Memburu Manusia Harimau

Click here to load reader

  • date post

    16-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    929
  • download

    311

Embed Size (px)

description

Novel, SB Chandra, Fiction, manusia harimau, tigerman, erwin, dja lubuk, tapanuli selatan

Transcript of Memburu Manusia Harimau

  • Seri Manusia Harimau Karya : S.B CHANDRA

    EBook: Dewi KZ Tiraikasih website

    http://kangzusi.com/ http://kang-zusianfo/ http://dewikz.byethost22.com/ http://ebook-dewikz.com/

    http://tiraikasih.co.cc/ http://cerita-silat.co.cc/

    Sumber djvu : Syaugy_ar Hanaoki website

  • Dilahirkan di Mandailing, Tapanuli Selatan dan keluarga perantau

    dan petualang. S.B.CHANDRA pernah berpetualang ke pedalaman Malaysia, Aceh, Tapanuli, Sumatra Timur. Jambi dan mengikuti ilmu mistik pada guru-guru amat terkenal seperti Inyiek Angku, Inyiek Gadang, Baginda Samadun dan lain-lain. Telah pernah bekerja pada beberapa harian dan menulis sejumlah buku, antara lain yang akan terbit adalah:

    * MANUSIA HARIMAU.

    * MANUSIA HARIMAU MERANTAU LAGI

  • * MANUSIA HARIMAU MARAH.

    * PETUALANGAN SI MANUSIA HARIMAU BAGIAN I & II.

    * KUCING SURUHAN BAGIAN I & II.

    * MANUSIA HARIMAU JATUH CINTA BAGIAN I & II.

    * MEMBURU SI MANUSIA HARIMAU.

    SATU

    KISAH YANG LALU:

    Untuk membantu pembaca yang belum mengikuti kisah-kisah Manusia Harimau yang telah dimuat berturut-turut dalam majalah "Senang", kami muat keringkasan dari cerita "AKHIRNYA SI MANUSIA HARIMAU JATUH CINTA" yang berakhir didalam "Senang" no. 646 penerbitan 9 September yang lalu.

    MANUSIA HARIMAU yang diceritakan sebagai pemegang peran utama, berdasarkan kenyataan yang masih ada di Mandailing Tapanuli Selatan adalah seorang anak muda usia sekitar tigapuluhan yang bernama Erwin. Ayahnya, Dja Lubuk dan kakek (ompung kata orang Tapanuli) telah lama meninggal. Namun begitu dalam keadaan Erwin sangat memerlukan, salah seorang daripadanya, kadang-kadang berdua bangkit dari kuburan mereka dan datang memberi pertolongan. Hanya sesekali Dja Lubuk atau Raja Tigor (ompung Erwin) tidak' mau datang, walaupun Erwin sangat membutuhkan. Itu pernah terjadi ketika Erwin jatuh cinta pada Safinah, adik Teuku Samalanga asal dari Aceh, seorang dukun kenamaan di kota Palembang yang pernah dibantu oleh Erwin dalam menyembuhkan seorang pasiennya, perawan Tionghoa bernama Mei Lan. Erwin juga pernah menyelamatkannya ketika ia jatuh cinta pada seorang perempuan sangat cantik yang punya kewajiban untuk menyerahkan tiap suaminya kepada seekor ular raksasa, setelah dua-puluh satu hari dinikmatinya, karena ular itulah yang

  • memberi rupa cantik kepadanya. Teuku Samalanga sangat sayang kepada Erwin, yang diketahuinya mempunyai ilmu jauh di atas dirinya, tetapi adiknya Safinah sama sekali tidak mencintai diri Erwin yang diam-diam sudah sangat tergila gila kepadanya.

    Manusia harimau itu kadang-kadang bertanya pada dirinya apakah ini suatu hukum karma atas dirinya yang selalu menolak cinta wanita yang sepenuh hati ingin jadi istrinya, walaupun sudah mengetahui dan melihat bahwa ia pada waktu-waktu tertentu berubah jadi harimau. Namun dalam perubahannya itu, hatinya tetap lembut seperti biasa. Lain halnya kalau ia disakiti, maka dalam wujudnya yang berubah, perangai dan hatinya pun berubah pula.

    Oleh patah hati dan ingin menambah ilmu, karena merasa masih ada kekurangan pada dirinya, Erwin mengembara ke Mandailing lagi. Tak jauh dari Muara Sipongi ia menemukan guru, Tuan Syekh Ibrahim Bantani yang memiliki seekor harimau loreng dan seekor harimau kumbang yang dapat bekerja seperti manusia, memelihara sebuah taman yang letaknya tak sangat jauh dari jalan raya, tetapi hanya bisa dilihat oleh mereka yang direstui Tuan Syekh untuk melihatnya. Di sana Erwin diuji lagi, sehingga ia mendapat ilmu-ilmu baru.

    Mei Lan dan Hasanah yang ditinggalkannya diam-diam di Lahat dan Palembang, bersama ayah masing-masing mencari dia sampai ke Mandailing, akhirnya sampai ke Medan. Kedua wanita itu dibohongi oleh si manusia harimau dalam usahanya melepaskan diri dari mereka. Di Medan si manusia harimau masih menyelamatkan nyawa seorang bangsawan kaya, Teuku Halimah dari kematian oleh perbuatan zalim seorang dukun yang akhirnya terpaksa dibunuh mati oleh Erwin.

    Ketika Erwin sampai di Palembang dan berkunjung ke rumah Teuku Samalanga, yang dilihatnya dalam keadaan sedang berpesta, ia menduga, bahwa sahabatnya itu akan menikah. Mereka berpelukan mesra karena sama-sama gembira. Pada waktu itulah Erwin mengetahui, bahwa yang akan kawin bukan sahabatnya, tetapi Safinah yang dicintainya dalam berdiam diri. Ketika Teuku

  • masuk untuk memanggil adiknya, si Erwin Manusia Harimau pergi, manibawa nasibnya, sampai ia tak kuat lagi berjalan dan masuk ke dalam semak-semak di pinggir jalan.

    0odwo0

    TAK tahu berapa lama ia di sana dalam keadaan setengah sadar, tanpa punya kekuatan untuk berdiri, walaupun dia makhluk bernama manusia harimau yang dalam keadaan waiar sangat perkasa.

    Dalam hati ia masih memanggil-manggil ayahnya Dja Lubuk, ompungnya Raja Tigor dan sahabat ayahnya Datuk nan Kuniang di kuburan Kebayoran Lama. Dia hanya sanggup menyebut nama-nama mereka di dalam hati, karena ia sudah tak kuasa bicara. Tetapi ia sadar, apa yang membuat dia sampai membawa diri dengan berjalan kaki ke daerah Jambi. Tanpa mengetahui apa yang akan dilakukannya di sana.

    Kemudian ia tertidur di bawah guyuran hujan lebat yang membuat ia basah kuyup. Untunglah hujan itu hanya sebentar, la tertidur terus sampai parak siang dan subuh yang kemudian disusul oleh warna agak merah diufuk timur, tanda sang surya akan menerangi alam di belahan bumi yang telah meninggalkan malam.

    Ketika ia bangun dengan perut lapar dan coba mengingat-ingat apa yang telah terjadi ia merasakan ada dengusan napas tak jauh dan kepalanya. Diangkatnya mata ke atas, dua harimau telah duduk di sana. Entah sudah berapa lama. la segera menandai bahwa kedua macan ini adalah piaraan Teuku Samalanga yang pernah berhadapan dengannya di hutan tak jauh dari Muara Bungo, ketika ia bersama orang Aceh itu hendak melihat jenazah Menora, adik kandung Teuku dan Safinah yang bunuh diri setelah digagahi oleh Mohamad Husni, orang kaya yang menantu dukun Abduh di Lahat. Husni telah ditewaskan oleh kedua harimau, milik Teuku Sa-malanga.

    Harimau itu memandang ramah pada Erwin. Dan Erwin yang pada saat itu tidak punya daya apa pun hanya berserah. Kalau

  • kedua harimau itu berniat jahat atas dirinya mereka dengan mudah dapat melakukannya, karena Erwin tidak memiliki ilmu dan kekuatan seperti kalau dirinya normal. Tetapi kedua harimau itu menjilati muka dan tangannya dengan lidah mereka yang panas. Kemudian pakaiannya. la rasa dirinya dibalikkan, karena mereka tak bisa bicara untuk menyuruh dia membalik. Seluruh pakaiannya yang basah pun dijilati. Entah dari mana datangnya tetapi setelah ia sadar, dilihatnya Ada buah pisang yang banyaknya tidak kepalang tanggung. Satu tandan. Juga ada buah rambutan yang diketahuinya memang sedang musim. Kedua harimau itukah membawanya? Mungkin, tetapi mungkin juga Tuan Syekh Ibrahim Bantani yang kemudian berdiri di sisi Erwin. Dengan janggutnya yang putih dan pandangan penuh wibawa. Tuan Syekh kah yang membawa buah-buahan itu? Perutnya yang lapar membuat dia tidak lagi bertanya, tetapi langsung memakan apa yang ada. Pisang raja masak di pohon itu menghilangkan rasa lapar. Dia tahu, pisang raja enak untuk sarapan. Haus dilepaskannya dengan rambutan berkualitas yang mudah, ditanggalkan dari bijinya dan punya banyak air.

    Sesudah itu baru Erwin menyusun jari dan berkata: "Guru. Akan tamatkah riwayatku?"

    Guru yang berasal dari Banten dan meninggal di Muara Sipongi, Mandailing, meletakkan ujung tongkatnya di atas rusuk Erwin yang masih belum bangkit. Kini manusia harimau itu duduk, mencium lutut Tuan Syekh Ibrahim.

    "Enak saja kau! Terlalu mudah hidup ini bagiku, kalau sampai di sini riwayatmu tamat. Kau telah mengalami banyak musibah, mengalami banyak bencana fisik dan batin, tetapi apa yang kau rasakan hari ini barulah awal pula dari rentetan nasib yang telah menantikan dirimu. Kau kehilangan orang yang kau cintai, wajar. Karena ia tidak mencintai dirimu. Dan kau terlalu mementingkan harga diri, suatu tanda bahwa kau memang berhak untuk hidup lebih lama di dunia ini. Kau masih menghendaki dirinya. Sebelum dia kawin telah kutawarkan kepadamu kekuatan untuk membuat dia cinta padamu. Tetapi kau menolak, karena kau tak mau cinta hasil

  • tenngn lain. Kau ingat?" tanya Tuan Syekh. Erwin mengangguk.

    "Kau masih cinta padanya?"

    Dan si manusia harimau mengangguk lagi.

    "Mencintai wanita yang sudah selama tiga malam jadi istri syah suaminya?"

    Erwin menganguk lagi.

    "Kalau begitu kau mulai kehilangan harga diri. Kau mau merebutnya dari tangen suaminya? Kalau mau, kuberi kau kekuatan, tetapi antara kau dan aku tidak ada hubungan lagi. Terserah padamu!"

    Erwin diam. Dia disuruh memilih. Dia merasa masih mencintai Safinah yang sudah jadi Nyonya Daud Ali, juga asal dari Aceh. la dan Safinah sudah berkenalan sejak masih duduk di sekolah menengah dulu.

    "Aku masih mencintainya guru, tetapi aku akan berusaha melupakannya, karena ia sudah jadi istri orang lain!"

    "Bagus. Kau harus berhasil. Kalau gagal, ada bencana menantikan dirimu. Berat kau menghadapinya. Aku doakan supaya kau berhasil. Dalam hal itu aku hanya bisa mendoakan karena kau yang punya diri, kau yang punya hati dan kau pula yang punya masalah."

    "Aku akan berhasil Guru!"

    "Semoga. Aku pun tidak tahu. Kalau godaan atau dendam lebih kuat dari imanmu, kau akan gagal. Nah, sudah. Aku akan kembali."

    "Tuan Syekh, boleh aku menitip salam untuk kedua pengurus istana Guru?"

    "Mereka turut kemari, ingin bertemu denganmu yang mereka nilai sangat baik budi," kata Tuan Guru yang sebenarnya telah dikebumikan itu. Dan seekor harimau loreng besar serta harimau hitam pekat m segera pula berada di dekat Erwin. Empat harimaui

  • dengan seorang guru merupakan suatu kumpulan yang cukup meriah. Erwin memperoleh semangat hidupnya kembali.

    "Bangkitlah Erwin, kau akan sampai di Jambi dalam tempo menghabiskan sepiring nasi. Hematkan uangmu. Beli di sana sepesalinan. Kau memerlukannya," kata Tuan Guru. Tak lama kemudian dia raib bersama dua harimau setianya. Yang piaraan Teuku Samalanga masih menunggui Erwin sebentar, sampai ia berdiri. Dielusnya kepala kedua harimau yang sudah jadi sahabatnya itu. Dan kedua binatang liar yang sudah jinak pada manusia harimau itu menjilati tangannya, mengakui kebesarannya di atas diri mereka. Setelah itu Erwin mulai berjalan, tetapi suatu kantuk tiba-tiba menyerang, tak terlawan. Ketika ia terbangun, dan waktu tertidur dan terbangun itu lamanya memang hanya sepanjang waktu menghabiskan sepiring nasi, ia telah berada di pinggiran kota Jambi.

    Seorang gadis kecil tak dikenal, menegurnya:

    "Bang Erwin, ayahku menyuruh aku membawa abang ke rumah!" Manusia harimau itu heran mendengar, karena sepanjang tahunya ia tidak punya siapa-siapa di Jambi.

    "Tetapi siapa kau gadis kecil? Siapa namamu?" tanya Erwin yang terbengong-bengong mengetahui tadi dirinya sudah di pinggiran Jambi dan kini ada pula seorang anak tak dikenal mengajaknya ke rumah. Kota apakah ini?

    "Abang lupa padaku?" tanya bocah yang mengaku bernama Yatun.

    Walaupun merasa ragu-ragu, tetapi si manusia harimau menurut, la sadarkan diri sejak ia terbebas dari kantuk tadi. Bahwa ia Erwin, anak Dja Lubuk, yang baru melarikan diri dari Palembang karena gadis yang dicintainya kawin dengan laki-laki lain.

    Gadis kecil itu selama perjalanan memegangi tangan Erwin, seakan-akan takut orang muda itu melarikan diri, sehingga masuk sebuah pekarangan yang ditanami banyak pohon buah-buahan, di antaranya pisang dan rambutan yang sedang berbuah. Persis

  • seperti yang dimakannya pagi itu. Di tengah-tengah kebun ada sebuah rumah, model lama, seperti yang masih banyak terdapat di daerah Jambi.

    "Naiklah," kata Yatun kepada tamunya. Dan Erwin menurut. Hanya didalam hati ia bertanya siapa gerangan yang meminta dia datang. Orang itu mestinya mengenal dia. Tetapi bagaimana pula orang ini tahu bahwa dia akan masuk ke kota itu, walaupun sekiranya mengenal dia.

    Setelah duduk di ruang tengah, seorang wanita setengah baya menyugukan secangkir kopi kepadanya. Juga secangkir gula pasir dengan kata-kata:

    "Belum diberi gula, karena saya tak tahu takarannya." la masuk lagi dan tak lama kemudian ke luar dengan sepiring ketan dan sepinggan kecil kelapa yang telah diparut.

    Aneh di rumah orang yang kelihatan kampungan ini, pikir Erwin. Memberi kopi tanpa dibubuhi nula dulu. Seperti yang pernah dialaminya ketika ia menginap di hotel mewah di Medan.

    Karena Erwin tidak juga memulai minum atau mencoba ketan yang dihidangkan, maka perempuan tadi yang rupanya mengetahui ke luar lagi dan mempersilakan ia minum. Katanya: "Bukan kah sejak kemarin nak Erwin tak makan dan pagi tadi hanya makan pisang dan rambutan. Belum minum Apakah nak Erwin lebih suka teh panas?"

    Erwin kian heran, tetapi tanpa tanya mulai minum kopi yang belum diberi gula. "Tak suka gula " tanya perempuan itu. Barulah Erwin sadar, bahwa perempuan itu mengetahui semua, sampai sampai bahwa ia sejak tadi belum menaruh gula di dalam kopi.

    "Suka," jawab Erwin sambil menyendok gula dan memasukkannya ke dalam kopi.

    "Ketannya," wanita itu menawarkan. Dan Erwin mengambil dua sendok, diletakkan di piring kecil kosong yang tersedia.

    "Suka dengan srikaya?" tanya wanita yang lalu masuk lagi ke

  • dalam dan kemudian meletakkan se piring srikaya, yang biasa dipakai kedai-kedai kopi kota itu pada roti panggang.

    Agak lama kemudian baru datang seorang laki-laki, sudah agak tua. Bercelana komprang hitam dengan kaos oblong putih. Serba bersih, rupanya dia bersalin pakaian dulu.

    "Apa kabar nak Erwin? Boleh kupanggil anak?" tanya laki-laki itu, yang tidak memperkenalkan diri lebih dulu.

    "Silakan Pak," dan setelah diam sejurus barulah Erwin bertanya, siapakah bapak yang berilmu sangat tinggi itu.

    "Aku tidak punya ilmu tinggi. Nak."

    "Mustahil. Bapak mengetahui namaku dan tahu aku akan datang. Malah menyuruh Yatun menjemput aku. Aku berbahagia sekali berkenalan dengan Bapak. Aku yakin akan dapat menambah ilmu yang sekedar sekuku ini dari Bapak. Aku baru ditimpa musibah," kata Erwin tanpa ditanya.

    "Itu bukan musibah. Itu suatu cobaan. Kau tidak mendapatkan Safinah! karena kalian berdua bukan jodoh. Dan kau sudah diuji lagi dengan cobaan lain!" kata laki-laki yang mengatakan dirinya bernama Teuku Abidin, paman Teuku Samalanga.

    Mendengar siapa orang itu, tidak heranlah Erwin mengapa ia dapat melakukan apa yang semula terasa sangat aneh baginya.

    Erwin bertanya apakah cobaan lain yang sedang diujikan atas dirinya itu.

    "Sudah berlalu dan sudah selesai. Lebih baik kalau tidak diceritakan," kata Teuku Abidin. Tetapi Erwin menunjukkan rasa tidak puas, karena Teuku juga tadi yang menyebut-nyebut ujian baru yang sedang menimpa dirinya.

    Maka diceritakanlah oleh Teuku Abidin, bahwa pagi itu suami Safinah telah tiada lagi. Erwin mendengar dan memandang heran. Tak mengerti.

    "la telah dibunuh kemenakanku, Teuku Samalanga yang sangat

  • sayang padamu, la telah melakukannya karena tak mampu mengendalikan diri," kata Teuku Abidin.

    0odwo0

    DUA

    ERWIN tidak percaya pada telinganya. Mustahil. Cukup lama dia diam terperangah oleh keterangan Teuku Abidin. Sahabatnya, Teuku Sama-langa jadi pembunuh? Dan yang dibunuh adik iparnya sendiri yang baru tiga hari nikah dengan adik kandungnya, satu-satunya saudara yang tinggal setelah Menora mati bunuh diri!

    "Sukar diterima akal, orang muda?" tanya Teuku Abidin.

    "Bukan sukar, tak masuk akal, Pak!"

    "Di dunia ini selalu terjadi hal yang tidak masuk akal. Bagi orang sepintar anak, bukanlah sesuatu yang mengherankan mestinya. Atas dirimu sendiri terjadi berbagai hal yang mestinya tidak terjadi karena tidak masuk akal."

    Erwin mengingat masa lampaunya." Memang banyak terjadi kenyataan yang sebenarnya tidak masuk akal.

    "Tetapi apa sebabnya. Pak?"

    "Karena bagi kami, hutang nyawa bayar nyawa. Dan hutang itu harus dibayarnya kepada yang berhak menerimanya!"

    Erwin semakin tidak mengerti. Teuku Abidin paham, bahwa dia harus memberi penjelasan.

    "Kau benar-benar mau tahu?" tanya orang tua itu.

    "Tentu, karena Teuku sahabatku. Lebih dari itu, ia saudaraku!"

    "Dan kau cinta pada adiknya. Safinah!" Erwin tunduk. Bukan malu, sedih, karena wanita itu tidak menghendaki dirinya.

    Kau benar-benar sanggup mendengarnya?"

    Erwin hanya memandang. Tak mengerti, mengapa pula Teuku

  • Abidin mengajukan pertanyaan begitu

    "Daud Ali telah membunuh istrinya. Dia harus membayar untuk itu!"

    "Siapa Daud Ali?"

    "Suami Safinah!"

    "Tidak," jerit Erwin tak kuat menguasai diri. Dan ia menangis seperti anak kecil. Tidak berusaha menekan tangis itu.

    Kisah ini lebih buruk dari mimpi terburuk. Menyebabkan seorang manusia harimau pun seperti tak punya daya dan kekuatan. Seperti tidak punya iman sama sekali, padahal sudah dipesankan oleh Tuan Syekh Ibrahim Bantani, bahwa masih banyak lagi kenyataan-kenyataan menyedihkan menghadang dirinya. Inilah salah satu daripadanya. Tetapi mengapa sampai terjadi bunuh membunuh. Baginya, lebih baik Safinah hidup bersama laki-laki lain dan dia berputih mata, daripada wanita tercintanya itu harus berputih tulang.

    Daud Ali itu memang sangat pantas dibunuh. Kalau dia punya dua nyawa, kedua dua nyawanya harus dicabut," kata Teuku Abidin yang rupanya sangat setuju dengan pembunuhan atas diri laki-laki yang tadinya jalan menantu bagi dirinya, karena Teuku Samalanga kemenakannya.

    Setelah agak reda, Erwin bertanya mengapa sampai terjadi pembunuhan ganda itu. Dan Teuku Abidin menceritakan, bahwa kisah itu didengarnya dari Yatun, anak kecil yang menegur dan membawa Erwin ke rumah itu. la semakin heran. Yatun, anak kecil itu yang membawa berita. Menurut Teuku Abidin pembunuhan itu terjadi menjelang subuh. Bagaimana pula Yatun datang dari Palembang membawa berita ke Jambi.

    "Yatun penghubungku dengan kemenakanku!" mengertilah Erwin, bahwa gadis kecil itu sebenarnya makhluk halus suruhan.

    Dengan setenang mungkin Teuku Abadi n menceritakan, bahwa drama itu dimulai hanya sehari sejak Safinah dan Daud Ali

  • melangsungkan pernikahan. Dari orang-orang bermulut usil Daud mendengar, bahwa Safinah sebenarnya diwaktu yang akhir telah menjalin hubungan dengan seorang muda amat pintar bernama Erwin. la tak punya apa-apa, tetapi memiliki kepandaian dukun lalu ditampung oleh Teuku Samalanga karena kasihan kepadanya. Ada kabar, bahwa kemudian Erwin mempunyai banyak uang dari hasil mengobati seorang perawan keturunan Tionghoa bernama Mei Lan. Bukan hanya itu. Ketika Erwin pergi dari rumah Teuku Samalanga setelah bercintaan dengan Safinah, anak perempuan yang telah diobatinya itu tergila gila kepadanya dan mencari dia sampai ke Tapanuli dan Medan, kemudian dibawanya kembali ku Palembang.

    Cerita ini membakar hati Daud Ali ia bertanya kepada Teuku Samalanga yang menegaskan kepadanya bahwa kalau ada cerita begitu pasti datangnya dari orang yang iri hati kepadanya. Diceritakannya bahwa Erwin seorang laki-laki yang sangat sopan dan tinggi ilmunya. Rendah hati dan tak pernah menyusahkan siapa pun. Buat sementara ia menerima apa yang dikatakan oleh Teuku Samalanga.

    Tetapi dia tidak hanya percaya kepada keterangan Iparnya Tiupan dari orang-orang luar juga diterimanya. Apalagi setelah diketahuinya memang suatu kenyataan Mei Lan jatuh cinta kepada Erwin sampai mencari-cari dia ke Penyabungan dan Medan. Erwin mempunyai guna-guna yang amat kuat untuk memikat dan menundukkan wanita.

    Pada malam kedua Daud Ali bertanya kepada Safinah, siapakah yang bernama Erwin? Oleh istrinya diceritakan apa adanya. Persis seperti yang diceritakan oleh abangnya.

    "Kau suka padanya ya?" tanya Daud.

    "Suka, dia baik dan banyak menolong abangku!" jawab Safinah.

    Jawaban ini membuat darahnya mendidih. Suka padanya diartikannya seperti menyenangi atau mencintai.

    "Kau telah pernah berbuat dengan dia, ya?"

  • Safinah tersentak, karena tidak menyangka akan keluar pertanyaan seperti itu. Dia tahu maksud suaminya. Dia dituduh telah berbuat serong dengan Erwin miskin yang tidak punya dosa itu. Namun begitu, ia kendalikan dirinya sambil bertanya apakah maksud Daud dengan "telah berbuat" itu.

    "Jangan berpura-pura, kau tahu maksudku, la dukun dan dia telah membuat kau jatuh cinta kepadanya!"

    "Abang menuduh aku! Jahat, kejam, busuk! Dia orang baik, sangat baik. Aku memandangnya sebagai saudara sendiri dan begitu pula dia terhadap diriku! Jangan abang punya pikiran kotor," dan karena sakit hati dia meneruskan: "Mungkin dia jauh lebih baik dan mulia dari abang. Walaupun dia hanya seorang miskin yang tidak punya apa-apa!" Setelah itu Safinah keluar kamar, mengunci diri di dalam kamar lain. Daud membiarkan. Dia menyangka, bahwa itu hanya suatu cara untuk menutupi dosa. Banyak orang pandai berbuat begitu. Dia juga pandai.

    Keesokan harinya Safinah tidak bicara apa pun. Tidak dengan Daud, juga tidak dengan abangnya. Hatinya sakit. Dia tahu, bahwa suami kurang ajarnya itu tetap mencurigai dia. Kalau dia merasa menyesal akan kata-katanya, tentu ia minta maaf.

    "Mukamu kusut tampaknya Saf." kata Teuku Samalanga. "Ada apa?"

    Safinah tak kuat menahan airmata. Lalu diceritakannya tuduhan Daud Ali. Sakit hati Teuku Samalanga mendengar penghinaan kotor itu, tetapi suatu kekuatan membuat dia sanggup bersabar dan membujuk adiknya. "Sudahlah, dia emosi oleh hasutan orang-orang yang membenci diriku. Kau yang dijadikan korban. Nanti dia akan sadar, bahwa dia sangat keliru dan meminta maaf padamu!" kata nya.

    Malam itu, atas anjuran dan bujukan abangnya. Safinah kembali tidur bersama Daud Ali. Tetapi orang ini rupanya tetap terbakar di dalam hati. la masih saja percaya akan hasutan yang sampai ke telinganya, la tidak dapat tidur, begitu pula Safinah.

  • Juga Teuku Samalanga tidak dapat memeramkan mata di kamarnya. Hatinya merasa tidak enak saja.

    Menjelang subuh terdengar suatu jeritan dari kamar Safinah Teuku terkejut, bangkit. Jerit itu hanya sekali lalu senyap. Jantung Teuku berdebar keras ia mendatangi kamar adiknya, memanggil-manggil nama Safinah. Tiada jawaban. Dipanggilnya Daud, tiada sahutan. Kecurigaan Teuku semakin besar, ditendangnya pintu sehingga terbuka.

    Teuku terpekik, melihat tubuh adiknya bersimbah darah di tempat tidur.

    Daud bersiap dengan pisau yang digunakannya untuk membunuh istrinya itu, sementara Teuku yang mendobrak kamar dalam keadaan siap atas segala kemungkinan pun tak ayal lagi mencabut rencong yang sudah terselip di pinggangnya.

    "Dia perempuan jahanam. Menipu aku. Kau juga tahu dia menipu aku," kata Daud. Kedua laki-laki yang sama-sama dari Aceh itu berhadapan. Sudah tahu apa yang akan dilakukan. Karena kedua-duanya merasa kehormatan dirinya ditabrak. Satu di antara mereka harus mati dan sama-sama menebus dengan nyawa.

    Ternyata Teuku bukan lawan bagi Daud, yang memang keturunan Aceh, tetapi tanpa isi khusus didalam dadanya. Lain halnya dengan Teuku yang sangat marah sehingga menjadi ganas dengan ilmu segunung di dalam dirinya.

    Beberapa tikaman Daud mudah dielakkannya. Kemudian ujung rencongnya menembus dada Daud di sebelah kiri, tepat merobek jantungnya, la jatuh terjangkang. Teuku masih menikamnya beberapa kali lagi, walaupun tusukan pertama tadi sudah mengantarkan Daud ke alam lain. Dari mana ia tidak pernah akan bisa kembali lagi.

    Setelah itu ia memeluk adiknya yang telah tak bernyawa. Meskipun biasanya punya iman teguh, menghadapi saudara tunggal yang direnggut paksa nyawanya itu Teuku Samalanga menangis, hampir meraung-raung. Sama halnya dengan Erwin di Jambi ketika

  • mendengar bahwa Safinah sudah tidak ada lagi.

    "Mestinya kau membunuh binatang itu Dik, karena dialah yang mestinya mati. Kini aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kau tinggalkan aku jadi sebatang kara," kata Teuku Samalanga dalam tangisnya, la bagaikan anak kecil. Apa yang terasa, dikeluarkannya. Tak disadarinya dua orang pembantu telah berdiri di belakangnya, ikut menangis seperti kehilangan saudara sendiri. Karena mereka sangat sayang kepada Safinah, yang tak pernah memperlakukan mereka sebagai orang yang digaji. Mereka tidak tahu, mengapa sampai ada dua mayat terbujur di sana. Siapa membunuh Safinah dan siapa yang membunuh Daud Ali. Mereka sangat terkejut dan sedih, karena keluarga Teuku terkenal sebagai tetangga yang baik dan ramah. Mereka juga tahu bahwa dia seorang berpengetahuan, tetapi tidak pernah mau menyalahgunakan ilmunya, la malah dipandang sebagai orang alim yang tidak pernah meninggalkan perintah agamanya.

    Menjelang pagi orang tambah banyak. Polisi pun sudah datang. Mereka sangat terperanjat dan tak mengerti bagaimana duduk persoalan. Mereka ajukan pertanyaan kepada Teuku yang sudah reda, tetapi ia tidak memberi jawaban. Tak kuasa atau tak mau. Masih terlintas di dalam benak Polisi apakah suami istri itu bersepakat untuk mati bersama. Kalau tidak begitu halnya, pasti ada orang lain yang membunuh mereka. Orang lain itu mungkin pencuri, mungkin orang yang berdendam. Belum terpikir bahwa Teuku Samalanga tersangkut dalam drama itu.

    Ketika akhirnya Polisi bertanya kepada Teuku apakah ia mau turut ke kantor untuk membantu Polisi dalam melacak pembunuh yang merenggut dua nyawa itu, ia hanya mengangguk. Tetapi baru beberapa langkah berjalan ia telah kembali ke jenazah adiknya, memeluk dan menciuminya, la menangis lagi tersedu-sedu, tanpa mengeluarkan kata.

    Komandan Polisi yang bijaksana tidak langsung mengajukan pertanyaan kepada Teuku. la tahu bahwa orang yang baru kehilangan adik itu tentu sangat sedih dan panik. Perlu waktu untuk

  • tenang kembali.

    Kepada Teuku disuguhkan minum. Komandan, seorang Kapten Polisi yang memeluk agama Hindu, I Made Dirganta, memberinya petuah. Bahwa tunangan hidup adalah kematian dan tidak seorang pun dapat mengelakkan diri daripadanya. Bahwa yang mati sebenarnya hanya jasad, sedangkan roh akan menempati dunianya yang baru. Bagi yang baik telah tersedia nirwana. Pada suatu hari semua roh akan bertemu kembali. Perceraian oleh kemati an hanya perpisahan sementara antara orang yang ingin duluan pergi dan orang tersayang yang ditinggalkan.

    Tak kurang dari enam jam kemudian baru Teuku Samalanga diminta keterangan, la berterus terang, bahwa ialah yang membunuh iparnya Daud Ali, karena ia membunuh adiknya Safinah, la tidak mau menerangkan apa yang menjadi sebab. Bukan saja karena ia yakin bahwa tuduhan Daud tidak benar, tetapi mulutnya malu menceritakan fitnah yang amat rendah itu.

    Atas pertanyaan Polisi, mengapa Teuku tidak melaporkan saja kejahatan yang dilakukan oleh Daud, karena ia pasti akan ditangkap dan diadili lalu dihukum sesuai dengan kesalahannya, dengan datar Teuku menyahut: Mungkin saya salah. Tetapi saya menganut paham kuno, bahwa hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa. Dia berhutang nyawa kepada saya, karena saya yang kehilangan adik, maka dia harus membayar kepada saya. Hanya itu, lain tidak!" Dia sama sekali tidak memperlihatkan rasa menyesal.

    Atas budi baik Polisi, Teuku yang tampak tak berdaya diberi ijin untuk mengurus penguburan jenazah adiknya. Kemudian dimasukkan ke dalam sel tahanan, la tenang-tenang saja, seperti bukan dia yang baru melakukan pembunuhan. Imannya sudah kembali. Semua sudah berlalu menurut takdir. Semua harus diterima begitu pula segala resikonya.

    0odwo0

    CERITA itu membangkitkan amarah harimau di dalam tubuh

  • Erwin. Meskipun Daud Ali sudah dibunuh, tetapi ia tidak merasa puas. Jahanam itu harus lebih daripada dibunuh. Karena dia. Safinah meninggal. Dan mulut kotornya pula yang membuat Teuku Samalanga sampai masuk tahanan. Entah nasib apa yang akan menimpa dirinya. Bukan tak mungkin keluarga Daud Ali akan mencari jalan supaya orang tahanan itu mendapat siksaan, sebagaimana konon dapat dilakukan melalui orang-orang yang tidak mengindahkan citra Polisi. Bukan tidak ada oknum Polisi yang mau berbuat yang jahat demi uang. Uang, duit! Selalu bisa membuat manusia menjadi iblis. Uang bisa membuat orang girang, juga bisa bikin orang celaka, bahkan tewas!

    "Saya mau ke Palembang," kata Erwin kepada Teuku Abidin.

    "Untuk apa?"

    "Untuk melihat sahabatku." la memberi salam kepada Teuku Abidin, mohon doanya agar ia selamat.

    "Kau akan kembali lagi ke mari anak muda?"

    "Mungkin. Adakah perlunya? Bapak orang hebat. Kalau tak Bapak bimbing aku ke mari aku tentu tak tahu, bahwa sahabatku dan adiknya ditimpa musibah!"

    Lalu berangkatlah Erwin ke Palembang pada petang hari itu juga.

    Dengan bantuan Tuan Syekh Ibrahim Bantani, hanya setengah jam kemudian dia sudah berada di Palembang. Dan dia berada di depan Kantor Polisi tempat Teuku Samalanga ditahan.

    Tanpa pikir ia langsung saja masuk setelah lebih dulu membaca mantra yang diajarkan ayahnya Dja Lubuk. Dia lewat saja di hadapan para petugas Polisi, tak seorangpun menanyai atau menahannya. Seolah-olah ia tidak kelihatan.

    Tak lama kemudian dia sudah sampai di muka sel tahanan Teuku Samalanga. la menangis melihat sahabatnya. Dia menangis karena teringat kepada Safinah.

    "Mari kita pergi," kata Erwin.

  • "Tak mungkin, sahabatku. Aku kini orang tahanan. Aku telah jadi pembunuh!"

    "Tidak, Teuku mesti ikut bersamaku. Nanti malam kuambil!" kata Erwin lalu ia pergi. Menuju pekuburan tempat Safinah dan Daud Ali dimakamkan. Ada yang harus dikerjakannya di sana.

    0odwo0

    TIGA

    DENGAN sekecak bunga mawar dan dahlia segar Erwin memasuki kuburan. Walaupun hari mendung berat, pertanda langit akan runtuh menyiram bumi, Erwin mudah saja menemukan jalan. Semua tampak jelas olehnya, karena mata harimaunya sedang berfungsi. Bagi harimau tiada malam yang gelap.

    Penduduk Palembang heran melihat cuaca yang mendadak berubah. Siangnya panas terik, lalu selepas senja bintang-bintang bertaburan. Karena memang musim kemarau. Menebalnya awan yang membuat bintang gemintang tak tampak lagi, diiringi oleh angin agak kencang dan hujan gerimis membuat banyak orang memberi komentar menurut pengetahuan dan kepercayaan masing-masing.

    Apakah karena malam pertama bagi dua manusia yang mati dibunuh, tidur di dalam bumi? Apakah perubahan itu suatu tanda bahwa alam pun turut berduka cita?

    Tiba di makam Safinah, Erwin berlutut, berdoa sambil membiarkan airmata mengalir deras bagaikan air dari hulu yang tak terbendung. Hatinya sangat sedih. Kehilangan wanita kedua yang benar-benar dicintainya. Kepada siapa ia tidak pernah berani menyampaikan perasaan yang terpendam, tetapi ia dibunuh mati karena dituduh berbuat tidak senonoh oleh orang yang tiga malam menjadi suaminya, la, yang biasanya mempunyai firasat tajam, mengapa tidak pernah menduga bahwa Safinah akan mati tidak wajar di tangan orang yang dirasuki pikiran buruk sehingga berbuat

  • seperti iblis?

    "Ampuni aku. Safinah, orang dungu dan makhluk hina yang diam-diam mencintaimu. Seharusnya aku tidak pernah sampai ke rumahmu, tidak pernah mengenalmu, sehingga kau tidak sampai menemukan nasib yang tidak seharusnya menjadi nasibmu. Aku diburu perasaan salah, seolah-olah aku menjadi penyebab kematianmu. Kau yang begitu bersih dan cantik, yang seharusnya dengan kebahagiaan menikmati hidup karena ia menjadi hakmu," ucap Erwin dengan perasaan bersalah, walaupun ia tidak pernah berbuat sesuatu yang melanggar hukum dan adat terhadap perempuan yang amat malang itu.

    Tanpa diduganya terdengar suara mengatakan pelan dengan nada membujuk: "Tenanglah Bang Erwin. Ini semua penentuan nasib. Kalau namanya penentuan Bang, kita tidak dapat mengelakkannya. Abang tidak punya salah apa pun. Akulah yang bersalah karena tidak tahu, bahwa Abang mengasihi diriku. Maafkan aku Bang? Abang mau kan?" Suara itu suara Safinah. Entah arwah Safinah yang berkata, entah hanya khayalan telinga Erwin.

    Diciumnya papan nisan yang ditanam di bagian kepala Safinah dengan perasaan tidak menentu, la merasa kehilangan, sangat kehilangan.

    Kemudian ia mohon kekuatan kepada Tuhan, lalu berdiri. Di saat itu terdengar suara berbisik di telinganya: "Lakukan, lakukan. Kau harus memperlihatkannya. Hatimu akan tenang setelah kau melakukannya!" Dan diluar dugaan, tetapi sesuai dengan harapannya setelah mendengar bisikan itu, ia berubah wujud, la telah jadi Erwin bertubuh harimau. Lalu ia berjalan menurut kata hati dan langkah kaki. Berhenti di sebuah kuburan yang juga baru. Kuburan Daud Ali.

    la berdiri di sisi kuburan yang penuh diselimuti karangan bunga dari banyak sahabat dan beberapa keluarga, menyatakan duka cita yang dalam atau sekedar turut berduka cita atas kepergiannya.

    Melihat itu kebencian dan amarah Erwin menggantikan rasa sedih

  • yang mendera hatinya oleh ke-matian Safinah. Di atas pusara wanita yang disayanginya itu hanya ada taburan bunga dan dua karangan, satu di kepala dan satu di kakinya. Otak manusia waras di dalam tubuh harimau berkata, bahwa banyaknya karangan bunga di pusara seseorang baru meninggal, tidak mesti berarti bahwa orang itu manusia baik yang patut dihormati. Erwin malah berpikir bahwa Erwin tidak layak mendapat unjuk simpati demikian besar, karena ia hanya seorang pembunuh yang melakukannya semata-mata oleh prasangka dan tuduhan kotor yang tidak benar sama sekali.

    "Kau tidak berhak mendapat penghormatan ini orang buas," desis Erwin lalu menyingkirkan semua itu dengan kasar, la marah dan dendam pada laki-laki yang tidak dikenal bahkan belum pernah dilihatnya itu. Dendam, walaupun dia sudah menebus kejahatannya. Tidak banyak kebencian dan dendam seperti ini.

    "Untunglah bunga-bunga ini tidak dapat menolongmu di akhirat," kata Erwin dengan suara cukup keras. Akan kedengaran, kalau ada orang di dekat-dekat sana. Tetapi kata-kata itu saja tidak cukup untuk melampiaskan amarah dan membalaskan sakit hati.

    "Baru abang Safinah yang menghukum kau Daud. Aku belum," kata Erwin lagi, diselang-seling dengan dengusan. Lalu ia mulai menggali dengan dua tangannya yang kini mempunyai kekuatan ganda. Ditambah dengan kebencian dan amarah, pekerjaan itu jadi ringan saja. Setelah kain kafan mayat Daud tampak, ia langsung mengangkat dan melemparkannya ke luar lobang. Erwin keluar dari tempat Daud dibaringkan, dilepaskannya kain kafan penutup tubuh yang sudah sangat dingin dan kaku. Sehingga telanjang dengan hanya kapas di sana sini.

    Manusia harimau merobek dada mayat, mengeluarkan isinya. Seperti pernah dilakukannya di Ujungpandang atas seorang laki-laki yang sangat dibencinya. Karena orang itu telah menyebabkan ke-matian adik sahabatnya Nazaruddin. Sahabat yang akhirnya tewas pula di Jakarta, dibunuh oleh Sabri-na yang cindaku, perempuan cantik asal daerah Kerinci yang bagi sementara masyarakat cukup terkenal oleh harimau-harimau liarnya. Lebih terkenal lagi oleh

  • harimau jadi-jadian. Sabrina yang ayu tetapi bernasib malang, kadang-kadang dihantui da-haga darah. Sama halnya dengan korban kecanduan obat bius, ia tak mampu menguasai diri, kalau sifat harimau sedang merasuk otak dan seleranya, la mampu mengisap habis darah bayi, hanya dengan memandangi anak kecil tak berdosa itu. Telah beberapa anak jadi korbannya. Ibu dan ayah si anak tidak menyangka atau mencurigai dirinya, karena ia begitu ramah, kelihatan penuh rasa sayang terhadap anak-anak yang tergolong masih bayi.

    Setelah selesai dengan pekerjaannya, setengah sadar Erwin berkata: "Kini aku telah membunuh mayatmu. Kau pantas menerima hukuman yang lebih dari ini karena Safinahku tidak pernah bisa kembali lagi." Dari sana Erwin pergi sekali lagi ke pusara Safinah. "Aku telah membunuhnya lagi untukmu, karena dia yang menyebabkan kau mati dan dia juga yang menyebabkan abangmu jadi orang tawanan. Aku tak mampu menghidupkan kau kembali Safinah sayang, tetapi aku akan membebaskan saudaramu yang juga amat kusayang." la berjalan sampai ke pintu kuburan, berharap dirinya jadi manusia utuh kembali. Tetapi keinginannya tidak terkabul. Lebih setengah jam ia duduk atau mondar mandir gelisah. Bertanya dalam hati, apakah ia telah berbuat terlalu kejam terhadap Daud yang sudah jadi mayat? Apakah ini pembalasan pula atas dirinya? Tetapi dihiburnya diri: "Mustahil. Dia pantas mendapat ganjaran itu!" Kemudian ia berpikir: "Apakah seharusnya dia melakukan lebih daripada itu? Mungkin. Barangkali Safinah ingin agar muka Daud juga dihancurkan saja?" Erwin berbalik hendak merusak muka mayat yang sudah tidak punya isi perut itu. Tetapi satu perintah membuat dia terhenti.

    "Jangan Erwin. Kau telah lebih dari membalas dendam," kata suara Raja Tigor, kakek yang amat mencintainya. "Pergilah. Bukankah kau ada janji pada Teuku Samalanga!" la tahu, suara itu harus dipatuhi, kalau ia tidak mau celaka. Suara itu juga membuat dia langsung keluar dari kuburan dalam keadaan bertubuh harimau, la jalan di pinggir, tetapi sorot lampu mobil yang datang arah berlawan-an menimpa dirinya. Tak lama kemudian, mobil itu

  • berhenti. Sipengemudi melihat harimau loreng bertubuh besar itu. la injak rem, supaya kendaraan itu berhenti. Entah karena gugup, entah memang begitu yang baik menurut jalan pikirannya. Tandanya ia menghormati nenek belang. Tetapi ia tidak ingat mematikan lampu sementara si manusia harimau juga tidak menghindar dari sorotan lampu yang amat kuat dan terang itu. Ada tiga menit, sipengemudi yang baru pulang bersama istrinya dari sebuah pesta memandangi harimau itu dengan jan-tung berdebar keras, yang bisa copot atau mendadak tidak berfungsi lagi. Untunglah jantung dua insan itu tidak berhenti bekerja, sehingga jelas melihat apa yang sebenarnya mereka tidak akan percayai kalau tidak karena melihatnya sendiri. Harimau itu berubah jadi manusia, terus berjalan, melewati mobil yang belum juga digerakkan lagi. Pengemudi yang seorang pedagang cukup besar di kota Palembang mengerling, ketika manusia yang menjelma jadi harimau lewat di samping kanannya. Makhluk itu tidak menoleh, tidak menghiraukan kehadiran mobil itu.

    Setelah harimau atau manusia itu berjarak dua puluh meter, barulah ia mampu menjalankan mobilnya. "Kau melihatnya tadi Ma?"

    "Sudahlah jangan mengomongi dia. Dia mungkin mendengar dan mengejar kita," sahut istrinya yang ketakutan. Tentu saja dia juga melihatnya.

    Hujan yang tadi sudah berhenti kini turun lagi dalam bentuk gerimis.

    Setibanya di depan Kantor Polisi tempat Teuku Samalanga ditahan, ia berhenti dan seperti tadi pula dia langsung saja masuk. Kini pun tak ada yang menegurnya. Karena mereka tidak melihatnya. Mereka telah ditaklukkan ilmu perabun. Si manusia harimau tidak ingin dirinya dilihat oleh orang-orang yang tidak perlu melihat. Kalau mereka tidak dirabunkan dan melihat Erwin pasti akan timbul bencana. Akan berjatuhan korban. Karena Polisi tidak akan membiarkan dia masuk dan Erwin tidak akan mau dicegah masuk. Untuk apa mencederai diri para penjaga keamanan ini,

  • selama mereka tidak bertindak di luar hukum. Mereka tidak menyiksa Teuku Samalanga. Mungkin orang Aceh itu punya suatu kekuatan yang membuat para petugas yang selalu galak dan tidak berani atau tidak bergerak untuk menyakiti dia. Erwin ingat masa lalunya di Jakarta, la pernah ditangkap, lalu disiksa sampai babak belur. Tetapi diselamatkan oleh ayahnya Dja Lubuk yang membunuh dua penyiksa lalu membawa Erwin keluar tanpa kelihatan.

    Waktu itu pukul 22.20.

    "Teuku," panggil Erwin pelan karena Teuku Samalanga sedang duduk di pembaringannya bersandar ke tembok dengan memeramkan mata.

    "Aku tak mau lari, Er. Akan jadi orang buruan. Tidak akan pernah tenang," ujar Teuku yang sudah berdiri di belakang terali besinya. Tetapi Erwin tidak menanggapi. Sebaliknya ia bercerita: "Aku telah melakukannya Teuku!"

    "Melakukan apa?"

    "Membunuhnya!" jawab Erwin menyeringai. Tanda suatu kepuasan.

    "Membunuh siapa?" tanya Teuku yang tidak mengerti.

    "Siapa yang harus dibunuh. Jahanam Daud Ali!"

    "Bukankah dia sudah mati."

    "Ya, Teuku yang membunuh. Aku baru tadi dapat melakukannya!"

    Teuku yang jadi kian tak mengerti, bertanya apakah sebenarnya maksud Erwin. Dan manusia harimau itu mengatakan, bahwa ia telah ziarah ke pusara Safinah. Juga mendatangi kuburan Daud Ali. Tidak diceritakannya apa yang telah dilakukannya. Teuku juga tidak bertanya. Pun tidak memikirkan apa yang mungkin dilakukan Erwin. Dianggapnya cerita Erwin itu sebagai suatu luapan amarah dan Erwin sendiri tak mengerti apa yang dikatakannya. Seperti berkhayal.

  • Erwin menegaskan kembali, bahwa kedatangannya adalah untuk mengambil Teuku. Dia layak ditahan, karena perbuatannya itu hanya bela diri. Bukankah Daud juga mempergunakan senjata.

    "Tetapi aku belum diadili. Kalau Hakim memutuskan aku bebas, barulah benar aku boleh keluar dari sini!" kata Teuku.

    Erwin tertawa. Agak sinis tanpa mengatakan apa-apa.

    Agak lama kemudian baru Erwin berkata, bahwa di Pengadilan bukan tidak mungkin terjadi salah vonis. Bisa karena khilaf, bisa juga karena ia harus berbuat begitu untuk orang lain. Kata Erwin dia pernah mengetahui orang dihukum sebagai pembunuh, tetapi kemudian ternyata bahwa orang itu sama sekali tidak berdosa, karena pembunuh sebenarnya memberi pengakuan.

    "Aku sudah mengatakan kepada adik Safinah, bahwa aku akan membebaskan Teuku dan ia sangat setuju. Aku bicara dengannya tadi!"

    Erwin membuka pintu sel seolah-olah tidak dikunci, menarik lengan Teuku yang kini menurut tanpa protes, la ingin mengatakan tak mau, tetapi ia tidak mampu mengatakannya. Yang jadi kenyataan, ia berserah kepada Erwin.

    Teuku pun tidak berkata apa-apa setelah ber-a di alam bebas. Dia merasa kagum lagi. Banyak sekali kepandaian Erwin. Sedikit sekali orang sangat pandai yang memiliki ilmu perabun. Si pemegang ilmu harus yakin sepenuhnya, bahwa semua yang bernyawa menjadi buta terhadap dirinya atau mereka. Tanpa kemampuan pemusatan pikiran bulat, ilmu itu tidak akan punya cukup kekuatan.

    "Akan kemana kita Erwin?" tanya Teuku Samalanga.

    "Istirahat dulu. Teuku perlu istirahat dan menenangkan pikiran. Besok hari Kamis. Lepas sembahyang lohor kita berangkat!"

    "Istirahat di mana dan berangkat ke mana?"

    "Istirahat di rumah Teuku. Bawa apa yang perlu saja besok!"

  • "Terlalu berbahaya bagiku Er. Nanti mereka akan tahu, bahwa aku sudah lari!"

    "Teuku tidak lari, aku yang melarikan. Jadi aku yang salah, kalau mau dipersalahkan," jawab Erwin tenang-tenang.

    "Kau hebat, bisa setenang ini!"

    "Apakah akan membantu kalau kita gugup dan panik?"

    Teuku tidak menjawab. Dia ingin sehebat Erwin.

    "Teuku tak kurang hebatnya. Tiap manusia punya kekurangan dan kelebihannya," kata Erwin. Dan Teuku mulai tenang. "Kita tak usah terlalu gembira kalau sedang menang dan tak usah terlalu sedih kalau sedang kalah!" Tetapi di dalam hati Erwin merasa, bahwa ia hanya dapat berkata tidak selalu mampu bersikap begitu. Beberapa jam yang lalu ia menangis seperti anak kecil di pusara Safinah.

    Sampai pagi tidak ada gangguan. Erwin dan Teuku sempat juga tidur.

    Tetapi keesokan paginya mereka sudah mendengar apa yang menjadi buah pembicaraan hampir semua orang Palembang. Kuburan Daud Ali dibongkar harimau. Perutnya dirobek dan seluruh isinya dikeluarkan. Cerita lain bersumber dari pengusaha dan istrinya yang melihat harimau besar berjalan dengan tenang walaupun ditimpa sinar lampu mobil. Hewan itu kemudian berubah jadi manusia yang berjalan tenang melalui mobilnya. Orang mengaitkan dua kejadian ini. Kuburan dibongkar dan harimau berubah bentuk jadi manusia. Tetapi banyak pula orang yang tidak mau mempercakapkan-nya, takut terjadi sesuatu yang tidak mereka ingini.

    Bukan hanya itu. Seperti api menjilat lalang kering tersiar berita bahwa Teuku Samalanga yang membunuh Daud Ali telah lenyap dari tahanan. Tidak ada petugas yang melihat. Kunci sel tetap utuh. Orang pandai itu bisa menghilang. Lalu dikaitkan lagi dengan kuburan yang dibongkar harimau dan harimau yang jadi manusia.

  • Kesimpulan sebagian masyarakat Palembang tidak menyimpang dari hukum akal. Teuku Samalanga menghilang dari tahanan, ke kuburan Daud, berubah jadi harimau, membongkar kuburan, merobek-robek dada dan perut mayat. Dia meninggalkan kuburan, lalu berubah jadi manusia lagi. Tidak ada yang menyebut-nyebut Erwin. Tidak ada.

    0odwo0

    EMPAT

    KANTOR Kepolisian tempat Teuku Samalanga tadinya ditahan yang paling sibuk. Dari yang berpangkat tertinggi sampai terendah membicarakan kelenyapan pembunuh yang telah diketahui punya profesi sebagai dukun. Dan bukan sembarang dukun. Telah banyak orang ditolongnya. Banyak orang yang menyesali mengapa ia sampai ditahan karena pembunuhan. Tetapi mereka juga yang berpihak kepadanya, karena ia membunuh bukan karena kesadisan, la membalas dendam karena adik kandungnya dibunuh oleh suaminya. Banyak pemuda, duda, bahkan sejumlah suami menyayangkan kematian Safinah. Mereka bukan hanya mengingini dirinya tanpa pernah berhasil, tetapi karena ia seorang asal Aceh. Dan gadis asli Aceh tidak banyak di kota mpek-mpek itu. Mereka tidak pernah tahu, apa sebab pengantin baru itu dibunuh suaminya. Tetapi mereka semua yakin, bahwa Safinah wanita bersih yang tidak dapat dibawa arus kegilalaan yang melanda sementara gadis, janda bahkan istri di jaman kian banyak manusia dikalahkan oleh syaitan.

    Beberapa anggota Polisi yang biasanya ganas terhadap tersangka yang belum tentu bersalah, merasa mujur sekali belum sampai menyakiti Teuku. Kalau saja ia sampai disiksa, boleh dikatakan pasti ia akan membalas. Boleh jadi isi perut mereka juga ikan dikeluarkan. Mungkin sebelum dikubur, boleh jadi juga dikeluarkan dari kuburannya untuk diperlakukan seperti Daud Ali yang bernasib sial itu.

    Tidak ada seorangpun petugas yang melihat Teuku meninggalkan

  • kantor itu. Tandanya ia punya ilmu perabun. Begitu keyakinan mereka. Adanya orang kedua tidak pernah mereka bicarakan, karena tidak pernah mereka lihat.

    Jejak-jejak harimau di pekuburan baru kali itu didengar dan dilihat penegak hukum dan masyarakat di Palembang. Berbondong-bondong mereka ke sana untuk melihat bekas telapak yang cukup jelas eh adanya hujan, walaupun hanya gerimis. Tanah diseputar kuburan masih berlumpur oleh galian, penimbunan dan penggalian kembali.

    Baru setelah kejadian itu masyarakat mengetahui dengan sangat keliru bahwa Teuku Samalanga seorang dukun hebat yang juga harimau jadi-jadian. Mereka tidak tahu tentang dua harimau piaraannya. Juga tidak tahu, bahwa sebenarnyalah dia manusia biasa dengan banyak ilmu, tetapi tidak pernah berubah jadi harimau.

    Cerita itu pun sampai semuanya ke telinga Teuku dan Erwin.

    "Maaf Teuku, karena ulahku Teuku jadi dituduh harimau jadi-jadian dan Teuku juga yang membongkar kuburan Daud Ali."

    "Jadi kau yang membongkar dan itu yang kau namakan membunuh dia sekali lagi? Mengeluarkan isi perutnya?" tanya Teuku.

    "Ya, karena dia membunuh adik Teuku yang tidak punya dosa itu."

    "Erwin, kau mencintai Safinah?"

    "Jangan tanya Teuku. Aku mohon jangan ditanyai," kata Erwin dan sekali lagi ia tidak kuat menahan airmata. la, yang begitu perkasa dan punya hati cukup tegar untuk mengoyak dada dan perut mayat, ternyata punya kelemahan manusia biasa. ^Karena dia pun sebenarnya manusia biasa, yang kadang-kadang jadi harimau. Diterimanya sebagai warisan dari ayahnya Dja Lubuk, karena ia cinta pada ayahnya itu. Tak mau menyedihkan hatinya.

    Erwin membawa Teuku yang dalam kesedihan dan kecemasan itu

  • ke rumah Mei Lan, karena ia berjanji akan kembali. Meskipun amat girang atas kedatangan Erwin, namun anak dan ayah itu tak terlepas dari keheranan, mengapa dan bagaimana Teuku Samalanga yang dihebohkan itu ada bersama Erwin. Mereka dapat melihat Teuku, karena Erwin membebaskan mereka dari kerabunan. Ada gunanya mereka melihat Teuku. Guna jadi alasan mengapa Erwin harus pergi lagi. Untuk mengurus sahabat terbaiknya.

    Meskipun tahu Teuku telah ditahan karena membunuh iparnya, dan tahu pula dari cerita yang sambung menyambung bahwa ia telah melarikan diri, bahkan jadi harimau, namun Mei Lan tidak menyinggung keanehan itu. Erwin senang atas kebijaksanaan Mei Lan. Mengetahui, bahwa pembunuh yang jadi buronan itu tentu dalam kekuatiran, Mei Lan dengan lapang hati mengijinkan Erwin menguruskannya, walaupun ia tidak tahu bagaimana cara mengurus harimau jadi-jadian yang mempunyai banyak kesalahan. Pengertian itu membuat Erwin terharu. Gadis ini bukan hanya sangat sayang, tetapi juga punya pikiran dewasa. Sekilas ia bertanya di dalam hati, apakah Mei Lan yang lain keturunan ini sebaiknya jadi istri? Barangkali dia inilah yang akan dapat menggantikan Indahayati yang tetap mencintainya dengan sepenuh kasih, walaupun sudah mengetahuinya, bahwa ia makhluk aneh yang kadang-kadang jadi harimau. Indah yang bersama anak mereka tewas oleh kejahatan Ki Ampuh, bukan takut kalau Erwin sedang mengharimau. la sedih, merasa kasihan. Tetapi dia tidak pernah berubah sampai kejahatan orang pintar dari Jawa itu merenggut nyawanya.

    "Abang akan kembali, kan?" tanya Mei Lan.

    "Tentu," jawab Erwin, malah menambahkan: "Mau kemana, kalau tidak kembali ke sini Lanny?" Dan gadis itu senang mendengar karena ia percaya.

    "Kita akan kemana?" tanya Teuku Samalanga setelah Erwin bersalaman dengan Mei Lan dan ayahnya.

    "Kita lewat dari depan rumah Teuku. Untuk melihat. Aku punya firasat bahwa di sana orang sedang ramai, karena satu regu Polisi sedang memeriksa di bawah pengepungan yang ketat. Dan apa

  • yang dikatakan Erwin, memang benar terjadi. Di depan rumah, di jalan raya dan di pekarangan tam pak kesibukan. Banyak orang, tua muda, laki-laki dan wanita. Juga banyak Polisi berpakaian dinas. Entah berapa banyak pula reserse yang berpakaian preman.

    "Kita lalu di sana E r?" tanya Teuku. "Ya, untuk mendengar apa yang mereka katakan!"

    "Tetapi, terlalu besar resikonya bagiku. Kau sendiri tidak apa-apa, karena kau tidak punya kesalahan."

    "Sebetulnya akulah yang salah. Aku yang membongkar kuburan, aku yang mengulangi pembunuhan atas orang yang sudah mati itu, aku yang mengeluarkan isi perutnya. Aku yang dari harimau berubah kembali jadi manusia. Teuku hanya korban dari kejahatanku!"

    "Jangan berkata begitu. Ilmumu yang sangat tinggi dan caramu yang selalu bijaksana membuat mereka salah duga. Pikiran mereka tidak bisa menjangkau kepintaran yang kau miliki Erwin. Mengkhayalkan pun tidak. Kalau bisa seperti kau, aku juga ingin jadi manusia harimau," kata Teuku Samalanga. Erwin senang mendengar, karena kata-katanya membuktikan, bahwa ia sudah mulai tenang dan dapat berkelakar walaupun dicampur keseriusan.

    Erwin dan Teuku bergabung dengan segerombolan masyarakat dan anggota Polisi berseragam di depan, di pekarangan, bahkan di dalam rumah. Yang melayani petugas-petugas keamanan hanya pembantu Teuku yang tinggal di sana bersama istrinya.

    Memed menceritakan, bahwa majikannya pada malam itu masih di sana, makan dan tidur di sana bersama sahabatnya Erwin. Tetapi pagi jam 10.00 itu Memed sudah tidak lagi melihat Teuku dan Erwin yang padahal juga ada di sana. Kekuatan ilmu era bu n yang dimiliki Erwin memang boleh dika-ta sempurna.

    Polisi hampir tidak percaya, tetapi Memed bersumpah-sumpah bahwa dia berkata sebenarnya. Juga bahwa majikannya itu baru pagi hari itu berangkat dari sana. Ditanya apakah ia mengetahui sebagai orang dalam bahwa majikannya itu kadang-kadang jadi

  • harimau, ia mati-matian mengatakan, bahwa kalau benar ia bisa begitu, maka ia belum pernah menyaksikannya dengan mata sendiri. Baru pagi itu ia mendengar cerita orang-orang. Baginya Teuku hanya manusia biasa. Memang dukun, tetapi dukun yang benar-benar dukun, bukan palsu atau gadungan yang menipu pasien-pasien yang justru sakit dan membutuhkan pertolongannya.

    Ketakjuban dan rasa hormat Teuku Samalanga terhadap si manusia harimau mencapai puncaknya, ketika dilihatnya Erwin terlibat percakapan dengan seorang perwira polisi yang sudah berpangkat Mayor.

    Kata Erwin: "Pak Mayor, saya kenal Teuku Samalanga. la tidak membantah bahwa dia membunuh Daud Ali. Sepanjang penilaian saya, dia melakukannya karena terpaksa, la turut mati bersama adiknya, sehingga mereka hapus dari dunia ini, atau dia membunuh laki-laki ganas itu. Dalam membela diri dan mempertahankan nyawanya tentu. Pak Mayor sudah melihat sendiri kemampuannya dan ketegaran hati di dalam dadanya, la mampu menggali kuburan dari orang yang sudah dibinasakannya karena menurut hematnya sekedar nyawa bayar nyawa tidak cukup. Daud perlu diganjar lebih berat, la telah melakukan itu. Kalau ia dikejar-kejar apalagi disiksa, saya kuatir akan terjadi hal-hal yang lebih mengerikan lagi/'

    "Anda siapa dan mengapa berkata begitu kepada saya?" tanya Mayor Karnadi. Erwin menerangkan, bahwa dia sahabat dekat Teuku Samalanga dan tahu bahwa Mayor Polisi Karnadi seorang perwira yang tegas tetapi baik hati. la tidak mau sampai terjadi hal-hal yang tidak diingini atas seorang penegak hukum sebaik Karnadi yang tidak terlalu mudah dijumpai pada masa ini. Keterangan Erwin termakan oleh akal perwira itu. la memang seorang penegak hukum yang baik dan berani. Tidak pernah mundur dalam melacak penjahat yang bagaimanapun. Dan ia belum pernah gagal.

    Dengan amat mengejutkan sang Mayor Polisi, Erwin: "Memang Pak Mayor belum pernah gagal. Saya tahu Pak Mayor orang berani yang tidak mau mengelak dalam mengemban kewajiban. Tetapi dalam kasus ini Pak Mayor bukan berhadapan dengan penjahat atau

  • manusia biasa. Saya sangat simpati pada Pak Mayor, maka saya beranikan diri berkata begitu. Bukan maksud saya mencampuri tugas dan panggilan hati Bapak. Maafkan, kalau kata-kata saya itu salah," kata Erwin dan ia pun hilang dari pandangan Mayor Polisi Karnadi. Tentu saja dia jadi sangat heran. Apakah orang ini juga semacam Teuku Samalanga yang bisa hilang dan bisa pula jadi harimau?

    Sambil memutar otaknya perwira Polisi itu meneruskan pemeriksaan di rumah Teuku Samalanga. Dia mulai berpikir, jangan-jangan Teuku itu pun ada di antara mereka. Bukankah dia dapat menghilang dari tempat ia dikurung tanpa tampak oleh seorang Polisi pun yang cukup banyak jumlahnya menjaga di sana. Ataukah Teuku bisa pula meru bah mukanya atau sekurang-kurangnya membuat orang melihatnya sebagai orang lain?

    Walaupun ia dukun terkenal, tidak ada barang-barang mencurigakan di rumahnya. Setengah jam kemudian Mayor itu memerintahkan anak buahnya pulang. Hanya menempatkan beberapa petugas berjaga-jaga di sana. "Kalau-kalau ia datang lagi," katanya.

    Tiga petugas Polisi yang berjaga-jaga di rumah Teuku merasa tidak enak hati, kuatir kalau orang Aceh yang bisa jadi harimau itu datang lalu membunuh mereka satu demi satu. Kemudian mengeluarkan isi perut mereka sebagaimana ia telah mengeluarkan isi dada dan perut mayat yang sudah dikubur.

    0odwo0

    Dengan kekuatan ilmu Tuan Syekh Ibrahim Bantani, dalam waktu singkat Erwin dan Teuku Samalanga sudah berada di rumah Teuku Abidin di Jambi. Paman dan kemenakan berangkulan. Teuku Samalanga menceritakan, bahwa apa yang terjadi adalah berkat kekuatan gaib yang ada di dalam diri Erwin. Dia sendiri sudah pasrah untuk diadili. Karena dia memang telah membunuh.

    "Pak" kata Erwin kepada Tuan rumah:

    "Teuku Samalanga bukan membunuh atas kehendak hatinya.

  • Dipaksa membunuh orang telah membunuh adiknya dan akan membunuhnya pula. Tiada ayat yang menitahkan agar kita menyerahkan nyawa kita secara sukarela kepada orang yang hendak membunuh kita. Saya rasa itu bukan hanya suatu kebodohan, tetapi juga suatu dosa jika nyawa yang hanya satu diberikan kepada orang sejahat dan sejahil Daud Ali."

    "Yatun menceritakan, bahwa ia melihat nak Erwin membongkar kuburan Daud lalu melakukan pembunuhan untuk kepuasan diri nak Erwin sendiri. Betulkah itu?" tanya Teuku Mahidin.

    "Kalau sudah Yatun berkata begitu, tentu betullah begitu/' jawab Erwin dan Tuan rumah tidak meneruskan pertanyaan mengenai peristiwa itu. Dia semakin tahu, bahwa Erwin benar-benar sangat tinggi dalam ilmu gaib yang tak dapat diuraikan dengan hukum akal, walaupun segala kekuatan di dunia ini sebenarnya dapat diusut asal mulanya dan mengapa mampu mencapai kedahsyatan yang begitu menakut dan mengherankan.

    "Sekarang apa rencana nak Erwin?" tanya Teuku Mahidin. "Kalau sudi tinggallah di sini selama belum bosan."

    Erwin menerima ajakan Tuan rumah, la ingin membantu Teuku seberapa bisa, tetapi ia belum punya ijazah untuk menurunkan ilmu, sekedar menambah yang amat diperlukan Teuku Samalanga.

    "Bolehkah aku mengikutmu saja Erwin. Mengembara seperti kau. Aku sudah tidak punya siapa-siapa selain pamanku ini. Kedua adikku sudah tiada," tanya Teuku. la ingat dan sangat sedih, tetapi tanpa airmata. Pada Menora yang bunuh diri karena diperkosa Husni dan pada Safinah yang dibunuh oleh suaminya yang menuduh dia melakukan perbuatan terlarang yang sama sekali tidak pernah terjadi.

    "Jangan," kata Erwin. "Teuku manusia biasa yang penuh ilmu. Akan kucoba memanggil ayahku. Aku hanya makhluk tidak normal seperti yang telah Teuku ketahui."

    0odwo0

  • LIMA

    SUARA orang memberi salam membuat Teuku Mahidin pergi ke pintu depan. Dia mempersilakan tamunya masuk. Setelah orang itu di dalam, Erwin langsung menubruk dan mencium tangan.

    "Amang," katanya. Dan orang itu mengelus-elus rambutnya, membuat Teuku Mahidin dan kemenakannya keheranan. Yang datang itu tak lain daripada Dja Lubuk dalam keadaan seperti manusia utuh. Jelas tua dengan misainya yang putih bersih, mata tajam menghias wajahnya yang tampan penuh wibawa.

    "Inilah ayahku," kata Erwin. "Telah sejak lama kudengar kebesaran Tuan," kata Teuku Mahidin. "Pertemuan yang tidak kuduga ini sangat membahagiakan."

    "Tak Tuan duga, karena aku dipanggil secara mendadak oleh anakku Erwin. Biasanya Tuan tahu apa yang akan terjadi. Walaupun Tuan tidak biasa mereklamekan diri, tetapi banyak di antara orang-orang yang mengenal nama dan ingin berkenalan dengan Tuan. Oleh karenanya aku merasa beruntung dapat berhadapan langsung dengan Tuan. Aku juga merasa berhutang budi kepada Teuku-Teuku berdua, yang telah menyukai dan menyayangi anakku. Karena kita sudah seperti satu keluarga, tak ada buruknya kalau kita bicara terbuka. Kepada Teuku Samalanga yang abang langsung almarhumah Safinah, aku menyatakan sangat bersedih atas musibah yang menimpa dirinya. Sekaligus juga menimpa diri Erwin. Sudah pernah diceritakannya tentang cintanya kepada adik Teuku, tetapi dia tidak berani berterus terang, karena kuatir akan beban hati yang akan dipikulnya. Tindakannya atas kuburan Daud Ali adalah suatu pelampiasan sakit hati yang seharusnya dapat dibendung. Tetapi tiap manusia punya kelemahannya, apalagi yang sekedar makhluk tak menentu seperti kami," kata Dja Lubuk merendahkan diri. Dan berterus terang. "Tidak kuceritakan pun Teuku Mahidin akan atau sudah tahu bahwa aku dan anakku dan ayahku semuanya hanya setengah manusia!" Mendengar ini Erwin yang akhir-akhir ini selalu mencurahkan air-mata, kembali tak dapat

  • membendung duka citanya, la menangis, tanpa mengeluarkan suara.

    "Kuharap jangan berkata begitu. Tuan Dja Lubuk. Segala kekurangan yang pasti ada pada tiap insan yang hamba Allah pasti ada gunanya atau ada penyebabnya. Tiada lain karena Tuhan itu Maha Adjl dan Maha Penyayang. Tiada kebencian pada Tuhan, tiada sifat membalas pada Nya. Orang tidak boleh melihat suatu kenyataan hanya secara lahiriah sehingga ada manusia yang di dalam hatinya lalu menyesali Tuhan. Lalu ber emosi dengan keluh an "mana Keadilan Tuhan? Mana kasih sayang-Nya. Padahal didalam hal atau kenyataan yang menyedihkan itulah letak keadilan dan kemahapenya-yangan Allah. Orang mudah menyebut Allah, padahal sebenarnya tidak atau sangat kurang mengenal Nya. Orang mengadu dan memohon kepada N ya Kepada yang kurang atau tidak dikenal. Orang berdoa tanpa mengetahui dan memenuhi syarat-syarat dalam berdoa. Syarat-syarat itu sebenarnya mudah, tetapi orang tidak mau sungguh-sungguh mempelajarinya!" kata Teuku Mahidin yang rupanya punya ilmu mendalam tentang agama dan berusaha mendekatkan diri pada Tuhan yang pasti ada dan dapat dibuktikan tentang ada-IMya.

    "Tuan, ahli agama, layak disebut guru besar," kata Dja' Lubuk. Tetapi orang Aceh itu menjawab, bahwa apa yang telah diketahui dan dikuasainya baru ibarat setitik air di telaga. Biasa, orang yang benar-benar berilmu selalu merendahkan diri. Orang yang berpengetahuan hanya secuil jugalah yang selalu ingin dipandang sebagai orang sangat pandai.

    Dja Lubuk menerangkan, bahwa ia datang atas panggilan Erwin yang ingin menyelamatkan Teuku Samalanga dari penangkapan pihak yang berwajib. Erwin belum mempunyai hak untuk menurunkan apa yang dimilikinya. Dja Lubuk meminta Erwin mengantarkan sahabatnya itu ke Muara Sipongi untuk menimba sedikit ilmu dari Tuan Syekh Ibrahim Bantani.

    "Tuan baik sekali," kata Teuku Mahidin sambil menyatakan, bahwa ia ingin berbuat apa saja yang mungkin dilakukannya untuk

  • membalas budi ayah dan anak itu.

    "Bapak Dja Lubuk," kata Teuku Samalanga, 'bolehkah orang luar Mandailing menuntut ilmu untuk sewaktu-waktu diperlukan bisa berubah jadi harimau?"

    Dja Lubuk tertawa. Diterangkannya, bahwa kalau sekiranya ada ilmu untuk itu, maka ia sudah pasti tidak memilikinya, la, ayahnya dan anaknya menjadi makhluk yang secara mudah dikatakan orang "manusia harimau" bukan dari mempelajarinya, tetapi menerimanya sebagai warisan turun temu run.

    Teuku Mahidin memandang Erwin, lalu menge-uarkan apa yang terlintas menjadi pertanyaan di dalam hatinya. "Bagaimana dengan Erwin kelak Tuan Dja Lubuk?"

    Kini manusia harimau yang bangkit dari kuburannya di Mandailing itu memandang anaknya. "Sebenarnya terserah kepada yang harus menerima warisan!"

    "Ijinkan aku bertanya," kata Teuku Mahidin lagi. "Apakah itu berarti, bahwa yang jadi pewaris dapat menolak?"

    Diterangkan oleh Dja Lubuk, bahwa penolakan boleh saja. Boleh jadi karena malu untuk jadi penerus, mungkin juga karena takut. Malu, karena kelainan dari manusia normal itu sama sekali bukan suatu kehormatan. Takut, karena manakala di tengah orang ramai berubah ujud, mungkin akan dikeroyok dan dibunuh oleh orang banyak. Penolakan bukan tidak ada resikonya. Bahkan sudah pasti akan ada buntutnya. Diceritakan oleh orang berilmu gaib sampai setelah kematiannya itu, bahwa sampai sekarang di perbatasan Mandailing dengan Pasaman masih ada seorang laki-laki yang mukanya persis harimau. Menakutkan. Tetap begitu, siang dan malam. Dia tidak pernah berubah rupa, tetapi menyandang muka harimau. Selebihnya manusia biasa. Dia sekolah, sampai tamat sekolah menengah tingkat pertama, la dijauhi oleh kebanyakan kawan-kawannya, karena jijik. Ada yang karena takut. Tetapi ada anak-anak bengal yang berani menyoraki dan menghinanya, karena tahu bahwa dia tidak akan melakukan perlawanan, la tahu akan

  • kelainan dirinya dan tahu diri pula. la menerima segala nista dan cerca. Sambutannya hanya kata-kata lembut, bahwa rupanya itu bukan buatannya. Su dah nasib maka ia jadi begitu, tetapi dia tidak akan menyusahkan siapa pun. Dan sampai ia dewasa memang Darwis tidak pernah mengganggu sesama manusia. Dan oleh kemahaadilan dan kemahasayangan Tuhan kepada hamba-Nya, Darwis pun dapat jodoh. Beristri dan sudah punya anak empat orang, ketika penulis mengunjungi dan mendengar ceritanya. Yang ada dihati penulis hanya rasa kasihan. Entah mengapa ia menolak. Andaikata dia menerima, maka ia akan jadi seperti Erwin. Belum tentu akan seperti Dja Lubuk dan Raja Tigor yang punya segudang ilmu sehingga mampu bangkit lagi setelah dikuburkan. Bukan untuk menyusahkan manusia, tetapi juga berkali-kali terpaksa mengamuk dan membunuh, karena Erwin yang anak dan cucu mereka diperlakukan tidak adil. Manakala ia dianiaya dan hendak dibunuh.

    "Siapakah Tuan Syekh Ibrahim Bantani itu?" tanya Teuku Hamidin.

    "Orang pintar dari Banten yang terkenal mempunyai banyak cendekiawan dibidang ilmu gaib. Meskipun ia sangat pandai, ia masih ingin mengenal dan belajar lebih banyak. Itulah yang membawanya ke Mandailing, la melihat banyak persamaan, tetapi juga banyak yang berbeda. Di sana dia belajar dan mengajar, menerima dan memberi. Ditakdirkan Tuhan dia tutup usia di sana, di sebuah kampung tak lauh dari Muara Sipongi dan dikebumikan di sana." Teuku Mahidin mengajukan rupa-rupa pertanyaan dan akhirnya meminta supaya dia juga boleh ikut ajar kepada orang hebat dari Jawa itu. "Kurasa tidak usah," kata Dja Lubuk. "Teuku sudah mempunyai sangat banyak. Bahkan mempunyai pesuruh yang anak kecil Yatun itu." Mendengar ini Teuku Mahidin merasa kagum atas kepintaran Dja Lubuk, la begitu banyak tahu. Mengetahui yang rasanya tak masuk akal akan sampai diketahuinya.

    Tiba-tiba saja anak perempuan kecil yang membawa Erwin dari pinggir kota ke rumah Teuku Mahidin telah hadir di sana, mencium tangan Dja Lubuk lalu duduk bersimpuh, la tahu bahwa ia

  • berhadapan dengan orang-orang sangat pandai, sementara dirinya sendiri hanya seorang pesuruh yang melakukan segala apa yang diperintahkan Teuku Mahidin kepadanya. Tingkah lakunya seperti kanak-kanak biasa, sehingga bagi orang yang tidak mengenal apa dia sebetulnya pastilah akan menyangka bahwa ia tak lebih daripada seorang anak seperti anak-anak lainnya.

    "Setelah Teuku bertemu dengan Tuan Syekh, insya Allah Teuku tidak akan dikenal lagi oleh hamba hukum yang ditugaskan menangkap Teuku.. Satu saja pantangnya, yang Teuku tentu selalu mengamalkannya. Jangan Takabur dan sombong. Sebab yang Maha Kuasa hanya Tuhan jua!" kata Dja Lubuk. Kepada anaknya dia berpesan untuk menyampaikan salam hormatnya kepada Tuan Syekh.

    "Aku mohon diri sekarang," katanya kepada Tuan rumah lalu bangkit memberi salam, la menuju pintu, dipandangi oleh semua yang tinggal, sebab ia minta supaya jangan diantarkan. Dari jarak beberapa meter, ketika Dja Lubuk sudah tiba di ambang pintu Teuku Mahidin mohon agar manusia harimau itu sudi sesekali mampir berbincang-bincang. Dja Lubuk me-lnsya Allah kan tanpa menoleh, sebab sebaiknya ia tidak menoleh lagi. Ketika menuruni tangga ia pun raib.

    Yang tinggal saling pandang. Teuku Mahidin juga yang memecah kesepian: "Ayahmu hebat sekali Erwin. Aku beruntung bisa berhadapan dengan beliau. Dan aku akan tambah beruntung lagi manakala boleh bertemu dengan kakekmu Raja Tigor!"

    Di ruangan itu seperti bertiup angin, disusul oleh suara: "Sejak tadi aku hadir di sini. Mengikuti pertemuan kalian yang sangat berkesan. Pada suatu hari nanti kita bertemu Teuku Mahidin. Kini aku mau pergi menyusul anakku sebab dia pasti menunggu kedatanganku. Kami mau sama-sama kembali ke Mandailing." Terdengar langkah-langkah menuju pintu. Mereka semua tahu, bahwa itulah Raja Tigor yang oleh berbagai sebab yang hanya dia mengetahui, belum mau memperlihatkan diri. Sesuai dengan pesan ayahnya, Erwin dan leuku Samalanga berangkat sehabis magrib. Dja

  • Lubuk juga menyuruh mereka berjalan kaki. Tidak menumpang kendaraan, juga tidak secara gaib.

    Ketika Erwin menoleh, Erwin jadi agak terkejut oleh kehadiran dua harimau mengikuti mereka. Seekor loreng dan yang lainnya hitam pekat, milik Tuan Syekh. Seolah-olah ditugaskan untuk mengawal Erwin dan sahabatnya.

    Setelah menyerahkan Teuku kepada Tuan Syekh, manusia harimau itu mohon diri. Berpesan guru besar dari Jawa itu: "Ingat, masih banyak bahaya menghadangmu. Tabahkan hati, kuatkan iman. Turutkan kehendak kakimu!" Setelah mencium tangan Tuan Syekh, anak Dja Lubuk keluar dari taman impian yang hanya tampak oleh mereka yang boleh melihatnya.

    Dengan sebuah bis Erwin kembali ke arah Selatan, menuju kota Bukittinggi dimana ia menginap tiga malam untuk tidur di ngarai tanpa tikar dan selimut. Sudah sejak lama ia mendengar tentang kehadiran seekor ular di sana, panjangnya melebihi li mabelas meter, sudah bertahun-tahun tidak kelihatan, tetapi menurut orang-orang yang percaya dan mungkin mengetahui masih ada di sana. Beberapa penduduk kampung Sianok dan Koto Gadang pernah didatangi dalam mimpi sekedar memberitahu bahwa ia masih bermukim di sana dan berpesan agar jangan sampai melakukan pembakaran guna menghindari akibat yang tidak akan menyenangkan. Di jaman pendudukan Jepang, jelas ada tiga orang serdadu Jepang yang turun ke ngarai itu tidak pernah kembali. Bukan karena menuruni ngarai, tetapi karena mereka turun untuk mencari si ular raksasa yang tidak mereka percayai ada di sa-na Konon terdengar beberapa banyak letusan, karena ketiga serdadu itu membawa senjata, termasuk sebuah senapan mesin ringan dan cukup banyak granat. Letupan-letupan granat juga terdengar oleh ] masyarakat di atas lembah bersungai itu. Pada ke- 1 esokan paginya ada beberapa penduduk Sianok yang masih melihat ular amat besar itu bergerak pelan ke suatu tempat di dinding ngarai, berhutan agak lebat. Kata orang hutan itu berfungsi sebagai penutup lobang yang menghubungkan ngarai dengan danau Singkarak yang terletak

  • indah di pinggir jalan raya antara Padangpanjang dengan Solok.

    Erwin mau menghabiskan waktunya tiga ma- I lam kedinginan, karena ingin memiliki geliga yang dapat diberikan ular itu melalui ludahnya, la tahu bahwa kalau bertemu dengan ular itu mungkin ia akan tewas disamping kemungkinan binatang itu dapat dijadikan teman, karena Erwin tiada maksud buruk. Sebenarnya ia sudah tidak membutuhkan geliga yang katanya akan membuat semua musuh gentar dan tak kan berani menyusahkan dirinya. ! Dengan ilmu yang sudah dimilikinya, lebih-lebih setelah diisi lagi oleh Tuan Syekh Ibrahim Ban tani ia akan berani menghadapi siapa atau apa pun yang akan menjahilinya. Tetapi mengingat peringatan ayah, ompung dan Tuan Syekh sendiri bahwa masih sangat banyak bahaya menghadang dirinya, maka ia ingin memperkuat benteng dengan geliga yang banyak jadi sebutan itu. Dua malam menahan di ngin tanpa hasil membuat Erwin mulai hilang harapan. Tidak ada suatu tanda pun tentang kehadiran seekor ular besar di sana. Tetapi ia mau mencukupkan sampai tiga malam. Setelah itu ia akan menganggap bahwa kisah itu hanya isapan jempol. Hanya mau dijadikan dongeng kanak-kanak yang mengasyikkan.

    Tetapi ketika ia pada petang hari turun ke tempatnya menanti untuk tidur malam terakhir, ia terkejut melihat tanah yang akan tenggelam seperti parit besar yang tidak seberapa dalamnya. Ranting-ranting pun banyak berpatahan. Dan parit itu panjang sekali. Dia menye lu surinya, sehingga sampai ke dinding tebing yang berhutan agak lebat itu. la mau meneruskan, karena penasaran tetapi satu suara yang amat dikenalnya, suara Syekh Bantani melarang. "Jangan kau langgar kawasannya Erwin. Yang satu ini tak terlawan olehmu dan oleh kita beramai-ramai sekali pun." Erwin mundur sementara hari sudah gelap.

    Ketika ia mau merebahkan diri dengan harapan alau kalau ular itu keluar dari daerah miliknya, ia jadi terkejut sekali, karena di hadapannya jelas ada tiga orang serdadu berpakaian seperti tentara Jepang yang dilihatnya di gambar-gambar perang Asia Timur Raya. Tiba-tiba ketiga serdadu itu menjerit-jerit, lalu hilang.

  • Erwin hanya bisa menduga, bahwa ketiga serdadu itulah roh Jepang yang hilang tahun 1943 di sana. Badan mereka sudah berpindah ke perut ular yang menguasai kawasan itu. Barangkali ia sekedar mau memperlihatkan kebesarannya. Bagaimanapun hebatnya Jepang di waktu itu, dapat menaklukkan

    Malaya, Filipina, Singapura dan Indonesia dalam waktu sangat cepat, mereka jangan coba-coba menentang dirinya.

    Kekuasaannya itu memang dibuktikannya pada awal tahun 1944 ketika penguasa Jepang di sana mengirim selusin tentaranya untuk mencari ketiga serdadu yang hilang itu. Ini pun semuanya tidak kembali. Penasaran, seorang Mayor Jepang mengepalai satu pasukan lagi dengan membawa senjata berat. Yang mereka temukan duabelas mayat yang sudah hampir lumat. Tewas karena diremukkan oleh ular yang merajai ngarai itu.

    0odwo0

    ENAM

    ERWIN merasa bahwa ia tidak akan mungkin bertemu dengan ular raksasa yang telah datang lalu pergi lagi dengan hanya meninggalkan bekas tempat ia berlalu, la sudah mendengar dan akan mematuhi seruan Tuan Syekh Ibrahim Bantani, bersiap untuk meninggalkan ngarai yang tidak mau menerima kedatangannya. Tetapi begitu ia melangkah terdengar olehnya suatu resekan dari semak-belukar yang diperkirakan menutupi lubang pertapaan sang raja ular. la memandang ke sana, rasa takut dan ingin tahu bercampur menjadi satu. Kemudian tampak olehnya dua lampu besar berwarna hijau memancarkan cahaya berkilauan. Walaupun ia tidak biasa mengenal kalah tanpa bertarung, sekali ini kakinya tidak dapat digerakkan, la terus mamandangi cahaya itu. Mata sang ular sakti, la mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, sehingga jelas tampak oleh Erwin. Seperti memperlihatkan diri. Semacam suatu show untuk Erwin bahwa cerita tentang dirinya bukan dongeng, la tidak suka kenyataan diceritakan sebagai dongeng kelak. Biar Erwin

  • menyampaikan kepada masyarakat sekitar, bahwa ia benar-benar ada. Dan ia memperlihatkan diri kepada sang manusia harimau, supaya makhluk itu tahu bahwa ada yang tak kalah hebatnya dari dia.

    "Berilah aku sesuatu Maharaja," pinta Erwin. Untuk jadi kenangan, bahwa aku telah benar-benar bertemu dengan Tuan. Bagaimana aku harus mengucapkan terima kasih atas kebaikan budi Tuan ini. Maharaja." Sorot mata ular itu berubah jadi redup, tetapi tetap memancarkan sinar terang. Erwin berharap sang Maharaja mengatakan sesuatu, tetapi ular itu hanya menggelengkan kepala, mungkin sebagai isyarat mengatakan bahwa ia tidak dapat berkata-kata, karena ia bukan manusia ular. Berlainan dengan Erwin yang manusia harimau.

    Pelan-pelan ia merendahkan kepalanya kembali, lalu sorotan itu pun hilang. Meskipun ular itu telah raib, Erwin tetap saja berdiri di sana, seolah-olah belum puas dengan apa yang telah nyata-nyata disaksikannya dengan mata sendiri.

    Dengan langkah gontai tetapi hati puas ia berjalan, melalui batang air yang hanya sedalam mata kaki hingga lutut, la mendaki jalan, maksud hati dari atas ngarai akan ke Aur Tajungkang. Hawa dan angin yang menusuk tulang sudah tak terasa olehnya. Apakah ia satu-satunya makhluk yang pernah melihat Maharaja ular itu? Tentu tidak. Tetapi mungkin yang melihat, mati kejang karena terkejut dan takut. Serdadu-serdadu Jepang yang hilang dan bergelimpangan mayatnya di sana tentu pernah melihatnya, tetapi tak sempat membawa cerita karena tidak diberi kesempatan untuk itu.

    Ketika ia melalui panorama, darimana orang pada siang hari atau terang bulan dapat menikmati ih mandangan yang indah, terdengar olehnya langkah-langkah di sampingnya. Ketika ia menoleh batulah diketahuinya bahwa ayahnya Dja Lubuk teluh berada di sampingnya.

    "Kau beruntung telah melihatnya. Aku pun telah turut beruntung. Sekali ini aku menumpang mujur, karena dia sebenarnya hanya

  • memperlihatkan diri kepadamu. Itulah satu pertanda dan bukti igi tentang kebesaran Tuhan. Suatu bukti bahwa Tuhan mempunyai kesanggupan yang tidak terbalas. Dan hanya Dialah yang memiliki ketidakterba-tasan itu. Malaikat tidak, nabi pun tidak. Apalagi kita yang hanya makhluk-makhluk hampir tidak bermakna," kata Dja Lubuk. Selalu arif, selalu bijaksana memilih kata-kata yang paling tepat. Yang tak tersangkal kebenarannya.

    "Ayah, bagaimana caranya mencari dan mendapatkan ketenangan di dalam hidup? Kadang-kadang sangat meletihkan. Rasanya tidak kuat lagi," tanya Erwin.

    "Tiada ketenangan bagi siapa pun yang masih menghadapi dan turut dipengaruhi atau mempengaruhi berbagai arus di permukaan bumi ini. Sebab tiap orang terlibat di dalamnya. Maksud amang, ketenangan tanpa gangguan. Bagaimanapun kecukupan, bahkan kaya rayanya seseorang dengan keluarga yang semuanya sangat bahagia dan mencintainya pada waktu-waktu tertentu ketenangannya pasti terganggu. Entah oleh anak yang mendadak berubah tingkah. Katakanlah oleh pengaruh lingkungan. Bisa juga seorang istri setia atau suami jujur tergoda oleh orang lain, diluar perkiraannya semula. Ada suatu kekuatan yang merobohkan kesetiaan. Di antaranya termasuk iblis atau setan yang selalu pegang peranan. Sudah selalu kuceritakan kepadamu, bahwa iblis memang punya tugas untuk menggoda manusia, menguji keimanannya. Yang terkalahkan oleh iblis pasti orang yang belum kuat imannya. Itulah gunanya orang mengamalkan ajaran agamanya, di antaranya i m a n di dalam dirinya."

    Erwin bertanya apakah semasa hidupnya sang ayah juga banyak mengalami ketegangan, gangguan dan penderitaan.

    "Bukan hanya semasa hidup, setelah mati pun aku masih seperti ini. Orang wajar tidak seperti aku dan ompungmu. Yang tidak pernah mati hanya roh manusia. Yang namanya tubuh atau kerangka, tempat kedudukan hayat selagi masih hidup, akan habis dimakan bumi. Dia menjadi tanah, karena asalnya pun dari tanah jua. Hanya tulang-belulang yang tinggal, bisa berumur sampai

  • ratusan bahkan jutaan tahun. Sampai sekarang masih ditemukan sisa-sisa tengkorak manusia purba dari jutaan tahun yang silam Tetapi aku tidak hanya tinggal roh. Kau lihat amangmu ini. Bisa kau raba, bisa memeluk dan dipeluk, mencium dan dicium. Bisa bicara, seolah-olah ia tidak mati, padahal ia sudah pernah mati. Apakah aku hidup kembali? Tidak, tetapi sewaktu-waktu aku bangkit dari kematian itu," kata Dja Lubuk. Tenang, jelas bagaikan uraian guru kepada murid. Dan Erwin mendengarkan dengan airmata membasahi pipi. la begitu sedih dan terharu.

    "Kuteruskan tentang ketenangan yang tidak pernah abadi bagi manusia yang masih hidup. Suaml istri yang kaya raya, tidak kekurangan suatu apa pun. Dengan anak-anak yang manis. Baik rupa maupun perangai. Yang kesemuanya sangat men-i intai orang tua dan mendapatkan limpahan kasih yang tiada taranya. Pada suatu saat Tuhan memanggil salah seorang anak atau si ayah atau ibu untuk pulang, karena masanya hidup di dunia sudah berakhir. Kau dapat membayangkan, bagaimana pedih perasaan dan sedih hati orang yang diting-lialkan, yang sebenarnya tidak mau berpisah dengan yang pergi, padahal mereka semua tahu, bahwa perpisahan itu pada suatu ketika pasti datang. Itu sudah suatu kemestian karena begitulah janji Tuhan pada saat seorang insan yang hanya hamba Allah diberi kesempatan hidup di dunia. Tuhan memberinya akal, kekuatan dan kelengkapan lainnya. Tuhan menyediakan agama untuk dihayati lan diamalkannya. Memberi janji bagi tiap hamba-Nya yang baik, bahwa ia akan mendapat imbalan indah yang abadi untuk dunia lain yang abadi."

    Apa yang dijelaskan Dja Lubuk sangat meresap ke dalam hati, walaupun sebagian daripadanya bukan hal-hal yang belum diketahuinya. Terpikir olehnya, kalau yang tinggal dari orang mati hanya roh, sementara ayah dan kakeknya dapat mengun lunginya dalam wujud bernyawa dan bertubuh bia a, untuk apa kedua orang yang dicintainya itu melakukannya? Apakah karena permintaannya yang dikabulkan ataukah oleh suatu penentuan nasib yang tidak dapat diingkari. Apa yang dipikirkan Erwin diketahui oleh Dja Lubuk, sebagaimana ia dalam banyak hal dapat membaca pikiran orang,

  • yang juga menurun kepada anaknya itu.

    "Aku bisa bangkit lagi dari kematian bukan karena aku menghendakinya. Tetapi karena penentuan. Oleh penentuan ini aku dapat menemuimu kalau perlu. Andaikata aku tidak ditakdirkan bisa bangkit lagi dalam wujud seperti sekarang tentu aku tak mungkin lagi bersua dan berkata-kata dengan kau Erwin."

    "Dan menyelamatkanku dari segala bencana/' kata Erwin menambahkan, karena ayahnya sengaja tidak mau menyebutkan kenyataan itu.

    Erwin diajak ayahnya kembali ke panorama yang terletak di bibir ngarai mengambil tempat duduk di sebuah bangku yang sengaja disediakan di sana bagi para pengunjung untuk menikmati keindahan alam. Dan bagi mereka yang hendak menikmati duduk berdampingan dengan kekasih di tengah suasana teramat menyenangkan yang hanya Tuhan mampu menciptakannya.

    "Pada waktu menjelang fajar atau senja cantik sekali di sini, Er," kata Dja Lubuk. Seperti manusia biasa. Kalau orang melihatnya pada waktu itu, takkan ada yang mungkirynenyangka, bahwa ia manusia harimau. Lebih-lebih, tidak akan ada yang menduga bahwa ia manusia telah meninggal yang bangkit dari kuburnya. Kalaupun dikatakan demikian masih sulit mencari manusia yang mau percaya. Padahal suatu kenyataan.

    "Ayah, mengapa orang-orang lain tidak bangkit lagi setelah meninggal?"

    "Karena mereka tidak menyimpang dari yang wajar. Tetapi pasti ada orang-orang lain yang seperti aku dan kakekmu. Dan Datuk nan Kuniang. Begitu pula Tuan Syekh Ibrahim Bantani. Sudah tentu ada lagi yang lain, yang tidak kita kenal. Mayat-mayat yang ditakdirkan bisa hidup kembali lalu bangkit dari kuburnya, mendatangi tempat atau orang-orang tertentu bukan hanya terjadi di negeri kita, tetapi juga di barat. Aku dulu mendengar cerita, bahwa kuburan Belanda tidak pernah ada hantunya. Yang berhantu hanya kuburan orang Islam. Aku heran, tetapi semula aku percaya. Ternyata itu tidak

  • benar, kuburan Belanda juga ada hantunya. Dalam perantauan aku pernah sampai ke kota Pangkalan Brandan. Ketika melalui kuburan Belanda, aku ingat betul malamnya malam Minggu. Kulihat ada asap mengepul dari daerah pekuburan itu. Jelas kelihatan karena hari sedang terang bulan. Juga ada suara anjing melolong panjang dari sana. Karena aku tidak lekas takut dan ingin tahu, maka aku mendekati kuburan yang sekelilingnya ditanami bambu. Memang benar dari sebuah kuburan ada keluar asap berwarna kuning yang menjulang cukup tinggi. Tidak ada api. Kucoba mencari anjing yang melolong. Tidak ada. Agak lama aku mengintai. Sampai asap itu menipis dan merendah, lalu hilang. Kupikir habis sampai sekian. Kiranya belum. Dari kuburan itu, keluar manusia. Seorang wanita bergaun putih. Mukanya pun putih seluruhnya, seputih gaun yang dikenakannya!

    Erwin mendengarkan dengan penuh perhatian, walaupun ia sudah menemukan berbagai macam pengalaman yang sangat muskil di masa lalunya yang belum mencapai tiga puluh tahun.

    "Amang, bahaya apa lagi yang akan menghadang diriku? Aku bukan takut, tetapi kalau boleh lebih suka hidup tanpa terlalu banyak ketegangan. Apakah tidak mungkin begitu Amang?"

    "Sudah kukatakan tadi mengenai ketenangan hidup!" kata Dja Lubuk. Setelah diam sejenak ia berkata pelan, "Aku mencium peristiwa yang tidak kita harapkan Erwin."

    "Oh, kau hebat orang tua," kata satu suara yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka, la bersama seorang kawannya.

    "Koto, kau mencium bau aneh?" tanya yang seorang.

    "Ya, aku tak tahu apakah penciuman kita sama. Tetapi aku mencium bau harimau. Apakah berani harimau datang ke sekitar sini?" Suara orang itu menyindir. Dja Lubuk dan Erwin tahu, bahwa merekalah yang disindir. Mereka yang dimaksudkan. Kata-kata itu menjelaskan, bahwa yang datang berdua itu bukan manusia seperti manusia lainnya. Paling sedikit manusia berkepandaian tinggi.

    Erwin dan ayahnya diam tidak menyahuti. Mereka harap kedua

  • orang berilmu tinggi itu berlalu saja, karena yang sedang duduk-duduk di sana bukan orang-orang iseng yang mencari lawan.

    Tiadanya sambutan membuat kedua pendatang yang berpakaian serba hitam itu malah penasaran.

    "Aku rupanya salah sangka Koto," kata yang seorang, "bukan bau harimau cuma bau cirik (kotoran) kucing." Mendengar itu telinga Erwin yang duluan merasa merah. Itu suatu penghinaan. Sudah pasti. Kedua orang padat berisi ini tentu orang-orang kenamaan di lingkungan Bukittinggi, bahkan mungkin di seluruh Minangkabau. Tetapi sikap mencari musuh yang mereka perlihatkan telah merupakan pertanda, bahwa orang-orang ini juga tergolong orang yang sombong dan barangkali juga takabur.

    Berkata Dja Lubuk dengan tenang, "Kami hanya menumpang duduk di tanah Tuan-tuan yang amat subur dan indah ini. Kami menyampaikan hormat kami, kami memanglah hanya sehina yang Tuan-tuan katakan. Tidaklah pantas kami kecil dan hina ini menjadi lawan Tuan-tuan!"

    Yang dipanggil dengan Koto menyambut Tuek, orang-orang ini menyindir kita. Pura-pura merendahkan diri, tetapi sebenarnya menantang dengan cara mereka. Mereka masuk tanah kita tanpa ijin, kurang ajar pula, apakah kita biarkan mereka pergi tanpa suatu cenderamata?" Tanpa menunggu jawaban si Datuek (datuk). Koto melompat dengan kaki melayang di udara menuju muka Dja Lubuk. Suara celananya yang berselengkang lebar khas jago-jago pencak dan silat Minang memecah kesepian. Kasihan, maksudnya tidak kesampaian. Tanpa menggeser duduk. Lubuk mengangkat tangan kanannya menolak tendangan maut yang ditujukan pada dirinya. Karena sambutan ini tidak disangka sama sekali oleh Koto, maka terkejut dan terjengkang ke belakang. Tetapi tidak terhempas, la putar badan ke arah kiri, tangan kanan menyentuh tanah dengan sangat ringannya dan tubuhnya sudah berdiri tegak lagi, siap untuk serangan kedua.

    "Inyo barani malawan Tuek. Rupo-ruponyo ngarai mananti bangkai!" kata Koto dengan sombong, tetapi sudah menilai agak lain

  • terhadap orang yang dikatakannya akan jadi bangkai guna makanan ngarai.

    0odwo0

    TUJUH

    KOTO bersiap dengan kedua kaki d ipentangkan lebar tetapi sebagai terpaku di bumi dan berkata lantang, "Apa lagi, berdirilah. Lebih terhormat tewas dalam bertarung daripada mati konyol indak malawan," Koto mencampur aduk bahasa Indonesia dengan dialek daerahnya.

    "Jangan, Tuan," kata Dja Lubuk lembut. "Kami kemari untuk menikmati alam Tuan yang milik Allah, bukan hendak mengadu nyawa. Tuan lihat, aku sudah terlalu tua sementara anakku ini masih terlalu hijau bagi Tuan-tuan!"

    Tetapi kata-kata halus ajakan damai tidak menggugah hati Koto dan Datuk untuk mengurungkan maksud. Malah Koto berkata keras, "Kucing busuk. Kok indak ka malawan kan tidak menepis tendanganku!"

    "Tapi Tuan sendiri mengatakan, bahwa yang begitu namanya mati konyol yang sangat hina!" sahut Dja Lubuk. Tidak kasar, tetapi dengan suara datar. Tidak lagi selembut tadi.

    "Kok baitu, malawan namonyo. Indak salah den lai," hardik Koto yang menuduh Dja Lubuk melawan dan tidak salahnya lagi bertindak.

    Tetapi apa yang tidak diduga Koto, Datuk, dan bahkan Dja Lubuk telah terjadi dalam waktu kurang dari sepersepuluh detik. Erwin melompat tanpa mengambil ancang-ancang dan tendangannya telak mengenai muka Koto yang sedang bersiap untuk menyerang Dja Lubuk. Tidak ada waktu untuk mengelak, bahkan tidak mendapat waktu untuk melakukan gerakan refleks bagi seorang sangat ka wakan semacam dia. la terjungkal dan kali ini jatuh erdebab dengan punggung terhempas. Bukan hanya dia, Datuk pun terkejut. Anak

  • yang dikatakan ayahnya masih hijau itu ternyata tidak sehijau yang diakui. Tetapi bagaimanapun kagetnya tentu saja orang sehebat Datuk tidak akan jadi surut langkah olehnya, la langsung menyerang Erwin. Dan pukulan pertamanya tepat mengenai dada kanan manusia harimau muda itu.

    "Biar pun waang harimau sati, aden indak gan-ta," katanya setelah melihat Erwin termundur beberapa langkah, la langsung memukul bertubi-tubi, ada yang kena, ada pula yang ditepiskan oleh anak Dja Lubuk. Bahkan ada pukulan Erwin yang masuk ke rusuk dan muka Datuk garang itu.

    Koto yang belum bebas dari kagetnya bersiap memperhatikan Dja Lubuk yang juga hanya sebagai penonton saja duduk di bangku. Dia tidak berkata, tidak tegang, hanya matanya memandangi Koto dengan dingin, sedingin hawa menjelang subuh itulah.

    Pertarungan antara Erwin dengan Datuk bertambah sengit, sebab Datuk pun ternyata bukan hanya besar omong melainkan juga besar tenaga. Kecepatan tangan dan kakinya tak kan mungkin terkalahkan oleh pesilat Cina mana pun juga, walaupun film-film unjuk hebat Cina bisa membuat orang biasa merasa minder dalam adu tenaga. Erwin kewalahan. Lebih berat menghadapi Datuk daripada bertempur dengan Ki Ampuh di masa-masa lalu.

    "Datuk hebat sekali' kata Lubuk memuji dengan hati tulus. Tetapi dia juga senang melihat anaknya dapat lawan tangguh. Dari orang semacam Datuklah didapat pengalaman dan kemudian mengukur diri. Sudah dapat menyamai, masih di bawah atau sudah mampu mengatasi. Itulah yang ingin diketahui oleh Dja Lubuk. Makhluk yang hidup dua kali itu melihat jelas, bahwa kedua petarung itu mempunyai tekad yang sama. Keluar sebagai pemenang. Yang satu menyadari, bahwa ia dan ayahnya akan dilempar, ke ngarai kalau sampai kalah. Yang lainnya akan merasa sangat malu dan hina kalau ditumbangkan di negeri sendiri, apalagi tadi sudah mengeluarkan/kata-kata yang begitu sombong dan angkuh.

    Berkata Dja Lubuk kepada Koto yang belum bergerak memulai serangan baru, apakah dia mau mencoba permainan beberapa jurus

  • dengan dia yang sudah tua renta. Jagoan dari dataran Minang itu merasa ditantang, suatu kepantangan bagi tiap pasilek kawakan untuk menolak.

    "Sebenarnya aku kasihan kepadamu harimau bersemangat kucing, tetapi ibarat orang mengaji yang harus sampai tamat, maka aku jug