Proposal praktikum fix fix fix

download Proposal praktikum fix fix fix

of 69

  • date post

    26-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    811
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Proposal praktikum fix fix fix

  • 1. PEMBAHARUAN DAN PENGEMBANGAN MASJID AGUNG KUDUS PROPOSAL Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Gasal Mata kuliah : Praktikum Penelitian Pendidikan Islam Dosen pengampu : Manijo, M.Ag Tim Penyusun : Kelas C Tarbiyah PAI Angkatan 2011 SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS JURUSAN TARBIYAH/ PAI TAHUN 2013 PEMBAHARUAN DAN PENGEMBANGAN MASJID AGUNG KUDUS PROPOSAL Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Gasal Mata kuliah : Praktikum Penelitian Pendidikan Islam Dosen pengampu : Manijo, M.Ag Tim Penyusun : Kelas C Tarbiyah PAI Angkatan 2011 SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS JURUSAN TARBIYAH/ PAI TAHUN 2013 PEMBAHARUAN DAN PENGEMBANGAN MASJID AGUNG KUDUS PROPOSAL Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Gasal Mata kuliah : Praktikum Penelitian Pendidikan Islam Dosen pengampu : Manijo, M.Ag Tim Penyusun : Kelas C Tarbiyah PAI Angkatan 2011 SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS JURUSAN TARBIYAH/ PAI TAHUN 2013

2. ii KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT penguasa alam yang senantiasa melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga pada kesempatan ini kami dapat menyelesaikan tugas praktikum penelitian pendidikan Islam. Sholawat serta salam selalu tercurahkan keharibaan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengajarkan dan membimbing umat Islam dengan ajaran agamanya secara sempurna dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Proposal penelitian pendidikan Islam yang mengambil fokus penelitian pada Masjid Agung Kudus telah disusun dengan sungguh-sungguh guna memenuhi tugas akhir semester gasal mata kuliah praktikum penelitian pendidikan Islam. Dalam penyusunan proposal ini, kami banyak mendapatkan bimbingan, informasi, dan saran-saran dari berbagai pihak, sehingga proposal ini dapat terealisasikan. Untuk itu, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Bapak Manijo, M.Ag, selaku dosen pengampu mata kuliah praktikum penelitian pendidikan Islam. 2. Bapak Masrukhan, selaku pengurus Masjid Agung Kudus sekaligus narasumber yang telah membantu memberikan keterangan yang kami butuhkan dalam penyusunan proposal. 3. Bapak Rifai Noor, selaku mantan ketua bidang Riayah Masjid Agung Kudus yang telah membantu memberikan keterangan yang kami butuhkan. 4. Bapak Abdullah Afif Sholeh, selaku mantan Ketua Pengurus Masjid Agung Kudus periode 1997-2002 dan 2002-2007. 5. Kementrian Agama dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, yang telah membantu dalam pengumpulan data. 6. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Seiring doa dan harapan atas segala jasa dan bantuan beliau semua, kami mengucapkan terima kasih seraya berdoa serta memohon kepada Allah SWT, semoga amal kebaikan bapak, serta semua pihak yang tersebut di atas senantiasa mendapatkan rahmat dari Allah SWT. Aamiin Kudus, 19 Desember 2013 3. iii 4. iv MEMBANGUN PERADABAN ISLAM DARI MASJID Indonesia adalah Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, maka wajar bila nuansa budaya Islam sangat kental mewarnai setiap relung sudut kehidupan bangsa Indonesia baik dari sisi politik dengan masyarakat madaninya, ekonomi dengan ekonomi syariahnya, budaya dengan budaya Islamnya, termasuk juga pendidikan dengan pendidikan Islamnya. Sudah menjadi keniscayaan bila umat yang besar akan membutuhkan sarana dan infrastruktur yang besar pula, maka ketika melihat umat Islam di Indonesia sekarang (2012) telah mencapai 207.176.162 jiwa. Maka dibutuhkan fasilitas ibadah yang tidak sedikit pula. Untuk bangunan masjid saja (termasuk mushola) di Indonesia tercatat sebanyak 239.497 bangunan ibadah. (Data dari YMN -Yayasan Masjid Nusantara- tahun 2012). Hal ini tentu masih sangat kurang dari angka yang semestinya. Untuk Jawa Tengah sendiri jumlah tempat Ibadah di wilayah ini tersedia sebanyak 35.199 unit. Ini masih sangat kecil bila dibandingkan umat Islam yang ada di Jawa Tengah ini. Sedangkan untuk Kabupaten Kudus yang jumlah penduduknya sebanyak 791.891 jiwa sarana masjid hanya 530 buah. Sedangkan musholanya berjumlah 308 buah (Data Statistik Kab. Kudus 2013). Dengan melihat ini tentu keberadaan masjid sebagai sarana ibadah masih perlu untuk penambahan, agar sesuai dengan rasio kecukupan tempat ibadah dan jumlah umat Islam di wilayah Kabupaten Kudus ini. Keberadaan masjid Agung Kabupaten Kudus yang terletak di samping barat alun-alun Kudus adalah satu dari sekian banyak masjid yang menjadi simbol umat Islam di Kudus (selain masjid al-aqsha menara Kudus) dengan masyarakatnya yang agamis dan religious. Di Masjid Agung Kudus yang dulunya berasal dari masjid Kriyan, Kudus menjadi sarana perjalanan peradaban Islam di kota ini yang panjang. Pecinan, Kampung Arab dan Pribumi adalah fakta sejarah peradaban Islam Kudus yang bisa di jadikan tonggak awal sejarah peradaban Kudus di masa-masa mendatang bahkan bahan pemikiran juga untuk membangun 5. v peradaban pada masa sekarang ini dan terus berlanjut sampai waktu yang akan datang. Buku kecil ini adalah salah satu kepedulian sebagian masyarakat Kudus dengan melalui Latihan Penelitian Pendidikan dari Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus, untuk memberikan sedikit fakta dan data tentang Masjid Agung Kudus yang mungkin oleh sebagian masyarakat Kudus sudah banyak dilupakan. Harapannya, semoga dengan buku kecil ini bisa bermanfaat bagi masyakat Kudus pada khususnya dan masyakarat Islam Indonesia pada umumnya, sekali lagi, semoga penelitian ini adalah bukti awal untuk membangun peradaban Islam dari Masjid Agung Kudus, untuk selanjutnya mudah-mudahan pada lain waktu ada sebagian mahasiswa atau peneliti lain yang tertarik untuk mendalami atau melakukan penelitian lebih lanjut, sehingga bisa dijadikan kesempurnaan- kesempurnaan dalam penelitian dalam obyek yang sama, bahkan siapa tahu kelak nanti dari Masjid Agung Kudus ini mampu memberikan sumbangsih peradaban Islam Kudus yang lebih modern. Manijo, M.Ag. DPL STAIN Kudus 6. vi DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL........................................................................................... i KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii SAMBUTAN PENGURUS MASJID AGUNG KUDUS................................... iii SAMBUTAN DOSEN PANGAMPU............................................................... . iv DAFTAR ISI....................................................................................................... vi I. Sejarah Berdirinya Masjid Agung Kudus .................................................... 1 II. Struktur Bangunan Masjid (Makna Arsitektur dan Bentuk Fisik)............... 5 III. Struktur Kepengurusan, Visi, dan Misi Masjid ........................................... 25 IV. Masjid Pada Zaman Dahulu (Zaman Penjajahan) ....................................... 30 V. Bentuk Kegiatan dan Pengelolaan yang Dilakukan Masjid (Kegiatan Keagamaan) ................................................................................................. 31 VI. Bentuk Kegiatan dan Pengelolaan Masjid (Kegiatan Bisnis) ..................... 45 VII. Kegiatan Masjid pada Hari- Hari Besar Islam............................................. 51 VIII. Ulama yang Dihasilkan dari Masjid Agung Kudus.................................... 57 IX. PENUTUP.................................................................................................... 61 LAMPIRAN-LAMPIRAN 7. 1 I. SEJARAH BERDIRINYA MASJID AGUNG KUDUS Masjid Agung Kudus, yang semula bernama Masjid Besar Alun-Alun, terletak di wilayah Dukuh Kauman Desa Demaan Kecamatan Kota atau Jl. Simpang Tujuh 15A Kudus, bersebelahan dengan kantor pendopo Kabupaten Kudus. Masjid ini memiliki luas bangunan 1.409 m di atas tanah seluas 3.527 m dan tinggi menara 30 m. Berdirinya Masjid Agung Kudus, merupakan salah satu dari beberapa syarat yang harus ada dalam keberadaan pemerintahan. Pada zaman kolonial syarat adanya pusat pemerintahan harus mencakup tiga komponen (Tiga Adat Jawa) yaitu 1) Pendapa Kabupaten (dulu kadipaten) ; 2) Adanya alun-alun1 ; 3) Adanya pohon besar yang terletak bersebelahan dengan kadipaten.2 Ada pula yang mengatakan3 bahwa Tiga yang dimaksud Adat Jawa itu meliputi 1) Masjid; 2) Pendopo; dan 3) Pembinaan Umat. Atas dasar tersebut, oleh prakarsa dari Muhammad Idris atau Raden Tumenggung Aryo Condro Negoro ke-IV (Bupati Kudus ke-4) pada tahun 1853M/ 1274H pembangunan Masjid mulai berlangsung. Peletakan batu pertama untuk pembangunan Masjid oleh Kanjeng Raden Tumenggung Ario Tjondronegoro IV dihadiri oleh Residen Jepara-Rembang (Sekarang Karesidenan Pati ; 2013) dan tokoh Alim Ulama Kudus. Pembangunan Masjid Agung Kudus ini adalah bangunan masjid yang cukup tua. Namun sebenarnya ada masjid yang lebih tua yaitu Masjid Menara (Masjid Al- Aqsha). Masjid Menara berumur 456 tahun, sedangkan Masjid Agung Kudus berumur 156 tahun. Berdasarkan Peraturan Pemerintah yang mengharuskan dalam suatu kota terdapat satu tempat beribadah yaitu Masjid yang disebut Masjid Kadipaten (Masjid Kabupaten) maka yang dipilih adalah Masjid Agung Kudus yang sekarang ini. Sehingga timbul banyak pertanyaan, mengapa bukan Masjid Menara yang dijadikan masjid kadipaten, padahal secara usia bangunan Masjid Menara lebih tua dari Masjid Agung Kudus. Hal ini dikarenakan 1 Pada zaman kolonial, dalam alun-alun harus ada atau ditumbuhi pohon beringin besar. 2 Arsip mengenai sejarah singkat masjid di kudus oleh Departemen Agama Kudus, pada tanggal 6 Desember 2013. 3 Hasil wawancara dari narasumber Bapak Drs. KH Abdullah Afif Sholeh, selaku Mantan Pengurus Masjid Agung dua periode berturut-turut, pada tanggal 12 Desember 2013. 8. 2 berdasarkan atas peraturan pemerintah pula bahwa dalam satu kota, apabila terdapat masjid yang merupakan peninggalan seorang wali, maka masjid itu hanya disebut masjid wali. Sehingga harus dibuat satu masjid lagi yang dapat dijadikan maskot kota tersebut, yang sekarang yaitu Masjid Agung Kudus.4 Pada awalnya masjid ini tidak seperti sekarang (2013). Mas