Hubungan Antara Empati dan Perilaku Prososial Pada Remaja ... ... Perilaku prososial didorong oleh...

download Hubungan Antara Empati dan Perilaku Prososial Pada Remaja ... ... Perilaku prososial didorong oleh adanya

If you can't read please download the document

  • date post

    30-Nov-2020
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Hubungan Antara Empati dan Perilaku Prososial Pada Remaja ... ... Perilaku prososial didorong oleh...

  • HUBUNGAN ANTARA EMPATI DAN PERILAKU PROSOSIAL

    PADA REMAJA DI SMP N 5 BOYOLALI

    OLEH

    OKKY RUTH RIANGGARENI

    802010065

    TUGAS AKHIR

    Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Guna Memenuhi Sebagian Dari Persyaratan Untuk

    Mencapai Gelar Sarjana Psikologi

    Program Studi Psikologi

    FAKULTAS PSIKOLOGI

    UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

    SALATIGA

    2015

  • HUBUNGAN ANTARA EMPATI DAN PERILAKU PROSOSIAL

    PADA REMAJA DI SMP N 5 BOYOLALI

    Okky Ruth Rianggareni

    Enjang Wahyuningrum

    Program Studi Psikologi

    FAKULTAS PSIKOLOGI

    UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

    SALATIGA

    2015

  • i

    Abstrak

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuihubungan antara empati dan perilaku

    prososial pada remaja di SMP N 5 Boyolali.Penelitian ini dilakukan pada 215 remaja

    yang berada di SMP N 5 Boyolali melalui incidental sampling. Pengumpulan data

    dilakukan dengan menggunakan skala PTM-R (Prosocial Tendecies Measure-

    Revised)yang digunakanuntuk mengukur perilaku prososial pada remaja di SMP N 5

    Boyolali dan skala IRI (Interpersonal Reactivity Index) yang digunakan untuk

    mengukur empati pada remaja di SMP N 5 Boyolali. Hubungan antara empati dan

    perilaku prososial diuji dengan korelasi Pearson Product Moment. Koefisien korelasi

    yang diperoleh sebesar 0,395 dengan nilai signifikansi 0,000 (p

  • ii

    Abstract

    This study aimed to determine the relationship between empathy and prosocial behavior

    in adolescents in SMP N 5 Boyolali. This study was conducted on 215 adolescents who

    were in SMP N 5 Boyolali through incidental sampling. Data collected by using a scale

    PTM - R (Prosocial Tendecies Measure - Revised) which is used to measure prosocial

    behavior in adolescents in SMP N 5 Boyolali and scale IRI (Interpersonal Reactivity

    Index) which is used to measure empathy in adolescents in SMP N 5 Boyolali. The

    relationship between empathy and prosocial behavior was tested with Pearson Product

    Moment Correlation. The correlation coefficient obtained at 0.395 with a significance

    value of 0.000 (p

  • 1

    PENDAHULUAN

    Masa remaja merupakan masa dimana individu mulai memahami

    danmengembangkan kehidupan bermasyarakat. Pada masa ini individu membangun

    hubungan yang matang dengan teman sebaya maupun orang dewasa lainnya, mulai

    belajar menjalankan peran sosial, memperoleh dan kemudian mengembangkan norma-

    norma sosial sebagai pedoman dalam bertindak serta sebagai pandangan hidup

    (Havigurst dalam Panuju & Umami, 1999).

    Hurlock mengemukakan bahwa masa remaja dimulai pada saat seorang anak

    matang secara seksual dan berakhir ketika anak mencapai usia yang matang secara

    hukum (Hurlock, 2007). Sementara itumenurut Santrock (2007), remaja merupakan

    suatu tahapan perkembangan yang merupakan masa transisi dari masa anak-anak

    menuju dewasa awal yang dimulai pada usia sekitar 10-12 tahun dan berakhir pada usia

    antara 18-22 tahun.

    Remaja tumbuh dan berkembang untuk mencapai kondisi fisik, dan sosial

    psikologis yang sempurna. Dalam masa ini, remaja belajar untuk memahami dirinya

    sendiri dan orang lain, serta memahami lingkungan masyarakatnya. Dalam hal ini

    remaja sedang mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari masyarakat, sehingga

    remaja harus mampu untuk mencapai peran sosial yang matang, mencapai perilaku

    sosial yang bertanggung jawab, serta memperoleh perangkat nilai dan sistem etis

    sebagai pegangan untuk berperilaku dalam masyarakat, dalam rangka menuntaskan

    tugas perkembangannya (Havigurst dalam Hurlock, 2000).

    Hyson & Taylor(dalam Jalongo, 2013) mengatakan bahwa perilaku prososial

    memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat.Orangtua memberikan

    peranan penting bagi anak-anaknya dalam pembetukan perilaku prososial.Keluarga

  • 2

    adalah lingkungan sosial pertama bagi anak sebagai tempat belajar serta merupakan

    guru yang pertama kali dan paling berpengaruh dalam mengajarkan perilaku prososial.

    Perilakumenolong atau prososialdapat dimengertisebagaiperilakuyang

    menguntungkan bagi penerima, tetapi tidak memiliki keuntungan yang jelas bagi

    pelakunya (Staub, 1978; Baron & Byrne, 2005).Perilaku prososial berbeda dengan

    altruisme, walaupun keduanya memiliki kemiripan.Perilaku prososial dan altruisme

    sebenarnya dua konsep yang berbeda. Perilaku prososial mengacu pada pola aktivitas,

    sedangkan altruisme adalah motivasi untuk membantu orang lain (Chou, 1998). Perilaku

    proposial merupakan kesediaan orang-orang untuk membantu atau menolong orang lain

    yang ada dalam kondisi distress (menderita) atau mengalami kesulitan (Dayakisni &

    Yuniardi, 2004). Sedangkan menurut Brigham (dalam Dayakisni & Hudaniah, 2006)

    perilaku prososial mempunyai maksud untuk menyokong kesejahteraan orang lain.

    Hasil penelitian Eisenberg &Fabes (1998) menemukan bahwa semakin

    bertambah besar, anak pada umumnya lebih sering menunjukkan perilaku

    prososial.Pada masa remaja, idealnya perkembanganperilaku prososialmengalami

    peningkatan, seperti yang dikemukakan Eisenberg, Carlo, Murphy & Court (1995).

    Mereka juga menyampaikan bahwa saat SD anak berperilaku prososial untuk

    mendapat penerimaan sosial dan meningkatkan hubungan interpersonal, sehingga anak

    akan berusaha berperilaku yang dipandang “baik” oleh lingkungannya, ketika memasuki

    masa remaja individu telah lebih rasional dan mampu menggunakan kematangan

    kognitifnya untuk bersosialisasi.

    Perilaku prososial sangat bermanfaat dalam interaksi sosial remaja, selain untuk

    mengantisipasi perilaku antisosial, perilaku prososial juga bermanfaat untuk

    meningkatkan hubungan dengan anggota masyarakat (Eisenberg, 2006). Perilaku

  • 3

    prososial juga berperan dalam memberikan kebermaknaan hidup remaja (Meihati,

    Sukarti, & Nu‟ man, 2012).Dampak yang terjadi bila tidak adanya perilaku prososial

    akan menimbulkan ketidakpedulian terhadap lingkungan sosialnya. Terutama di kota-

    kota besar, individu menampakkan sikap materialistik, acuh pada lingkungan sekitar

    dan cenderung mengabaikan norma-norma yang tertanam sejak dulu (Mahmud, 2003).

    Salah satu motif yang mendasari perilaku prososial adalah empati (Aronson,

    Timothy & Akert, 2007). Empati yaitu kapasitas untuk dapat merasakan keadaan

    emosional orang lain, merasa simpati terhadap orang lain, dan melihat sesuatu dari

    perspektif orang lain (Baron, 2008). Perilaku prososial didorong oleh adanya empati dan

    simpati yang positif kepada penderitaan orang lain (Pius, 2011). Hal ini senada dengan

    yang diungkapkan oleh Cialdini (dalam Baron & Bryne, 2005) bahwa faktor empati

    juga mempengaruhi kecenderungan perilaku prososial, dimana kedua faktor tersebut

    saling mempengaruhi satu sama lainnya. Empati sebagai respon afektif dan kognitif

    yang kompleks pada distress emosional orang lain. Terdapat dua aspek empati yaitu

    komponen afektif dan komponen kognitif. Komponen afektif adalah merasakan apa

    yang dirasakan oleh orang lain sedangkan komponen kognitif adalah adalah memahami

    apa yang orang lain rasakan, adanya perspective taking (Baron & Bryne, 2005).

    Empati adalah persepsi individu tentang selfdan other (Robert Craig dalam

    Liliweri, 2005). Empati harus dimengerti sebagai proses untuk membuat perasaan

    seorang individu menjadi makin intim dengan perasaan orang lain, sehingga empati

    bukan sekadar sebuah pengakuan tentang perasaan orang lain, melainkan lebih dalam

    dari itu, yakni pengertian. Empati membantu menciptakan dan memelihara ikatan sosial

    dengan orang lain dengan memahami, berbagi dan merespon dengan tepat untuk kondisi

    emosional orang lain (Decety & Jackson, 2004).

  • 4

    Anak-anak yang telah memasuki masa remaja awal(early adolescense)yaitu usia

    11-14tahun mampu menunjukan rasa empatinya pada teman sebayanya atau pada

    orang lain(Laurence, 1999). Hal ini juga diperkuat oleh Damon (dalam Santrock,

    2003) bahwa pada usia 10 sampai 12 tahun individu membentuk empati terhadap orang

    lain yang memiliki kesulitan. Padausia tersebut remaja memperluas perhatian mereka

    kepada masalah-masalah umum yang dihadapi oleh orang-orang di lingkungan

    sekitarnya.

    Empati berhubungan positif dengan berbagai perilaku prososial: membantu,

    sukarelawan, sumbangan, kerjasama, dan altruisme (Eisenberg & Miller, 1987 ;

    Mehrabian, Young & Sato, 1988). Menurut hasil penelitian dari Cialdini, Bauman &

    Kenrick (dalam Baron & Byrne, 2005) menyatakan bahwa perilaku menolong dapat

    berperan sebagai perilaku self-help untuk mengurangi perasaan negatif pada diri sendiri

    (menciptakan afeksi positif). Hai ini didukung oleh riset yang dilakukan olehWalker &

    Christensen (2010) yang menemukan bahwa empati dan regulasi diri berperan dalam

    perilaku prososial anak kepada teman-teman bahkan