Kasbes Anak

of 99 /99
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Penyakit diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada bayi dan balita di negara berkembang. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995 menunjukkan angka kematian pada balita cenderung menurun dari 7,7 % (1980) menjadi 2,5 % (1995). Pada bayi menurun dari 22,0 % (1980) menjadi 8 % (1995), sedangkan hasil survei Subdit P2 diare menunjukkan peningkatan dari 1078/ 1000 balita (1996) menjadi 1278/ 1000 balita (2000). Kira-kira 80 % diantaranya terjadi pada umur dua tahun pertama . Di negara berkembang, 3.2 juta kematian setiap tahun pada balita, sekitar 80 % kematian yang berhubungan dengan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinjanya. Penyebab kematian yang lain adalah kekurangan gizi dan infeksi yang seriusPada diare bisa terjadi anemi terutama defisiensi zat besi karena asupan yang berkurang (akibat anak sakit, sehingga nafsu makan menurun), pengeluaran yang meningkat (akibat diare, atau muntahnya), kebutuhan yang meningkat (karena anak sakit, terutama bila disertai panas, sehingga metabolisme tubuh meningkat), penyerapan 1

Embed Size (px)

description

anak

Transcript of Kasbes Anak

BAB IPENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANGPenyakit diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada bayi dan balita di negara berkembang. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995 menunjukkan angka kematian pada balita cenderung menurun dari 7,7 % (1980) menjadi 2,5 % (1995). Pada bayi menurun dari 22,0 % (1980) menjadi 8 % (1995), sedangkan hasil survei Subdit P2 diare menunjukkan peningkatan dari 1078/ 1000 balita (1996) menjadi 1278/ 1000 balita (2000). Kira-kira 80 % diantaranya terjadi pada umur dua tahun pertama. Di negara berkembang, 3.2 juta kematian setiap tahun pada balita, sekitar 80 % kematian yang berhubungan dengan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinjanya. Penyebab kematian yang lain adalah kekurangan gizi dan infeksi yang seriusPada diare bisa terjadi anemi terutama defisiensi zat besi karena asupan yang berkurang (akibat anak sakit, sehingga nafsu makan menurun), pengeluaran yang meningkat (akibat diare, atau muntahnya), kebutuhan yang meningkat (karena anak sakit, terutama bila disertai panas, sehingga metabolisme tubuh meningkat), penyerapan usus kurang akibat terganggunya struktur usus (perusakan vili, epitel dan mukosa usus oleh kuman penyebab diare).Diare dapat didefinisikan sebagai meningkatnya frekuensi buang air besar dan berubahnya konsistensi menjadi lebih lunak atau bahkan cair. Tinja melembek sampai mencair dan kemudian frekuensi buang air besar bertambah lebih dari biasanya ( 3 kali atau lebih dalam 24 jam ). Namun demikian wujud tinja merupakan ukuran yang lebih penting dibandingkan dengan frekuensi buang air besar. Meski sering buang air, tapi jika wujud tinja lunak dan berisi tidak dapat dikatakan sebagai diare. Dua bahaya utama diare adalah dehidrasi dan gizi kurang. Dehidrasi terjadi bila pengeluaran air dan garam lebih banyak dibandingkan pemasukannya. Semakin banyak tinja yang dikeluarkan berarti semakin banyak anak tersebut kehilangan cairannya.Selain faktor penyebab, pengelolaan penderita diare harus memperhatikan banyak faktor yang saling mempengaruhi dan berkaitan, misalnya masalah lingkungan penderita, higiene sanitaasi, perilaku manusia yang memanfaatkan sarana kesehatan yang ada, status gizi, sosial ekonomi dan budaya.Dalam penulisan ini akan dilaporkan seorang anak dengan diare akut dengan dehidrasi tak berat dan gizi baik yang dirawat di bangsal C1L2, RSUP Dr. Karyadi Semarang.

B. TUJUANTujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui cara menegakkan diagnosis dan mengelola pasien diare akut dengan dehidrasi tidak berat, serta untuk mengevaluasi tindakan pengobatan yang diberikan telah sesuai dengan kepustakaan yang ada.

1. Tujuan umumUntuk mengetahui cara mendiagnosis dan mengelola pasien diare akut dengan dehidrasi tidak berat sesuai kepustakaan atau prosedur yang ada.

2. Tujuan Khusus1. Mahasiswa mampu melakukan autoanamnesis dan alloanamnesis kepada pasien diare akut dengan dehidrasi tidak berat.2. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik dan mengerti pemeriksaan penunjang sebagai diagnosis pasti diare akut dengan dehidrsi tidak berat.3. Mahasiswa mampu menilai status pertumbuhan dan perkembangan anak.4. Mahasiswa mampu melakukan pengelolaan secara komprehensif dan holistik pada kasus ini.

C. MANFAATPenulisan laporan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai media belajar bagi mahasiswa sehingga dapat menegakkan diagnosa dan mengelola permasalahan diare akut dehidrasi tidak berat, secara dini dan tepat serta komprehensif dan holistik.

BAB IIPENYAJIAN KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA

Nama penderita: An. MKSUmur/ Tanggal lahir: 1 tahun 2 bulan / 29 Juni 2012Jenis Kelamin: Laki-lakiPendidikan: Belum sekolahAgama: IslamAlamat: Lempongsari timur RT 001/RW 006, SemarangNo. CM: C362735Bangsal: C1L2Masuk RS: 28 September 2013Keluar RS: 1 Oktober 2013

IDENTITAS ORANG TUANama Ibu : Ny. I Nama Ayah : Tn.KUmur : 30 tahun Umur : 35 tahunPekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pekerjaan : Buruh BangunanPendidikan : SD Pendidikan : SD

B. DATA DASAR1. ANAMNESIS Dilakukan alloanamnesis dengan orangtua penderita di Bangsal Anak C1 L2, tanggal 28 September 2013 pukul 16.00 WIB.0. Keluhan Utama : Mencret0. Riwayat Penyakit Sekarang sejak 3 hari SMRS anak buang air besar cair 5 kali dalam satu hari, jumlah cukup banyak (orang tua tidak dapat memperkirakan dengan takaran gelas belimbing), warna kuning, ampas (+), lendir (-), darah (-), nyemprot (+), bau asam (+), muntah (+) 3 kali/hari @ 2 -3 sendok makan, isi seperti yang dikonsumsi. Anak masih mau minum, tampak kehausan, mata anak cekung (+). Air mata masih keluar (+) saat menangis namun sedikit. Selain itu, anak juga demam (+) namun tidak tinggi, batuk (-), pilek (-), jumlah dan frekuensi BAK seperti biasa. Anak dibawa ke dokter spesialis anak di Semarang dan diberi obat zinc tablet 1 x 20 mg, oralit 100 cc tiap mencret dan atau muntah, namun orang tua merasa tidak ada perbaikan. 1 hari SMRS anak buang air besar cair 10 kali dalam satu hari, jumlah cukup banyak, warna kuning, ampas (+), lendir (-), darah (-), nyemprot (+), bau asam (+), mata cekung (+), anak tampak rewel, air mata (+) berkurang, anak tampak kehausan bila diberi minum, buang air kecil tidak rewel, jumlah dan frekuensi berkurang. Keluhan disertai muntah (+) 10 kali/hari @ 2-3 sendok makan, isi seperti yang dikonsumsi, batuk (-), pilek (-), cairan dari telinga (-), mimisan (-). Demam (+) tidak tinggi, terus menerus, turun bila diberi obat, kemudian naik lagi, bintik merah di kulit seperti digigit nyamuk (-). Sebelumnya anak tidak diberi makanan dan minuman yang berbeda dari makanan yang biasa dikonsumsi anak. Oleh karena keadaan anak tak kunjung membaik, kemudian anak dibawa ke UGD RSDK, di UGD anak di rehidrasi 75 cc/kgBB/dalam 4 jam terbagi menjadi infus RL 18 tpm makro dan oralit 337,5 cc dalam 4 jam dan diberi paracetamol syrup 3x3/4 sendok teh, kemudian dirawat inap di C1L2.

0. Riwayat penyakit Dahulu UmurUmur

Morbili-Diare-

Pertusis-Disentri Basiler-

Varisela-Disentri Amuba-

Difteri-Tifus Abdominalis-

Malaria-Cacingan-

Tetanus-Operasi-

Angina-Gegar otak-

Pneumoni-Patah tulang-

Bronkhitis-Reaksi obat-

Demam berdarah dengue-Faringitis-

Campak-

0. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang sakit diare saat ini. Tidak ada anggota keluarga yang sakit DBD saat ini. Tidak ada tetangga dekat rumah yang sakit DBD saat ini.

0. Riwayat Sosial EkonomiAyah bekerja sebagai buruh bangunan, sedangkan ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga. Penghasilan orangtua setiap bulan sekitar Rp 700.000,00/bulan, menanggung istri dan 2 orang anak yang belum mandiri. Biaya pengobatan ditanggung oleh Jamkesmas. Kesan : Sosial ekonomi kurang.Kriteria Sosial Ekonomi menurut BPS (Badan Pusat Statistik)1. Jumlah anggota keluarga (4)(skor : 0)1. Luas lantai bangunan :1. < 8 m2 per kapita1. > 8 m2 per kapita(skor : 1)1. Jenis lantai bangunan tempat tinggal terluas :2. Bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/ tembok tanpa diplester2. Semen/ keramik/ kayu berkualitas tinggi(skor : 1)1. Jenis dinding bangunan tempat tinggal terluas :3. Bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah3. Tembok/ kayu berkualitas tinggi(skor : 1)1. Fasilitas untuk buang air besar :4. Bersama/ umum/ lainnya4. Sendiri(skor:1)1. Sumber air minum :5. Sumur atau mata air tak terlindungi/ sungai/ air hujan5. Air kemasan/ledeng/pompa/sumur atau mata air terlindungi(skor : 1)1. Sumber penerangan utama :6. Bukan listrik6. Listrik (PLN/non PLN)(skor : 1)1. Jenis bahan bakar untuk memasak sehari-hari :7. Kayu/ arang/ minyak tanah7. Gas/ listrik(skor : 1)1. Berapa kali dalam seminggu rumah tangga membeli daging/ susu/ ayam :8. Tidak pernah membeli/ satu kali(skor : 0)8. Dua kali atau lebih1. Berapa kali sehari biasanya rumah tangga makan :9. Satu kali/ dua kali(skor : 1)9. Tiga kali atau lebih1. Berapa stel pakaian baru dalam setahun biasanya dibeli oleh/ untuk setiap/ sebagian besar anggota keluarga :10. Tidak pernah membeli/ satu kali(skor : 1)10. Lebih dari satu kali1. Apabila ada anggota keluarga yang sakit apakah mampu berobat ke Puskesmas atau Poliklinik :11. Ya(skor : 1)11. Tidak 1. Lapangan pekerjaan utama kepala rumah tangga :12. Tidak bekerja/ pertanian padi/ palawija12. Perkebunan/ peternakan/ perikanan/ industri/ perdagangan/ angkutan/ jasa lainnya(skor : 1)1. Pendidikan tertinggi yang ditamatkan kepala keluarga :13. SD/ MI ke bawah/ SLTP13. SLTA ke atas(skor : 0)1. Apakah keluarga memiliki barang-barang berikut yang masing-masing bernilai paling sedikit Rp 500.000,- :14. Tidak ada14. Tabungan/emas/TV berwarna/ternak/sepeda motor (skor : 1)16.Apakah rumah tangga pernah menerima kredit UKM/KUKM setahun lalu?a. Tidakb. Ya(skor: 0)Jumlah skor : 13Kriteria BPS: Jumlah skor 38oC)

Diet : 3 x nasi3 x Susu 200 ccProgram : Evaluasi KU, TV, Tanda dehidrasi- Pasien diperbolehkan untuk pulang Edukasi mengenai pencegahan diare

H. HASIL KUNJUNGAN RUMAHKunjungan rumah dilakukan pada tanggal 10 Oktober 2013 pukul 15.00 WIB.I. Keadaan rumahStatus: Rumah milik sendiriUkuran:luas tanah : 4,5 x 9 m2Penghuni: 5 orang: Ayah 1, Ibu 1, Paman 1, Anak 2Dinding rumah:Tembok bata, dicatLantai rumah: Ubin 30 cm x 30 cm warna putih dan abu-abuAtap:GentingRuangan:Terasukuran(1x 4.5)m2Ruang tamuukuran(2 x 4.5)m2Ruang keluargaukuran(4 x 2.5)m2Ruang tidurukuran(2 x 2)m2Dapurukuran(2 x 2.5)m2Kamar mandiukuran(2 x 2)m2

Ventilasi:Terdapat jendela di ruang tamu (1x2 m) dan di ruang tidur (1x1m)Pencahayaan:Cahaya matahari masuk melalui pintu dan kaca jendela depan. Terdapat ruang terbuka di belakang rumah tempat menjemur pakaian dan sumurSumber air minum:Air PAM dimasak sendiriSumber air masak : Air PAMTempat sampah:Sampah dikumpulkan di tempat sampah di depan rumah dan diambil petugas tiap 3 hari sekali.Tempat penampungan air:Bak penampungan air di kamar mandi berupa satu buah bak air dan dua buah ember untuk mencuci pakaian.Kamar mandi:Ada, di dalam rumah, terdapat satu buah bak air sebagai penampungan air di kamar mandi, terbuka, dibersihkan 1x tiap seminggu, ditemukan jentik nyamuk, jumlah sedikit. Jamban ada, selokan ada tapi mengalir kurang lancar. Kamar mandi kadang digunakan juga sebagai tempat mencuci.Dapur:Ada satu buah, di dalam rumah, peralatan makan diletakkan di rak.

Denah rumahLuas rumah = 4.5 x 10 m22 m2.5 m

Sumur & Jemuran

Dapur2 m

Kamar mandiWC

Ruang Keluarga

Ruang Tidur

10 m6 m

Ruang Tamu

Teras1 m

Halaman1 m

4.5 m

Kesan : Ukuran rumah sudah memadai bagi 5 penghuni, kondisi bangunan rumah kurang baik, kebersihan rumah baik,ventilasi dan pencahayaan cukup, lingkungan sekitar rumah padat.

Lingkungan tempat tinggalRumah pasien terletak di daerah Lempongsari timur, Semarang di daerah tinggi. Ukuran rumah ukuran kecil, memiliki halaman dan teras kecil. Jalan depan rumah sempit hanya bisa dilalui sepeda motor. Selokan mengalir kurang lancar, airnya berwarna hitam dan berbau. Bila hujan deras kadang air masuk hingga kedalam rumah.. Rumah yang satu dengan yang lain berdempetan, kepadatan penduduk di sekitar rumah tinggi. Lingkungan di sekitar rumah asri, namun banyak tumpukan barang bekas di rumah tetangganya. Rumah penderita berdinding tembok bata yang tercat, lantai ubin, terdapat jendela, ventilasi dan pencahayaan cukup. Dapur dan kamar mandi berada di dalam rumah. Penghuni rumah lima orang yaitu ayah, ibu, paman, dan dua orang anak.Warga sekitar rumah sebagian besar berusia dewasa dan mengetahui pencegahan serta penatalaksanaan diare dengan membuat oralit. Hanya sedikit yang mengetahui gejala diare dan kapan harus memeriksakan diri. Bila sakit, kebanyakan langsung membeli obat di warung dan bila tidak sembuh mereka baru ke puskesmas atau ke RSDK. Di lingkungan tempat tinggal jarang mengadakan kegiatan bersih-bersih sehingga terkesan pada beberapa rumah terlihat kurang terawat dengan tumpukan barang bekas.Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan dasar dan upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Dalam kaitannya dengan penyakit diare, puskemas memiliki upaya pencegahan diare diantaranya dengan penyuluhan kebersihan lingkungan hidup serta penatalaksanaan dini diare dengan membuat oralit sendiri. Untuk penyuluhan mengenai diare, puskesmas bekerja sama dengan ibu-ibu PKK dan kader kesehatan. Namun, menurut warga kegiatan tersebut jarang dilakukan, yang mana terakhir kali dilaksanakan satu tahun yang lalu. Selain itu, kesibukan warga mengakibatkan program pencegahan yang dilakukan pemerintah tidak berjalan dengan efektif.

II. Kebiasaan sehari - hariKebutuhan dasarAsuh : Ayah bekerja sebagai buruh bangunan, ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga. Perawatan pasien sehari-hari oleh ibu dan paman anak. Bila sakit penderita berobat ke Posyandu terdekat.Jarak Posyandu dengan tempat tinggal 400 m, dapat ditempuh dengan jalan kaki dan kurang dari 10 menit dengan sepeda motor. Imunisasi diberikan lengkap sesuai usia, imunisasi ulangan belum diberikan. Makanan yang diberikan berupa bubur susu dan mulai diberikan makanan keluarga. Tiap hari anak juga diberi tambahan snack berupa biskuit bayi. Keinginan anak sering dipenuhi jika sedang punya uang.Asih : Kasih sayang diberikan oleh ibu, ayah, kakak kandung, dan paman.Asah : Stimulasi mental dan intelegensi diperoleh terutama dari ibu yang berpendidikan tamat SD dan ayah yang berpendidikan tamat SD. Stimulasi perkembangan dilakukan oleh ibu saja sedangkan ayah sibuk bekerja. Anak belum bersekolah. Bermain dengan kakak kandung yang berusia 3 tahun dan berinteraksi anak-anak tetangganya yang bermain di dekat rumah.Makanan anak saat ini makan bubur susu, nasi tim, dan mulai dikenalkan dengan makanan keluarga. Bubur susu diberikan 2 kali sehari sebanyak 1 piring setiap kali pemberian, sedangkan nasi tim diberikan 3 kali sehari. Ibu memberi makan dan memandikan anak setiap pagi dan sore hari. Sumber air minum dari air PAM yang teah dimasak. Alat makan dicuci dengan air PAM dan sabun cuci piring. Makanan di meja ditutup dengan tudung saji. Mandi dua kali sehari menggunakan air PAM dan sabun. Pakaian kotor dicuci tiap hari dengan air sumur dan detergen. Tempat cuci piring di dekat dapur dan tempat cuci baju kotor di dekat sumur. Rumah di sapu 1 kali setiap hari, sampah dibuang di tempat sampah yang diletakkan di halaman rumah. Jika ada keluarga yang sakit, berobat ke RSDK.

Pola asuh orang tua dan tipe anakPola asuh orang tua pada pasien ini adalah pola asuh demokratis. Oleh karena ibu terkadang membebaskan anak untuk melakukan kegiatan sesuai keinginan anak, namun jika hal tersebut berbahaya untuk anaknya maka ibu akan melarangnya seperti bermain dengan listrik. Ibu pasien mengasuh dua anak sekaligus, karena saat ini kakak pasien masih berusia 3 tahun. Ibu pasien terpaksa berhenti bekerja demi mengasuh kedua anaknya, karena anak belum dapat mandiri.

Pemeriksaan fisikTanggal 10 Oktober 2013 pukul 16.00 WIBKeadaan umum:Sadar, aktif,well appearance, mata cekung (-), tampak kehausan (-) bila diberi minum.Nadi:120 x/menit, isi & tegangan cukupRR:30 x / menitSuhu:36,8CBerat badan:8,8 kgTinggi badan:77 cmKepala:Mesosefal.Ubun-ubun besar sudah menutup.Rambut:Hitam, tidak mudah dicabut.Mata:Conjungtiva palpebra anemis(-), sklera ikterik(-), cekung(-)Telinga:Nyeri tekan -/-, discharge -/-Hidung:nafas cuping(-), discharge(-), mimisan(-)Mulut:sianosis(-), pucat(-), kering(-), lidah kotor(-)Tenggorok:T1-T1, faring hiperemis(-)Leher:simetris, pembesaran kelenjar limfe(-), kaku kuduk(-)Kulit:Turgor kembali lambat, petechiae (-), sianosis (-), anemi (-), ikterik (-)Serebral: kejang (-)Dada: Inspeksi:Simetris statis dinamis, tak ada bagian yang tertinggal waktu bernafas, tidak ada retraksi.Palpasi:Stem fremitus kanan = kiri.Perkusi :Sonor seluruh lapangan paru.Auskultasi :Suara dasar vesikulerSuara tambahan: wheezing -/-, ronkhi -/-, hantaran -/-.

Vesikuler Vesikuler Vesikuler

Paru depan Paru belakang

Jantung : sulit dinilai (anak tidak kooperatif)Abdomen:Inspeksi:datar, venektasi tidak adaPalpasi:supel, lemas, tidak ada nyeri tekan, turgor cukup, hepar dan lien tidak teraba.Perkusi:tympani, pekak sisi normal, pekak alih Auskultasi:bising usus normal.Ekstremitas: superiorinferiorSianosis- / -- / -Akral dingin - / -- / -edema- / -- / -Capillary refill