Kawasan Industri Aspek Tekno Ekonomi

download

of 23

  • date post

    12-Jun-2015
  • Category

    Real Estate
  • view

    827
  • download

    3

Embed Size (px)

description

Aneka hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam upaya pengembangan suatu kawasan industry.

transcript

  • 1. ASPEK TEKNO-EKONOMI (DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI & PERANNYA DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN YANG BERKELANJUTAN) BAHAN PRESENTASI DISAMPAIKAN OLEH : ARRYANTO SAGALA DI SELENGGARAKAN OLEH PROYEK PENGEMBANGAN WILAYAH INDUSTRI DAN PERDAGANGAN PUSLITBANG SUMBER DAYA & LINGKUNGAN HIDUP BADAN LITBANG INDUSTRI DAN PERDAGANGAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN MAKASSAR, 6 7 AGUSTUS 2003

2. ASPEK TEKNO-EKONOMI DLM PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI PERANNYA DLM MENDUKUNG PEMBANGUNAN YG BERKELANJUTAN & ADA 2 TOPIK BAHASAN AGAR DLM PENGEMB TDK IDLE GOAL SEMINAR : MEMBERI WAWASAN KPD PIHAK2 TERKAIT (STAKE HOLDER) TTG KAWASAN INDUSTRI (KRN PEMBANGUNAN KI MEMBUTUHKAN INVESTASI YG BESAR & PROFESIONALISM) KENAPA 2 TOPIK DI ATAS DIANGKAT ?? DR PENGAMATAN YG DILAKUKAN SELAMA 13 THN (SEJAK KEPPRES 53/1989) DITEMUI FENOMENA2 LAPANGAN AL : 1. BELUM DIPAHAMI SECARA BENAR ASPEK2 TEKNIS PERENC MAKRO & MIKRO DLM PENGEMB KI 2. BELUM SAMA PERSEPSI STAKE HOLDER TTG KAWASAN INDUSTRI SESUAI PP 25/2000 TURBINBANG KI ADA PD PEMTH KAB/KOTA PEMERINTAH PUSAT BERTUGAS MENYUSUN PEDOMAN SBG ACUAN PEM. KAB/KOTA MEMPERKENALKAN : PEDOMAN TEKNIS PENGEMB KAWASAN INDUSTRI (INDUSTRIAL ESTATE/INDUSTRIAL PARK) DI DAERAH o ADA RENC TAPI TDK TEREALISIR o ADA YG SIFATNYA IKUT2AN (:LATAH) o ADA KI TAPI INDUSTRI TETAP DI LUAR o ADA KI TAPI TDK EFEKTIF (TIMBUL KASUS INTERNAL & EKSTERNAL) o DSBNYA ? 1 3. 5 SUB TOPIK PEMBHS: ASPEK TEKNO-EKONOMI DLM PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI PERANNYA DLM MENDUKUNG PEMBANGUNAN YG BERKELANJUTAN & A. KONSEPSI PENGEMB KAWASAN INDUSTRI B. FAKTOR TEKNO EKONOMI DLM MENDUKUNG KELAYAKAN PENGEMB KI DI SUATU DAERAH D. STANDAR TEKNIS PERENCANAAN KAWASAN INDUSTRI C. KRITERIA PEMILIHAN LOKASI KAWASAN INDUSTRI E. TINJAUAN PERAN KI SBG TOOLS UNTUK MEWUJUDKAN IWL (PEMBANGUNAN INDUSTRI YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN) 2 4. A. KONSEPSI PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI DEFINISI KI ( KEPPRES 53/1989 KEPPRES 41/1996) : KAWASAN TEMPAT PEMUSATAN KEGIATAN INDUSTRI YANG DILENGKAPI SARANA & PRASARANA PENUNJANG YANG DIKEMBANGKAN & DIKELOLA OLEH PERUSAHAAN KI YANG TELAH MEMILIKI IZIN USAHA KAWASAN INDUSTRI CIRI-CIRI KAWASAN INDUSTRI LAHAN SUDAH DILENGKAPI SAPRAN KTM ADA SUATU BADAN/MANAJEMEN PENGELOLA YANG MEMILIKI IZIN USAHA KI BIASANYA DIISI OLEH INDUSTRI MANUFAKTUR (PENGOLAHAN MULTI JENIS) 1. APA ITU KAW. INDUSTRI (INDUSTRIAL ESTATE/INDUSTRIAL PARK) 3 5. UTAMA SBG ALAT (TOOLS) MENGATUR TATA RUANG & MEMINIMALKAN KASUS PENCEMARAN SEBAGAI PENCIPTAAN/ STIMULATOR IKLIM INVESTASI LAIN LAIN : MENCARI/MENCIPTAKAN PROFIT PERLU DIKETAHUI/DIPAHAMI FAKTOR-FAKTOR PERTIMBANGAN KELAYAKAN USAHA !!!!! TERUTAMA BAGI DAERAH YANG IKLIM INVESTASI INDUSTRI TINGGI BAGI DAERAH- DAERAH YANG REMOTE A. KONSEPSI PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI 2. APA TUJUAN/MANFAAT PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI 4 6. LAND DEMAND 7 10 HA/THN VS UNIT USAHA INDUSTRI YANG TUMBUH MINIMAL 5 UU/TH INDEX CORLTN ( -1 < IC < + 1) 0,98 (SANGAT MENENTUKAN) 0,90 0,89 0,68 0,62 (MENENTUKAN) A.. LAND DEMAND (KEBUTUHAN LAHAN) LUAS MINIMUM KAW UNT LAYAK 20 HA DGN PAY BACK PERIOD 3 TH LUAS MINIMUM UTK DILENGKAPI WWTP/IPAL TERPADU 50 HA B.. JENIS INDUSTRI YANG TUMBUH INDUSTRI PENGOLAHAN (MANUFAKTUR) BUKAN IND HULU/DASAR RERATA LUAS KEBT. LAHAN MANUFAKTUR 1,32 1,34HA D..KETERSEDIAAN SAPRAN PENUNJANG PELABUHAN LAUT (OUTLET) JAR. JLN ARTERI/KOLECTOR SBG AKSES KE OUTLET ENERGI LISTRIK AIR (A. TANAH, SUNGAI, PDAM) TELKOM BANKING/LEMB. KEUANGAN E..KERTERSEDIAAN SDM (TENAGA KERJA INDUSTRI) TERSEDIAT. KERJA DGN PENDIDIKAN > SLTP KEBUTUHAN 90 110 TK/HA C..TIMBULNYA KASUS- KASUS LINGKUNGAN ADA/TDK KASUS2 PENCEMARAN (AIR TANAH, SUNGAI, UDARA) ATAU MIXED LAND USE YG KONFLIK B. FAKTOR TEKNO EKONOMI DLM MENDUKUNG PENGEMB KAW INDUSTRI 1. FAKTOR INTERNAL TERDAPAT 5 FAKTOR 5 7. A.. KONDISI HINTERLAND (DAERAH BELAKANG) DI HINTERLAND ADA/TDK POTENSI SDA YANG DIOLAH IND HULU/DASAR DOWN STREAM INDUSTRY YANG BERLOKASI DI FRONTIER REGION (MANUFACTUR) B. PERSAINGAN DENGAN DAERAH LAIN TDK HARUS SETIAP DAERAH PUNYA KI PERSAINGAN ANTAR DAERAH DLM 1 SISTEM OUTLET (PELABUHAN) BILA BERJARAK 20 50 65 70 Maks. 10 Maks. 10 Sesuai kebutuhan Min. 10 >50 100 60 70 Maks. 12,5 Maks. 15 Sesuai kebutuhan Min. 10 >100 200 50 70 Maks.15 Maks. 20 Sesuai kebutuhan Min. 10 >200 500 45 70 Maks. 17.5 10 25 Sesuai kebutuhan Min. 10 >500 40 70 Maks. 20 10 30 Sesuai kebutuhan Min. 10 13. D. STANDAR TEKNIS PERENCANAAN KAWASAN INDUSTRI 5. UKURAN KAPLING P GSB 2 3 2 1 L GSB LEBAR : MIN KELIPATAN 18 M + 2 GSB KIRI KANAN 6. PENEMPATAN PINTU KELUAR - MASUK JALAN BERJAUHAN (SIRKULASI TRAFF) 7. PENYEDIAAN TEMPAT PARKIR & BONGKAR MUAT PARKIR MOBIL KRYW & BONGKAR MUAT WAJIB DLM AREAL KAVLING (SIRKULASI TRAF DLM KAW LANCAR) PARKIR BUS KARYW & KONTAINER PERLU DISIAPKAN PENGELOLA DI SUATU AREAL KHUSUS 12 14. D. STANDAR TEKNIS PERENCANAAN KAWASAN INDUSTRI 8. STANDAR KEBUTUHAN UTILITAS & SAPRAN No Teknis Pelayanan Kapasitas Pelayanan Keterangan 1 Luas lahan per unit usaha 0,3 5 Ha Rerata Industri manufaktur butuh lahan 1,34 Ha Perbandingan lebar : panjang 2 : 3 atau 1 : 2 dgn lebar minimum 18 m di luar GSB Ketentuan KDB, KLB, GSJ & GSB disesuaikan dengan Perda yang bersangkutan. 2. Jaringan jalan - Jalan Utama 2 jalur satu arah dengan lebar perkerasan 2 x 7 m atau 1 jalur 2 arah dengan lebar perkerasan minimum 8 m - Jalan lingkungan 2 arah dengan lebar perkerasan minimun 7 m 3 Saluran Drainase Sesuai debit Ditempatkan di kiri kanan jalan utama dan jalan lingkungan 4 Saluran severage Sesuai debit Saluran tertutup yang terpisah dari saluran drainase 5 Air Bersih 0,55 0,75 l/dtk/ha Air bersih dapat bersumber dari PDAM maupun air tanah yang dikelola sendiri oleh pengelola KI, sesuai dengan peraturan yang berlaku. 6 Listrik 0,15 0,2 MVA/Ha Bersumber dari listrik PLN maupun listrik swasta. 7 Telekomunikasi 4 5 SST/Ha Termasuk faximile/telex Telepon umum 1 SST/10 Ha 13 15. D. STANDAR TEKNIS PERENCANAAN KAWASAN INDUSTRI No Teknis Pelayanan Kapasitas Pelayanan Keterangan 8 Kapasitas kelola IPAL Standar influent: BOD : 400 600 mg/l COD : 600 800 mg/l TSS : 400 600 mg/l pH : 410 Kualitas parameter limbah cair yang berada diatas standar influent yangditetapkan, wajibdikelolaterlebihdahuluolehpabrik ybs. 9 Tenagakerja 90 110 TK/Ha 10 Kebutuhan hunian 1,5TK/unit hunian Huniandapat berupa: Rumah hunian Mess/dormitori karyawan 11 Bangkitan Transportasi Eksport=3,5 TEUs/Ha/bln Import=3,0 TEUs/HA/Bln Belumtermasuk angkutanburuhdan karyawan. 12 Prasarana dan sarana sampah (padat) 1 bak sampah/ kapling 1 armada sampah/ 20Ha 1unit TPS/20 Ha Perkiraanlimbahpadat yangdihasilkanadalah : 4m3/Ha/Hari 13 Kebutuhan Fasilitas Komersial Sesuai kebutuhan dengan maksimum 20% luaslahan. Dalam fasilitas komersial ini diperlukan adanya suatu trade center sebagai tempat untuk promosi dan pemasaran kawasan sertaproduk-produk yangdihasilkandi dalamkawasan. Kantor perijinan1atap. 14 16. D. STANDART TEKNIS PERENC. KAWASAN INDUSTRI PENGELOLA DPT MENYIAPKAN FAS. LAIN : KANTIN, POLIKLINIK, IBADAH, MESS, SARN. OR. TPS. KANTOR PENGELOLA, KTR POLISI DSB 9.FASILITAS PENUNJANG LAIN TERGANTUNG LUAS & KEBUTUHAN 10. FASILITAS TRADE CENTER SEBAGAI RUANG PAMER (EXHIBITION) & PROMOSI PPRODUK RENTAL OFFICE & RUANG SERBA GUNA SEBAGAI OBJEK WISATA BUSSINES TERGANTUNG LUAS & KEBUTUHAN 15 17. E. TINJAUAN PERAN KAW. INDST SBG TOOLS UTK MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN BERWAWASAN LINGKUNGAN (IWL) 1. KONSEPSI PEMB. INDUSTRI BERWAWASAN LINGKUNGAN PROSES PEMB. YG DPT MEMENUHI KEBUTUHAN GENERASI MASA KINI TANPA MENGESAMPINGKAN/ MENGORBANKAN KEMAMPUAN GENERASI MENDATANG DALAM MEMENUHI KEBUTUHANNYA DPT MELINDUNGI BIOSFIR EFFISIENSI SDA & SDB ADIL/PENERAPAN ANTAR NEGARA & GENERASI LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL ESSID: PENERAPAN PERATURAN KEPEDULIAN TERHADAP LINGKUNGAN (DARLING) PEMILIHAN TEKNOLOGI PENGATURAN LOKASI VISI : PREVENTIF >> KURATIF: KRITERIA YANG DIPENUHI : 16 18. E. TINJAUAN PERAN KAW. INDST SBG TOOLS UTK MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN BERWAWASAN LINGKUNGAN (IWL) 2. POLA PENGEMB. LOKASI INDUSTRI AGLOMERATIF TERCAPAI EFFISIENSI EFFISIENSI FAKTOR2 BIAYA UNTUK KELANGSUNGAN PROSES PRODUKSI JENIS PENGGUNAAN (BIAYA) INDIVIDU AGLOMERATIF ( 4 UU) KAPASITAS Rp (JUTA) KAPASITAS Rp (JUTA) 1. AKSES JALAN LS 15,0 LS 15,0 2. .LISTRIK (GENSEWT) 0,5 MW 2,5 1 MW 3,5 3. AIR BERSIH 50 L/MNT 4,0 150 L/MNT 5,0 4. IPAL 40 L/MNT 8,0 120 L/MNT 11,5 JUMLAH 29,5 35,0 BIAYA PER UU 29,5 8,75 DAPAT DITEMPUH ASPEK TEKNOLOGI PEMILIHAN B. BAKU HANDLING B. BAKU DISAIN PABRIIK PROSES PRODUKSI PENGOLAHAN LIMBAH 1 ASPEK LOKASIONAL (KETEPATAN LOKASI) BIAYA TEMPAT USH (LHN & BNGN) BIAYA PENYEDIAAN SAPRAN (JL, LIST, A. BERSIH, IPAL DSB BIAYA PERALATAN KERJA DIGUNAKAN BERSAMA (COMMON SERVICE FACILITIES) BIAYA TRANSPORT (B. BAKU/ PENOLONG & DISTRBS) 2 PERLU DIBUKTIKAN ANTARA LOKASI INDIVIDU VS AGLOMERATIF 1. TERBUKTI LOKASI AGLOMERATIF LBH EFFISIEN DRPD LOK. INDIVIDU 2. KRN LOK. AGLOMERATIF (IE/IP/IC) SDH DILENGKAPI SISTIM AIR BERSIH & IPAL DMPK NEGATIF LINGK MINIMAL 3. LEBIH MUDAH MEMONITOR & MENINDAK 100 PABRIK DLM 1 KAW. INDUSTRI DRPD 10 PABRIK TERPENCAR-PENCAR 17 19. TERDAPAT 3 PIHAK YG BERTANGGUNG JAWAB DLM PENGELOLAAN LINGK. KAWASAN INDUSTRI, YAITU : MASING2 PABRIK (USER) YG BERLOKASI DLM KI PENGELOLA/PENGEMBANG KAW. INDUSTRI PEMERINTAH DAERAH YG MEMBERIKAN IZIN LOKASI DISAMPING ITU DLM PENGEMBANGAN SUATU KAW. INDUSTRI SENANTIASA HARUS DIPERHATIKAN MASALAH PENDEKATAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN (CARRYING CAPACITY APPROCH) DENGAN PENDEKATAN SEPERTI DIAGRAM BERIKUT INI : S DVS KETERBATASAN/ KENDALA LINGK (AIR, UDARA DSB) JENIS INDUSTRI PROSPEKTIF 3 KLASS INDUSTRI A. DAMPAK REGIONAL HAL2 YG MENJADI PERHATIAN/TG. JAWAB PEMDA GOTO 20 B. DAMPAK2 SKALA TAPAK KI HAL2 YG MENJADI TG. JAWAB PENGEMBANG KI GOTO 21 C. DAMPAK2 SKALA PABRIK HAL2 YG MENJADI TG. JAWAB MASING2 PABRIKGOTO 22 TDK BOLEH BERLOKASI DI K.I. BOLEH B