Diktat 11 -Biodiversitas Dan Konservasi

download Diktat 11 -Biodiversitas Dan Konservasi

of 32

  • date post

    16-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    776
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Diktat 11 -Biodiversitas Dan Konservasi

1

BIOLOGI UMUM

BAHAN AJAR

DIKTAT 11BIODIVERSITAS & KONSERVASI

Modul Universitas Indonesia

2

DAFTAR POKOK BAHASAN11.1. TEORI BIOGEOGRAFI DUNIA DAN INDONESIA 11.1.1. Teori Biogeografi Dunia 11.1.2. Teori Biogeografi Indonesia 11.2. KAWASAN SUNDA, SAHUL, DAN WALLACEA 11.2.1. Konsep Kawasan Biogeografi 11.2.2 Keanekaragaman Hayati Di Kawasan Sunda, Sahul, dan Wallacea 11.3. BIODIVERSITAS INDONESIA 11.3.1. Pengertian Biofiversitas 11.3.2. Indonesia Sebagai Negara Megadiversitas 11.3.3. Distribusi atau Sebaran Hewan di Indonesia 11.3.4. Distribusi atau Sebaran Tumbuhan di Indonesia 11.3.5. Hotspot Biodiversitas 11.3.6. Potensi Biodiversitas Dalam Tingkat Genetik, Spesies, dan Ekosistem 11.3.7. Ancaman terhadap Biodiversitas 11.4. KONSEP PEMANFAATAN DAN PELESTARIAN 11.4.1. Konsep Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati 11.4.2 Konsep Pelestarian Keanekaragaman Hayati 11.5. USAHA-USAHA KONSERVASI DAN MANAJEMEN BIODIVERSITAS 11.5.1. Strategi dan Status Konservasi 11.5.2. Kawasan Konservasi di Indonesia 11.5.3. Manajemen Konservasi dan Peraturan Perundangan 11.6. DAFTAR ACUAN

3

11. 1 TEORI BIOGEOGRAFI DUNIA DAN INDONESIA 11. 1. 1 Teori Biogeografi Dunia Selama jutaan tahun permukaan bumi selalu berubah. Perubahan tersebut disebabkan oleh adanya pergerakan lempeng bumi/benua (plate tectonic). Pergerakan lempeng bumi terjadi sangat lambat dan mengakibatkan perubahan pada permukaan bumi, gunung api meletus, dan gempa bumi. Peristiwa-peristiwa tersebut akhirnya akan menyebabkan kepunahan makhluk hidup sekaligus menjadi sarana terbentuknya makhluk hidup atau spesies baru. Letusan gunung api menyebabkan musnahnya habitat dan populasi suatu mahluk hidup akan berkurang atau bahkan punah. Akan tetapi sebaliknya, material-material bumi yang dikeluarkan dapat menjadi media baru bagi berkembangnya spesies baru. Sementara itu, gempa bumi dapat memisahkan dan mengisolasi populasi suatu spesies. Dalam jangka waktu yang lama, peristiwa itu akan menyebabkan pembentukan spesies baru, karena isolasi biasanya diikuti oleh perubahan genetik sebagai respons adaptasi terhadap kondisi yang baru. Para ilmuwan telah menemukan bahwa lempeng bumi merupakan suatu lempeng yang solid yang disebut Litosphere, dan terapung di atas suatu massa batuan leleh yang fleksibel yaitu Astenosphere; seperti sebongkah es mengapung di atas lautan. Oleh karena itu, lempeng bumi akan selalu bergerak dan setiap pergerakan tersebut akan mengakibatkan perubahan di permukaan bumi, karena mengalami subduksi (masuknya satu lempeng bumi ke dalam

Gambar 11.1 Proses pergerakan lempeng benua [Sumber: www.britannica.com.]

lempeng yang bersebelahan) dan upwarding (proses naiknya massa

4

astenosphere ke permukaan bumi). Terdapat 20 buah lempeng bumi di dunia dan Indonesia merupakan bagian dari lempeng Eurasia (Indonesia selain Papua) dan lempeng Australia (Papua). Gempa bumi dan gunung meletus yang terjadi di Indonesia merupakan akibat terjadinya pergerakan lempeng Australia dan lempeng Eurasia yang saling

Gambar 11.2 Sebaran lempeng benua [Sumber: www.iris.edu.]

bertabrakan. Umumnya jika terjadi pergeseran lempeng bumi di suatu kawasan, maka lempeng yang lain akan ikut bergeser sampai tercapai suatu keseimbangan. Oleh karena itu, jika di Indonesia terjadi gempa, maka beberapa waktu kemudian akan terjadi pulab a

gempa bumi atau gunung meletus di belahan bumi yang lain. Dari fosil-fosil yang ditemukan (berasal dari 200-250 juta tahun lalu), terbuktiGambar 11.3 Sejarah terbentuknya benua [Sumber: http://pubs.usgs.gov, 2007.]

5

bahwa semua benua di permukaan bumi ini berawal dari satu daratan besar (superkontinen) yang disebut Pangaea. Pada 135 juta tahun yang lalu, lempeng besar bumi terbelah, sehingga Pangaea terpecah menjadi 2 benua besar yaitu Laurasia dan Gondwanaland. Selanjutnya, Laurasia akan terpisah menjadi kelompok-kelompok daratan yang saat ini dikenal sebagai North America dan Eurasia (Eropa dan Asia), sedangkan Gondwanaland akan terpisah menjadi Afrika, Amerika Selatan, Antartika, dan Australia. Gambar 11.3a menunjukkan bahwa benua Afrika dan Amerika Selatan pernah menyatu. Hal tersebut diyakini oleh para ahli setelah mereka mencermati bentuk pantai timur Amerika Selatan dan pantai barat Afrika. Pada saat itu, fauna di kedua kontinen tersebut dapat saling berpindah tempat. Salah satu bukti bahwa kedua kontinen tersebut pernah bersatu adalah dengan ditemukannya fosil hewan reptil laut, Mesosaurus, di Amerika Selatan dan Afrika Barat (Gambar 11.4). Setelah kedua kontinen itu terpisah, masing-masing fauna beradaptasi terhadap kondisi lingkungan baru, karena masing-masing kontinen mengalami pergerakan ke arah latitude yang lebih tinggi sampai pada posisinya saat ini. Selain itu, jika kita amati keadaan saat ini, hutan hujan tropis berada di sepanjang sisi timur Amerika Selatan sejajar dengan hutan hujan tropis Afrika barat. Anak benua India mulai terpisah dari daratan Afrika pada periode Jurasik menuju ke ekuator. Selain itu hal penting yang juga dapat dicermati adalah Madagaskar yang masih bersatu dengan Afrika bagian timur. Australia masih bersatu denganGambar 11.4. Fosil Mesosaurus yang ditemukan di dua tempat yang saat ini terpisah, Brazil, dan Namibia [Sumber: www.unomaha.edu.]

daratan Antartika dan mulai bergerak ke ekuator (Gambar 11.3b). Pada periode selanjutnya yaitu Cretaceous (65 juta tahuan lalu), sejumlah perubahan muka benua mulai terlihat. Afrika dan Amerika Selatan sudah jauh terpisah oleh lautan yang kita kenal sekarang bernama Laut Atlantik. Madagaskar mulai memisahkan diri dari Afrika. Pergerakan lempeng ke arah ekuator tersebut terus berlangsung dan selama 65 juta tahun Madagaskar

6

terisolasi dari daratan sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan tingginya angka endemisitas di pulau tersebut. Hewan yang ada di Madagaskar merupakan hewan yang juga terdapat di Afrika Timur, namun setelah Madagaskar terpisah dari Afrika, tidak terjadi lagi pertukaran gen antar populasi, dan selanjutnya hewan-hewan tersebut berevolusi. Sementara itu bagian dari Laurasia juga mulai mengalami pergerakan yang signifikan. Fragmen Eurasia mulai bergerak turun, sedangkan fragmen Eropa Utara dan Amerika Utara mulai terpisah. Fragmen yang kelak menjadi daratan Inggris mulai bergerak menjauhi ekuator. Dengan ditemukannya fosil tumbuhan kelompok palem, terbukti bahwa Inggris menjadi bagian dari Laurasia pernah berada di ekuator (tropis). Fragmen Eurasia akan menjadi Asia Timur dan Asia Tenggara termasuk Indonesia bagian barat. Anak benua India akan menabrak Asia dan membentuk Pegunungan Himalaya, yang menjadi penghalang utama (barrier) persebaran fauna dari Asia ke India dan sebaliknya. Dengan adanya pegunungan Himalaya, hewan-hewan tidak dapat crossing over. Hambatan tersebut juga dialami oleh kelompok avifauna (hewan yang dapat terbang), karena udara yang naik dari pegunungan Himalaya seringkali menghadang arah migrasi. Australia akhirnya terpisah dari Antartika dan selama perjalanannya menuju utara, hewan dan tumbuhan di daratan itu mengalami evolusi. Selanjutnya beberapa fragmen akan terpisah dari Australia bagian utara menjadi Papua dan beberapa kepulauan di Indonesia Timur. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika keadaan vegetasi dan jenis hewan yang ada di tempat-tempat tersebut di atas mempunyai banyak kemiripan. Contohnya: hewan marsupialia seperti kangguru dan platipus yangGambar 11.5 Foto satelit Pegunungan Himalaya [Sumber: University of California, 2007.]

7

merupakan ciri khas hewan Australia. Sebaran tumbuhan Eucaliptus (kayu putih) di Indonesia timur merupakan bukti bahwa daerah tersebut juga merupakan fragmen dari Australia. Setelah kita mengetahui peristiwa pergerakan kontinen atau benua yang terjadi di masa lalu, maka dapat kita pahami pula keberadaan berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang sebarannya kita lihat pada masa sekarang. Oleh karena itu pula kita harus menyadari bahwa semua makhluk hidup di bumi ini berkaitan satu dengan yang lainnya. 11. 1. 2 Teori Biogeografi Indonesia Pada bab 11.1.1. kita mengenal istilah Pangea atau Pangaea yang merupakan nama bagi satu daratan raksasa saat ini menjadi benua-benua. Pangaea berarti semua bumi. Kata tersebut diperkenalkan oleh Alfred Wegener pada tahun 1914, di dalam bukunya yang berjudul The Origin of Continents and Oceans. Menurut Wegener, Pangaea merupakan superkontinen yang terdiri atas semua massa benua saat ini yang muncul sekitar 350 juta tahun lalu. Superkontinen secara progresif terus bergerak dan terpisah-pisah. Pergerakan lempeng bumi membawa 2 dampak penting bagi proses evolusi dan kehidupan di permukaan bumi. Pertama, letak suatu daratan atau

Gambar 11.6 Sejarah biogeografi Indonesia [Sumber: www.andaman.org, 2006.]

8

benua akibat pergerakan lempeng bumi sangat memengaruhi iklim dan dengan demikian sangat menentukan jenis hewan dan tumbuhan yang dapat hidup di dalamnya. Kedua, pergerakan benua menjadi sarana bagi makhluk hidup untuk berpindah dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru, sehingga terbentuk spesies baru melalui proses seleksi alam. Ketika benua-benua tersebut bergabung, populasi-populasi dapat menyebar ke area yang baru dan beradaptasi dengan kondisi setempat. Sebaliknya pada saat benua-benua tersebut terpisah, suatu populasi mahluk hidup harus beradaptasi dengan lingkungan isolasi atau menjadi punah. Sejarah biogeografi Indonesia cukup rumit mengingat Indonesia terdiri atas kepulauan yang tidak berasal dari satu benua, melainkan terdiri atas 2 benua yaitu benua atau Paparan Sunda dan Sahul. Pulau-pulau yang berada di wilayah Indonesia Barat adalah bagian dari Paparan Sunda (Laurasia), sedangkan wilayah Indonesia Timur merupakan bagian dari Paparan Sahul (Gondwana). Pulau Sulawesi yang terletak di antara kedua paparan tersebut sama sekali tidak memiliki kemiripan jenis flora dan fauna dengan pul