Makalah+e Government

download Makalah+e Government

of 26

  • date post

    24-Apr-2015
  • Category

    Documents

  • view

    75
  • download

    5

Embed Size (px)

description

makalah

Transcript of Makalah+e Government

Perbandingan E-Procurement Indonesia dan Korea Selatan BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Masalah Keberadaan teknologi informasi menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan reformasi sektor publik. Penerapan teknologi informasi dalam upaya meningkatkan kinerja serta pelayanan pemerintah kepada masyarakat salah satunya terimplementasi dengan adanya e-government dalam praktek pemerintahan. Inovasi pelayanan secara elektronik oleh pemerintah, atau yang biasa disebut dengan e-government ini berkembang sangat pesat. Banyak keuntungan yang diperoleh negara-negara yang telah menerapkan e-government ini. Selain sebagai jalan untuk mempermudah akses pelayanan publik, e-government juga dapat berfungsi untuk mengurangi celah-celah yang sering disalahgunakan atau dikorupsi. Salah satu implementasi e-government yang dapat menutup celah tersebut adalah e-procurement. Eprocurement adalah sebuah istilah untuk menyebut metode elektronik yang digunakan dalam tiap tahap proses pembelian dari indentifikasi persyaratan-persyaratan hingga pembayaran, dan secara potensial manajemen kontrak (www.scottish-enterprise.com). Inovasi pelayanan pengadaan barang dan jasa melalui e-procurement ini dilakukan karena banyaknya kasus korupsi terkait dengan pengadaan tersebut. Di Indonesia sendiri, kasus korupsi pengadaan barang dan jasa tergolong cukup tinggi. Menurut Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP), proses pengadaan barang dan jasa rawan penyimpangan atau korupsi (kpk.go.id, 2010). Dari 28.000 kasus korupsi yang ditangani KPK, 80 persen di antaranya kasus pengadaan barang/jasa dan 90 persen di antaranya akibat penunjukkan langsung (PL). Deputi Bidang Monitoring Evaluasi dan Pengembangan Sistem Informasi LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah), Himawan Adinegoro, mengungkapkan bahwa dominasi kasus tindak korupsi adalah kasus pengadaan barang dan jasa yang dilakukan secara manual dengan cara penunjukkan langsung (Tanjung, 2010). Saat ini, e-Procurement merupakan salah satu pendekatan terbaik dalam mencegah terjadinya korupsi dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah. Dengan e-Procurement peluang untuk kontak langsung antara penyedia barang/jasa dengan panitia pengadaan menjadi semakin kecil, lebih transparan, lebih hemat waktu dan biaya serta dalam pelaksanaannya mudah untuk melakukan pertanggung jawaban keuangan. Hal tersebut dikarenakan sistem elektronik tersebut mendapatkan sertifikasi secara internasional (Jasin, Zulaiha, Rachman, & Ariati, 2007).1

Perbandingan E-Procurement Indonesia dan Korea Selatan Namun, implementasi e-procurement di Indonesia ini belum berjalan maksimal. Hal ini terkjadi karena berbagai sebab. Salah satunya adalah belum adanya ketegasan tentang peraturan hukum yang memayungi proses E-Procurement. Akibatnya belum ada standar baku mengenai tata kelola proses E-Procurement baik dari segi rantai birokrasi, waktu, penggunaan standar teknologi informasi, sumber daya manusia dan sebagainya. Lalu, keharusan memilih barang dan jasa dengan harga terendah membuat banyak departemen/ instansi pemerintah pusat dan pemerintah daerah, harus siap menerima barang dan jasa yang tak sesuai standar (portal.pengadaannasional-bappenas.go.id, 2009). Berbeda dengan Indonesia, Korea Selatan telah sukses menerapkan e-procurement ini. Di Korea Selatan, e-procurement dikenal dengan Korea On-line E-Procurement System (KONEPS). KONEPS ini mulai diterapkan sejak tahun 2002. Sistem KONEPS di Korea sudah terintegrasi dengan baik, terbukti dengan banyaknya penghargaan internasional yang diberikan kepada KONEPS. Tiga tahun sejak diterapkan, KONEPS telah mendapatkan penghargaan the best practice in procurement by the U.N. Melihat keberhasilan Korea Selatan menerapkan KONEPS tersebut, penulis merasa perlu untuk membandingkan sistem e-procurement di Indonesia dengan KONEPS di Korea Selatan. Perbandingan ini memiliki tujuan untuk mengetahui faktor-faktor keberhasilan Korea Selatan dalam menerapkan KONEPS sehingga dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia. II. Rumusan Masalah 1. Bagaimana perbandingan E-Procurement di Indonesia dan Korea Selatan? 2. Apa saja kekurangan dan kelebihan E-Procurement di Indonesia dan Korea Selatan? III. Tujuan1. Mengetahui perbandingan E-procurement Indonesia dan Korea Selatan dilihat dari

analisis lembaga dan prosedurnya2. Mengetahui kelemahan serta kelebihan dalam impelementasi e-procurement di

masing-masing negara tersebut

2

Perbandingan E-Procurement Indonesia dan Korea Selatan BAB II KERANGKA TEORI II.1 E-Government II.1.1 Definisi e-Government secara umum dapat didefinisikan sebagai penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk meningkatkan kinerja dari fungsi dan layanan pemerintah tradisional. Lebih spesifik lagi, e-government adalah penggunaan teknologi digital untuk mentransformasi kegiatan-kegiatan pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan penyampaian layanan.1 Beberapa definisi yang diajukan mengenai e-government. Electronic (or e) government is the process of transformation of the relationships of government with its constituents the citizens, the businesses and between its own organs, through the use of the tools of Information and Communications Technology (ICT).2 Bank Dunia (World Bank) mendefinisikan e-Government sebagai berikut: eGovernment refers to the use of information and communications technologies to improve the efficiency, effectiveness, transparency and accountability of government.3 Di sisi lain, UNDP (United Nation Development Programme) dalam suatu kesempatan mendefinisikannya secara lebih sederhana, yaitu: e-Government adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT- Information and Communication Technology) oleh pihak pemerintahan. Clay G. Wescott (Pejabat Senior Asian Development Bank), mendefinisikannya sebagai berikut: e-Government adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk mempromosikan pemerintahan yang lebih effisien dan penekanan biaya yang efektif, kemudahan fasilitas layanan pemerintah serta memberikan akses informasi terhadap masyarakat umum, dan membuat pemerintahan lebih bertanggung jawab kepada masyarakat.1

Forman, Mark, e-Government: Using IT to transform the effectiveness and efficiency of government (2005) 2 Satyanarayana, 2004, e-Government: The Science of the Possible, New Delhi: Prentice Hall of India, hal. 1 3 http://www.egovernment-institute.com/main.php?go=l_definisi diakses pada 30 November 2011

3

Perbandingan E-Procurement Indonesia dan Korea Selatan II.1.2 Prinsip-prinsip e-government 1. Build services around citizens choices 2. Make government and its services more accessible 3. Facilitate social inclusion 4. Provide information responsibly 5. Use government resources effectively and efficiently II.1.3 Peran e-government e-Government adalah penggunaan teknologi informasi, khususnya internet, untuk memberikan pelayanan publik yang lebih nyaman dan berorientasi pelanggan, biaya yang efektif, dan sama sekali berbeda dan cara yang lebih baik. Ini mempengaruhi hubungan pemeritah dengan warga negara, pebisnis, dan lembaga-lembaga publik lainnya serta proses internal bisnis dan karyawan. Gerakan e-government didorong oleh kebutuhan pemerintah untuk memotong biaya dan meningkatkan efisiensi, memenuhi harapan warga negara dan meningkatkan hubungan warga, memfasilitasi pembangunan ekonomi, menyediakan sebuah alat yang ampuh untuk menciptakan kembali pemerintah daerah. Hal ini mendorong transformasi dari paradigma birokrasi tradisional, yang menekankan standardisasi, departmentalization, dan efisiensi biaya operasional, dengan paradigma "e-government", yang menekankan membangun jaringan terkoordinasi, kolaborasi eksternal, dan layanan pelanggan. II.1.4 Manfaat e-government Satyanarayana (2004) menjelaskan manfaat dari skema implementasi e-government pada berbagai stakeholders, yaitu manfaat e-government pada pemerintah, bisnis, masyarakat dan industri Teknologi Informasi dan Komunikasi. 1. Manfaat e-government pada pemerintah a) Law and policy making b) Regulation a. Better compliance due to stringent tracking and monitoring system4

Perbandingan E-Procurement Indonesia dan Korea Selatan b. Better revenues c. Better coordination between related regulatory agencies due to shared database d. More transparency in enforcement of laws e. Better compliance to law owing to simplification of procedures c) Provision of service to constituents a. Better image b. Cost cutting c. Better targeting of benefits d. Control of corruption

2. Manfaat e-government pada masyarakat Daya tarik e-government muncul dari janji penyediaan layanan yang efisien dan nyaman untuk warga negara. Memberikan pelayanan pada warga dengan cara cara konvensional membutuhkan biaya langsung dan biaya tidak langsung jauh lebih tinggi daripada layanan secara elektronik. Selain penghematan biaya, bentuk keuntungan lain bagi warga diantaranya:4 a) Meningkatkan transparansi yang juga akan mengurangi korupsi b) Perencanaan pribadi yang lebih baik dan kerja profesional yang muncul dari kepastian dalam berurusan dengan pemerintah c) Kualitas hidup yang lebih baik sebagai dampak dari penggunaan TIK dalam bidang seperti kesehatan, pendidikan, pekerjaan, kesejahteraan dan keuangan d) Mudah mengakses informasi badan pemerintah dan programnya e) Dapat memilih dari beberapa saluran penyampaian layanan

4

Satyanarayana, hal 17

5

Perbandingan E-Procurement Indonesia dan Korea Selatan f) Fasilitas seperti satu jendela dan login tunggal akan menghapus kompleksitas mengunjungi beberapa lembaga pemerintahatau situs web 3. Manfaat e-government pada bisnis Bisnis juga mendapat sebagian besar manfaat yang disebutkan di atas, yaitu mengurangi biaya, transparansi dan kenyamanan. Selain itu, ada beberapa manfaat tambahan berbeda yang mereka peroleh dari inisiatif e-government yang dirancang dengan