KAJIAN AKSELERASI PERTUMBUHAN PRODUKSI DALAM kajian akselerasi pertumbuhan produksi kedelai Daftar...

download KAJIAN AKSELERASI PERTUMBUHAN PRODUKSI DALAM kajian akselerasi pertumbuhan produksi kedelai Daftar Resiko

of 77

  • date post

    06-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    218
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of KAJIAN AKSELERASI PERTUMBUHAN PRODUKSI DALAM kajian akselerasi pertumbuhan produksi kedelai Daftar...

LAPORAN KEGIATAN KAJIAN ISU-ISU AKTUAL KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN 2013

KAJIAN AKSELERASI PERTUMBUHAN PRODUKSI DALAM MENDUKUNG SWASEMBADA KEDELAI

Oleh:

Bambang Prasetyo

Amar Kadar Zakaria

Valeriana

Cecep Nurasa

PUSAT SOSIAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PERTANIAN

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN

2013

Halaman

DAFTAR ISI .. DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR ..

i ii

iii

I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang

Dasar Pertimbangan .

Tujuan Penelitian Keluaran yang diharapakan

1 1.2. 2

1.3. 2 1.4. 3

1.5. Perkiraan manfaat dan dampak 3

II. TINJAUAN PUSTAKA 4 2.1. Kerangka Teoritis .. 4 2.2. Keragaan Komoditas Kedelai Nasional .. 6

2.3. Kebijakan Pengembangan Kedelai Nasional .. 8 2.4. Potensi dan Inovasi Sumberdaya Lahan .. 13

III. METODE PENELITIAN 16

3.1. Kerangka Pemikiran . 16

3.2. Ruang Lingkup Kegiatan 19 3.3. Lokasi dan responden . 19

3.4. Data dan Metode Analisis . 20

IV. ANALISA RESIKO .. 22

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

23

5.1. Identifikasi/Review Kebijakan dan Program Mendukung Swasembada Kedelai

23

5.2. Kendala dan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan benih kedelai bermutu

41

5.3. Identifikasi Kendala dan Faktor-faktor yang

Mempengaruhi Adopsi Teknologi Budidaya Kedelai

48

VI. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 68

DAFTAR PUSTAKA .

70

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1.

4.1.

4.2.

5.1.

5.2.

5.3.

5.4

5.5.

5.6.

5.7.

5.8.

5.9.

5.10.

5.11.

5.12.

5.13.

5.14.

5.15.

Aspek yang dievaluasi, metode evaluasi dan penarikan

kesimpulan kajian akselerasi pertumbuhan produksi kedelai Daftar Resiko

Daftar Penanganan Resiko

Lahan Tersedia dan Potensial Untuk Tanaman Kedelai

Skenario Peningkatan Produksi Kedelai Tahun 2013

Kriteria Kawasan SL-PTT Kedelai

Bantuan Fasilitas LL Kedelai di Pulau Jawa

Bantuan Fasilitas LL Kedelai di Luar Pulau Jawa

Bantuan Fasilitas SL Kedelai di Pulau Jawa

Bantuan Fasilitas SL Kedelai di Luar Pulau Jawa

Target dan Realisasi Kegiatan Utama Peningkatan Produksi Kedelai Tahun 2010-2012

Evaluasi Pelaksanaan SLPTT Kedelai

Peningkatan Produktivitas Hasil SL-PTT 2010 dan 2011 di Jawa Barat

Evaluasi Paket Teknologi SLPTT Kedelai

Produksi dan Usahatani Penangkar Benih Kedelai

Perbandingan Penggunaan Benih Berlabel dengan Pemurnian

Skenario Produktivitas Program Peningkatan Produksi Kedelai

Peta jalan pengembangan produksi kedelai periode tahun 2020-2014

21

22

22

24

29

30

31

31

32

32

35

36

37

43

44

45

46

51

5.16.

5.17.

5.18.

5.19.

6.20.

6.21.

Karakteristik Petani Kedelai pada Agroekosistem Lahan Kering

dan Lahan Sawah di Kabupaten Garut dan Serang

Tingkat Partisipasi Petani Kedelai terhadap Kelompok Tani di Kabupaten Garut dan Serang, 2013

Keragaan Penerapan Teknologi Budi Daya Kedelai oleh Petani pada Agroekosistem Lahan Sawah Irigasi di Kabupaten Garut

dan Serang

Tingkat Penggunaan Sarana Produksi pada Usaha Tani Kedelai di Kabupaten Garut dan Serang

Analisis Usaha Tani Kedelai pada Agroekosistem Lahan Kering dan Lahan Sawah di Kabupaten Garut dan Serang, 2013

Tingkat Keunggulan Kompetitif Usaha Tani Kedelai pada Lahan

Kering dari Sawah Tadah Hujan di Kabupaten Garut dan Serang, 2013

58

60

62

63

64

KAJIAN AKSELERASI PERTUMBUHAN PRODUKSI DALAM MENDUKUNG SWASEMBADA KEDELAI

I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan utama setelah padi dan

jagung dengan peran yang sangat strategis. Komoditas ini memiliki kegunaan

yang beragam, terutama sebagai bahan baku industri makanan yang kaya

protein nabati dan sebagai bahan baku industri pakan ternak. Saat ini, Indonesia

termasuk negara produsen kedelai keenam terbesar di dunia. Namun, produsen

kedelai domestik belum mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri yang terus

meningkat dari waktu ke waktu, jauh melampaui peningkatan produksi domestik.

Sehingga upaya untuk berswasembada tidak hanya bertujuan untuk memenuhi

kebutuhan pangan, tetapi juga untuk mendukung agro industri yang menghemat

devisa serta mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Dari komoditas ini, diproduksi tahu, tempe, dan kecap, tiga produk

penting bagi rakyat Indonesia. Biji kedelai juga dapat dibuat susu, dan tepung

kedelai. Selain itu, agroindustri peternakan, terutama peternakan unggas petelur

dan pedaging, juga menyerap kedelai dalam bentuk bungkil. Bungkil adalah

ampas kedelai, yang sudah diambil minyaknya. Di negara maju seperti AS,

kedelai lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak, bukan makanan

manusia. Meskipun merupakan komoditas pangan yang cukup penting, sampai

saat ini Indonesia masih tergantung pada impor kedelai. Impor kedelai berupa

biji dan bungkil diperkirakan terus naik. Tahun 2010 impor kedelai dan bungkil

meningkat mendekati 1 juta ton dari 3,64 juta ton pada 2009 menjadi 4,61 juta

ton (Dijentan,2011). Tahun 2011, impor juga diperkirakan akan naik mengingat

laju permintaannya cukup tinggi. Dengan kondisi tersebut, menurut Rasahan

(1999) ketergantungan kepada bahan pangan dari luar dalam jumlah besar

dapat melumpuhkan ketahanan nasional dan mengganggu stabilitas sosial,

1

ekonomi dan politik, karena ketahanan pangan dan kedaulatan pangan

berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan rakyat.

Pemerintah pada tahun 2011 telah menetapkan sasaran produksi untuk

kedelai harus bisa mencapai produksi sebesar 1, 01 juta ton. Pada periode 2000-

2004 produksi kedelai mengalami penurunan tajam dengan laju rata-rata -

11,25%/tahun, dari 1,02 juta ton menjadi hanya 723 ribu ton. Penurunan

produksi periode 2000-2004 disebabkan berkurangnya luas areal panen sebesar

rata-rata -4,45%/tahun, dari 824,48 ha menjadi 565,16 ha Sementara pada

periode 2005-2009 produksi mengalami pertumbuhan dengan laju rata-rata

6,72%/tahun, dari sebesar 808 ribu ton menjadi 925 ribu ton.

Peningkatan produksi periode 2005-2009 disebabkan oleh peningkatan

luas areal panen rata-rata sebesar 5,99%/tahun. (Ditjentan,2011). Pada tahun

2011, luas panen kedelai mencapai 631,425 ha, dengan produksi mencapai

870,068 ton, sedangkan rata-rata produktivitas mencapai 1,37 ton /ha.

1.2. Dasar Pertimbangan

Beberapa argumen tentang pentingnya pengembangan kedelai adalah:

(1) pertambahan jumlah penduduk, (2) usaha tani kedelai melibatkan lebih dari

dua juta rumah tangga petani, (3) peningkatan pendapatan masyarakat dan

kesadaran pentingnya mengkonsumsi protein nabati, (4) perkembangan industri

makanan berbahan baku kedelai, seperti tahu, tempe, kecap, dan tauco, serta

(5) perkembangan industri pakan yang salah satu komponen utamanya adalah

bungkil kedelai. Kondisi tersebut menyebabkan permintaan terhadap kedelai

terus meningkat setiap tahun.

Kebijakan pembangunan pertanian secara mendasar memuat misi bahwa

di satu sisi sektor pertanian harus mampu menyediakan kebutuhan konsumsi

langsung bagi masyarakat dengan cukup, baik jumlah maupun kualitasnya. Di

sisi lain, sektor pertanian harus pula dapat menjadi pendorong berkembangnya

berbagai kegiatan, baik pada sektor hulu maupun hilir, pada setiap

pembangunan wilayah pertanian. Dalam operasionalnya, kebijakan

2

pembangunan pertanian tersebut dituangkan melalui dua program, yaitu

Program Pengembangan Agribisnis dan Program Peningkatan Ketahanan Pangan.

Indonesia memiliki wilayah potensial produksi kedelai yang memiliki

kesesuaian agroekologi dan sosial ekonomi petani, dengan demikian peluang

untuk mengembangkan produksi kedelai untuk tujuan substitusi impor menuju

swasembada sangatlah besar. Upaya peningkatan produksi kedelai nasional

dapat ditempuh dengan tiga pendekatan, yaitu peningkatan produktivitas,

peningkatan intensitas tanam, dan perluasan areal tanam. Pemerintah telah

mencanangkan Program Khusus Kedelai Bangkit Kedelai atau Program

Peningkatan Produksi Kedelai Nasional (P2KN). Potensi lahan untuk perluasan

kedelai di lahan sawah cukup besar. Daerah-daerah yang pernah menjadi sentra

produksi kedelai di era tahun 1980-1990-an terutama merupakan lahan sawah di

mana kedelai ditanam setelah musim tanam padi pada MK-1 dan/atau MK-2.

Disamping itu, telah tersedia teknologi produksi hasil penelitian untuk

mendukung pengembangan budidaya kedelai baik di lahan sawah maupun lahan

kering, di antaranya melalui pengembangan varietas-varietas unggul kedelai.

Berdasarkan uraian tersebut, maka sasaran kegiatan penelitian adalah

men