Laporan Miko Kel 5

download Laporan Miko Kel 5

of 65

  • date post

    20-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    940
  • download

    192

Embed Size (px)

description

kitaaaaaaaa

Transcript of Laporan Miko Kel 5

LAPORAN PRAKTIKUM MIKOLOGIDi susun oleh :Endah Pitaloka411113077Alif Saefullah M. H.411113078Andriyani Rizki411113079Agnes Tri Lestari411113080Fitriyani Sholihah411113081Widia Nuraeni411113082Neng Nur A. D.411113083Dede Risman411113084

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATANJENDERAL ACHAMAD YANIJl. Terusan Jenderal Sudirman Telp (022) 6631622-24 Fax (022) 6631624 CIMAHI 40633

IDENTIFIKASI DERMATOFITOSISI. II. Hari/Tanggal: Jumat, 20 Februari 2015

III. Prinsip:Prinsip kerja :pemeriksaan dilakukan dengan melakukanpengamatan jamur saprofitik berdasarkan pada pemeriksaan mikroskopik dengan pewarnaan LPCB (Lacto Phenol Cotton Blue)Prinsip LPCB: phenol berfungsi mematikan jamur. Glycerol mengawetkan preparat dan mencegah presipitasi dari cat dan cotton blue untuk mewarnai jamur menjadi biru.

IV. TUJUAN1. Untuk mengidentifikasi jamur yang terdapat dalam sampel kerokan kulit.2. Mengamati morfologi, bentuk, struktur jamur yang diamati3. Untuk mengidentifikasi sampel kerokan kulit yang diduga mengalami dermatofitosis.

V. TINJAUAN PUSTAKA Jamur yang bisa menyebabkan penyakit pada manusia antara lain adalah dermatofita (dermatophyte, bahasa yunani, yang berarti tumbuhan kulit) dan jamur serupa ragi candida albican, yang menyebabkan terjadinya infeksi jamur superficial pada kulit, rambut, kuku, dan selaput lendir. Jamur lainnya dapat menembus jaringan hidup dan menyebabkan infeksi dibagian dalam.Jamur yang berhasil masuk bisa tetap berada di tempat (misetoma) atau menyebabkan penyakit sistemik (misalnya, histoplasmosis).(Djenuddin, 2005).Penyakit infeksi jamur di kulit mempunyai prevalensi tinggi di Indonesia, oleh karena negara kita beriklim tropis dan kelembabannya tinggi.Dermatofitosis adalah infeksi jamur superfisial yang disebabkan genus dermatofita, yang dapat mengenai kulit, rambut dan kuku. Manifestasi klinis bervariasi dapat menyerupai penyakit kulit lain sehingga selalu menimbulkan diagnosis yang keliru dan kegagalan dalam penatalaksanaannya. Diagnosis dapat ditegakkan secara klinis dan identifikasi laboratorik.Pengobatan dapat dilakukan secara topikal dan sistemik.Pada masa kini banyak pilihan obat untuk mengatasi dermatofitosis, baik dari golongan antifungal konvensional atau antifungal terbaru.Pengobatan yang efektif ada kaitannya dengan daya tahan seseorang, faktor lingkungan dan agen penyebab. Prevalensi di Indonesia, dermatosis akibat kerja belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah atau pemimpin perusahaan walaupun jenis dan tingkat prevalensinya cukup tinggi.(Pohan, 2007).A. FISIOLOGI DAN HISTOLOGI KULITKulit merupakan organ tubuh paling luar dan membatasi bagian dalam tubuh dari lingkungan luar.Luas kulit pada orang dewasa sekitar 1.5 m2 dan beratnya sekitar 15% dari berat badan secara keseluruhan. Kulit memiliki banyak fungsi dalam menjaga homeostasis tubuh. Fungsi-fungsi tersebut dapat dibedakan menjadi fungsi proteksi, absorpsi, ekskresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pembentukan pigmen, keratinisasi, dan pembentukan vitamin D (Djuanda dkk, 2007).Kulit terdiri atas tiga bagian utama, yaitu epidermis, dermis, dan hipodermis. Epidermis merupakan lapisan teratas kulit yang terutama terdiri atas epitel berlapis n lapisan tanduk. Selain itu, epidermis juga mengandung tiga jenis sel lain yaitu melanosit yang menghasilkan melanin, sel merkel sebagai mekanoreseptor sensoris, serta sel Langerhans yang berfungsi untuk fagositosis dan presentasi antigen. Epidermis terdiri dari stratum korneum yang kaya keratin, stratum lucidum, stratum granulosum yang kaya keratohialin, stratum spinosum, dan stratum basal yang mitotik. Dermis terdiri dari jaringan ikat yang menunjang epidermis dan mengikatnya pada jaringan subkutan (hipodermis) (Junquiera dan Carneiro, 2007).Dermis terdiri atas dua lapisan dengan batas yang tidak nyata, yaitu stratum papilare dan stratum retikulare.Selain kedua stratum tersebut, dermis juga mengandung beberapa turunan epidermis, yaitu folikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea (Price dan Wilson, 2005). Sedangkanhipodermis terdiri dari jaringan ikat longgar yang mengikat kulit secara longgar pada organ-organ di bawahnya (Junquiera dan Carneiro, 2007). Proses pembentukan lapisan tanduk (keratin) dikenal sebagai proses keratinisasi. Keratinosit dimulai dari sel basal mengadakan pembelahan, lalu sel basal akan berpindah ke atas dan berubah bentuknya menjadi sel spinosum, makin ke atas sel menjadi makin gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Makin lama inti menghilang, mengalami apoptosis dan menjadi sel tanduk yang amorf. Sel-sel yang sudah mengalami keratinisasi akan meluruh dan digantikan dengan sel di bawahnya yang baru saja mengalami keratinisasi untuk kemudian meluruh kembali, begitu seterusnya. Proses ini memakan waktu sekitar empat minggu untuk epidermis dengan ketebalan 0.1 mm (Junquiera dan Carneiro, 2007; Price dan Wilson, 2005).

B. DERMATOFITADermatofita adalah golongan jamur yang mempunyai sifat mencerna keratin. Berdasarkan sifat morfologi, dermatofita dikelompokkan dalam 3 genus : Trichophyton, Microsporum, dan Epidermophyton. Enam spesies penyebab dermatofitosis di Indonesia adalah Trichophyton rubrum, Truchophyton mentagrophytes, Microsporum canis, Microsporum gypseum, Trichophyton concentricum dan Epidermophyton floccosum.(Gandahusada dkk, 2006).Jamur golongan dermatofita membentuk koloni filament pada biakan agar Sabouraud.Setiap spesies memiliki sifat koloni, hifa dan spora yang berbeda.Seua dermatofita bisa membentuk hifa spiral.Makrokonidia dari Trichophyton berbentuk panjang menyerupai pensil.Mikrokonidia T. rubrum kecil, berdinding tipis, berbentuk lonjong, terletak pada konidiofora yang pendek dan tersusun secara satu persatu pada sisi hifa (en thyrse) atau berkelompok (en grappe).Jamur jenis ini memilki hifa yang halus dan banyak mikrokonidia.Mikrokonidia T. mentagraphytes berbentuk bulat dan membentuk banyak hifa spiral.(Gandahusada dkk, 2006).Makrokonidia M.canis berbentuk kumparan berujung runcing dan terdiri ari 6 sel atau lebih.Makrokonidia ini berbentuk tebal.Microsporum gypseum juga berbentuk kumparan terdiri atas 4-6 sel, dindingnya lebih tipis Mikrokonidia M.canis dan M.gypseum berbentuk lonjong dan tidak khas.(Gandahusada dkk, 2006).Epidermophyton floccosum, merupakan satu-satunya pathogen pada genus ini, hanya menghasilkan makrokonidia, berdinding halus, berbentuk gada, bersel dua sampai empat dan tersusun dalam dua atau tiga kelompok.Koloni biasnaya rata dan seperti beludru dengan warna coklat sampai kuning kehijauan.E floccosum tidak menginfeksi rambut. (Brooks dkk, 2004).Beberapa spesies dermatofita, keadaan reproduksi seksual telah ditemukan, dan semua dermatofita dengan bentuk seksual menghasilkan askospora.(Brooks dkk, 2004).

C. DERMATOFITOSISMikosis superfisialis adalah penyakit infeksi mukokutaneus yang paling banyak dijumpai, disebabkan oleh infeksi jamur dengan kedalaman infeksi 1-2 mm. Penyakit ini timbul akibat perubahan lingkungan mikro di kulit, yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu dermatofitosis dan nondermatofitosis (Riza, 2009).Dermatofitosis adalah penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofit.Golongan jamur ini dapat mencerna keratin kulit oleh karena mempunyai daya tarik kepada keratin (keratinofilik) sehingga infeksi jamur ini dapat menyerang lapisan-lapisan kulit mulai dari stratum korneum sampai dengan stratum basalis(Budimulja, 2002).Terdiri atas:a. Tinea kapitisTinea kapitis adalah kelainan kulit pada daerah kepala berambut yang disebabkan oleh jamur golongan dermatofita.b. Tinea korporisTinea korporis adalah infeksi jamur dermatofita pada kulit halus (glaborous skin) di daerah muka, badan, lengan dan glutea.c. Tinea kruris Tinea kruris adalah penyakit infeksi jamur dermatofita di daerah lipat paha, genitalia, dan sekitar anus, yang dapat meluas ke bokong dan perut bagian bawah.Penyebab utama adalah Epidermophyiton floccosum, Trichophyton rubrum dan Trichophyton mentografites.d. Tinea unguium Tinea unguium adalah kelainan kuku yang disebabkan oleh infeksi jamur dermatofita.e. Tinea barbae Tinea barbae adalah infeksi jamur golongan dermatofitosis yang mengenai daerah jenggot, jambang dan kumis.

Sedangkan jenis penyakit yang termasuk golongan nondermatofitosis terdiri atas:a. Pitiriasis versikolorPitiriasis versikolor adalah infeksi jamur superfisial pada lapisan tanduk kulit yang disebabkan oleh Malassezia furfur atau Pityrosporum orbiculare.Infeksi ini bersifat menahun, ringan, dan biasanya tanpa peradangan.Pitiriasis versikolor mengenai wajah, leher, badan, lengan atas, ketiak, paha dan lipat paha.b. PiedraPiedra adalah infeksi jamur pada rambut, ditandai dengan benjolan (nodus) sepanjang rambut, dan disebabkan oleh Piedra hortai (black piedra) atau Trichosporon beigelii (white piedra).c. KandidiasisKandidiasis adalah penyakit kulit akut atau subakut, disebabkan jamur intermediat yang menyerang kulit, subkutan, kuku, selaput lendir dan alat-alat dalam.

VI. ALAT DAN BAHANAlat:1. Objek Glass2. Cover Glass3. Mikroskop4. Skalpel5. Cawan Petri6. Bunsen7. OseBahan:1. Kerokan kulit2. Alkohol 70%3. Agar SDA4. Reagen LPCBPhenol 20 gLactic acid20 mlGlycerol 40 gCotton blue0.05 g

VII. CARA KERJACara kerja :Pengambilan Sampel:a. Kulit, bahan diambil dan dipilih dari bagian lesi yang aktif yaitu daerah pinggir. Terlebih dahulu diberihkan dengan alkohol 70%b. Lalu dikerok dengan skalpel yang sebelumnya telah disterilisasi menggunakan bunsen.c. Letakkan cawan petri steril dibawah kulit yang dikerok untuk menampung hasil kerokan.Penanaman Sampela. Sediakan media SDAb. Sebarkan hasil kerokan di atas media SDA secara aseptisc. Inkubasi pada suhu kamar ( 25C ) selama 7 harid. Amati morfologi koloni dan bandingkan dengan kunci determinasi dermatofitaPewarnaan LPCBa. Setelah dilakukan pengamatan koloni, kemudian dilanjutkan dengan pewarnaan LPCB untuk mengidentifikasi jenis jamur yang tumbuh.b. Ambil satu tetes larutan LPCB