Harimau dari madiun

of 39/39

Embed Size (px)

Transcript of Harimau dari madiun

  • Catatan kaki

    1. Belanda menguji kesetiaan orang-orang terpenting dalam kubu Pangeran Diponegoro. Salah

    satu caranya adalah mengirim utusan seorang arab dari Jeddah bernama (dalam lafal jawa) Seh

    Amirul Karbi Akmadul Anjari (Syekh Amirul Arabi Ahmad Al Anshari, alias Syekh Abdul Ahmad

    bin Abdullah Al Anshari, alias Syekh habib Ahmad Al Anshari, sosok yang sebelumnya punya

    hubungan pribadi cukup dekat dengan Pangeran Diponegoro) untuk menemui dan membujuk

    Sentot. Salah satunya dengan menyampaikan pesan bahwa Kyai Mojo pun saat itu berencana

    untuk berdamai dengan pihak Belanda.

    2. Menurut Kyai Mojo, dalam tatanan negara baru yang sedang mereka perjuangkan itu Pangeran

    Diponegoro lebih tepat jika memposisikan diri sebagai Raja (pemimpin tertinggi negara) saja.

    Sedangkan jabatan Wali (pemimpin tertinggi agama) sebaiknya dipegang oleh orang lain, yang

    tidak lain adalah Kyai Mojo sendiri.

    Pangeran Diponegoro dengan tegas menolak. Dengan alasan belajar dari sejarah Kesultanan

    Demak, banyak kerugian yang bisa ditimbulkan dari sistem tersebut. Apalagi jika pemuka agama

    medominasi kebijakan politik negara.

    Konflik antara dua tokoh penting ini mulai memanas dan direspon oleh para tokoh lain dalam

    kubu para pemberontak. Termasuk perpecahan antara fraksi Mataram (yang didominasi

    kalangan bangsawan) dengan fraksi Pajang (kalangan santri). Banyak pemimpin pasukan yang

    menjauhi Kyai Mojo karena menduga ulama itu punya ambisi untuk berkuasa.

    Merasa pengaruhnya mulai turun drastis, mungkin inilah yang menjadi motivasi Kyai Mojo untuk

    membiarkan dirinya tertangkap oleh pasukan Belanda.

    3. Kajineman: Spionase

    4. Bengalsche Lancier: Kavaleri tombak pasukan Belanda yang didatangkan dari negeri Bengali,

    India. Berseragam dan bersorban merah.

    5. Pinilih: dalam bahasa jawa berarti pilihan. Nama Korps yang dipimpin oleh Sentot

    Prawirodirjo. Komposisi awal terdiri dari 400 orang kavaleri dan 600 orang infanteri.

    6. Akhir 1828, atas rekomendasi dari pamannya, Pangeran Bei, Pangeran Diponegoro mengijinkan

    Sentot memungut sendiri pajak di wilayah yang dikuasainya tanpa melalui pejabat patih yang

    biasa menjadi administrator pajak. Di mana 70%nya boleh dikelola oleh Sentot sendiri

    sedangkan sisanya disetorkan ke Pangeran Diponegoro sebagai pemimpin tertinggi. Sebuah

    keputusan yang diragukan sendiri oleh Pangeran Diponegoro sebagaimana seperti yang

    ditulisnya di Babad Diponegoro bait ke-35;

    ..Jika dia yang memegang pedang diijinkan menggenggam uang,

  • apa jadinya nanti.

    Tidakkah nanti akan menjadi terbengkalai.

    7. Ronggo Prawirodirjo III memang terlahir di tengah keluarga pejuang. Kakeknya, Ronggo

    Prawirodirjo I (sebelumnya bernama Ronggo Prawirosentiko, dimakamkan di Taman, Madiun)

    adalah panglima perang andalan Hamengkubuwono I selama Perang Giyanti, cikal bakal

    berdirinya keraton Yogyakarta.

    Saat Ronggo III memutuskan untuk mengangkat senjata, sebuah ekspedisi militer dikirim

    Marsekal Daendels yang terdiri dari 3000 prajurit infanteri, 2 eskadron kavaleri dan 2 kompi

    arteleri untuk mengamankan ibukota.

    Ronggo bersama 100 orang pengikutnya (12 diantaranya orang tionghoa) dikejar oleh pasukan

    gerak cepat pimpinan Sersan Lucas Leberverd yang berkekuatan 150 personel, didukung dengan

    Legiun Keraton.

    Kedua pasukan bertemu di Sekaran, Bojonegoro, pada malam tanggal 16 Desember 1810. Pada

    pertempuran esok harinya pasukan Ronggo akhirnya tercerai berai.

    Hanya ditemani seorang patih, seorang deputi dan beberapa pembawa panji dan payung

    kebesaran, Ronggo nekad tetap melanjutkan perlawanan hingga akhirnya tewas. Pada saat itu

    usianya 31 tahun.

    8. Istri Ronggo III, Ratu Maduretno, konon adalah yang tercantik dari tiga puteri Sultan Hamengku

    Buwono II dari istrinya yang berdarah Madura. Ratu Maduretno meninggal mendadak pada

    bulan November 1809, saat usianya masih di awal 30an.

    Seperti yang dituturkan dalam Babad Pakualaman, kesedihan Ronggo III atas kematian istri

    tercintanya itu sangat dramatis. Bupati itu memakamkan Ratu Maduretno di gunung Bancak,

    yang dinamai Giripurno, bukit tertinggi yang menghadap di kediamannya di maospati. Raden

    Ronggo sering menghabiskan waktunya di depan makam istrinya itu sambil meratapinya siang

    malam.

    9. Selain kekaguman itu nampak dari cara Pangeran mengagung-agungkan patriotisme Ronggo III

    dalam Babad karyanya, juga terlihat dari sikap politisnya di beberapa tahun sebelum pecahnya

    perang.

    28 September 1814, Pangeran Diponegoro mengawini RA Maduretno, puteri mendiang Ronggo

    III dengan mendiang Ratu Maduretno.

    RA Maduretno (digelari Ratu Kedaton saat Pangeran Diponegoro bergelar Sultan Ngabdul

    Kamid)selalu mendampingi Pangeran Diponegoro dalam gerilya.

    Setelah menderita sakit saat hamil 6 bulan, RA Maduretno akhirnya wafat pada 20 November

    1827.

    10. Beberapa kasus berikut ini adalah sebagian kecilnya;

    1 Desember 1826 Pangeran Mangkudiningrat menyerah beserta 250 orang pengawalnya yang

    bersenjata api.

  • Pertengahan 1827, Pangeran Notoprojo, adik Mangkudiningrat, menyerah beserta ratusan

    prajuritnya.

    April 1828 Pangeran Notodiningrat menyerah beserta puluhan pengawal.

    November 1828 Kyai Mojo menyerah beserta 500 prajurit senior yang dipimpinnya.

    Seluruh mantan pendukung Pangeran Diponegoro yang menyerah dan bersedia bekerjasama

    diberi hadiah uang, tanah, gaji dan tunjangan oleh pemerintah Belanda. Kontribusi mereka pada

    pihak Belanda sangat berharga karena sebagai mantan gerilyawan, mereka sangat mengenal

    medan dan gaya bertempur kaum gerilyawan.

    Keluarnya Sentot dari gelanggang pertempuran memastikan posisi Diponegoro semakin

    mustahil memenangkan perang. Maret 1830 Diponegoro datang ke Magelang beserta 1400

    orang pengikutnya yang tersisa untuk memenuhi undangan De Kock. Setelah 20 hari tinggal di

    sana, diadakan pertemuan antara dua panglima perang itu, yang diakhiri dengan penangkapan

    Sang Pangeran. Maka Perang Jawa pun dipastikan berakhir sudah.

    Malang, November 2013

    (untuk diajengku Emi Wijiyanti)

    USERRectangle