejong (Lampung)

Kedele (Melayu) Jawa Bali : Kedele (Sunda) Kedele (Jawa Tengah) Khadele (Madura) : Kadele

Nusa Tenggara: Lebuwi Bawad (Sasak) (Anonim a, 2001). c. Deskripsi tanaman

4

Tanaman kedelai merupakan semak semusim dengan tinggi 20-60 cm. Batang bersegi, berkayu, berambut, bercabang, dan berwarna hijau keputih-putihan. Daun majemuk, menyirip ganjil, berbentuk bulat telur, ujung tumpul, tepi rata, pangkal membulat, panjang 2-5 cm, lebar 2-4 cm, petulangan menyirip, dan berwarna hijau. Bunga berupa bunga majemuk, berbentuk tandan, kelopak 5-7 mm, berambut, bertajuk sempit, runcing, mahkota memiliki panjang 6-7 mm, kelopak berwarna ungu, benang sari berbentuk jarum, serta bakal buah berambut lebat dan berwarna kuning keunguan. Buah kedelai merupakan buah polong, bertangkai pendek, pipih, masih muda hijau, dan setelah tua menjadi kuning kecoklatan.Biji kedelai berbentuk bulat telur, dan berwarna kuning keputih-putihan. Akar berupa akar tunggang, berwarna (Anonim a, 2001). putih kekuningan

2.1.2 Deskripsi Simplisia Polong kedelai pertama kali terbentuk sekitar 7-10 hari setelah munculnya bunga pertama. Panjang polong muda sekitar 1 cm. Jumlah polong yang terbentuk pada setiap ketiak tangkai daun sangat beragam,antara 1-10 buah dalam setiap kelompok. Pada setiap tanaman, jumlah polong dapat mencapai lebih dari 50, bahkan ratusan. Kecepatan pembentukan polong dan pembesaran biji akan semakin cepat setelah proses pembentukan bunga berhenti. Ukuran dan bentuk polong menjadi maksimal pada saat awal periode pemasakan biji. Hal ini kemudian diikuti oleh perubahan warna polong, dari hijau menjadi kuning kecoklatan pada saat masak (Wawan Irwan, 2006). Di dalam polong terdapat biji yang berjumlah 2-3 biji. Setiap biji kedelai mempunyai ukuran bervariasi, mulai dari kecil (sekitar 7-9 g/100 biji), sedang (10-13 g/100 biji), dan besar (>13 g/100 biji). Bentuk biji bervariasi,tergantung pada varietas tanaman, yaitu bulat, agak gepeng, dan bulat telur. Namun demikian, sebagian besar biji berbentuk bulat telur.Biji kedelai terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu kulit biji dan janin (embrio). Pada kulit biji terdapat bagian yang disebut pusar (hilum) yang berwarna coklat, hitam, atau putih. Pada ujung hilum terdapat mikrofil, berupa lubang kecil yang terbentuk pada saat proses pembentukan biji.Warna kulit biji bervariasi, mulai dari kuning, hijau, coklat, hitam, atau kombinasi campuran dari warna-warna tersebut. Biji kedelai tidak mengalami masa dormansi sehingga setelah proses pembijian selesai, biji

5

kedelai dapat langsung ditanam. Namun demikian, biji tersebut harus mempunyai kadar air berkisar 12-13% (Wawan Irwan, 2006).

Gambar 2. Penampang Serbuk Biji Kedelai Keterangan. Biji berbentuk bulat telur dan memiliki ukuran sebagai berikut: panjangnya sekitar 6-11 mm, lebarnya 5-8 mm, tebalnya 4-7 mm. 100 biji kedelai beratnya antara 14,5 sampai 33 mg. Biji kedelai memiliki warna kuning pucat atau kekuning-kuningan. Di bagian tengah setiap kulit biji yang agak transparan terdapat hilus yang berukuran 3 sampai 4 mm dengan mikrofil di bagian ujung yang satu dan stropiol di bagian ujung lainnya. Embrio mengisi biji dan terdiri dari dua kotiledon plano-convex dengan hipokotil- radikula kecil dan plumula (T.E. Wallis, 2005).

Histologi Epidermis pagar dari beberapa kulit biji terdiri dari sel-sel prisma polygonal dengan tinggi 45 sampai 60 mikron dan lebar 7 sampai 20 mikron, dengan dinding antiklinal selulosa yang tebal, sedangkan bagian hipodermis berbentuk bearercells dengan tinggi 40 hingga 120 mikron dan leba