Fix Skripsi

download Fix Skripsi

of 79

  • date post

    09-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.517
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Fix Skripsi

BAB I PENDAHULUAN

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan , Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. QS Al Alaq :1-5

1. A. Latar Belakang Masalah Setiap bulan September diperingati sebagai Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan. Melalui peringatan itu diharapkan masyarakat menjadi gemar membaca, khususnya anak-anak sekolah dasar sebab membaca adalah kunci untuk keberhasilan belajar siswa di sekolah. Kemampuan membaca dan minat membaca yang tinggi adalah modal dasar untuk keberhasilan anak dalam berbagai mata pelajaran (Soejanto diakses Sandjaja tanggal 21

http://www.unika.ac.id/fakultas/psikologi/artikel/ss-1.pdf, Februari 2010).

Sejak tahun 1995 sampai sekarang, media massa selalu memuat berita mengenai minat membaca masyarakat, terutama minat membaca anak-anak sekolah dasar. Misalnya harian Suara Merdeka menulis tajuk rencana dengan judul Kegemaran Membaca Belum Seperti yang Diharapkan (Suara Merdeka, 1995). Tulisan Wakidi yang berjudul Minat Membaca Anak Sekolah Dasar juga

1

menyampaikan keprihatinannya dengan minat membaca anak Sekolah Dasar yang rendah (Pikiran Rakyat, 2000). Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan minat baca masyarakatnya masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hasil survei yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berkompeten. Di antaranya survei Internasional Associations for Evaluation of Educational (IEA) pada tahun 1992 menyebutkan kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar kelas IV Indonesia berada pada urutan ke-29 dari 30 negara di dunia, berada satu tingkat di atas Venezuella. Riset International Association for Evaluation of Educational Achievement (IAEEA) tahun 1996 menginformasikan bahwa melek baca siswa usia 9-14 tahun Indonesia berada pada urutan ke-41 dari 49 negara yang disurvei. Data Bank Dunia tahun 1998 menginformasikan pula kebiasaan membaca anak-anak Indonesia berada pada level paling rendah (skor 51,7). Skor ini di bawah Filipina (52,6), Thailand (65,1), dan Singapura (74,0). Dalam tahun 1998-2001 hasil survei IAEEA dari 35 negara, menginformasikan melek baca siswa Indonesia berada pada urutan yang terakhir. IAEEA

mempublikasikan pada tanggal 28 November 2007 tentang minat baca, bahwa dari 41 negara siswa Indonesia selevel dengan negara belahan bagian selatan bersama Selandia Baru dan Afrika Selatan (Hanani, 2009). Perlu diakui bahwa mayoritas masyarakat Indonesia, termasuk anakanak usia sekolah, belum melakukan kegiatan membaca secara intens sebagai suatu kebutuhan hidup. Bahkan di lingkungan sekolah kegiatan membaca yang sudah masuk ke dalam kurikulum, minat membaca siswa pun belum menggembirakan. Berkaitan dengan hal ini, tingkat keterbacaan masyarakat Indonesia masih rendah. Menurut penelitian lembaga dunia terhadap daya

2

baca di 41 negara, Indonesia berada di peringkat ke-39. Saat ini masyarakat Indonesia belum menganggap membaca buku sebagai kebutuhan primer (Kompas, 17 Mei 2004). Hasil survai yang dilakukan oleh International Association for the Evaluation of Education Achievment (IAEEA) tahun 1994, tentang kemampuan membaca siswa SD dari 27 negara, Indonesia menduduki peringkat ke 26. Peringkat tersebut jauh di bawah Hongkong, Singapura, Thailand, dan Filipina (Kompas, Mei 1997). Beberapa faktor penyebab lemahnya minat dan kegemaran membaca anak didik antara lain disebabkan kurang adanya penggalakan dan penciptaan kondisi yang mampu mendukung tumbuhnya minat baca melalui program sekolah yang terintegrasi dengan pelajaran, penyediaan bahan bacaan melalui perpustakaan sekolah yang kurang menunjang, dan dorongan orang tua yang juga lemah (Silfia Hanani, 2009). Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih banyak tertarik dan memilih untuk menonton TV (85,9%) dan atau mendengarkan radio (40,3%) daripada membaca koran (23,5%) (www.bps.go.id, diakses tanggal 24 Desember 2007). Ditinjau dari sisi yang lain, jam bermain anak-anak Indonesia masih tinggi, yakni lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton acara TV (Pikiran Rakyat, 8-3-2004). Masalah minat baca sampai saat ini masih menjadi tema yang cukup aktual. Tema ini sering dijadikan topik pertemuan ilmiah dan diskusi oleh para pemerhati dan para pakar yang peduli terhadap perkembangan minat baca di Indonesia. Namun hasil dari pertemuan-pertemuan ilmiah tersebut belum memberikan suatu rekomendasi yang tepat bagi perkembangan yang signifikan 3

terhadap minat baca masyarakat. Permasalahan yang dirasakan oleh bangsa Indonesia sampai saat ini adalah adanya data berdasarkan temuan penelitian dan pengamatan yang menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia relatif masih sangat rendah. Ada beberapa indikator yang menunjukkan masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia antara lain yaitu perpustakaan di sekolah/kampus yang ada kurang dimanfaatkan secara optimal oleh siswa/mahasiswa, demikian pula perpustakaan umum yang ada di setiap kota/kabupaten yang tersebar di nusantara ini, bahkan kalau dilihat dari data pengguna buku koleksi sumbangan dari PBB dan Bank Dunia sebagaimana di kelola oleh perpustaakaan nasional, semakin terlihat ketidakbergairahan membaca di negara ini. Dilaporkan dalam rentang tahun 1995 sampai tahun 1999, buku sumbangan tersebut hanya dibaca oleh 536 orang, dengan perincian pertahunnya sebagai berikut; tahun 1995 tercatat 161 pembaca, tahun 1996 tinggal 134 pembaca, tahun berikutnya, 1997, turun lagi menjadi hanya 76 pembaca. Meski tahun 1998 sempat naik jadi 84 pembaca, tetapi tahun 1999 kembali turun menjadi 81 pembaca Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum mempunyai budaya

membaca (Laporan Kepala Sub-Bidang Kerjasama Perpustakaan Nasional RI, Sauliah, yang dimuat dalam Kompas 1 Februari 2000) . Wajar apabila Indeks Sumber Daya Manusia bangsa Indonesia juga rendah. Menurut laporan United Nation Development Programe/UNDP pada tahun 2007 dari 177 negara yang dipulikasikan Human Development Index (HDI) Indonesia berada pada urutan ke-107. Indonesia memperoleh indeks 0,728. Di kawasan ASEAN Indonesia menempati urutan ke-7 dari sembilan negara ASEAN (Silfia Hanani, 2009).

4

Mengapa minat baca masyarakat di Indonesia dikatakan rendah? Ada banyak alasan yang dapat diidentifikasi antara lain ; (1) masih rendahnya kemahiran membaca, (2)sistem pembelajaran, (3)banyaknya jenis hiburan, (4) permainan (game) dan tayangan TV, (5) banyaknya tempat hiburan yang menghabiskan waktu, (6) budaya baca yang belum diwariskan nenek moyang kita, (7) kurangnya sarana untuk memperoleh bacaan, (8) harga buku yang relatif masih mahal, (9) belum adanya lembaga atau institusi yang secara formal khusus menangani minat baca, (10) minimnya koleksi buku di perpustakaan, dan (11) aktifitas ibu-ibu yang disibukkan dengan berbagai kegiatan upacara-

upacara keagamaan serta membantu mencari tambahan nafkah untuk keluarga (Rumah Cerdas Kreatif, 25-10-2009). Bacaan yang kurang memikat dan minimnya sarana perpustakaan sekolah menjadi faktor lain penyebab minat baca siswa rendah. Padahal siswa perlu disediakan bahan bacaan yang cukup untuk memperluas wawasannya. Oleh karena itu, sebenarnya sekolah wajib memiliki perpustakaan, mampu

menyediakan beragam buku, seperti: fiksi, nonfiksi, referensi, atau non buku seperti majalah, koran, kaset serta alat peraga. Akan tetapi, sekolah ternyata tidak selalu mampu menumbuhkan kebiasaan membaca bagi para siswanya. Dengan kondisi kualitas buku pelajaran yang memprihatinkan, padatnya kurikulum, dan metode pembelajaran yang menekankan hafalan materi justru 'membunuh' minat membaca. Menurut Prof. Dr. Riris K. Toha Sarumpaet (2007) Guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia,, sekolah tidak memadai sebagai tempat untuk menumbuhkan minat baca anak didik. Hal ini karena, tidak terlepas dari kurikulum pendidikan. Kurikulum yang terlalu padat membuat siswa tidak punya waktu untuk membaca. Riris(2007) mengemukakan

5

bahwa siswa terlalu sibuk dengan pelajaran yang harus diikuti tiap hari. Belum lagi harus mengerjakan pekerjaan rumah (www.republika.co.id). Upaya menumbuhkan minat baca bukannya tidak dilakukan. Pemerintah melalui lembaga yang relevan telah mencanangkan program minat baca. Media elektronik seperti televisi juga ikut menayangkan iklan layanan masyarakat untuk meningkatkan minat membaca. Hanya saja yang dilakukan oleh pemerintah maupun institusi swasta untuk menumbuhkan minat baca belum optimal. Oleh karena itu, agar bangsa Indonesia dapat mengejar kemajuan yang telah dicapai oleh negara-negara tetangga, perlu menumbuhkan minat baca sejak dini. Sejak mereka mulai dapat membaca. Dengan menumbuhkan minat baca sejak anakanak masih dini, diharapkan budaya membaca masyarakat Indonesia dapat ditingkatkan. Minat yang dimiliki anak juga cenderung akan dipertahankan

sepanjang hidupnya (Dechand, 1969). Apabila pada masa kanak-kanak, seseorang memiliki minat membaca yang rendah maka ketika dewasa minat membacanya cenderung akan rendah pula. Dalam kenyataannya, anak-anak masa kini merupakan orang dewasa di masa mendatang yang akan menjadi pembangun bangsa ini. Karena itulah, usaha pengembangan minat baca perlu dilakukan dan sebaiknya ditekankan pada anak-anak. Munandar (1986) menemukan ada perbedaan minat anak terhadap isi cerita ditinjau dari perkembangan usia kronologis anak. Pada usia 3 sampai dengan 8 tahun anak menyukai buku cerita yang berisi mengenai binatang dan orangorang di sekitar anak. Pada masa ini anak bersikap egosentrik sehingga mereka menyukai isi cerita yang berpusat pada kehidupan di seputar dirinya. Mereka juga menyukai cerita khayal dan dongeng. Pada usia 8 sampai