Hand Out Intan

download Hand Out Intan

of 25

  • date post

    30-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    153
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of Hand Out Intan

KDPK

Mata Kuliah: Kenterampilan Dasar Praktek Klinik (KDPK)Topik

: Pemberian Obat dengan Teknik SuntikSub Topik

: 1. Pemberian Obat Melalui Intracutan (IC) 2. Pemberian Obat Melalui Intramuscular (IM) 3. Pemberian Obat Melalui Intaravena (IV) 4. Pemberian Obat Melalui Subcutan (SC)Waktu

: 100 menitDosen

: Intan Noviana

Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa mampu :1. Menjelaskan bagaimana pemberian obat secara intracutan2. Menjelaskan bagaimana pemberian obat secara intramuscular3. Menjelaskan bagaimana pemberian obat secara intravena4. Menjelaskan bagaimana pemberian obat secara subcutan

1. Johnson dan Taylor. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta : EGC, 2005.2. Potter dan Perry. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Edisi 4. Jakarta : EGC, 2005.3. Uliyah, Musrifatul. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : EGC, 2004.

Salah satu tugas terpenting dari seorang perawatan adalah memberikan obat yang aman dan akurat kepada klien. Obat merapakan alat utama terapi untuk mengobati klien yang memiliki masalah klien. Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Walaupun obat menguntungkan klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping berbahaya bila tidak tepat diberikan.Seorang perawat/bidan memiliki tanggung jawab dalam memaham kerja obat dan efek samping yang ditimbulkan, memberikan obat dengan tepat, memantau respon klien, dan membantu klien menggunakannya dengan benar dan berdasarkan pengetahuan.

Adapun rute pemberian obat dibedakan atas beberapa rute antara lain secara oral, parenteral, pemberian tropical, inhalasi, dan intraokuler. Rute pemberian obat dipilih berdasarkan kandungan obat dan efek yang diinginkan juga kondisi fisik mental klien

Maka dari itu pada handout ini akan dibahas salah satu rute pemberian obat yaitu secara parenteral, memberikan obat dengan menginjeksikan ke dalam tubuh.

Pengertian injeksi

Injeksi (FI) adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lender injeksi. Injeksi dibuat dengan melarutkan, mengemulsikan atau mensuspensikan sejumlah obat ke dalam sejumlah pelarut dan disisipkan dalam wadah takaran tunggal atau ganda.

Istilah parenteral berasal dari kata Yunani para dan enteron yang berarti disamping atau lain dari usus. Sediaan ini diberikan dengan cara menyuntikkan obat di bawah atau melalui satu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa. Karena rute ini disekitar daerah pertahanan yang sangat tinggi dari tubuh, yaitu kulit dan selaput/membran mukosa, maka kemurniaan yang sangat tinggi dari sediaan harus diperhatikan. Yang dimaksud dengan kemurnian yang tinggi itu antara lain harus steril.Produk parenteral, selain diusahakan harus steril juga tidak boleh mengandung partikel yang memberikan reaksi pada pemberian juga diusahakan tidak mengandung bahan pirogenik. Bebas dari mikroba (steril) dapat dilakukan dengan cara sterilisasi dengan pemanasan pada wadah akhir, namun harus diingat bahwa ada bahan yang tidak tahan terhadap pemanasan. Untuk itu dapat dilakukan teknik aseptik.

Dalam proses produksi sediaan parenteral diisyaratkan hal-hal sebagai berikut :1. Personil yang bekerja pada bagian produk steril harus memiliki moral dan etik professional yang tinggi.2.Setiap personil mendapat latihan tentang sediaan steril secara lengkap.

3.Memiliki teknik spesialisasi untuk memproduksi sediaan steril.

4.Bahan yang digunakan harus bermutu tinggi.

5.Kestabilan dan kemanjuran produk harus terjamin.6. Program pengontrolan (quality control) harus baik untuk memastikan mutu produk dan harus memenuhi keabsahan prosedur produksi.Tujuan Injeksi Pada umumnya Injeksi dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat proses penyerapan (absorbsi) obat untuk mendapatkan efek obat yang cepat.

Indikasi Injeksi biasanya dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral. Apabila klien tidak sadar atau bingung, sehingga klien tidak mampu menelan atau mempertahankan obat dibawah lidah. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan obat klien dilakukan denganpemberian obat secara injeksi.

Selain itu, indikasi pemberian obat secara injeksi juga disebabkan karena ada beberapa obat yang merangsang atau dirusak getah lambung (hormon), atau tidak direarbsorbsi oleh usus. Pemberian injeksi bisa juga dilakukan untuk anastesi lokal.2.4 peralatan

A. Spuit

Spuit terdiri dari tabung (barrel) berbentuk silinder dengan bagian ujung (tip) di desain tepat berpasangan dengan jarum hypodermis dan alat pengisap (plunger) yang tepat menempati rongga spuit. Spuit, secara umum, diklasifikasikan sebagai Luer lok atau nonLuer-lok. Nomenklatur ini didasarkan pada desain ujung spuit. Dilihat dari bahan pembuatnya spuit dapat berupa spuit kaca (jarang digunakan) dan spuit plastik (disposible). Ditinjau dari penggunaannya souit dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu spuit standard hipodermik, spuit insulin, dan spuit tuberkulin.

Adapun tipe-tipe spuit yaitu:

a)Spuit Luer-lok yang ditandai dengan 0,1 persepuluhb)Spuit tuberkulin yang ditandai dengan 0,01 (seperseratus) untuk dosis kurang dari 1 mlc)Spuit insulin yang ditandai dalam unit (100)d)Spuit insulin yang ditandai dengan unit (50)Spuit terdiri dari berbagai ukuran, dari 0,5 sampai 60 ml. Tidak lazim menggunakan spuit berukuran lebih besar dari 5 ml untuk injeksi SC atau IM. Volume spuit yang lebih besar akan menimbulkan rasa ynag tidak nyaman. Spuit yang lebih besar disiapkan untuk injeksi IV.Perawat mengisi spuit dengan melakukan aspirasi, menarik pengisap keluar sementara ujung jarum tetap terendam dalam larutan yang disediakan. Perawat dapat memegang bagian luar badan spuit dan pegangan pengisap. Untuk mempertahankan sterilitas, perawat menghindari objek yang tidak steril menyentuh ujung spuit atau bagian dalam tabung, hub, badan pengisap, atau jarum.

B. Jarum

Jarum merupakan alat pelengkap spuit. Jarum injeksi ternuat dari bahan stainless yang memunyai ukuran panjang dan besar yang bervariasi. Jarum mempunyai ukuran panjang bekisar antara 1,27 sampai dengan 12,7 cm. Besar jarum dinyatakan dengan satuan gauge antara nomor 14 sampai dengan 28 gauge. Semakin besar ukuran gauge-nya semakin kecil diameternya. Diameter yang besar dapat menimbulkan rasa sakit saat ditusukkan. Penggunaan ukuran jarum ini disesuaikan dengan keadaan pasien yang meliputi umur, gemuk/kurus, jalur yang akan dipakai dan obat yang akan dimasukkan.

Jarum memiliki tiga bagian: hub, yang tepat terpasang pada ujung sebuah spuit; batang jarum (shaft), yang terhubung dengan bagian pusat; dan bevel, yakni bagian ujung yang miring.Setiap jarum memiliki tiga karaktreisrik utama: kemiringan bevel, panjang batang jarum, dan ukuran atau diameter jarum. Bevel yang panjang dan lebih tajam, sehingga meminimalkan rasa ridak nyaman akibat injeksi SC dan IM. Panjang jarum bervariasi dari sampai 5 inci.

Cairan injeksi dan penyiapan cairan untuk pemakaian.

Syarat pertama bagi cairan injeksi adalah bahwa ini harus steril. Oleh karena itu hampir semua cairan injeksi disajikan dalam bentuk ampul yang berisi cairan cukup untuk sekali pakai atau berupa vial. Obat-obat yang harus diterima seorang pasien untuk waktu yang cukup lama, seperti insulin, biasanya disajikan dalam bentuk vial.

Vial adalah suatu botol kaca dengan tutup kuat yang dapat ditembus oleh jarum suntik akan tetapi sebelumnya harus disterilkan terlebih dahulu. Vial dibuka dengan cara membuka logam tipis penyegel bagian atas vial sehingga bagian karet akan kelihatan. Cairan obat diambil dengan cara menusukkan jarum spuit pada karet penutup vial. Sedangkan ampul biasanya terbuat dari bahan gelas, sebagian besar leher ampul mempunyai tanda berwarna melingkar yang dapat dipatahkan. Bila pada bagian leher tidak mempunyai tanda berarti bagian pangkal leher harus digergaji dengan gergaji ampul sebelum dipatahkan. Bisa juga terjadi bahwa cairan injeksi sudah disajikan dalam alat suntik. Disamping cairan injeksi yang tersedia dalam ampul,vial, atau dalam alat injeksi diposibble dapat juga terjadi bahwa segera sebelum pemakaian cairan injeksi harus berada dalam konsentrasi cairan tertentu, misalnya antibiotika.

Dalam hal ini seperti cairan injeksi disajikan dalam dua komponen (misalnya) bubuk dan aqua distilata (air yang steril) cairan injeksi dapat berupa bahan yang larut dalam air, dapat juag berupa cairan atau emulsi atau suspensi(cairan atau bahan dalam bentuk yang halus dan merata). Pencampuran dalam cairan injeksi menentukan cara pemberian yang dikehendaki. Oplos yang berminyak harus disuntikan secara intramuskular.Enam Benar Pemberian Obat

a) Benar Obat

Apabila obat pertama kali diprogramkan, bandingkan tiket obat atau format pencatatan unit-dosis dengan instruksi yang ditulis dokter. Ketika memberikan obat bandingkan label pada wadah obat dengan format atau tiket obat. Hal ini dilakukan tiga kali, yaitu:

1. Sebelum memindahkan wadah obat dari laci atau lemari

2. Pada saat sejumlah obat yang di programkan dipindahkan dari wadahnya

3. Sebelum mengembalikan wadah obat ke tempat penyimpanan b) Benar Dosis

Apabila sebuah obat harus disediakan dari volume atau kekuatan obat yang lebih besar atau lebih kecil dari yang dibutuhkan atau jika seorang dokter memprogramkan suatu sistem perhitungan obat yang berbeda dari yang disediakan dari ahli farmasi, resiko kesalahan meningkat

c) Benar Klien

Langkah paling penting dalam pemberian obat dengan aman adalah meyakinkan bahwa obat tersebut diberikan pada klien yang benar. Untuk mengidentifikasi klien dengan tepat, periksa kartu, fo