E-Government Jawa Tengah

of 27 /27
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi informasi dan komunikasi menjanjikan efisiensi, kecepatan penyampaian informasi, jangkauan yang global dan transparansi. Oleh karena itu dalam era otonomi daerah ini untuk mewujudkan pemerintahan yang Good Governance salah satu upayanya adalah menggunakan teknologi informasi dan komunikasi atau yang populer disebut E-Government. Tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang lebih baik atau pelayanan prima menjadikan pemerintah provinsi jawa tengah mau ntak mau harus mengikuti perkembangan teknologi yang menjajikan efisiensi yang tinggi dan pelayanan yang lebih baik. Pada pertemuan ”World Summit For Information Society (WSIS)” pada desember 2003 lalu di Jenewa dihasilkan dua dokumen penting yaitu, Declaration Of Principles And Plan Of Action yang secara garis besar mengatakan antara lain bahwa setiap negara diharapkan mampu mengeluarkan national E-Strategy pada tahun 2005. Tujuan dari E- Strategy suatu negara dalam mendayagunakan dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga mampu membantu negara tersebut membuat suatu perubahan yang signifikan dalam pembangunannya. Pemerintah Indonesia juga telah menerbitkan inpres No 3 Tahun 2003 tentang kebijakan dan strategi pengembangan E-Government, hal ini merupakan salah satu 1

Transcript of E-Government Jawa Tengah

Page 1: E-Government Jawa Tengah

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Teknologi informasi dan komunikasi menjanjikan efisiensi, kecepatan

penyampaian informasi, jangkauan yang global dan transparansi. Oleh karena itu

dalam era otonomi daerah ini untuk mewujudkan pemerintahan yang Good

Governance salah satu upayanya adalah menggunakan teknologi informasi dan

komunikasi atau yang populer disebut E-Government.

Tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang lebih baik atau pelayanan

prima menjadikan pemerintah provinsi jawa tengah mau ntak mau harus mengikuti

perkembangan teknologi yang menjajikan efisiensi yang tinggi dan pelayanan yang

lebih baik. Pada pertemuan ”World Summit For Information Society (WSIS)” pada

desember 2003 lalu di Jenewa dihasilkan dua dokumen penting yaitu, Declaration Of

Principles And Plan Of Action yang secara garis besar mengatakan antara lain bahwa

setiap negara diharapkan mampu mengeluarkan national E-Strategy pada tahun 2005.

Tujuan dari E-Strategy suatu negara dalam mendayagunakan dan memanfaatkan

teknologi informasi dan komunikasi, sehingga mampu membantu negara tersebut

membuat suatu perubahan yang signifikan dalam pembangunannya.

Pemerintah Indonesia juga telah menerbitkan inpres No 3 Tahun 2003 tentang

kebijakan dan strategi pengembangan E-Government, hal ini merupakan salah satu

komitment pemerintah, juga sebagai strategi nasional dalam rangka perkembangan

dan kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memandang perlu untuk segera

memiliki rencana induk pengembangan dalam pemanfaatan teknologi informasi dan

komunikasi. Hal ini untuk mendukung aktivitas-aktivitas pemerintahan kota yang ada

di jawa tengah yang meliputi aktivitas intern pemerintahan dalam satu instansi

maupun antar instansi, serta aktivitas pemberian pelayanan untuk masyrakat sehingga

terciptanya pelayanan untuk masyarakat, sehingga terciptanya pemerintah yang

bersih, transparan dan berwibawa.

1

Page 2: E-Government Jawa Tengah

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Konsep Dasar TIK

Teknologi informasi dan komunikasi sampai sekarang telah menunjukkan

perkembangan yang begitu cepat (Naisbit, 1982). Sebagian besar aspek kehidupan

manusia hampir pasti bersinggungan dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi

(TIK), baik yang sifatnya privat maupun publik. Oleh karena itu lahirlah transformasi

kehidupan manusia yang serba berbasis TIK.

Salah satu konsep dari TIK adalah e-government. E-government adalah salah

satu bukti transformasi area kehidupan dalam sektor publik yang diakibatkan oleh

perkembangan teknologi informasi. Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh

pemerintah seiring dengan semakin bertambahnya penetrasi internet, sebagai bagian

dari TIK, sekarang sangat mungkin meninggalkan prosedur lama yang terkesan kaku

dan harus berbasis tatap muka.

Fenomena di atas menunjukkan bahwa dengan adanya e-government

masyarakat sebagai pengguna pelayanan publik dapat menikmati pelayanan yang

lebih baik karena pelayan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan mudah tanpa

dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Kantor pelayanan publik buka selama 24 jam

dan dapat diakses dari manapun. Pelayanan publik di Indonesia yang telah banyak

dinilai oleh banyak kalangan belum menunjukkan kinerja yang memuaskan sangatlah

mungkin diperbaharui melalui e-government. Apalagi dengan telah ditetapkannya

Undang-Undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

(ITE), hal ini menambah peluang bahwa transaksi pelayanan publik diperbolehkan

melalui e-government.

2.2.Terminologi E-Goverment

Secara terminologi e-government telah banyak dikembangkan baik oleh

kalangan praktisi maupun akademisi sehingga definisi yang ada mengandung

perspektif yang berbeda-beda. The World Bank Group (2001) mendefinisikan E-

government sebagai penggunaan teknologi informasi oleh instansi pemerintah (seperti

Wide Area Networks (WAN), internet, Mobile computing) yang dapat digunakan

untuk membangun hubungan dengan masyarakat, dunia usaha, dan instansi

pemerintah lainnya. Di pihak lain e-government didefinisikan sebagai penggunaan

2

Page 3: E-Government Jawa Tengah

teknologi informasi untuk membuka pemerintah dan informasi pemerintah untuk

memungkinkan dinas-dinas pemerintah untuk berbagi informasi demi kemanfaatan

publik, untuk memungkinkan terjadinya transaksi secara online dan untuk mendorong

pelaksanaan demokrasi.

Terdapat terminologi lain dari e-government sebagai berikut:

E-government applies concepts of electronic commerce (e.g. information and

marketing through Web sites, selling to customers on-line) to government

operations.

Refers to the federal government’s use of information technologies (such as

Wide Area Networks, the Internet, and mobile computing) to exchange

information and services with citizens, businesses, and other arms of

government.

Government activities that take place by digital processes over a computer

network usually use the Internet, between the government and members of the

public and entities in the private sector, especially regulated entities. These

activities generally involve the electronic exchange of information to acquire

or provide products or services, to place or receive orders, to provide or obtain

information, or to complete financial transactions. The anticipated benefits of

e-government include reduced operating costs for government institutions and

regulated entities, increased availability since government services can be

accessed from virtually any location, and convenience due to round-the-clock

availability.

It is the process of transforming government, so that the use of the internet and

electronic processes are central to the way that government operates.

Electronic government services over the Internet (e.g. application forms,

driving licenses, etc.).

The range of electronic services that enable transactions with the Government

or electronic voting or improved interactive communication between the

Government and the citizen.

Dari berbagai definsi di atas sebenarnya dapat disarikan ke dalam kata yang

lebih singkat yakni bring the government service to the Web. Sedangkan definisi

formal dari pemerintah Republik Indonesia, sebagaimana diatur oleh Depkominfo

(Undang-Undang No. 11 tahun 2008) adalah pelayanan publik yang diselenggarakan

melalui situs pemerintah dimana domain yang digunakan juga menunjukkan domain

3

Page 4: E-Government Jawa Tengah

pemerintah Indonesia yakni go.id. Sehingga berdasarkan definisi formal ini, walaupun

ada website yang secara real dikelola oleh pemerintah dan digunakan untuk pelayanan

publik namun apabila tidak ber-domain go.id maka tidak masuk klasifikasi e-

government.

2.3. Kegunaan E-Government

E-Government merupakan suatu upaya untuk memanfaatkan teknologi

informasi dan komunikasi yang dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi,

efektivitas, transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan dan

pelayanan publik.

4

Page 5: E-Government Jawa Tengah

Tabel 2.1.

Pergeseran Paradigma dalam Penyampaian Pelayanan Publik

Kriteria Pelayanan

Publik

Paradigma Birokratis Paradigma e-government

Orientasi Efisiensi biaya produksi Fleksibel, pengawasan dan

kepuasan pengguna

(customer).

Proses organisasi Merasionalisasikan peranan,

pembagian tugas dan

pengawasan hirarki vertical

Hirarki horisontal, jaringan

organisasi dan tukar

informasi

Prinsip manajemen Manajemen berdasarkan

peraturan dan mandat

(perintah)

Manajemen bersifat fleksibel,

team work antar departemen

dengan koordinasi pusat.

Gaya kepemimpinan Memerintah dan mengawasi Fasilitator, koordinatif dan

entrepreneurship inovatif.

Komunikasi internal Hirarki (berperingkat) dan

top-down

Jaringan banyak tujuan

dengan koordinasi pusat dan

komunikasi langsung.

Komunikasi eksternal Terpusat, formal dan saluran

terbatas

Formal dan informal, umpan

balik langsung, cepat dan

banyak saluran

Cara penyampaian

pelayanan

Dokumen dan interaksi antar

personal

Pertukaran elektronik dan

interaksi non face-to-face.

Prinsip-prinsip

penyampaian pelayanan

Terstandarkan, keadilan dan

sikap adil

Penyeragaman bagi semua

pengguna dan bersifat

5

Page 6: E-Government Jawa Tengah

personal.

Sumber: Inovasi Online (2009)

Implementasi e-government adalah sebagai suatu upaya untuk meningkatkan

efisiensi, efektivitas dan transparansi serta akuntabilitas penyelenggaraan

pemerintahan, oleh karena itu diperlukan pemanfaatan teknologi informasi dan

komunikasi dalam proses pemerintahan. Paradigma pelayanan pemerintah yang

bercirikan pelayanan melalui birokrasi yang lamban, prosedur yang berbelit, dan tidak

ada kepastian berusaha, maka diatasi melalui penerapan e-government.

Paradigma pelayanan publik bergeser dari paradigma birokratis menjadi

paradigma e-government yang mengedepankan efisiensi, transparansi, dan

fleksilbiltas, yang akhirnya bermuara pada kepuasan pengguna layanan publik.

Pergeseran paradigma ini telah dikaji oleh Alfred (2002) (Lihat Tabel 2.1).

2.4. Klasifikasi Pengembangan E-Government

Klasifikasi Pengembangan e-government dapat dibedakan atas tingkat

kompleksitas pengembangan dan fasilitas yang tersedia untuk melayani masyarakat.

Beberapa institusi dan pakar telah mengemukakan pendapat tentang klasifikasi

pengembangan e-government, namun pada intinya dapat dibedakan kepada 4

klasifikasi (Inovasi Online,2009), yaitu :

(1) Sebagai Informasi, yaitu e-government hanya digunakan untuk

sarana publikasi informasi pemerintah secara on-line,

misalnya profil daerah, peraturan, dokumen, dan formulir saja.

(2) Sebagai Interaksi, yaitu e-government sudah menyediakan

sarana untuk interaksi dua arah antara pejabat pemerintah

dengan masyarakat sebagai pengguna layanan publik, misalnya

dalam bentuk sarana untuk menampung keluhan, forum

diksusi, atau hotline nomor telepon atau email pejabat.

(3) Sebagai Transaksi, yaitu e-government sudah menyediakan

sarana untuk bertransaksi bagi masyarakat dalam

menggunakan layanan publik, yakni transaksi yang melahirkan

kesepakatan (deal) yang dapat disertai dengan pembayaran

6

Page 7: E-Government Jawa Tengah

sebagai akibat dinikmatinya layanan publik yang telah

digunakan. Misalnya trasaksi untuk pembayaran pajak atau

retibusi.

(4) Sebagai Integrasi, yaitu semua pelayanan publik yang

disediakan oleh pemerintah di samping disediakan secara

konvensional juga disediakan secara online melalui e-

government.

2.5. Kebijakan Pengembangan E-Government

Guna menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi dan

komunikasi serta untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik yang dijiwai oleh

nilai-nilai good gevernance, maka Pemerintah RI dalam hal ini Departemen

Komunikasi dan Informatika pada tahun 2003 telah mengeluarkan beberapa panduan

berkenaan dengan pengembangan e-government yang ditujukan kepada setiap instansi

pemerintah antara lain (Depkominfo, 2003):

1. Panduan Pembangunan Infrastruktur Portal Pemerintah.

2. Panduan Manajemen Sistem Dokumen Elektronik Pemerintah .

3. Panduan Penyusunan Rencana Pengembangan E-Government Lembaga.

4. Pedoman Penyelenggaraan Diklat ICT dlm Menunjang E-Government.

5. Pedoman tentang Penyelenggaraan Situs Web Pemerintah Daerah.

Selanjutnya pada tahun 2004 Depkominfo juga mengeluarkan enam panduan

berupa (Depkominfo, 2004):

1. Standar mutu dan jangkauan pelayanan serta pengembangan aplikasi (e-

services).

2. Kebijakan tentang kelembagaan, otorisasi, informasi dan keikutsertaan swasta

dalam penyelenggaraan.

3. Kebijakan pengembangan kepemerintahan yang baik dan manajemen

perubahan.

4. Panduan tentang pelaksanaan proyek dan penganggaran e-government.

5. Standar kompetensi pengelola e-government.

6. Blue-print aplikasi e-government pemerintah pusat dan daerah.

Selanjutnya, tahun 2006 Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan

kebijakan yang berhubungan dengan pemanfaatan TIK, yang secara tidak langsung

memperkuat kebijakan dalam pengembangan e-government. Kebijakan tersebut

7

Page 8: E-Government Jawa Tengah

adalah pembentukan Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional

(Detiknas). Dewan yang dibentuk Presiden SBY melalui Keppres No. 20 pada tanggal

11 November 2006. Dewan ini diberi amanah untuk merumuskan kebijakan umum

dan arahan strategis pembangunan nasional, melalui pendayagunaan Teknologi

Informasi dan Komunikasi (TIK).

Selain itu Dewan juga diminta untuk melakukan pengkajian dalam

menetapkan langkah-langkah penyelesaian permasalahan strategis yang timbul dalam

rangka pengembangan TIK. Melakukan koodinasi dengan instansi pemerintah

pusat/daerah, BUMN/BUMD, dunia usaha dan lembaga profesional dalam rangka

pengembangan TIK. Selain itu dewan juga bertugas memberikan persetujuan atas

pelaksanaan program TIK yang bersifat lintas departemen agar efektif dan efisien

(Majalah e-Indonesia, 2007).

2.6. Situasi E-Government di Indonesia

Berbagai panduan yang telah dikeluarkan Depkominfo tersebut menunjukkan

bahwa Pemerintah RI serius dalam mengembangkan e-government, di mana instansi

pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah didorong untuk mengembangkannya.

Namun keberhasilan pengembangan e-government belum signifikan, terbukti dari e-

government Readiness Indonesia masih menempati rangking bawah di antara negara

lain di Asia Tenggara apalagi e-government reaadiness secara global, peringkat

Indonesia lebih rendah lagi. Posisi Indonesia dalam E-Government Readiness baik di

lingkungan Asia Tenggara dapat dijelaskan dalam Tabel 2.2.

8

Page 9: E-Government Jawa Tengah

Tabel 2.2.

Global E-Government Readiness

No Country Global Rank in

2004 2005 2008

1 Singapore 8 7 23

2 Malaysia 42 43 34

3 Thailand 50 46 64

4 Philipines 47 41 66

5 Brunei Darussalam 63 73 87

6 Viet Nam 112 105 91

7 Indonesia 85 96 106

8 Cambodia 129 128 139

9 Myanmar 123 129 144

10 East Timor 174 144 155

11 Lao, P.D.R 144 147 156

Sumber: Global E-Govermnet Readiness 2005 dan 2008

Di antara negara-negara Asia Tenggara, ternyata Indonesia pada tahun ini

menempati posisi ke tujuh di bawah Brunei Darussalam dan Vietnam, dan hanya satu

tingkat lebih tinggi daripada Kamboja. Sedangkan untuk tataran global, posisi

Indonesia juga tidak mengalami peningkatan. Pada tahun 2004 berada pada posisi ke

85, tahun 2005 menempati ranking 86, kemudian pada tahun ini posisi Indonesia

merosot lagi menjadi ranking 106 (lihat Tabel 2.2).

Dengan demikian, fenomena di atas menarik untuk dikaji guna mengetahui

permasalahan e-government di Indonesia. Oleh karena itu, telah dilakukan review

terhadap website pemerintah daerah mulai tanggal 2 sampai dengan 6 Mei 2008

(Rokhman, 2009). Propinsi Jawa Tengah dijadikan sampel secara purposive karena e-

government kabupaten dan kota di Propinsi Jawa Tengah pernah mendapatkan

penghargaan nasional dari Warta Ekonomi, yaitu e-government Kabupaten Kebumen

pada tahun 2004-2005 dan Sragen pada tahun 2007. Propinsi Jawa Tengah terdiri dari

9

Page 10: E-Government Jawa Tengah

30 kabupaten dan enam kotamadya. Masing-masing website kabupaten dan kota telah

diakses dan dikaji melalui aspek level pengembangan dan menu dan fasilitas yang

disediakan. Berdasarkan hasil survei beberapa temuan yang menarik adalah sebagai

berikut (Rokhman, 2009):

(a) Dari 30 kabupaten dan enam kota, hanya 24 kabupaten (80%) dan lima kota

(83%) yang sudah mempunyai website yang dapat diakses, selebihnya setelah

dilakukan pencarian dengan menggunakan search engine Google dan Yahoo,

website kabupaten dan kota yang bersangkutan tidak ditemukan. Mayoritas

website pemerintah kabupaten dan kota yang sudah dapat diakses masuk

dalam level pertama yakni hanya mempublikasikan informasi seputar profil

daerah tersebut, dan kebanyakan terdiri dari menu utama: (1) profil daerah, (2)

prosedur pelayanan publik, dan (3) berita daerah bersangkutan yang

sumbernya sebagian besar bukan dari kabupaten atau kota sendiri tapi hanya

mengambil dari media lain. Berita yang ditampilkan juga tidak selamanya ter-

update dengan baik karena ada daerah yang menyajikan berita yang sudah

basi.

(b) Dari 24 kabupaten dan lima kota yang websitenya dapat diakses, hanya 12 dari

website kabupaten (40%) yang dapat dikategorikan pada level interaksi.

Sedangkan lima website kota semuanya (100%) sudah ber-level interaksi.

Aplikasi fasilitas interaksi yang disediakan antara lain: (1) Buku tamu, (2)

forum, (3) chatting, (5) link kontak, dan (6) polling. Hasil survei menunjukkan

fasiltas tersebut kurang berfungsi dengan baik dibuktikan dengan:

a. Buku tamu hanya menampilkan keluhan masyarakat tanpa ada respon

dari pejabat atau staf briokrasi terkait ataupun dari admin website.

Bahkan ada buku tamu yang hanya ditujukan kepada admin hanya

bersifat interaksi satu arah.

b. Forum diskusi juga masih kosong tidak ada aktivitas. Beberapa website

baru membuat topik diskusi namun sama sekali tidak ada aktivitas

c. Fasilitas chatting yang disediakan hanya untuk chat antar user, bukan

chat dengan pejabat atau staf birokrasi terkait berkaitan dengan

pelayanan publik.

d. Website yang menyediakan fasilitas polling belum dapat dimanfaatkan

untuk menjaring aspirasi masyarakat terhadap isu daerah yang

10

Page 11: E-Government Jawa Tengah

bersangkutan sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan

pemerintah daerah.

(c) Dari website kabupaten dan kota yang telah mengembangkan e-government

tidak ada satu pun yang termasuk level ketiga yakni level transaksi untuk

pelayanan publik. Ada beberapa kabupaten/kota yang sudah menyediakan

menu Layanan Publik, tapi masih berifat informatif saja, sekedar

menampilkan persyaratan dan prosedur layanan.

2.7. Kendala Pengembangan E-Government

Kendala utama dalam pengembangan e-government jika ditinjau dari

perspektif birokrasi sebagai penyelenggara layanan publik melalui elektronik adalah

sebagai berikut (Rokhman, 2009):

(a) Peopleware, yaitu merupakan kemampuan para pejabat birokrasi maupun

staff dalam menggunakan internet yang masih sangat terbatas. Hal ini terbukti

dari masih sangat tergantungnya birokrasi dalam pengembangan e-government

terhadap pihak luar. Operasionalisasi e-government juga tidak berjalan lancar

ditandai dengan sarana interaksi yang disediakan tidak ada aktivitas yang

berarti.

(b) Hardware, yakni berkaitan dengan teknologi dan infrastuktur. Terbatasnya

hardware dan software serta masih sedikitnya instansi pemerintah yang

terhubung pada jaringan baik lokal (LAN) maupun global (Internet)

menyebabkan perkembangan e-government tidak dapat berjalan lancar.

(c) Organoware, yaitu hambatan birokrasi instansi pemerintah seringkali dalam

mengoperasionalkan e-government menemui kendala dalam aspek organisasi.

Kendala ini ditandai dengan tidak fleksibelnya Struktur Organisasi dan

Tatakerja (SOT) birokrasi yang dapat mewadahi perkembangan baru model

pelayanan publik melalui e-government. Para admin e-government di

beberapa daerah yang selalu memonitor pengaduan masyarakat tidak

mempunyai wewenang dan kemampuan untuk langsung berinteraksi dengan

masyarakat misalnya dalam memberikan jawaban. Sedangkan untuk meminta

pejabat atau pegawai yang terkait untuk menjawab pertanyaan yang telah

diajukan masyarakat, para admin tersebut tidak mempunyai wewenang.

Hambatan birokrasi lainnya adalah belum adanya regulasi yang mengijinkan

11

Page 12: E-Government Jawa Tengah

transaksi melalui media elektronik dapat dianggap sah. Walaupun sudah ada

Undang-Undang ITE namun belum ada Juklak dan Juknis. Disamping SOT

dan regulasi, hambatan organoware berikutnya adalah terbatasnya dana yang

tersedia untuk pengembangan dan operasionalisasi e-government di daerah.

Pemerintah pusat hanya menyediakan kerangka kebijakan dan panduan tidak

disertai dengan alokasi dana sehingga harus ditanggung oleh daerah yang

bersangkutan.

Berdasarkan hambatan-hambatan di atas sangat logis jika potret e-government

di negara Indonesia mayoritas masih dalam level yang paling dasar yaitu level

informasi, sedangkan yang sudah masuk level kedua pun (interaksi) belum bisa

berfungsi dengan baik.

Dari semua penjelasan di atas, jelaslah bahwa perkembangan teknologi

informasi dan komunikasi di atas, telah menawarkan solusi untuk meningkatkan

kinerja pelayanan publik yang lebih berbasis good governance. Pemanfaatan e-

government bagi birokrasi diharapkan dapat menjadi alternatif bagi reformasi

birokrasi menuju pelayanan yang lebih baik. Walaupun sejak tahun 2003 Pemerintah

Indonesia telah mengeluarkan kebijakan mengenai e-government namun pada

kenyataannya potret e-government masih dalam level rendah baik level

pengembangannya maupun level dalam Global E-Government Readiness. Keadaan

ini disebabkan oleh tiga hambatan utama yakni sumberdaya manusia, hardware,

dan birokrasi.

12

Page 13: E-Government Jawa Tengah

BAB III

HASIL PEMBAHASAN

3.1 Analisis SWOT

Selain melakukan analisis komprehensif terhadap hasil survey, agar hasil

penyusunan rencana induk pengembangan E-Government dapat mencapai kondisi

ideal yang diharapkan maka perlu dilakukan analisis SWOT. Ada beberapa komponen

pokok yang akan dianalisis yaitu sumber daya manusia, perangkat keras, perangkat

lunak, jaringan komputer, data dan informasi, pelayanan masyarakat, bisnis dan

organisasi. Komponen tersebut dianalisis letak kekuatannya, kelemahannya, peluang

dan tantangan. Analisis SWOT ini dipakai sebagai dasar penentuan rencana

pengembangan E-Government. Dari analisis ini maka dapat dilakukan evaluasi diri

untuk berbenah diri membangun sistem E-Government yang handal dan terpadu.

Strategi pengembangan E-Government menurut prioritas selanjutnya dapat dibangun

berdasarkan analisis SWOT yang telah disusun, disesuaikan dengan kondisi riil yang

ada di Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah.

Analisis SWOT yang disusun berikut selain dari hasil dari survey langsung

terhadap masyarakat, kalangan bisnis dan instansi pemerintah juga hasil survey

terhadap dokumen-dokumen pendukung yang terdapat di Pemerintah Provinsi Jawa

Tengah,

3.2 Kesesuaian Visi Dan Misi

VISI

"TERWUJUDNYA MASYARAKAT JAWA TENGAH YANG SEMAKIN SEJAHTERA "

MISI

1. Mewujudkan Pemerintahan yang bersih dan profesional serta sikap responsif aparatur.

2. Pembangunan ekonomi kerakyatan berbasis pertanian, UMKM dan industri padat karya.

3. Memantapkan kondisi sosial budaya yang berbasiskan kearifan lokal.4. Pengembangan sumber daya manusia berbasis kompetensi secara

berkelanjutan.5. Peningkatan perwujudan pembangunan fisik dan infrastruktur.

13

Page 14: E-Government Jawa Tengah

6. Mewujudkan kondisi aman dan rasa aman dalam kehidupan masyarakat.

3.3 Solusi Tahap Pengembangan

Prioritas pembangunan Provinsi Jawa Tengah diletakkan pada sektor

kerajinan, kebudayaan, pariwisata, perdangan, jasa, industri dan sektor pertanian dan

kerajinan sebagai sektor unggulan dan mendorong sektor pelayanan dasar,

pengembangan dan pemberdayaan ekonomi local dengan pembenahan kelembagaan

secara menyeluruh melalui system ekonomi kerakyatan berdasarkan prioritas

pembangunan tersebut dan mengacu pada tingkatan pengembangan E-Governtment

menururut Hermawan Kertajaya Dkk.(2002), sebaiknya menuruti tahapan sebagai

berikut:

1. Tahap Pertama, E-Government dikembangkan sebagai internally-

networked public-service provider.

2. Tahap Kedua, E-Government dikembangkan menjadi externally-

networked public-service provider.

3. Tahap Ketiga meloncat ke externally-networked economic development

oriented.

3.4 Tahap Pengembangan Sumber Daya Manusia

Masyarakat harus belajar dengan teknologi yang semakin hari semakin maju

dengan diadakannya pelatihan-pelatihan teknologi informasi dan komunikasi pada

setiap daerah di wilayah Jawa Tengah agar menjadikan masyarakat yang dapat

mengelolah informasi dan teknologi secara mandiri.

3.5 Tahap Pengembangan Infrastruktur Aplikasi

Pada tahap pengembangan infrastruktur aplikasi dimulai dengan identifikasi

aplikasi di tiap instansi, sehingga diketahui akan data, jaringan dan aplikasi yang

terhubung satu sama lainnya. Dalan jangka waktu 5 tahun diharapkan teah terbentuk

data center dan berbagai layanan aplikasi online, termasuk pemilihan kepala daerah

yang dilakukan secara online.

14

Page 15: E-Government Jawa Tengah

3.6 Rencana Implementasi

Halaman Utama Aplikasi E-Government Pemerintah Provinsi

Jawa Tengah

Halaman Utama Berisi Tentang :

1. Informasi Tentang Provinsi Jawa Tengah

2. Informasi Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah

3. Informasi Bisnis di wilayah Jawa Tengah

4. Informasi tentang Info Publik kepada masyarakat

5. Informasi Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.

15

Page 16: E-Government Jawa Tengah

Halaman Tentang Jawa Tengah

Halaman ini berisi tentang:

1. Informasi Profil Jawa Tengah

2. Informasi Brand Jawa Tengah

3. Sejarah Jawa Tengah

4. Kesenian dan Kebudayaan Jawa Tengah

5. Data Statistik kependudukan masyarakat Jawa Tengah

Halaman Pemerintahan Aplikasi E-Government

16

Page 17: E-Government Jawa Tengah

Berisi tentang:

1. Informasi Profil Gubernur dan Wakil Gubernur

2. Informasi Struktur Pemerintahan Jawa Tengah

3. Informasi Mengenai Tugas Pokok Pemerintahan

4. Informasi Visi dan Misi masyarakat Jawa Tengah

5. Informasi Mengenai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)

Halaman Bisnis Pada Aplikasi E-Governtment

Berisi Tentang:

17

Page 18: E-Government Jawa Tengah

Peluang Bisnis, serta hokum-hukum bisnis dan industry yang ada di

wilayah Jawa Tengah

Halaman Info Publik Pada Aplikasi E-Governtment

Berisi Tentang :

1. Informasi Pendidikan bagi masyarakat

2. Informasi transportasi

3. Informasi pelayanan agama.

Halaman Pariwisata Pada Aplikasi E-Government

Berisi tentang :

18

Page 19: E-Government Jawa Tengah

Semua informasi mengenai wisata-wisata yang wajib dikunjungi di

daerah Jawa Tengah.

BAB IV

KESIMPULAN

Pengembangan E-Government di Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah

merupakan penting untuk mencapai Good Governance dalam rangka meningkatkan

pelayanan public dan meningkatkan efektivitas kinerja otonomi daerah. Keberhasilan

pengembangan E-Government akan sangat tergantung dari komitment semua

kalangan masyarakat dan pemerintahan yang terkait dalam menjalankan

pengembangan E-Governtment.

19