HASIL KOMPLIT

of 27 /27
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1 Gambaran umum Tanaman kakao (Theobroma cacao L. ) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia karena merupakan sumber pendapatan petani, menciptakan lapangan kerja, mendorong pengembangan wilayah dan sebagai sumber devisa Negara (Jahuddin et. al., 2009). Pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluara petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiap sub sektor pekebunan setelah karet dan minyak sawit dengan nilai sebesar US $ 701 juta (Universitas Jember, 2011). Luas lahan yang digunakan untuk menanam kakao di Indonesia berkisar antara 900 ribu hektar (Jember Terbina, 2010). Saat ini Indonesia tercatat sebagai negara produsen biji kakao ketiga di dunia. Menurut data International Cocoa Organization(ICCO)2009. Posisi pertama Pantai Gading 1,22 juta ton per tahun atau memegang pangsa 1

Transcript of HASIL KOMPLIT

Page 1: HASIL KOMPLIT

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.1.1 Gambaran umum

Tanaman kakao (Theobroma cacao L. ) merupakan salah satu komoditas

perkebunan yang memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia

karena merupakan sumber pendapatan petani, menciptakan lapangan kerja,

mendorong pengembangan wilayah dan sebagai sumber devisa Negara (Jahuddin

et. al., 2009). Pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan

kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluara petani yang

sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan

sumbangan devisa terbesar ke tiap sub sektor pekebunan setelah karet dan minyak

sawit dengan nilai sebesar US $ 701 juta (Universitas Jember, 2011). Luas lahan

yang digunakan untuk menanam kakao di Indonesia berkisar antara 900 ribu

hektar (Jember Terbina, 2010). Saat ini Indonesia tercatat sebagai negara

produsen biji kakao ketiga di dunia. Menurut data International Cocoa

Organization(ICCO)2009. Posisi pertama Pantai Gading 1,22 juta ton per tahun

atau memegang pangsa pasar38,7%. Posisi kedua Ghana dengan produksi 680.000

ton atau 21,6%, dan Indonesia 540.000 ton atau 16,2%.

(http://bappeda.jemberkab.go.id, download 23 Mei 2011). Tidak kurang dari 90%

hasil produksi kakao Indonesia berasal dari perkebunan rakyat yang tersebar di

seluruh wilayah nusantara (Jember Terbina, 2010). Produksi kakao dari

perusahaan perkebunan hanya berkisar 5.000 ton, dan sisanya berasal dari kakao

perkebunan rakyat dengan jumlah total produksi nasional per tahun sekitar 600

ribu ton (http://ekonomi.kompasiana.com, download 23Mei 2011).

1

Page 2: HASIL KOMPLIT

1.1.2 Kakao di daerah Jember

Untuk wilayah Jember, dari total luas areal 4.641 hektar, semua

perkebunan kakao diusahakan oleh perusahaan perkebunan seperti PTPN XII

yang mengelola 4 kebun dengan luas 3.914 hektar, 3 kebun seluas 216 hektar

dikelola oleh PDP dan sebanyak 5 kebun dikelola oleh swasta dengan luas areal

511 hektar. (http://bappeda.jemberkab.go.id, download 23 Mei 2011). Mengacu

pada statistik perkebunan Indonesia tahun 2006-2008, dari total perkebunan

kakao yang dimiliki daerah Jember, pada tahun 2006 telah dihasilkan sebanyak

5.977 ton dengan lahan yang sudah digunakan seluas 5.013 hektar

(http://ekonomi.kompasiana.com, download 23Mei 2011).

1.1.3 Masalah yang Dihadapi

Mengacu pada dua paragraf diatas, diketahui bahwa Indonesia pada

umumnya dan Jember pada khususnya memiliki potensi yang besar untuk

pengembangan budidaya kakao. Namun demikian, budidaya tanaman kakao

banyak menghadapi masalah baru. Perkembangan tanaman budidaya satu jenis

seperti kakao yang terus meningkat, akan berdampak pada lahan hutan yang

semakin menipis, mengancam keseimbangan ekologi dan keanekaragaman hayati

lokal. Data lain menyebutkan, berdasarkan identifikasi lapangan pada tahun

2008

dari Departemen Pertanian pada tahun 2008, menunjakkan sekitar 70.000 hektar

perkebunan kakao mengalami kondisi tanaman tua, rusak, tidak produktif dan

terkena serangan hama dan penyakit, sehingga perlu dilakukan peremajaan, dan

sekitar 235.000 hektar perkebunan mengalami ketidak produktifan dan terkena

serangan hama dan penyakit (Wulan et. al., 2010). Beberapa hama yang

mengganggu proses pertumbuhan tanaman kakao diantaranya adalah Helopeltis

spp dan Penggerek buah kakao (PBK) Conopomorpha cramerella (Departemen

Pertanian, 2002).

2

Page 3: HASIL KOMPLIT

Untuk mengendalikan hama penyakit pada tanaman kakao, pada umumnya

para petani masih mengandalkan pestisida kimia sintetik. Namun, seiring dengan

keberhasilan penggunaan pestisida kimia sintetik tersebut, terdapat pula sejumlah

dampak negatif seperti ketidakstabilan agroekosistem yang menguntungkan bagi

perkembangan hama penyakit tanaman akibat matinya musuh alami (Jahuddin et.

al., 2009).

1.1.4 Kemungkinan Penanganan Masalah

Untuk mengatasi isu deforestasi yang sedang berkembang, pemanfaatan

lahan tanam kakao sebagai penjaga keanekaragaman hayati lokal dapat menjadi

alternatif, bahkan tanaman kakao dimungkinkan memiliki peran yang besar dalam

menjaga keanekaragaman hayati global (Greenberg, 2008). Hal ini dimungkinkan,

karena tanaman kakao merupakan tanaman tropis yang tumbuh dibawah tanaman

naungan. (Tscharntke et. al., 2011).

Dengan sistem agroforestri, tanaman naungan memiliki peran yang besar

untuk menjaga keanekaragaman hayati lokal, penyerapan CO2, penyuburan tanah,

dan pengendalian hama secara hayati (Greenberg, 2008). Salah satu tanaman

naungan alami yang dijadikan tempat bermutualisme, berkebang biak dan hidup

beberapa jenis serangga kecil seperti semut hitam (Dolichoderus thoracicus)

adalah pohon kelapa (Cocos nucifera) (Hosang et. al., 2010). Semut hitam

(Dolichoderus thoracicus), mampu menjadi pengontrol sekaligus pengusir hama

Helopeltis spp. dan Penggerek buah kakao (PBK) Conopomorpha cramerella

(Departemen Pertanian, 2002).

Mengingat sedikitnya perhatian dan penelitian yang mengkaji tentang

pengaruh penerapan sistem agroforestri pada lahan tanam kakao, maka diperlukan

penelitian yang lebih mendalam tentang manfaat dari penerapan sistem 3

Page 4: HASIL KOMPLIT

agroforestri sederhana pada lahan tanam kakao (Tscharntke, 2011) (Greenberg,

2008). Dalam pengkajian ini, akan di khususkan mengenai pengaruh pohon kelapa

sebagai tanaman naungan sekaligus sarang bagi jenis serangga semut hitam

(Dolichoderus thoracicus) bagi ekosistem dan keanekaragaman hayati

menggunakan sistem agroforestri sederhana.

Riset ini dilaksanakan atas dasar data yang telah tertera pada paragraf awal

yang menyebutkan bahwa sebagian lahan tanam kakao masih merupakan lahan

perkebunan yang dikelola oleh rakyat, sehingga sistem agroforestri sederhana

dengan menjadikan tanaman komoditas seperti pohon kelapa sebagai tanaman

naungan masih mungkin dilakukan dikarenakan kelapa masih memiliki nilai

ekonomi bagi para petani tradisional.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana cara mengurangi perubahan ekosistem akibat deforestasi

lahan pertanian ?

2. Bagaimana cara menanggulangi hama penyakit pada kakao secara

alami?

3. Bagaimana dampak pemberian naungan alami pohon kelapa pada

lahan tanam tanaman kakao terhadap perkembang biakan semut

hitam?

4. Bagaimana cara yang digunakan untuk melakukan riset ini?

5. Bagaimana kesimpulan yang didapat ?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengurangi dampak dari semakin

besarnya deforestasi pada lahan pertanian kakao yang dikelola masyarakat

sekaligus mengetahui dampak pemberian sarang bagi semut hitam sebagai

4

Page 5: HASIL KOMPLIT

pengontrol hama alami menggunakan tanaman naungan berbasis agroforestri pada

tanaman kakao.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Bagi Petani

Manfaat yang dihasilkan dari penelitian ini nantinya akan membantu

petani untuk mengembangkan menejemen tanam yang lebih mengacu pada sistem

agroforestri sederhana. Petani juga mendapatkan manfaat dari tanaman naungan

pohon kelapa yang dapat menghasilkan nilai ekonomi dan juga sekaligus sebagai

sarang alami bagi pengontrol hama penyakit alami, yaitu semut hitam

(Dolichoderus thoracicus).

1.4.2 Manfaat Bagi Lingkungan

Manfaat yang didapat dengan menggunakan naungan alami pada tanaman

kakao yaitu dapat menjaga kelangsungan hidup hayati lokal yang semakin

bekurang dikarenakan intensifikasi pertanian dan deforestasi. Lebih lanjut, dengan

menerapkan sistem aroforestri, dapat menjamin kelangsungan hidup dan simbiosis

mutualisme antar makhluk hidup yang dibutuhkan untuk keselaasan ekosistem.

5

Page 6: HASIL KOMPLIT

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Kakao (Theobroma cacao)

Tanaman Kakao merupakan satu satunya diantara 22 jenis marga

Theobroma,suku Sterculiaceae yang diusahakan secara komersial. Tanaman kakao

merupakan salah satu tanaman yang hidup di bawah tanaman naungan alami .

(Tscharntke et. al., 2011). Sistematia tanaman ini sebagai berikut.

Divisi : spermatophyte

Anak divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Anak kelas : Dialypetalae

Bangsa : Malvales

Suku : Sterculiaceae

Marga : Theobroma

Spesies : Theobroma cacao L.

Daun tanaman kakao bersifat dimorfisisme. Pada tunas ortotrop, tangkai

daunnya panjang, yaitu sekitar 2,5 cm. tangkai daun berbentuk silinderdan

bersisik halus, bergantung pada tipenya. Kulit buah memiliki 10 alur dalam dan

dangkal yang letaknya berselang seling. Pada tipe criollo dan trinitario alur buah

kelihatan jelas. Kulit buahnya tebal tapi lunak dan permukaannya kasar.

Sebaliknya, pada tipe forastero permukaan kulit buah pada umumnya halus,

kulitnya tipis tetapi keras dan liat (Universitas Jember, 2011).

Biji tersusun dalam lima baris mengelilingi poros buah, jumlahnya

beragam, yaitu 20-50 butir per buah. Biji dibungkus oleh daging buah (pulp) yang

berwarna putih, rasanya asam manis dan diduga mengandung zat penghambat

perkecambahan. Di dalam daging buah terdapat kulit biji (testa) yang

membungkus dua kotiledon dan poros embrio (Universitas Jember, 2011).

6

Page 7: HASIL KOMPLIT

2.2 Semut Hitam (Dolichoderus thoracicus)

Semut hitam atau Dolichoderus bituberculatus adalah salah satu jenis

semut yang berguna untuk mengusir hama dari pohon kakau, yaitu hama

Helopeltis spp dan hama Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella)

( http://sumbar.litbang.deptan.go.id, 26 Mei 2011).

Semut Hitam termasuk dalam famili Formicidae, dan Ordo Hymenoptera.

Panjang tubuh semut hitam berkisar antara 3-5 milimeter (Departemen Pertanian,

2002). Makanan pokok semut hitam adalah kotoran dari kutu-kutu, ini

dikarenakan kotoran dari kutu mengandung banyak gula.Kelompok semut hitam

biasa berkembang biak pada pohon kakao atau hidup pada sarang buatan dari

daun kelapa (dan gula merah) dalam sepotong bambu (Departemen Pertanian,

2002). Namun juga dimungkinkan untuk hidup pada naungan alami, namun perlu

dilakukan studi lebih lanjut mengenai hal ini (Greenberg, 2008).

2.3 Pohon kelapa (Cocos nucifera)

Kelapa (Cocos nucifera) adalah satu jenis tumbuhan dari suku aren-arenan

atau Arecaceae dan adalah anggota tunggal dalam marga Cocos. Tumbuhan ini

dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga dianggap sebagai

tumbuhan serba guna. Sistematika tumbuhan kelapa sebagai berikut.

Kerajaan : Plantae

Ordo : Araceles

Famili : Arecaceae

Bangsa : Cocoeae

Genus : Cocos

Spesies : C. Nucifera

Pohon berbatang tunggal atau bercabang. Memiliki akar serabut, tebal

berkayu, dan berkerumun membentuk bonggol. Batang beruas-ruas namun bila

sudah tua tidak terlalu tampak, khas tipe monokotil dengan pembuluh menyebar 7

Page 8: HASIL KOMPLIT

(tidak konsentrik), berkayu. Daun tersusun secara majemuk, menyirip sejajar

tunggal, pelepah pada ibu tangkai daun pendek, duduk pada batang, warna daun

hijau kekuningan. Bunga tersusun majemuk pada rangkaian yang dilindungi oleh

bractea; terdapat bunga jantan dan betina, berumah satu, bunga betina terletak di

pangkal karangan, sedangkan bunga jantan di bagian yang jauh dari pangkal

(http://id.wikipedia.org, download 24 Mei 2011).

Kelapa secara alami tumbuh di pantai dan pohonnya mencapai ketinggian

30 m. Kelapa berasal dari pesisir Samudera Hindia, namun kini telah tersebar di

seluruh daerah tropika. Tumbuhan ini dapat tumbuh hingga ketinggian 1000 m

dari permukaan laut. Kelapa tumbuh maksimal pada suhu berkisar 25-28 C, curah

hujan 1000-2250 mm per tahun, dan kelembapan berkisar antara 70%-80% (s,

download 24 Mei 2011). Atas dasar pertimbangan di atas, maka pohon kelapa

dimungkinkan untuk dijadikan tanaman naungan untuk tanaman budidaya tropis.

Disamping itu, tanaman kelapa juga digunakan sebagai naungan alami

bagi tanaman kakao dan menjadi sarang bagi serangga seperti semut hitam

(Dolichoderus bituberculatus) dan homopteran jenis Cataenococcus hispidus.

Dolichoderus bituberculatus hidup pada daun dan buah pohon kelapa dan

menghasilkan Honeydew yang berguna sebagai salah satu sumber makanan dari

semut hitam (Hosang et. al., 2010).

2.4 Helopaltis spp

Helopeltis spp. termasuk hama penting yang menyerang buah kakao pada

bagian pucuk dan ranting muda. Helopeltis spp. termasuk dalam Famili Miridae,

dan Ordo Hemiptera. (Departemen Pertanian, 2002).

Bentuk Helopeltis spp. dewasa mirip dengan walang sangit. Panjang tubuh

sekitar 10 mm. Bagian tengah tubuh berwarna jingga dan bagian belakang

berwarna hitam atau kehijauan dengan garis-garis putih. Pada bagian tengah tubuh

terdapat embelan tegak lurus berbentuk jarum pentul. Sayap 2 pasang, berwarna

putih berbentuk lonjong dan diletakkan di dalam jaringan kulit buah atau tunas. 8

Page 9: HASIL KOMPLIT

Lama periode telur 6-7 hari. Nimfa Helopeltis spp. bentuknya mirip dengan

Helopeltis spp. dewasa tetapi tidak bersayap. Lama periode nimfa 10-11 hari.

Serangga betina dewasa selama hidupnya dapat meletakkan telurnya hingga 200

butir. Perkembangan dari telur hingga menjadi serangga dewasa memerlukan

waktu antara 21-24 hari. Serangga dewasa dicirikan dengan adanya tanduk diatas

thorax, hamper lurus dengan pentul yang jelas serta sayap yang terang, berwarna

agak gelap/hitam. Apabila terbang berwarna agak hijau dan merah jambu. Dewasa

bisa hidup sampai 2 minggu. Serangga betina dewasa dapat hidup lebih dari 50

hari (Dwinanto, 2011).

Serangan pada buah tua tidak terlalu merugikan, tetapi mrugikan pada

buah muda. Buah muda yang terserang mengering lalu rontok, tetapi jika tumbuh

terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Serangan pada

buah tua, tampak penuh bercak-bercak cekung berwarnacoklat kehitaman,

kulitnya mengeras dan retak. Serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan

pucuk layu dan mati, ranting mengering dan meranggas (Departemen Pertanian,

2002). Hama ini dapat dikendalikan dengan cara hayati. Dikawansan Asia

tenggara. salah satu cara untuk menanggulangi hama ini adalah mengunakan

pestisida alami seperti semut hitam (Dolichoderus thoracicus) (Greenberg, 2008).

Waktu makan dan berkatifitasnya antara pagi dan sore hari. Kehidupan dari

Helopeltis spp. dipengaruhi oleh cahaya, sehingga bila terlalu panas, nimfa muda

akan mencari tempat bernaung dan pada masa dewasa jika terkena matahari akan

berlindung disela-sela daun bagain dalam.

2.5 Conopomorpha cramerella

Conopomorpha cramerella atau biasa disebut hama penggerek buah kakao

(PBK) adalah salah satu hama nokturnal (hewan yang tidur pada siang hari)

penyerang buah kakao. Termasuk dalam Famili Gracillariidae, dan Ordo

Lepidoptera.

9

Page 10: HASIL KOMPLIT

Daur hidup Conopomorpha cramerella diawali dari telur yang berwarna

jingga, yang diletakkan satu persatu pada permukaan kulit buah oleh induknya

dengan panjang dan lebar telur adalah 0,8 dan 0,5. Seekor ngengat dewasa mampu

bertelur 50-100 butir. Waktu yang diperlukan telur untuk menetas anatara 3-7

hari. Fase berikutnya berbentuk larva yang berwarna putih kekuningan atau hijau

muda dengan panjang sekitar 11 mm. Larva tersebut akan bergerak dan mulai

membuat lubang ke dalam kulit selanjutnya masuk ke dalam buah kakao.

Perilaku ini dimaksudkan agar terhindar dari predator . Lubang gerekan berada

tepat di bawah tempat meletakkan telur. Selanjutnya, larva akan menggerek

daging buah, diantara biji dan plasenta. Lama hidup seekor larva dalam buah

kakao berkisar antara 14 – 18 hari (http://coretanroodeetea.wordpress.com,

download 24 Mei 2011). Larva keluar dari dalam buah, dengan benang-benang

sutra yang keluar dari mulutnya. Melalui benang sutra yang dihasilkan, ia turun ke

tanah dan menggulung menjadi kepompong berwarna putih. Setelah enam hari

menjadi kepompong, akan keluar pupa berwarna abu-abu gelap dengan panjang 8

mm. Ketika setengah badan pupa keluar dari kepompong, ia melepaskan kulitnya

dan kemudian muncul sebagai imago atau biasa disebut sebagai fase dewasa

(http://coretanroodeetea.wordpress.com, download 24 Mei 2011).

Fase dewasa ditandai dengan terbentuknya ngengat dengan panjang sekitar

7 mm dan memiliki sayap depan berwarna hitam bergaris putih, pada setiap ujung

sayap terdapat bintik kuning, serta memiliki antena yang panjang serta runcing.

Masa hidup imago hanya berkisar antara 5-7 hari. (Departemen Pertanian, 2002);

(http://coretanroodeetea.wordpress.com, download 24 Mei 2011).

Gejala serangan pada buah kakao diatandai dengan adanya warna kuning

yang tidak merata pada buah kakao. Penggerek Buah Kakao (PBK) dapat

menyerang buah sekecil 3 cm, tetapi umumnya lebih menyukai yang berukuran

sekitar 8 cm (Departemen Pertanian, 2002). Namun demikian, hama ini

sebenarnya memiliki musuh alami, salah satunya adalah semut hitam

(Dolichoderus thoracicus)( http://sumbar.litbang.deptan.go.id, 26 Mei 2011).10

Page 11: HASIL KOMPLIT

2.6 Agroforestri Sederhana

Ilmu agroforestri adalah disiplin ilmu baru yang lahir ketika konversi

hutan alam menjadi lahan pertanian disadari menimbulkan banyak masalah seperti

penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan

dan bahkan perubahan lingkungan global. (Hairiah et. al., Tanpa Tahun).

Agroforestri adalah sistem penggunaan lahan yang mengkombinasikan

pepohonan dengan tanaman pertanian untuk meningkatkan keuntungan, baik

secara ekonomis maupun lingkungan(http://www.worldagroforestrycentre.org,

download 24 Mei 2011). Agroforestri juga bisa disebut sebagai suatu manajemen

penggunaan lahan yang mengatasi masalah degradasi lahan dan hutan yang

mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati di daerah tropis (Oke et. al.,

2007).

Agroforestri dapat dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu sistem

agroforestri sederhana dan sistem agroforestri kompleks.

Sistem agroforestri sederhana adalah suatu sistem pertanian dimana

pepohonan ditanam secara tumpang-sari dengan satu atau lebih jenis tanaman

semusim. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan

tanaman pangan, secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain misalnya

berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar. Jenis-jenis pohon yang

ditanam juga sangat beragam, bisa yang bernilai ekonomi tinggi misalnya kelapa,

karet, cengkeh, kopi, kakao (coklat), nangka, melinjo, petai, jati dan mahoni atau

yang bernilai ekonomi rendah seperti dadap, lamtoro dan kaliandra. Jenis tanaman

semusim biasanya berkisar pada tanaman pangan yaitu padi (gogo), jagung,

kedelai, kacang-kacangan, ubi kayu, sayur-sayuran dan rerumputan atau jenis-

jenis tanaman lainnya (http://www.irwantoshut.net, download 24 Mei 2011).

Bentuk agroforestri sederhana yang paling banyak dibahas di Jawa adalah

tumpangsari. Dalam perkembangannya, sistem agroforestri sederhana ini juga

merupakan campuran daribeberapa jenis pepohonan tanpa adanya tanaman

11

Page 12: HASIL KOMPLIT

semusim. Sebagai contohadalah kebun kopi yang disisipi dengan tanaman dadap

(Erythrina) atau kelorwono (Hairiah et. al., Tanpa Tahun).

Bentuk agroforestri sederhana bisa dijumpai pada sistem pertanian

tradisional di daerah yang kurang padat penduduknya. bentuk ini timbul sebagai

salah satu upaya petani dalam mengintensifkan penggunaan lahan karena adanya

kendala alam semisal keterbatasan lahan (Hairiah et. al., Tanpa Tahun).

12

Page 13: HASIL KOMPLIT

II. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 TEMPAT DAN WAKTU

Penelitian akan dilakukan di kebun kakao PTPN XII Banjarsari, desa

Petung, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember. Topografi lahan datar

dikelilingi oleh perkebunan dan desa rakyat dengan ketinggian kurang lebih 90

meter diatas permukaan laut. Kecamatan Bangsalsari terletak di 113o BT – 113o

BT dan 8o LS – 8o LS. (http://122.200.145.136:8000/perpustakaan/petaview,

download 26 Mei 2011).

Rencana waktu penelitian berjudul Analisis Penggunaan Naungan Alami

Pohon Kelapa pada Tanaman Kakao tehadap Pekembangan Semut Hitam

Berbasis Agroforestri Sederhana akan dilaksanakan pada bulan Januari 2015.

3.2 ALAT DAN BAHAN

Pada penelitian ini, akan digunakan pohon kelapa (Cocos nucifera) dan

lahan tanam kakao sebagai tempat pohon kelapa menjalankan perannya sebagai

variabel bebas. Beberapa Koloni semut hitam juga akan digunakan sebagai

variabel terikat. Alat terakhir yang digunakan sekaligus sebagai variabel kontrol

adalah lahan tanam kakao PTPN XII Banjarsari yang bertopografi datar. Rincian

variabel sebagai berikut :

1. Variabel Bebas : Pohon kelapa (Cocos nucifera)

2. Variabel Ikat : Semut hitam (Dolichoderus thoracicus)

3. Variabel Kontrol : Lahan tanam kakao PTPN XII Banjarsari

3.3 PERLAKUAN VARIABEL PENELITIAN

Penelitian akan dilaksanakan dengan 4 model penanaman pohon kelapa,

masing masing memiliki perbedaan pada jumlah pohon kelapa yang ditanam. Plot

atau lingkup lahan tanam kakao yang digunakan memiliki luas 40 x 40 m dengan

jarak tanaman setiap kakao yaitu 3 x 3 m. Pohon kelapa akan ditanam di antara 13

Page 14: HASIL KOMPLIT

tanaman kakao dengan jumlah yang berbeda pada setiap model plot atau lingkup

lahan, namun jarak antar pohon kelapa dibuat sama sesuai jumlah variabel bebas

yang diterapakan. Kemudian semut hitam akan dilepas pada setiap model lahan

dengan pengumpulan koloni menggunakan cara penyimpanan dalam sarang

sementara dari pelepah daun pisang dan daun kelapa kering yang di tempatkan

pada sepotong bambu dengan ukuran panjang 20 cm. Tanaman kakao yang

dijadikan obyek penelitian sengaja tidak diberi pestisida kimia untuk mendukung

kelancaran penelitian.

Dari hasil penelitian 4 model plot yang telah di rancang, nantinya akan

diadakan analisis dan identifikasi setiap 1 bulan sekali selama kurang lebih 1

tahun terhadap banyak koloni semut hitam yang bersarang dan dampaknya pada

buah kakao yang terserang hama penyakit helopaltis spp dan Conopomorpha

cramerella. Analisis lanjutan akan diidentifikasi pengaruh naungan alami pohon

kelapa pada perubahan ekosistem lokal lahan tanam kakao.

Dengan rincian tertera pada tabel :

MODEL LAHAN BANYAK VARIABEL

BEBAS

JARAK TANAM

VARIABEL BEBAS

TERHADAP KAKAO

JUMLAH TANAMAN

KAKAO

MODEL 1 5 1.5 meter 170

MODEL 2 10 1.5 meter 170

MODEL 3 20 1.5 meter 170

MODEL 4 40 1.5 meter 170

14

Page 15: HASIL KOMPLIT

3.4 ANALISIS DAN STATISTIK VARIABEL

Setelah melakukan penerapan sesuai dengan model yang telah

direncanakan dan selang jangka waktu satu bulan pertama, kemudian, dilakukan

analisis pertama yang meliputi :

3.4.1 SURVEI KEBERADAAN KOLONI SEMUT HITAM

Survei dilakukan setiap bulan dengan menggunakan pelengket pada batang

buah kakao dan dahan pohon kelapa. Dahan pohon kelapa adalah salah satu

tempat bagi semut hitam untuk mencari makan. (Hosang et. al., 2010). Setelah

koloni semut terekat pada lem yang telah dipasang, koloni semut dihitung pada

setiap pohon kelapa.

3.4.2 ANALISIS BUAH KAKAO

Identifikasi fisik juga dilakukan setiap satu bulan sekali pada buah kakao

terhadap serangan hama penyakit helopaltis spp dan Conopomorpha cramerella..

3.4.2 ANALISIS & SURVEI HAMA PENYAKIT

Survei pada hama penyakit juga dilakukan setiap satu bulan sekali dengan

mengidentifikasi sarang, larva dan imago secara fisik dan laboratorium.

3.4.3 ANALISIS PENGARUH NAUNGAN ALAMI PADA LAHAN TANAM

Analisis lanjutan mengenai pengaruh naungan alami pada lahan tanam

kakao dilaksanakan setiap 3 bulan sekali dengan alasan perubahan ekosistem

terjadi secara bertahap dan baru bisa diidentifikasi setelah jangka waktu yang

lama. Analisis perihal pengaruh naungan alami terhadap lahan tanam meliputi

identifikasi kekayaan unsur hara tanah, perkembangan tanaman kakao secara fisik

dan non fisik serta mengidentifikasi perubahan ekosistem yang mencangkup

banyaknya keanekaragaman hayati pada lahan budidaya.

15

Page 16: HASIL KOMPLIT

IV. DAFTAR PUSTAKA

Badan Pendapatan Daerah jember. (Tanpa Tahun). (Tanpa Judul). http://bappeda.jemberkab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=73:kopi-dan-kakao&catid=48:agro&Itemid=92. [23 Mei 2011].

Departemen Pertanian. 2002. Musuh Alami, Hama dan Penyakit Tanaman Kakao. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan Departemen Pertanian.

D.O. Oke, & K.A. Odebiyi. 2007. Traditional Cocoa-Based Agroforestry and Forest Species Conservation in Ondo State, Nigeria. Akure: Department of Forestry and Wood Technology, Federal University of Technology.

Dwinanto, R. 2011. Uji Virulensi Spora Beauveria bassiana (Bals) Vuill. Terhadap Hama Helopeltis sp. (Diptera: Culicidae). Tidak dipublikasikan. Seminar hasil. Jember: Program Strata 1 Universitas Jember.

Google.com. (Tanpa Tahun). (Tanpa Judul). http://www.irwantoshut.net/agroforestry_system.html [24 Mei 2011].

Google.com. (Tanpa Tahun). (Tanpa Judul). http://www.worldagroforestrycentre.org/sea/Publications/files/leaflet/LE0022-04.pdf [ 24 Mei 2011].

Greenberg, Russell. 2008. Biodiversity in The Cacao Agroecosystem: Shade Management and Landscape Considerations. Washington DC: National Zoology Park.

Hosang, Schulze, Tscharntke,dan Buchori. 2010. The Potential Artificial Nesting Sites For Increasing The Population Density of The Black Cacao Ants. (Tanpa Kota): Indonesian Jurnal of Agricuture.

Jahuddin, Ali, Baharuddin, dan La Daha. 2009. Analis Keberlanjutan Implementasi Pengendalian Hama Terpadu Pada Tanaman Kakao Di Sulawesi Selatan. Makassar: Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin MakassarJ. Sains & Teknologi.

Kabupaten Jember. 2010. (Tanpa Judul). Jember: Tabloid Jember Terbina. [Edisi 23 Desember].

16

Page 17: HASIL KOMPLIT

Kementrian Pertanian. 2010. Semut Hitam, Musuh Alami Hama Penggerek Buah Kakao. http://sumbar.litbang.deptan.go.id. [26 Mei 2011].

Perpusatakaan Digital. 2011. Rambipuji, Peta Rupabumi Digital Indonesia. http://122.200.145.136:8000/perpustakaan/petaview.php?No_Peta=M06-05064. [26 Mei 2011].

Tscharntke, Clough, Bhagwat, Buchori, Faust, Hertel, lscher, Juhrbandt, Kessler, Perfecto, Scherber, Schroth, Edzo Veldkamp, dan Wanger. 2011. Multifunctional Shade-Tree Management in Tropical Agroforestry Landscapes. British: Bitish Ecological Society.

Universitas Jember. (Tanpa Tahun). Identifikasi Tanin pada Tanaman Kakao. Tidak Dipublikasikan. Jember: Fakultas Pertanian.

Universitas Sumatra Utara. (Tanpa Tahun). (Tanpa Judul). http://repository.usu.ac.id. [24 Mei 2011].

Wikipedia. (Tanpa Tahun). (Tanpa Judul). http://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa. [24 Mei 2011].

Wordpress.com. (Tanpa Tahun). (Tanpa Judul). http://coretanroodeetea.wordpress.com/2010/03/03/hama-penggerek-buah-kakao-pbk/ [24 Mei 2011].

Wulan, Atmadilaga, Turmudi, dan Murdaningsih. 2010. Revitalization of Cocoa Plantations in Indonesia Becoming The World Expoter. (Tanpa Kota): National Coordinating Agency for Surveys and Mapping Indonesia.

17