iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator...

of 57 /57

Transcript of iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator...

Page 1: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.
Page 2: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.
Page 3: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | DAFTAR ISI iii

LAMPIRAN : NOTA KESEPAKATAN ANTARA

PEMERINTAH KOTA PEKALONGAN

DENGAN DEWAN PERWAKILAN

RAKYAT DAERAH KOTA

PEKALONGAN

NOMOR : 900/3513

900/2154

TANGGAL : 29 September 2017

TENTANG KEBIJAKAN UMUM

ANGGARAN PENDAPATAN DAN

BELANJA DAERAH

KOTA PEKALONGAN TAHUN

ANGGARAN 2018

KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH

KOTA PEKALONGAN TAHUN ANGGARAN 2018

PEMERINTAH KOTA PEKALONGAN

2017

Page 4: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | DAFTAR ISI iv

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ___________________________________________________________ iv

DAFTAR TABEL ________________________________________________________ v

DAFTAR GAMBAR _____________________________________________________ vi

BAB I PENDAHULUAN __________________________________________________ 1

1.1. LATAR BELAKANG PENYUSUNAN KEBIJAKAN UMUM

ANGGARAN _____________________________________________ 1

1.2. MAKSUD DAN TUJUAN PENYUSUNAN _______________________ 2

1.3. DASAR PENYUSUNAN KUA ________________________________ 2

BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH __________________________ 8

2.1. PERKEMBANGAN INDIKATOR EKONOMI MAKRO DAERAH

PADA TAHUN 2016 DAN PERKIRAAN PADA TAHUN 2018. _______ 8

2.2. RENCANA TARGET EKONOMI MAKRO PADA TAHUN 2018. _____ 12

BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD) ___________ 16

3.1. ASUMSI DASAR YANG DIPERGUNAKAN DALAM APBN _________ 17

3.2. LAJU INFLASI ___________________________________________ 17

3.3. PERTUMBUHAN PDRB. ___________________________________ 17

3.4. LAIN – LAIN ASUMSI _____________________________________ 17

BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN

DAERAH ______________________________________________________________ 19

4.1. KEBIJAKAN PENDAPATAN DAERAH ________________________ 19

4.2. KEBIJAKAN BELANJA DAERAH ____________________________ 27

4.3. KEBIJAKAN PEMBIAYAAN DAERAH _________________________ 49

BAB V PENUTUP ______________________________________________________ 50

Page 5: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | DAFTAR TABEL v

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Nilai dan Laju Pertumbuhan PDRB Menurut Lapangan Usaha

Tahun 2015-2016 ________________________________________ 10

Tabel 2.2 Struktur PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga

Berlaku Tahun 2012-2016 (%) ______________________________ 11

Tabel 2.3 PDRB Per Kapita dan Pendapatan Per Kapita Kota

Pekalongan Tahun 2012-2016 ______________________________ 12

Tabel 2.4 Laju Inflasi Kota Pekalongan Tahun 2012-2016 _________________ 12

Tabel 4.1 Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah Kota Pekalongan dalam

KUA-PPAS dengan Prioritas Nasional ________________________ 36

Tabel 4.2 Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah Kota Pekalongan dalam

KUA-PPAS dengan Prioritas Provinsi Jawa Tengah _____________ 40

Tabel 4.3 Kebijakan Belanja berdasarkan urusan Pemerintahan Daerah ______ 44

Page 6: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Kota Pekalongan

Tahun 2012-2016 ______________________________________ 10

Page 7: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB I PENDAHULUAN

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG PENYUSUNAN KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN

Rangkaian pentahapan perencanaan pembangunan sampai dengan implementasi

program dan kegiatan dalam kerangka APBD Kota PekalonganTahun Anggaran 2018,

telah diawali dengan penyelenggaraan Musrenbang mulai dari tingkat Kelurahan sampai

dengan ditetapkannya Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2018 melalui

Peraturan Walikota Pekalongan Nomor 25 Tahun 2017. Tahapan selanjutnya adalah

pengajuan Rancangan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran

Sementara (PPAS) yang akan dibahas dan disepakati bersama antara Walikota dengan

Pimpinan DPRD Kota Pekalongan menjadi Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas

Plafon Anggaran Sementara (PPAS). Hal ini merupakan bentuk pelaksanaan dari

ketentuan yang telah diatur dalam Pasal 310 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun

2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menyebutkan bahwa “Kepala daerah menyusun

KUA dan PPAS berdasarkan RKPD dan diajukan kepada DPRD untuk dibahas bersama”.

Selanjutnya di dalam ayat (2) dan ayat (3) secara berturut-turut disebutkan “KUA serta

PPAS yang telah disepakati kepala daerah bersama DPRD menjadi pedoman Perangkat

Daerah dalam menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah.

Kemudian, Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja perangkat Daerah disampaikan

kepada pejabat pengelola keuangan Daerah sebagai bahan penyusunan Rancangan

Peraturan Daerah tentang APBD tahun berikutnya”.

Ketentuan lain yang juga menjadi pedoman adalah pasal 17 ayat (2) Undang-Undang

Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang menyebutkan bahwa “Penyusunan

Rancangan APBD berpedoman kepada Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)”.

Kemudian di dalam pasal 25 ayat (2) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional juga telah diamanatkan bahwa “RKPD

menjadi pedoman penyusunan RAPBD”.

Dengan demikian, Penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) serta Prioritas dan

Plafon Anggaran Sementara (PPAS) pada dasarnya merupakan bagian pentahapan dalam

upaya mewujudkan target-target yang telah ditetapkan dalam RKPD Kota Pekalongan,

dalam hal ini RKPD Tahun 2018. Dan selanjutnya Kebijakan Umum APBD (KUA) ini akan

menjadi pedoman dalam penyepakatan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS)

sebelum nantinya menjadi dasar dalam penyusunan RAPBD Kota Pekalongan Tahun

2018.

Kebijakan Umum APBD (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara

(PPAS) Tahun 2018 harus sinkron dengan dokumen perencanaan Daerah yang

bersangkutan. Sehingga secara terstruktur, arah kebijakan pembangunan antar berbagai

level pemerintahan akan sinkron satu dengan yang lainnya. KUA dan PPAS Pemerintah

Kota Pekalongan berpedoman pada RKPD Kota Pekalongan Tahun 2018 yang telah

disinkronisasikan dengan RKP Tahun 2018 dan RKPD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2018.

Dengan demikian, pada dasarnya Kebijakan umum APBD adalah sasaran dan kebijakan

Page 8: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB I PENDAHULUAN

2

daerah dalam satu tahun anggaran yang menjadi petunjuk dan ketentuan umum yang

disepakati sebagai pedoman penyusunan R-APBD.

Disamping itu, Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 4 Tahun

2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota

Pekalongan Tahun 2016 – 2021, maka RKPD dan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 ini

disusun dengan memuat sinkronisasi perencanaan tahunan dengan memperhatikan

pencapaian target-target pembangunan yang ada dalam dokumen RPJMD. Kebijakan

Umum APBD Kota Pekalongan Tahun Anggaran 2018 ini memuat program-program yang

akan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah untuk setiap urusan pemerintahan daerah

yang disertai dengan proyeksi pendapatan daerah, alokasi belanja daerah, sumber dan

penggunaan pembiayaan yang disertai dengan asumsi yang mendasarinya.

1.2. MAKSUD DAN TUJUAN PENYUSUNAN

Maksud dari penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) Tahun Anggaran 2018

adalah sebagai landasan penentuan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS)

APBD Tahun 2018 yang disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.

Tujuan dari penyusunan Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja

Daerah memuat antara lain:

1) Memberikan arah pembangunan melalui penuangan pokok-pokok kebijakan yang

memuat sinkronisasi kebijakan Pemerintah dengan Pemerintah Daerah;

2) Mengatur tentang prinsip dan kebijakan penyusunan APBD berkaitan dengan

gambaran kondisi makro daerah, asumsi penyusunan APBD, kebijakan pendapatan

daerah, kebijakan belanja daerah, kebijakan pembiayaan daerah dan strategi

pencapaiannya, serta kebijakan daerah lainnya;

3) Mewujudkan terciptanya sinergitas, integrasi dan keseimbangan antara pendekatan

perencanaan program pembangunan berbasis sektoral/per-bidang pembangunan,

dengan pendekatan perencanaan pembangunan berbasis kewilayahan;

4) Mewujudkan efisiensi dan efektivitas rencana alokasi sumber daya untuk optimalisasi

pembangunan daerah.

1.3. DASAR PENYUSUNAN KUA

Penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) Tahun Anggaran 2018 ini berpedoman

beberapa regulasi yang berkaitan dan digunakan sebagai rujukan, antara lain:

1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 4286);

2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan

Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

3. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara

Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

4438);

Page 9: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB I PENDAHULUAN

3

4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);

5. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Undang-Undang

Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Lembaran Negara

Tahun 2013 Nomor 232);

6. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat,

Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan

Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 182,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5568)

7. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir

dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 5679);

8. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 292, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5601);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 4575);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan

Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4576) sebagaimana telah diubah

dengan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas

Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan

Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 110, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5155);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan

Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 91, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 4864);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan kepada

Partai Politik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 18,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4972) sebagaimana telah

diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2012 tentang Perubahan

atas Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan kepada

Partai Politik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 195,

TambahanLembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5351);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pemberian dan

Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 5161);

Page 10: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB I PENDAHULUAN

4

15. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi

Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 123,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5165);

16. Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Jenis Pajak Daerah yang

Dipungut Berdasarkan Penetapan Kepala Daerah atau Dibayar Sendiri (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 5179);

17. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 5219);

18. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2012 tentang Hibah Daerah (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 5272);

19. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan

Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan

Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 171, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5340);

20. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 114, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 5887);

21. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2017 tentang Hak Keuangan dan

Administratif Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 6057);

22. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2017 tentang Rencana

Kerja Pemerintah Tahun 2018 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017

Nomor 184);

23. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman

Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir

dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan

Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman

Pengelolaan Keuangan Daerah;

24. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 43 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata

Kerja Kementerian Dalam Negeri (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015

Nomor 564);

25. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2017 tentang Pedoman

Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2018.

26. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2017 tentang Pedoman

Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2018.

27. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Rencana

Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Jawa Tengah Tahun

2005-2025;

28. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2014 tentang Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018;

29. Peraturan Gubernur Provinsi Jawa Tengah Nomor 43 Tahun 2017 tentang Rencana

Kerja Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2018;

Page 11: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB I PENDAHULUAN

5

30. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 10 Tahun 2009 tentang Pengelolaan

Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kota Pekalongan Tahun 2009 Nomor 10);

31. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 7 Tahun 2010 tentang Pajak Air Tanah;

32. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 8 Tahun 2010 tentang Bea Perolehan

Hak atas Tanah dan Bangunan;

33. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pajak Hotel;

34. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Restoran;

sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 2

Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 4

Tahun 2011 tentang Pajak Restoran

35. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 5 Tahun 2011 tentang Pajak Penerangan

Jalan;

36. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 8 Tahun 2011 tentang Pajak Bumi dan

Bangunan Perdesaan dan Perkotaan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan

Daerah Kota Pekalongan Nomor 3 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan

Daerah Kota Pekalongan Nomor 8 Tahun 2011 tentang Pajak Bumi dan Bangunan

Perdesaan dan Perkotaan

37. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 9 Tahun 2011 tentang Pajak Parkir;

38. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 10 Tahun 2011 tentang Pajak Sarang

Burung Walet;

39. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 11 Tahun 2011 tentang Pajak Hiburan;

40. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pajak Reklame;

41. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 13 Tahun 2011 tentang Retribusi

Pemakaian Kekayaan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan daerah

Kota Pekalongan Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan

Daerah Kota Pekalongan Nomor 13 Tahun 2011 Retribusi Pemakaian Kekayaan

Daerah;

42. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 15 Tahun 2011 tentang

Penyelenggaraan dan Retribusi Ijin Gangguan;

43. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 21 Tahun 2011 tentang Retribusi

Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum sebagaimana telah diubah dengan Peraturan

Daerah Kota Pekalongan Nomor 1 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan

Daerah Kota Pekalongan Nomor 21 Tahun 2011 tentang Retribusi Pelayanan Parkir

di Tepi Jalan Umum;

44. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 22 Tahun 2011 tentang Retribusi Tempat

Khusus Parkir;

45. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 23 Tahun 2011 tentang Retribusi

Pengujian Kendaraan Bermotor sebagaimana telah diubah dengan Peraturan

Daerah Kota Pekalongan Nomor 12 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan

Daerah Kota Pekalongan Nomor 23 Tahun 2011 Retribusi Pengujian Kendaraan

Bermotor;

46. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 24 Tahun 2011 tentang

Penyelenggaraan dan Retribusi Izin Trayek;

47. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 25 Tahun 2011 tentang Retribusi Tempat

Rekreasi dan Olahraga sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota

Pekalongan Nomor 11 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan

Page 12: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB I PENDAHULUAN

6

Daerah Kota Pekalongan Nomor 25 Tahun 2011 tentang Retribusi Tempat Rekreasi

dan Olahraga;

48. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 26 Tahun 2011 tentang Retribusi

Pelayanan Kesehatan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota

Pekalongan Nomor 14 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota

Pekalongan Nomor 26 Tahun 2011 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan

49. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 27 Tahun 2011 tentang

Penyelenggaraan Tempat Pelelangan Ikan dan Retribusi Tempat Pelelangan Ikan;

50. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 28 Tahun 2011 tentang Rumah

Pemotongan Hewan dan Retribusi Rumah Pemotongan Hewan;

51. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 30 Tahun 2011 tentang Rencana Tata

Ruang Wilayah Kota Pekalongan Tahun 2009-2029;

52. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 31 Tahun 2011 tentang Retribusi

Pelayanan Tera /Tera Ulang;

53. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 32 Tahun 2011 tentang Retribusi

Pelayanan Persampahan / Kebersihan;

54. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 33 Tahun 2011 tentang Retribusi

Pelayanan Pemakaman;

55. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 34 Tahun 2011 tentang Retribusi

Penyedotan Kakus;

56. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 35 Tahun 2011 tentang Retribusi Izin

Mendirikan Bangunan;

57. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 36 Tahun 2011 tentang Retribusi Izin

Usaha Perikanan;

58. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 37 Tahun 2011 tentang Retribusi

Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran;

59. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 30 Tahun 2011 tentang Rencana Tata

Ruang Wilayah Kota Pekalongan Tahun 2009-2029;

60. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 2 Tahun 2013 tentang Perubahan atas

Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Restoran;

61. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 3 Tahun 2013 tentang Perubahan atas

Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 8 Tahun 2011 tentang Pajak Bumi dan

Bangunan Perdesaan dan Perkotaan;

62. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perubahan

Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka

Panjang Daerah (RPJP-D) Kota Pekalongan Tahun 2005-2025;

63. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 2 Tahun 2014 tentang Retribusi

Perpanjangan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing;

64. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 14 Tahun 2014 tentang Perubahan atas

Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 26 Tahun 2011 tentang Retribusi

Pelayanan Kesehatan;

65. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 4 Tahun 2016 tentang RPJMD Kota

Pekalongan Tahun 2016-2021;

66. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan

Susunan Perangkat Daerah Kota Pekalongan;

Page 13: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB I PENDAHULUAN

7

67. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 10 Tahun 2016 tentang Retribusi

Pengendalian Menara Telekomunikasi;

68. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2017 tentang Pembentukan Dana Cadangan

Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Pekalongan Tahun 2020;

69. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 5 Tahun 2017 tentang Penambahan

Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Kepada PDAM Pekalongan;

70. Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 7 Tahun 2017 tentang Hak Keuangan

dan Administratif Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;

71. Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah

Kota Pekalongan Nomor 38 Tahun 2011 tentang Retribusi Pelayanan Pasar;

72. Peraturan Walikota Pekalongan Nomor 25 Tahun 2017 tentang Rencana Kerja

Pemerintah Daerah Kota Pekalongan Tahun 2018.

Page 14: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

8

BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

2.1. PERKEMBANGAN INDIKATOR EKONOMI MAKRO DAERAH PADA

TAHUN 2016 DAN PERKIRAAN PADA TAHUN 2018.

Indonesia bersama negara-negara lain di dunia saat ini tengah mengalami

ketidakpastian ekonomi yang dikenal dengan fenomena normal baru (new normal).

Sepanjang tahun 2016, kondisi perekonomian global berada pada kondisi ketidakpastian,

yang ditunjukkan dengan menurunnya perdagangan dan pertumbuhan ekonomi yang

cenderung melambat. Hal tersebut dipengaruhi beberapa hal antara lain pemulihan

ekonomi Amerika Serikat, dan normalisasi ekonomi Tiongkok yang masih berlangsung.

Kondisi tersebut diperkirakan akan terus berlanjut di tahun 2017, ditambah dengan adanya

kebijakan baru negara maju yang dapat mempengaruhi perekonomian global, termasuk

Indonesia.

Pertama, meningkatnya kebijakan proteksi di sejumlah negara, termasuk Amerika

Serikat, yang dimulai sejak pemerintahan presiden Donald Trump yang mengusung jargon

America First, dengan menarik diri dari komitmen Kemitraan Trans Pasifik (Trans Pacific

Partnership/TPP), yang mempengaruhi inisiatif kesepakatan perdagangan. Selain itu

adanya gejala proteksionisme di sekitar negosiasi Kemitraan Perdagangan dan Investasi

Trans Atlantik (Transatlantic Trade and Investment Partnership/TPIP) yang direncanakan

akan menjadi blok baru antara AS dan Uni Eropa. Rencana ini menjadi salah satu pemicu

keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

Kebijakan kenaikan suku bunga oleh The Fed (Bank Sentral AS) di tahun 2017

sebagai implikasi kebijakan pemerintah AS, juga memberikan pengaruh pada penguatan

dolar AS. Kenaikan aliran dana masuk ke Amerika Serikat dan penurunan aliran dana

keluar akan menciptakan kelangkaan dolar AS pada pasar valuta asing. Padahal dolar AS

adalah mata uang yang paling banyak digunakan dalam transaksi internasional. Apabila

dolar AS terus menguat, maka dapat mengakibatkan terjadinya depresiasi terhadap nilai

tukar mata uang negara lain termasuk rupiah.

Kedua, perekonomian Tiongkok juga melambat. Kebijakan perekonomian Tiongkok

yang akan berpengaruh secara global yaitu kebijakan ekonomi ketat mengerem

agresivitasnya dalam pembangunan infrastruktur, mengurangi ketergantungan pada

ekspor, dan mendorong meningkatnya konsumsi dalam negeri. Tentu hal ini akan

mengurangi potensi ekspor dari negara lain ke Tiongkok, termasuk ekspor produk

Indonesia.

Permintaan Tiongkok yang turun menyebabkan volume perdagangan Indonesia

menurun. Hal ini ditambah dengan jatuhnya harga berbagai komoditas yang dipicu oleh

jatuhnya harga minyak mentah dunia. Proses pemulihan harga komoditas sedang

berlangsung, tetapi relatif lambat. Kondisi ini berdampak tidak langsung terhadap sektor riil

di Indonesia karena banyak daerah sangat bergantung pada komoditas termasuk Jawa

Tengah. Dampak ikutannya sampai ke sektor riil karena permintaan barang dan jasa ikut

Page 15: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

9

turun. Akibatnya, banyak korporasi mengalami penurunan laba karena permintaan turun.

Dalam kondisi laba turun, korporasi hampir tak punya alokasi untuk melakukan ekspansi

atau investasi baru. Korporasi akan lebih memilih mengamankan kapasitas produksi yang

sudah ada. Hal ini tentu berdampak pada masih seretnya pertumbuhan penyerapan tenaga

kerja di sektor formal.

Namun demikian, kondisi tersebut juga dapat dibaca sebagai bentuk peluang bagi

perekonomian Indonesia. Keluarnya AS dari TPP bisa menjadi peluang bagi Indonesia

yang belum tergabung dalam kerjasama tersebut untuk mencari pasar baru. Kenaikan

suku bunga The Fed juga dapat menjadi peluang mengalirnya modal asing ke pasar modal

Indonesia, yang ditunjukkan dari menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Namun bukan berarti bahwa hal ini tidak memiliki faktor risiko, karena ketergantungan pada

modal asing, khususnya jangka pendek, merupakan satu masalah fundamental dan

struktural dalam perekonomian negara.

Untuk memperkuat perekonomian Indonesia termasuk perekonomian Kota

Pekalongan, dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya gejolak perekonomian global

ke depan, maka perlu penguatan pada tiga hal yaitu pengeluaran pemerintah, investasi,

dan konsumsi. Pengeluaran pemerintah masih akan bergantung pada kekuatan fiskal yang

dimiliki untuk menopang pembangunan infrastruktur. Keberlanjutan pengampunan pajak

bisa menolong penerimaan negara. Namun, yang lebih penting bagaimana aliran dana

yang masuk dari program tersebut bisa membantu perbankan atau industri jasa keuangan

membiayai infrastruktur.

Iklim investasi harus diciptakan kondusif agar dana yang masih ada di luar negeri

bisa masuk dan dimanfaatkan untuk kegiatan yang memiliki daya pengganda. Salah

satunya adalah melalui kebijakan pemberian kredit sektor komersial dan korporasi dengan

suku bunga rendah. Sementara konsumsi akan meningkat jika pemerintah menjaga daya

beli masyarakat melalui pengendalian inflasi, menjaga nilai tukar relatif stabil, dan

mendukung peningkatan upah.

Selain itu, beberapa celah strategi dapat dimanfaatkan untuk mengungkit

perekonomian lebih baik. Salah satunya adalah menggenjot ekspor yang menjadi

unggulan, antara lain batik dan perikanan. Selain itu, meningkatkan perdagangan dan

industri berbasis teknologi informasi (TI) melalui pengembangan e-commerce dan sistem

pembiayaan berbasis TI (financial technology). Strategi tersebut akan semakin berhasil

apabila juga didukung dengan peningkatan softskill sumber daya manusia, yang saat ini

kondisinya masih cukup senjang melalui upaya mobilisasi sumberdaya pemerintah dan

swasta bagi pendidikan dan pelatihan tenaga kerja baik formal maupun non formal.

a. Pertumbuhan Ekonomi

Sampai dengan tahun 2013, kondisi perekonomian Kota Pekalongan

menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan, namun pada tahun 2015 terjadi titik

terendah pertumbuhan ekonomi yaitu sebesar 5,00%, dibawah pertumbuhan ekonomi

nasional dan Provinsi Jawa Tengah. Namun pada tahun 2016 pertumbuhan ekonomi

Kota Pekalongan kembali naik di angka 5,36% di atas angka pertumbuhan ekonomi

Provinsi Jawa Tengah dan nasional.

Page 16: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

10

Sumber: BPS Kota Pekalongan, 2017

Gambar 2.1 Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi

Kota Pekalongan Tahun 2012-2016

b. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Selama kurun waktu 2015-2016 nilai PDRB Kota Pekalongan mengalami

peningkatan yang cukup signifikan. Nilai PDRB pada Tahun 2015 Atas Dasar Harga

Berlaku (ADHB) sebesar Rp. 7.778,27 Milyar naik pada Tahun 2016 menjadi Rp.

8.507,54 Milyar. Nilai PDRB Atas Harga Dasar Konstan (ADHK) naik dari Rp. 6.043,09

Milyar menjadi Rp. 6.367,27 Milyar.

Sektor PDRB yang memberikan kontribusi dominan terhadap PDRB Kota

Pekalongan tahun 2016 yaitu sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan

sepeda motor (21,72%); industri pengolahan (21,43%); serta konstruksi (14,36%). Jika

dibandingkan dengan tahun 2015, maka ketiga sektor tersebut masih menjadi sektor

dominan dalam PDRB Kota Pekalongan. Apabila dilihat dari laju pertumbuhan PDRB

pada tiap sektor tahun 2016, maka diketahui bahwa nilai laju pertumbuhan lebih tinggi

jikan dibandingkan tahun 2015.

Tabel 2.1 Nilai dan Laju Pertumbuhan PDRB

Menurut Lapangan Usaha Tahun 2015-2016

No. Lapangan Usaha ADHB (Milyar Rp) ADHK (Milyar Rp) Laju PDRB (%)

2015 *) 2016 **) 2015 *) 2016 **) 2015 *) 2016 **)

1 Pertanian, Kehutanan

dan Perikanan

413,68 447,87 311,21 323,59 4,09 3,98

2 Pertambangan dan Penggalian

- - - - – –

3 Industri pengolahan 1.677,23 1.822,76 1.302,42 1.356,59 3,99 4,16

4 Listrik Gas dan Air

Bersih

11,80 13,31 11,76 12,43 -1,99 5,69

5. Pengadaan air, pengelolaan sampah Limbah dan daur ulang

8,73 9,19 7,46 7,63 2,54 2,16

6 Konstruksi 1.114,84 1.221,45 842,14 880,17 5,64 4,52

7. Perdagangan besar dan eceran, Reparasi Mobil dan sepeda motor

1.701,21 1.847,86 1.342,16 1.407,43 3,62 4,86

8. Transportasi dan Pergudangan

484,21 514,31 410,33 432,15 5,11 5,16

2012 2013 2014 2015 2016

Kota Pekalongan (%) 5,61 5,91 5,48 5,00 5,36

Prov Jateng (%) 5,34 5,14 5,27 5,47 5,28

Nasional (%) 6,16 5,74 5,02 4,88 5,02

4,00

4,50

5,00

5,50

6,00

6,50

7,00

Page 17: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

11

No. Lapangan Usaha ADHB (Milyar Rp) ADHK (Milyar Rp) Laju PDRB (%)

2015 *) 2016 **) 2015 *) 2016 **) 2015 *) 2016 **)

9. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

410,71 461,41 291,13 314,24 7,78 7,94

10. Informasi dan

Komunikasi

301,97 330,11 291,66 316,37 8,58 8,47

11. Jasa Keuangan dan Asuransi

463,13 522,26 344,74 375,88 6,89 9,03

12. Real Estate 206,76 227,94 172,69 183,99 7,47 6,54

13. Jasa Perusahaan 29,96 33,75 21,56 23,78 8,35 10,28

14. Administrasi

Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

369,82 404,44 271,57 278,58 5,78 2,58

15. Jasa Pendidikan 351,22 389,75 236,68 254,40 4,78 7,49

16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

95,02 106,61 69,97 76,73 7,10 9,65

17. Jasa lainnya 137,97 154,50 115,00 123,31 3,20 7,23

PDRB 7.778,27 8.507,54 6.043,09 6.367,27 5,00 5,36

Sumber data : BPS Kota Pekalongan, 2017

Tabel 2.2 Struktur PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga

Berlaku Tahun 2012-2016 (%)

Lapangan Usaha 2012 2013 2014* 2015** 2016***

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

A Pertanian, Kehutanan, dan

Perikanan

5,86 5,6 5,27 5,32 5,26

B Pertambangan dan Penggalian

– – – – –

C Industri Pengolahan 20,82 21,53 21,67 21,56 21,43

D Pengadaan Listrik dan Gas 0,19 0,17 0,16 0,15 0,16

E Pengadaan Air,

Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

0,13 0,12 0,11 0,11 0,11

F Konstruksi 14,08 14,37 14,91 14,33 14,36

G Perdagangan Besar dan

Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

23,55 22,98 22,14 21,87 21,72

H Transportasi dan

Pergudangan

6,41 6,1 6,14 6,23 6,05

I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

4,56 4,52 4,67 5,28 5,42

J Informasi dan Komunikasi 3,96 3,93 3,91 3,88 3,88

K Jasa Keuangan dan

Asuransi

5,71 5,78 5,84 5,95 6,14

L Real Estat 2,55 2,52 2,59 2,66 2,68

M,N Jasa Perusahaan 0,34 0,36 0,39 0,38 0,40

O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

5,01 4,87 4,73 4,75 4,75

P Jasa Pendidikan 3,98 4,26 4,43 4,52 4,58

Page 18: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

12

Lapangan Usaha 2012 2013 2014* 2015** 2016***

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

1,14 1,14 1,2 1,22 1,25

R,S,T,U Jasa lainnya 1,72 1,76 1,84 1,77 2,83

Produk Domestik Regional Bruto 100 100 100 100 100

Sumber data : BPS Kota Pekalongan, 2017

PDRB per kapita merupakan PDRB yang dibagi dengan jumlah penduduk pada

pertengahan tahun. Pada Tahun 2016, PDRB per kapita Kota Pekalongan ADHB

mencapai Rp.28,43 juta, meningkat dibandingkan dengan tahun 2015. PDRB per kapita

Kota Pekalongan secara lengkap dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.3 PDRB Per Kapita dan Pendapatan Per Kapita

Kota Pekalongan Tahun 2012-2016

No Tahun Pendapatan Per Kapita (atas

dasar harga berlaku) (Rp Juta)

1 2012 20,04

2 2013 22,10

3 2014 24,26

4 2015 26,36

5 2016 28,43 Sumber data : PDRB Kota Pekalongan Tahun 2017, diolah

c. Inflasi

Pada periode tahun 2012-2016, inflasi di Kota Pekalongan cenderung berfluktuasi

dari kisaran 2,94% di tahun 2016 hingga 7,82% di tahun 2014. Nilai inflasi Kota

Pekalongan dari tahun 2012 - 2014 lebih rendah dibanding dengan inflasi nasional dan

Provinsi Jawa Tengah, namun pada tahun 2015 dan 2016 sedikit lebih tinggi dibanding

Provinsi Jawa Tengah tetapi masih dibawah Nasional.

Perkembangan inflasi kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah dan nasional

dapat dilihat pada Tabel 2.4 berikut:

Tabel 2.4 Laju Inflasi Kota Pekalongan Tahun 2012-2016

2012 2013 2014 2015 2016

Kota Pekalongan (%) 3,55 7,40 7,82 3,46 2,94

Prov Jateng (%) 4,42 7,99 8,22 2,73 2,36

Nasional (%) 4,36 8,38 8,36 3,35 3,02 Sumber: Kota Pekalongan Dalam Angka 2016, BPS 2017

2.2. RENCANA TARGET EKONOMI MAKRO PADA TAHUN 2018.

Dengan melihat perkembangan indikator ekonomi makro daerah sampai dengan

tahun 2016, serta berdasarkan RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2016-2021, target

ekonomi makro Kota Pekalongan pada tahun 2018 diperkirakan sebagaimana ditunjukkan

dalam tabel berikut.

Page 19: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

13

Tabel 2.5 Target Ekonomi Makro Kota Pekalongan Tahun 2018

NO URAIAN TARGET 2018 TARGET

AKHIR RPJMD TAHUN 2021

1 Pertumbuhan Ekonomi 5,60% 5,70%

2 IPM 73,78 76,90

3 Indeks Gini 0,340 0,340

4 Pengeluaran Perkapita (Rp.) 12.777.625 13.897.489

5 Angka Kemiskinan 6,90% 5,79%

6 Tingkat Pengangguran Terbuka 3,80% 3,50%

7 Persentase PAD terhadap APBD 19,37% 22,76%

Sumber : RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2016-2021

2.2.1. Tantangan Perekonomian Tahun 2018.

Prospek perekonomian Kota Pekalongan tahun 2018 diperkirakan masih akan

dipengaruhi oleh perkembangan perekonomian global dan nasional yang akan terjadi di

tahun 2017. Indonesia bersama negara-negara lain di dunia saat ini tengah mengalami

ketidakpastian ekonomi yang dikenal dengan fenomena normal baru (new normal), dimana

kondisi ekonomi yang tidak normal saat ini dianggap sebagai kondisi normal. Fakta global

yang tak bisa dihindari dan harus dihadapi saat ini antara lain pelambatan perekonomian

global yang diperkirakan masih berlanjut, rendahnya pertumbuhan ekonomi dunia,

menurunnya perdagangan, dan meningkatnya pengangguran.

Adanya kebijakan perdagangan negara maju di dunia seperti Amerika Serikat yang

dikenal sebagai kebijakan proteksionisme, akan sangat mempengaruhi kinerja

perdagangan ekspor luar negeri Indonesia termasuk Kota Pekalongan. Selain itu,

pemulihan ekonomi mitra dagang utama Indonesia yang lambat seperti Tiongkok, Jepang,

dan negara-negara ASEAN, juga diperkirakan akan berdampak pada pasar dagang produk

komoditas Kota Pekalongan yang mengandalkan komoditas tekstil dan produk tekstil, serta

perikanan.

Kebijakan The Fed (Bank Sentral AS) untuk menaikkan suku bunga juga akan

memberikan dampak terhadap perekonomian global termasuk Indonesia dan Kota

Pekalongan pada khususnya. Dengan membaiknya kondisi perekonomian AS yang

ditandai dengan peningkatan konsumsi masyarakat, dikhawatirkan akan semakin

meningkatkan tekanan inflasi, yang berdampak pada kenaikan suku bunga yang semakin

cepat. Dengan kondisi ini, maka akan terjadi penguatan pada dolar AS. Implikasinya bagi

produk komoditas Kota Pekalongan yang berbahan baku impor tinggi seperti batik tentu

akan mengalami kesulitan, sementara permintaan pasar terus meningkat.

Dalam skala nasional, kebijakan Pemerintah untuk percepatan pembangunan jalan

tol Pulau Jawa yang salah satunya ditargetkan akan mengoperasionalkan Jalan Tol

Pemalang Batang sebelum Hari Raya Idul Fitri Tahun 2018 masih belum memberikan

gambaran yang jelas seberapa besar pengaruhnya bagi perekonomian Kota Pekalongan.

Meskipun rencana pembangunan exit jalan tol yang akan mengarah langsung ke Pasar

Grosir Setono ditargetkan selesai sebelum Hari Raya Idul Fitri Tahun 2018, namun

ancaman terhadap penurunan volume kunjungan ke Kota Pekalongan tetap masih harus

diwaspadai dan sekaligus disiapkan beberapa antisipasi jalan keluarnya.

Selain faktor eksternal, adanya faktor resiko internal juga yang akan berpengaruh

terhadap perekonomian Kota Pekalongan. Faktor internal tersebut antara lain melemahnya

Page 20: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

14

kapasitas fiskal daerah, khususnya minimnya peluang untuk membuka objek

pajak/retribusi baru yang akan mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah guna

membiayai belanja pemerintah. Disamping itu, kesenjangan keahlian sumber daya

manusia juga menjadi permasalahan tersendiri di masa yang akan datang.

Menghadapi faktor risiko eksternal dan internal tersebut, maka beberapa tantangan

yang harus dihadapi Kota Pekalongan yaitu:

a). Isu penguatan ketahanan pangan, energi, dan air dimana ketergantungan Kota

Pekalongan masih sangat besar untuk mendapatkan pasokan dari luar daerah

terutama dari daerah sekitar.

b). Tingginya ketergantungan akan barang impor berupa bahan baku dan bahan

penolong batik seringkali menyulitkan pengusaha.

c). Melemahnya daya saing Kota Pekalongan seiring dengan belum berkelanjutannya

produk unggulan daerah terutama pada produk unggulan Batik yang masih berupa

bahan komoditi pemenuhan kebutuhan pasar semata, serta Batik Pekalongan belum

memiliki brand produk yang original dan kuat di pasaran dan secara umum

Pekalongan masih sebatas sebagai tempat memproduksi saja.

d). Di sektor industri, maritim, dan pariwisata pengembangannya masih belum maksimal

disamping terkait dengan luasan lahan Kota yang terbatas untuk pengembangan

industri baik industri pengolahan maupun industri maritim meski masih adanya

peluang untuk pengembangan jasa perkantoran dan pariwisata dengan mengajak

investor untuk pengembangan destinasi wisata di Kota Pekalongan.

e). Perlunya menciptakan ekonomi inklusif dengan penguatan UKM di Kota Pekalongan

dengan pembangunan technopark perikanan dan pengembangan pusat inovasi dan

budaya batik.

f). Meski letak Kota Pekalongan yang strategis sebagai pusat pelayanan kegiatan

wilayah regional Petanglong namun hal ini belum dimaksimalkan terutama dalam hal

pelayanan jasa dan perdagangan dimana selama dua tahun terakhir tidak terlalu

singnifikan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

g). Operasionalisasi jalan tol masih menyisakan beberapa kemungkinan yang harus

diantisipasi di tahun-tahun yang akan datang. Oleh karena itu, sambil menunggu

beroperasinya jalan tol tersebut, maka perlu dilakukan disain penataan kota untuk

meningkatkan daya tarik dan juga volume kunjungan

2.2.2. Prospek Perekonomian Daerah Tahun 2018.

Prioritas kebijakan pembangunan ekonomi Kota Pekalongan secara makro tahun

2018 adalah (1) pemantapan pertumbuhan ekonomi dengan menitikberatkan pada upaya

peningkatan penanaman modal, (2) memperluas kesempatan kerja dan mendorong

wirausaha baru, (3) meningkatkan perlindungan usaha mikro, kecil dan sektor informal, (4)

mengurangi jumlah penduduk miskin dan (5) meningkatkan pelatihan keterampilan dan

perintisan usaha.

Namun demikian, di sisi lain, keterbatasan keuangan daerah dalam pembiayaan

pembangunan daerah berimplikasi luas terhadap perekonomian daerah. Pemerintah Kota

Pekalongan diharapkan dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), efisiensi

pendanaan pembangunan dan efektivitas pengelolaan keuangan daerah.

Page 21: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

15

Berkaitan dengan kondisi yang tersebut di atas maka usaha-usaha yang harus

dilakukan dalam pemantapan perekonomian daerah, adalah sebagai berikut:

a. Penguatan kebijakan ekonomi melalui Revisi Tata Ruang Wilayah sangat strategis

dalam mengakomodir dinamika pembangunan daerah yang terjadi termasuk untuk

kepastian peluang investasi pada sektor yang belum terakomodir dalam peraturan

yang lama akan mampu menguatkan ekonomi daerah.

b. Meningkatkan volume kunjungan ke Kota Pekalongan melalui peningkatan kualitas

dan kuantitas event tahunan.

c. Mewujudkan ketertiban hukum dan ketenteraman dalam masyarakat guna menjamin

kodusivitas berinvestasi dan kegiatan usaha dalam masyarakat dapat terselenggara

dengan baik.

d. Meningkatkan pelayanan perijinan usaha secara terpadu, untuk meningkatkan unit-

unit layanan dan fasilitasi perijinan bagi usaha mikro, kecil serta sektor informal secara

gratis agar dapat menjadi usaha formal dan kemudahan dalam mengakses kredit

perbankan.

e. Menjamin ketersediaan prasarana dan sarana perekonomian (revitalisasi pasar

tradisional, perlindungan UKM) agar berfungsi dengan baik dan sektor-sektor lain

sebagai penunjang pertumbuhan dan distribusi barang semakin efisien.

f. Peningkatan produktivitas tenaga kerja, perbaikan sistem pengupahan, peningkatan

keterampilan dan kewirausahaan dalam masyarakat.

g. Meningkatkan koordinasi antar PD, kerjasama antar daerah, mengembangkan

kemitraan usaha dan pemberdayaan usaha mikro, kecil dan sektor informal. Melalui

kerjasama kemitraan dan program tanggung jawab sosial perusahaan (program CSR)

dari dunia usaha untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah (UKM) dan

lembaga keuangan mikro (LKM) di tingkat Rukun Warga (RW).

h. Meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui pelatihan, pendidikan kecakapan hidup

(life skills), teknologi tepat guna, produktivitas kerja dan keterampilan yang bersifat

teknis.

i. Meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi dalam membantu pemasaran produk

unggulan daerah.

Page 22: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN

PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD)

16

BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM

PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH

(RAPBD)

Efektivitas kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang tertuang dalam

RKPD Tahun 2018 sebagai pelaksanaan agenda RPJMD tahun 2016-2021 di tahun ketiga,

tidak terlepas dari kapasitas anggaran yang dapat dikelola oleh Pemerintah Kota

Pekalongan. Untuk itu, kebutuhan belanja pembangunan daerah akan selalu

mempertimbangkan kapasitas fiskal daerah sebagai salah satu penopang strategis dalam

implementasi RKPD, yang akan selalu berdampingan dengan sumber-sumber pendanaan

non APBD, seperti APBN, Hibah, dana kemitraan swasta, swadaya masyarakat serta

kontribusi pelaku usaha melalui Corporate Social Responsibility (CSR).

APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa 1 (satu) tahun

anggaran, yang terdiri atas pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah

(penerimaan dan pengeluaran pembiayaan daerah). Untuk pendapatan daerah bersumber

dari: 1) Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terdiri dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah,

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan dan Lain-Lain Pendapatan Asli

Daerah yang Sah; 2) Dana Perimbangan terdiri dari Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak, Dana

Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus; 3) Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah

meliputi Pendapatan Hibah, Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi, Dana Penyesuaian dan

Otonomi Khusus dan Bantuan Keuangan dari Provinsi atau pemerintah daerah lainnya.

Selanjutnya untuk penerimaan pembiayaan bersumber dari Sisa Lebih Perhitungan

Anggaran Tahun Anggaran sebelumnya (SiLPA), Pencairan Dana Cadangan dan

Penerimaan kembali investasi pemerintah. Sedangkan pengeluaran pembiayaan terdiri

dari Pembentukan Dana Cadangan, Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah dan

Pembayaran Pokok Utang.

Kondisi perekonomian daerah yang stabil diharapkan tetap terjaga pada tahun 2018

melalui sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter nasional yang didukung dengan

kebijakan fiskal daerah serta penguatan kelembagaan keuangan mikro dan sektor riil.

Harapan dan keyakinan terhadap kondisi tersebut didasarkan pada proyeksi optimis

perbaikan perekonomian nasional seiring dengan perbaikan pertumbuhan ekonomi dunia,

meskipun tetap harus diwaspadai gejolak ekonomi global. Dengan pertimbangan berbagai

kondisi ekonomi tersebut, maka perhitungan perencanaan APBD Tahun 2018 dihitung

berdasarkan berbagai asumsi sebagai berikut:

1. Asumsi Dasar yang Digunakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;

2. Laju Inflasi;

3. Pertumbuhan PDRB; dan

4. Lain-lain asumsi.

Page 23: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN

PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD)

17

3.1. ASUMSI DASAR YANG DIPERGUNAKAN DALAM APBN

Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah merupakan dokumen

yang memuat kebijakan pendapatan, belanja dan pembiayaan serta asumsi yang

mendasarinya untuk periode satu tahun. Didalam menyusun APBD tentunya mengacu

pada kebijakan pemerintah dalam penganggaran nasional yang tertuang dalam Rencana

Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2018, yang selanjutnya akan menjadi acuan dalam

penyusunan APBN Tahun 2018.

Sebagaimana asumsi yang digunakan dalam penyusunan RKP 2018, pertumbuhan

ekonomi nasional akan terus meningkat dan diprediksi tahun 2018 sekitar 5,4%.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2018 dipengaruhi oleh 6 (enam) sektor utama, yaitu industri

pengolahan non migas (21,2%), konstruksi (10,2%), perdagangan (13,3%), informasi dan

komunikasi (5,4%, jasa keuangan (4,4%) dan pertanian (12,4%).

Sementara itu, tingkat inflasi diperkirakan stabil pada kisaran 3,5 + 1% diharapkan

akan meningkatkan daya beli masyarakat.Pertumbuhan ekonomi diperkirakan sebesar

5,4%. Tingkat suku bunga SPN 3 bulan tahun 2018 diperkirakan sebesar 5,3%. Nilai tukar

rupiah diperkirakan sebesar Rp13.500/USD. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada

tahun 2018 diperkirakan sebesar USD48/barel. Lifting minyak pada tahun 2018

diperkirakan sebesar 800 ribu barel per hari. Sedangkan lifting gas pada tahun 2018

diperkirakan sebesar 1,2 juta barel setara minyak per hari.

3.2. LAJU INFLASI

Asumsi ekonomi makro nasional tersebut memberikan dampak ekonomi lokal di Kota

Pekalongan. Berdasarkan data BPS, inflasi Kota Pekalongan pada tahun 2016 berada

pada kisaran 2,94% lebih rendah dari inflasi nasional dan Provinsi Jawa Tengah pada

tahun yang sama. Dengan melihat tren laju inflasi tersebut, serta berdasarkan asumsi

dasar ekonomi APBN tahun 2018, maka pertumbuhan ekonomi Kota Pekalongan pada

tahun 2018 diasumsikan berada pada kisaran 3 + 1%.

3.3. PERTUMBUHAN PDRB.

Meskipun dalam lima tahun pertumbuhan ekonomi Kota Pekalongan berfluktuasi,

namun selama kurun waktu 2015-2016 mengalami peningkatan. Pertumbuhan ekonomi

Kota Pekalongan pada tahun 2016 adalah 5,36% lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi

nasional dan Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2016. Dengan melihat tren pertumbuhan

ekonomi tersebut, serta berdasarkan asumsi dasar ekonomi APBN tahun 2018, maka

pertumbuhan ekonomi Kota Pekalongan pada tahun 2018 diasumsikan pada kisaran 5,6%,

sebagaimana target RPJMD Kota Pekalongan pada tahun 2018.

3.4. LAIN – LAIN ASUMSI

Asumsi-asumsi lain yang turut berpengaruh dalam penyusunan Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah kota Pekalongan Tahun Anggaran 2018, antara lain:

1. Pendapatan lain (selain Bagi Hasil Pajak) yang bersumber dari Pemerintah Pusat

adalah DAK dan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Kedua

pendapatan dari pos mata anggaran ini diasumsikan sama dengan tahun 2017.

Page 24: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN

PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD)

18

Meskipun pada tahun 2018, Pemerintah Pusat melakukan perubahan tata kelola

pengusulan DAK, dimana alokasi yang akan diberikan ke Daerah mendasari usulan

yang diverifikasi, namun sampai dengan penyampaian KUA-PPAS ini, verifikasi

tersebut belum selesai dilaksanakan. Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan

bahwa penganggaran DAK bersifat balancing (menyamakan cash ini dan cash out)

serta tidak adanya kewajiban pendampingan dalam pelaksanaan, maka pada

penyampaian KUA ini, alokasi DAK tahun 2018 diasumsikan sama dengan DAK tahun

2017.

Sedangkan untuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT), kebijakan

penggunaannya masih mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor

28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan, Pemantauan, dan Evaluasi DBHCHT yang

penggunaannya sebagai berikut : (a) paling sedikit 50% untuk mendanai

program/kegiatan : (1) peningkatan kualitas bahan baku; (2) pembinaan industri; (3)

pembinaan lingkungan sosial; (4) sosialisasi ketentuan di bidang cukai; dan/atau (5)

pemberantasan barang kena cukai ilegal; dan (b) paling banyak 50% untuk mendanai

program/kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas daerah.

2. Mengalokasikan belanja tidak langsung yang meliputi gaji dan tunjangan PNS, serta

penyediaan dana BPJS kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan sesuai ketentuan yang

berlaku.

3. Peningkatan gaji bagi tenaga kontrak minimal sebesar Upah Minimum Kota serta

penyediaan dana BPJS kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan sesuai ketentuan yang

berlaku.

4. Proyeksi penyediaan belanja tidak terduga akan dilakukan secara rasional dengan

mempertimbangkan realisasi Tahun Anggaran 2016 dan estimasi kegiatan-kegiatan

yang sifatnya tidak dapat diprediksi dan belum tertampung dalam bentuk program

kegiatan pada tahun 2018

5. Penyusunan plafon belanja program kegiatan prioritas tambahan atau “waiting list”

yang akan dipertimbangkan sebagai usulan plafon belanja tambahan

Page 25: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

19

BAB IV

KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA

DAN PEMBIAYAAN DAERAH

Penyusunan Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 sebagaimana dalam

penyusunan KUA tahun-tahun sebelumnya, dilakukan sesuai kaidah dalam perencanaan

pembangunan yang terdiri atas sumber-sumber pendapatan daerah, pengeluaran belanja

daerah, dan ketersediaan pembiayaan anggaran. Selain mempertimbangkan asumsi

dasar ekonomi makro dan penetapan berbagai besaran dalam Rincian APBN Tahun

Anggaran 2018 sebagaimana tertuang dalam RKP Tahun 2018, kebijakan penyusunan

APBD Tahun 2018 juga memperhatikan kebutuhan untuk penyelenggaraan pemerintahan

daerah, berbagai kebijakan yang akan dilakukan terkait pelaksanaan pembangunan

melalui berbagai program, dan juga perkembangan realisasi APBD pada tahun-tahun

sebelumnya. Kebijakan penganggaran daerah yang tercermin dalam postur APBD, sangat

berpengaruh dalam pembangunan daerah, karena APBD merupakan implementasi dari

kebijakan fiskal dan sekaligus mencerminkan gambaran tahapan berbagai program

pemerintah daerah guna mewujudkan visinya. Dari sisi kebijakan fiskal, APBD berperan

sebagai salah satu instrumen untuk memfasilitasi pertumbuhan ekonomi dan

kesejahteraan masyarakat. Dari sisi operasionalisasi pelaksanaan program-program

pemerintah, alokasi belanja APBD dapat diarahkan untuk penyediaan sarana dan

prasarana pelayanan publik, penyediaan barang dan jasa, dan penyediaan lapangan kerja

bagi masyarakat. Reformasi yang dilakukan dalam kebijakan pengelolaan keuangan

daerah, telah berjalan sesuai kaidah yang menjamin dilakukannya pengelolaan dengan

semangat efisiensi dan efektivitas anggaran, transparansi dan akuntabilitas publik, rasa

keadilan masyarakat, serta pencapaian kinerja yang optimal. Hal ini merupakan salah satu

aspek penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sejalan

dilaksanakannya kebijakan Otonomi Daerah, maka semangat desentralisasi,

demokratisasi, transparansi dan akuntabilitas mewarnai proses penyelenggaraan

pemerintahan, khususnya dalam proses pengelolaan keuangan daerah.

4.1. KEBIJAKAN PENDAPATAN DAERAH

Penyusunan anggaran tahun 2018 ini secara umum disusun secara rasional dengan

memperhatikan kondisi keuangan daerah dan skala prioritas pembangunan Daerah, dalam

hal ini belanja daerah tidak akan melampaui kemampuan pendapatan dan pembiayaan

daerah. Prinsip dalam pengelolaan keuangan maka pendapatan daerah diproyeksikan

pada besaran pendapatan yang optimis tercapai, sedangkan pada sisi belanja adalah

merupakan batas tertinggi yang dapat dibelanjakan.

Pendapatan daerah yang dianggarkan dalam penyusunan APBD Tahun Anggaran

2018 merupakan perkiraan yang terukur secara rasional dan memiliki kepastian serta

dasar hukum penerimaannya.

Page 26: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

20

1) Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pada tahun 2018 Pendapatan Asli Daerah diasumsikan turun 5,21%

dibandingkan dengan Perubahan APBD Kota Pekalongan Tahun Anggaran 2017.

Dari sisi Pendapatan Pajak Daerah, Hasil Retribusi Daerah dan Hasil Pengelolaan

Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan mengalami kenaikan. Penurunan terjadi pada pos

Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah yang disebabkan adanya pemindahan

rekening pendapatan BOS ke pos Pendapatan Hibah. Selanjutnya dalam

penganggaran Pendapatan Asli Daerah akan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Penganggaran pajak daerah dan retribusi daerah :

1) Peraturan daerah tentang pajak daerah dan retribusi daerah yang berpedoman

pada Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan

Retribusi Daerah.

2) Data potensi pajak daerah dan retribusi daerah dengan memperhatikan

realisasi penerimaan tahun-tahun sebelumnya.

3) Perkiraan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2018 yang berpotensi terhadap

target pendapatan pajak daerah dan retribusi daerah serta realisasi

penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah tahun 2018.

b. Penganggaran hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan

memperhatikan potensi penerimaan tahun anggaran 2018 dengan

memperhitungkan rasionalitas nilai kekayaan daerah yang dipisahkan dan

memperhatikan perolehan manfaat ekonomi, sosial dan/atau manfaat lainnya

dalam jangka waktu tertentu, dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam

Negeri 52 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengelolaan Investasi Daerah.

Pengertian rasionalitas dalam konteks hasil pengelolaan kekayaan daerah yang

dipisahkan:

1) Bagi Badan Usaha Milik Daerah yang menjalankan fungsi pemupukan laba

(profit oriented) adalah mampu menghasilkan keuntungan atau deviden

dalam rangka meningkatkan PAD; dan

2) Bagi Badan Usaha Milik Daerah yang menjalankan fungsi kemanfaatan

umum (public service oriented) adalah mampu meningkatkan baik kualitas

maupun cakupan layanan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan

masyarakat

c. Penganggaran Lain-lain PAD Yang Sah diperoleh dari proyeksi pendapatan

deposito, pendapatan bunga atau jasa giro, pendapatan BLUD dan penerimaan

lainnya.

2) Dana Perimbangan

Penganggaran pendapatan daerah yang bersumber dari dana perimbangan

memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. Penganggaran Dana Bagi Hasil (DBH)

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan

Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, DBH adalah

dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dilakosaikan kepada daerah

dengan angka persentase tertentu, untuk mendanai kebutuhan daerah dalam

Page 27: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

21

rangka pelaksanaan desentralisasi. DBH terdiri dari DBH Pajak dan DBH sumber

daya alam (SDA).

1) Pendapatan DBH-Pajak

DBH Pajak terdiri atas pajak penghasilan pasal 21 (PPh Pasal 21) dan pajak

penghasilan pasal 25 dan pasal 29 wajib pajak orang pribadi dalam negri

(PPh Pasal 25/29 WPOPDN), pajak bumi dan bangunan sektor perkebunan,

perhutanan, dan pertambangan (PBB-P3), dan cukai hasil tembakau (CHT).

DBH pajak dialokasikan kepada daerah berdasarkan dua prinsip, yaitu :

prinsip pembagian berbasis daerah penghasil (by origin), dimana daerah

penghasil pajak mendapatkan bagian berdasarkan pemerataan.

prinsip penyaluran berdasarkan realisasi penerimaan (based on actual

revenue), mengandung arti bahwa DBH pajak disalurkan kepada daerah

disesuaikan dengan realisasi penerimaan negara yang berasal dari pajak

dalam tahun anggaran berjalan.

Kebijakan DBH tahun 2018 akan diarahkan untuk :

a) membagi penerimaan PBB bagian pusat sebesar 10 persen secara

merata kepada seluruh kabupaten/kota;

b) menambah cakupan DBH PBB, selain PBB sektor pertambangan,

perkebunan, dan perhutanan, juga termasuk sektor lainnya, yaitu PBB

perikanan dan PBB atas kabel bawah laut;

c) memperluas penggunaan DBH CHT yang semula dibatasi (earmaked)

sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007

tentang Cukai, diubah menjadi dibatasi sebagian (semi earmaked) yaitu

maksimal 50 persen dapat pula digunakan sesuai prioritas dan

kebutuhan daerah;

d) mempercepat penyelesaian kurang/lebih bayar DBH pajak; serta

e) memperbaiki pola penyaluran dengan mempertimbangkan manajemen

kas negara dan kas daerah, dan memperkuat sistem pengendalian,

monitoring dan evaluasi atas penggunaan DBH pajak yang

penggunaannya telah ditentukan.

Penganggaran pendapatan yang bersumber dari DBH-Pajak didasarkan

pada target pada perubahan APBD Tahun Anggaran 2017 dengan

memperhatikan realisasi pendapatan DBH – Pajak 3 (tiga) tahun

sebelumnya, mengingat belum ada penetapan Rincian APBN Tahun

Anggaran 2018.

2) Pendapatan DBH – Sumber Daya Alam (SDA)

DBH SDA merupaka dana yang bersumber dari penerimaan negara bukan

pajak (PNBP) dalam APBN, yang dialkokkasikan kepada daerah berdasarkan

angka persentase tertentu untuk mendani kebutuhan daerah dalam rnagka

pelaksanaan desentralisasi. DBH-SDA terdiiri dari (1) SDA Kehutanan, yang

meliputi iuran izin usaha pengusahaan hutan (IIUPH), pengelolaan sumber

daya hutan (PSDH), dan dana reboisasi (DR); (2) SDA pertambangan mineral

dan batubara, yang meliputi iuran tetap (land-rent) dan iuran produksi

(royalty); (3) SDA Perikanan; (4) SDA Minyak Bumi; (5) SDA gas bumi; dan

(6) SDA panas bumi. DBH SDA dialokasikan kepada daerah berdasarkan dua

prinsip, yaitu :

Page 28: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

22

prinsip pembagian berbasis daerah penghasil (by origin), dimana daerah

penghasil pajak mendapatkan bagian berdasarkan pemerataan.

prinsip penyaluran berdasarkan realisasi penerimaan (based on actual

revenue), mengandung arti bahwa DBH pajak disalurkan kepada daerah

disesuaikan dengan realisasi penerimaan negara yang berasal dari pajak

dalam tahun anggaran berjalan.

Penganggaran pendapatan yang bersumber dari DBH-SDA didasarkan pada

target pada perubahan APBD Tahun Anggaran 2017 dengan memperhatikan

realisasi pendapatan DBH – Pajak 3 (tiga) tahun sebelumnya, mengingat

belum ada penetapan Rincian APBN Tahun Anggaran 2018.

b. Penganggaran Dana Alokasi Umum (DAU) :

DAU merupakan salah satu jenis dana perimbangan yang dialokasikan untuk

meningkatkan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah guna mendanai

kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Sesuai dengan

funngsinya sebagai instrumen pemerataan keuangan antardaerah, perhitungan

alokasi DAU dilakukan dengan menggunakna formula yang terdiri atas alokasi

dasar (AD) dan celah fiskal (CF). AD dihitung atas dasar persentase jumlah gaji

pegawai negeri sipil daerah (PNSD), yang mencakup gaji pokok ditambah

dengan tunjangan keluarga, dan tunjangan jabatan sesuai dengan peraturan

penggajian pegawai negeri sipil, serta mempertimbangkan penggajian dan

pengangkatan PNSD. Sementara CF dihitung dari selisih antara kebutuhan fiskal

dengan kapasitas fiskal masing-masing daerah. Kebutuhan fiskal daerah

merupakan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi pelayanan

dasar umum. Setiap kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi

pelayanan dasar umum diukur berdasarkan perkalian antara total belanja daerah

rata-rata dengan penjumlahan dari perkalian masing-masing bobot variabel

dengan indeks jumlah penduduk, indeks luas wilayah, indeks kemahalan

konstruksi, indeks pembangunan manusiam, dan indeks produk domestik

regional bruto per kapita.

➢ Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk merupakan variabel yang mencerminkan kebutuhan akan

penyediaan layanan publik di setiap daerah. Indeks jumlah penduduk dihitung

dengan rumus :

Indeks Jumlah Penduduk =

Jumlah Penduduk Daerah

Rata – rata Jumlah Penduduk secara

Nasional

➢ Luas Wilayah

Luas wilayah merupakan variabel yang mencerminkan kebutuhan atas

penyediaan sarana dan prasarana per satuan wilayah. Indeks luas wilayah

dihitung dengan rumus:

Indeks Luas Wilayah Daerah = Luas Wilayah Daerah

Rata – rata Luas Wilayah secara Nasional

➢ Indeks Kemahalan Kosntruksi (IKK)

IKK merupakan variabel yang mencerminkan tingkat kesulitan geografis yang

dinilai berdasarkan tingkat kemahalan harga prasarana fisik secara relatif

antardaerah. Dengan kata lain, IKK adalah angka indeks yang

Page 29: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

23

menggambarkan perbandingan tingkat kemahalan konstruksi suatu daerah

terhadap daerah lainnya. IKK dihitung dengan rumus :

Indeks Kemahalan Konstruksi Daerah = IKK Daerah

Rata – rata IKK secara Nasional

➢ Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

IPM merupakan variabel yang mencerminkan tingkat pencapaian

kesejahteraan penduduk atas layanan dasar di bidang pendidikan dan

kesehatan. IPM dihitung dengan rumus :

Indeks Pembangunan Manusia Daerah = IPM Daerah

Rata – rata IPM secara Nasional

➢ Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

PDRB merupakan variabel yang mencerminkan potensi dan aktivitas

perekonomian suatu daerah yang dihitung berdasarkan total seluruh output

produksi domestik bruto suatu daerah. Indeks PDRB per kapita dihitung

dengan rumus :

Indeks PDRB per kapita Daerah = PDRN per kapita Daerah

Rata – rata PDRB per kapita secara Nasional

Selanjutnya, kapasitas fiskal daerah merupakan sumber pendanaan daerah yang

berasal dari pendapatan asli daerah (PAD), DBH Pajak dan DBH-SDA.

Data dasar terkait dengan alokasi dasar, kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal

dalam perhitungan alokkasi DAU per daerah, menggunakan data yang

bersumber dari :

Gaji PNSD yang didasarkan pada data gaji PNSD tahun 2017 yang dihimpun

oleh Kementerian Keuangan;

Formasi PNSD yang didasarkan pada data formasi PNSD tahun 2017 dari

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi;

Jumlah gaji PNS yang dialihkan ke pemerintah pusat akibat pengalihan

urusan konkuren tahun 2017 yang didasarkan pada data dari K/L terkait;

Jumlah penduduk yang didasarkan pada data jumlah penduduk tahun 2017

dari Kementerian Dalam Negeri;

Luas Wilayah didasarkan pada data luas wilayah darat tahun 2015 dari

Kementerian Dalam Negeri dan data luas wilayah perairan/laut tahuun 2015

dari Badan Informasi Geospasial (BIG);

IKK didasarkan pada data IKK tahun 2017 dari Badan Pusat Statistik (BPS);

IPM yang didasarkan pada data IPM tahun 2016 dari BPS;

PDRB per kapita tahun 2016 dari BPS dan jumlah penduduk tahun 2016 dari

Kementerian Dalam Negeri;

Total belanja daerah rata-rata (TBR) didasarkan pada data TBR tahun 2016

dari pemerintah daerah yang dihimpun dari oleh Kementerian Keuangan;

PAD tahun 2016 pemerintah daerah yang dihimpun oleh Kementerian

Keuangan;

DBH Pajak tahun 2016;

DBH-SDA Tahun 2016.

Page 30: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

24

Kebijakan DAU Tahun 2018 meliputi :

1. Pagu DAU nasional dalam APBN tidak bersifat final, atau dapat berubah

sesuai perubahan PDN neto dalam APBN perubahan tahun berjalan;

2. Menyempurnakan formulasi DAU dengan bobot alokkasi dasar (gaji PNSD)

yang semakin menurun secara gradual, dengan memperhitungkan beban

pengalihan urusan antar tingkat pemerintahan, sehingga formulasi DAU

semakin fokus pada tujuan pemerataan kemampuan fiskal untuk

penyelenggaraan pembangunan daerah;

3. Memberikan afirmasi kepada daerah kepulauan dengan meningkatkan bobot

variabel luas wilayah laut menjadi 100%;

4. Memperhitungkan beban pengalihan urusan antar tingkat pemerintahan

dengan memperbaiki porsi pembagian DAU antara provinsi dengan

kabupaten/kota, yaitu menjadi provinsi 15 persen dan kabupaten/kota

minimum sebesar 85%, serta memperhitungkan pengalihan urusan konkuren

dari pemerintah provinsi/kabupaten/kota ke pemerinrah pusat;

5. Memperkuat implementasi penggunaan minimal 25% dari DTU, yaitu DBH

dan DAU, untuk mendanai belanja infrastruktur layanan dasar publik yang

terkait dengan pengurangan ketimpangan layanan publik, serta pengurangan

pengangguran dan kemiskinan.

Penganggaran DAU tahun 2018 dalam Rancangan APBD Tahun 2018 masih

berdasarkan pada Perubahan APBD Tahun Anggaran 2017, mengingat belum

ada penetapan Rincian APBN Tahun Anggaran 2018.

c. Penganggaran Dana Alokasi Khusus (DAK):

DAK terdiri dari DAK Fisik dan Dak Non Fisik.

DAK Fisik merupakan salah satu instrumen penting dalam mendanai infrastruktur

dan sarana/prasarana publik dan penunjang kegiatan ekonomi yang menjadi

kewenangan daerah. Kebijakan DAK Fisik tahun 2018 adalah sebagai berikut :

1. Pengalokasiannya berdasarkan usulan daerah (proposal based) sesuai

dengan bidang dan menu kegiatan yang ditentukan untuk mencapai sasaran

yang menjadi prioritas pusat dan daerah;

2. Pengalokasiannya memperhitungkan kinerja pelaksanaan dua tahun

sebelumnya;

3. Penajaman alokasi berdasarkan hasil sinkronisasi kegiatan per bidang

antardaerah dan antara ekgiatan yang akan didanai DAK dengan yang

didanai dari belanja K/L;

4. Perbaikan penyaluran yang dilakukan melalui :

a) Penyalurab per bidang, dengan pembatasan waktu penyampaian

laporan triwulan;

b) Penyaluran berdasarkakn kinerja pelaksanaan (laporan penyerapan dan

capaian output);

c) Penyaluran melalui KPPN setempat sehingga lebih memudahkan bagi

pemerintah daerah.

Penganggaran DAK Fisik dalam Rancangan APBD Tahun Anggaran 2018

berdasarkan pada usulan daerah, mengingat belum ada penetapan Rincian

APBN Tahun Anggaran 2018.

Page 31: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

25

Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik dialokasikan untuk mempermudah

aksesiblitas masyarakat terhadap layanan dasar publik yang semakin berkualitas

dengan harga yang semakin terjangkau. DAK Non Fisik terdiri dari :

a) Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS);

b) BOP – PAUD;

c) Dana Tunjangan Profesi Guru dan Tambahan Penghasilan Guru PNS;

d) Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dan Bantuan Operasional Keluarga

Berencana (BOKB);

e) Dana Peningkatan Kapasitas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah

(PK2UKM); dan

f) Dana Bantuan Pelayanan Administrasu Kependudukan.

Penganggaran DAK Non Fisik dalam Rancangan APBD Tahun 2018 masih

berdasarkan Perubahan APBD Tahun 2017, mengingat belum ada penetapan

Rincian APBN Tahun Anggaran 2018.

3) Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah

Penganggaran pendapatan daerah yang bersumber dari Lain-Lain Pendapatan

Daerah Yang Sah memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Pendapatan daerah yang bersumber dari hibah APBN untuk BOS diasumsikan

sama dengan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2017 dan untuk PDAM

diestimasikan sebesar Rp 3 miliar, akan tetapi dala pelaksanaannya tetap akan

mengacu pada pagu definitif dari Pemerintah Pusat.

b. Penganggaran pendapatan kabupaten/kota yang bersumber dari Bagi Hasil Pajak

Daerah yang diterima dari Pemerintah Provinsi diasumsikan sama dengan

Perubahan APBD Tahun Anggaran 2017.

c. Pendapatan daerah yang bersumber dari bantuan keuangan dari Pemerintah

Provinsi diasumsikan sesuai dengan usulan tahun 2018, akan tetapi didalam

pelaksanaannya tetap akan mengacu pada pagu definitif dari Pemerintah

Provinsi.

d. Pendapatan daerah yang bersumber dari Dana Insentif Daerah (DID)

diasumsikan sebesar 85 persen dari pendapatan DID Tahun 2017. Namun

demikian dalam pelaksanaannya tetap akan mengacu pada pagu difinitif dari

Pemerintah Pusat se suai dengan UU APBN Tahun 2018. DID merupakan dana

yang dialokasikan kepada daerah tertentu berdasarkan kategori/kriteria tertentu

sebagai penghargaan atas perbaikan dan/atau pencapaian kinerja di bidang

pengelolaan keuangan daerah, pelayanan dasar publik, dan kesejahteraan

masyarakat. Pengalokasin DID ditujukan untuk mendorong daerah agar

meningkatkan :

1) Kualitas pengelolaan keuangan daerah dan kesehatan fiskal daerah;

2) Kualitas pelayanan pemerintahan umum;

3) Kualitas pelayanan dasar publik di bidang pendidikan, kesehatan, dan

infrastruktur;

4) Upaya pengentasan kemiskinan.

Kriteria yang digunakan dalam dalam penilaian DID adalah kriteria utama dan

kriteria kinerja. Kriteria Utama merupakan kriteria yang harus dimililki oleh suatu

Page 32: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

26

daerah sebagai penentu kelayakan daerah penerima, terdiri dari (1) opini BPK

atas LKPD; (2) penetapan Perda APBD tepat waktu; dan (3) penggunaan e-

government. Sedangkan kategori kinerja merupakan jenis kategori penilaian

terhadap perbaikan/pencapaian kinerja daerah di bidang pengelolaan keuangan

daerah, pelayanan dasar publik, dan kesejahteraan masyarakat. Indikator

kategori kinerja antara lain :

1) Pengelolaan keuangan daerah, melalui :

a) Kemandirian fiskal daerah;

b) Kualitas belanja daerah;

c) Kualitas dalam perencanaan anggaran;

d) Realisasi SiLPA di daerah.

2) Pelayanan pemerintahan umum, melalui :

a) Kemudahan investasi, didasarkan atas kinerja pelayanan terpadu satu

pintu (PTSP);

b) Penyelenggaraa pemerintahan daerah, didasarkan atas hasil evaluasi

kinerja penyelenggaraaan pemerintahan daerah terhadap laporan

penyelenggaraab pemerintah (LPPD);

c) Perencanaan daerah, didasarkan atas perencanaan terbaik,

perencanaan progresif dan perencanaan inovatif;

d) Inovasi pelayanan publik terbaik;

e) Sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintahan (SAKIP), didasarkan

atas perencanaan kinerja, pengukuran kinerja, pelaporan kinerja,

evaluasi internal dan capaian kinerja instansi pemerintahan.

3) Pelayanan dasar publik, melalui penilaian atas perbaikan dan/atau

pencapaian kinerja antara lain :

a) Pelayanan dasar pendidikan, didasarkan capaian angka partisipasi murni

(APM) SMP, rata-rata lama sekolah (RLS) dan harapan lama sekolah

(HLS);

b) Pelayanan dasar publik kesehatan, didasarkan atas capaian persentase

bayi dibawah dua tahun (Baduta) dengan gizi buruk (stunting),

persentase balita yang mendapatkan imunisasi, dan persentase

persalinan di tolong tenaga kesehatan;

c) Pelayanan dasar publik infrastruktur, didasarkan atas capaian

persentase rumah tangga dengan akses air minum dan akses sanitasi

yang layak.

4) Kesejahteraan masyarakat melalui penilaian atas perbaikan dan/atau

pencapaian kinerja dalam penurunan angka kemiskinan.

Dalam upaya untuk meningkatkan pendapatan daerah, khususnya Pendapatan

Asli Daerah (PAD), maka kebijakan Pendapatan Daerah dalam APBD Tahun 2018

diuraikan sebagai berikut :

1. Optimalisasi penerimaan pajak dan retribusi daerah melalui Intensifikasi

penagihan, sosialisasi dan peningkatan basis data;

2. Validasi dan up date Wajib Pajak dan Wajib Retribusi Daerah;

Page 33: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

27

3. Melakukan evaluasi dan revisi Peraturan Daerah Pendapatan Asli Daerah;

4. Meningkatkan pelayanan masyarakat dalam upaya meningkatkan kesadaran

masyarakat dalam membayar pajak daerah dan retribusi daerah.

5. Meningkatkan koordinasi antar PD dalam bidang Pendapatan Daerah;

6. Memberikan reward and punishment, dan kebijakan stimulus fiskal kepada Wajib

Pajak Daerah;

7. Memperkuat penggunaan IT untuk mendukung system, prosedur dan pelayanan;

8. Mengoptimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana serta Sumber Daya

Manusia yang ada;

9. Mengintensifkan pendapatan melalui peningkatan kerjasama dengan pihak

terkait;

10. Meningkatkan pengelolaan aset dan keuangan daerah lebih efisien;

11. Meningkatkan kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam upaya

meningkatkan keuntungan agar meningkatkan kontribusi Pendapatan Daerah;

12. Optimalisasi pelayanan Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD) melalui

penciptaan brand image;

13. Optimalisasi manajemen kas daerah dengan memanfaatkan idle cash dalam

bentuk deposito;

14. Meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait dalam optimalisasi penerimaan

dana perimbangan melalui koordinasi dengan DJPK, Provinsi dan KPP Pratama;

4.2. KEBIJAKAN BELANJA DAERAH

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, belanja daerah digunakan

untuk pelaksanaan urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan daerah

yang terdiri atas urusan pemerintahan wajib dan urusan pemerintahan pilihan.

Belanja daerah tersebut diprioritaskan untuk mendanai urusan pemerintahan wajib

terkait pelayanan dasar yang ditetapkan dengan standar pelayanan minimal serta

berpedoman pada standar teknis dan harga satuan regional sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan. Sedangkan belanja daerah untuk urusan pemerintahan

wajib yang tidak terkait dengan pelayanan dasar, serta belanja daerah untuk urusan

pemerintahan pilihan berpedoman pada standar harga satuan regional.

Urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar meliputi: (a)

pendidikan, (b) kesehatan, (c) pekerjaan umum dan penataan ruang, (d) perumahan rakyat

dan kawasan permukiman, (e) ketentraman, ketertiban umum, dan perlindungan

masyarakat, dan (f) sosial. Sementara urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan

dengan pelayanan dasar meliputi: (a) tenaga kerja, (b) pemberdayaan perempuan dan

perlindungan anak, (c) pangan, (d) pertanahan, (e) lingkungan hidup, (f) administrasi

kependudukan dan pencatatan sipil, (g) pemberdayaan masyarakat dan desa, (h)

pengendalian penduduk dan keluarga berencana, (i) perhubungan, (j) komunikasi dan

informatika, (k) koperasi, usaha kecil, dan menengah, (l) penanaman modal, (m)

kepemudaan dan olahraga, (n) statistik, (o) persandian, (p) kebudayaan, (q) perpustakaan,

dan (r) kearsipan. Sedangkan urusan pemerintahan pilihan meliputi: (a) kelautan dan

perikanan, (b) pariwisata, (c) pertanian, (d) perdagangan, dan (e) perindustrian.

Disamping urusan wajib dan pilihan sebagaimana diuraikan di atas, terdapat urusan

penunjang yang juga diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014, yang

Page 34: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

28

meliputi : a) perencanaan, b) keuangan, c) kepegawaian serta pendidikan dan pelatihan,

d) penelitian dan pengembangan, dan juga e) fungsi lain sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan.

Terkait dengan RKPD Kota Pekalongan Tahun 2018, Pemerintah Kota Pekalongan

menetapkan target capaian kinerja setiap belanja, sesuai dalam konteks Kota Pekalongan,

Organisasi Perangkat Daerah, maupun program dan kegiatan, yang bertujuan untuk

meningkatkan akuntabilitas perencanaan anggaran dan memperjelas efektifitas dan

efisiensi penggunaan anggaran. Selanjutnya, program dan kegiatan akan disertai dengan

memberikan informasi yang jelas dan terukur dan memiliki korelasi langsung dengan

keluaran yang diharapkan dari program dan kegiatan.

4.2.1. Kebijakan terkait dengan perencanaan belanja daerah meliputi total

perkiraan belanja daerah

Kebijakan dan alokasi anggaran belanja diarahkan antara lain untuk menunjang

kelancaran kegiatan penyelenggaraan operasional pemerintahan dan pelayanan kepada

masyarakat, mendukung stabilitas dan kegiatan ekonomi daerah dalam memacu

pertumbuhan ekonomi, menciptakan dan memperluas lapangan kerja, serta mengurangi

kemiskinan.

Pada dasarnya Anggaran Tahun 2018 sudah merupakan tahun ketiga periodisasi

RPJM-D Tahun 2016-2021. Hal ini sejalan dengan telah ditetapkannya Peraturan Daerah

Nomor 4 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

(RPJMD) Kota Pekalongan Tahun 2016-2021.

Total perkiraan belanja pada tahun 2018 sebesar Rp 956.867.698.000,- dengan

estimasi 39,25% (Rp. 375.613.852.000,-) untuk belanja tidak langsung dan 60,75% (Rp

581.253.846.000,-) untuk belanja langsung. Belanja Tidak Langsung (BTL) meliputi belanja

pegawai, hibah, bantuan sosial, belanja bantuan keuangan dan belanja tidak terduga.

Sedangkan Belanja Langsung (BL) adalah belanja yang terkait langsung dengan

pelaksanaan program dan kegiatan yang terkait dengan pelaksanaan bidang

pemerintahan dan diukur dengan capaian kerja.

4.2.2. Kebijakan belanja pegawai, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial,

belanja bagi hasil, bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga

a. Belanja Pegawai

1) Asumsi penganggaran untuk gaji pokok dan tunjangan Pegawai Negeri Sipil

Daerah (PNSD) disesuaikan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

serta memperhitungkan rencana pemberian gaji ke-13 beserta tunjangannya dan

gaji pokok ke-14 sebagaimana dialokasikan pada tahun 2017, perhitungan

accress serta penganggaran belanja pegawai untuk kebutuhan pengangkatan

Calon PNSD sesuai formasi pegawai Tahun 2018;

2) Penyesuaian dengan kebijakan dari pemerintah, terutama yang terkait dengan

pemberlakuan PP Nomor 18 Tahun 2017 tentang Hak Keuangan dan

Administratif Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

3) Penganggaran penyelenggaraan jaminan kesehatan bagi Kepala Daerah/Wakil

Kepala Daerah, Pimpinan dan Anggota DPRD serta PNSD dibebankan pada

APBD Tahun Anggaran 2018 dengan mempedomani Undang-Undang Nomor 40

Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, Undang-Undang Nomor 24

Page 35: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

29

Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan

Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan

sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Presiden

Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden

Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan.

4) Penganggaran penyelenggaraan jaminan kecelakaan kerja dan kematian bagi

Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah serta Pimpinan dan Anggota DPRD,

dibebankan pada APBD disesuaikan dengan yang berlaku bagi pegawai Aparatur

Sipil Negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

5) Penganggaran penyelenggaraan jaminan kecelakaan kerja dan kematian bagi

PNSD dibebankan pada APBD dengan mempedomani Peraturan Pemerintah

Nomor 70 Tahun 2015 tentang Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan

Kematian Bagi Pegawai Aparatur Sipil Negara.

6) Penganggaran Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

mempedomani Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara

Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi

Daerah.

7) Tunjangan profesi guru PNSD dan Dana Tambahan Penghasilan Guru PNSD

yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2018 melalui DAK dianggarkan

dalam APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota pada kelompok belanja tidak

langsung, jenis belanja pegawai, obyek belanja gaji dan tunjangan, dan rincian

obyek belanja sesuai dengan kode rekening berkenaan.

b. Belanja Hibah dan Bantuan Sosial

Implementasi pengaturan tentang Belanja Hibah dan Bantuan Sosial dilaksanakan

sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 2016 dimana

didalamnya memberikan definisi tersendiri penerima hibah kepada Lembaga dan

Badan. Sedangkan persyaratan "berbadan hukum Indonesia” hanya untuk Organisasi

Kemasyarakatan berbentuk yayasan dan/atau perkumpulan. Disamping itu,

pengaturan Belanja Hibah dan Bantuan Sosial juga mengacu pada Peraturan

Walikota Pekalongan Nomor 33 tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan

Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang bersumber dari Anggaran Pendapatan

dan Belanja Daerah Kota Pekalongan.

c. Belanja Bagi Hasil Pajak

1. Penganggaran dana Bagi Hasil Pajak Daerah yang bersumber dari pendapatan

pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten/kota mempedomani Undang-

Undang Nomor 28 Tahun 2009.

Tata cara penganggaran dana bagi hasil pajak daerah tersebut memperhitungkan

rencana pendapatan pajak daerah pada Tahun Anggaran 2018, sedangkan

pelampauan target Tahun Anggaran 2016 yang belum direalisasikan kepada

pemerintah kabupaten/kota ditampung dalam Perubahan APBD Tahun Anggaran

2018 atau dicantumkan dalam LRA bagi Pemerintah Daerah yang tidak

melakukan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2018.

2. Penganggaran dana bagi hasil yang bersumber dari retribusi daerah provinsi

dilarang untuk dianggarkan dalam APBD Tahun 2018 sebagaimana maksud

Page 36: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

30

Pasal 94 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 dan Pasal 18 ayat (2) Peraturan

Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005.

3. Dalam rangka pelaksanaan Pasal 72 ayat (1) huruf c dan ayat (3) Undang-

Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Pasal 97 Peraturan Pemerintah

Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor

6 Tahun 2014 tentang Desa sebagaimana telah diubah dengan Peraturan

Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan

Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-

Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, pemerintah kabupaten/kota

menganggarkan belanja bagian dari Hasil Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

kepada pemerintah desa paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) dari pajak

daerah dan retribusi daerah kabupaten/kota.

4. Dari aspek teknis penganggaran, Belanja Bagi Hasil Pajak Daerah dari

pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten/kota dan Belanja Bagi Hasil

Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dari pemerintah kabupaten/kota kepada

pemerintah desa dalam APBD harus diuraikan ke dalam daftar nama pemerintah

kabupaten/kota dan pemerintah desa selaku penerima sebagai rincian obyek

penerima bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah sesuai kode rekening

berkenaan.

d. Belanja Bantuan Keuangan

Bantuan keuangan kepada partai politik dialokasikan dalam APBD Tahun Anggaran

2018 dan dianggarkan pada jenis belanja bantuan keuangan, obyek belanja bantuan

keuangan kepada partai politik dan rincian obyek belanja nama partai politik penerima

bantuan keuangan. Besaran penganggaran bantuan keuangan kepada partai politik

berpedoman kepada Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan

Keuangan Kepada Partai Politik dan dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6

Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77

Tahun 2014 tentang Pedoman Tata cara Perhitungan, Penganggaran dalam APBD

dan Tertib Administrasi Pengajuan, Penyaluran dan Laporan Pertanggungjawaban

Penggunaan Bantuan Keuangan Partai Politik.

e. Belanja Tidak Terduga

Penganggaran belanja tidak terduga dilakukan secara rasional dengan

mempertimbangkan realisasi Tahun Anggaran 2016 dan kemungkinan adanya

kegiatan-kegiatan yang sifatnya tidak dapat diprediksi sebelumnya, diluar kendali dan

pengaruh pemerintah daerah. Belanja tidak terduga merupakan belanja untuk

mendanai kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan terjadi berulang,

seperti kebutuhan tanggap darurat bencana, penanggulangan bencana alam dan

bencana sosial, kebutuhan mendesak lainnya yang tidak tertampung dalam bentuk

program dan kegiatan pada Tahun Anggaran 2018, termasuk pengembalian atas

kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya.

Page 37: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

31

4.2.3. Kebijakan pembangunan daerah, kendala yang dihadapi, strategi dan

prioritas pembangunan daerah yang disusun secara terintegrasi

dengan kebijakan dan prioritas pembangunan nasional yang akan

dilaksanakan di daerah.

4.2.3.1. Arah Kebijakan Nasional Tahun 2018

Sesuai dengan Tema RKP Tahun 2018 (RPJMN 2015-2019) “Memacu Investasi dan

Infrastruktur untuk Pertumbuhan dan Pemerataan” maka sasaran yang harus dicapai pada

akhir tahun 2018, antara lain :

a) Pencapaian target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2-5,6% dengan sasaran Provinsi

Jawa Tengah minimal sebesar 5%;

b) Pencapaian target tingkat kemiskinan sebesar 9,5-10% dengan sasaran Provinsi Jawa

Tengah maksimal 13%;

c) Pencapaian target tingkat pengangguran terbuka sebesar 5,0-5,3% dengan sasaran

Provinsi Jawa Tengah maksimal 4%; dan

d) Laju inflasi 2,5-4,5%.

Sasaran perekonomian nasional tersebut menjadi indikator keberhasilan

pembangunan tahun 2018. Dengan demikian, hal tersebut menjadi barometer dalam

penyusunan RKPD Tahun 2018 dimana harus diselaraskan untuk mendukung pencapaian

3 (tiga) dimensi pembangunan sebagai berikut:

a). Dimensi Pembangunan Manusia, yang terdiri dari: a) revolusi mental; b)

pembangunan pendidikan; c) pembangunan kesehatan; dan d) pembangunan

perumahan dan permukiman.

b). Dimensi Pembangunan Sektor Unggulan, yang terdiri dari: a) kedaulatan pangan; b)

kedaulatan energi dan ketenagalistrikan; c) kemaritiman dan kelautan; d) pariwisata;

dan kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

c). Dimensi Pemerataan dan Kewilayahan, yang terdiri dari: a) pemerataan

antarkelompok pendapatan; b) perbatasan negara dan daerah tertinggal; c)

pembangunan perdesaan dan perkotaan; dan d) pengembangan konektivitas

nasional.;

Untuk mencapai 3 (tiga) dimensi pembangunan, diperlukan kondisi yang kondusif

yang terkait pembangunan politik, hukum, pertahanan dan keamanan.

4.2.3.2. Arah Kebijakan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2018

Arah kebijakan pembangunan Jawa Tengah Tahun 2018 ditujukan untuk "Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Yang Berkeadilan dan Berdikari", dengan

prioritas meliputi :

1. Penguatan daya saing ekonomi daerah yang berbasis pada potensi unggulan daerah

dan berorientasi pada ekonomi kerakyatan.

2. Penguatan percepatan penanggulangan kemiskinan melalui upaya pengurangan

beban pengeluaran, peningkatan pendapatan, dan pemberdayaan ekonomi mikro dan

kecil untuk masyarakat miskin.

3. Penguatan kualitas dan kompetensi sumber daya manusia diberbagai bidang dan

cakupan layanan sosial dasar.

4. Penguatan ketahanan pangan dan energi yang didukung pembangunan pertanian

dalam arti luas serta pengembangan dan pemanfaatan energi secara berkelanjutan

Page 38: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

32

5. Pemantapan pembangunan infrastruktur dengan memperhatikan keberlanjutan

sumberdaya alam dan lingkungan serta pengurangan resiko bencana.

6. Pemantapan penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang bersih dan baik.

Tujuan, arah kebijakan, dan prioritas pembangunan daerah Provinsi Jawa Tengah

tahun 2018 merupakan upaya guna mencapai target sasaran makro pembangunan daerah

tahun 2018 yaitu :

a. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,9 – 6,2%;

b. Laju inflasi sebesar 4,5 ± 1%;

c. PDRB per kapita sebesar Rp. 27,13 juta;

d. Indeks Gini sebesar 0,337 dan Indeks Williamson sebesar 0,6986;

e. Persentase penduduk miskin sebesar 10,40 – 9,93%;

f. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 71,59, dengan komponen:

(1). Angka Harapan Hidup (AHH) sebesar 75,05 tahun;

(2). Harapan Lama Sekolah (HLS) sebesar 13,35 tahun;

(3). Rata-rata Lama Sekolah (RLS) sebesar 7,15 tahun;

(4). Pengeluaran per Kapita Yang Disesuaikan sebesar 10.334,75 ribu per tahun;

g. Indeks Pembangunan Gender (IPG) sebesar 69,99 dan Indeks Pemberdayaan

Gender (IDG) sebesar 71,99;

h. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,13%; dan

i. Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 103,27.

4.2.3.3. Arah Kebijakan Pembangunan Kota Pekalongan Tahun 2018

Dengan melihat arah kebijakan nasional sebagaimana terlah diuraikan di atas maka

target-target pembangunan yang sejalan dengan target pembangunan nasional serta

kendala dan solusi pemecahannya dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Sesuai RKP 2018, pencapaian target pertumbuhan ekonomi khususnya di Jawa

Tengah minimal 5% sementara dalam RKPD Provinsi Tengah ditargetkan mencapai

5,9-6,2%. Target tersebut tidak dapat didukung sepenuhnya sebagai akibat

konsolidasi para pelaku bisnis pasca pembangunan jalan tol yang dimungkinkan akan

berada pada posisi menunggu perkembangan. Selain itu wilayah yang tidak terlalu

luas juga menjadi salah satu kendala bagi penanaman investasi dalam skala besar

sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi. Sementara itu

pertumbuhan hotel yang menjadi salah satu pendukung kota jasa dimungkinkan akan

mengalami pelambatan. Dengan memperhatikan hal-hal di atas maka pertumbuhan

ekonomi Kota Pekalongan diprediksikan hanya mencapai 5,6%.

2. Sesuai RKP 2018 pencapaian target tingkat kemiskinan khususnya di Jawa Tengah

maksimal 13% sementara dalam RKPD Provinsi Jawa Tengah ditargetkan 10,4-9,93%

diharapkan akan dapat didukung oleh Kota Pekalongan dengan menargetkan

penurunan angka kemiskinan menjadi 6,9% di tahun 2018.

3. Sesuai RKP 2018 pencapaian target tingkat pengangguran terbuka khususnya di

Jawa Tengah maksimal 4% sementara dalam RKPD Provinsi Jawa Tengah

ditargetkan 4,13% diharapkan akan dapat didukung oleh Kota Pekalongan dengan

menargetkan penurunan tingkat pengangguran terbuka menjadi 3,8% di tahun 2018,

dan

Page 39: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

33

4. Laju inflasi nasional sebesar 2,5-4,5% masih berada pada level aman dari target inflasi

Kota Pekalongan tahun 2018 sebesar 3+1%.

Berpedoman pada dokumen perencanaan nasional dan Provinsi Jawa Tengah, serta

RPJMD Kota Pekalongan tahun 2016-2021, maka prioritas pembangunan Pemerintah

Kota Pekalongan pada tahun 2018, adalah:

1. Pembangunan infrastruktur penghubung jalur ekonomi regional, infrastruktur kawasan

strategis dan penanda kota, ruang publik kreatif, serta sarana dan prasarana lain

pendukung pengembangan ekonomi kreatif dengan tetap melanjutkan pembangunan

sarana penanggulangan bencana

2. Pembangunan sumber daya manusia berkualitas sebagai pondasi pembangunan

ekonomi kreatif serta penguatan penanaman nilai-nilai religiusitas.

3. Penguatan pembangunan sektor-sektor ekonomi kreatif berbasis keunggulan lokal.

4. Melanjutkan upaya-upaya penurunan kemiskinan dan pengangguran.

5. Peningkatan kualitas penyelenggaraan pemerintahan dengan menitikberatkan pada

penyelenggaraan pelayanan publik.

6. Penguatan dan peningkatan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan

pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan.

Dalam upaya pencapaian tujuan, arah kebijakan dan prioritas pembangunan tahun

2018 tersebut, kebijakan belanja Kota Pekalongan tahun 2018 adalah :

1. Pembangunan jalan tol yang akan berdampak secara ekonomi bagi masyarakat Kota

Pekalongan, agar disikapi dengan mendorong percepatan interkoneksi yang akan

menghubungkan jalan tol ke Kota Pekalongan.

2. Melanjutkan upaya sinkronisasi pentahapan penyelesaian permasalahan rob yang

dibiayai oleh APBN, APBD Provinsi Jawa Tengah dan APBD Kota Pekalongan.

3. Melanjutkan pembangunan sarana dan prasarana dalam rangka mendukung upaya

pencapaian target nasional 100-0-100 dalam penataan kawasan kumuh termasuk

penanganan Rumah Tidak Layak Huni. Upaya ini antara lain diwujudkan melalui

sinergi penyelenggaraan pembangunan dengan Pemerintah Pusat maupun Provinsi

Jawa Tengah.

4. Peningkatan penanganan permasalahan pencemaran limbah di sungai melalui

pentahapan perencanaan dan koordinasi dengan pemangku kepentingan mulai dari

perajin, pengusaha, komunitas, kabupaten sekitar maupun Pemerintah Provinsi Jawa

Tengah.

5. Pengelolaan kebersihan kota guna meningkatkan kualitas lingkungan yang sehat,

bersih, aman dan nyaman.

6. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana layanan perkotaan serta kawasan

strategis kota sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Daerah (RPJMD) Kota Pekalongan Tahun 2016-2021 bertujuan untuk meningkatkan

kenyamanan dan keindahan ruang publik, meningkatkan kualitas dan daya dukung

bagi daya tarik wisatawan melalui pelaksanaan pembangunan yang terintegrasi dan

tidak parsial.

7. Peningkatan pengamanan aset baik berupa gedung, maupun peralatan dan

perlengkapan yang ada di dalamnya.

Page 40: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

34

8. Peningkatan kepemilikan aset daerah khususnya berupa tanah dengan

menyelesaikan proses sertifikat tanah dalam rangka mendukung/memperlancar

tahapan pelaksanaan pembangunan

9. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana perkantoran berupa bangunan gedung,

pengadaan peralatan dan perlengkapan gedung, sarana mobilitas, sarana

laboratorium, sarana penanggulangan bencana serta layanan kesehatan dalam upaya

peningkatan kualitas layanan publik.

10. Fasilitasi peningkatan sarana dan prasarana KPU untuk meningkatkan kinerja

menjelang Pemilihan Gubernur Tahun 2018, Pemilihan Legislatif dan Pemilihan

Presiden Tahun 2019.

11. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana pada lembaga penyiaran publik lokal

Pemerintah Kota Pekalongan untuk mendorong peningkatan jangkauan dan kualitas

penyiaran publik.

12. Dalam rangka mendorong efektifitas dan efisiensi SDM aparatur Pemerintah Kota

Pekalongan agar menyelenggarakan SIM Kepegawaian

13. Meningkatkan pengetahuan masyarakat dan pelestarian budaya batik dengan

mendokumentasikan proses pengakuan batik sebagai warisan budaya tak benda dari

UNESCO.

14. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana perdagangan untuk mendorong majunya

pasar tradisional sehingga akan menyentuh secara langsung sendi-sendi

perekonomian masyarakat menengah ke bawah.

15. Meningkatkan peran Tim Pengendali Inflasi Daerah dalam rangka menjamin

ketersediaan bahan baku dan bahan penolong batik.

16. Meningkatkan kualitas pengelolaan dan pelayanan Tempat Pelelangan Ikan dan

meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait dalam rangka peningkatan produksi

perikanan tangkap.

17. Melanjutkan upaya pembangunan mental dan spiritual keagamaan dalam rangka

meningkatkan religiusitas masyarakat melalui pemberian bantuan transport guru

TPQ/Madin serta secara bertahap memanfaatkan tekologi informasi dalam

pengelolaannya.

18. Melanjutkan pengalokasian anggaran pendidikan melalui pemberian Fasilitasi

Operasional Pendidikan (FOP) dan beasiswa pada Sekolah Negeri ataupun Sekolah

/ Madrasah Swasta serta meningkatkan peran Dewan Pendidikan dan Komite sekolah

dalam rangka mengurangi beban biaya pendidikan dari masyarakat, khususnya

masyarakat miskin.

19. Pemerintah Kota Pekalongan agar memberikan fasilitasi dan pembinaan terhadap

pendidikan tinggi untuk mendukung peningkatan angka lama sekolah dan angka

harapan lama sekolah.

20. Mempertahankan dan meningkatkan prestasi olahraga melalui peningkatan kualitas

sarana dan prasarana keolahragaan yang diawali dengan kajian secara menyeluruh

terhadap sarana dan prasarana yang ada di Kota Pekalongan.

21. Pembinaan generasi muda yang beriman, bertaqwa, berjiwa nasionalisme, cerdas,

berkualitas berakhlak mulia, sejahtera, anti narkoba, anti korupsi, mandiri, dan

berprestasi.

22. Melanjutkan upaya meringankan beban masyarakat miskin dalam mengakses layanan

kesehatan, baik melalui pembayaran premi kepada Penerima Bantuan Iuran kepada

Page 41: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

35

BPJS Kesehatan maupun layanan langsung kepada pasien dari masyarakat miskin

dengan memperbaiki mekanisme penerbitan SKTM dalam rangka pengendalian

penggunaan anggaran.

23. Melanjutkan upaya-upaya untuk menurunkan kemiskinan dengan menggunakan basis

data terpadu serta koordinasi intensif dengan berbagai stakeholder guna

mengefektifkan implementasi program dan kegiatan pembangunan.

24. Peningkatan kualitas pelayanan publik baik dalam pengertian luas ataupun dalam

rangka layanan yang ramah bagi masyarakat berkebutuhan khusus sebagai bagian

menyeluruh dari upaya-upaya pelayanan umum yang menjadi tugas dan tanggung

jawab Pemerintah Kota Pekalongan.

25. Peningkatan pelayanan penanganan korban tindak kekerasan, perlindungan anak

serta penanganan permasalahan sosial bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan

Sosial melalui optimalisasi layanan secara lebih terfokus sesuai dengan jenis PMKS

26. Mendorong perluasan dan kesempatan bekerja dan berusaha melalui peningkatan

layanan pelatihan ketrampilan tenaga kerja.

27. Peningkatan layanan informasi pembangunan kepada masyarakat sebagai salah satu

transparansi keterbukaan informasi publik.

28. Tahun 2018 merupakan tahun ketiga dari tahapan implementasi Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Pekalongan Tahun 2016-

2021. Orientasi atas penanaman pondasi bagi upaya pencapaian target-target

sasaran pembangunan jangka menengah juga menjadi prioritas dalam pembangunan

tahun 2018.

29. Penyusunan belanja daerah diprioritaskan untuk menunjang efektivitas pelaksanaan

tugas dan fungsi Perangkat Daerah, dalam rangka melaksanakan urusan

pemerintahan daerah yang menjadi tanggung jawabnya. Peningkatan alokasi

anggaran belanja yang direncanakan oleh setiap Perangkat Daerah harus bersifat

inovatif yang diikuti dengan peningkatan kinerja pelayanan dan peningkatan

kesejahteraan masyarakat.

30. Dalam upaya untuk lebih mengarahkan program dan kegiatan sesuai dengan output,

outcome, ataupun sebagai tindaklanjut atas terbitnya peraturan perundang-undangan,

maka perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap dokumen perencanaan

sesuai dengan kebutuhan.

31. Penguatan pengendalian penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan

pembangunan.

32. Dalam penyusunan kebijakan umum APBD Kota Pekalongan Tahun Anggaran 2018

juga memperhatikan saran, perbaikan, dan rekomendasi dari DPRD Kota Pekalongan

sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

4.2.3.4. Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah Kota Pekalongan dengan

Prioritas Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2018

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prioritas pembangunan Kota

Pekalongan dilaksanakan dalam rangka menyelesaikan berbagai permasalahan

pembangunan dan sejalan tujuan sasaran RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2016-2021,

serta memperhatikan arah kebijakan Provinsi Jawa Tengah tahun 2018 dan arah kebijakan

nasional tahun 2018, maka Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah Kota Pekalongan dengan

Prioritas Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2018 ditunjukkan dalam tabel-tabel

berikut.

Page 42: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

36

Tabel 4.1 Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah Kota Pekalongan dalam KUA-PPAS

dengan Prioritas Nasional

NO PRIORITAS

PEMBANGUNAN NASIONAL

URAIAN ALOKASI ANGGARAN BELANJA DALAM RANCANGAN APBD

PROGRAM

BELANJA PEGAWAI, BUNGA SUBSIDI, HIBAH,

BANSOS, BAGI HASIL, BANKEU, BELANJA TDK

TERDUGA

PROGRAM (Rp)

BELANJA PEGAWAI, BUNGA SUBSIDI, HIBAH, BANSOS,

BAGI HASIL, BANKEU, BELANJA TDK TERDUGA

JUMLAH

1 2 3 4 5 6 7=5+6

1. PEMBANGUNAN MANUSIA DAN MASYARAKAT

Pendidikan Program Pendidikan Anak Usia Dini

2.143.190.000 2.143.190.000

Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun

37.840.970.000 37.840.970.000

Program Pendidikan Non Formal

1.392.135.000 1.392.135.000

Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan

17.948.567.000 17.948.567.000

Program Manajemen Pelayanan Pendidikan

1.828.010.000 1.828.010.000

Hibah FOP SD/MI Swasta 1.478.940.000 1.478.940.000

Hibah FOP SMP/MTs Swasta

3.466.560.000 3.466.560.000

Kesehatan Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

608.846.000 608.846.000

Program Perbaikan Gizi Masyarakat

1.085.890.000 1.085.890.000

Program pelayanan kesehatan penduduk miskin

12.750.000.000 12.750.000.000

Ketentraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat

Program pengembangan wawasan kebangsaan

998.500.000 998.500.000

Page 43: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

37

NO PRIORITAS

PEMBANGUNAN NASIONAL

URAIAN ALOKASI ANGGARAN BELANJA DALAM RANCANGAN APBD

PROGRAM

BELANJA PEGAWAI, BUNGA SUBSIDI, HIBAH,

BANSOS, BAGI HASIL, BANKEU, BELANJA TDK

TERDUGA

PROGRAM (Rp)

BELANJA PEGAWAI, BUNGA SUBSIDI, HIBAH, BANSOS,

BAGI HASIL, BANKEU, BELANJA TDK TERDUGA

JUMLAH

1 2 3 4 5 6 7=5+6

Program pendidikan politik masyarakat

257.000.000 257.000.000

Perumahan dan Permukiman

Program Pengembangan Perumahan

23.688.120.000 23.688.120.000

2. PEMBANGUNAN SEKTOR UNGGULAN

Pangan Program Peningkatan Ketahanan Pangan (pertanian/perkebunan)

497.000.000 497.000.000

Kelautan dan Perikanan Program pengembangan budidaya perikanan

130.000.000 130.000.000

Program pengembangan perikanan tangkap

2.676.000.000 2.676.000.000

Pariwisata Program pengembangan pemasaran pariwisata

235.000.000 235.000.000

Program pengembangan destinasi pariwisata

2.571.500.000 2.571.500.000

Program pengembangan Kemitraan

240.500.000 240.500.000

Industri Program pengembangan sentra industri dan Kluster Industri

3.000.000.000 3.000.000.000

Program pengembangan industri kecil dan menengah

105.000.000 105.000.000

3. PEMERATAAN DAN KEWILAYAHAN

Ketenagakerjaan Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja

625.500.000 625.500.000

Program Peningkatan Kesempatan Kerja

803.500.000 803.500.000

Page 44: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

38

NO PRIORITAS

PEMBANGUNAN NASIONAL

URAIAN ALOKASI ANGGARAN BELANJA DALAM RANCANGAN APBD

PROGRAM

BELANJA PEGAWAI, BUNGA SUBSIDI, HIBAH,

BANSOS, BAGI HASIL, BANKEU, BELANJA TDK

TERDUGA

PROGRAM (Rp)

BELANJA PEGAWAI, BUNGA SUBSIDI, HIBAH, BANSOS,

BAGI HASIL, BANKEU, BELANJA TDK TERDUGA

JUMLAH

1 2 3 4 5 6 7=5+6

Sosial Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial

1.123.314.000 1.123.314.000

Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial

1.792.000.000 1.792.000.000

Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

Program pembangunan jalan dan jembatan

11.008.000.000 11.008.000.000

Program Pembangunan Turap/Talud/ Bronjong

1.055.300.000 1.055.300.000

Program Pemanfaatan Ruang 5.205.000.000 5.205.000.000

Program Pengendalian Banjir 5.358.550.000 5.358.550.000

Program Rehabilitasi/ Pemeliharaan Reservoir Pengendali Banjir

1.036.405.000 1.036.405.000

Program Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh

3.400.000.000 3.400.000.000

Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan Pengairan lainnya

5.302.122.000 5.302.122.000

4. PEMBANGUNAN POLITIK, HUKUM, PERTAHANAN DAN KEAMANAN

Fungsi Lainnya Program mengintensifkan penanganan pengaduan masyarakat

663.000.000 663.000.000

Program Penataan Peraturan Perundang-Undangan

6.133.500.000 6.133.500.000

Page 45: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

39

NO PRIORITAS

PEMBANGUNAN NASIONAL

URAIAN ALOKASI ANGGARAN BELANJA DALAM RANCANGAN APBD

PROGRAM

BELANJA PEGAWAI, BUNGA SUBSIDI, HIBAH,

BANSOS, BAGI HASIL, BANKEU, BELANJA TDK

TERDUGA

PROGRAM (Rp)

BELANJA PEGAWAI, BUNGA SUBSIDI, HIBAH, BANSOS,

BAGI HASIL, BANKEU, BELANJA TDK TERDUGA

JUMLAH

1 2 3 4 5 6 7=5+6

5. PEMBANGUNAN EKONOMI

Penanaman Modal Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi

223.500.000 223.500.000

Program Peningkatan Iklim Investasi dan Realisasi Investasi

876.500.000 876.500.000

Program penyiapan potensi sumberdaya, sarana, dan prasarana daerah

45.000.000 45.000.000

Perdagangan Program Pengembangan Ekspor

150.000.000 150.000.000

Program peningkatan efisiensi perdagangan dalam negeri

6.113.200.000 6.113.200.000

Fungsi Lainnya Program Pengembangan Sistem Pendukung Usaha Bagi Usaha Mikro Kecil Menengah

1.135.000.000 1.135.000.000

JUMLAH 162.045.619.000 4.945.500.000 166.991.119.000

Page 46: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

40

Tabel 4.2 Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah Kota Pekalongan dalam KUA-PPAS

dengan Prioritas Provinsi Jawa Tengah

NO PRIORITAS PROVINSI

JAWA TENGAH

URAIAN ALOKASI ANGGARAN BELANJA DALAM RANCANGAN APBD

PROGRAM BELANJA LANGSUNG BELANJA TIDAK

LANGSUNG JUMLAH

1 2 3 5 6 7=5+6

1. Penguatan daya saing ekonomi daerah yang berbasis pada potensi unggulan daerah dan berorientasi pada ekonomi kerakyatan

Industri Program pengembangan sentra industri dan Kluster Industri

3.000.000.000 3.000.000.000

Program pengembangan industri kecil dan menengah 105.000.000 105.000.000

Perdagangan Program Pengembangan Ekspor 150.000.000 150.000.000

Program peningkatan efisiensi perdagangan dalam negeri

6.113.200.000 6.113.200.000

Ketenagakerjaan Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja

625.500.000 625.500.000

Program Peningkatan Kesempatan Kerja 803.500.000 803.500.000

Penanaman Modal Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi

223.500.000 223.500.000

Program Peningkatan Iklim Investasi dan Realisasi Investasi

876.500.000 876.500.000

Program penyiapan potensi sumberdaya, sarana, dan prasarana daerah

45.000.000 45.000.000

Pariwisata Program pengembangan pemasaran pariwisata 235.000.000 235.000.000

Program pengembangan destinasi pariwisata 2.571.500.000 2.571.500.000

Program pengembangan Kemitraan 240.500.000 240.500.000

Fungsi Lainnya Program Pengembangan Sistem Pendukung Usaha Bagi Usaha Mikro Kecil Menengah

1.135.000.000 1.135.000.000

2. Penguatan percepatan penanggulangan kemiskinan melalui upaya pengurangan beban pengeluaran, peningkatan pendapatan, dan pemberdayaan ekonomi mikro dan kecil untuk masyarakat miskin

Pendidikan 1.478.940.000 1.478.940.000

3.466.560.000 3.466.560.000

Kesehatan Program pelayanan kesehatan penduduk miskin 12.750.000.000 12.750.000.000

Perumahan dan Permukiman

Program Pengembangan Perumahan 23.688.120.000 23.688.120.000

Page 47: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

41

NO PRIORITAS PROVINSI

JAWA TENGAH

URAIAN ALOKASI ANGGARAN BELANJA DALAM RANCANGAN APBD

PROGRAM BELANJA LANGSUNG BELANJA TIDAK

LANGSUNG JUMLAH

1 2 3 5 6 7=5+6

Sosial Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial

1.123.314.000 1.123.314.000

Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial

1.792.000.000 1.792.000.000

Koperasi dan UKM Program Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif Usaha Kecil Menengah

114.500.000 114.500.000

Program penciptaan iklim usaha Usaha Kecil Menengah yang konduksif

949.500.000 949.500.000

3. Penguatan kualitas dan kompetensi sumber daya manusia diberbagai bidang dan cakupan layanan sosial dasar

Pendidikan Program Pendidikan Anak Usia Dini 2.143.190.000 2.143.190.000

Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun

37.840.970.000 37.840.970.000

Program Pendidikan Non Formal 1.392.135.000 1.392.135.000

Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan

17.948.567.000 17.948.567.000

Program Manajemen Pelayanan Pendidikan 1.828.010.000 1.828.010.000

Kesehatan Program pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas/ puskemas pembantu dan jaringannya

1.466.490.000 1.466.490.000

Perpustakaan Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan

954.000.000 954.000.000

Pemberdayaan Perempuan dan Anak

Program peningkatan peran serta dan kesetaraan jender dalam pembangunan

731.000.000 731.000.000

Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak

230.000.000 230.000.000

Kepemudaan dan Olah Raga Program peningkatan peran serta kepemudaan 706.000.000 706.000.000

4. Penguatan ketahanan pangan dan energi yang didukung pembangunan pertanian dalam arti luas serta pengembangan dan pemanfaatan energi secara berkelanjutan

Pangan Program Peningkatan Ketahanan Pangan (pertanian/perkebunan)

497.000.000 497.000.000

Page 48: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

42

NO PRIORITAS PROVINSI

JAWA TENGAH

URAIAN ALOKASI ANGGARAN BELANJA DALAM RANCANGAN APBD

PROGRAM BELANJA LANGSUNG BELANJA TIDAK

LANGSUNG JUMLAH

1 2 3 5 6 7=5+6

Kelautan dan Perikanan Program pengembangan perikanan tangkap 2.676.000.000 2.676.000.000

Program pengembangan budidaya perikanan 130.000.000 130.000.000

Pertanian Program peningkatan produksi pertanian/perkebunan 187.500.000 187.500.000

Program Peningkatan Prasarana Produksi Peternakan

430.650.000 430.650.000

5. Pemantapan pembangunan infrastruktur dengan memperhatikan keberlanjutan sumberdaya alam dan lingkungan serta pengurangan resiko bencana

Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

Program pembangunan jalan dan jembatan 11.008.000.000 11.008.000.000

Program Pembangunan Turap/Talud/ Bronjong 1.055.300.000 1.055.300.000

Program rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan 7.912.000.000 7.912.000.000

Program Pemanfaatan Ruang 5.205.000.000 5.205.000.000

Program Pengendalian Banjir 5.358.550.000 5.358.550.000

Program Rehabilitasi/ Pemeliharaan Reservoir Pengendali Banjir

1.036.405.000 1.036.405.000

Program Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh

3.400.000.000 3.400.000.000

Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan Pengairan lainnya

5.302.122.000 5.302.122.000

Perhubungan Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan

838.000.000 838.000.000

Program pengendalian dan pengamanan lalu lintas 2.898.000.000 2.898.000.000

Lingkungan Hidup Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan

8.641.050.000 8.641.050.000

Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup

647.550.000 647.550.000

Program peningkatan pengendalian polusi 700.100.000 700.100.000

Ketentraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat

Program pencegahan dini dan penanggulangan korban bencana alam

1.253.800.000 1.253.800.000

Program peningkatan kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran

600.000.000 600.000.000

Page 49: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

43

NO PRIORITAS PROVINSI

JAWA TENGAH

URAIAN ALOKASI ANGGARAN BELANJA DALAM RANCANGAN APBD

PROGRAM BELANJA LANGSUNG BELANJA TIDAK

LANGSUNG JUMLAH

1 2 3 5 6 7=5+6

6. Pemantapan penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang bersih dan baik

Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan

Program Pendidikan Kedinasan 299.260.000 299.260.000

Program pembinaan dan pengembangan aparatur 1.628.575.000 1.628.575.000

Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur

3.212.329.000 3.212.329.000

Ketentraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat

Program pengembangan wawasan kebangsaan 998.500.000 998.500.000

Program pendidikan politik masyarakat 257.000.000 257.000.000

Administrasi Kependudukan dab Catatan Sipil

Program Penataan Administrasi Kependudukan 1.188.100.000 1.188.100.000

Kebudayaan Program Pengelolaan Kekayaan Budaya 2.131.500.000 2.131.500.000

Perencanaan Pembangunan Program perencanaan pembangunan daerah 2.050.000.000 2.050.000.000

Keuangan Program peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan daerah

3.455.000.000 3.455.000.000

Program peningkatan pendapatan daerah 2.967.200.000 2.967.200.000

Fungsi Lainnya Program mengintensifkan penanganan pengaduan masyarakat

558.000.000 558.000.000

Program Penataan Peraturan Perundang-Undangan 748.000.000 748.000.000

JUMLAH 184.928.287.000 4.945.500.000 189.873.787.000

Page 50: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

44

4.2.4 Kebijakan Belanja berdasarkan urusan Pemerintahan Daerah (Urusan

Wajib dan Urusan Pilihan) dan PD.

Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah setelah

mengatur secara rinci tentang pembagian kewenangan Urusan Pemerintahan, khususnya

terkait dengan Urusan Konkuren, yaitu Urusan Pemerintahan yang dibagi antara

Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota. Dalam Pasal 11 ayat

(1) disebutkan bahwa Urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan Daerah

terdiri atas Urusan Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan. Selanjutnya

dalam ayat (2), disebutkan bahwa Urusan Pemerintahan Wajib terdiri atas Urusan

Pemerintahan yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan yang

tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang

Pemerintahan Daerah juga telah merinci Pembagian urusan pemerintahan konkuren

antaraPemerintah Pusat dan Daerah provinsi serta Daerah kabupaten/kota dalam

Lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.

Selanjutnya Kebijakan Belanja berdasarkan urusan Pemerintahan Daerah dan

Perangkat Daerah dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3 Kebijakan Belanja berdasarkan urusan Pemerintahan Daerah

KODE URUSAN / BIDANG / PD PELAKSANA PLAFON 2018

1 2 3

11 URUSAN PEMERINTAHAN WAJIB YANG BERKAITAN DENGAN PELAYANAN DASAR

366.559.265.000

11.01 PENDIDIKAN 80.020.817.000

11.01.110101 DINAS PENDIDIKAN 71.000.442.000

11.01.30050306 BAGIAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 9.020.375.000

11.02 KESEHATAN 143.107.380.000

11.02.110201 DINAS KESEHATAN 59.083.675.000

11.02.110202 RSUD BENDAN 84.006.705.000

11.02.30050306 BAGIAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 17.000.000

11.03 PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG 93.094.040.000

11.03.110301 DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG 93.094.040.000

11.04 PERUMAHAN RAKYAT DAN KAWASAN PERMUKIMAN

33.209.807.000

11.04.110401 DINAS PERUMAHAN RAKYAT DAN KAWASAN

PERMUKIMAN

33.209.807.000

11.05 KETENTRAMAN, KETERTIBAN UMUM DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT

11.967.317.000

11.05.110501 SATUAN POLISI PAMONG PRAJA 7.520.500.000

11.05.110502 BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH 1.947.970.000

11.05.110503 KANTOR KESATUAN BANGSA DAN POLITIK 1.873.860.000

11.05.300506 KECAMATAN PEKALONGAN UTARA 213.625.000

11.05.300507 KECAMATAN PEKALONGAN SELATAN 117.667.000

11.05.300508 KECAMATAN PEKALONGAN BARAT 130.755.000

11.05.300509 KECAMATAN PEKALONGAN TIMUR 162.940.000

11.06 SOSIAL 5.159.904.000

11.06.110601 DINAS SOSIAL, PENGENDALIAN PENDUDUK DAN

KELUARGA BERENCANA

4.796.904.000

11.06.30050306 BAGIAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 363.000.000

Page 51: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

45

KODE URUSAN / BIDANG / PD PELAKSANA PLAFON 2018

1 2 3

12 URUSAN PEMERINTAHAN WAJIB YANG TIDAK BERKAITAN DENGAN PELAYANAN DASAR

99.482.216.000

12.01 TENAGA KERJA 6.719.341.000

12.01.120101 DINAS PERINDUSTRIAN DAN TENAGA KERJA 6.719.341.000

12.02 PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN

PERLINDUNGAN ANAK

2.057.800.000

12.02.120201 DINAS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT, PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

2.057.800.000

12.03 PANGAN 1.506.800.000

12.03.120301 DINAS PERTANIAN DAN PANGAN 1.506.800.000

12.04 PERTANAHAN 17.150.000.000

12.04.110301 DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG 17.150.000.000

12.05 LINGKUNGAN HIDUP 20.192.583.000

12.05.120501 DINAS LINGKUNGAN HIDUP 20.192.583.000

12.06 ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN

PENCATATAN SIPIL

3.245.638.000

12.06.120601 DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL 3.245.638.000

12.07 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA 8.234.352.000

12.07.120201 DINAS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT, PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

3.171.100.000

12.07.300506 KECAMATAN PEKALONGAN UTARA 131.767.000

12.07.30050601 KELURAHAN KANDANG PANJANG 173.770.000

12.07.30050602 KELURAHAN PANJANG WETAN 201.090.000

12.07.30050603 KELURAHAN DEGAYU 115.850.000

12.07.30050604 KELURAHAN BANDENGAN 88.210.000

12.07.30050606 KELURAHAN KRAPYAK 307.330.000

12.07.30050607 KELURAHAN PADUKUHAN KRATON 207.450.000

12.07.3130050605 KELURAHAN PANJANG BARU 157.570.000

12.07.300507 KECAMATAN PEKALONGAN SELATAN 133.973.000

12.07.30050701 KELURAHAN JENGGOT 126.330.000

12.07.30050702 KELURAHAN BUARAN KRADENAN 141.370.000

12.07.30050703 KELURAHAN KURIPAN KERTOHARJO 100.290.000

12.07.30050704 KELURAHAN KURIPAN YOSOREJO 139.222.000

12.07.30050705 KELURAHAN SOKO DUWET 121.570.000

12.07.30050706 KELURAHAN BANYURIP 154.610.000

12.07.300508 KECAMATAN PEKALONGAN BARAT 87.760.000

12.07.30050801 KELURAHAN MEDONO 214.250.000

12.07.30050802 KELURAHAN PODOSUGIH 119.450.000

12.07.30050803 KELURAHAN TIRTO 124.750.000

12.07.30050804 KELURAHAN SAPURO KEBULEN 202.850.000

12.07.30050805 KELURAHAN BENDAN KERGON 250.330.000

12.07.30050806 KELURAHAN PASIRKRATONKRAMAT 241.790.000

12.07.30050807 KELURAHAN PRINGREJO 249.550.000

12.07.300509 KECAMATAN PEKALONGAN TIMUR 108.990.000

12.07.30050901 KELURAHAN KAUMAN 273.210.000

12.07.30050902 KELURAHAN PONCOL 171.970.000

12.07.30050903 KELURAHAN KLEGO 145.930.000

12.07.30050904 KELURAHAN GAMER 98.350.000

Page 52: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

46

KODE URUSAN / BIDANG / PD PELAKSANA PLAFON 2018

1 2 3

12.07.30050905 KELURAHAN NOYONTAANSARI 165.090.000

12.07.30050906 KELURAHAN SETONO 196.010.000

12.07.30050907 KELURAHAN KALI BAROS 112.570.000

12.08 PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA

2.044.272.000

12.08.110601 DINAS SOSIAL, PENGENDALIAN PENDUDUK DAN

KELUARGA BERENCANA

2.044.272.000

12.09 PERHUBUNGAN 7.059.014.000

12.09.120901 DINAS PERHUBUNGAN 7.059.014.000

12.10 KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA 10.731.678.000

12.10.121001 DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA 9.560.728.000

12.10.30050309 BAGIAN HUBUNGAN MASYARAKAT 1.170.950.000

12.11 KOPERASI, USAHA KECIL DAN MENENGAH 5.310.091.000

12.11.121101 DINAS PERDAGANGAN, KOPERASI, USAHA KECIL DAN MENENGAH

5.310.091.000

12.12 PENANAMAN MODAL 2.085.034.000

12.12.121201 DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN

TERPADU SATU PINTU

2.085.034.000

12.13 KEPEMUDAAN DAN OLAH RAGA 6.783.125.000

12.13.121301 DINAS PARIWISATA, KEBUDAYAAN, KEPEMUDAAN DAN OLAHRAGA

6.783.125.000

12.14 STATISTIK 325.000.000

12.14.121001 DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA 325.000.000

12.15 PERSANDIAN 40.000.000

12.15.121001 DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA 40.000.000

12.16 KEBUDAYAAN 3.261.488.000

12.16.121301 DINAS PARIWISATA, KEBUDAYAAN, KEPEMUDAAN

DAN OLAHRAGA

3.261.488.000

12.17 PERPUSTAKAAN 1.908.200.000

12.17.121701 DINAS KEARSIPAN DAN PERPUSTAKAAN 1.908.200.000

12.18 KEARSIPAN 827.800.000

12.18.121701 DINAS KEARSIPAN DAN PERPUSTAKAAN 827.800.000

20 URUSAN PEMERINTAHAN PILIHAN 23.610.326.000

20.01 KELAUTAN DAN PERIKANAN 4.401.900.000

20.01.200101 DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN 4.401.900.000

20.02 PARIWISATA 3.047.000.000

20.02.121301 DINAS PARIWISATA, KEBUDAYAAN, KEPEMUDAAN DAN OLAHRAGA

3.047.000.000

20.03 PERTANIAN 1.561.726.000

20.03.120301 DINAS PERTANIAN DAN PANGAN 1.561.726.000

20.06 PERDAGANGAN 11.165.200.000

20.06.121101 DINAS PERDAGANGAN, KOPERASI, USAHA KECIL

DAN MENENGAH

11.165.200.000

20.07 PERINDUSTRIAN 3.434.500.000

20.07.120101 DINAS PERINDUSTRIAN DAN TENAGA KERJA

3.434.500.000

Page 53: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

47

KODE URUSAN / BIDANG / PD PELAKSANA PLAFON 2018

1 2 3

30 URUSAN PENUNJANG 91.602.039.000

30.01 PERENCANAAN PEMBANGUNAN 5.251.720.000

30.01.300101 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN, PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH

4.702.720.000

30.01.300506 KECAMATAN PEKALONGAN UTARA 36.000.000

30.01.30050601 KELURAHAN KANDANG PANJANG 15.000.000

30.01.30050602 KELURAHAN PANJANG WETAN 15.000.000

30.01.30050603 KELURAHAN DEGAYU 15.000.000

30.01.30050604 KELURAHAN BANDENGAN 15.000.000

30.01.30050606 KELURAHAN KRAPYAK 15.000.000

30.01.30050607 KELURAHAN PADUKUHAN KRATON 15.000.000

30.01.3130050605 KELURAHAN PANJANG BARU 15.000.000

30.01.300507 KECAMATAN PEKALONGAN SELATAN 36.000.000

30.01.30050701 KELURAHAN JENGGOT 15.000.000

30.01.30050702 KELURAHAN BUARAN KRADENAN 15.000.000

30.01.30050703 KELURAHAN KURIPAN KERTOHARJO 15.000.000

30.01.30050704 KELURAHAN KURIPAN YOSOREJO 15.000.000

30.01.30050705 KELURAHAN SOKO DUWET 15.000.000

30.01.30050706 KELURAHAN BANYURIP 15.000.000

30.01.300508 KECAMATAN PEKALONGAN BARAT 36.000.000

30.01.30050801 KELURAHAN MEDONO 15.000.000

30.01.30050802 KELURAHAN PODOSUGIH 15.000.000

30.01.30050803 KELURAHAN TIRTO 15.000.000

30.01.30050804 KELURAHAN SAPURO KEBULEN 15.000.000

30.01.30050805 KELURAHAN BENDAN KERGON 15.000.000

30.01.30050806 KELURAHAN PASIRKRATONKRAMAT 15.000.000

30.01.30050807 KELURAHAN PRINGREJO 15.000.000

30.01.300509 KECAMATAN PEKALONGAN TIMUR 36.000.000

30.01.30050901 KELURAHAN KAUMAN 15.000.000

30.01.30050902 KELURAHAN PONCOL 15.000.000

30.01.30050903 KELURAHAN KLEGO 15.000.000

30.01.30050904 KELURAHAN GAMER 15.000.000

30.01.30050905 KELURAHAN NOYONTAANSARI 15.000.000

30.01.30050906 KELURAHAN SETONO 15.000.000

30.01.30050907 KELURAHAN KALI BAROS 15.000.000

30.02 KEUANGAN 13.134.909.000

30.02.110301 DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG 75.000.000

30.02.121101 DINAS PERDAGANGAN, KOPERASI, USAHA KECIL

DAN MENENGAH

60.000.000

30.02.121201 DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU

118.500.000

30.02.300201 BADAN KEUANGAN DAERAH 12.881.409.000

30.03 KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN 6.744.449.000

30.03.300301 BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN

PELATIHAN DAERAH

6.744.449.000

30.04 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN 1.485.000.000

30.04.300101 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN, PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH

1.485.000.000

Page 54: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

48

KODE URUSAN / BIDANG / PD PELAKSANA PLAFON 2018

1 2 3

30.05 FUNGSI LAINNYA 64.985.961.000

30.05.30050301 BAGIAN TATA PEMERINTAHAN 1.521.900.000

30.05.30050302 BAGIAN HUKUM 1.484.300.000

30.05.30050303 BAGIAN ORGANISASI 1.127.020.000

30.05.30050304 BAGIAN PEREKONOMIAN 2.056.500.000

30.05.30050305 BAGIAN ADMINISTRASI PEMBANGUNAN 1.197.600.000

30.05.30050306 BAGIAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 497.362.000

30.05.30050307 BAGIAN UMUM 4.814.000.000

30.05.30050308 BAGIAN RUMAH TANGGA DAN PERLENGKAPAN 9.433.400.000

30.05.30050309 BAGIAN HUBUNGAN MASYARAKAT 274.680.000

30.05.300504 SEKRETARIAT DPRD 29.889.608.000

30.05.300505 INSPEKTORAT 2.058.120.000

30.05.300506 KECAMATAN PEKALONGAN UTARA 1.091.510.000

30.05.30050601 KELURAHAN KANDANG PANJANG 121.700.000

30.05.30050602 KELURAHAN PANJANG WETAN 127.500.000

30.05.30050603 KELURAHAN DEGAYU 120.900.000

30.05.30050604 KELURAHAN BANDENGAN 132.700.000

30.05.30050606 KELURAHAN KRAPYAK 147.100.000

30.05.30050607 KELURAHAN PADUKUHAN KRATON 166.400.000

30.05.3130050605 KELURAHAN PANJANG BARU 133.020.000

30.05.300507 KECAMATAN PEKALONGAN SELATAN 794.368.000

30.05.30050701 KELURAHAN JENGGOT 137.100.000

30.05.30050702 KELURAHAN BUARAN KRADENAN 149.400.000

30.05.30050703 KELURAHAN KURIPAN KERTOHARJO 139.000.000

30.05.30050704 KELURAHAN KURIPAN YOSOREJO 158.320.000

30.05.30050705 KELURAHAN SOKO DUWET 150.000.000

30.05.30050706 KELURAHAN BANYURIP 150.900.000

30.05.300508 KECAMATAN PEKALONGAN BARAT 912.100.000

30.05.30050801 KELURAHAN MEDONO 139.700.000

30.05.30050802 KELURAHAN PODOSUGIH 120.700.000

30.05.30050803 KELURAHAN TIRTO 138.000.000

30.05.30050804 KELURAHAN SAPURO KEBULEN 144.800.000

30.05.30050805 KELURAHAN BENDAN KERGON 157.100.000

30.05.30050806 KELURAHAN PASIRKRATONKRAMAT 159.900.000

30.05.30050807 KELURAHAN PRINGREJO 162.260.000

30.05.300509 KECAMATAN PEKALONGAN TIMUR 3.933.390.000

30.05.30050901 KELURAHAN KAUMAN 179.403.000

30.05.30050902 KELURAHAN PONCOL 118.700.000

30.05.30050903 KELURAHAN KLEGO 137.220.000

30.05.30050904 KELURAHAN GAMER 131.340.000

30.05.30050905 KELURAHAN NOYONTAANSARI 161.320.000

30.05.30050906 KELURAHAN SETONO 158.320.000

30.05.30050907 KELURAHAN KALI BAROS 157.300.000

JUMLAH BELANJA LANGSUNG 581.253.846.000

Sumber : Aplikasi SIMRAL

Page 55: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

49

4.3. KEBIJAKAN PEMBIAYAAN DAERAH

Pembiayaan merupakan transaksi keuangan yang dimaksudkan untuk menutupi

defisit anggaran atau penggunaan dari surplus anggaran. Pembiayaan terdiri atas

penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan.

4.3.1. Kebijakan Penerimaan Pembiayaan Daerah

Kebijakan Penerimaan Penerimaan pembiayaan pada tahun 2018 diasumsikan

bersumber dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA),

dengan memperhitungkan kemungkinan terjadinya kelebihan penerimaan (over-target).

Selain itu, SiLPA ini juga mengasumsikan adanya efisiensi yang akan terjadi pada

pelaksanaan APBD 2017 yaitu perkiraan selisih positif antara pengeluaran riil dengan

anggaran yang disediakan.

4.3.2. Kebijakan Pengeluaran Pembiayaan

Untuk kebijakan pengeluaran pembiayaan pada APBD Kota Pekalongan Tahun

Anggaran 2018 adalah pembentukan dana cadangan dan pembiayaan untuk penyertaan

modal (investasi) Pemerintah Daerah. Pembentukan dana cadangan dilaksanakan sesuai

dengan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2017 tentang Pembentukan Dana Cadangan

Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Pekalongan Tahun 2020.

Sedangkan pengeluaran pembiayaan penyertaan modal dilakukan bagi perusahaan

daerah Kota Pekalongan dan Bank Jateng, serta penyertaan modal dari penerusan hibah

APBN Murni kepada PDAM. Penyertaan Modal kepada Perusahaan Daerah ditetapkan

berdasarkan Peraturan Daerah dan sesuai dengan kajian analisis keuangan Perusahaan

Daerah.

Page 56: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB V PENUTUP

50

BAB V

PENUTUP

Kebijakan Umum APBD (KUA) Kota Pekalongan Tahun Anggaran 2018, merupakan

bagian dari pentahapan perencanaan pembangunan yang diawali dari Penyusunan

Dokumen Perencanaan Jangka Pendek (RKPD) Kota Pekalongan Tahun 2018 serta KUA

dan PPAS itu sendiri. Selanjutnya KUA Tahun 2018 ini akan menjadi pedoman dalam

penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) sebelum akhirnya kedua

dokumen tersebut (KUA dan PPAS) disepakati Walikota dan DPRD untuk digunakan

sebagai dasar dalam penyusunan APBD Tahun Anggaran 2018. Penyusunan KUA Tahun

Anggaran 2018 merupakan formulasi kebijakan anggaran yang menjadi acuan dalam

perencanaan operasional anggaran, dimana di dalamnya memuat arah dan kebijakan

sebagai penjabaran dari kebijakan pemerintah daerah, serta aspirasi masyarakat. KUA

Tahun Anggaran 2018 memuat komponen-komponen pelayanan dan tingkat pencapaian

yang diharapkan pada setiap bidang kewenangan pemerintah daerah yang akan

dilaksanakan dalam satu tahun anggaran. Komponen dan kinerja pelayanan yang

diharapkan tersebut disusun, disamping berdasarkan aspirasi masyarakat, juga

mempertimbangkan kondisi dan kemampuan daerah, termasuk kinerja pelayanan yang

telah dicapai dalam tahun-tahun anggaran sebelumnya. Selanjutnya KUA Tahun Anggaran

2018 dalam pelaksanaannya diperlukan strategi atau cara tertentu yang diharapkan dapat

memperlancar atau mempercepat pencapaian Kebijakan Umum APBD (KUA) Tahun

Anggaran 2018 karena adanya keterbatasan kemampuan pemerintah daerah, terutama

dalam sumber daya, maka disusun strategi dan prioritas sesuai kemampuan pemerintah

daerah.

Asumsi-asumsi yang mendasari penyusunan KUA merupakan asumsi kondisi pada

saat penyusunan yang disesuaikan pula dengan peraturan perundangan yang

mendasarinya. Dinamika pelaksanaan pembangunan pemerintahan sangat dimungkinkan

akan memunculkan terjadinya perubahan kondisi yang tidak sesuai asumsi. Selain itu

pendapatan–pendapatan yang bersumber dari dana perimbangan (DAK, DAU dan Bagi

Hasil Pajak / Bukan Pajak), dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah, sangat

bergantung pada kebijakan pemerintah yang lebih tinggi (Pemerintah Pusat dan

Pemerintah Provinsi), oleh karena itu disepakati pengaturan sebagai berikut:

1. Dalam hal terjadi pergeseran asumsi yang melandasi penyusunan KUA akibat adanya

kebijakan pemerintah maupun pemerintah daerah, dapat dilakukan penambahan atau

pengurangan estimasi pendapatan daerah, maupun program dan kegiatan serta pagu

anggaran indikatifnya;

2. Penambahan program dan kegiatan dilakukan dengan mempertimbangkan usulan

program kegiatan dan plafon prioritas tambahan yang disampaikan dalam PPAS

sesuai dengan tingkat urgenitas dan kebutuhan;

3. Penambahan atau pengurangan estimasi pendapatan daerah, maupun program dan

kegiatan serta pagu anggaran indikatif tersebut dilakukan ketika proses pembahasan

Page 57: iii - Pekalongan€¦ · bab ii kerangka ekonomi makro daerah _____ 8 2.1. perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun 2016 dan perkiraan pada tahun 2018. _____ 8 2.2.

Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2018 | BAB V PENUTUP

51

RAPBD tanpa melakukan perubahan Nota Kesepakatan KUA dan Nota Kesepakatan

PPAS.

Demikian Kebijakan Umum APBD Kota Pekalongan Tahun Anggaran 2018, yang

dibuat untuk menjadi pedoman dalam penyusunan PPAS dan RAPBD Tahun Anggaran

2018.

Pekalongan, 29 September 2017

Plt. WALIKOTA PEKALONGAN

H. M. SAELANY MACHFUDZ, SE