Draf proposal tesis ahmad budi

download Draf proposal tesis ahmad budi

of 58

  • date post

    25-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    2.015
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Draf proposal tesis ahmad budi

  • 1. Draf Proposal Tesis dengan Judul : KOMPARASI KEAKTIFAN, MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DALAM PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT DAN TIPE SNOWBALL TRHOWING Oleh: AHMAD BUDI SUTRISNO 12B07024 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2013

2. LEMBAR PENGESAHAN Judul : Nama : AHMAD BUDI SUTRISNO Nim : 12B07024 Prodi : Pendidikan Matematika Program : Pascasarjana UNM Tahun 2013 Menyetujui Komisi Penasihat, Dr.Awi Dassa, M.Si Dr.Hisyam Ihsan, M.Si Ketua Anggota Mengetahui: Ketua Direktur Program Studi Program Pascasarjana Pendidikan Matematika, Universitas Negeri Makassar, Prof. Dr. Nurdin Arsyad, M.Pd Prof. Dr. Jasruddin, M. Si NIP 19670424 199203 1 002 NIP 19641222 199103 1 002 Komparasi Keaktifan, Motivasi dan Hasil Belajar Matematika dalam Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dan Tipe Snowball Throwing 3. A. Latar Belakang Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh sumber daya manusia, sedangkan kualitas sumber daya manusia tergantung pada kulaitas pendidikannya. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan manusia yang cerdas, damai, terbuka dan demokratis. Oleh karena itu pembaruan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan suatu bangsa. Kemajuan bangsa Indonesia dapat dilakukan dengan cara menata pendidikan yang baik, dengan adanya berbagai peningkatan mutu pendidikan diharapkan dapat menaikkan derajat, harkat dan martabat manusia baik dimata masyarakat, bangsa dan agama. Untuk mencapainya, pembaharuan pendidikan di Indonesia tentunya harus dilakukan terus menerus seiring dengan perkembangan zaman. Berbagai daya dan upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam meningkatkan kualiatas pendidikan antara lain pembaharuan kurikulum, pengembangan model pembelajaran, perubahan system evaluasi dan sebagainya. Salah satu aspek yang selalu dikaji dalam kaitannya dengan keaktifan, motivasi, dan hasil belajar adalah model pembelajaran yang diterapkan di sekolah. Selama ini dalam kegiatan pembelajaran dikelas berpusat kepada guru, sehingga siswa cenderung tidak aktif. Pada dasarnya banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk menjadikan siswa aktif, salah satunya dengan merubah paradigma pembelajaran. Guru bukan sebagai pusat pembelajaran tapi sebagai mitivator, dan fasilitator. Selama pembelajaran berlangsung, siswalah yang dituntut untuk aktif sehingga guru bukan lagi sebagai pemeran utama dalam pembelajaran. Oleh karena itu, perlu dikembangkan satu model pembelajaran yang mampu meningkatkan keaktifan dan motivasi siswa dalam pembelajaran matematika, 4. sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pemilihan model pembelajaran harus mampu mengembangkan kemampuan siswa dalam berfikir logis, kritis, dan kreatif. Pada umumnya proses pelaksanaan belajar mengajar matematika di sekolah hanya mentransfer apa yang dipunyai guru kepada siswa dalam wujud pelimpahan fakta matematis dan prosedur penghitungan, Bahkan sering terjadi, dalam menanamkan konsep hanya menekankan bahwa konsepkonsep itu merupakan aturan yang harus dihafal, tidak perlu tahu dari mana asalusul rumus tersebut. Siswa diprogram hanya untuk bisa menghafal rumus dan mengerjakan soal tanpa harus tahu apa makna dan fungsi soal tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan adanya pembelajaran matematika yang tidak bermakna serta hanya sebatas menghafal rumus dan mengikutinya untuk mengerjakan soal, penalaran siswa menjadi kurang berkembang yang berakibat pemahaman siswa terhadap konsep materi matematika sangat lemah. Padahal kemampuan penalaran siswa merupakan aspek penting, karena dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah lain, baik masalah matematika maupun masalah kehidupan sehari-hari. Karena dengan adanya penalaran, siswa akan mampu mengaplikasikan hal yang dipelajarinya kedalam dunia nyata. Kemampuan penalaran merupakan aspek kunci dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif dari siswa. Dengan demikian pembelajaran di sekolah akan lebih bermakna jika guru mengaitkan pengetahuan dengan pemahaman yang telah dimiliki siswa. 5. Pembelajaran matematika yang hanya berorientasi pada proses transfer dari guru ke siswa merupakan pandangan behaviorisme. Matematika dipandang sebagai barang jadi yang dapat dipindahkan dari seorang keorang lain. Menurut pandangan behaviorisme siswa bersifat pasif dan pembelajaran lebih berpusat pada guru. Bagi behavioris pengetahuan itu statis dan sudah jadi dan belajar hanya merupakan suatu proses mekanik untuk mengumpulkan fakta. Selanjutnya lahirlah pandangan konstruktivisme yang beranggapan bahwa pengatahuan tidak dapat ditransfer tetapi harus dibangun sendiri oleh siswa di dalam pikirannya. Inti dari pembelajaran konstruktivis adalah keaktifan siswa pada proses pembelajaran. Penekanan belajar siswa aktif ini sangat penting dan perlu dikembangkan dalam dunia pendidikan kita. Karena dengan keaktifan dan kreatifitas, siswa akan dapat mandiri dalam kehidupan. Mereka akan terbantu menjadi orang yang kritis menganalisis suatu hal karena mereka berpikir dan mencipta, bukan meniru saja. Berdasarkan pengamatan dilapangan, diperoleh informasi bahwa matematika merupakan salah satu pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa. Anggapan ini mengakibatkan siswa menjadi malas belajar matematika, sehingga beberapa siswa masih enggan untuk berperan aktif pada saat pembelajaran berlangsung. Keaktifan siswa dalam pembelajaran merupakan hal yang penting dalam proses pembelajaran. Selama ini model pembelajaran yang digunakan oleh guru di sekolah dalam mengajar adalah model pembelajaran langsung. Pada pembelajaran model langsung guru merupakan subjek utama kegiatan pembelajaran. Guru dalam menyampaikan dan menyajikan materi pembelajaran tidak 6. disertai dengan penggunaan bermacam-macam penggunaan metode pembelajaran lain seperti diskusi, tanya jawab, pemberian tugas, dll. Guru menjelaskan materi yang diajarkan dengan contoh, kemudian siswa diminta untuk menyebutkan kembali dan menerapkan ke soal lain sesuai dengan contoh tersebut, guru merupakan subjek utama dalam proses pembelajaran. Siswa dalam proses pembelajaran hanya mendengarkan semua hal yang dijelaskan oleh guru, mencatat materi, dan mengerjakan segala sesuatu yang dipertintahkan oleh guru. Sehingga selama pembelajaran siswa menerima suatu materi yang sudah jadi. Siswa tidak ikut berfikir dan menggunakan pengalaman belajarnya. Ada beberapa siswa yang kurang antusias mengikuti pelajaran dikarenakan tidak adanya motivasi belajar dari diri mereka. Siswa tersebut masih pasif, enggan, takut, dan malu untuk bertanya. Mereka hanya memilih diam jika ada sesuatu hal yang tidak mereka mengerti atau pahami daripada harus bertanya kepada guru yang mengajar. Menurut beberapa siswa, hal ini disebabkan mereka tidak berani bertanya karena takut salah dan lebih senang bertanya kepada temannya. Motivasi siswa untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR) masih kurang, beberapa siswa mengatakan alasan mereka tidak menegerjakan pekerjaan rumah karena tidak biasa mengerjakan, lupa, malas, dan lain sebagainya. Keadaan tersebut apabila didiamkan akan menyebabkan siswa semakin mengalami kesulitan dalam mempelajari dan memahami konsep-konsep matematika berikutnya. Sebagai upaya meningkatkan hasil belajar matematika siswa, perlu dikembangkan sutu pembelajaran yang tepat, sehingga dapat memberikan kesempatan 7. bagi siswa untuk bertukar pikiran, pendapat, bekerja sama dengan teman, berinteraksi dengan guru, menggunakan maupun mengingat kembali konsep yang dipelajari. Mengingat pentingnya pelajaran matematika untuk pendidikan, guru diharapkan mampu merencanakan pembelajaran sedemikian rupa sehingga siswa akan tertarik dengan pelajaran matematika. Terdapat bebrapa model pembelajaran yang mampu meningkatkan keaktifan, motivasi dan hasil belajar siswa salah satunya adalah model pembelajaran koopeeratif tipe NHT dan tipe Snowball Throwing. Model pembelajaran tersebut melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan. Aktvitas siswa dirancang sedemikian sehingga memungkinkan siswa dapat belar lebih santai, di samping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat, dan keterlibatan belajar. Dengan demikian pembelajaran ini mampu meningkatkan keaktifan, motivasi, dan hasil belajar siswa. Dalam pembelajaran matematika, seringkali rendahnya motivasi belajar siswa disebabkan karena siswa memiliki beban belajar yang banyak. Tinggi rendahnya motivasi belajar sering kali dikaitkan dengan keberhasilan atau kegagalan belajar siswa dalam belajar. Motovasi yang tinggi dan sedang selalu berusaha menyelesaikan tugas dengan baik, serta membandingkan hasilnya dengan orang lain. Dalam hal ini dapat diduga bahwa motivasi belajar siswa terhadap matematika merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap hasil belajarnya. 8. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti hendak meneliti tentang komparasi keaktifan, motivasi dan hasil belajar matematika dalam model pembelajaran tipe NHT dan tipe Snowball Throwing. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas yang telah dikemukakan, maka yang menjadi rumusan masalah adalah: 1. Bagaimana keaktifan, motivasi, dan hasil belajar siswa kelas VIII SMPN 22 Bantimurung dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 2. Bagaimana keaktifan, motivasi, dan hasil belajar siswa kelas VIII SMPN 10 Bantimurung dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing. 3. Apakah ada perbedaan keaktifan, motivasi, dan hasil belajar Siswa kelas VIII SMP 22 Bantimurung dan SMPN 10 Bantimurung dengan menggunakan model pembelajaran tipe NHT dan tipe Snowball Throwing. C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Untuk mengetahui keaktifan, motivasi, dan hasil belajar siswa kelas VIII SMPN 22 Bantimurung dengan menggunakan Model Pembelajaran kooperatif tipe NHT. 2. Untuk mengetahui keaktifan, motivasi,